26 Desember 2022

MENAKAR PERAN POLITIK UMAT ISLAM

 



Oleh : Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag *


Muqadimah


Ketika kita bicarakan Menakar Peran Politik Umat Islam , seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi –yang terlalu berani melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat rentan melahirkan pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Umat Islam secara otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at di hadapan Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap berpegang teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang siap untuk tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : Dan berpegang teguhlah kamu sekaliankepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai (QS. Ali Imran : 103 ).

Langkah untuk menyerap limpahan menuju wawasan yang berkualitas, tentunya tidak bisa dipersepsikan memberikan segalanya dan serba komprehensif. Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak mengakui “yang aku tahu adalah bahwa aku semakin tidak tahu apa-apa.” Tapi selanjutnya kita akan berani mengatakan “yang aku tahu adalah aku semakin tahu apa-apa”. Artinya, walaupun kita nantinya tidak sebijak socrates, tetapi paling tidak kita lebih “percaya diri” daripada Socrates.

Samuel P Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilizations and Remaking of World Order” mengatakan bahwa di benak kita tersembunyi asumsi-asumsi, bias-bias serta prasangka-prasangka yang “Membimbing” kita tentang bagaimana mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang kita lihat dan bagaimana kita menilai manfaat serta kebaikannya.
Salah-satu model berpikir yang senantiasa -minimal- harus ada di benak umat Islam diantaranya adalah bahwa umat Islam harus mampu ;

1. mengatur dan menggeneralisasikan realitas;
2. memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena;
3. melakukan antisipasi dan, jika beruntung, melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang;
4. memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting, dan;
5. menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan tujuan kita.

Perjalanan Politik Umat Islam

Membahas perjalanan politik umat Islam tidak bisa lepas dari proses berdirinya Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan diproklamirkan pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Kenapa demikian, karena tokoh-tokohnya seperti ; Tuan A. Hasan dan Moch. Natsir dan yang lainnya juga turut ambil bagian dalam “Membangun karakter Bangsa” melalui “symbol” Bung Karno sebagai salah satu Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berikut kutipan Surat-Surat Islam dari Endeh semasa Bung Karno hidup dalam masa pengasingan di Endeh Flores, dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi” cetakan pertama hal 325 dan 338 :

DARI IR. SUKARNO KEPADA TUAN. A. HASSAN, GURU “PERSATUAN ISLAM”, BANDUNG
No.1. . Endeh, 1 Desember 1934.

Assalamu’alaikum,

Djikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku jang tersebut dibawah ini: 1 Pengadjaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, 1 Al-Djawahir.

Kemudian daripada itu, djika saudara-saudara ada sedia, saja minta sebuah risalah jang membitjarakan soal “sajid”. Ini buat saja bandingkan dengan alasan-alasan saja sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal jang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih sulit daripada soal “sajid” itu, maka toch menurut kejakinan saja, salah satu ketjelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia jang menghampiri kemusjrikan itu. Alasan-alasan kaum “sajid”, misalnja mereka punja brosjur “Bukti kebenaran”,saja sudah batja, tetapi tak bisa mejakinkan saja. Tersesatlah orang jang mengira, bahwa Islam mengenal suatu “aristokrasi Islam”. Tiada satu agama jang menghendaki kesama-rataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu sebab jang mematahkan djiwanja sesuatu agama dan ummat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebentjanaan!

Sebelum dan sesudahnja terima itu buku-buku, jang saja tunggu-tunggu benar, dan mudah-mudahan nanti buku tersebut dibatja oleh banjak orang Indonesia agar bisa mendapat inspiration daripadanja. Sebab, sesungguhnja buku tersebut penuh dengan inspiration. Inspiration bagi kita punja bangsa jang begitu muram dan kelam hati, inspiration bagi kaum Muslimin jang belum mengerti betul-betul artinja perkataan “Sunnah Nabi”, – jang mengira, bahwa sunnah Nabi S.a.w itu hanja makan korma dibulan Puasa dan celak- mata dan sorban sahadja !.

Saudara, please tolonglah. Saja mengutjap beribu-ribu terima kasih.

Wassalam,

SOEKARNO

Surat-surat Islam dari Ir. Soekarno kepada A. Hassan dapat menjadi saksi begitu dekatnya Soekarno dengan A. Hassan, dan merupakan salah satu bukti dari perjalanan “High Politic”nya -melalui tokoh-tokohnya- dalam peta politik nasional, bahkan Internasional.

Peran Politik Umat Islam … ?

Setelah mendalami perjalanan pergerakkan Umat islam di arena politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana seharusnya peran politik Umat Islam ?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji. Kenapa demikian, karena kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing arus politik global, dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi antar warga negaranya, interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa mempercayai orang –kelompok- yang lain.

Mari kita kerucutkan pada pengkajian bagaimana seharusnya umat Islam bersikap, baik dalam interaksi sebagai warga negara, maupun sebagai satu komunitas Muslim yang bercita-cita ingin melaksanakan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah seperti termaktub dalam sila pertama Pancasila yaitu : “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Melaksanakan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Kajian saat ini dibangun oleh 3 (tiga) tahapan berpikir : pertama, bagaimana memahami kondisi masyarakat -bangsa- Indonesia saat ini ? kedua, bagaimana realitas pandangan masyarakat terhadap peran partai politik di Indonesia dan ketiga, bagaimana seharusnya Persis berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?

Pertama, dengan berakhirnya masa Orde Baru diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ Habibie sebagai Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik eksekutif, legislatif, masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantangnya mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan -kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika justru lembaga yang diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab problematika hidup mereka, tapi sebaliknya para politisi yang menjadi “kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri dan keluarganya saja bahkan tidak kurang dari realitas yang ada mereka hanya menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang bangsa ini.

Kedua, akibat dari kondisi di atas masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang kepercayaan, saling meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis. Kepercayaan terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya menjadikannya (rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan politiknya tercapai, maka rakyat yang mendukungnya dengan setia ditinggalkan begitu saja. Kondisi inilah yang menjadi penyebab tercorengnya pemerintahan Indonesia di mata rakyatnya, apalagi di mata internasional. Peristiwa Ambalat, lepasnya Timor Timur, munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan lainnya, hal tersebut merupakan realitas politik yang tidak bisa kita pungkiri. 

Ketiga, bagaimana seharusnya umat Islam berperan dalam meng-apresiasi peta politik negara ini ?. Jawabannya ada pada sejauhmana naluri kebangsaan umat Islam, realitas politik bangsa tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Umat Islam tidak perlu melakukan kesalahan politik lagi, apalagi setelah Mahkamah Konstitusi meloloskan “Calon Independen” dalam peta politik bangsa, dimana kekuatan politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan partai-partai politik, tetapi berada di tangan kekuatan rakyat, LSM, dan organisasi masyarakat. Partai politik saat ini sedang mengalami kehilangan rasa percaya diri, maka mereka banyak melakukan political intrude -politik yang bermaksud mengganggu- dengan dalih “silaturrahmi politik”, sekali lagi hal tersebut merupakan jebakan politik saja. Sikap politik umat Islam sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung, tapi dapat dimaknai ; bagaimana umat Islam merealisasikan “the hidden program” nya yaitu : “terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan,” dalam bingkai pendidikan dan dakwah.

Umat Islam tidak bermain api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi umat Islam harus mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader yang memiliki “militansi ummah”, tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan langkah politik yang justru akan merusak harga diri umatnya tersebut; menjual kekuatan ummat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai politik maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah politik praktis. Makna partisipasi politik –penekanannya- bukan pada proses dukung mendukung, tetapi Umat Islam harus siap jadi bagian yang utuh, independen, dan memiliki karakter yang jelas, tegas dan berakhlakul karimah. Umat Islam yang diberi tanggungjawab penuh untuk mewakili umat dalam percaturan politik praktis, dia tidak mencampur adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter ummat dimanapun mereka beraktifitas, bukan  sebaliknya dia membawa karakter “luar” dan melakukan uji coba politik di dalam wilayah pergerakannya sendiri.

Khatimah

Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan bahwa: “Orang Barat -Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya lebih melihat ke bumi dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga bertendensi materialis, sedang orang Timur (Islam) lebih melihat ke langit karena perintah langit (Allah) memposisikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, sehingga bertendensi religius.
Aplikasi pergerakan yang sesungguhnya adalah sejauhmana kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan dengan berlandaskan firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ), serta melaksanakan komitmen dakwah dalam mewujudkan “terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.”.Wallah a’lam bish shawab.

