26 Desember 2023

Tuan A. Hassan (1887-1958): Ketika Menjadi Menteri Agama

 



 

Oleh : Pepen Irpan Fauzan

_Borosngora Persatuan Islam_


Suatu hari di Kantor Kementerian Agama Bandung pada akhir dekade 1940-an. Ketika itu, Tuan A. Hassan sedang berada di ruang kerjanya. Di bagian depan, ruang _front office_, hanya ada seorang pegawai negeri sipil (PNS). Ia bertugas melayani kebutuhan sang Menteri Agama itu sekaligus jika ada tamu-tamu yang membutuhkannya. Termasuk hari itu ketika datang seorang Pastor, agamawan Kristen Kota Bandung. Sang Pastor mengajukan permohonan surat jalan pada Kementerian Agama untuk kebutuhan kegiatan agamanya di luar kota. Zaman itu, setiap agamawan dalam menjalankan aktivitas agamanya disyaratkan memperoleh surat jalan—sebagai bentuk izin formal—dari Kementerian Agama.


Namun, oleh pegawai Kantor Agama tersebut, permohonan sang Pastor tidak langsung diterima. Hanya sekedar dicatat di buku induk. _“Besok saja Tuan Pastor kembali_,” begitu kata si pegawai Kantor Agama. Sang Pastor pun undur diri dan meninggalkan ruangan itu untuk mengambil sepedanya di halaman Kantor Agama. Pada saat yang sama, karena ruangannya bersebelahan, Tuan Hassan mendengar percakapan pegawai itu dengan sang Pastor. Ia pun segera keluar dan langsung menginterogasi si pegawai.


_“Kenapa Saudara jawab besok saja?”_ tegur Tuan Hassan. Si pegawai Kantor pun langsung menerangkan pada atasannya, bahwa itu adalah kultur birokrasi-Pemerintahan saat itu. Sebuah adat-kebiasaan yang telah menahun berlaku di kantor-kantor Pemerintah zaman itu. 


_“Maaf saja, Pak Menteri. Di kantor-kantor Pamarentah, upami ada yang minta tolong, jawabnya harus besok sajah. Itu mah sudah usum_,” jawab si pegawai kantor. Tuan Hassan pun tampak tak senang dengan mentalitas birokrasi yang buruk tersebut. _“Saya di kantor. Sebentar diurus, beres!”_ Sergah Tuan Hassan mengritik prilaku si pegawai yang tak beradab. 


Tuan Hassan berlari keluar Kantor, mengejar sang Pastor.  _“Sekarang Tuan, bukan besok!”_ Teriak Tuan Hassan pada sang Pastor. Untung saja, sang Pastor baru mengendarai sepedanya, hendak keluar dari halaman Kantor Agama. Singkat cerita, sang Pastor pun berhasil mendapatkan surat jalan pada hari itu juga. Dan ia sangat mengapresiasi kinerja sang Menteri Agama—yang berasal dari kalangan Persatuan Islam (PERSIS)—tersebut. Fenomena spesial di kantor Pemerintah yang baru kali itu saja dialami oleh si Pastor.  


Cerita ini disampaikan oleh Syafii Wirakusuma kepada Ridwan Saidi dalam bukunya _Islam dan Nasionalisme Indonesia_ (LSIP, 1985). Syafii Wirakusuma itu sendiri adalah tokoh Sarekat Islam (SI) Bandung. Konon, menurut pengakuannya pada Ridwan Saidi, Syafii Wirakusuma didaulat menjadi Menteri Sosial ketika Negara Pasundan didirikan di Bandung. Dengan demikian, bagi Ridwan Saidi, ceritanya ini mempunyai nilai historis tinggi. Sebuah testimoni sejarah dari rekan sejawat Menteri di Negara Pasundan. Bahwa Tuan A. Hassan—yang seringkali disebut Tuan Hassan Bandung—pernah menjadi Menteri Agama adalah sebuah fakta sejarah. 


