22 November 2022

KH. Aceng Zakaria Ulama Tawadhu Lautan Ilmu

 


Oleh: Prof. Dadan Wildan Anas - Sekretaris Majelis Penasehat PP. Persatuan Islam (PERSIS)

Dua hari lalu, saya mendapat kabar Al-Ustad KH. Aceng Zakaria, masuk rumah sakit di Garut. Namun, belum boleh dijenguk. Saya hanya dapat mendoakan saja untuk kesembuhan beliau. Taqdir Allah, Senin malam, 21 November 2022, saya mendapat kabar lagi, Ustad Aceng, biasa saya memanggilnya, telah wafat.  Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Perjumpaan terakhir saya dengan Ustad Aceng Zakaria , saat mengikuti Musyawarah Kerja Nasional PP. Persatuan Islam (PERSIS) di Hotel Santika TMII Jakarta 13-14 November 2022. Beliau masih terlihat segar bugar. Bahkan sempat memberi tausiyah saat meresmikan kantor PP. Persis di Bambu Apus Jakarta Timur. 

Saya mengenal Ustaz Aceng Zakaria lebih dari 30 tahun. Tahun 1998, pernah bersama-sama  mengikuti safari dakwah PP. Persis, dari Bandung hingga Medan melewati jalan darat lintas Sumatera selama lebih dari dua minggu. Sepanjang perjalanan yang ribuan kilometer dan melelahkan itu, Ustad Aceng Zakaria selalu memberikan tausiyah dengan kisah kisah sederhana namun tetap mencerahkan.

Beliau juga penulis produktif. Dua tahun lalu, selepas shalat duhur, handphone saya berbunyi. Saya lihat, panggilan dari KH. Aceng Zakaria, Ketua Umum PP. Persis saat itu. Panggilan imam Persis itu segera saya jawab. Seperti biasa beliau selalu bertanya mengenai kesehatan saya. Karena ustad Aceng Zakaria mengetahui saya ada masalah di jantung. Ternyata ustad Aceng Zakaria hanya bertanya alamat rumah saya. Meskipun beliau pernah berkunjung ke rumah saya, dengan membawa oleh-oleh khas Garut. Di ujung telpon,  Ustad Aceng mengabarkan akan mengirimkan buku buku karya terbarunya.

Saya bersyukur, setiap kali ustad Aceng melahirkan buku baru, saya selalu dikirimi oleh beliau. Saat itu, enam judul buku sekaligus, langsung dikirim dari Garut. Saya menyambut dengan senang kiriman buku buku dari ulama besar yang sederhana dan tawadu. Beliau telah menulis lebih dari 50 judul buku dengan beragam bahasan.

Secara formal, ia hanya bersekolah sampai Sekolah Dasar di kampung kelahirannya, Sukarasa Wanaraja Garut. Lalu menyelesaikan tingkat Muallimin di Pesantren Persis Pajagalan Bandung. Karena lahir di lingkungan pesantren, bahkan kakek dan ayahnya adalah kiai terkenal di kampungnya, sejak kecil ia sudah belajar berbagai kitab kuning kepada ayahnya. Saat menyelesaikan SD, sudah enam kitab ia selesaikan. Ketertarikannya pada kitab-kitab kuning ini, memilihnya tidak meneruskan pendidikan formalnya. Ia memutuskan untuk mengaji menamatkan berbagai kitab kuning kepada ayah dan paman-pamannya.  Berbagai disiplin ilmu mulai aqidah, fiqih, nahwu, sharf, tafsir, hadis, dan lainnya berhasil dipelajari dengan baik. Lima tahun ia lakoni aktivitas itu sambil diberi tugas oleh ayahnya mengajari santri-santri yunior. Selain itu, ia pun diberi tugas untuk bertabligh di berbagai mesjid.

