4 Desember 2013

PBB Resmi Capreskan Yusril Ihza Mahendra di 2014


Rabu, 04 Desember 2013 11:55 wib
Tegar Arief Fadly - Okezone

JAKARTA - Partai Bulan Bintang (PBB) akhirnya menunjuk Yusril Ihza Mahendra sebagai calon presiden pada Pemilu 2014 mendatang. Keputusan ini diambil setelah Majelis Syuro PBB menggelar rapat internal pada 25 September 2013 lalu.

"Prof Yusril memiliki wawasan kenegaraan dan pengalaman nasional dan internasoional sehingga patut dan layak menjadi Presiden RI, dan perlu ditetapkan sebagai capres dalam Pilpres 2014," kata Sekretaris Majelis Syuro PBB Bambang Setyo saat jumpa pers di Casablanca, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2013).

Bambang menjelaskan, Majelis Syuro PBB telah menimbang bahwa kedudukan presiden sangat memungkinkan bagi upaya pencapaian tujuan nasional guna terwujudnya masyarakat adil makmur sesuai dengan amanah pembukaan UUD.

Pada kesempatan yang sama, Bambang juga menginstruksikan kepada seluruh kader dan fungsionaris partainya untuk mendukung dan mengamankan keputusan ini. Jajaran partai wajib mensosialisasikan keputusan ini kepada masyarakat.

"Prof Yusril satu-satunya capres PBB. Partai harus bekerja dan mendukung. Sesuai dengan konstitusi partai, masalah capres ini adalah bagian daripada kewenangan yang diberikan Majelis Syuro PBB," tegasnya.


Ketua Majelis Syuro Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra telah diusung oleh partainya sebagai calon presiden pada Pemilu tahun depan. Yusril berharap, dirinya bisa menjadi salah satu capres alternatif pada pemilu nanti.

"Saya berharap menjadi calon alternatif di tengah-tengah calon yang sudah mendeklarasikan," kata Yusril di kantornya, kawasan Casablanca, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2013).

Yusril menjelaskan, penentuan capres yang dilakukan partainya sangat demokratis, dimana pengajuan nama dirinya diusulkan oleh hampir seluruh kader yang kemudian dibahas di rapat Majelis Syuro.

"PBB mengambil jalan yang singkat, tidak menggunakan konvensi seperti yang lain. PBB sudah mengambil keputusan dan akan melaksanakan keputusan itu," tandasnya.

Deklarasi pencapresan Yusril baru akan dilakukan pada 8 Desember di Surabaya, Jawa Timur.

"Deklarasi akan disampaikan nanti tanggal 8 di Surabaya," kata Yusril saat jumpa pers di kantornya di kawasan Casablanca, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2013).

Sementara itu, Ketua Umum PBB MS Kaban menjelaskan, dipilihnya Surabaya sebagai lokasi deklarasi pencapresan Yusril sekaligus untuk melakukan napak tilas terhadap sejarah dari Masyumi, yang merupakan cikal bakal PBB.

"Masyumi Ketua Majelis Syuronya Hasyim Asyari, kakeknya Gus Dur. Sekarang yang maju sebagai capres juga ketua majelis syuro (Yusril). Jadi kita menapaktilasi kembali perjalanan sejarah," ungkapnya.
(dari berbagai sumber)

MASYUMI, Kekuasaan, dan "Orang Kita"


Oleh : Rizki Lesus
"Salah satu hal yang diperhatikan para pimpinan Masyumi, ialah mereka benar-benar membawa nama Partai Islam," kata Dr. Abdullah Hehamahua, mantan Penasihat KPK Kamis kemarin (27/11/2013) di Jakarta. Saya semakin penasaran, apa maksud Pak Abdullah Hehamahua yang namanya akhir-akhir ini kerap terdengar?

