
Mukaddimah
Moh. Natsir adalah salah-satu tokoh Pejuang umat Islam, tokoh pergerakan nasional dan sekaligus tokoh yang tidak terlepas dari “icon” Harokah Islam yang tetap konsisten dalam memperjuangkan “Terlaksananya Syari’at Islam dalam segala aspek kehidupan”, siapa lagi kalau bukan PERSIS (Persatuan Islam).Beliau lahir di Alahan Panjang Sumatera Barat pada 17 Juli 1908.
Waktu masih jadi siswa di Sekolah Menengah Atas ( A. M. S. afd. A) di Bandung, M. Natsir telah banyak menulis di majalah-majalah antara lain ; Pembela Islam , An-Noer (Het-Licht), Majalah PB Persatuan Pemuda Islam (Jong Islamieten Bond) dll.
“A. Muchlis”, begitu nama yang sering beliau gunakan dalam setiap tulisan tulisannya. Pernah menjadi Ketua Umum partai politik Islam Masyumi, dan pernah menjadi Perdana Menteri pada awal terbentuknya Negara Kesatuan Repuklik Indonesia pada tahun 1950.
Tulisannya yang berisi dan mendalam bukan saja karena kata katanya yang terpilih, melainkan lebih penting lagi beliau mengetahui betul kapan dia harus berteriak memberi komando untuk memimpin perjuangan bangsanya, dan beliau juga tahu kapan saatnya berkelakar, bergembira untuk menghibur, membangkit semangat baru untuk perjuangan. Dengan kata lain, beliau tahu waktunya untuk membunyikan terompet dengan genderang perang, jika beliau akan menghadapi lawan yang menentang cita-cita Islam, baik terhadap bangsa terjajah maupun terhadap bangsa sendiri yang belum memahami tentang Ideologi Islam. Tetapi nanti tepat pada saatnya beliau akan bersenandung dengan irama yang beralun kegembiraan untuk menggembirakan hati pejuang-pejuang kemerdekaan.
Di dalam tulisan-tulisannya sekalipun berpolemik secara tajam, beliau tidak pernah menggunakan perkataan yang mengurangi “Djiwa Besar-nya”. Bahkan semakin tajam persoalan yang dipolemikkan, semakin bertambah jelas “cita-cita besar” yang terkandung dalam dirinya. Beliau merupakan mata rantai yang menghubungkan perjuangan pelaksanaan (penerapan. Pen) Syari’at Islam di negara yang kita cintai ini.
Pemimpin yang konsisten
M. Natsir senantiasa konsisten dalam mengemukakan sikap dan pendiriannya, terutama mengenai pendirian tentang Islam sebagai asas untuk memperjuangkan Kemerdekaan. Berangsur-angsur tampak jelas perbedaan antara kaum nasionalis yang berjuang karena kemerdekaan itu an sich dengan pandangan hidup semestinya seorang muslim.
Ketika Ir. Soekarno yang menjadi pelopor gerakan nasionalisme menggunakan semboyan : “ Berjuanglah mencapai kemerdekaan Indonesia dengan dasar nasionalisme ! Adapun agama adalah pilihan dan tanggung jawab sendiri-sendiri !”. maka M. Natsir berpendapat : “ Islam bukanlah semata-mata suatu agama, tetapi merupakan pandangan hidup yang meliputi persoalan politik, ekonomi, sosial dan budaya, bagi Natsir Islam merupakan sumber dari segala perjuangan, sumber dari perlawanan terhadap segala macam penjajahan : eksploitasi manusia atas manusia; pemberantasan kebodohan, pendewaan dan juga sumber pemberantasan kemelaratan dan kemiskinan. Islam tidak memisahkan antara keagamaan dan kenegaraan. Nasionalisme hanyalah suatu langkah atau alat mencapai kesatuan dan persatuan, persaudaraan manusia dibawah naungan ridla Illahi. Sebab Islam merupakan hal yang pokok “.
Pemikiran M. Natsir di atas dapat diartikan sebagai pemikiran muslimin Indonesia, yang selalu yakin bahwa : negara ini (Indonesia. Pen) tidak akan pernah makmur dan berkembang dalam bingkai bangsa yang sejahtera selama belum diatur oleh tata aturan yang bersumber dari Syari’at Islam.
Pendidik Sejati
Berawal dari sebuah sekolah yang didirikan di Bandung dan diberi nama “Pendidikan Islam”, dengan jumlah murid 7 orang pada tahun 1931, berkembang dengan cepat, sampai memiliki cabang diluar kota Bandung, di beberapa tempat di Jawa Barat dan Jakarta. Dasar pendidikan dalam sekolahnya dirumuskan dengan sebaris kata : “Islamietisch Paedagogisch Ideaal” , seperti dalam seluruh tulisan dan buku-bukunya adalah menuju agar ajaran Islam yang utuh (asli) itu tersiar dan menjiwai segenap lapisan masyarakat Islam.
Ideologi Pendidikan Islam yang digulirkan M. Natsir seperti yang pernah beliau sampaikan dalam pidato pada Rapat Persatuan Islam di Bogor tanggal 17 Juni 1934 berbunyi :
“Maju atau mundurnja salah-satu kaum bergantung sebagian besar kepada peladjaran dan pendidikan jang berlaku dalam kalangan mereka itu. Tak ada satu bangsa jang terbelakang mendjadi madju, melainkan sesudahnja mengadakan dan memperbaiki didikan anak-anak dan pemuda-pemuda mereka. Kemunduran dan kemadjuan itu, tidak bergantung kepada ketimuran dan kebaratan, tidak bergantung kepada putih, kuning atau hitamnja warna kulit, tetapi bergantung kepada ada atau tidaknja sifat-sifat dan bibit-bibit kesanggupan dalam salah satu umat jang mendjadikan mereka lajak atau tidaknja menduduki tempat jang mulia diatas dunia ini. Ada atau tidaknja sifat-sifat dan kesanggupan (kapasitet) ini bergantung kepada didikan ruhani dan Djasmani, jang mereka terima untuk mentjapai jang demikian.....” (Capita Selecta).
Khatimah
Untuk mengungkap pesan secara utuh dari perjalanan sejarah pergerakan yang pernah dilakukan oleh M. Natsir, sangatlah sulit bila dituangkan hanya dalam beberapa lembar kertas saja, tetapi mudah-mudahan coretan di atas dapat dijadikan sebagai penawar rindu sebagian umat yang berharap memiliki pemimpin yang jujur, cerdas dan berkeperibadian. Wallahu a’lam bish shawwab