Fakta sejarah ini pun diperkuat oleh berita surat kabar, namun yang jelas berbeda waktunya. Pada 10 Januari 1950, surat kabar _De Vrije Pers Ochtendbulletin_ melaporkan pengumuman dan pelantikan Kabinet Negara Pasundan yang dilaksanakan pada 9 Januari 1950 di Bandung. Surat kabar itu jelas mengabarkan: _“Bandoeng, 9 Januari (Aneta), Het nieuwe kabinet van Pasoendan is als volgt samengesteld_…” (Bahwa pada 9 Januari, kantor berita Aneta memberitakan susunan kabinet baru Pasoendan). Pada berita tersebut jelas tertulis nama A. Hassan dengan jabatannya sebagai _Godsdienst Zaken_ (Kementerian Urusan Agama). Selengkapnya disebutkan: _“Voor de drie nieuwe ministeries zijn benoemd Raden Barnas Wiranatanoedingat (Voorlichting), Kijahi A. Hassan (Godsdienst zaken) en Djerman Prawirawinata_.” 


Tampaknya, pengangkatan Tuan A. Hassan oleh Wali Negara RAA Wiranatakusumah disebabkan adanya pos tiga kementerian baru di Negara Pasundan. Salah satu pos baru itu adalah Kementerian Agama. Dengan demikian, pada kabinet-kabinet Negara Pasundan periode sebelumnya, jawatan Kementerian Agama belumlah ada.


Tuan Hassan memang dikenal dekat dengan tokoh-tokoh SI Bandung maupun RAA Wiranatakusumah. Tuan Hassan adalah guru utama PERSIS di Bandung yang tentu saja sangat disegani dan dihormati oleh kalangan pergerakan maupun Pemerintahan. Oleh karena itu, SI Bandung—yang mendukung eksistensi Negara Pasundan—sangat masuk akal menyodorkan nama A. Hassan sebagai Menteri Agama negara tersebut. Di lain pihak, penerimaan Wali Negara Pasundan RAA Wiranatakususmah pun sangatlah beralasan. Ia seringkali disebut sebagai tokoh pejabat Bandung—anggota _Volksraad_ dan Bupati Bandung—yang _nyantri_. 


Dari fakta tersebut di atas, kita bisa menyimpulkan dengan metode _thariqatu jam’u_. Bahwa secara esensial, cerita historis Ridwan Saidi di atas itu ada benarnya. Namun secara waktunya bukan pada tahun 1947-1948 seperti dituliskan pada bukunya itu. Tepatnya adalah Tahun 1950. Karena, berdasarkan fakta sejarah pada Surat Kabar _De Vrije Pers Ochtendbulletin_, Kementerian Agama adalah sebuah pos jabatan yang baru—yang belum ada pada Kabinet Negara Pasundan sebelum tahun 1950.

  

Kembali ke cerita di atas. Tuan A. Hassan sebagai tokoh pejabat Pemerintahan tetaplah penuh adab. Bahkan adab tuan Hassan ini pun membangun nuansa baru di Kementerian Agama. Setidaknya selama dipimpin oleh Menteri Agama A. Hassan. Bahkan terhadap orang-orang yang berbeda agama sekali pun, adab Tuan Hassan sungguhlah tinggi budi. Apresiasi dari seorang Pastor (agamawan Kristen Bandung) menunjukkan hal itu. Sayangnya, masa kepemimpinan Tuan Hassan di Kantor Agama sangatlah pendek. Pada Maret 1950, Kabinet ini pun bubar.


Melahat karakter penuh adab Tuan Hassan, kita jadi bisa membayangkan bagaimana murid-muridnya ketika mereka didapuk menjadi para pejabat Negara. Mohamad Natsir, misalnya. Puncak karier Natsir sebagai Perdana Menteri RI justeru menunjukkan dedikasinya yang tinggi bagi bangsa dan negara. Ia tidak hanya menjadi perancang Lambang Negara dan perumus mosi Integral NKRI. Lebih dari itu, M. Natsir menunjukkan keteladanan yang sungguh luar biasa. 


Kesederhanaan Natsir sebagai pejabat negara membuat peneliti Barat Mc Turnan Kahin terkaget-kaget, karena bertemu dengan pejabat yang bajunya bertambal-tambal. Sampai-sampai para pegawai bawahannya urunan untuk membelikan jas yang pantas dipakai oleh seorang Menteri pada Natsir. Pun ketika Natsir sebagai Perdana Menteri berhak menerima imbalan honorarium yang besar pada waktu itu, dengan penuh ketawdluan, honorarium itu malah diserahkan kembali pada Koperasi untuk kesejahteraan para pegawai bawahannya itu.   


