13 Mei 2022

SKETSA I Karna

 


Gambar 1 – Karna (sumber: gambar-wayangku).

Oleh Syakieb Sungkar

AYAH Bung Karno menyukai Karna. Sehingga anaknya diberi nama Soekarno, Karna yang baik. Memang Karna orang yang ambigu. Ia mempunyai karakter kesatria tetapi statusnya sebagai anak kusir pedati. Hal yang menjadi handicap ketika ingin berguru kepada Dorna. Dorna hanya menerima murid dari golongan kesatria sesuai janjinya kepada Dretarastra. Padahal Karna itu adalah anak Dewa Surya dan beribu Kunti, ibu dari Yudistira, Bima dan Arjuna. Sesungguhnya Karna adalah kesatria juga, karena ia merupakan kakak tertua dari ketiga Pandawa. Tidak berhasil belajar dari Dorna, Karna kemudian belajar dari Parasurama yang tidak pelit kepada ilmu. Karna tahu bahwa Parasurama mau berbagi ilmu hanya kepada sesama Brahmana, seperti ketika ia memberikan ilmu militernya kepada Dorna. Sehingga Karna menyaru menjadi Brahmana.


Pada suatu hari, Parasurama tidur di atas pangkuan Karna. Tiba-tiba muncul seekor kalajengking menggigit paha Karna. Agar Parasurama tidak terbangun, Karna membiarkan pahanya terluka sementara dirinya tidak bergerak sedikit pun. Ketika Parasurama bangun dari tidurnya, ia terkejut melihat Karna telah berlumuran darah. Kemampuan Karna menahan rasa sakit telah menyadarkan Parasurama bahwa muridnya itu bukan dari golongan Brahmana, melainkan seorang kesatria asli. Merasa telah ditipu, Parasurama pun mengutuk Karna. Kelak, pada saat pertarungan antara hidup dan mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua ilmu yang telah ia ajarkan.

Kemunculan Karna di dunia persilatan baru disadari ketika Dorna ingin mempertunjukkan hasil didikannya kepada para petinggi Astina. Di depan alun-alun Indraprasta, Dorna mengumumkan bahwa Arjuna lah muridnya yang terpandai, terutama dalam hal memanah. Begitu Dorna menyelesaikan laporan hasil pendidikannya selama ini, Karna berteriak dari pinggir lapangan, bahwa hasil sekolahnya itu palsu. Karna justru menantang Arjuna untuk adu kesaktian. Sebagaimana biasa, dalam pertandingan ada unggah-ungguh, dalam hal ini Krepa menanyakan asal-usul Karna. Adu kesaktian yang beradab apabila lawan tanding berasal dari garis kepangkatan yang sama. Ketika Karna menjelaskan dirinya adalah anak dari seorang kusir pedati, para petinggi menjadi kaget dan gusar. Sementara Kunti yang dari tadi memperhatikan Karna, justru jatuh pingsan, karena ia dapat mengenali bahwa Karna adalah anaknya hasil pertemuan dengan Dewa Surya ketika masih remaja.



Melihat ada orang yang berani melawan Arjuna, membuat para Kurawa senang, karena selama ini ada persaingan dan rasa iri hati antara Kurawa dengan sepupu mereka, para Pandawa. Dengan keinginan agar pertandingan dapat berlangsung, maka Duryodana melakukan inisiatif. Ia maju membela, agar Karna menjadi setaraf dengan Arjuna. Duryodana meminta izin kepada ayahnya, Dretarastra, agar ia mengangkat Karna menjadi raja di Angga, sebuah vasal, kerajaan kecil, negeri taklukannya. Dretarastra mengabulkan permintaan anaknya, pada saat itu juga Karna dinobatkan menjadi Raja Angga. Sehingga pertandingan dengan Arjuna dapat dilaksanakan. Adirata, sang kusir pedati, senang bukan main, karena Karna dinobatkan menjadi Raja.

Memang Karna tidak mengecewakan, ia dapat menandingi kesaktian Arjuna. Masing-masing mengeluarkan ilmu dan ajiannya sendiri-sendiri, pertandingan itu imbang, tidak ada yang kalah dan menang, sampai matahari terbenam. Kesaktian Arjuna ternyata ada yang mengimbangi. Suatu fakta yang tidak dapat membuat Arjuna jumawa. Dan hal itu memalukan Dorna yang telah memujinya mati-matian. Ternyata tanpa bersekolah pada dia pun, ada orang yang ilmunya selevel dengan Arjuna. Di lain pihak, Kurawa mendapatkan teman dan pahlawan baru, yang dapat dipergunakan suatu saat nanti, ketika Kurawa kelak berkonflik dengan Pandawa. Menjelang magrib, pertandingan dihentikan oleh Dretarastra. Dorna kehilangan muka.


