16 Maret 2022

BEDASKEUN !

Bangsa dibangun atas dasar kebersamaan yang bersumber pada ajaran agama-agama yang ada, sehingga menjadi prasyarat utama penopang haluan keadaban bangsa yang berlandaskan KETUHANAN YANG MAHA ESA, artinya INDONESIA adalah sebuah negara yang menjadi tempat hidup rakyatnya yang BERTUHAN (beragama).

Di tataran pelaksanaan khususnya di Kabupaten Bandung; setiap elemen masyarakat dituntut untuk membangun keadaban dan peradaban masyarakat didukung sikap toleran, tidak mencampuradukan nilai keyakinan, sehingga mampu memelihara marwah dan harga diri wilayahnya.

BEDASKEUN !

Sutan Raja Rabu, 16 Maret 2022


15 Maret 2022

FKUB lembaga Mandatori Pemerintah

 





Sebagai lembaga MANDATORI berdasarkan PBM Nomor 9 & 8 tahun 2006, FKUB harus mampu menjadi garda terdepan pemerintah dalam membangun moderasi beragama terutama dalam membangun kebersamaan merajut silaturrahmi antar umat beragama khususnya di Kabupaten Bandung.


BEDAS dalam merajut KEBHINEKAAN,

BEDAS dalam menjaga MARWAH Pemerintahan Kabupaten Bandung,

BEDAS dalam menetapkan keputusan yang berperikeadilan.


#kesbangpolkabbandung 

#fkubkabbandung

Makna HALAKA





QS. al-Anfal : 42 


لِّيَهْلِكَ مَنْ هَلَكَ عَنْۢ بَيِّنَةٍ وَّيَحْيٰى مَنْ حَيَّ عَنْۢ بَيِّنَةٍۗ وَاِنَّ اللّٰهَ لَسَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ 


sehingga yang binasa, binasa dengan keterangan yang nyata dan yang hidup, hidup dengan keterangan yang nyata (pula).” 


Kata halaka dalam ayat di atas digunakan dalam konteks pertempuran pertama dalam Islam, yakni Pertempuran Badar. Di sana Allah menegaskan bahwa pertempuran tersebut diatur tempat dan waktunya oleh Allah, bukan oleh salah satu dari kedua pasukan yang bertempur. 


Sementara itu, kata halaka yang diterjemahkan dengan binasa adalah kata yang dapat menampung aneka pendapat ulama tentang maksud ayat tersebut. Halaka bisa berarti mati atau kalah dalam perang serta runtuh sistem masyarakatnya. Semuanya dapat dikandung oleh makna dasar kata itu, yakni jatuh, pecah, dan terjerumus dalam jurang. 

12 Maret 2022

ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA

 



Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, 

 

Tulisan saya memang berisi sebuah renungan bagi kita semua. Tidak berarti saya menggurui siapa-siapa, karena yang pertama-tama saya gurui adalah diri saya sendiri. Persoalan etika memang persoalan fundamental dalam kehidupan manusia, sebab itulah saya mencoba untuk membahasnya, dalam situasi yang baru, ketika teknologi informasi  memperkenalkan blog sebagai wahana berkomunikasi. Inti masalah yang saya bahas, bukanlah masalah baru. Sejak Nabi Musa, Plato dan Aristoteles masalah ini telah dibahas. Pada hemat saya, norma-norma etika adalah norma-norma fundamental dan absolut yang mengandung sifat universal, seumpama Ten Commandements Nabi Musa. Norma jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan memfitnah dan sebagainya adalah norma fundamental dan absolut.  Tanpa norma-norma itu, maka manusia akan kehilangan hakikat sebagai manusia yang sejati.