Setidaknya, melalui para tokoh historisnya, Jamiyah puritan ini telah menunjukkan _legacy_-nya pada negara-bangsa Indonesia. Bahwa para aktivis PERSIS adalah para pengemban amanah yang adil dan penuh adab. Jika para aktivis Jamiyah PERSIS memegang kekuasaan, maka kekuasaan itu akan diemban dengan penuh amanah. Insya Allah. 


*PIF*

Merdeka-Grt, 271223

_Be a Bee_!

23 Desember 2023

BAK PANGERAN VERSUS HULUBALANG

 



Reaksi Debat Cawapres

Oleh : Dedi Jamaludin


Segagah-gagahnya mantan hulubalang tetap tidak kuasa menghadapi pangeran yang disiapkan mewarisi tahta kekuasaan sang raja. 


Mahfud MD & Muhaimin dalam debat semalam seperti kehilangan taji nya. Seperti larut dalam atmosfir  "sihir" sang pangeran Gibran. Nampak tekanan psikologis menghantui   Muhaimin dan Mahfud MD. Secara substansi sebenarnya gagasan gus muhaimin soal "slepetekonomi" jika disuguhkan dengan percaya diri harusnya mampu memukau, sayang malah jadi bahan candaan netizen.   Muhaimin kehilangan taji sebagai orang yang makan asam garam menghadapi forum2 besar. 


Muhaimin bahkan sejak awal sudah menunjukan ketidakpercayaan diri membahas tema yang disuguhkan soal ekonomi. Dipembukaan dia berkata, harusnya tema debat capres soal hukum menjadi menu dirinya.


Mahfud MD pun demikian tidak lebih seperti hulubalang yang menyuguhkan presentasi depan pangeran. Ide soal permasalahan mendasar tentang korupsi sebagai penghambat laju pertumbuhan ekonomi terdengar datar-datar saja.


Sebaliknya sang pangeran Gibran mendikte jalannya perdebatan sejak bel peluit dibunyikan. Term-term sulit soal ekonomi menjadi diksi yang digunakan seolah2 paham inti dari tema perdebatan. Performance pangeran Gibran berhasil meyakinkan di depan dua mantan hulubalang.


Masih menyisakan debat selanjutnya, jika Muhaimin dan Mahfud MD tidak merubah strategi, dirasa akan menjadi faktor penilaian mins bagi capresnya.


*Mengubah posisi Muhaimin*


Muhaimin harusnya keluar dari bayang-bayang Anies sebagai capres dalam forum debat. Muhaimin bukan Anies yang siap diposisikan diberbagai posisi. Anies tipe pemain modern, bisa ditempatkan dimana saja. Punya keseimbangan saat menyerang dan saat bertahan. 


Muhaimin melihat semalam bukan tipe offensive player atau defensive player. Harusnya tim menyiapkan Muhaimin sebagai playmaker yang fokus pada mengatur ritme dan menjaga keseimbangan. Bagi Muhaimin cukup target skor seimbang saja dah bagus. 


Ketika Muhaimin di fungsikan sebagai offensive player, maka lupa dan tidak piawai pada tugas pertahanan. Menyerang sekali soal IKN saja, langsung diserang balik cepat dan goal. Sebaliknya jika ditempatkan bertahan kelihatannya akan menjadi bulan-bulanan serangan lawan.


Di sisa debat, Muhaimin cukup mengatur ritme dan menjaga keseimbangan. Hindari serangan-serangan yang sporadis, karena bagaimana pun Muhaimin bagian dari pemerintah. Sekali diserang balik, langsung kebobolan.

20 Desember 2023

In Memoriam; "Sang Pendekar itu telah berpulang"



Oleh : ISH

Meskipun tidak  menjadi santrinya yang tercatat secara akademik di Pesantren Persatuan Islam no 34 Cibegol (tjibegal) yang di pimpin oleh Allahuyarham ustadz Muhammad Romli, tapi saya kenal beliau dari kecil. 