*Penulis adalah Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bandung

20 Desember 2022

19 Desember ku SBY dijadikeun Hari Bela Negara



Ayeuna téh Desember kénéh. Ulah lali, baheula taun 1948 basa Soekarno - Hatta serah bongkokan di Yogya, Republik Indonesia ampir karebut deui ku Walanda. 

Untung aya urang Sunda kelahiran Anyer   Banten anu wani wangkelang. Inyana teu milu sumerah malah boga alpukah nyieun Pamaréntahan Darurat Républik Indonésia, PDRI. 

Inyana Mr. Sjafrudin Prawiranegara. 

Poéan dibentukna PDRI nyaéta tanggal 19 Desember ku SBY dijadikeun Hari Bela Negara. 

Urang Sunda nu nyalametkeun RI téh.

15 Desember 2022

Femi Otedola (miliarder dari Nigeria)



Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, "Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?"

Femi berkata:

"Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati".


Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana.  Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.

Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.

Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.

Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak.

Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.

Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya.

Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang.

“Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot", ujarnya.

"Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya.  Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.

“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: "Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?"

“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya.  Anak ini berkata:

"Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’”


*Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta* 


10 Desember 2022

Jajang Arohmana: Profesor Produktif UIN SGD Bandung


Oleh : Moeflich H. Hart

Saya merasa sebagai tipe akademisi serius mendalami ilmu. Membaca dan mendalami ilmu karena dorongan ketertarikan, keresahan, kegelisahan dan panggilan jiwa, bukan kewajiban sebagai dosen. Demikian pun dalam menulis. Sudah menulis artikel di koran-koran sejak awal kuliah (S1, 1986-1991) tentang sosial politik keislaman, menulis skripsi 300 hlm pakai mesin tik, menulis tesis di ANU Canberra yang membuat teori baru (coined) tentang "Muslim Middle Class" tahun 1900-an yang saat itu belum ada dan kemudian ringkasannya dimuat di Jurnal Studia Islamika PPIM UIN Jakarta tahun 2000. Artikel itu banyak dikutip para peneliti Islam Indonesia dan para Indonesianis asing di banyak buku dan jurnal mereka. Salah satunya yang sering adalah MC. Ricklefs, sejarawan Australia. Setelah tulisan saya muncul, baru kemudian banyak tulisan menyusul tentang kelas menengah Muslim Indonesia.


Pulang dari studi dengan perasaan sebagai akademisi itu, kemudian menemukan komunitas yang klop alias matching di PPIM UIN Ciputat. Berlatarbelakang kesamaan alumni program Cados Kemenag yang digagas Menteri Munawir Sadzali, saya merasa PPIM adalah lingkungan yang "feel at home" disitu: Para akademisi produktif yang rata-rata alumni luar negeri dengan kesamaan karakter: Tukang bercanda. Itu yang membetahkan, asyik gila!


Maksud menceritakan itu, dalam setting itulah saya menemukan sosok berbeda, alumni domestik tapi produktif: Jajang Arohmana. Sosok yang saat itu, tidak saya temukan di kalangan dosen muda kampus UIN Bandung, dengan kemampuan menulis akademik ketat standar nasional. Tentu domestik-luar negeri bukan ukuran. Tapi bagi saya saat itu, Jajang agak spesial.


Sebelumnya tidak kenal dan sekarang pun hanya kenal biasa tapi yang membuat saya memberikan perhatian lebih tanpa dia tahu adalah minatnya pada keseriusan produktifitas terutama dalam minatnya: Islam Sunda bidang tafsir. Jajang adalah sosok akademisi muda produktif dengan kualitas riset dan tulisan bagus, beliau diamanati menduduki posisi Ketua Dewan Tafkir PP. PERSIS, beliau orang Subang yang namanya tahun 2000-an tidak dikenal dalam pergaulan alumni luar negeri, tapi hingga kini konsisten menulis jurnal hingga meraih penghargaan salah seorang dosen teladan dan penulis jurnal terbanyak di lingkungan Kemenag. Itu yang membuat kesan tersendiri. Potensinya sudah saya lihat sejak lama. Sekali lagi, tanpa dia tahu.


Orangnya lurus, lempeng, teu neko-neko, soleh, tidak kritik sana sini, tidak berimajinasi tentang perubahan sosial dan kehidupan sosial politik yang lebih baik, tidak terlibat dalam diskursus tema-tema publik, fokus saja di minat keilmuannya. Dalam kategori Gramsci, Jajang beserta prototipe sejenisnya adalah tipe "intelektual organik" yang asyik masuk di dunianya, lingkungan eksklusif akademis dan minat keilmuannya. Suatu saat saya pernah komentar tentang tipenya, dia bilang: "Enya, saya mah teu resep nu panas-panas teh." 😊. 


Latar belakangnya sebagai santri Persis Garut, membuat agak unik. Dari Persis yang puritan tapi minat keilmuannya membuatnya kultural nyunda. Soal ini sama dengan orang Persis lain, Dadan Wildan yang menulis disertasi di UNPAD tentang sosok Sunan Gunung Djati berdasarkan perbandingan naskah. Konon, di lingkungan Persis, disertasi itu dicap sebagai "disertasi loba bid'ah" 😊😄. 


Wilayah keilmuannya adalah "elmu tajug" sama dengan Oman Fathurrahman, gubes filologi UIN Jakarta. Ilmu yang ditekuninya sejak kecil di tajug (pasantren) yang tak terbayangkan kemudian, membentuk profesi dan keahliannya setelah dewasa. Dengan Oman, tipe kepribadiannya pun hampir sama, tekun, rajin, produktif, lempeng, leumpang ngagandeuang bangun taya karingrang ... 😊


Sekarang, Jajang, anak Subang dan santri Persis itu, 11 tahun lebih mudah dari saya, sudah jadi profesor. Tentu itu kebanggaan hasil ketekunan dirinya, kebanggaan keluarganya dan institusi/kampusnya. Dan bagi saya, dia adalah salah seorang profesor beneran alias profesor berbasis karya atau produktivitas bukan profesor kepangkatan. Inilah dorongan saya menuliskannya. Orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besarnya tentang tafsir Qur'an Sunda, membuktikan itu.


Produktifitasnya banyak, 49 tulisan jurnal, rata-rata 2 bulan dia menulis satu artikel jurnal, selain beberapa buku dan tulisan bagian buku. Minatnya fokus di tafsir Qur'an Sunda dan pemikiran Haji Hasan Mustapa, yang saat ngobrol dengan saya: "Saya mah hayoh weeh ... didinya, ulukutek tentang Haji Hasan Mustapa." Nya teu nanaon tapi jadi ahli dan itu mahal. Sesuatu yang saya tidak bisa karena saya senang berpikir banyak, menulis banyak hal, mencari hikmah-hikmah kehidupan. Sebagai sejarawan pun tak merasa, itu sebutan formal orang saja.


Wilujeng kang Prof, mugia elmuna mangpaat dunia aherat.***

6 Desember 2022

Bantu Penyintas Gempa Cianjur, Persis Siap Bangun 1.000 Huntara

 







Gempa bumi yang memporak-porandakan beberapa wilayah Kabupaten Cianjur menyisakan kerugian materi, non-materi dan berdampak pada psikis para penyintas. Butuh waktu cukup lama bagi warga Cianjur untuk bisa kembali seperti sedia kala.


Sebagai bentuk dukungan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) K.H. Jeje Jaenudin melakukan agenda kunjungan ke beberapa wilayah terdampak gempa di Cianjur selama dua hari yang dimulai sejak Senin (5/12) hingga hari ini Selasa (6/12).

Titik pertama yang dikunjungi adalah lokasi pembangunan hunian sementara (Huntara) di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet. Kemudian menyambangi wilayah Kecamatan Cugenang, termasuk mengunjungi posko utama relawan.

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Jeje berkesempatan menyapa para penyintas sembari memberikan nasihat, motivasi, dan melihat mushola darurat (sementara) yang sudah lebih awal didirikan tim Respon Persis Peduli, yakni LAZ Persis (Pusat Zakat Umat) dan Sigab Persis.

Ketum Persis mengapresiasi seluruh jamaah dan simpatisan karena telah berlomba-lomba membantu saudaranya yang saat ini terkena musibah gempa bumi di Cianjur, dengan berbagai peran dan kapasitasnya masing-masing, baik sebagai relawan maupun donatur.