Norma etika berbeda prinsipil dengan norma sopan santun yang bersifat konvensional, relatif dan tergantung penerimaan sebuah komunitas. Norma sopan santun satu suku-bangsa tentu berbeda dengan norma sopan santun suku-bangsa lainnya. Norma etika juga berbeda dengan norma hukum, yang pada umumnya diformulasikan ke dalam hukum postif yang tertulis. Norma hukum akan jelas kapan dinyatakan berlaku, dan kapan tidak berlaku lagi. Norma etika berlaku universal dan berlaku selamanya. Hanya dalam keadaan tertentu, atau ada faktor-faktor tertentu, yang memungkinkan norma etika dapat dikesampingkan. Harus ada justifikasi yang kuat untuk memungkinkan hal itu, seperti keadaan yang amat memaksa. Saya menyadari bahwa etika seringkali berhadapan dengan dilema, suatu situasi yang amat sulit, dan suatu pilihan yang amat sulit.

Pada hemat saya, tidak perlu kita merumuskan kode etik, code of conducts dan sejenisnya dalam bentuk yang tertulis. Norma-norma etika harus hidup  di dalam hati-sanubari setiap orang. Dia harus tumbuh sebagai kesadaran. Sebelum melakukan sesuatu, setiap kita hendaknya bertanya kepada hati nurani kita masing-masing: patutkah hal ini saya lakukan? Dasar dari segala norma etika adalah keadilan. Adakah adil, kalau saya mengatakan sesuatu atau melakukan seuatu kepada orang  lain? Ini adalah pedoman dalam tindakan. Persoalan etika, bukan persoalan bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, dan  dapat atau tidak dapat. Persoalan etika ialah persoalan boleh atau tidak boleh.

Saya bisa saja memukul orang lain, karena saya menguasai ilmu bela diri, tetapi bolehkah? Saya mampu saja mengambil barang dagangan  pedagang di pinggir jalan, karena penjualnya seorang wanita tua, tetapi bolehkah? Saya dapat saja memfitnah  dan mencaci maki orang lain karena saya punya blog yang tidak dapat dikontrol siapapun, tetapi bolehkah? Saya memiliki senjata, saya dapat saja menembak orang lain, tapi bolehkah saya membunuh seseorang? Semua pertanyaan ini haruslah dikembalikan kepada kesadaran hati-nurani kita masing-masing. Dengan cara itu, kita akan memiliki apa yang disebut dengan “tanggungjawab etika” atau “tanggungjawab moral”. Sia-sia saja kita merumuskan kode etik secara tertulis. Percuma saja kita merumuskan matriks yang memuat sederet kewajiban dan larangan untuk dihafal luar kepala. Semua itu tidak menjadi jaminan apa-apa agar norma  ditaati. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya. Apalagi ketaatannya.

Dalam pandangan saya, kesadaran etika seperti uraian di atas itu akan mempu membedakan mana tulisan yang berisi polemik iintelektual, dan mana tulisan yang dapat dikategorikan sebagai agitasi, propaganda dan perang urat syaraf. Dalam sejarah bangsa kita, kita telah menemukan banyak polemik yang tinggi mutu intelektualnya, dan memberikan kontribusi besar bagi proses pembentukan bangsa dan negara kita. Polemik itu antara lain, ialah polemik Sukarno dengan Mohammad Natsir tentang hubungan Islam dengan Negara, polemik  tentang Islam dan Sosialisme antara Tjokroamitono dengan Semaun, dan Polemik Kebudayaan Timur dan Barat antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane. Demikian pula tulisan-tulisan bernada polemis yang dibuat oleh Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara dan lain-lain di bidang pembangunan politik dan ekonomi. Polemik intelektual tentang Islam dan Sekularisme, yang terjadi antara Mohamad Rasjidi dengan Nurcholish Madjid, sangatlah menarik untuk dibaca. Demikian pula polemik Mohamad Roem dengan Rosihan Anwar yang berkaitan dengan sejarah politik di tanah air era tahun 1950-an. Kalau kita menelaah dengan seksama, polemik mereka sungguh sportif, kesatria, argumentatif dan tidak menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada hubungannya dengan materi yang diperdebatkan. Mereka juga menggunakan kata-kata yang sopan, sehingga nampak suasana saling hormat-menghormati, walaupun perbedaan pendapat di antara mereka demikian tajam.

