14 April 2020
RELFLEKSI JELANG SERATUS TAHUN PERSIS
RELFLEKSI JELANG SERATUS TAHUN PERSIS
Oleh: Dadan Wildan Anas
1. Muqaddimah
Tampilnya jamiyyah Persatuan islam (Persis) dalam pentas sejarah Islam di Indonesia pada awal abad ke-20 telah memberikan corak dan warna baru dalam gerakan pembaruan Islam.
Persis lahir sebagai jawaban atas tantangan dari kondisi umat Islam yang tenggelam dalam kejumudan (kemandegan berfikir), terperosok ke dalam kehidupan mistisisme yang berlebihan, tumbuh suburnya khurafat, bidah, takhayul, syirik, musyrik, rusaknya moral, dan lebih dari itu, umat Islam terbelenggu oleh penjajahan kolonial Belanda yang berusaha memadamkan cahaya Islam.
Situasi demikian kemudian mengilhami munculnya gerakan reformasi Islam, yang pada gilirannya, melalui kontak-kontak intelektual, mempengaruhi masyarakat Islam Indonesia untuk melakukan pembaharuan Islam.
Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (pengajian) agama Islam di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus. Kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan ciri dan karateristik yang khas.
Pada hari Senin, tanggal 12 September 1923 bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama Persatuan Islam (Persis).
Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Falsafah ini didasarkan kepada firman Allah Swt dalam Al Quran Surat Ali Imran ayat 103: Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (undang-undang/aturan) Allah seluruhnya dan janganlah kamu bercerai berai. Serta sebuah hadits Nabi Saw, yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Kekuatan Allah itu bersama al-jamaah.
2.Tujuan dan Aktivitas Persis.
Berbeda dengan organisasi-organisasi lain yang berdiri pada awal abad ke-20, menurut Fiederspiel (1970:11) Persis mempunyai ciri tersendiri; kegiatannya dititikberatkan pada pembentukkan faham keagamaan. Sedangkan kelompok-kelompok pergerakan yang telah diorganisasikan sebelumnya, misalnya Boedi Oetomo (1908) hanya bergerak di bidang pendidikan bagi orang-orang pribumi (khususnya orang-orang Jawa dan Madura); Syarekat Islam (1912) bergerak dalam bidang perdagangan dan politik; dan Muhammadiyah (1912) gerakannya diperuntukkan bagi kesejahteraan sosial masyarakat muslim serta kegiatan pendidikan keagamaan.
Sejalan dengan ini, Isa Anshary (1958:6) mengemukakan bahwa Persis tampil sebagai sebuah organisasi dari kaum muslimin yang sefaham dan sekeyakinan; kaum pendukung dan penegak Qur'an-Sunnah; ia mengutamakan perjuangan dalam lapangan ideologi Islam, tidak dalam lapangan organisasi. Persis berjuang membentuk dirinya menjadi intisari dari kaum muslimin; ia mencari kualitas, bukan kuantitas; ia mencari isi, bukan mencari jumlah. Persis tampil sebagai suatu sumber kebangkitan dan kesadaran baru; menjadi daya dinamika yang menggerakkan kebangunan umat Islam di Indonesia.
Karena itulah, sejak berdirinya hingga perkembangannya kemudian, Persis pada umumnya kurang memberikan penekanan bagi kegiatan organisasi. Ia tidak terlalu berminat untuk membentuk banyak cabang atau menambah sebanyak mungkin jumlah anggota. Pembentukkan sebuah cabang tergantung semata-mata pada inisiatif peminat dan tidak didasarkan pada suatu rencana yang dilakukan oleh pimpinan organisasi itu sendiri. Namun demikian, pengaruh organisasi ini jauh lebih besar dibandingkan baik dengan jumlah cabang maupun jumlah anggotanya.
Pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini dilakukan berbagai macam aktivitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.
Pada masa penjajahan Belanda, Persis memiliki dua sisi perjuangan; ke dalam, Persis secara aktif membersihkan Islam dari faham-faham yang tidak berdasarkan Al-Quran dan hadis Nabi terutama yang menyangkut aqidah dan ibadah serta menyeru umat Islam supaya berjuang atas dasar Al-Quran dan Sunnah. Sedangkan perjuangan ke luar, Persis secara aktif menentang dan melawan setiap aliran dan gerakan anti Islam yang hendak merusak dan menghancurkan Islam di Indonesia.
Karena itulah segala aktivitas dan perjuangannya ditekankan pada usaha menyiarkan, menyebarkan, dan mengembangkan faham Al-Quran dan As-Sunnah.
Sejak berdirinya hingga sekarang, diakui atau tidak, dalam gerakan pembaruan Islam di Indonesia, Persis telah menempatkan dirinya sebagai barisan pelopor, barisan paling depan dalam memperjuangkan aqidah Islam berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah.
Untuk mencapai tujuan jamiyyah, Persis melaksanakan berbagai kegiatan antara lain pendidikan yang dimulai dengan mendirikan Pesantren Persis pada tanggal 4 Maret 1936. Dari pesantren Persis ini kemudian berkembang berbagai lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (Taman kanak-kanak) hingga perguruan tinggi. Kemudian menerbitkan berbagai buku, kitab-kitab, dan majalah antara lain majalah Pembela Islam (1929), majalah Al-Fatwa, (1931), majalah Al-Lissan (1935), majalah At-taqwa (1937), majalah berkala Al-Hikam (1939), Majalah Aliran Islam (1948), majalah Risalah (1962), majalah berbahasa Sunda (Iber), serta berbagai majalah yang diterbitkan di cabang-cabang Persis.
Selain pendidikan dan penerbitan, kegiatan rutin adalah menyelenggarakan pengajian dan diskusi yang banyak digelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif Pimpinan Pusat Persis maupun permintaan dari cabang-cabang Persis, undangan-undangan dari organisasi Islam lainnya, serta masyarakat luas.
Demikian pula serangkaian kegiatan khotbah dan tabligh-tabligh banyak digelar di daerah-daerah, baik atas inisiatif Pusat Pimpinan Persis maupun permintaan dari cabang-cabang Persis, undangan dari organisasi-organisasi Islam lainnya serta masyarakat luas.
Dalam kegiatan tabligh ini, yang patut dicatat dan khas Persis, tidak hanya bersifat ceramah sebagaimana biasanya, tetapi juga diisi dengan menggelar perdebatan tentang berbagai masalah keagamaan; di antaranya perdebatan Persis dengan Al-Ittihadul Islam di Sukabumi (1932), perdebatan dengan kelompok Ahmadiyah (1933), perdebatan dengan Nahdlatul Ulama (1936), serta serangkaian perdebatan dengan orang-orang kristen, perdebatan dengan kelompok nasionalis, bahkan polemik yang berkepanjangan antara A.Hassan dengan Ir. Soekarno tentang faham kebangsaan. Aktivitas da'wah dengan perdebatan ini tidak lagi dilakukan pada masa sekarang, karena Persis telah mengubah metoda dakwah; tidak lagi melakukan gebrakkan yang bersifat shock therapy tetapi lebih cenderung ke arah low profile yang bersifat persuasif edukatif.
Di awal abad ke-21 aktivitas Persis telah meluas ke dalam aspek-aspek lain, tidak hanya serangkaian kegiatan yang disebutkan di atas, akan tetapi telah meluas ke berbagai bidang yang dibutuhkan oleh umat Islam melalui bidang pendidikan (pendidikan tinggi dan pendidikan dasar/menengah), da'wah, bimbingan haji, perzakatan, sosial ekonomi, perwakafan, dan pembangunan fisik.
Demikian pula fungsi Dewan Hisbah sebagai lembaga tertinggi dalam pengambilan keputusan hukum Islam di kalangan Persis semakin ditingkatkan aktivitasnya serta intensitas penelaahan berbagai masalah hukum keagamaan semakin banyak dan beragam.
4.Imamah Jamiyyah Persis
Kepemimpinan Persis periode pertama (1923-1942) berada di bawah pimpinan Haji Zamzam, Haji Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, yang tentu saja menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya.
Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan.
Pasca kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945, Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali sistem organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang.
Sebelumnya, melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll.
Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideologi Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).
Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary tahun 1960, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1983) yang dihadapkan baik pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jamaah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syiah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.
Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997); K.H. Shiddiq Amien (1997-2009); Prof. Abdurrahman (2009-2015); dan sekarang KH. Aceng Zakaria (2015-2020) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya (Pemuda Persis).
Pada masa ini terdapat perbedaan yang cukup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontroversial yang bersifat gebrakan shock therapy, pada masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.
5. Jelang Seabad Persatuan Islam.
Hampir satu abad, atau 100 tahun, Persis berjuang menyesuaikan diri dengan kebutuhan umat pada masanya yang lebih realistis dan kritis. Gerak perjuangan Persis tidak terbatas pada persoalan persoalan ibadah dalam arti sempit, tetapi meluas kepada persoalan-persoalan strategis yang dibutuhkan oleh umat Islam terutama pada urusan muamalah dan peningkatan pengkajian pemikiran keislaman.
