Hari Senin tanggal 26 Juni 1967 M bertepatan dengan 18 Rabiul Awwal 1387 H tepatnya di sebuah PUSKESMAS kecil Nambo di Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung, telah lahir seorang anak kelima (dari sebilan bersaudara) dengan berat 3,0 Kg, panjang 45 cm.
Di Hari ketujuh anak tersebut diaqiqahkan oleh kedua orang tuanya dengan menyembelih 2 (dua) ekor domba dan diberi nama Erry Ridwan Latief, dilahirkan dari keluarga biasa-biasa saja. Ayahnya bernama C. Suparman (anak pertama dari tiga bersaudara) hasil pernikahan Muhyi dan Shinta, ayahnya adalah seorang pegawai Departemen Agama kelahiran Muara Katapang yang waktu muda aktif di “Pandu”, Hizbullah dan Pemuda PERSIS sampai pada akhir hayatnya tetap berjuang di Jam’iyyah PERSIS, sedangkan ibunya bernama Yoyoh Komariah, seorang ibu rumah tangga (anak pertama dari dua belas saudara) hasil pernikahan H. Oyo dan Hj. Mariah yang dalam kesehariannya mengemban amanah sebagai Mubalighat Persatuan Islam Istri (PERSISTRI).
Pak Parman dan Ceu Yoyoh (begitu nama panggilannya) keduanya adalah perintis berdirinya Pemuda Persatuan Islam dan Persatuan Islam Istri di Banjaran. Erry (panggilan akrabnya) tumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan masa, beliau dikhitan pada usia yang sangat terlalu kecil sekitar umur 3 tahunan, bahkan (menurutnya. pen) saya tidak tahu bagaimana situasi ketika proses khitanan tersebut dilaksanakan, karena saya di “bius” total oleh seorang mantri (bernama Gunawan) yang menanganinya. Beliau tumbuh dan berkembang. Pada usia 5 (lima) tahun, beliau sering dibawa/mengikuti ayahnya pada setiap kegiatan pengajian keliling di sekitar wilayah Kabupaten Bandung. Erry kecil disekolahkan di Madrasah Ibtidaiyyah PERSIS jalan Pajagalan Banjaran, bahkan ketika usianya menginjak 7 (tujuh) tahun sikecil ini sekolah di dua tempat Madrasah Ibtidaiyyah dan Sekolah Dasar Negeri I Banjaran.
Takdir mulai diujikan kepadanya, tepatnya usia 12 tahun (kelas 5 SD), anak kecil ini harus menerima takdir dari Allah SWT tepatnya bulan Ramadlan tahun 1979, Ayah yang ia sayangi dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Maka sejak itulah langkah anak ini menghadapi tantangan hidup yang cukup lumayan, tetapi kenyataan tersebut tidak dijadikan alasan bagi dirinya untuk hidup malas dan berleha-leha. “Saya harus Maju, Saya harus mampu meneruskan perjuangan Orang tua dan saya harus membuktikan bahwa Allah maha Kuasa dan Maha Bijaksana”. Dia mulai berpikir bagaimana caranya agar dirinya mampu membantu sekaligus meringankan tugas hidup yang diemban oleh ibu Yoyoh selaku ibunya, kemudian beliau sekolah sambil membantu Kakeknya yang pada saat itu memiliki sebuah toko Jahit di bilangan Banjaran.. Tahun 1980 Erry kecil tamat dari pendidikan SD, dan melanjutkan studinya ke SLTP Negeri Banjaran (dengan tidak meninggalkan kegiatannya di Pesantren Persatuan Islam No. 31 Banjaran). Pada saat beliau naik ke kelas tiga, mulai bakat dan kreasinya terlihat ; pertama, aktif di Pencinta Alam yang ada di sekolah tersebut, kedua, meski tidak menduduki peringkat pertama pada tingkatannya Erry yang belia sempat menjuarai Lomba Pidato Tingkat SLTP se-Kabupaten Bandung. Ketiga, sibelia ini juga sudah mulai disibukkan dengan sebuah Group Band sekolah yang manamakan diri “Well String Band”. Dari sejak inilah kariernya mulai ada peningkatan (puncaknya , menjadi juara 3 Festival Band yang diadakan oleh Generasi Muda Bogor).