Polemik yang bernuansa intelektual sebagaimana saya gambarkan di atas, tentu berbeda jauh dengan kegiatan agitasi dan propaganda. Dua istilah ini sangat terkenal di masa partai komunis masih kuat pengaruhnya. Sebelum itu, Adolf Hitler dan Jozef Goebbels telah merancang propaganda Nazi dengan sangat canggih. Hampir semua  partai fasis dan partai komunis mempunyai suatu badan tersendiri yang menangani masalah ini. Badan itu mereka namakan dengan “Departemen Agitasi dan Propaganda” atau Agitprop yang berada di bawah komite sentral partai tersebut. Agitasi adalah menyerang lawan dengan segala cara dengan tujuan untuk merendahkan, memojokkan dan menjatuhkan. Pilihan kata-kata sangat tajam dan lugas. Propaganda mempunyai nada yang hampir sama, yakni menyampaikan fakta atau bukan fakta kepada publik dengan maksud untuk membentuk publik opini, sesuai yang diinginkan oleh sang propagandis. Dalam propaganda, segala kedustaan, penjungkir-balikan fakta, rumors dan fintah adalah halal belaka. Agitasi dan propaganda melahirkan perang urat syaraf atau psychological war.

Dalam blog, ada tulisan-tulisan yang mengundang timbulnya polemik yang bernuansa intelektual. Namun ada pula, tulisan-tulisan yang mengandung sifat agitasi dan propaganda yang melahirkan perang urat syaraf. Tulisan yang bernuansa intelektual memang mengajak kepada pencerahan. Namun tulisan yang bernada agitasi dan propaganda, tentu jauh dari semangat itu, karena  yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi upaya sistematis membentuk publik opini sesuai  keinginan orang yang melakukannya. Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah  kebenaran yang dirubah sedikit saja. Ada sebuah peristiwa terjadi dan menjadi sebuah fakta. Fakta itu kemudian “diplintir” sedikit saja dan disebarluaskan dengan teknik-teknik tertentu, maka dengan serta merta dia akan menjadi propaganda yang efektif. Sasaran propaganda tentu saja publik yang awam tentang seluk-beluk suatu masalah.

Berulang kali Professor Osman Raliby mengingatkan saya agar jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama. Professor  Osman Raliby pernah “berguru” kepada Jozef Goebbels, ketika beliau belajar di Universitas Humbolt, Berlin, menjelang Perang Dunia II. Kita harus jujur, fair dan adil. Demikian nasehat Professor  Raliby kepada saya. Kalau propaganda dihadapi pula dengan propaganda, dunia ini akan makin centang perenang. Dengan propaganda, orang dapat menciptakan “surga”, namun dengan propaganda juga orang dapat menciptakan “neraka” di tengah sebuah komunitas. Seperti saya jelaskan dalam Kata Pengantar blog ini, saya mengundang siapa saja yang berminat untuk berdiskusi, bertukar pikiran dengan semangat intelektual atas dasar saling menghormati. Tulisan singkat saya kali ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf.

Wallahu’alam bissawab.

9 Maret 2022

In Memoriam Majalah Iber

 



Oleh

Dadan Wildan Anas


1. Muqaddimah


Sejarah mencatat, salah satu peran yang menonjol dalam dakwah Persis adalah dakwah melalui tulisan dengan menerbitkan banyak buku-buku dan majalah-majalah. Sejak awal berdirinya, Persis telah menerbitkan beberapa majalah, di antaranya majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-Taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah Pemuda Persis Tamaddun (1970), Majalah berbahasa Sunda Iber (1967), dan berbagai majalah ataupun siaran publikasi yang diterbitkan di cabang-cabang Persis. Sampai saat ini majalah yang masih bertahan terbit adalah majalah Risalah serta beberapa majalah dan siaran publikasi di beberapa cabang Persis.