Dengan potensi yang dimiliki Persis melalui kekuatan jamiyyah dengan jumlah anggota simpatisan Persis yang tersebar di seluruh Indonesia dan mancanegara; ditambah Perwakilan Pimpinan Pusat Persis di berbagai wilayah, jajaran jamiyyah dari tingkat Pimpinan Cabang; Pimpinan Daerah; serta Pimpinan Wilayah. Ditambah hadirnya ratusan lembaga pendidikan mulai dari TK/RA; Diniyah Ula; Ibtidaiyah; Tajhiziyah; Madrasah Tsanawiyah; Muallimin; sekolah sekolah dari SD SMP, dan SMA/SMK hingga Perguruan Tingga dan beberapa Mahad seperti Mahad Al-Imarat di Bandung; dan Mahad Usman bin Affan di Jakarta merupakan kekuatan dakwah dan pendidikan yang cukup besar.
Ditambah lagi, dari sisi maliyah, Persis mengelola ribuan lokasi Wakaf yang tentunya dapat menggerakkan potensi maliyah umat untuk menopang kegiatan dakwah, tarbiyah, dan siyasah.
Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, masihkah Persis akan tetap berpegang pada jargon memberantas bidah, khurafat, takhayul dan budaya lokal yang dianggap warisan tradisi Hindu-Budha?
Studi terakhir yang dilakukan Howard M. Federspiel---profesor Ilmu Politik di Ohio State University yang menaruh perhatian pada organisasi Persis sejak tahun 1970-an--dalam buku Labirin Ideologi Muslim, memberikan kategorisasi Persis sebagai organisasi dari kelompok muslim modernis yang mencurahkan perhatiannya pada promosi Islam puritan.
Persis di era kegemilangannya di tahun 1920-an sampai 1950-an, merupakan perhimpunan yang ideologis dan sangat kontroversial.
Sumbangan penting Persis dalam pentas sejarah Islam Indonesia terletak pada upayanya dalam mendefinisikan penegakan Islam, menentang praktik keagamaan pribumi dan tradisi, serta memisahkan dengan tegas antara sunnah dan bidah; halal dan haram. Dalam hal ini, sepertinya Persis tidak ramah terhadap budaya.
Hampir seabad berdirinya Persis, pemikiran-pemikiran Persis, lebih banyak dilahirkan dari hasil pemikiran Ahmad Hassan, sebagai guru utama Persis. Hasil pemikiran A. Hassan yang dilahirkan sejak tahun 1920-an hingga 1950-an, dalam perkembangannya tidak banyak berubah dan identik dengan pemikiran Persis. Hasilnya, banyak tata cara ibadah, tradisi, dan budaya yang digolongkan Persis sebagai bidah. Pengucapan niat dalam salat; menalkinkan yang akan dikubur sebagai persiapan untuk menghadapi pengadilan akhirat; membaca zikir saat menghadiri pemakaman; dan membaca surat Al-Fatihah untuk orang yang sudah meninggal, dianggap bidah karena tidak satu pun praktik ini yang dapat ditemukan rujukannya dalam Al-Quran dan sunnah.
Di sisi lain, Persis tampil akomodatif dengan budaya lokal. Berbeda dengan organisasi Islam lainnya yang berdiri pada awal abad ke-20 seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Al-Irsyad yang menggunakan bahasa Arab untuk nama organisasinya, Persis justru menamakan organisasinya dengan menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang mudah difahami oleh masyarakat. Ini sesungguhnya langkah awal Persis dalam membumikan Islam di tanah air.
Tentu saja, penamaan ini memiliki nilai filosofis, untuk mengarahkan harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita Persis sendiri, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam.
6. Khatimah.
Di awal abad ke 21 ini, menjelang seabad berdirinya Persis, tentu kita merindukan kembali hadirnya Persis sebagai pencerah sebagaimana kelahirannya di awal abad ke-20.
Di era kesejagatan saat ini, tentu saja aktivitas dan gerakan dakwah Persis tidak hanya bergelut pada pemurnian ibadah dan aqidah umat semata, tetapi harus melompat jauh untuk berkontribusi pada persoalan keumatan dan kebangsaan yang lebih luas dan makin kompleks.
Kita berharap, Persis dapat mengembalikan energi positifnya untuk membangun masyarakat Indonesia yang berkarakter, berakhlak mulia, berbudi luhur, dan berdaya saing. Persis juga diharapkan dapat menjembatani peradaban Islam, timur, dan barat.
Dalam menjalankan risalah dakwah, kita harus berkaca kepada para tokoh Persis di awal abad 20 yang mampu menjadikan organisasi ini menjadi besar dan mempunyai daya tarik tersendiri.
Melalui daya tanggap dan apresiatipnya terhadap pemikiran keislaman universal dan keperdulian terhadap pemberdayaan kaum muslimin, para tokoh Persis mampu merespon berbagai persoalan keumatan dan kebangsaan, baik dari perspektif Islam maupun sosial kemasyarakatan.
Segenap warga
Di era sekarang, jamaah Persis di seluruh tanah air harus berani mengubah pola, strategi, media, dan metode dakwah yang lebih terbuka. Para ulama Persis tidak boleh lagi bersikap eksklusif apalagi berdiri di atas menara gading. Tetapi harus terus meningkatkan kualitas dakwah dengan memberikan perhatian besar pada visi ke-Islam-an, kebangsaan, dan kesejahteraan.
Persis harus lebih aktif dalam menegakkan amar maruf nahi munkar, dengan cara-cara yang tepat dan terukur.
Persis harus mulai mengambil bagian dalam menjembatani dan membangun kebersamaan sekaligus menebarkan keteduhan, kedamaian, dan keteladanan.
Saya berharap, menjelang Muktamar Persis tahun 2020 ini dan tiga tahun menjelang seratus tahun berdirinya Persis, seyogianya Persis dapat lebih menegaskan lagi posisi dan eksistensinya sebagai salah satu ikon penting pergerakan Islam di Indonesia. Persis dapat menempati garda depan dalam merealisasikan Islam sebagai rahmatan lil alamin.
Wallahualam.
A. Hasan
AHMAD HASSAN;
ULAMA PEJUANG PENEGAK QUR'AN-SUNNAH
Oleh
Dadan Wildan Anas
"Tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada hidup dalam batas-batas agama"
(A. Hassan)
1.Riwayat Hidup Ahmad Hassan
Untuk menempatkan Ahmad Hassan dan gerakan tajdidnya dalam perspektif sejarah, tidaklah terlalu sulit. Sebagai sosok ulama pejuang penegak Qur'an-Sunnah, dengan integritas dan pandangan yang kukuh terhadap hukum-hukum yang diyakininya berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, meski telah menimbulkan kontroversial pada masanya, Ahmad Hassan telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam gerakan pembaharuan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20.
Selain mengarang buku-buku, menerbitkan majalah-majalah,menyusun tafsir Al-Qur'an pertama di Indonesia, serta mendidik para santri, ia pun telah banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama besar hasil didikannya antara lain Mohammad Natsir, K.H.M. Isa Anshary, K.H.E. Abdurrahman, dan K.H.Rusyad Nurdin, di samping telah memberikan andil besar terhadap pemikiran keislaman Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. Kepada Ahmad Hassanlah Bung Karno dalam pembuangannya di Endeh Flores meminta buku-buku dan majalah-majalah hasil karya Ahmad Hassan, sebagai pengisi ruh batiniahnya yang haus akan ke islaman. Dari Ahmad Hassanlah "api Islam" Bung Karno menyala.
Nama Ahmad Hassan dikenal di seluruh Indonesia, bahkan sampai semenanjung Malaysia dan Singapura, sebagai seorang ulama yang militan, berpendirian kuat,dan memiliki kecakapan luar biasa. Di bidang ilmu pengetahuan agama, ia dikenal lautan ilmu dan menghayati secara serius; seorang ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli berbagai ilmu pengetahuan lainnya, di samping seorang ulama yang piawai dalam setiap perdebatan dan berpendirian kukuh sebagai pemegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah. Ahmad Hassan---nama sebenarnya Hassan bin Ahmad, tetapi berdasarkan kelaziman penulisan nama orang keturunan India di Singapura, yang menuliskan nama orang tua (ayah) di depan, maka Hassan bin Ahmad dikenal dengan panggilan Ahmad Hassan---untuk selanjutnya disebut dengan A. Hassan---lahir di Singapura pada tahun 1887 berasal dari keluarga campuran Indonesia dan India.
Ayahnya bernama Ahmad, juga bernama Sinna Vappu Maricar, seorang penulis yang ahli dalam agama Islam dan kesusastraan Tamil. Ahmad pernah menjadi redaktur majalah Nur al-Islam (sebuah majalah dan sastra Tamil), di samping sebagai penulis beberapa buah kitab dalam bahasa Tamil dan beberapa terjemahan dari bahasa Arab.