Ia pun memberi apresiasi program Huntara berupa  tenda keluarga yang saat ini sudah berdiri 47 unit. Rencananya akan didirikan 1.000 Huntara, mengingat butuh waktu cukup lama untuk para korban bisa membangun rumah seperti sedia kala.

Program Huntara tersebut diharapkan bisa berjalan baik mengingat butuh cukup dana untuk membangunnya. Karenanya, ia berharap masyarakat bisa bahu-membahu membantu saudaranya yang sedang terkena musibah.

"Inilah saatnya membuktikan falsafah hidup kita sebagai muslim yang sering kita gembar-gemborkan; ‘Kita ini seperti satu tubuh’. Ketika saudara kita yang terkena musibah, harus juga menjadi bagian penderitaan kita,” ucap K.H. Jeje dalam keterangannya, Selasa (6/12).

Sementara di hari kedua kunjungannya, K.H. Jeje mengawali kegiatan dengan shalat subuh berjamaah, dan dilanjutkan berbincang bersama para pengungsi korban gempa Cianjur serta seluruh Tasykil PP Persis yang hadir beserta para relawan.

Dalam kegiatan tersebut, Ketum Persis menyampaikan, mengkontribusikan sebagian harta yang dimiliki untuk membantu saudara yang sedang membutuhkan adalah sebuah kebaikan. 

“Apapun yang dapat kita berikan berupa tenaga, pikiran, dan harta, maka berikanlah. Semua ini untuk meringankan beban saudara kita,” terangnya.

K.H. Jeje juga berpesan kepada seluruh jamaah dan masyarakat bahwa pada dasarnya memberikan bantuan itu baik. Apalagi jika bantuan itu dikoordinir secara rapih dan amanah, maka insya Allah akan jauh lebih baik. 

“Karena akan tepat sasaran, tepat guna, dan lebih bermanfaat. Jangan merasa khawatir saat memberikan bantuan yang dikoordinir oleh suatu lembaga amil zakat bantuan atau sodaqohnya tidak disalurkan,” terangnya.

Dirinya juga menekankan, akan lebih bagus lagi jika jamaah dan simpatisan Persis  memberikan bantuan lewat Lembaga Amil Zakat resmi milik Persis, yaitu LAZ Persis yang dikenal dengan nama Pusat Zakat Umat. 

“Bantuan ini akan lebih terdata dan laporannya jelas pada akhir program kegiatan ini,” tutupnya. 

Hadir mendampingi Ketua Umum Ustadz, Faisal Nursyamsi,
Sekretaris Majelis Penasehat PP
Persis, Dadan Wildan Anas, Direktur Pendayagunaan LAZ Persis (Pusat Zakat Umat) Heri
Sholehudin, serta Ketua Siaga
Bencana Persis, Sony Ramdhani 

2 Desember 2022

TO KILL OR TO BE KILLED OR BULDOZER

 



Oleh ::M Rizal Fadillah
( Pemerhati Politik dan Kebangsaan )

Bandung, 1 Desember 2022

Tuhan baru telah muncul di Indonesia yang bernama "Investasi". Menteri terdepan penyembah berhala ini adalah Luhut Panjaitan. Bukan hanya sudah sujud tetapi tersungkur menghamba. Dengan puja puji berbagai negara akan kehebatan Indonesia yang mungkin basa basi saja Pak Menteri sudah menggembung hidung.

Fikirnya investasi adalah dewa penyelamat negeri. Fatamorgana itu muncul dari bayang-bayang kemakmuran palsu. Keterpurukan dan keputus-asaan rupanya telah membuat halusinasi tentang banjir investasi. Berkokok dengan slogan to kill or to be killed. Lebih gila lagi dengan ancaman akan main buldozer.
Emang rakyat itu gundukan tanah yang seenaknya di buldozer.

"Saya akan turun dengan kewenangan saya untuk membuat Anda susah, kalau Anda bermain-main dengan itu tadi. Karena  latar belakang saya tentara, buat saya ada satu titik to kill or to be killed. Jadi gak bisa main-main". Begitu kata Pak Luhut di Rakornas Investasi 30 Nopember 2022.

Ada tiga hal ngawurnya Luhut disini, yaitu  :

Pertama, investasi adalah jurus mabuk cinta eh china yang membuat sang jagal terus minum dan minum hingga hilang kesadaran. Berjalan oleng mengoceh tanpa jelas arah. Main ancam sok jago. Investasi itu bagi Luhut nampaknya sudah menjadi candu. Sebenarnya investor itu tidak percaya ketika rakyat tidak mendukung rezim.

Kedua, bahwa ada slogan 'to kill or to be killed'  tentu iya, akan tetapi menjeneralisasi bahwa latar belakang tentara harus pada titik ini tentu berlebihan. Tentara itu bukan tukang bunuh. Tukang bunuh namanya pembunuh. Ada aturan main dalam peperangan. Sebenarnya ingin tanya juga kapan ya bapak Luhut berperang ? Kok sombong amat sudah jadi tukang "to kill"

Ketiga, Luhut mau bikin Anda susah. Aneh pemimpin model apa seperti ini. Menteri itu pembantu Presiden dalam upaya menggembirakan atau membahagiakan rakyat. Bukan membuat susah. Hanya gerombolan yang suka petantang petenteng kesana sini yang kerjanya menakut-nakuti masyarakat. Geng kampak dengan ketua yang berwajah sinis dan cengengesan. Mungkin berambut putih berkulit keriput.

Fokus investasi yang dimaksud Luhut adalah asing atau Foreign Direct Investment. Antara investasi dan penjajahan ekonomi sebenarnya tipis-tipis. Apa kurangnya investasi Belanda di Indonesia dulu, ujungnya ya menjajah. Pembangunan bangsa Indonesia di bawah Jokowi dengan tukang pukul Luhut ini bukan untuk memandirikan ekonomi tapi membuka jalan bagi kolonialisasi.

Rakyat dan pelaku ekonomi pribumi harus semakin intensif berlatih mempersiapkan jurus jurus perlawanan terhadap kedatangan para pebisnis asing yang terang-terangan difasilitasi dan dilindungi oleh centeng-centeng bayaran. Mencoba mengganggunya "Anda akan dibuat susah".

Waspada pada jurus katak kungfu hustle, jurus wing chun, rajawali sakti condor heroes atau drunken master si dewa mabuk. Siapkan tepak satu cimande, naga terbang tapak suci, pulo kali, brajamusti atau lainnya.
Pribumi mandiri dan pribumi usaha bersatu perlu dibangun agar tidak tergerus oleh kekuatan investasi asing dan aseng yang kini digelar karpet merah oleh para penjual atau penggadai kedaulatan bangsa. "plis inpest tu may kantri".

26 November 2022

Jokowi Gagal Membuka Munas KAHMI, Kenapa?

 


Oleh Ayu Nitiraharjo

Jokowi membatalkan kedatangan pada Pembukaan Munas KAHMI XI di Palu, 25 November 2022. Pembatalan terjadi H-2 sebelum acara. Bagaimana ceritanya?

Kota Palu menjadi saksi kemeriahan Munas KAHMI XI. Mungkin ini menjadi Munas paling meriah dalam sejarah penyelenggaraan Munas KAHMI. Presiden bahkan terjadwal hadir membuka acara tersebut. Presiden menyatakan kesediaanya dan rencananya untuk membuka Munas. Pernyataan tersebut disampaikan saat menerima audiensi Pengurus MN KAHMI waktu itu.

Pun beberapa hari sebelum pembukaan, Presiden sebenarnya masih confirmed akan hadir. Perubahan terjadi saat H-2 acara.

Begini peristiwanya: protokol presiden tiba di Palu dan rapat dengan panitia. Rapat tersebut juga dihadiri oleh forkompimda, termasuk BINDA.

Dalam rapat tersebut, protokol presiden meminta panitia Munas untuk mencoret nama Anies Baswedan dari daftar undangan upacara pembukaan Munas. Mereka mengatakan bahwa Anies cukup diundang gala dinner saja, yaitu sehari sebelum pembukaan Munas. Protokol presiden mengatakan bahwa Anies bukan pengurus maka tidak perlu hadir upacara pembukaan yang dihadiri presiden. 

Panitia galau. Pilihannya, menarik kembali undangan yang sudah terlanjur dikirim kepada Anies agar presiden bersedia hadir, atau tetap mengizinkan Anies hadir di pembukaan tapi konsekuensinya Presiden jadi tidak hadir membuka Munas. 