Penerbitan inilah yang menyebabkan luasnya daerah penyebaran pemikiran Persis. Lagi pula penerbitan buku-buku dan majalah-majalah ini sering dijadikan referensi, baik oleh para da'i maupun organisasi-organisasi ke-Islaman lainnya.


2. Majalah Sunda Iber


Majalah Iber sebagai majalah dakwah berbahasa Sunda, pertama kali diterbitkan oleh Pimpinan Cabang Persis Kota Bandung, pada bulan Agustus 1967, yang dipelopori oleh Ustad K.H.E. Abdullah. Ustad Emon Sastranegara semasa hidupnya,  memberi penjelasan bahwa Iber berarti berita atau pemberitahuan. Iber hanya memberitakan yang benar, utamanya berita dari Al Quran dan Sunnah.  


Sebagai media dakwah, Iber  memiliki visi yang dapat dilihat dengan mudah  dari cover depan, dengan huruf kecil, yang berbunyi: Siaran Persatuan Islam Majalah Dakwah Bahasa Sunda  dengan  jargon: Basana Moal Basi.


Sebagai “Siaran Persatuan Islam”, menunjukkan bahwa Iber membawa visi dan misi dakwah dari organisasi Persatuan Islam yang berorientasi pada penyebaran Al-Quran dan Sunnah. Kemudian jargon Basana Moal Basi seolah ingin menegaskan  kepada para pembacanya, bahwa bahasa, kajian, isi, dan substansi yang ada di dalam majalah itu tidak dibatasi  oleh waktu dan tanggal penerbitan. Tentu saja, karena topik  bahasannya berdasarkan pada kajian Al-Quran dan Sunnah yang abadi sepanjang zaman. 


Di sinilah, Iber memiliki misi yang luhur dan mulia, yakni mengajak masyarakat luas---utamanya masyarakat Sunda---agar dapat melakukan kebijakan (khaer), dapat  memerintah yang maruf, dan mencegah yang munkar. Meskipun pembahasannya telah melewati ruang dan waktu---ketika terbit---tetapi isinya dapat dipetik di masa depan bahkan di hari akhir. 


Dalam brosur promosinya tertulis: Iber, ngandung harti beja. Kangaranan manusa, sok pasti aya pohona. Ari poho, sok ngabalukarkeun salah. Mun ningali nu poho, urang kudu sili bejaan. Tangtu teu sagala rupa jeung sagawayah nu dibejakeun. Iber ngan ngabejakeun beja-beja nu bener, utamina beja tina Al-Quran & Sunnah. Ku jalaran kitu, insya Allah, basa Iber moal bari. Sok sanajan bahasanana geus kaliwat, tapi eusina bisa lumangsung keur mangsa hareup. Jaga dina poe kiamat.


3. Corong Dakwah Persis


Sebagai media dakwah jamiyyah, Iber dikelola oleh para aktivis Persis. Memang pada awalnya,  Iber diterbitkan sebagai media dakwah bagi para anggota dan simpatisan Persis yang paling banyak tersebar di tatar Sunda. 


Majalah Iber dikelola pertama kali oleh Ustad Abdullah. Pada Iber No. 177 yang terbit pada tanggal 27 bulan Djulhijjah 1402 H (15 Oktober 1982)  dapat dilihat susunan redaksinya. Dalam majalah itu, tertulis  Ais Pangampih (Pimpinan Umum) al-Ustadz KHE. Abdullah (alm) yang memegang rubrik tetap Tafsir dan Istifta ditambah dengan Mudrodat. Kemudian al-Ustadz K.H.M. Syarif Sukandi (alm). 


Lalu rubrik Tamaddun yang selalu diisi  oleh tulisan-tulisan segar  dari al-Ustadz Marzdedeq, ditambah tulisan para ustadz lainnya, seperti  al-Ustadz KH. Ahyar Syuhada, Drs. Saefuddin, HMI Sudibja, Usman Shalehuddin, dan tidak kalah pentingnya penata gambar tangan yang cekatan oleh Ustadz Abdul Kodir dari Nanjung, Kabupaten Bandung Barat.