Buku fenomenal yang menarik adalah buku yang berjudul “Al-Hidâyah fî Masâ’il Fiqhiyyah Muta‘âridhah”. Buku ini berisi tentang pembahasan perbedaan-perbedaan pendapat dalam fikih beserta pemecahannya. Boleh dikatakan buku ini semacam buku fikih perbandingan (fiqih muqâranah) yang jarang ditulis oleh para ulama Indonesia, apalagi dalam bahasa Arab.  Tidak heran bila Prof. Umar Hasyim, mantan Rektor Univ. Al-Azhar, Cairo  Mesir memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada buku ini saat Ust. Aceng berkunjung menemuinya ke Mesir. Ia memberikan sambutan resmi untuk buku ini.  Sejak tahun 1986, buku ini sudah dicetak lebih dari sepuluh kali. Bahkan saat ini, para pembaca pemula bisa membaca edisi terjemahan bahasa Indonesianya dalam tiga jilid.

Buku-buku lain yang telah diterbitkan diantaranya adalah: Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Sholat, Etika Hidup Seorang Muslim, Materi Dakwah, Doa-doa Shalat, Mengungkap Makna Syahadat, Bai’at dan Berjama’ah, Belajar Nahwu Praktis 40 Jam, Belajar Tashrif Sistem 20 Jam, Kamus Tiga Bahasa (Arab-Indonesia-Inggris), Haramkah Isbal dan Wajibkah Jenggot?, Sakitku Ibadahku, Jabatanku Ibadahku, Al-Kâfi fi Al-Ilm Al-Sharfi, Tarbiyyah Al-Nisâ, Kitab Al-Tauhid (3 jilid), Ilm Al-Mantiq, Al-Bayân Fi ‘Ulûm Al-Quran, Adâb Al-Muslim, Tarbiyyah Al-Nisâ, serta belasan buku lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab dan Indonesia. Ustad Aceng Zakaria menjadi teladan menarik bagi pecinta dan pegiat ilmu.

Selasa, 22 November 2022, pukul 09.00, penulis puluhan judul buku itu dimakamkan di pemakaman keluarga, tidak jauh dari Pesantren Persatuan Islam Rancabango Garut, yang dipimpinnya. Ia telah mewariskan tradisi literasi Islami yang fenomenal. Ribuan orang menghadiri pemakamannya siang itu. Wahai jiwa yang tenang. Beristirahatlah. Setelah seluruh hidup dan tarikan nafas, dipersembahkan di jalan Allah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya, mengampuni segala khilaf dan salahnya, dan warisan ilmu serta literasi Islami menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus. Aamiin.

MENGENANG K.H. ACENG ZAKARIA: ULAMA HEBAT PRODUK PENDIDIKAN LOKAL, KUALITAS INTERNASIONAL



Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia)


Pada hari Senin (21/11/2022), KH Aceng Zakaria dipanggil Allah SWT dalam usia 74 tahun.  Beberapa hari sebelumnya, sejumlah sahabat dari organisasi Persatuan Islam (Persis) sudah mengabarkan, bahwa beliau sedang sakit berat. Ternyata, Allah SWT menyayangi dan memanggil beliau.  Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang mulia. 


Pada 29 Januari 2022, beliau bersama istrinya, berkunjung ke Pesantren At-Taqwa Depok. Kami sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum beliau melanjutkan aktivitasnya, mengisi pengajian dan mengunjungi Ust Amin Jamaluddin yang kini juga sudah dipanggil oleh Allah SWT. 


Sosok Kyai Aceng Zakaria adalah seorang ulama pejuang yang istiqamah sampai akhir hayatnya. Bahkan, hebatnya, dua bulan lalu, dalam Muktamar Persis  XVI di Bandung, KH Aceng Zakaria memutuskan untuk tidak bersedia dipilih lagi. Beliau sudah menyiapkan penerusnya, yaitu Dr. Jeje Zainuddin. 


Kyai Aceng Zakaria bisa dikatakan salah satu ulama hebat di Indonesia. Syukurlah, sebelum beliau wafat, tahun 2021 lalu, sudah terbit biografi beliau, berjudul: “KH Aceng Zakaria Ulama Persatuan Islam,” karya Pepen Irpan Fauzan, dkk. (Bandung: Staipi Garut Press, 2021).              