Pilihan yang sama-sama berat buat panitia: Anies adalah bagian langsung dari KAHMI, hampir semua peserta Munas menginginkan bertemu langsung dengan Anies, melarang Anies hadir, panitia pasti akan banyak menuai protes dari peserta. Atau membuatkan Anies hadir, dengan konsekuensi acara tidak dibuka oleh Kepala Negara. 

Protokol Presiden sikapnya tegas: jika ingin Presiden hadir maka Anies tidak boleh ada di ruangan. 

Panitia berunding dan hasilnya adalah memilih opsi kedua, yaitu undangan untuk Anies Baswedan hadir di pembukaan Munas tidak dibatalkan.

Konsekuensinya, Presiden yang sebelumnya berkomitmen untuk hadir pun akhirnya membatalkan hadir, digantikan oleh Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin. 

Itulah kejadikan yang senyatanya terjadi. Bahkan unsur BIN yang hadir dalam rapat sempat mengatakan, kalau ada Anies di dalam ruangan, Presiden pasti kalah pamor dengan Anies.

Prediksi unsur BIN itu terbukti. Saat Wapres membuka acara, peserta Munas beramai-ramai dan kompak meneriakan nama Anies. Teriakan berulang-ulang, sampai Waprespun harus menyebut nama Anies.

Tetap disayangkan Presiden tidak hadir. Tapi yang lebih disayangkan, mengapa negara harus memusuhi sesama anak bangsa ?  

Jadi ingat peristiwa pelarangan terhadap Gubernur DKI untuk turun ke lapangan saat Persija juara kompetisi.

Salut utk Panitia Munas KAHMI yang berani bersikap!

22 November 2022

KH. Aceng Zakaria Ulama Tawadhu Lautan Ilmu

 


Oleh: Prof. Dadan Wildan Anas - Sekretaris Majelis Penasehat PP. Persatuan Islam (PERSIS)

Dua hari lalu, saya mendapat kabar Al-Ustad KH. Aceng Zakaria, masuk rumah sakit di Garut. Namun, belum boleh dijenguk. Saya hanya dapat mendoakan saja untuk kesembuhan beliau. Taqdir Allah, Senin malam, 21 November 2022, saya mendapat kabar lagi, Ustad Aceng, biasa saya memanggilnya, telah wafat.  Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Perjumpaan terakhir saya dengan Ustad Aceng Zakaria , saat mengikuti Musyawarah Kerja Nasional PP. Persatuan Islam (PERSIS) di Hotel Santika TMII Jakarta 13-14 November 2022. Beliau masih terlihat segar bugar. Bahkan sempat memberi tausiyah saat meresmikan kantor PP. Persis di Bambu Apus Jakarta Timur. 

Saya mengenal Ustaz Aceng Zakaria lebih dari 30 tahun. Tahun 1998, pernah bersama-sama  mengikuti safari dakwah PP. Persis, dari Bandung hingga Medan melewati jalan darat lintas Sumatera selama lebih dari dua minggu. Sepanjang perjalanan yang ribuan kilometer dan melelahkan itu, Ustad Aceng Zakaria selalu memberikan tausiyah dengan kisah kisah sederhana namun tetap mencerahkan.

Beliau juga penulis produktif. Dua tahun lalu, selepas shalat duhur, handphone saya berbunyi. Saya lihat, panggilan dari KH. Aceng Zakaria, Ketua Umum PP. Persis saat itu. Panggilan imam Persis itu segera saya jawab. Seperti biasa beliau selalu bertanya mengenai kesehatan saya. Karena ustad Aceng Zakaria mengetahui saya ada masalah di jantung. Ternyata ustad Aceng Zakaria hanya bertanya alamat rumah saya. Meskipun beliau pernah berkunjung ke rumah saya, dengan membawa oleh-oleh khas Garut. Di ujung telpon,  Ustad Aceng mengabarkan akan mengirimkan buku buku karya terbarunya.

Saya bersyukur, setiap kali ustad Aceng melahirkan buku baru, saya selalu dikirimi oleh beliau. Saat itu, enam judul buku sekaligus, langsung dikirim dari Garut. Saya menyambut dengan senang kiriman buku buku dari ulama besar yang sederhana dan tawadu. Beliau telah menulis lebih dari 50 judul buku dengan beragam bahasan.

Secara formal, ia hanya bersekolah sampai Sekolah Dasar di kampung kelahirannya, Sukarasa Wanaraja Garut. Lalu menyelesaikan tingkat Muallimin di Pesantren Persis Pajagalan Bandung. Karena lahir di lingkungan pesantren, bahkan kakek dan ayahnya adalah kiai terkenal di kampungnya, sejak kecil ia sudah belajar berbagai kitab kuning kepada ayahnya. Saat menyelesaikan SD, sudah enam kitab ia selesaikan. Ketertarikannya pada kitab-kitab kuning ini, memilihnya tidak meneruskan pendidikan formalnya. Ia memutuskan untuk mengaji menamatkan berbagai kitab kuning kepada ayah dan paman-pamannya.  Berbagai disiplin ilmu mulai aqidah, fiqih, nahwu, sharf, tafsir, hadis, dan lainnya berhasil dipelajari dengan baik. Lima tahun ia lakoni aktivitas itu sambil diberi tugas oleh ayahnya mengajari santri-santri yunior. Selain itu, ia pun diberi tugas untuk bertabligh di berbagai mesjid.

Buku fenomenal yang menarik adalah buku yang berjudul “Al-Hidâyah fî Masâ’il Fiqhiyyah Muta‘âridhah”. Buku ini berisi tentang pembahasan perbedaan-perbedaan pendapat dalam fikih beserta pemecahannya. Boleh dikatakan buku ini semacam buku fikih perbandingan (fiqih muqâranah) yang jarang ditulis oleh para ulama Indonesia, apalagi dalam bahasa Arab.  Tidak heran bila Prof. Umar Hasyim, mantan Rektor Univ. Al-Azhar, Cairo  Mesir memberikan penghargaan yang sangat tinggi pada buku ini saat Ust. Aceng berkunjung menemuinya ke Mesir. Ia memberikan sambutan resmi untuk buku ini.  Sejak tahun 1986, buku ini sudah dicetak lebih dari sepuluh kali. Bahkan saat ini, para pembaca pemula bisa membaca edisi terjemahan bahasa Indonesianya dalam tiga jilid.

Buku-buku lain yang telah diterbitkan diantaranya adalah: Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Sholat, Etika Hidup Seorang Muslim, Materi Dakwah, Doa-doa Shalat, Mengungkap Makna Syahadat, Bai’at dan Berjama’ah, Belajar Nahwu Praktis 40 Jam, Belajar Tashrif Sistem 20 Jam, Kamus Tiga Bahasa (Arab-Indonesia-Inggris), Haramkah Isbal dan Wajibkah Jenggot?, Sakitku Ibadahku, Jabatanku Ibadahku, Al-Kâfi fi Al-Ilm Al-Sharfi, Tarbiyyah Al-Nisâ, Kitab Al-Tauhid (3 jilid), Ilm Al-Mantiq, Al-Bayân Fi ‘Ulûm Al-Quran, Adâb Al-Muslim, Tarbiyyah Al-Nisâ, serta belasan buku lainnya yang ditulis dalam bahasa Arab dan Indonesia. Ustad Aceng Zakaria menjadi teladan menarik bagi pecinta dan pegiat ilmu.

Selasa, 22 November 2022, pukul 09.00, penulis puluhan judul buku itu dimakamkan di pemakaman keluarga, tidak jauh dari Pesantren Persatuan Islam Rancabango Garut, yang dipimpinnya. Ia telah mewariskan tradisi literasi Islami yang fenomenal. Ribuan orang menghadiri pemakamannya siang itu. Wahai jiwa yang tenang. Beristirahatlah. Setelah seluruh hidup dan tarikan nafas, dipersembahkan di jalan Allah. Semoga Allah SWT menerima amal ibadahnya, mengampuni segala khilaf dan salahnya, dan warisan ilmu serta literasi Islami menjadi amal jariyah yang tidak akan terputus. Aamiin.

MENGENANG K.H. ACENG ZAKARIA: ULAMA HEBAT PRODUK PENDIDIKAN LOKAL, KUALITAS INTERNASIONAL



Oleh: Dr. Adian Husaini

(Ketua Umum Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia)


Pada hari Senin (21/11/2022), KH Aceng Zakaria dipanggil Allah SWT dalam usia 74 tahun.  Beberapa hari sebelumnya, sejumlah sahabat dari organisasi Persatuan Islam (Persis) sudah mengabarkan, bahwa beliau sedang sakit berat. Ternyata, Allah SWT menyayangi dan memanggil beliau.  Semoga Allah menempatkan beliau di tempat yang mulia. 