Ahmad sering pula berdebat dalam bahasa dan agama serta mengadakan ruang tanya jawab dalam surat kabarnya. Sedangkan ibunya bernama Muznah yang berasal dari Palekat Madras, tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika Ahmad berdagang ke kota Surabaya, dan kemudian mereka menetap di Singapura (Noer, 1985:97-98 Masa kecil A. Hassan dilewatinya di Singapura. Pendidikan yang dialaminya dimulai dari sekolah dasar, akan tetapi tidak pernah diselesaikan-nya. Kemudian ia masuk sekolah Melayu dan menyelesaikannya hingga kelas empat serta memasuki sebuah sekolah dasar pemerintah Inggris sampai pada tingkat yang sama di samping belajar bahasa Tamil dari ayahnya.
Di sekolah Melayu itulah ia belajar bahasa Arab, Melayu, Tamil, dan bahasa Inggris Sekitar usia tujuh tahun ia pun, sebagaimana anak-anak pada umumnya, belajar Al-Qur'an dan memperdalam agama Islam.
Ahmad Hassan mulai bekerja mencari nafkah pada usia 12 tahun sambil berusaha belajar privat dan berusaha untuk menguasai bahasa Arab dengan maksud agar dapat memperdalam pengetahuannya tentang Islam.A.Hassan bekerja pada sebuah toko kepunyaan iparnya, Sulaiman,sambil belajar mengaji pada Haji Ahmad di Bukittiung dan pada Muhammad Thaib seorang guru yang terkenal di Minto Road.
Pelajaran yang diterima A. Hassan pada saat itu sama saja dengan apa yang diterima oleh anak-anak lain, seperti tata cara shalat, wudlu, shaum, dan lain-lain (Mughni, 1980:12). A. Hassan lebih banyak mempelajari ilmu nahwu dan shorof pada Muhammad Thaib. Sebagai orang yang keras kemauannya dalam belajar nahwu dan shorof, ia pun tidak keberatan jika harus datang dinihari sebelum shalat subuh.
Setelah kira-kira empat bulan belajar nahwu dan shorof, ia merasakan bahwa pelajarannya tidak mendapat kemajuan, karena apa yang diperintahkan oleh gurunya hanyalah untuk dihafal dan dikerjakan tanpa dapat dimengerti, sehingga akhirnya semangat belajarnya mulai menurun. Dalam keadaan demikian, pada saat gurunya pergi menunaikan ibadah haji, ia beralih mempelajari bahasa Arab pada Said Abdullah Al-Musawi selama tiga tahun. Di samping itu, ia pun belajar pada pamannya, Abdul Lathif seorang ulama yang terkenal di Malaka dan Singapura, serta belajar pula pada Syekh Hassan seorang ulama yang berasal dari Malabar, dan Syekh Ibrahim seorang yang berasal dari India. Dalam mempelajari dan memperdalam agama Islam dari beberapa orang guru tersebut kesemuanya ditempuh sampai kira-kira tahun 1910, menjelang ia berusia 23 tahun (Mughni, 1980:12).
Disamping belajar memperdalam agama Islam, dari tahun 1910 hingga tahun 1921, A. Hassan melakukan berbagai macam pekerjaan di Singapura. Sejak tahun 1910 ia telah menjadi guru tidak tetap di madrasah orang-orang India di Arab Street dan Baghdad Street serta Geylang Singapura hingga tahun 1913. Kemudian menjadi guru tetap menggantikan Fadlullah Suhaimi pada Madrasah Assegaf diJalan Sulthan. Sekitar tahun 1912-1913, A. Hassan menjadi anggota redaksi surat kabar Utusan Melayu yang diterbitkan oleh Singapore Press di bawah pimpinan Inche Hamid dan Sa'dullah Khan. Ia banyak menulis artikel tentang agama Islam yang bersifat nasihat, anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan yang sering diketengahkannya dalam bentuk syair. Tulisan-tulisan A. Hassan banyak pula menyoroti masalah aqidah dan ibadah, dan kadang-kadang tulisannya bersifat mengkritik hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, misalnya ia mengecam qadli dalam memeriksa suatu perkara dengan cara mengumpulkan tempat duduk pria dan wanita dalam satu ruangan (Mughni, 1980:12; Anshary, 1984:18).
Di samping itu, pidato-pidatonya pun kadang-kadang bersifat kritis, seperti halnya dalam sebuah pidato ia mengecam kemunduran ummat Islam, sehingga oleh pihak pemerintah ia dianggap berpolitik dalam pidatonya itu, akibatnya ia tidak diperkenankan lagi berpidato di muka umum. Setelah berhenti beberapa saat, sejak tahun 1915-1916,ia kembali aktif membantu surat kabar Utusan Melayu dengan bentuk dan sifat tulisan yang sama. Dalam karirnya sebagai pengarang di Singapura, ia pernah membuat cerita humor yang berjudul "Tertawa" sebanyak empat jilid. Selain itu, ia pun tidak segan-segan bekerja menjadi buruh toko, berdagang tekstil, permata, minyak wangi, menjadi agen distribusi es, agen vulkanisir ban mobil, pernah pula menjadi juru tulis di kantor jemaah haji di Jeddah Pilgrrims Office Singapura serta menjadi guru bahasa Melayu dan bahasa Inggris di Pontian Kecil, Sanglang, Benut, dan Johor (Mughni, 1980:14; Anshary, 1985:18)
Pada tahun 1921, A. Hassan hijrah dari Singapura ke Surabaya dengan maksud untuk mengambilalih pimpinan toko tekstil yang menjadi milik pamannya, Haji Abdul Lathif. Pada masa itu Surabaya menjadi tempat pertikaian antara "kaum muda" dengan "kaum tua". Kaum muda dipelopori oleh Faqih Hasyim, seorang pendatang yang menaruh perhatian dalam masalah-masalah keagamaan. Ia memimpin kaum muda dalam upaya melakukan gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Surabaya dengan cara tukar pikiran, tabligh, dan diskusi-diskusi keagamaan. Kaum muda di Surabaya ini mendapat pengaruh pembaharuan Islam dari karangan-karangan Abdullah Ahmad, Abdul Karim Amrullah, dan Zainuddin Labay dari Sumatera serta Ahmad Soorkati dari Jawa. Haji Abdul Lathif, paman A. Hassan yang juga urunya pada masa A. Hassan masih kecil, mengingatkan A. Hassan agar tidak melakukan hubungan dengan Faqih Hasyim yang dikatakannya telah membawa masalah-masalah pertikaian agama di Surabaya, dan dianggap pula oleh pamannya sebagai orang Wahabi (Mughni, 1980:16; Noer,1985:98).
Tetapi lain halnya dengan A. Hassan, dalam suatu kunjungannya kepada Kiyai Haji Abdul Wahab, yang kemudian menjadi seorang tokoh Nahdlatul Ulama, A. Hassan lebih banyak mendengar tentang pertikaian antara kaum muda dengan kaum tua. Dalam percakapannya dengan Kiyai Wahab ini, Kiyai Wahab mengambil salah satu contoh pertentangan dalam masalah ushalli (pembacaan niyat sebelum shalat) yang dipraktikkan oleh kaum tua sebelum melakukan ibadat shalat dengan bersuara, tetapi kaum muda menolak praktik ushalli ini karena tidak ada dasarnya dari Al-Qur'an maupun Hadits Nabi. Kaum muda berpendapat bahwa agama, agar dapat dikatakan agama, hendaklah didasarkan atas dasar Al-Qur'an dan Hadits shahih. Oleh karena ushalli merupakan suatu hal baru yang diintrodusir oleh ulama yang datang kemudian dan tidak terdapat dalam kedua sumber hukum tersebut, maka kaum muda menolaknya dan dianggap tidak tepat dibacakan pada saat sebelum shalat. Masalah yang ditemukan A. Hassan dalam pembicaraannya dengan Kiyai Wahab, menyebabkan ia berfikir lebih jauh tentang masalah tersebut, dan lambat laun ia sampai kepada kesimpulan berdasarkan pada penelitiannya terhadap Al-Qur'an dan Hadits Shahih bahwa kaum mudalah yang benar, ia tidak menemukan suatu dalil pun yang mendukung terhadap praktik ushalli kaum tua tersebut (Noer, 1985:98-99).
Melihat persoalan yang muncul ke permukaan, terutama masalah gerakan pembaharuan Islam yang sedang ramai dan pertentangan antara kaum tua dengan kaum muda yang terus berlanjut di Surabaya, A. Hassan lebih banyak lagi mencurahkan perhatiannya untuk memperdalam agama Islam. Maksud sebenarnya datang ke Surabaya untuk berdagang tidak dapat dipertahankan, bahkan kemudian ia lebih banyak bergaul dengan Faqih Hasyim dan kaum mudanya. Dalam kesempatan lain ia pun banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Syarekat Islam seperti H.O.S.Tjokroaminoto, A.M.Sangadji, Bakri Suroatmodjo, Wondoamiseno, dan lain-lain (Djaja, 1980:20).