Tahun 1983 anak muda yang meningkat dewasa ini melanjutkan studynya di SMU Margahayu Kab. Bandung, IPS jurusan yang disenanginya. Kariernya di Band terus berlangsung , bahkan Erry remaja ini masuk dalam tim inti “Basket Ball” di sekolahnya. Tantangan demi tantangan dilaluinya. Puncaknya , ketika Ibunya tercinta harus meninggalkannya menghadap Yang Kuasa pada saat satu tahun baru keluar dari SMU Margahayu tepatnya pada 28 Maret 1987. Amanat terakhir yang ia terima dari ibunda tercinta adalah : “Buku titinggalan Apa Loba, Tulisan-tulisan Mamah oge loba nu kudu diteruskeun ku budak-budakna (Kitab yang ditinggalkan oleh ayahmu banyak/Tulisan-tulisan Mamah banyak dan perlu diteruskan oleh anak-anaknya), Kolot maneh teu ninggalkeun harta, tapi ngawariskeun cita-cita keur perjuangan Islam (Orang tuamu tidak meninggalkan harta dan kekayaan, tetapi hanya mewariskan cita-cita untuk perjuangan Islam). Maka dengan amanat itulah Erry remaja melangkah untuk melaksanakan wasiat orang tua dan Islam pada khususnya.
Tahun 1987 Anak remaja ini mengikuti test Penerimaan Mahasiswa Baru yang diadakan oleh IAIN “Sunan Gunung Djati” Bandung, dan diterima di fakultas Sastra jurusan Sastra Arab. Namun berselang satu tahun setengah, dirinya menemui Al Ustadz KH. A. Latief Muhtar, MA (saat itu menjabat Ketua Umum PP. Persatuan Islam) untuk bersilaturrahmi dan berdiskusi, sampai pada kesimpulan dari pembicaraannya Ustadz Latief menyarankan kepadanya : “ Karena yang mendalami Sastra Arab di Keluarga PERSIS itu sangat banyak, Tidak bisakah “Antum” mengambil jurusan lain seperti Sejarah Kebudayaan Islam ?” ungkapnya. Mendengar harapan beliau itu Erry yang selalu dididik untuk ta’at pada pemimpin, menerima taushiyah Ustadz tersebut. Maka merupakan amanah terakhir yang ia terima dari beliau (ustadz Latief. Pen) yang dianggap orang tuanya itu, diambillah Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam.
Ada hal yang khas dari orang muda ini, meski hidup tanpa orang tua, tetapi selalu yakin dalam menghadapi hidup yang terkadang keluarganya sendiri tidak mengetahuinya. Satu contoh saja, karena Hobbynya nyanyi, maka dia mencari biaya kuliahnya itu dari nyanyi tersebut, bahkan tahun 1989, anak muda ini menjuarai Festival Pop Singer se Perguruan Tinggi Islam di jawa Barat. Namanya tidak asing lagi untuk kalangan IAIN. Tahun 1988 anak muda ini mengikuti Pendidikan Dasar Pencinta Alam yang diadakan oleh Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam (MAHAPEKA) bersama lima orang rekannya, dan mulai saat itulah ada kebiasaan baru pada dirinya, yaitu suka memanjangkan rambut dan sejak itu pula dia sering disebut-sebut oleh temannya dengan sebutan Bowie, yang sebenarnya sebutan itu sudah disandangnya ketika masih duduk di bangku SMU. Perjalanan perkuliahan berjalan terus, aktifitas di Pencinta Alam pun dijalaninya. Tahun 1990 Erry muda dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin MAHAPEKA sampai pada tahun 1992, bahkan saat itulah dia mulai mendapat gelar “Demonstran”, karena memang sikap dan prinsipnya sangat tidak senang apabila melihat ketimpangan-ketimpangan kebijakan di hadapan matanya. Dia bergaul dengan sesama mahasiswa yang ada di Jawa Barat bahkan sampai Jakarta sekalipun mengenalnya. Ketika ditanya apa yang melatarbelakangi pola pergaulan seperti itu. Jawabannya adalah : “ Sebagai seorang Pemuda PERSIS yang notabene pemuda Islam senantiasa harus konsisten terhadap nilai “Bai’at” di hadapan Allah SWT, tidak ada kalimat lain selain Teruskan Dakwah Rosul Ciptakan Kedaulatan Ummah, dan harus mampu memberikan Rahmat Bagi sekalian Alam”, tegasnya. Pada sa’at remaja inilah beliau tetap menyibukkan diri pada Jam’iyyah Pemuda PERSIS, meskipun ketika sedang kuliah, tidak ada seorangpun yang menduga bahwa Erry ini seorang anggota Pemuda PERSIS, mungkin karena dilihat dari lahiriah saja yang culun, cuek dan terkadang nekad.