Pada hari Ahad (4/4/2021), saya sempat diminta membedah buku tersebut. Salah satu kehebatan beliau, di usianya yang ke-73 tahun itu, ia telah menulis 103 judul buku.            KH Aceng Zakaria lahir di Garut Jawa Barat pada 11 Oktober 1948. Ayahnya, Kyai Ahmad Kurhi, seorang ulama dari garis keturunan ulama terkenal di Garut, KH A. Shidiq, yang dikenal dengan sebutan Mama Sukarasa. 


Kyai Aceng bukan saja dikenal sebagai aktivis organisasi, tetapi juga seorang ulama, pemimpin pesantren, pejuang dan sekaligus penulis produktif. Saya mengenalnya sejak puluhan tahun lalu. Ia seorang Kyai yang ramah. Beberapa kali saya menikmati jamuan makan khas di atas kolam rumahnya yang asri di Kota Garut. 


Di banding banyak ulama lain, tentu saja keunikan Kyai Aceng Zakaria adalah ketekunan dan kreativitasnya dalam menulis. Tidak mudah menulis 100 lebih judul buku di tengah berbagai kesibukan perjuangan sebagai muballigh dan pimpinan Persis. 


Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di Timur Tengah, Kyai Aceng memiliki penguasaan Bahasa Arab yang mumpuni. Dari 103 judul bukunya, 33 judul ditulis dalam Bahasa Arab. Beberapa diantara bukunya termasuk kategori best seller, seperti:  al-Hidayah fi Masaaili Fiqhiyyah al-Muta’aridhah, al-Muyassar fi Ilmi al-Nahwi, dan al-Kaafi fi Ilmi al-Sharfi. 


Kyai Aceng Zakaria tidak memiliki gelar akademik apa pun. Secara formal, ia merupakan lulusan Madrasah Mu’allimin Persis Pejagalan Bandung. Tetapi, dialah yang mendirikan Perguruan Tinggi Persis di Kota Garut, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Persis Garut. 


Model Ideal


Menyimak kiprah dan karya ilmiahnya, Kyai Aceng Zakaria bisa disebut seorang ulama produk pendidikan lokal tetapi berkualitas internasional. Buku ini memberikan informasi tentang proses pendidikan ideal yang dijalani Kyai Aceng Zakaria. Model ideal itu adalah: “TOP” (Tanamkan adab sebelum ilmu; Oetamakan Ilmu-ilmu fardhu ain; dan Pilih Ilmu Fardhu Kifayah yang tepat).


Sejak masa kanak-kanak, Kyai Aceng dididik dengan adab yang tinggi oleh ayahnya, KH Ahmad Kurhi yang juga dipanggil Abah Engku. Sang ayah dikenal sangat menekankan ketekunan dan kekhusyukan beribadah. Bahkan, Abah Engku dikenal luas sebagai ulama tasawwuf. Ia sering mengajarkan ilmu tasawwuf bersumber dari kitab Hikam, karya Ibnu Atha’illah.  


Hidup di lingkungan pesantren, disamping sekolah rakyat, Aceng kecil pun mengaji kitab-kitab kuning yang popular di kalangan pesantren, seperti Sullamut Taufiq, Safinatun Najah, al-Ajrumiyyah, Tijan al-Darariy, Imrithy, dan lain-lain. Di kemudian hari, Kyai Aceng mengaku telah mengkhatamkan kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Disamping itu, Aceng muda pun aktif dalam Organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia). 


Jadi, sejak dini, Aceng telah dididik dengan adab dan ibadah yang ketat, serta memiliki pengalaman organisasi. Artinya, ia dibiasakan menjalani proses intelektualisme dan aktivisme secara seimbang. 


Setelah menjalani proses pendidikan adab, ibadah, dan ilmu yang baik di lingkungan keluarganya, Aceng muda kemudian dikirim orang tuanya ke Pesantren Persis Pajagalan Bandung. Sejumlah ulama memang mendidik anak-anaknya dengan adab dan ibadah selama di rumah. Setelah adab dan ibadahnya baik, mereka mengirim anak-anaknya ke ulama-ulama lain untuk mempelajari berbagai bidang ilmu secara mendalam.