Usaha dagangnya di Surabaya pada akhirnya mengalami kemunduran dan toko yang diurusnya diserahkan kembali kepada pamannya. Ia memulai usaha lain dengan membuka perusahaan tambal ban mobil, tetapi tidak lama kemudian tutup kembali. Melihat usaha A. Hassan tidak mengalami kemajuan yang berarti, dua orang sahabatnya Bibi Wantee dan Muallimin, mengirim A. Hassan untuk mempelajari pertenunan di Kediri karena ketika itu di Surabaya banyak para pedagang yang akan membuka perusahaan tenun. Selesai belajar pertenunan di Kediri, A. Hassan kemudian melanjutkan belajarnya ke sekolah pertenunan pemerintah yang ada di Bandung.Di Bandung inilah A. Hassan tinggal pada keluarga Muhammad Yunus, salah seorang pendiri organisasi Persis. Dengan demikian tanpa sengaja A. Hassan telah mendekatkan dirinya pada pusat kegiatan penelaahan dan pengkajian Islam dalam organisasi Persis sebagaimana pula ia sangat tertarik dalam masalah-masa lah keagamaan, dan tidak ingin ditinggalkannya. Pada akhirnya ia pun tidak lagi berminat mendirikan perusahaan tenunnya di Surabaya, tetapi di Bandung, yang rupanya disetujui oleh kawan-kawannya di Surabaya. Akan tetapi perusahaan tenun yang didirikannya gagal sehingga terpaksa ditutup. Sejak itulah minatnya untuk berusaha tidak ada lagi, malahan kemudian ia mengabdikan dirinya dalam penelaahan dan pengkajian Islam dan berkiprah dalam jam'iyyah Persis.
Pada tahun 1956 A. Hassan berkesempatan menunaikan ibadah haji bersama-sama dengan K.H.M. Isa Anshary, E. Abdurrahman, Tamar Djaja, Tamim, Emzita, dan lain-lain. Satu hal yang paling menarik adalah kejujurannya mengakui bahwa hajinya tidak sah, dan ia mengeluarkan surat pernyataan bagi jemaah Persis yang menyatakan kegagalan hajinya; suatu pengakuan yang jarang dilakukan olehjemaah haji lain. Padahal Ustadz E. Abdurrahman menyatakaan bahwa haji A. Hassan tetap sah, sebab telah melakukan wukuf di Arafah. Akan tetapi A. Hassan menganggap tidak sah karena tidak sampai melakukan melempar jumrah di Mina karena ia dirawat di rumah sakit, dan ia menganggap hajinya gagal (tidak sah). Karenanya, ia tidak pernah menyebut dirinya Haji A. Hassan (lihat Djaja, 1980:44-53).
Dalam kehidupan sehari-harinya, meskipun ia seorang muslim keturunan India, ia selalu berpakaian ala Indonesia; memakai sarung dari kain palekat (madras) dan jas putih tutup leher dengan sepasang sepatu di bawahnya dan peci hitam di kepala. Ia tidak pernah menukar cara berpakaian seperti itu sampai akhir hayatnya. Dalam shalat, bepergian kemanapun, menghadiri pertemuan-pertemuan besar, menghadapi lawan dalam perdebatan, ia berpakaian seperti itu; sebuah peci hitam di atas kepalanya, baju putih tutup leher, sarung palekat, dan sepasang sepatu. Demikian pula kebiasaannya setiap hari dalam memanggil orang, ia senang memanggil dengan perkataan "Tuan"; ia senang dengan ucapan itu terhadap lawannya bicara apakah umurnya sudah tua ataupun masih muda. A. Hassan selalu akan memanggilnya dengan kata "Tuan" Dan ia pun senang pula kalau dirinya dipanggil "Tuan" daripada disebut "Bapak", sehingga ia terkenal dengan panggilan "Tuan Hassan" (Djaja, 1980:98).
2. A. Hassan Guru Utama Persis
Untuk menelusuri perubahan sikap A. Hassan dalam agama, menurut Noer (1985:99) sukarlah untuk disimpulkan; apakah terjadinya perubahan itu di Surabaya atau di Bandung. Namun, nampaknya perubahan ini datang lambat laun. Untuk mendekati masalah ini, perlu ditelusuri hal-hal yang mempengaruhi sikap A. Hassan terhadap agama, antara lain pengaruh keluarga, pengaruh bacaan, dan pengaruh pergaulan. Ketika A. Hassan masih di Singapura, ia mengenal empat orang India yang bersimpati pada ajaran Wahabi, termasuk ayahnya sendiri, tetapi mereka tidak berusaha menyebarkan faham-faham wahabi. Ayahnya seorang yang menolak faham-faham tradisional, tetapi tidak secara langsung. Salah satu contoh penolakan ayahnya terhadap praktik kebiasaan tradisional yang masih melekat dalam ingatan A. Hassan adalah dalam sikapnya terhadap masalah talqin yang dicap oleh kaum muda sebagai praktik bid'ah. Ayah A. Hassan sengaja meninggalkan upacara pemakaman bila talqin dibacakan.
Selain itu di Singapura, ia pun telah mulai mengenal publikasi dari golongan pembaharu antara lain Al-Manar dari Kairo, Al-Imam dari Singapura, dan Al-Munir dari Padang. Ia telah pula mendengar bahwa Thahir Djalaluddin seorang tokoh gerakan kaum muda tidak disukai oleh golongan kaum muslimin tradisional dan sultan-sultan di Malaya. A.Hassan banyak pula melakukan kritik-kritik terhadap praktik yang tidak berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, meskipun belum sekeras ketika ia berada di Bandung dalam naungan jam'iyyah Persis. Kritik A. Hassan banyak dimuat dalam surat kabar Utusan Melayu yang terbit di Singapura. Salah satu kritiknya antara lain mengungkapkan masalah taqbil atas pengalamannya sendiri.
Ketika itu A.Hassan mengajar di sekolah Assegaf, ia harus mencium tangan (taqbil) seorang Nazhir (kepala sekolah) yang menganggap dirinya termasuk golongan sayyid (keturunan nabi). Seorang teman A. Hassan mentertawakannya, kemudian mengemukakan bahwa Nabi sendiri tidak pernah dihormati secara taqbil, kecuali hanya pernah dua kali dalam hidupnya (lihat Noer, 1985:99). Atas pengalamannya itu, ia menulis kritiknya terhadap praktik taqbil ini. Kritiknya telah menggoncangkan masyarakat Singapura, sehingga ia diberi peringatan keras oleh pejabat pemerintah untuk tidak merusak ketentraman yang telah terwujud di kota tersebut. Sekitar tahun 1917 A. Hassan telah berhasrat untuk menulis sebuah buku tentang Islam yang didasarkan atas Al-Qur'an dan Hadits shahih, tetapi ditinggalkannya maksud tersebut ketika ia mengetahui beberapa ajaran Syafi'i berlawanan dengan studinya tentang Al-Qur'an dan Sunnah. Selain itu, pada waktu itu ia belum berani untuk meninggalkan atau menolak ajaran-ajaran madzhab Syafi'i ini. Di samping itu, bacaan yang dibacanya pun turut mempengaruhi jalan fikiran A. Hassan.
Kira-kira tahun 1906-1907, Abdul Ghani, ipar A. Hassan telah berlangganan majalah Al-Manar yang terbit di Mesir. A. Hassan pun turut membacanya, meskipun tidak menguasai isinya secara penuh. Selain itu majalah Al-Imam salah satu majalah yang membawa faham baru yang dipimpin oleh Al-Hadi, Jalaluddin, dan Abbas yang merupakan tokoh-tokoh pembaharu selalu ia baca. Sekitar tahun 1914-1915 A. Hassan memperoleh buku “Kafa'ah” yang ditulis oleh Ahmad Soorkati, yang mengeluarkan fatwa bahwa muslim dan muslimah boleh menikah tanpa memandang golongan dan derajat. Buku lain yang mempengaruhinya adalah Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd yang membuat perbandingan keempat madzhab fiqih. Demikian pula ketika di Bandung ia banyak membaca buku karangan Ibnul Qayyim Al-Jauziah seperti “Zadul Ma'ad” buku karangan As-Syaukani yang berjudul “Nailul Authar serta terus mengikuti tulisan-tulisan yang diturunkan dalam majalah Al-Manar (Mughni, 1980:20).