Majalah Iber, meskipun sederhana, tetapi memiliki isi yang memikat, bahasa yang mudah difahami, dan kajian yang mendalam. Sejak wafatnya Ustad Abdullah pada tahun 1994, Iber tetap terbit oleh generasi berikutnya yang ingin berjihad dakwah melalui pena. Genteng-genteng oge teu kungsi pegat; walaupun pernah kritis tetapi tidak pernah putus,  Iber tetap setia melayani para pembaca fanatiknya. Iber lalu dikelola oleh cabang-cabang Persis yang ada di kota Bandung. 


Sejak tahun 1991, pengelolaan  Iber berada di bawah tanggung jawab Pimpinan  Daerah Persatuan Islam Kota Bandung dengan Susunan redaksi sebagai berikut: Pupuhu merangkap Girang Rumpaka: KHE. Abdullah; Staf Rumpaka: H. Emon Sastranegara, K.E. Nasrullah, AD EL. Marzdedeq, Dedy Rahman; Juru Titen: HE. Mansyur ZM; Khath: Rahmat Najieb, dengan alamat redaksi di Jalan Astanaanyar 53/21 Bandung. 


Selama lebih dari sepuluh tahun, Iber berada di bawah tanggung jawab Pimpinan Daerah Persis Kota Bandung. Untuk memperluas wilayah persebaran dakwah, mulai tahun 2001, pengelolaan  Iber menjadi tanggung jawab Pimpinan Wilayah Persatuan Islam Jawa Barat dengan Susunan redaksi sebagai berikut: Panaratas: KHE. Abdullah (1967-1994); Pupuhu: Pimpinan Wilayah Persis Jawa Barat; Girang Rumpaka: H. Emon Sastranegara; Wakil Girang Rumpaka: H. SZ Rustaman Luqman KS; Rumpaka: KHA. Syuhada, AD. El. Marzdedeq, KH. Abdurrahman KS, KH. Rahmat Najieb; Litbang: H. Yusuf Badri; Girang Serat: H. Sayub Sayidin; Juru Duum: Hj. Emma, Agus, Neng; Juru Warta: A. Saeful Azis; Juru Pair: HE. Manshur Zainal Muttaqin. Alamat Redaksi: Jl.Astana Anyar 53/21 Kompleks Sarana Terpadu Ar-Risalah, Bandung.


Majalah Iber dapat terus bertahan, dibawah kendali Ustad Emon Sastranegara bersama putranya Ustad Ade Saeful Azis. Keduanya berupaya mempertahankan terus terbitnya majalah Iber. Namun, pada akhirnya Iber akhirnya juga terpaksa berhenti terbit.


4. Konten Majalah Iber


Untuk sekedar contoh, dapat dikemukakan profil dan konten majalah Iber bernomor 526/Taun 44/19 Dzulhijjah 1432 H/15 Nopember 2011 M. Iber terbit sebulan sekali setiap tanggal 15. Iber Nomor 526 menandakan majalah ini telah terbit 526 kali. Taun 44, menandakan Iber telah menginjak usia 44 tahun. Di cover majalah, tertulis:  Iber dengan huruf agak besar yang terlihat menonjol dan diberi warna merah. Di atas huruf e dan r tertulis dengan huruf yang lebih kecil: basana moal basi. Dan di bawah tulisan Iber, tertulis: Siaran Persatuan Islam Majalah Dawah Basa Sunda. 


Untuk menarik minat pembaca, di cover depan yang berlatar belakang foto jembatan. Saya tidak memahami latar belakang foto jembatan yang ditampilkan di cover depan karena tidak ada penjelasan dan tidak ada pembahasan tentang foto tersebut. Memang biasanya, pemilihan foto untuk latar belakang cover sering kali tidak menggambarkan isi majalah, kemungkinan hanya kreativitas redaksi. Redaksi beralasan, gambar cover tidak terlalu penting, karena yang dijual Iber bukan gambar, tapi isi.