Tepatnya bulan September 1992 Erry yang anak “pahatulalis” ini akhirnya bisa menyelesaikan study nya meski harus hidup dalam petualangan mencari makna hidup sendiri bermodalkan ingin meneruskan Dakwah orang tuanya (Dakwah Islam). Pada tahun 1992 beliau melamar ke Telkom Divre III di jalan Supratman Bandung dan alhamdulillah beliau diterima dan ditempatkan di Kopegtel Witel V. Mulailah karier bekerjanya dilaksanakan (dengan tetap tidak meninggalkan pengajian -Bahtsul Kutub- yang diadakan setiap satu kali dalam seminggu). Tahun 1994, beliau menghabiskan masa lajangnya dengan mempersunting gadis tamatan SMUN IV Bandung angkatan tahun 1992 bernama Yulia Widiasari Rahmah (anak pertama dari lima bersaudara) ayahnya H. olih Suhalih dan ibunya Hj. Atik Atisah, satu tahun rumah tangganya berjalan, sangat diluar dugaan beliau berkeinginan untuk keluar dari pekerjaan. Ketika ditanya kenapa punya keinginan tersebut ?, ternyata menurutnya : ada ketidaksepakatan mengenai syar’i yang biasa dilakukan oleh pejabat baru (atasannya. Pen) yang menurutnya itu sangat bertentangan dengan hukum yang ditetapkan oleh Allah Swt. Tidak bisa ditolak lagi akhirnya beliau keluar dari pekerjaan itu dan ternyata mendapat dukungan istrinya. Berbarengan dengan peristiwa tadi dia berketetapan untuk pindah ke Singaparna Tasikmalaya kampung halaman isterinya yang kemudian ditakdirkan Allah untuk mendapat momongan bayi mungil laki-laki dan diberi nama Byan Illabiqisti Latief, tepatnya tanggal 14 September 1995.
Perjalanan hidupnya dia laksanakan dengan berbagai macam tempaan yang dihadapinya, beliau berdagang, mengajar di SMU dan apasaja yang beliau anggap mampu, bahkan tidak ketinggalan setiap ba’da subuh beliau selalu menyempatkan untuk pengajian membahas Tafsir di Ajengan Usep. Waktu berjalan terus, muncul kegundahan pada dirinya, karena terbiasa keseharian itu tidak pernah lepas dari kegiatan Dakwah di Persatuan Islam, tetapi di Singaparna nampaknya hal tersebut tidak tersantuni atau dengan kata lain banyak waktu luang yang menurutnya terbuang percuma, maka pada tahun 1997 beliau memutuskan untuk kembali lagi ke Banjaran Kampung halamannya.
Memang unik umat yang satu ini. Ada satu sikap yang mungkin sulit untuk diintervensi yang lain, termasuk keluarganya, yaitu sikap yang tidak nrimo hidup diujung telunjuk orang lain, dengan arti kata sering beliau mengatakan “ Just the way I am “ Hidup apa adanya, sebab pada dasarnya manusia diberi keleluasaan untuk bereksplorasi dalam hidup. Seperti apa yang Allah firmankan : “ Allah tidak punya kompetensi untuk merubah suatu kaum, sehingga dirinyalah yang akan merubah dirinya”. Pantas apabila terkadang beliau sulit dibawa komunikasi yang berbelit-belit, sebab keberbelitan itu adalah gambaran keragu-raguan, tidak tegas, bahkan tragisnya dirinya (orang yang terbiasa berfikir berbelit-belit) tidak mampu menikmati kelebihan yang diberikan Allah dalam memanfa’atkan akalnya. Kegiatan yang pertama yang dikerjakannya di Banjaran adalah kembali ke dunia pendidikan; Pesantren merupakan lembaga yang memberikan keteduhan hidupnya, karena diantara amanat orang tuanya adalah “membesarkan pesantren” yang ada di lingkungannya (Pesantren PERSIS No. 31 Banjaran. pen). Beliau juga diminta untuk mengelola SMU di Yayasan Handayani.