Pergaulan, juga turut mempengaruhi jalan pikiran A. Hassan. Pada waktu di Singapura, selain mengikuti praktik keagamaan ayahnya, ia juga bergaul dengan salah seorang guru dari Mesir yang berfaham Wahabi dan sama-sama mengajar di sekolah Assegaf. Pada waktu di Surabaya, ia bergaul akrab dengan Faqih Hasyim seorang tokoh kaum muda Surabaya, serta banyak mengikuti pertemuan-pertemuan Al-Irsyad di bawah bimbingan Ahmad Soorkati. Ketika di Bandung, ia bergaul akrab dengan Muhammad Yunus dan Zamzam dua orang pendiri Persis. Dari keluarga, bacaan yang dibaca serta pergaulannya sedikit banyak telah mempengaruhi arah pemikiran A. Hassan. Arah pemikirannya mulai kentara dengan jelas setelah ia tinggal di Bandung dan berkiprah dalam aktivitas jam'iyyah Persis.
Selama di Bandung, A. Hassan banyak mengikuti pengajian-pengajian dalam lingkungan Persis, dan akhirnya A. Hassan memasuki organisasi ini pada tahun 1926, tiga tahun setelah organisasi itu berdiri (Persis berdiri pada tanggal 12 September 1923). A. Hassan masuk Persis sebenarnya bukan karena tertarik pada faham-fahamnya, karena ternyata justru A. Hassanlah yang membawa Persis untuk menjadi gerakan ishlah. A. Hassan sadar bahwa pemikirannya harus dituangkan dalam sebuah gerakan agar bisa berkembang secara efektif. Dan pada gilirannya, tampak gabungan antara watak A. Hassan yang tajam dalam cara berfikir dengan ciri Persis yang keras hingga menghasilkan sebuah gerakan tajdid yang cepat meluas. A. Hassan telah membawa Persis menjadi organisasi pembaharu yang terkenal tegas dalam masalah-masalah fiqiyyah.
Di tangan A. Hassan, Persis tampil dengan membawa corak dan warna baru dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Kiprah A. Hassan di Persis sejalan dengan "program jihad" jam'iyyah Persis yang ditujukan terutama pada penyebaran cita-cita dan pemikirannya; yakni menegakkan Al-Qur'an dan Sunnah. Hal ini ia lakukan dengan berbagai aktivitas antara lain dengan mengadakan tabligh-tabligh, menyelenggarakan kursus pendidikan Islam bagi generasi muda, mendirikan pesantren, menerbitkan berbagai buku, majalah, dan selebaran-selebaran lainnya. Dalam bidang pendidikan, misalnya, kemudian berkembang cepat dengan masuknya A. Hassan pada tahun 1926. Demikian pula dalam bidang penerbitan/publikasi banyak diterbitkan buku-buku dan majalah-majalah terutama yang memuat karangan-karangan A. Hassan. Penerbitan buku-buku dan majalah-majalah ini lebih banyak atas usaha A. Hassan sendiri; sejak menulis, mencetak, dan memasarkannya. Penerbitan inilah yang menyebabkan luasnya daerah penyebaran pemikiran A. Hassan yang identik dengan pemikiran Persis, lagi pula penerbitan buku-buku dan majalah-majalah ini hasilnya sering dijadikan referensi oleh para muballigh Persis dan muballigh dari organisasi lain.
Demikian pula kegiatan tabligh dan dakwah menjadi ujung tombak penyebaran faham Qur'an Sunnah yang dilaksanakan di berbagai tempat. Dalam aktivitas tabligh ini A. Hassan lebih senang melakukannya dengan metode debat sehingga sering kali digelar perdebatan sengit tentang berbagai masalah keagamaan. Dalam hal ini seolah-olah A. Hassan sangat senang menggelar perdebatan tentang berbagai persoalan, terutama persoalan-persoalan agama yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur'an dan Sunnah yang menjadi persoalan yang hangat pada masa itu, diantaranya masalah talqin, tahlil, talafudzh niyyat, bid'ah,khurafat, taqlid, dll. Persis benar-benar mendapat tenaga yang luar biasa dengan keberanian A. Hassan dalam setiap perdebatan, meskipun kadang-kadang berlangsung sangat keras, namun hal ini menyebabkan terbukanya pemikiran kritis dalam menghancurkan taqlid dan kejumudan di kalangan umat Islam. Masa-masa berikutnya boleh dikatakan pemikiran Peris identik dengan pemikiran A. Hassan, dan dalam waktu yang bersamaan telah menempatkan Persis dalam barisan "muslim modernis" di Indonesia. A. Hassan dengan Persisnya atau Persis dengan A. Hassannya banyak terlibat dalam berbagai pertukaran pikiran, dialog terbuka, perdebatan, maupun polemik di berbagai media massa. Sebagai salah seorang yang mempunyai peranan besar dalam Persatuan Islam, A. Hassan mengemukakan pendapat-pendapatnya tentang beberapa masalah yang berkenaan dengan agama antara lain tentang sumber hukum Islam; ijtihad, itttiba', taqlid, bid'ah, dan faham kebangsaan.
Dalam masalah sumber hukum Islam, A. Hassan tidak pernah membatasi secara tegas jumlah sumber hukum itu, tetapi yang dipandang pokok menurutnya adalah Al-Qur'an dan Sunnah atau Hadits. Sedang Ijma dan Qiyas sesungguhnya tidak berdiri sendiri. Menurut A. Hassan (An-Nubuwwah, 1977:159), Al-Qur'an merupakan kitab suci Umat Islam yang kalimat, rangkaian, dan susunannya, isi dan maknanya dari Allah. Sedangkan Al-Hadits, menurut bahasa berarti perkataan, pembicaraan, percakapan, sesuatu yang baru, atau khabaran. Menurut istilah, Al-Hadits adalah perkataan, perbuatan, dan hal-hal Rasul serta taqrirnya yakni perbuatan atau percakapan sahabat yang diketahui Rasul, tetapi dibiarkannya. Sedangkan Ijma yang diakui A. Hassan (Ringkasan Islam, 1972:22) adalah ijma sahabat Nabi. Ijma ini diterima sebagai sumber hukum Islam, karena kita percaya bahwa mereka tidak akan bersepakat menentukan sesuatu hukum kalau tidak ada landasan yang datang dari Nabi. Sekaligus ini berarti bahwa pada hakikatnya Ijma sahabat itu tidak berdiri sendiri, dan oleh sebab itu tidak perlu dijadikan sumber hukum Islam yang pokok seperti Al-Qur'an dan Hadits.
Menjelang pendudukan Jepang, pada tahun 1941, A. Hassan terpanggil untuk kembali ke Surabaya. Kepindahannya ke Surabaya diikuti pula oleh sebagian para santrinya dari Pesantren Persis Bandung. Di Bangil, kota kecil dekat Surabaya, ia mendirikan pesantren Persis seperti yang pernah dilakukannya di Bandung untuk mendidik para santrinya. Di Bangil inilah, di samping kegiatan sehari-harinya sebagai pendidik, perhatian A. Hassan ditumpahkan pada penelitian agama Islam langsung dari sumber pokoknya Al-Qur'an dan Sunnah. Puncaknya, A. Hassan telah berhasil menyusun tafsir Al-Qur'an yang diberi judul “Al-Furqon” yang merupakan tafsir Al-Qur'an pertama di Indonesia yang diterbitkan secara lengkap pertama kali tahun 1956---meskipun sebelumnya pernah diterbitkan dalam beberapa bagian sejak tahun1930-an. Selain itu, A. Hassan masih aktif menyampaikan pandangan dan pendiriannya tentang agama Islam dalam berbagai penerbitan, di samping membalas surat-surat dari berbagai pelosok mengenai masalah-masalah agama. Menurut Mohammad Natsir, dalam kata sambutannya terhadap buku Tamar Djaja (1980) A. Hassan adalah ulama besar, gudang ilmu pengetahuan, dan sumber kekuatan batin dalam menegakkan pendirian dan keimanan.
Natsir lebih jauh mengungkapkan: Beliau memiliki sifat-sifat utama yang jarang dimiliki oleh ulama-ulama rekan beliu yang lain. seorang ulama yang mengajar dan mendidik pemuda pemuda hidup dan berdiri di atas kaki sendiri. Beliau tidak kaya, tapi tak pernah kekurangan. Hidup dalam agama, dan senantiasa menegakkan agama, adalah filsafat hidupnya. Pendiriannya teguh, jiwanya kuat, pantang mundur dalam menegakkan kebenaran agama. Beliau berda'wah dengan segala jalan yang ditempuhnya. Dengan perkataan, pidato atau ceramah sebagai kebiasaan kaum muballigh, dan lebih banyak dengan tulisan. Beliau seorang penulis karangan yang enak dibaca, baik dalam majalah yang beliau terbitkan sendiri, maupun dalam buku-buku yang sengaja ditulisnya. Di samping itu, beliau gemar sekali berdebat, demi untuk membela agama dan menegakkan keyakinannya. Beliau telah berdebat dengan orang Keristen, dengan golongan Ahmadiyah, dengan kaum Komunis, dan entah dengan siapa lagi. Untuk keperluan debat tersebut beliau tak keberatan dimana pun saja tempatnya, bahkan kalau perlu semua biaya atas tanggungannya sendiri.