Pada 29 Januari 2022, beliau bersama istrinya, berkunjung ke Pesantren At-Taqwa Depok. Kami sempat berbincang-bincang sebentar, sebelum beliau melanjutkan aktivitasnya, mengisi pengajian dan mengunjungi Ust Amin Jamaluddin yang kini juga sudah dipanggil oleh Allah SWT. 


Sosok Kyai Aceng Zakaria adalah seorang ulama pejuang yang istiqamah sampai akhir hayatnya. Bahkan, hebatnya, dua bulan lalu, dalam Muktamar Persis  XVI di Bandung, KH Aceng Zakaria memutuskan untuk tidak bersedia dipilih lagi. Beliau sudah menyiapkan penerusnya, yaitu Dr. Jeje Zainuddin. 


Kyai Aceng Zakaria bisa dikatakan salah satu ulama hebat di Indonesia. Syukurlah, sebelum beliau wafat, tahun 2021 lalu, sudah terbit biografi beliau, berjudul: “KH Aceng Zakaria Ulama Persatuan Islam,” karya Pepen Irpan Fauzan, dkk. (Bandung: Staipi Garut Press, 2021).              


Pada hari Ahad (4/4/2021), saya sempat diminta membedah buku tersebut. Salah satu kehebatan beliau, di usianya yang ke-73 tahun itu, ia telah menulis 103 judul buku.            KH Aceng Zakaria lahir di Garut Jawa Barat pada 11 Oktober 1948. Ayahnya, Kyai Ahmad Kurhi, seorang ulama dari garis keturunan ulama terkenal di Garut, KH A. Shidiq, yang dikenal dengan sebutan Mama Sukarasa. 


Kyai Aceng bukan saja dikenal sebagai aktivis organisasi, tetapi juga seorang ulama, pemimpin pesantren, pejuang dan sekaligus penulis produktif. Saya mengenalnya sejak puluhan tahun lalu. Ia seorang Kyai yang ramah. Beberapa kali saya menikmati jamuan makan khas di atas kolam rumahnya yang asri di Kota Garut. 


Di banding banyak ulama lain, tentu saja keunikan Kyai Aceng Zakaria adalah ketekunan dan kreativitasnya dalam menulis. Tidak mudah menulis 100 lebih judul buku di tengah berbagai kesibukan perjuangan sebagai muballigh dan pimpinan Persis. 


Meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan formal di Timur Tengah, Kyai Aceng memiliki penguasaan Bahasa Arab yang mumpuni. Dari 103 judul bukunya, 33 judul ditulis dalam Bahasa Arab. Beberapa diantara bukunya termasuk kategori best seller, seperti:  al-Hidayah fi Masaaili Fiqhiyyah al-Muta’aridhah, al-Muyassar fi Ilmi al-Nahwi, dan al-Kaafi fi Ilmi al-Sharfi. 


Kyai Aceng Zakaria tidak memiliki gelar akademik apa pun. Secara formal, ia merupakan lulusan Madrasah Mu’allimin Persis Pejagalan Bandung. Tetapi, dialah yang mendirikan Perguruan Tinggi Persis di Kota Garut, yaitu Sekolah Tinggi Agama Islam Persis Garut. 


Model Ideal


Menyimak kiprah dan karya ilmiahnya, Kyai Aceng Zakaria bisa disebut seorang ulama produk pendidikan lokal tetapi berkualitas internasional. Buku ini memberikan informasi tentang proses pendidikan ideal yang dijalani Kyai Aceng Zakaria. Model ideal itu adalah: “TOP” (Tanamkan adab sebelum ilmu; Oetamakan Ilmu-ilmu fardhu ain; dan Pilih Ilmu Fardhu Kifayah yang tepat).


Sejak masa kanak-kanak, Kyai Aceng dididik dengan adab yang tinggi oleh ayahnya, KH Ahmad Kurhi yang juga dipanggil Abah Engku. Sang ayah dikenal sangat menekankan ketekunan dan kekhusyukan beribadah. Bahkan, Abah Engku dikenal luas sebagai ulama tasawwuf. Ia sering mengajarkan ilmu tasawwuf bersumber dari kitab Hikam, karya Ibnu Atha’illah.  


Hidup di lingkungan pesantren, disamping sekolah rakyat, Aceng kecil pun mengaji kitab-kitab kuning yang popular di kalangan pesantren, seperti Sullamut Taufiq, Safinatun Najah, al-Ajrumiyyah, Tijan al-Darariy, Imrithy, dan lain-lain. Di kemudian hari, Kyai Aceng mengaku telah mengkhatamkan kitab Ihya’ Ulumiddin karya Imam al-Ghazali. Disamping itu, Aceng muda pun aktif dalam Organisasi PII (Pelajar Islam Indonesia). 


Jadi, sejak dini, Aceng telah dididik dengan adab dan ibadah yang ketat, serta memiliki pengalaman organisasi. Artinya, ia dibiasakan menjalani proses intelektualisme dan aktivisme secara seimbang. 


Setelah menjalani proses pendidikan adab, ibadah, dan ilmu yang baik di lingkungan keluarganya, Aceng muda kemudian dikirim orang tuanya ke Pesantren Persis Pajagalan Bandung. Sejumlah ulama memang mendidik anak-anaknya dengan adab dan ibadah selama di rumah. Setelah adab dan ibadahnya baik, mereka mengirim anak-anaknya ke ulama-ulama lain untuk mempelajari berbagai bidang ilmu secara mendalam.


Kyai Aceng Zakaria pun menjalani proses semacam ini. Ayahnya mengirim Aceng kepada guru yang hebat di Pesantren Pajagalan, yaitu KH E. Abdurrahman, salah satu murid utama tokoh Persis, A. Hassan. Pesantren Pajagalan sendiri didirikan oleh A. Hassan pada tahun 1936. Tujuan Pesantren ini adalah: “mencetak kader-kader mubaligh Persis”. 


Di Pesantren Pajagalan inilah Aceng muda dididik oleh KH E. Abdurrahman dengan disiplin adab dan keilmuan yang intensif. Waktu itu, jumlah murid di kelas Aceng Zakaria ada 5 orang. Satu diantaranya perempuan. Jumlah kelas kecil ini memungkinkan proses pendidikan berlangsung lebih efektif, khususnya dalam penanaman nilai-nilai adab. 


Metode pembelajarannya bukan hanya dalam bentuk klasikal, tetapi juga kajian kitab secara sorogan. Banyak kitab yang dikaji. Yang utama adalah Tafsir Ibn Katsir.  Model kajian seperti ini memungkinkan murid memiliki wawasan luas dalam keilmuan sekaligus melatih memahami teks secara detail. 


Setelah menyelesaikan pendidikannya di Madrasah Muallimin, Aceng Zakaria menuruti nasehat gurunya, untuk tetap di Bandung, dan menjadi guru di almamaternya itu. Tahun 1971, ia mulai dipercaya mengajar tingkat Ibtidaiyyah dan kemudian tingkat Tsanawiyah. Berikutnya, Kyai Aceng juga mengajar di program Tamhidul Muballighin. Kyai Aceng juga memiliki keahlian jual beli dan servis jam. 


Peran seorang KH E. Abdurrahman sangat penting dalam Pendidikan Kyai Aceng Zakaria. Gurunya itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap konsep pendidikannya. Ia melarang santrinya ikut Ujian Persamaan atau Kuliah di Perguruan Tinggi. Kyai Abdurrahman khawatir murid-muridnya nanti tidak mau menjadi mubaligh yang turun ke kampung-kampung mendakwahkan ajaran Islam. 


Dalam kitab Ta’limul Muta’allim disebutkan, bahwa kunci sukses pendidikan ada pada tiga pihak: yaitu murid, orang tua, dan guru. Proses Pendidikan Kyai Aceng menunjukkan tingginya kualitas pada ketiga pihak itu. Ia bukan hanya mengambil ilmu dari guru-gurunya, terutama KH E. Abdurrahman. Tapi, ia juga berhasil mengambil adab mereka. Jiwa guru dan jiwa pejuang ia warisi dari orang tua dan gurunya. 