Karena Isterinya itu orang Singaparna Tasikmalaya, merupakan sebuah hal yang niscaya yang terkenal dengan motto : Hidup adalah Niaga dan Ibadah, maka beliau membuka warung kecil dibilangan Komplek Margahurip Asih Blok III no. 1 Kecamatan Banjaran yang diberi nama Kedai Hejo.
Karena dari kecil memang beliau dididik aktif dalam sebuah harokah, maka hal yang wajar bila orang yang satu ini begitu menikmati PERSIS sebagai basis lingkungan di ORMAS Islam termasuk Partai Politik yang berlandaskan Islam. Dari sejak kecil beliau sudah dilibatkan langsung dalam perjuangan ummat Islam di Partai Politik. Partai Persatuan Pembangunan (PPP) saat itu yang ditekuninya mendampingi Cucu W Baehaqie dsb paman-pamannya yang membimbing dan mengarahkan dalam mengelola sebuah pergerakan di Partai Politik. Bahkan ketika Masa Orde Baru berkuasa, dirinya pernah berurusan langsung dengan penguasa pada saat itu, karena masalah berbeda persepsi mengenai Dasar Negara yang dipahami pada saat itu cukup radikal dalam mensikapi “asasulwahid” , padahal secara substansial dirinya bukan pembangkang, tetapi justeru ingin mengembalikan pemikiran rakyat pada cara berpikir para pendahulu sebagai “Founding Father” bangsa ini, bahwa lahirnya Dasar Negara Pancasila adalah sebagai visualisasi harapan Ummat Islam dalam mengembangkan Daulatul Ummah dan Daulatul Islamiyyah. Maka wajar apabila hal tersebut (kejadian masa Orde Baru. Pen) menimpa dirinya. Karena memang para pemegang kekuasaan itu kebanyakan berlindung di kebesaran Pancasila tersebut. Mereka seolah-olah ingin melindungi Pancasila, padahal justeru Pancasila dijadikan alasan untuk berkuasa yang tidak berpihak kepada rakyat. Puncaknya pada masa Reformasi, belangnya kekuasaan akhirnya bisa terbongkar berkat gigihnya perjuangan menegakan kedaulatan Rakyat yang dimotori oleh Mahasiswa Indonesia.
Menjelang Tumbangnya Orde Baru, lahir sebuah himbauan dari PP. Persatuan Islam (PERSIS) tentang menentukan pilihan dalam pemilu 1999 itu kepada Partai Bulan Bintang yaitu partai yang jujur partai yang tampil apa adanya, nama dan lambangnya tidak dipenuhi rekayasa, arti dan maknanya sama yaitu BULAN BINTANG.
Karier politiknya masuk pada periodisasi “Jilid Dua” katanya. Dirinya berargumentasi : Bahwa pertama, keberadaanya di Partai Bulan Bintang saat itu bukan karena menyatakan “cerai” dengan PPP, tetapi lebih menekankan pada aspek silaturrahmi semata ; Ketika MASYUMI dibubarkan oleh Pemerintahan Soekarno maka ummat Islam pada saat itu berkesefahaman untuk berhimpun dalam satu kekuatan Ummat, maka PERSIS pada saat itu terjun langsung dalam membesarkan partai tersebut, artinya Ummat pada saat itu memahami bahwa Partai Persatuan Pembangunan adalah rumahnya Ummat Islam dan di dalam rumah tersebut terdapat kamar-kamar yang dihuni Ormas-ormas Islam. Maka pada saat Reformasi kamar-kamar tersebut sudah merasa layak dan mampu untuk berdiri sendiri dalam shaqilahnya masing-masing. Akhirnya berjuang sama-sama dalam satu visi bukan partai. Kedua, beliau katakan : saya terlibat aktif di Partai Bulan Bintang tiada lain hanya melaksanakan Taushiyah Pimpinan Pusat yang wajib dita’ati oleh seluruh anggotanya, yang menurut penela’ahan PP PERSIS, baru Partai Bulan Bintang (pada saat itu. Pen) yang mempunyai Visi dan Misi yang jelas dan hampir sesuai dan sejalan dengan visi dan missi Persatuan Islam. Maka tahun 1999 (setelah melalui tahapan pertemuan baik di intern keluarga maupun PERSIS) akhirnya beliau didorong untuk memimpin Partai Bulan Bintang untuk tingkat Kecamatan. Pemilihan Umumpun terlaksana, sehingga memunculkan namanya pada bursa calon legislatif mewakili partai di Kecamatan Banjaran. Akhirnya hasil Pemilu 1999 itulah Allah mentakdirkan dirinya untuk masuk di lembaga DPRD Kabupaten Bandung.