Pada hari Senin, tanggal 10 Nopember 1958 di Rumah Sakit Karangmenjangan (Rumah Sakit Dr. Soetomo) Surabaya, A. Hassan berpulang ke rahmatullah dalam usia 71 tahun. Ulama besar yang dikenal dengan A. Hassan Bandung (ketika masih di Bandung) atau A. Hassan Bangil (sejak bermukim di Bangil) telah menorehkan sejarah baru dalam gerakan pemurnian ajaran Islam di Indonesia dengan ketegasan, keberanian, dan kegigihannya dalam menegakkan Al-Qur'an dan Sunnah meski kadang disampaikannya dengan pemikiran yang "radikal", sehingga tepatlah Syafiq A. Mughni (1980) menyebutnya dengan Hassan Bandung; Pemikir Islam Radikal
3. Pengkaderan Gaya A. Hassan
Ahmad Hassan adalah sosok ulama yang aktif dalam mengkaji Islam dan aktif pula dalam berdakwah. Dalam hal ini A. Hassan sangat menaruh perhatian terhadap para pemuda Islam yang sedang bersekolah di sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial Belanda yang sangat kurang memberikan pelajaran agama Islam. A. Hassan menyadari bahwa anak-anak muda yang tengah menuntut ilmu itu adalah calon pemimpin di masa datang yang perlu dibekali dengan pengetahuan agama yang memadai. Tekad A. Hassan untuk menarik para pemuda pelajar itu sangat kuat, bagaimanapun sibuknya, ia senantiasa menyempatkan diri untuk berbicara dengan para pemuda pelajar itu. Ditundanya pekerjaan yang sedang dikerjakannya, baik sedang mengoreksi buku atau sedang menyusun tafsir, bercakap-cakap dengan para pemuda calon pemimpin ummat itu dianggapnya lebih penting (Rosidi, 990:36).
Mohammad Natsir adalah salah seorang yang terlibat dalam proses kaderisasi di bawah bimbingan A. Hassan. Dalam proses kaderisasi itu, kepribadian A. Hassan menampilkan kesan tersendiri bagi murid-muridnya, dalam sebuah tulisannya yang berjudul Membina Kader Bertanggung jawab” Natsir menulis; Suatu keistimewaan dalam diri A. Hassan, ialah setiap orang yang berkenalan dengan beliau segera tertarik kepada pribadinya. Seorang ulama yang ramah, suka berkelakar, dan juga memikat hati anak-anak muda sekelilingnya. Kepada semua orang, beliau selamanya memanggil "Tuan" baik yang baru dikenal, maupun yang sudah lama dikenal, bahkan kepada kader-kadernya sekalipun. Kalimat "Tuan" rupanya telah berurat berakar dalam kamus bahasanya, sehingga tak pernah kedengaran ia menyebut seseorang dengan perkataan Tengkau, saudara atau kata lainnya, kecuali terhadap anak-anaknya sendiri atau keluarga di rumah. Kami, beberapa orang pemuda Islam yang berada di sekelilingnya, biasanya setiap sore datang ke rumah beliau. Beliau selalu menyambut kedatangan kami dengan hati terbuka dan serius. Ketika itulah beliau memberikan tuntunan yang berguna, pelajaran akhlak menurut yang dicontohkan Rasulullah Saw. Beliau memperlihatkan rasa dekatnya kepada kami, dan tidak ada penilaian atau penghargaan (Djaja, 1980:54).
Natsir selanjutnya mengisahkan salah satu contoh dalam proses kaderisasi yang dilakukan A. Hassan, yaitu dalam hal melatih memberikan reaksi terhadap tantangan yang dilancarkan oleh kelompok non-Islam. Pada suatu hari, surat kabar berbahasa Belanda Algemeen Indischagblad (AID) di Bandung menurunkan tulisan khotbah seorang pendeta bernama Christoffles, yang isinya menghina Nabi Muhammad Saw. Natsir meminta pandangan A. Hassan tentang perlunya menangkis penghinaan itu, dan bahkan mengharapkannya untuk melakukannya. A. Hassan menyatakan keharusan itu, tetapi mengusulkan agar Natsir yang menulisnya. Setelah selesai, tulisan itu tidak dibawa lagi ke A. Hassan, karena Natsir sudah menduga akan dikembalikan lagi dengan alasan bahwa A. Hassan tidak mengerti bahasa Belanda. Setelah tulisan itu dimuat dalam surat kabar AID, A. Hassan tersenyum dan menyatakan terima kasihnya. Tulisan itu kemudian terbit dalam bentuk risalah berjudul Muhammad als Profeet (Mughni, 1988:174).
Dalam pengalaman seperti ini Natsir menyatakan kesannya sebagai berikut : Beliau tidak mau menyuapkan sesuatu ibarat makanan kepada kader-kadernya, tetapi haruslah berbuat sendiri dengan penuh tanggung jawab. Semboyan bila seorang bayi selalu dipangku saja, dia tidak akan pandai berjalan. Kalau beliau sudah menyetujui sesuatu, maka hendaklah kita pandai sendiri menyelesaikannya. Beliau mendidik kadernya berani bertanggungjawab dan sanggup berjuang menghadapi masalah-masalah, walaupun bagaimana rumitnya. Inilah yang dinilainya baik bagi angkatan pemuda Islam. Kami, pemuda-pemuda yang berada di dekat beliau selalu diteliti dengan kuat, disiplin dengan ketat, dan diberi tanggung jawab masing-masing. Jika kami memajukan suatu masalah agama, beliau tidak menjawabnya langsung, tetapi disuruhnya mencari dalam kitab-kitab yang ada dalam berbagai bahasa, terutama Arab dan Inggris. Saya diberi tugas tertentu, demikian juga Fakhruddin al-Kahiri, Abdurrahman, Qamaruddin Saleh, Isa Anshary, dan lainnya (Tamar Djaja, 1980:55-56).
Selain Mohammad Natsir, tokoh-tokoh ulama dan politikus yang pernah menjadi muridnya antara lain adalah K.H.M.Isa Anshary yang pernah menjadi Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (1948-1960); Ketua Umum Masyumi Jawa Barat, dan anggota DPP Masyumi. Mohammad Natsir dan Isa Anshary dalam pandangan politiknya merupakan lawan dari Soekarno, yang juga pernah berguru kepada A. Hassan dalam berbagai persoalan keagamaan. Demikian pula ustadz K.H.E.Abdurrahman, pemimpin pesantren Persis Bandung dan Ketua Umum Pusat Pimpinan Persis (1962-1983) yang juga pengasuh majalah At-Taqwa dan majalah Risalah adalah murid A. Hassan yang melanjutkan mengelola pesantren Persis di Bandung sejak ditinggalkan pindah oleh A. Hassan ke Bangil pada tahun 1941. Di antara murid-muridnya yang lain yang kemudian menjadi ulama besar dan memimpin pesantren-pesantren besar, antara lain Ustadz Abdul Qadir Hassan, putera tertua A. Hassan, yang menjadi pemimpin pesantren Persis Bangil dan pengasuh majalah Al-Muslimun serta pernah menjadi ketua Majelis Ulama Persis (sekarang Dewan Hisbah); K.H.O.Qomaruddin Shaleh, pensyarah dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis; K.H.M.Rusyad Nurdin, pensyarah di beberapa perguruan tinggi, ulama terkenal, dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis dan Ketua DDII perwakilan Jawa Barat; Fakhroeddin Al-Khahiri, seorang cendekiawan muslim teman seperjuangan Mohammad Natsir pada saat berguru pada A.Hassan; dan masih banyak lagi para cendikiawan dan ulama-ulama di daerah yang menjadi guru, ulama, mubaligh, dan aktivis dalam berbagai organisasi keislaman, terutama para santri pesantren Persis angkatan pertama yang menjadi pelopor dan penggerak tegaknya Qur'an-Sunnah di berbagai daerah tempat asal mereka.
Di samping itu dapat pula dikemukakan beberapa kawan seperjuangan A. Hassan dalam menegakkan Al-Qur'an dan Sunnah, di samping menjadi teman berdialog A. Hassan yang banyak menerima berbagai pemikiran dan faham yang dikemukakan A. Hassan, antara lain Ustadz Moenawar Chalil (Semarang), Ustadz K.H.Imam Ghazali (Jamsaren Solo), Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy (Yogyakarta), K.H.M.Ma'shum (Yogyakarta), Ustadz Abdullah Ahmad (Jakarta), Ustadz M. Ali Hamidy (Jakarta), Ustadz AbdulHakim dan Ustadz H. Zainuddin Hamidy (Minangkabau).