Sukses Pendidikan Kyai Aceng Zakaria pun tak lepas dari dua hal penting untuk meraih ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi’), yaitu: Niat dan adab thalabul ilmi. Larangan gurunya untuk ikut Ujian Persamaan atau untuk melanjutkan Kuliah di Perguruan Tinggi, lebih dimaksudkan untuk menjaga niat ikhlas dalam mencari ilmu. Jangan sampai salah niat dalam mencari ilmu: untuk mengejar harta benda dan kedudukan dunia. 


Konsep Pendidikan Ulama KH E. Abdurrahman telah ditulis oleh Dr. Dwi Budiman, rektor Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah Mohammad Natsir, dalam disertasi doktornya di Program Doktor Pendidikan Agama Islam Universitas Ibn Khaldun Bogor. 


Buku biografi KH Aceng Zakaria itu  menguatkan bukti, bahwa umat Islam Indonesia sebenarnya memiliki model pendidikan ideal. Model inilah yang telah melahirkan ulama dan tokoh-tokoh besar, seperti Buya Hamka, Mohammad Natsir, KH Wahid Hasyim, dan juga KH Aceng Zakaria. 


Kita doakan semoga KH Aceng Zakaria diterima segala amal ibadahnya, diampuni segala kesalahannya, dan semoga organisasi Persis mampu merumuskan dan melaksanakan model Pendidikan yang dapat melahirkan semakin banyak ulama-ulama hebat seperti KH Aceng Zakaria. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu’anhu. (Depok, 22 November 2022).

16 November 2022

LIMA JENIS WILAYAH SAKIT MANUSIA (Lima Wilayah Gering Manusa)


Oleh Moeflich H. Hart


Sakit seseorang itu terjadi di dua wilayah: Jiwa dan fisik. Untuk wilayah jiwa, psikologi dan psikiatri menyebutnya “gila,” “sakit jiwa” atau “abnormal” dengan berbagai jenis dan gejala-gejalanya seperti stress, neurosis, psikosomatik, insomnia, autis, psikopherenia, dst. Sementara wilayah fisik, ilmu kedokteran menyebut “sakit” untuk seluruh penyakit yang menyerang tubuh manusia. 

Sakit fisik terjadi disebabkan karena masalah-masalah kejiwaan yaitu ketidakseimbangan hidup atau ketidakseimbangan fisik dan jiwa.

Semua sakit fisik terjadi sebagai saluran, outlet atau aktualisasi dari gejala-gejala kejiwaan yang tidak sehat. Berikut ini adalah lima gejala kejiwaan yang menyebabkan seseorang dinyatakan sakit. 


1. Sakit Fisiknya

(Gering warugadna)


Ini sakit di fisik (Sunda: Gering warugadna). Misalnya batuk, radang, masuk angin, sakit gigi, ginjal, lambung, hepatitis, diabetes, stroke dst. Sakit fisik pada dasarnya diakibatkan oleh masalah kejiwaan. Basis fisik yang sakit adalah jiwa yang sakit. Penyebab sakit mungkin tidak disadari oleh yang bersangkutan. 


Ketidakseimbangan² hidup seperti salah mengkonsumsi makanan, kurang vitamin, kebiasaan buruk, pikiran negatif dan pola hidup tidak sehat, semuanya akan menjadikan tubuh lemah dan membuat sakit. Psikosomatik adalah problem kejiwaan seperti stress, tertekan, sulit keluar dari beban dsb. Akibatnya, sakit lambung, bintik² merah di kulit, gatal-gatal dll. Jadi sakit fisik berfungsi sebagai media adanya masalah jiwa. Sakit di fisiknya tetapi sebabnya jiwanya yang sakit.


2. Sakit Kelihatannya

(Gering kadeuleuna)


Ini adalah sakit kelihatannya saja atau sakit tampaknya saja (kadeuleuna) padahal sebenarnya tidak. Sakit ini merupakan pandangan atau persepsi orang lain pada diri seseorang padahal sebetulnya ia tidak sakit. Seseorang nampak sakit atau seperti sakit disebabkan oleh kehadiran orang lain disisinya. Sakitnya lebih merupakan persepsi lingkungan terhadap seseorang. 


Dipersepsi dan didefinisikan sakit oleh lingkungan karena terdapatnya gejala-gejala yang oleh orang kebanyakan dianggap sebagai sakit seperti senyum² sendiri, ngomong sendiri atau berpenampilan aneh. Lingkungan, secara sederhana, menganggap perilaku seperti itu sebagai tidak normal atau sakit. Padahal belum tentu. Mungkin orang tersebut sengaja berbuat begitu, mungkin itu ekspresi protes, mungkin sedang bersandiwara, atau senang berimajinasi, atau ia berdialog dengan seseorang secara iamjiner dalam sebuah masalah yang belum tuntas. Sakit tampaknya atau gering kadeuleuna adalah sakit sangkaan, sakit dugaan, padahal tidak. Ia sehat-sehat saja. Banyak di lingkungan kita orang yang dianggap sakit seperti ini.


3. Sakit Keyakinannya

(Gering agemanana)


Ini adalah wilayah sakit karena ketidaktaatannya pada agama yang dianutnya. Sakit karena tidak melaksanakan ajaran-ajaran agama atau karena menentang keyakinan agamanya. Meninggalkan ajaran agama bisa menyebabkan jiwa seseorang sakit karena tidak stabil, lemah, terganggu dst. 


Misalnya, Muslim tapi tidak shalat, tidak puasa, tidak mau mendengar nasehat, menyepelekan agama, angkuh dan sombong, merasa tidak salah melakukan pelanggaran syariat. Mengaku muslim tapi ajaran agama tidak menjadi dasar pertimbangan dari sikapnya sehari-harinya. Mengaku Muslim tapi hidupnya tidak kenal agama, jauh dari agama. Hidupnya hanya sibuk oleh pekerjaan, sibuk mencari uang, sibuk kepuasan materi, apalagi menghalalkan segala cara, tidak tahu mana halal mana haram. Hartanya banyak yang kotor yang didapatkan dengan cara yang haram. 


Hidupnya pun jadi tidak seimbang, kacau, tidak terarah, tidak menentu, gelisah, merasa hampa. Ini bisa terasa akibatnya di fisik, kemudian sakit. Ini jenis orang sakit karena sakit keyakinannya. Penyakit yang timbul dari masalah ini adalah mudah stres, lemah mental, selalu resah dan gelisah, tidak tahu harus berbuat apa, jiwanya kering dan gersang, hidup tidak pernah tenang, tak tentu arah.


4. Sakit Sumber Kehidupannya

(Gering cikahuripana)


Ini adalah wilayah sakit yang diakibatkan oleh kesulitan seseorang memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (cikahuripana) disebabkan kemiskinan yang parah dan lama, kemelaratan yang menyiksa, kepapaan yang membuatnya tidak bisa hidup normal dan wajar walaupun hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiknya dst. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar bisa mengganggu perkembangan hidup seseorang secara wajar. Kemudian lahirlah ketidakseimbangan-ketidakseimbangan sehingga menimbulkan sakit. Sakit pada dasarnya adalah adanya ketidakseimbangan-ketidakseimbangan hidup. Sakit ini bisa menimbulkan fiksasi yaitu tidak berkembangnya potensi diri dan jiwa secara normal sesuai dengan perkembangan usianya secara normal. Kesulitan hidup itu kalau tidak teratasi dengan baik dan wajar bisa menimbulkan penyakit.


5. Sakit Nyawanya

(Gering nyawana)


Terakhir, sakit yang disebabkan oleh agama yang diyakininya bertentangan kenyataan hidup yang dihadapi dan dirasakannya (gering nyawana). 


Agamanya mengajarkan hal-hal luhur, mulia dan ideal tapi kenyataan hidupnya terlalu pahit, banyak tantangan, banyak yang kontradiktif, banyak paradoks dll sehingga oleh tuntutan-tuntutan agamanya yang berat yang ia tidak mampu melaksanakannya, sikapnya pun menjadi ironis, tidak seimbang dan menjadi sakit. Banyak orang sakit karena konflik agama dalam dirinya ini, yaitu kondisi psikologis yang antagonis antara apa yang diyakininya dan yang dipraktekkannya.


Orang-orang yang tak seimbang antara semangat agamanya yang sangat kuat atau terlalu tinggi dengan pengetahuan, wawasan dan kedewasaannya banyak yang tanpa sadar mengalami gejala sakit kejiwaan ini yang ditunjukkan oleh perilakunya yang tidak normal, aneh-aneh, masuk kelompok-kelompok sempalan atau sesat, tidak komunikatif dengan orang lain, mudah menyalahkan, merasa paling benar sendiri dll.*** 


Semoga bermanfaat!!