Dalam melaksanakan Amanah sebagai Anggota DPRD, beliau memiliki konsep : pertama, Dalam melaksanakan missi Syiasah (makna politik. Pen) sebagai muslim tidak bisa meninggalkan akar politik Islam ketika Hijrahnya Rosulullah SAW dan Kaum Muhajirin pada saat itu ke Madinah, dimana Kekuasaan itu lahir bukan untuk meraih kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, tetapi kekuasaan itu adalah sebuah keharusan yang wajib diperjuangkan ummat Islam, seiring dengan bergulirnya misi kerasulan yang “Rahmatan Lil ‘Alamin”, bukan saling sikut, tidak juga saling mendlolimi, tetapi sejauhmana kekuasaan itu bisa dirasakan oleh ummatnya terutama dalam melindungi dan memberikan rasa aman terhadap rakyatnya. Kedua, takdir yang diturunkan kepadanya merupakan amanah Allah yang harus mampu dipertanggungjawabkan nanti di yaumil jazaa. Ketiga, dalam usia yang masih begitu muda, beliau berharap memposisikan amanah ini sebagai proses pendalaman ilmu dalam memahami karakter bangsa yang membentuk dirinya untuk memajukan bangsa ini dengan menggunakan konsep berpikir yang sederhana dan sesuai dengan perintah Allah dan contoh yang “diwulangkan” oleh Rosulullah SAW dalam Sunnah Nya. Maka sangatlah wajar beliau berbeda pandangan (mengenai keterhormatan Anggota Dewan) dengan yang lainnya.
Menurutnya baik anggota Dewan sebagai lembaga Legistatif, para pejabat Negara (eksekutif) dan Pelaksana Yudikatif, hanyalah pengebun yang harus melaksanakan keinginan Rakyat sebagai Pemilik kebun. Bohong besar apabila segala kebijakan yang dikeluarkan itu untuk kepentingan rakyat, tetapi rakyat tidak merasakan keuntungannya, bahkan justeru kekuasaan itu dijadikan ajang untuk memperkaya diri, naudzubillah.
Wajar apabila dalam melaksanakan tugasnya anggota dewan yang satu ini seolah-olah terbiasa hidup dalam Isue yang senantiasa menimpanya, yang jelas cukup bisa difahami apabila seorang hamba Allah membawa missi kebenaran (haq), maka di dalamnya terdapat tantangan-tantangan, beliau mencontohkan : ketika Muhammad kecil tumbuh dan berkembang, maka orang Quraisy menyebutnya “Al Amien” (manusia jujur), tetapi ketika Muhammad membawa missi kerasulan, maka berubahlah gelar beliau menjadi Muhammad yang “Majnun” , lalu bagaimana sikap beliau menghadapi “gelar” baru itu, sang pembawa Risalah Allah tersebut tidak lalu menyatakan penolakan terhadap orang Quraisy, tetapi beliau buktikan dengan satu sikap penjelmaan Kalamullah “ dan tidak semata-mata kami mengutus (Muhammad), kecuali sebagai Rahmat bagi sekalian alam”. Maka Prinsip pengemban amanah dakwah adalah memberikan contoh yang baik kepada ummatNya, senantiasa menempati janji dan senantiasa bersikap jujur dan adil sesuai dengan tuntunan Alquran dan alhadits. Terakhir beliau mengungkapkan sebuah sabda Rosulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari : Barang siapa yang ditakdirkan Allah menjadi orang yang “baik” dan terpilih, maka diturunkan cobaan kepadanya. (HR. Bukhari). Artinya Ciri manusia hidup adalah adanya tantangan dan cobaan, maka apabila kita ingin terlepas atau bebas dari tantangan itu, maka tidak ada kata lain selain lepaslah dari kehidupan ini. Konkritnya : Ciri manusia hidup adalah menghadapi tantangan, apabila tidak mau ada cobaan dan tantangan itu bukan cirri manusia hidup (mati).