Kemudian ditampilkan empat judul topik bahasan yang dimuat pada majalah ini, yakni: Hukum Kopi Luwak;  Tujuh Rupa Dosa Gede; Qurban Asal Tina Impian; dan Mujizat Al-Quran (4) dengan tambahan info; Seratan Pileuleuyan ti al-Ustadz KH SZ Rustaman Luqman. Ustad Rustaman Luqman adalah Wakil Girang Rumpaka Iber yang juga penasihat Pimpinan Daerah Persis Kota Bandung, beliau wafat pada tanggal 29 Oktober 2011. Ditampilkan pula foto ustad Rustaman Luqman. 


Di balik cover depan, satu halaman penuh ditampilkan ucapan  belasungkawa dari Pimpinan Pusat Persatuan Islam atas wafatnya Ustad Rustaman Luqman. Di cover itu tertulis: Sakumna rengrengan Pimpinan Pusat Persatuan Islam & sadaya Bagian Otonomna, Majalah Iber & Risalah, ngahaturkeun taziyah ku pupusna  Al-Ustadz KH SZ Rustaman Luqman (65 taun), di Bandung, Saptu 2 Dzulhijjah 1432 H/29 Oktober 2011; dikurebkeun di Pekuburan Astanaanyar, Bandung dinten eta keneh. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wafu anhu wa akrim nuzulahu wa wasi madkhalahu. Amin ya mujibassailin.


Di bagian awal majalah, rubrik Intisari menjadi pembuka sajian di halaman 3---karena Iber menetapkan cover luar dan cover dalam sebagai halaman 1 dan 2. Intisari dalam terbitan ini membahas mengenai kurban, dengan judul: Qurban Asal Tina Impian. Di bawah Intisari, ditampilkan susunan redaksi Majalah Iber.  Rubrik Intisari disebut oleh redaksi sebagai ruhnya Iber. 


Rubrik Intisari, disambung oleh rubrik Baca (Balaka tinu Maca) yang mengambil ruang dua halaman, untuk menampilkan pesan singkat (sms) pembaca  beserta jawaban redaksi, serta tulisan berupa surat pembaca.


Setelah Intisari dan Baca dimulailah pembahasan topik inti, diawali dengan rubrik Rohangan Tafsir yang  diasuh oleh KH. M. Abdurrahman Ks. yang membahas Tafsir Surat Al-Maidah 1-3 dengan judul Bulan Haram jeung Masjidil Haram. Lalu Rohangan Hadis oleh H. Emon Sastranegara yang mengangkat materi Tujuh Rupa Dosa Gede, dilanjutkan rubrik Elmu Hadis, oleh Drs. KH. Ahmad Daerobby M.Ag dengan judul Sifat Sanad alias Wangunan Riwayat; berikutnya Bina Akhlak oleh  H.M. Sayub Sayidin dengan topik Allah Maha Pinuji.


Salah satu bahasan yang menjadi ciri khas majalah Persis adalah pembahasan soal jawab masalah-masalah keagamaan. Soal jawab ini telah muncul sejak jaman Majalah Pembela Islam (1929). Di majalah Iber, soal jawab ditampilkan pada ruang Istifta. Di ruang ini, ditampilkan tiga pertanyaan dari pembaca, yakni Hukum Kopi Luwak---yang juga ditampilkan judulnya di cover  majalah---Qodoan dina Sasih Rajab;  dan Fidyah Dicicil.


Pertanyaan pembaca dan jawaban redaksi ditampilkan sangat singkat. Untuk tiga pertanyaan dan jawabannya hanya memerlukan satu halaman saja. Misalnya dalam judul Hukum Kopi Luwak. Tanya: Kumaha hukumna tai careuh/luwak anu ngaluarkeun kopi (kopi luwak)? Dengan identitas penanya ditulis: PC. Persistri Cingambul via Pa Abad S. Jawab: Tai Luwak kawas endog anu kaluar tina bujur hayam, kapanan teu disebut kotoran hayam. 