Sakit hati Karna kepada kaum Aristokrat tidak hanya di situ saja. Setelah ia menjadi Raja Angga, ada seorang gadis cantik bernama Drupadi. Ia adalah putri Drupada, Raja dari Negeri Pancala. Kecantikan Drupadi telah membuat banyak Raja dan Pangeran datang untuk melamar, termasuk Duryodana. Agar mendapat menantu yang terbaik, Drupada mengumumkan sebuah sayembara memanah bagi siapa saja yang ingin memperistri putrinya tersebut. Bentuk sayembara adalah memanah boneka ikan yang berputar di atas arena, tetapi tidak boleh melihatnya secara langsung, melainkan melalui bayangannya yang terpantul di dalam baskom berisi minyak. Selain targetnya sudah ditentukan, panahnya pun ditentukan, yaitu pusaka Kerajaan Pancala yang berat. Akan tetapi, jangankan membidik boneka tersebut, mengangkat busur pun para peserta tidak ada yang sanggup, termasuk Duryodana yang perkasa sekalipun.


Karna maju setelah Duryodana, sahabatnya, mengalami kegagalan. Ia berhasil mengenai sasaran boneka ikan, dan memenangkan sayembara. Tetapi Drupadi menyatakan keberatan apabila Karna memenangkan sayembara, karena dirinya tidak mau menikah dengan anak seorang kusir. Karna sakit hati mendengarnya. Ia menyumpahi Drupadi sebagai wanita sombong dan pasti menjadi perawan tua karena tidak ada lagi peserta yang mampu memenangkan sayembara sulit tersebut selain dirinya. Ucapan Karna membuat Drupada merasa khawatir. Raja Pancala itu pun membuka pendaftaran baru untuk siapa saja yang ingin menikahi Drupadi. Persyaratan baru dibuat tegas, pemenang sayembara tidak harus berasal dari golongan kesatria. Kali ini Arjuna yang datang dan memenangkan sayembara. Drupadi diboyong ke Astina, dan diserahkan ke Yudistira, kakaknya, untuk diperistri.

Kesewenang-wenangan yang bertubi-tubi kepada Karna, telah membuat Kunti resah dan bersedih. Dan pada akhirnya Kunti menjelaskan kepada para Pandawa tentang affairnya di masa lalu dengan Dewa Surya, ketika masih remaja. Mendengar itu, Pandawa dan para petinggi Astina berbondong-bondong mendatangi Karna untuk menyatakan rasa penyesalan dan mengangkatnya sebagai anggota kerajaan, serta dipersilahkan tinggal di Indraprasta. Tetapi sudah terlambat, sikap Karna menolak dengan tegas persaudaraan dengan para Pandawa. Ia menyatakan setia kepada Kurawa yang telah meningkatkan derajatnya menjadi kesatria. Hal itu terbukti ketika Perang Baratayuda tiba, Karna berdiri di pihak Kurawa dan menjadi panglima perang menggantikan Dorna yang gugur.***

4 Mei 2022

Tinjauan KRITIS, lepas dari KRISIS NALAR

 





Salah satu bukti keberhasilan shaum Ramadhan adalah Tambah Tajam Mata Hati.

Sholat Ied di JIS petjah.  Yang biasa sholat di Istiqlal ngacir ke Jogja.

Kenapa?

Saya pikir nyerah sebelum tanding. Kena mental. 😄

Istiqlal selalu ramai. Ada nggak ada dia, dari dulu sholat ied di sana selalu ramai. Dia harus pindah tempat untuk menunjukkan powernya ngumpulin massa. Dari 2019 sudah jelas gagal, apalagi sekarang setelah kebijakannya makin jauh dari ngebela rakyat jelita (maksudnya jelata) Orang yang mikir pakai otak makin banyak loh.

Sementara yang di JIS, dia cerdik. Dia jual momen JIS baru dipakai. Saya curiga grand lounching JIS memang diatur pas momen lebaran dan sebelum masa jabatan dia habis. Di ending banget.

Lokasi sholat yang ternyata bukan di dalam JIS. Padahal katanya area dalam JIS sudah disiapkan garis shaf yang siap pakai. Tapi ternyata, JIS cuma dijadiin background aja.

Tapi lihat hasilnya. Foto-foto yang beredar  bikin merinding. Pernah lihat acara di dalam GBK? Sepetjah apa pun acaranya, auranya beda karena GBK yang megah nggak kelihatan. Untuk dapat aura petjahnya, harus ambil dari jauh biar kelihatan buletan GBK. Kalau long shot seperti itu, orangnya nggak kelihatan dong.  Bandingkan dengan JIS. Orangnya jelas kelihatan, JIS-nya apalagi. Foto-foto netizen yang beredar pun sama. Bukan cuma deretan kursi atau lapangan penuh aja yang terlihat.