Beliau mengisahkan perjalanan Partai Islam pertama di Indonesia (yang diakui bersama) yang diresmikan oleh 'Kongres Umat Islam' di Yogyakarta pada 7-8 November 1945. Keputusan Kongres, yang dihadiri Mayoritas Ormas Islam dan elemen umat Islam se-Indonesia memutuskan bahwa Partai Islam satu-satunya adalah Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia)

Mantan ketua HMI era akhir 70-an ini menceritakan fenomena kekuasaan dan 'orang kita' Di mana, jika ada salah satu kelompok yang menang Pemilu dan berkuasa entah di wilayah Kota, Provinsi, atau apapun, hingga presiden, maka orang-orang kelompok tersebut yang 'diprioritaskan' mendapatkan 'jatah' jabatan (bisa Menteri, Kepala Dinas, Staf Ahli, Staf Khusus, Penentu Kebijakan, dll) dan mengurus beberapa proyek. "Lebih baik diambil sama kita, daripada orang lain," istilahnya.

Tapi lihatlah ketika Para Pemimpin-pemimpin besar itu, para pemimpin Masyumi yang pernah mencapai posisi tertinggi era parlementer, Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri, Menteri-menteri, dll.

"Saya bertanya pada Pak Syafrudin Prawiranegera, kenapa saat beliau menjadi Presiden RI (setelah Bung Karno dan Hatta dan Yogyakarta dilumpuhkan), pada akhirnya dikembalikan kepada Bung Karno dan Hatta, tanya saya," kata Pak Abdullah mengisahkan.

Syafruddin Prawiranegara memang mengambil alih pemerintahan dan didukung Menteri-Menteri yang tidak tertangkap, walau beliau sebenarnya tak membaca telegram Mandat dari Bung Karno dan Bung Hata.

Dengan senyum beliau menjawab,"Nak Abdullah, Masyumi itu Partai Islam dan Mengedepankan Akhlak Islam. Saya hanya diberi mandat dan amanah ini saya kembalikan," kata Pak Syafrudin.

"Saya bertanya pada Pak Moh. Roem, kenapa saat beliau menjadi Menteri Dalam Negeri, Tidak ada seorang pun Gubernur yang dipilih Menteri dari Masyumi?"

"Nak Abdullah, Masyumi adalah Partai Islam dan mengutamakan akhlak Islam. Saya memilih Gubernur sesuai kapasitasnya, bukan karena golongan. Jika ada yang kompeten, ia akan dipilih menjadi Gubernur," kata Pak Roem.

"Saya bertanya pada Pak Burhanudin Harahap, mengapa beliau mengundurkan diri dari Perdana Menteri setelah melaksanakan pemilu tahun 1955, padahal Partainya Masyumi, mendapatkan suara besar, menang 10 wilayah dari 15 wilayah di Indonesia, dan mengapa harus mundur?"

"Nak Abdullah, Masyumi adalah partai Islam dan mengedepankan akhlak Islam. Saya menjadi Perdana Menteri dengan amanah menyelenggarakan Pemilu Pertama dan sudah ada hasilnya. Selanjutnya saya serahkan pada Presiden Soekarno untuk menentukan kabinet baru dari hasil pemilu ini. Karenanya, saya serahkan mandat ini," kata Pak Burhanudin Harahap.

"Saya bertanya pada Pak Soekiman, saat diajak Soekarno menjadi Ketua DPRGR (selelah DPR dan Konstutuante dibubarkan melaui Dekrit Presiden), mengapa tidak ambil saja jabatan tersebut dengan tujuan berdakwah di dalamnya,"

"Nak Abullah, mana mungkin saya korbankan kawan-kawan saya yang ditangkap, dan saya memilih jabatan tersebut?,"

"Saya bertanya kepada Pak Natsir, kenapa Menteri Agama tidak diberikan kepada salah satu golongan umat Islam saja, agar tak berpisah dengan Masyumi?"

"Nak Abdullah, Masyumi itu Partai Islam dan memilih Menteri Agama sesuai kapasitasnya. Jika dia memenuhi kualitas tersebut, dari golongan mana pun bisa menjadi Menteri," kata Pak Natsir.

Akhirnya, Pak Abdullah menutup dengan kalimat ,"Masyumi dari hidupnya hingga wafatnya, membubarkan diri tetap sebagai Partai Islam, orang-orang mengenalnya dan perjuangannya terus berlanjut," pungkasnya. Setelah itu beliau mengisahkan kesederhanaan-kesederhanaan para tokoh Masyumi, yang sampai membuat para peneliti Barat terheran-heran. Mungkin akan kita dengar kisahnya di lain waktu.