Pertanyaan berikutnya dengan judul Qodoan dina Sasih Rajab. Tanya: Kumaha hukumna  qodho shaum dina sasih Rajab? Jawab: Qodho dilaksanakeun dina bulan salian ti Ramadhan, kalebet Rajab. Sakumaha pidawuh Allah SWT dina Al-Quran: Jeung sing saha nu gering atawa di panyabaan, nya (wajib manehna puasa) sababaraha poe (nu ditinggalkeun) dina poe-poe liana (Q.S 2:185). Terakhir mengenai Fidyah Dicicil. Tanya: Sim kuring teu puasa, saur dina katerangan agama, upami teu aya kamampuhan puasa tapi digentosan ku fidyah upami leres-leres aya alesan anu kiat, upamina tos pikun, naha mayarna kedah sakaligus atanapi tiasa dicicil. HMB. Majalengka. Jawab: Teu janten masalah fidyah bade dicicil atanapi dibayar sakaligus, margi agama henteu nangtoskeun iraha-irahana. Firman Allah: Jeung pikeun jalma-jalma anu kuat puasa tapi ripuh (lamun tea mah teu puasa) diwajibkeun mayar fidyah, nyaeta mere dahar hiji jalma miskin (saban poe) (QS 2:184).    


Rubrik berikutnya adalah Atikan yang diasuh oleh Drs. H. Abad Suryawirawan, yang dalam terbitan ini membahas Kakaren Lebaran. Berikutnya  Rohangan Aqidah, yang diasuh oleh Ustad KH. SZ. Rustaman Luqman. Rohangan Aqidah  pada terbitan ini membahas Mujizat Al-Quran yang merupakan tulisan keempat sekaligus tulisan terakhir almarhum.

Rubrik-rubrik selanjutnya lebih bernuansa informasi bagi para anggota dan simpatisan Persis. Mulai dari rubrik Akhbar, yang menampilkan tulisan berjudul Zakat, Ubar Kasakit Nagara; lalu rubrik Wawasan yang diasuh oleh H. Ekik Barkah, yang menampilkan tulisan Bilatung Warung. Ditambah rubrik Eunteung yang menyajikan cerita Joha Jeung Kalde.


Rubrik berikutnya adalah Akhbar Jamiyyah yang mewartakan Bakti Sosial Pimpinan Daerah Persistri Majalengka; Rohangan An-Nisa yang mengetengahkan tulisan Hayang Untung Tina Enteng oleh Atin Prihatini; dan rubrik Rohangan Haji yang memberi informasi mengenai haji.

Pada bagian akhir, ditampilkan setengah halaman rubrik Bahasa Jawa, mengenai Sholat yang disajikan dalam bahasa Jawa. Ada pula ruang Emutaneun Urang yang memberi ruang bagi para pembaca untuk berinfak bagi para ustad yang bertugas di luar Jawa. Majalah Iber ditutup dengan rubrik Uswah, yang menampilkan H. Sahwanoedin Djojoprajitno (Saurang tokoh ti tungtung Pulo Jawa Madura).


Menilik isi Majalah Iber, tentu lebih banyak menampilkan masalah-masalah keagamaan dengan kondisi kekinian. Namun, sebagai majalah sebuah organisasi Islam, informasi tentang berbagai aktivitas Persis, juga ditampilkan pada beberapa rubrik khusus.


5. Akhir Majalah Iber


Saat ini, Majalah Iber tidak lagi terbit. Awalnya, Iber terbit  sangat sederhana, sesederhana para pengelolanya tetapi tentu tidak sederhana untuk isinya. Awalnya, Iber lahir dalam bentuk majalah stensilan hasil raneo yang diputar dengan tangan. 