Menjual banget

Di JIS, melihat jamaah mbludak dan background sempurna, yang dukung terharu, seperti reuni 212. Mrindingable

Yang nggak dukung juga merinding. Ini gimana nandinginnya? Jiper duluan.   Kena mental. Lalu keluar narasi-narasi, masjid banyak, ngapain ke lapangan? Lupa sunnah kalau ied memang bagusnya di outdoor. Untuk apa? Show off power.  😄😄😄

Apa kabar anak kesayangan yang ke pasar nggak dikenalin pedagang? Kena mental nggak tuh? Kalau dia bikin acara, pakai bagi-bagi sembako, bisa nggak tandingin JIS?  Anies nggak keluar  uang loh ini.  Sholat ied pakai APBD kan?

Waktu tau pilkada  2022 diundur, saya cuma nyengir aja. Katanya untuk menjegal Anies ya? Biar nggak ada jabatan, nggak bisa show off persiapan 2024. Kalau seperti itu, saya lihatnya, penundaan itu malah menguntungkan buat Anies. Dalam kondisi nggak menjabat apa pun, dia bebas ke mana aja. Bayangin kalau 2022 ada pilkada. Dia nyalon jadi gubernur lagi?

Menang? Lalu pas 2024 dia mundur di tengah jalan?
Habislah dia dibully, tjap: gila jabatan.

Kalah? Yah, nyagub aja kalah, mau nyapres. Sadar diri woy!

Nggak maju buat persiapan 2024? Gila, segitu gila jabatannya sampai ngorbanin jabatan gubernur yang sudah ditangan.

See?

Serba salah.

Sementara, ketika dia jobless, dia bisa bebas bergerak, silent campaign. Selama menjabat, dia sudah sebar jaring ke dalam dan luar negeri kan? Dia bantu daerah yang kena bencana, dia kerja sama dengan petani di kandang moncong. Di luar negeri? Sering loh perwakilan negara sahabat nyasar ke Selatan. Penghargaan dari luar banyak, dia dikenal di mancanegara.

Oh iya, tadi di CNN TV saya lihat iklan ucapan selamat idul fitri. Tanpa label apa pun, cuma Anies Baswedan dan keluarga. Siapa dia sampai segitunya pasang iklan? Ya memang tujuannya kampanye.  Biar orang makin kenal dia. Urusan ginian banyak lah yang bisa bahas. Anak komunikasi jagonya deh. Saya mah cuma anak pergerakan yang hobi nyinyir aja.

Sekarang, di ujung masa jabatannya, dia gebrak dengan JIS. Moment sholat ied dia pakai. Salah? Jual agama? Tergantung niatnya dia sih. Tapi bener kata Bang Azwar Siregar. Dia menyelamatkan muka muslim Indonesia dengan ngadain ied di tempat terbuka. Ngasih lihat power ummat islam.

Apa nggak jiper tuh musuh lihat orang berkumpul sebanyak itu bahkan ada yang dari dini hari. Semilitan itu? 😱😱😄😄

Lawannya sudah kena mental. Efek revolusi mental yang gagal total. Hanya bisa main di blusukan dan pencitraan.

Anies, orang ini cerdik. Mainnya halus. Narasinya sudah sering dibilang jago ngamong. Tapi pergerakannya halus, nggak grasa grusu. Contoh: gimana dia nyindir Giring dengan check sound JIS, gimana dia nyindir budaya baca dengan foto dia santuy baca buku.

Menggebrak kan?

Seperti kancil dan buaya. Kancil pakai buaya sebagai jembatannya nyebrang.

Above these all, selama mereka masih pakai tekhnologi paling mutakhir kardus digembok, nggak usah berharap orang di luar kelompok mereka yang menang.

Kalau Anies masuk ke sana?

Tinggalkan. Jangan jadi penyembah berhala.

Doa saya selalu, mengutip doa Nabi Ibrahim, minta negara yang aman. Juga, seperti kata Imam Syafi'i, jika cuma satu doa diijabah, mintalah pemimpin yang adil.

Kenapa?

Karena tanpa keamanan dan keadilan, sekaya apa pun kamu, nothing.

Nggak percaya?

Lihat Abrahamovic, dkk. Gara-gara perang Rusia, mereka nggak nyaman. Bahkan tadi sempat baca, dalam waktu dekat ini ada enam orang konglomerat Rusia bunuh diri. Mungkin nggak terkait dengan perang? Sangat mungkin. Tapi yang pasti, ketika negara nggak aman, pemimpin nggak adil, hidup bernegara nggak akan nyaman.

Kampanye terbaik adalah dengan hasil kerja pembuktian janji.

Note: padahal gratis loh kampanye ala Anies karena pakai APBD bahkan APBN, kenapa politisi lain nggak pakai cara ini ya?

Kental "political game"
Halus, merangkul dengan cerdas tidak memukul.