Kedekatannya dengan Bung Karno, Menurut Djaja (1980:24-25) dimulai dari perkenalan A. Hassan dengan Bung Karno ketika keduanya sama-sama bertemu di percetakan Drukerij Economy milik orang Cina di Bandung. Pada waktu itu Soekarno sedang mencetak surat kabar propaganda politiknya Fikiran Rakjat, sementara A. Hassan mencetak majalah-majalah dan buku-buku yang ia terbitkan. Dalam setiap pertemuannya di percetakan itu, antara keduanya sering terjadi dialog berbagai masalah. Rupanya sejak bergaul dengan A. Hassan, Soekarno yang tadinya kurang memahami betul tentang Islam, sedikit demi sedikit terbuka hatinya. Demikianlah, Soekarno mulai banyak belajar agama Islam kepada A. Hassan meski pada tahap permulaan hanya melalui obrolan di percetakan.
Lambat laun Soekarno belajar lebih aktif melalui buku-buku dan majalah majalah karangan A. Hassan. Terlebih lagi ketika Soekarno menjalani hukuman oleh pemerintah kolonial Belanda bagi para aktivis politik di Endeh Flores. Dalam kesepiannya Bung Karno merasa terhibur dengan datangnya kiriman buku-buku dan majalah-majalah dari A. Hassan. Setiap kapal yang merapat di Endeh, selalu membawa kiriman dari Bandung; dari Tuan Hassan, tidak hanya buku dan majalah tetapi juga makanan kegemaran Bung Karno, biji jambu mede. Sejak di Endeh Flores itulah, Soekarno mengakui A. Hassan sebagai gurunya dalam hal agama. Lihatlah beberapa surat yang dikirimkannya kepada A. Hassan yang terdapat dalam buku karangan Soekarno Dibawah Bendera Revolusi” (1964:325-344) dalam satu bab khusus Surat-Surat Islam Dari Endeh; Dari Ir. Soekarno Kepada Tuan A. Hassan, Guru "Persatuan Islam".
Berikut ini beberapa surat Soekarno yang dikirimkan kepada A. Hassan dalam pembuangannya di Endeh (dikutip kata-kata pembukaannya saja dengan ejaan baru).
Endeh, 1 Desember 1934 :
Assalamu'alaikum,
Jikalau saudara memperkenankan, saya minta saudara mengasih hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut di bawah ini; Pengajaran Shalat, Utusan Wahabi, Al-Muchtar, Debat Talqin, Al-Burhan, Al-Jawahir.
Kemudian dari pada itu, jika saudara ada sedia, saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal "sayid"... dst.
Endeh, 25 Januari 1935 :
Assalamu'alaikum,
Kiriman buku-buku gratis beserta kartu pos telah saya terima dengan girang hati dan terima kasih yang tiada hingga. Saya menjadi termenung sebentar, karena merasa tak selayaknya dilimpahi kebaikan hati saudara sedemikian itu. Ya Allah Yang Maha Murah.
Pada ini hari semua buku dari anggitan yang ada pada saya sudah habis saya baca. Saya ingin sekali membaca lain-lain buah pena saudara. Dan ingin pula membaca "Buchari" dan "Muslim" yang sudah tersalin dalam bahasa Indonesia atau Inggris? Saya perlu kepada Buchari atau Muslim itu, karena disitulah dihimpunkan hadits-hadits yang dinamakan shahih... dst.
Endeh, 26 Maret 1935
Assalamu'alaikum,
Tuan punya kiriman pos paket telah tiba ditangan saya seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini harilah saya bisa menyampaikan kepada tuan terima kasih kami laki isteri serta anak. Biji jambu mede menjadi "gayeman" seisi rumah; di Endeh ada juga jambu mede, tapi varieteit "liar", rasanya tak nyaman. Maklum, belum ada orang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu, maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya punya mulut sendiri tak berhenti-henti mengunyah!
Buku-buku yang tuan kirimkan itu segera saya baca, terutama "Soal-Jawab" adalah suatu kumpulan jawahir jawahir. Banyak yang tadinya kurang terang, kini lebih terang. Alhamdulillah!.. dst.
Endeh, 17 Juli 1935
Alhamdulillah, antara kawan-kawan saya di Endeh, sudah banyak yang mulai luntur kekolotan dan kejumudannya. Kini mereka sudah mulai sehaluan dengan kita dan tak mau mengambing saja lagi kepada kekolotannya, ketakhayulannya, kejumudannya, kehadramautannya, kemesumannya, kemusyrikannya (karena percaya kepada azimat-azimat, tangkal-tangkal, dan keramat-keramat) kaum kuno, dan mulailah terbuka hatinya buat "agama yang hidup". Mereka ingin baca buku-buku PERSATUAN ISLAM, tapi karena malaise, mereka minta pada saya mendatangkan buku-buku itu dengan separoh harga.. dst.
Endeh, 15 September 1935.
Assalamu'alaikum,
Paket pos telah kami ambil dari kantor pos, kami di Endeh membilang banyak terima kasih atas potongan harga 50 % yang tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang,dan mereka ada maksud lain kali akan memesan buku-buku lagi, insya Allah.
Saya sendiri pun tak kurang-kurang berterima kasih, mendapat hadiah lagi beberapa brosur. Isinya kongres Palestina itu, tak mampu menangkap "centre need of Islam"... dst.
Endeh, 22 April 1936
Chabar tentang berdirinya pesantren (Pesantren Persatuan Islam tanggal 4 Maret 1936---penulis) sangat sekali menggembirakan hati saya. Kalau saya boleh mengajukan sedikit usul; hendaklah ditambah banyaknya pengetahuan barat yang hendak dikasihkan kepada murid-murid pesantren itu. Umumnya adalah sangat saya sesalkan, bahwa kita punya Islam Scholars masih sangat sekali kurang pengetahuan modern science ...... dst.
Di bawah ini surat yang sangat pendek yang dikutip lengkap; mengabarkan tentang meninggalnya mertua Soekarno di Endeh.
Endeh, 25 Oktober 1935.
Assalamu'alaikum,
Sedikit khabar yang perlu saudara ketahui: hari Jum'at, malam Sabtu 11/12 Obtober ybl. saya punya ibu mertua yang mengikut saya ke tanah interniran, telah pulang ke rahmatullah. Suatu percobaan yang berat bagi saya dan saya punya isteri, yang---alhamdulillah, kami pikul dengan tenang dan tawakal dan ikhlas kepada Ilahi. Berkat bantuan Tuhan, Inggit tidak meneteskan air mata setetespun juga, begitu juga saya punya anak Ratna Djuami. Yah moga-moga Allah senantiasa mengeraskan apa yang masih lembek pada kami orang bertiga. Yang timah menjadi besi, yang besi menjadi baja, amin! Kesakitan Ibu mertua dan wafatnya, adalah menyebabkan saya belum bisa tulis surat yang panjang, maafkanlah! Sakitnya ibu mertua hanya empat hari.
Wassalam,
SOEKARNO
Berikut ini Surat Soekarno yang berisi sikapnya untuk tidak melaksanakan tahlilan ketika mertuanya meninggal dunia sebagai salah satu bukti masuknya pengaruh Qur'an-Sunnah yang diajarkan A. Hassan melalui buku-bukunya kepada Soekarno
Endeh, 14 Desember 1935
Kaum kolot di Endeh---dibawah anjuran beberapa orang Hadramaut---belum tentram juga membicarakan halnya saya tidak bikin "selamatan tahlil" buat saya punya ibu mertua yang baru wafat itu, mereka berkata, bahwa saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu.
Biarlah! Mereka tak tahu menahu, bahwa saya dan saya punya isteri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampun bagi ibu mertua itu kepada Allah. Moga-moga ibu mertua diampuni dosanya dan diterima iman Islamnya. Moga-moga Allah melimpahkan rahmat-Nya dan berkat-Nya, yang ia, meski sudah begitu tua, toh mengikut saja kedalam kesunyian dunia interniran!
Amien!
Surat-surat Islam dari Endeh dari Soekarno kepada Hassan dapat menjadi saksi begitu dekatnya Soekarno dengan A. Hassan, meskipun sebelumnya terjadi polemik yang berkepanjangan antara Soekarno dan A. Hassan tentang Islam dan faham kebangsaan. A. Hassan selalu menghantam kaum nasionalis netral agama di bawah pimpinan Soekarno dalam tulisan-tulisannya di majalah Pembela Islam. Namun, A. Hassan tidak pernah dendam kepada Soekarno dan kawan-kawannya. Hal ini terbukti ketika Soekarno berada di dalam penjara Sukamiskin, A. Hassan dan kaum Pembela Islam yang rajin menjenguknya dan memberikan buku-buku bacaan dalam penjara itu. Inilah suatu hal yang istimewa dalam diri A. Hassan. Beliau menganggap Soekarno adalah lawannya, dan tak pernah mendapat pujian daripadanya tentang gerakan dan cita-cita nasionalismenya. Hanyalah kritik dan hantaman tajam.