Kyai Aceng Zakaria pun menjalani proses semacam ini. Ayahnya mengirim Aceng kepada guru yang hebat di Pesantren Pajagalan, yaitu KH E. Abdurrahman, salah satu murid utama tokoh Persis, A. Hassan. Pesantren Pajagalan sendiri didirikan oleh A. Hassan pada tahun 1936. Tujuan Pesantren ini adalah: “mencetak kader-kader mubaligh Persis”. 


Di Pesantren Pajagalan inilah Aceng muda dididik oleh KH E. Abdurrahman dengan disiplin adab dan keilmuan yang intensif. Waktu itu, jumlah murid di kelas Aceng Zakaria ada 5 orang. Satu diantaranya perempuan. Jumlah kelas kecil ini memungkinkan proses pendidikan berlangsung lebih efektif, khususnya dalam penanaman nilai-nilai adab. 


Metode pembelajarannya bukan hanya dalam bentuk klasikal, tetapi juga kajian kitab secara sorogan. Banyak kitab yang dikaji. Yang utama adalah Tafsir Ibn Katsir.  Model kajian seperti ini memungkinkan murid memiliki wawasan luas dalam keilmuan sekaligus melatih memahami teks secara detail. 


Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Muallimin, Aceng Zakaria menuruti nasehat gurunya, untuk tetap di Bandung, dan menjadi guru di almamaternya itu. Tahun 1971, ia mulai dipercaya mengajar tingkat Ibtidaiyyah dan kemudian tingkat Tsanawiyah. Berikutnya, Kyai Aceng juga mengajar di program Tamhidul Muballighin. Kyai Aceng juga memiliki keahlian jual beli dan servis jam. 


Peran seorang KH E. Abdurrahman sangat penting dalam Pendidikan Kyai Aceng Zakaria. Gurunya itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap konsep pendidikannya. Ia melarang santrinya ikut Ujian Persamaan atau Kuliah di Perguruan Tinggi. Kyai Abdurrahman khawatir murid-muridnya nanti tidak mau menjadi mubaligh yang turun ke kampung-kampung mendakwahkan ajaran Islam. 


Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan, bahwa kunci sukses pendidikan ada pada tiga pihak: yaitu murid, orang tua, dan guru. Proses Pendidikan Kyai Aceng menunjukkan tingginya kualitas pada ketiga pihak itu. Ia bukan hanya mengambil ilmu dari guru-gurunya, terutama KH E. Abdurrahman. Tapi, ia juga berhasil mengambil adab mereka. Jiwa guru dan jiwa pejuang ia warisi dari orang tua dan gurunya. 


Sukses Pendidikan Kyai Aceng Zakaria pun tak lepas dari dua hal penting untuk meraih ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’), yaitu: Niat dan adab thalabul ilmi. Larangan gurunya untuk ikut Ujian Persamaan atau untuk melanjutkan Kuliah di Perguruan Tinggi, lebih dimaksudkan untuk menjaga niat ikhlas dalam mencari ilmu. Jangan sampai salah niat dalam mencari ilmu: untuk mengejar harta benda dan kedudukan dunia. 


Konsep Pendidikan Ulama KH E. Abdurrahman telah ditulis oleh Dr. Dwi Budiman, rektor Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, dalam disertasi doktornya di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor. 


Buku biografi KH Aceng Zakaria itu  menguatkan bukti, bahwa umat Islam Indonesia sebenarnya memiliki model pendidikan ideal. Model inilah yang telah melahirkan ulama dan tokoh-tokoh besar, seperti Buya Hamka, Mohammad Natsir, KH Wahid Hasyim, dan juga KH Aceng Zakaria. 


Kita doakan semoga KH Aceng Zakaria diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala kesalahannya, dan semoga organisasi Persis mampu merumuskan dan melaksanakan model Pendidikan yang dapat melahirkan semakin banyak ulama-ulama hebat seperti KH Aceng Zakaria. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu’anhu. (Depok, 22 November 2022).