Seiring dengan   perkembangan zaman, Iber terbit dengan desain yang cukup baik. Penerbitan Iber, tentu tidak dapat dilihat dari kesederhanaan cover, tata letak, dan hasil cetakannya, tetapi lebih jauh pada nilai isi yang diwartakannya.  Para muballigh  dan muballighat Persis, dari generasi ke generasi, terpenuhi hajatnya terhadap bahan-bahan dakwah yang disajikan di majalah Iber. Mereka menyampaikan pesan-pesan dakwah, berbicara dengan dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran dan Hadis yang disajikan dari sebuah majalah yang tampil sederhana dengan harga yang sangat murah.


Sejak terbit No. 1 di bulan Agustus 1967 sampai dengan edisi terakhir, Iber hanya dicetak antara 1500 sampai 3000 eksemplar.  Pernah diterbitkan lebih dari 3000 eksemplar, namun  seperti falsafah pohon yang bisa rimbun daunnya karena jasa daun tua yang jatuh dijadikan pupuk alami, oplah sebesar itu tidak bertahan lama, karena peribahasa: genah maca teu genah mayar. Padahal seharusnya: resep maca resep mayar”. Majalah Iber saat ini dicetak sekitar 2.700 eksemplar setiap bulan,  dengan harga jual (infaq) saat ini Rp. 7.000. 


Majalah dengan harga jual berlabel infaq yang sangat murah, tentu berdampak pada biaya operasional dan honorarium penulis yang tidak besar. Untuk honor penulis masih amat rendah antara Rp 20.000 sampai Rp 60.000 sedangkan pegawai tetap diberi honor Rp 50.000 per bulan. Iklan yang dimuat juga dihargai saridona diserahkan kepada pemasang iklan. Itulah ciri khas majalah dakwah yang tidak mengejar oplah, tetapi mengejar tujuan mulia yang lebih besar yakni syiar Islam.


Majalah Iber yang kini tiada, namun tetap mengalirkan amal jariyah bagi para pendahulunya. Generasi terakhir pengelola majalah Iber, Ustad Emon Sastranegara allahu yarham dengan putranya Ustad Ade Saeful Azis perlu mendapat apresiasi dari jalan dakwah melalui majalah berbahasa Sunda.


Iber telah memberi warna dakwah yang menyejukkan  sebagai wahana penyedia informasi, pengembang syiar Islam, dan penyejuk kalbu. Iber telah tampil paling depan dalam mengembangkan pendidikan karakter Islami berdasarkan kultur kesundaan, ditambah dalil yang tepat dan tafsir yang akurat berdasarkan Al-Quran dan Sunnah, menjadi nilai lebih dalam mendidik masyarakat Sunda yang religius, membina nilai-nilai luhur, akhlak mulia, dan karakter bangsa sekaligus memelihara  jati diri kesundaan.


Apapun yang terjadi, Majalah Iber yang hampir 50 tahun terbit, merupakan prestasi yang luar biasa. Majalah Iber dapat terbit hampir 50 tahun dengan  hanya mengandalkan motivasi dan idealisme dari para pengasuhnya untuk menyebarkan dakwah Islam.  Ruh kecintaan pada Islam, melebihi kebutuhan akan materi. 


Falsafah sederhana dari redaksi: sebenarnya tiada manusia yang merugi, sebab kerugian itu hakikatnya adalah keuntungan yang tertunda. Hanya masalahnya, banyak manusia yang tidak sabaran menunggu itu semua.


Pendiri majalah ini, Ustadz KHE Abdullah telah tiada, Pengelolanya yang sabar dan setia, Ustad Emon, juga telah pergi.  


H. Emon Sastranegara almarhum, Girang Rumpaka Iber berandai-andai: Andaikan Al-Ustadz Abdullah masih hidup dan berada ditengah-tengah kita sekarang ini, beliau tidak akan kecewa, bahkan bangga  melihat Iber masih tetap eksis, dan mungkin beliau berkata: Teruskeun anaking, Iber ulah pegat, sing jadi shadaqah jariyah.

Insya Allah.