Tetapi ketika Soekarno berada baik dalam penjara maupun pembuangannya di Endeh, A. Hassan memperlihatkan kebersihan hati dan jiwanya; A. Hassan beranggapan bahwa Soekarno adalah seorang "muallaf" yang perlu diberi bimbingan ruh batiniahnya dengan keislaman. Ia menganggap Soekarno adalah kawannya yang selalu ditentangnya, kawan yang selalu menjadi lawan polemik dan kritik (Djaya, 1980:42-43). Dalam hal ini tepatlah jika A. Hassan disebut "Singa dalam tulisan, tapi domba dalam pergaulan" Sedemikian dekatnya A. Hassan dan Bung Karno, hingga pada suatu ketika, menurut Manshur Hassan salah seorang putera A. Hassan, pada pertengahan tahun 1953 A.Hassan jatuh sakit, menurut dokter terserang paru-paru, dan dirawat di Rumah Sakit Malang. Tidak diketahui siapa yang memberitahu A. Hassan sakit, tiba-tiba A. Hassan mendapat kiriman uang sebesar Rp. 12.500 (pada saat itu cukup besar) lewat pos wesel dari Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia.
Hal yang menarik, setelah diketahui A. Hassan mendapat kiriman uang dari Presiden Soekarno, para juru rawat dan dokter yang memeriksanya yang semula kurang memperhatikan A. Hassan, berubah menjadi sangat baik dan sangat memperhatikan kesehatan A. Hassan. Demikian pula, menurut keterangan Manshur Hassan, pada kira-kira tahun 1956, Presiden Soekarno pernah mengirim surat kepada A. Hassan yang isinya Soekarno menyatakan terima kasih atas pengetahuan agama yang didapatkannya dari A. Hassan dan surat tersebut diakhiri dengan kata-kata: "hutang emas dibayar emas, hutang budi dibawa mati". Surat dari Presiden Soekarno tersebut pada tahun 1967 dibawa oleh Ir. Abdul Kadir (alm.) dari Garut, salah seorang pengikut A., Hassan yang setia.
5. Buku-Buku Karangan A. Hassan
Berikut ini adalah beberapa buku karangan A. Hassan yang dikutip dari Djaja (1980:166-168); lihat pula Fiederspiel (1970); Mughni (1980); Anshary (1985).
1. Pengajaran Shalat, 1930 terbit 45.000 ex.
2. Pengajaran Shalat (huruf Arab), 1930 terbit 5.000 ex.
3. Kitab Talqin, 1931 terbit 5.000 ex.
4. Risalah Jum'at, 1931 terbit 4.000 ex.
5. Debat Riba, 1931 terbit 2.000 ex.
6. Al-Mukhtar, 1931 terbit 8.000 ex.
7. Soal Jawab, 1931 terbit 7.000 ex.
8. Debat Talqin, 1932 terbit 7.000 ex.
9. Kitab Riba, 1932 terbit 2.000 ex.
10. Risalah Ahmadiyah, 1932 terbit 3.000 ex.
11. Pepatah, 1934 terbit 2.000 ex.
12. Debat Luar Biasa, 1934 terbit 3.000 ex.
13. Debat Taqlid, 1935 terbit 6.000 ex.
14. Debat taqlid, 1936 terbit 10.000 ex.
15. Surat-Surat Islam dari Endeh, 1937 terbit 10.000 ex.
16. Al-Hidayah, 1937 terbit 2.000 ex.
17. Ketuhanan Yesus Menurut Bibel, 1939 terbit 4.000 ex.
18. Bacaan Sembahyang, 1939 terbit 15.000 ex.
19. Kesopanan Tinggi, 1939 terbit 15.000 ex.
20. Kesopanan Islam, 1939 terbit 2.000 ex
21. Hafalan, 1940 terbit 5.000 ex.
22. Qaidah Ibtidaiyah, 1940 terbit 8.000 ex.
23. Hai Cucuku, 1941 terbit 4.000 ex.
24. Risalah Kerudung, 1941 terbit 7.000 ex.
25. Al-Burhan, 1931 terbit 2.000 ex.
26. Al-Furqan, 1931 terbit 2.000 ex.
27. Islam dan Kebangsaan, 1941 terbit 6.000 ex.
28. An-Nubuwah, 1941 terbit 8.000 ex.
29. Perempuan Islam, 1941 terbit 7.000 ex.
30. Debat Kebangsaan, 1941 terbit 3.000 ex.
31. Tertawa, 1947 terbit 3.000 ex.
32. Pemerintahan cara Islam, 1947 terbit 5.000 ex.
33. Kamus Rampaian, 1947 terbit 4.000 ex.
34. A.B.C.Politik, 1947 terbit 6.000 ex.
35. Merebut kekuasaan, 1947 terbit 4.000 ex.
36. Al-Manasik, 1948 terbit 2.000 ex.
37. Kamus Persamaan, 1948 terbit 4.000 ex.
38. Al-Hikam, 1948 terbit 4.000 ex.
39. First Step, 1948 terbit 2.000 ex.
40. Al-Faraidh, 1949 terbit 10.000 ex.
41. Belajar Membaca Huruf Arab, 1949 terbit 3.000 ex.
42. Special Edition, 1949 terbit 2.000 ex.
43. Al-Hidayah, 1949 terbit 6.000 ex.
44. Sejarah Isra Mi'raj, 1949 terbit 6.000 ex.
45. Al-Jawahir, 1950 terbit 5.000 ex.
46. Matan Ajrumiyah, 1950 terbit 2.000 ex.
47. Kitab Tajwid, 1950 terbit 8.000 ex.
48. Surat Yasin, 1951 terbit 2.000 ex.
49. Is Muhammad a Prophet, 1951 terbit 5.000 ex.
50. Muhammad Rasul ? 1951 terbit 5.000 ex.
51. Apa Dia Islam, 1951 terbit 5.000 ex.
52. What is Islam ?, 1951 terbit 3.000 ex.
53. Tashauf, 1951 terbit 30.000 ex.
54. Al-Fatihah, 1951 terbit 5.000 ex.
55. At-Tahajji, 1951 terbit 5.000 ex.
56. Pedoman Tahajji, 1951 terbit 5.000 ex.
57. Syair, 1953 terbit 2.000 ex.
58. Risalah Hajji, 1954 terbit 2.000 ex.
59. Wajibkah Zakat ?, 1955 terbit 3.000 ex.
60. Wajibkah Perempuan Berjum'at?, 1955 terbit 4.000 ex.
61. Topeng Dajjal, 1955 terbit 3.000 ex.
62. Halalkah Bermadzhab, 1956 terbit 7.000 ex.
63. Al-Madzhab, 1956 terbit 7.000 ex.
64. Al-Furqan (Tafsir Qur'an), 1956 terbit 85.000 ex.
65. Bybel-Bybel,1958 terbit 5.000 ex.
66. Isa Disalib, 1958 terbit 5.000 ex.
67. Isa dan Agamanya, 1958 terbit 5.000 ex.
68. Bulughul Maram, 1959 terbit 20.000 ex.
69. At-Tauhid, 1959 terbit 15.000 ex.
70. Adakah Tuhan?, 1962 terbit 12.000 ex.
71. Pengajaran Shalat, 1966 terbit 3.000 ex.
72. Dosa-Dosa Yesus, 1966 terbit 3.000 ex.
73. Bulughul Maram II
74. Hai Puteriku
75. Nahwu
76. Al-Iman
77. Aqaid
78. Hai Puteriku II
79. Ringkasan Islam
80. Munazarah
Selain buku-buku tersebut di atas, A. Hassan banyak pula menulis dalam majalah-majalah dan selebaran-selebaran yang cukup luas penyebarannya.
Buku-buku A. Hassan dalam perkembangannya seringkali dicetak ulang dan dijadikan referensi bagi para ulama maupun santri yang sedang menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan Islam, tidak hanya ulama dan santri Persis, tetapi juga para ulama dan santri di luar jamaah Persis.
Wallahualam.
Dadan Wildan Anas adalah Sekretaris Majelis Penasehat PP. Persis 2015-2020. Sebelumnya Ketua Dewan Tafkir PP. Persis (2005-2010); (2010-2015) dan mantan Sekretaris Umum PP. Persis (2000-2005). Sekarang bertugas sebagai Deputi Menteri Sekretaris Negara RI.
Pernah menulis empat buku tentang Persis, yaitu; (1) Sejarah dan Perjuangan Persatuan Islam (1923-1983); (2) Yang Dai Yang Politikus; Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis: (3) Pasang Surut Gerakan Pembaharuan Islam; Potret Perjalanan Sejarah Organisasi Persatuan Islam; (4) Gerakan Dakwah Persatuan Islam,(2015)
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
Oleh : Pepen Irpan Fauzan _Borosngora Persatuan Islam_ Koran _Sipatahoenan_ pada 27 Djanoeari 1933 memberitakan pujian-apresiatif para tok...