Pada saat tulisan ini dibuat beliau dikaruniai 5 (lima) orang anak yang bernama : Byan Illabiqisti Latief, Binar Miladifiqhan Latief, Biyadhika Raksanagari Latiefah,Brilian Rahmaning Putri Latiefah (lahir pada Hari Rabu tanggal 9 April 2003 pukul 07.00 wib) dan Barami Maulidajindi Latiefah (lahir pada hari Sabtu 10 Mei 2008 pukul 03.15 wib dinihari di RS. Muhammadiyah Bandung). Beliau menempati rumah kecil di Gg. Muksan No. 61 Rt. 03 Rw. IV Desa Ciapus Kecamatan Banjaran Kabupaten Bandung Kode Pos 40377 Telp/Fax. (022) 5947515 email : eryridwan_67@yahoo.co.id .
Perjalanan hidup di dunia politik, beliau lewati dengan keshabaran dan keikhlasan. Bahkan sangat diluar dugaannya, dimana perjalanan tersebut di atas harus dilewati bak seperti karang ditempa gelombang. Kenapa tidak, pada akhirnya beliau harus legowo menerima kenyataan pahityaitu lengser (karena terjadi “kudeta politik”) dari jabatan Sekretaris DPC Partai Bulan Bintang Kabupaten Bandung tapi kenyataan tersebut beliau terima sebagai realitas politik semata, buktinya di Pemilu 2004 (meski dalam kondisi terdzolimi ) justeru beliau mampu mendongkrak raihan suara di internal partai terbanyak diatas teman-temannya yang lain, meski pada akhirnya beliau menetapkan sikap untuk “coolling Down” dari dunia politik praktis. Hal tersebut dibuktikan pada tanggal 16 Mei 2005 beliau mengeluarkan pernyataan : “ saya akan menyimpan semua atribut dan posisi di partai politik, untuk berkonsentrasi pada Jam’iyyah Persatuan Islam”, yang pada akhirnya berdasarkan hasil Musyawarah Daerah Persatuan Islam yang ke IV di Pameungpeuk beliau menerima amanat untuk melaksanakan tugas sebagai Sekretaris Pimpinan Daerah (PD) Persatuan Islam Kabupaten Bandung sampai sekarang.Meski banyak pertanyaan dari para pendukungnya mengenai lepasnya aktifitas beliau di Partai politik, beliau hanya menjawab : “Perkembangannya akan terlihat di sekitar tahun 2008, jabatan politik itu bukan segalanya koq”.
Politisi Muda lulusan S2 (strata dua) IPK : 3,47 di Universitas Islam Negeri “Sunan Gunung Djati ” Bandung konsentrasi Studi Masyarakat Islam ini Banyak didatangi oleh para petinggi Partai Politik (di luar Partai Bulan Bintang pen) yang memintanya untuk bergabung dengan mereka, tetapi beliau justeru menjawab dengan jawaban yang sangat taktis : “Selama Partai Bulan Bintang tetap konsisten dalam memperjuangkan Syari’at Islam, maka dirinya tidak akan pernah bergeser untuk tetap membesarkan Partai yang berlambangkan Bulan Bintang ini“. Akhirnya beliau diminta oleh para kader Partai Bulan Bintang se Kabupaten Bandung pada Musyawarah Cabang PBB di Hotel Antik Soreang Kab. Bandung, sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Cabang (MPC) Partai Bulan Bintang untuk periode 2009-2014. Selamat berjihad stadz.. !!!. Wallahu a’lam bish-shawab. (Gaban : Al-Harokah