Saya kenal beliau ketika sering menjadi khatib di masjid Al-Hikmah Soreang. Sedikit saya masih bisa mengingat di luar beliau ada nama-nama ustadz Ikin Sodikin MS, ustadz Mukhtar, ustadz Sukma, ustadz Toha (Bojong kunci), ustadz Didi kuswendi, ustadz Khalid, ustadz E. Hidayat dan beberapa yang samar-samar saya ingat wajahnya tapi lupa namanya.


Allahuyarham ustadz Muhammad Romli salah satu yang rajin dan telaten. Beliau jarang sekali membadalkan tugas khatib nya kepada orang lain, di luar urusan urgent kejamiyyahan atau sedang sakit. Beliau senantiasa hadir sebagai khatib Jum'at.


Saya biasa menyapa beliau dengan panggilan 'apak'. Panggilan ini yang sering beliau pake untuk di jadikan 'kata ganti' memanggil dirinya kalau sedang ngobrol. Beliau tidak pernah -setau saya- 'meng ustadz kan' dirinya sendiri. Mungkin yang sering keluar adalah bahasa 'ana'. Sebuah kata ganti dalam bahasa Arab.


*"Pendekar nu masagi"*


Saya jadi teringat komentar bapak saya dulu kepada beliau. " Ustadz Romli mah pendekar nu masagi. Sugih ku pangarti agama Jeung ilmu silatna". 


Ungkapan itu saya dengar waktu kecil hanya sebatas ungkapan. Tetapi setelah saya beranjak dewasa sedikit-sedikit ungkapan itu terbuktikan dari banyaknya informasi persaksian kepada Allahuyarham ini.


Konon lokasi pesantren cibegol(tjibegal) ini merupakan tempat yang angker bagi sebagian masyarakat karena sering terjadi pembegalan. Tapi beliau berani mengambil keputusan untuk mendirikan pesantren di tempat itu. 


Latarbelakang ilmunya yang masagi membuat nya tidak pernah takut untuk mendirikan pesantren sekaligus menyuarakan dakwah berbasis Qur'an Sunnah. Dimana masyarakat pada waktu secara faham keagamaan belum bisa menerima. 


*Seorang Ahli Hadits*


Persaksian bahwa beliau seorang pendekar masagi ini pun seringkali saya dengar dari sahabat dan kolega beliau. Bahkan saya pun pernah menyaksikan dalam sebuah acara "Dewan Hisbah". Sebuah forum penting di lingkungan organisasi Persis guna membahas fatwa-fatwa hukum Islam. 


Bagaimana kepiawaian beliau dalam menalar Qur'an dan hadits yang kemudian di jadikan dasar dalan istinbat hukum. Beliau membaca kan hadits lengkap dengan sanad dan matan di luar kepala. Beliau sampaikan dengan gaya khas nya. Sehingga di satu kesempatan Allahuyarham ustadz Usman Sholehudin mencandai beliau. "Sumputkeun kitab na".


Keahlian beliau dalam memahami hadits yang kemudian di jadikan pijakan pengambilan hukum mengingatkan saya pada salah satu pendiri Mazhab fiqih yakni Imam Ahmad Bin Hambal. Dimana karakteristik madzhab nya yang kental dengan rujukan Hadits nya.


Karakteristik itu pun sangat terlihat bagaimana pemikiran-pemikiran beliau ketika mengomentari sebuah masalah terlebih masalah hukum. Beliau mengutamakan hadits di banding akal. Pemahaman dan penguasaan nya yang kuat dalam ilmu Qur'an ,ilmu hadits , ilmu bahasa dlsb,  mengantarkan nya beliau sebagai seorang ustadz yang melampaui. Seorang ustadz par exelent.


Hari ini ustadz berpulang dan saya pun bersaksi ustadz adalah orang baik, orang Sholeh dan teladan bagi saya yang pernah berhubungan ustadz.


Saya hanya bisa melantunkan do'a-do'a terbaik sebagai teman perjalanan pulang.

*"Yaa ayatuhan nafsul Mutmainah irji'i ila robbiki rodhiatam Mardhiah fadkhulii fii 'ibadii wadkhulii jannatii"*



*Selamat jalan.....apa*