29 Oktober 2022

ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA




Tulisan ini berisi sebuah renungan bagi kita semua. Tidak berarti saya menggurui siapa-siapa, karena yang pertama-tama saya gurui adalah diri saya sendiri. Persoalan etika memang persoalan fundamental dalam kehidupan manusia, sebab itulah saya mencoba untuk membahasnya, dalam situasi yang baru, ketika teknologi informasi  memperkenalkan blog sebagai wahana berkomunikasi. Inti masalah yang saya bahas, bukanlah masalah baru. Sejak Nabi Musa, Plato dan Aristoteles masalah ini telah dibahas. Pada hemat saya, norma-norma etika adalah norma-norma fundamental dan absolut yang mengandung sifat universal, seumpama Ten Commandements Nabi Musa. Norma jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan memfitnah dan sebagainya adalah norma fundamental dan absolut.  Tanpa norma-norma itu, maka manusia akan kehilangan hakikat sebagai manusia yang sejati.

Norma etika berbeda prinsipil dengan norma sopan santun yang bersifat konvensional, relatif dan tergantung penerimaan sebuah komunitas. Norma sopan santun satu suku-bangsa tentu berbeda dengan norma sopan santun suku-bangsa lainnya. Norma etika juga berbeda dengan norma hukum, yang pada umumnya diformulasikan ke dalam hukum postif yang tertulis. Norma hukum akan jelas kapan dinyatakan berlaku, dan kapan tidak berlaku lagi. Norma etika berlaku universal dan berlaku selamanya. Hanya dalam keadaan tertentu, atau ada faktor-faktor tertentu, yang memungkinkan norma etika dapat dikesampingkan. Harus ada justifikasi yang kuat untuk memungkinkan hal itu, seperti keadaan yang amat memaksa. Saya menyadari bahwa etika seringkali berhadapan dengan dilema, suatu situasi yang amat sulit, dan suatu pilihan yang amat sulit.
Pada hemat saya, tidak perlu kita merumuskan kode etik, code of conducts dan sejenisnya dalam bentuk yang tertulis. Norma-norma etika harus hidup  di dalam hati-sanubari setiap orang. Dia harus tumbuh sebagai kesadaran. Sebelum melakukan sesuatu, setiap kita hendaknya bertanya kepada hati nurani kita masing-masing: patutkah hal ini saya lakukan? Dasar dari segala norma etika adalah keadilan. Adakah adil, kalau saya mengatakan sesuatu atau melakukan seuatu kepada orang  lain? Ini adalah pedoman dalam tindakan. Persoalan etika, bukan persoalan bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, dan  dapat atau tidak dapat. Persoalan etika ialah persoalan boleh atau tidak boleh.

Saya bisa saja memukul orang lain, karena saya menguasai ilmu bela diri, tetapi bolehkah? Saya mampu saja mengambil barang dagangan  pedagang di pinggir jalan, karena penjualnya seorang wanita tua, tetapi bolehkah? Saya dapat saja memfitnah  dan mencaci maki orang lain karena saya punya blog yang tidak dapat dikontrol siapapun, tetapi bolehkah? Saya memiliki senjata, saya dapat saja menembak orang lain, tapi bolehkah saya membunuh seseorang? Semua pertanyaan ini haruslah dikembalikan kepada kesadaran hati-nurani kita masing-masing. Dengan cara itu, kita akan memiliki apa yang disebut dengan “tanggungjawab etika” atau “tanggungjawab moral”. Sia-sia saja kita merumuskan kode etik secara tertulis. Percuma saja kita merumuskan matriks yang memuat sederet kewajiban dan larangan untuk dihafal luar kepala. Semua itu tidak menjadi jaminan apa-apa agar norma  ditaati. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya.

Apalagi ketaatannya.
Dalam pandangan saya, kesadaran etika seperti uraian di atas itu akan mempu membedakan mana tulisan yang berisi polemik iintelektual, dan mana tulisan yang dapat dikategorikan sebagai agitasi, propaganda dan perang urat syaraf. Dalam sejarah bangsa kita, kita telah menemukan banyak polemik yang tinggi mutu intelektualnya, dan memberikan kontribusi besar bagi proses pembentukan bangsa dan negara kita. Polemik itu antara lain, ialah polemik Sukarno dengan Mohammad Natsir tentang hubungan Islam dengan Negara, polemik  tentang Islam dan Sosialisme antara Tjokroamitono dengan Semaun, dan Polemik Kebudayaan Timur dan Barat antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane.

Demikian pula tulisan-tulisan bernada polemis yang dibuat oleh Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara dan lain-lain di bidang pembangunan politik dan ekonomi. Polemik intelektual tentang Islam dan Sekularisme, yang terjadi antara Mohamad Rasjidi dengan Nurcholish Madjid, sangatlah menarik untuk dibaca. Demikian pula polemik Mohamad Roem dengan Rosihan Anwar yang berkaitan dengan sejarah politik di tanah air era tahun 1950-an. Kalau kita menelaah dengan seksama, polemik mereka sungguh sportif, kesatria, argumentatif dan tidak menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada hubungannya dengan materi yang diperdebatkan. Mereka juga menggunakan kata-kata yang sopan, sehingga nampak suasana saling hormat-menghormati, walaupun perbedaan pendapat di antara mereka demikian tajam.
Polemik yang bernuansa intelektual sebagaimana saya gambarkan di atas, tentu berbeda jauh dengan kegiatan agitasi dan propaganda. Dua istilah ini sangat terkenal di masa partai komunis masih kuat pengaruhnya. Sebelum itu, Adolf Hitler dan Jozef Goebbels telah merancang propaganda Nazi dengan sangat canggih. Hampir semua  partai fasis dan partai komunis mempunyai suatu badan tersendiri yang menangani masalah ini. Badan itu mereka namakan dengan “Departemen Agitasi dan Propaganda” atau Agitprop yang berada di bawah komite sentral partai tersebut. Agitasi adalah menyerang lawan dengan segala cara dengan tujuan untuk merendahkan, memojokkan dan menjatuhkan. Pilihan kata-kata sangat tajam dan lugas. Propaganda mempunyai nada yang hampir sama, yakni menyampaikan fakta atau bukan fakta kepada publik dengan maksud untuk membentuk publik opini, sesuai yang diinginkan oleh sang propagandis. Dalam propaganda, segala kedustaan, penjungkir-balikan fakta, rumors dan fintah adalah halal belaka. Agitasi dan propaganda melahirkan perang urat syaraf atau psychological war.
Dalam blog, ada tulisan-tulisan yang mengundang timbulnya polemik yang bernuansa intelektual. Namun ada pula, tulisan-tulisan yang mengandung sifat agitasi dan propaganda yang melahirkan perang urat syaraf. Tulisan yang bernuansa intelektual memang mengajak kepada pencerahan. Namun tulisan yang bernada agitasi dan propaganda, tentu jauh dari semangat itu, karena  yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi upaya sistematis membentuk publik opini sesuai  keinginan orang yang melakukannya. Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah  kebenaran yang dirubah sedikit saja. Ada sebuah peristiwa terjadi dan menjadi sebuah fakta. Fakta itu kemudian “diplintir” sedikit saja dan disebarluaskan dengan teknik-teknik tertentu, maka dengan serta merta dia akan menjadi propaganda yang efektif. Sasaran propaganda tentu saja publik yang awam tentang seluk-beluk suatu masalah.
Berulang kali Professor Osman Raliby mengingatkan saya agar jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama. Professor  Osman Raliby pernah “berguru” kepada Jozef Goebbels, ketika beliau belajar di Universitas Humbolt, Berlin, menjelang Perang Dunia II. Kita harus jujur, fair dan adil. Demikian nasehat Professor  Raliby kepada saya. Kalau propaganda dihadapi pula dengan propaganda, dunia ini akan makin centang perenang. Dengan propaganda, orang dapat menciptakan “surga”, namun dengan propaganda juga orang dapat menciptakan “neraka” di tengah sebuah komunitas. Seperti saya jelaskan dalam Kata Pengantar blog ini, saya mengundang siapa saja yang berminat untuk berdiskusi, bertukar pikiran dengan semangat intelektual atas dasar saling menghormati.

Tulisan singkat kali ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf.
Wallahu’alam bissawab.

26 Oktober 2022

#Haiku zamzam

 


Oleh. Cecep Suhaeli


Di batu pasir 

Dahagaku Ismail

Susu mengering


Bayi menangis

Bebatuan berzikir

Air dipanggil


Hajar menjerit

Sofa teriak parau

Zamzam melimpah


CS26102022

24 Oktober 2022

DETIK-DETIK MENJELANG WAFATNYA RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

 


Pembicaraan kita pada kesempatan yang mulia ini adalah materi yang sangat penting dan bukan pembahasan biasa. Saat ini, kita akan membahas dan berbicara tentang kematian kekasih kita, imam kita, pembimbing kita, panutan dan Nabi kita yaitu Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bagaimana mungkin seseorang yang mencintai orang lain berbicara tentang kematian orang yang sangat dicintainya?! Lalu bagaimana pula rasanya jika pembicaraan itu berkenaan dengan orang yang paling kita cintai diantara seluruh manusia di dunia ini?! Tentang kematian orang yang lebih kita cintai dibandingkan diri kita sendiri, kedua orang tua, anak-anak kita, keluarga dan bahkan seluruh manusia.

Sesungguhnya, berita tentang kematian Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebuah berita besar, bahkan sangat besar. (Berita ini tetap menghebohkan dan menggetarkan setiap jiwa yang mendengarnya, meski para Sahabat tahu betul bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  adalah seorang manusia biasa, dan semua manusia pasti akan mengalami kematian, karena Allâh Azza wa Jalla telah menetapkan tidak ada seorang pun manusia yang kekal abadi di dunia. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). [Az-Zumar/39:30]

Juga Allâh Azza wa Jalla berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allâh sedikitpun, dan Allâh akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. [Ali Imran/3:144]

Allâh Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ ۖ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُونَ

Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad); maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal? [Al-Anbiya/21:34]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ

Setiap jiwa pasti akan mengalami kematian.[Ali Imran/3:185]

WAFATNYA NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dilahirkan di Mekah pada tahun yang dikenal dengan tahun gajah. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di sana selama 40 tahun. Ketika usia Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam genap 40 tahun, Allâh Azza wa Jalla menobatkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Nabi dan Rasul. Setelah diangkat menjadi Nabi dan Rasul, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menetap di Mekah selama 13 tahun untuk mendakwahi dan mengajak masyarakat mentauhidkan Allâh Azza wa Jalla dan memeluk agama Islam. Kemudian Beliau hijrah (pindah) ke Madinah dan menetap di sana. Dalam perjalanan hidup Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak sekali peristiwa-peristiwa penting yang semuanya tercantum dan tercatat rapi dalam kitab-kitab hadîts  dan sîrah (buku-buku hadits dan sejarah hidup Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ).  Namun pada kesempatan ini, kita tidak bermaksud membicarakan semua peristiwa-peristiwa itu. Pada kesempatan ini, kita akan berbicara tentang berbagai peristiwa terkait wafatnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Pada tahun ke-7 hijriah, Khaibar yang merupakan salah satu basis kekuatan orang-orang Yahudi berhasil ditaklukkan oleh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama kaum Muslimin.  Ketika itu, salah seorang wanita Yahudi memberikan hadiah kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa daging kambing yang sudah dibakar dan dibubuhi racun. Dia memperbanyak racun pada bagian paha, karena wanita jahat ini tahu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai daging kambing terutama daging bagian paha. Ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak mulai menikmati daging kambing tersebut, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sepotong dari bagian pahanya dan mengunyahnya dengan mulut Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Sebelum sempat menelan daging tersebut, ada kabar yang sampai kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bahwa wanita Yahudi itu telah membubuhkan racun pada daging tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera menyampaikan kepada para Sahabatnya yang menyertai Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang hendak menikmati hidangan tersebut agar mereka menahan diri dan tidak melanjutkan memakan daging tersebut. Dalam sebuah riwayat dijelaskan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ارْفَعُوْا أَيْدِيَكُمْ فَإِنَّهَا أَخْبَرَتْنِى أَنَّهَا مَسْمُوْمَةٌ

Angkatlah tangan kalian (dari daging-daging tersebut)! Karena daging-daging itu telah menyampaikan kepadaku bahwa dia itu beracun

Racun yang sudah terlanjur masuk ke tubuh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak langsung terlihat reaksinya saat itu, agar manusia tahu dan yakin bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Nabi yang diutus dan juga agar Allâh Azza wa Jalla bisa menyempurnakan agama-Nya. Kemudian diakhir masa kehidupan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , pengaruh racun itu mulai tampak dan terasa. Hikmahnya adalah agar manusia mengetahui bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang manusia biasa yang mendapat kehormatan untuk mengemban risalah dari Allâh Azza wa Jalla . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam harus ditaati tapi tidak disembah. Saat menderita sakit di akhir kehidupannya, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sempat bersabda:

يَا عَائِشَةُ مَا أَزَالُ أَجِدُ أَلَمَ الطَّعَامِ الَّذِي أَكَلْتُ بِخَيْبَرَ فَهَذَا أَوَانُ وَجَدْتُ انْقِطَاعَ أَبْهَرِي مِنْ ذَلِكَ السُّمِّ

Wahai Aisyah! Saya masih merasakan rasa sakit akibat dari makanan yang saya konsumsi di Khaibar. Inilah saatnya, urat nadiku akan terputus karena pengaruh racun itu. [HR. Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya]

Pada tahun ke-10 hijriah, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melaksanakan ibadah haji terakhir yang disebut dengan hajjatul wada’. Ketika itu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

خُذُوا مَنَاسِكَكُمْ لَعَلِّي لَا أَلْقَاكُمْ بَعْدَ عَامِي هَذَا

Ambillah dariku cara ibadah haji kalian, karena mungkin setelah tahun ini, saya tidak akan berjumpa lagi dengan kalian

Kemudian Allâh Azza wa Jalla menurunkan firman-Nya:

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ﴿١﴾ وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا ﴿٢﴾ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allâh dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk ke agama Allâh dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. [An-Nashr/110:1-3]

Dalam penggalan kisah ini, tersisip pesan bahwa tidak beberapa lama lagi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan wafat, akan meninggalkan umatnya. Sejak saat itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memperbanyak doa dalam ruku’ dan sujud:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبـِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِـي

Maha suci Engkau, wahai Allâh! Dan segala puji bagi-Mu. Wahai Allâh! Ampunilah aku

Usai menunaikan ibadah haji wada’, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali ke Madinah dan terus berada di Madinah. Di akhir bulan Shafar atau di awal bulan Rabi’ul awwal,  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menyempatkan diri untuk pergi ziarah ke makam para Sahabat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang gugur dalam perang Uhud (syuhada Uhud). Ziarah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kali ini seakan sebagai salam perpisahan dengan para Sahabat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Sepulang dari menunaikan hajjatul wada’, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga sempat berziarah ke makam Baqi’ al-Gharqad di tengah malam. Beliau memohonkan ampunan kepada Allâh buat para Sahabat yang telah dimakamkan di Baqi’. Ini juga seakan sebagai salam perpisahan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.

Pada suatu hari, saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  kembali dari pemakaman Baqi’ dan mendapati Aisyah Radhiyallahu anhuma dalam keadaan pusing dan berkata, “Aduh kepalaku sakit!” Mendengar ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun mengungkapkan rasa sakit kepala yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam rasakan saat itu.

Sejak saat itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mulai jatuh sakit. Meski demikian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap berpindah-pindah dari rumah istri Beliau yang satu ke rumah istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa bertanya, “Besok, saya dimana?”  Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat merindukan dan ingin berada di rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma . Jika sampai paad giliran Aisyah Radhiyallahu anhuma , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasa tenang. Hari terus berlalu, penyakit yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam derita semakin berat dan parah, namun terus berpindah-pindah dari rumah ke rumah istri yang lainnya. Saat sakit Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin parah, dan kala itu giliran Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di rumah salah seorang ummahatul Mukmin, istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  Maimunah Radhiyallahu anhuma , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memohon ijin kepada istri-istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk bisa tinggal di rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma. Para istri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberikan izin kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  untuk berada di rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma . Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar dari rumah Maimunah Radhiyallahu anhuma dalam keadaan lemah, tidak mampu berjalan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpegangan pada Ibnu Abbas Radhiyallahu anhumadan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu sembari melangkahkan kaki Beliau yang mulia sampai akhirnya tiba di rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma .

Pada hari Kamis, lima hari menjelang Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, hari ini adalah hari yang sangat menyedihkan sehingga Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma ketika menceritakan kejadian hari itu tidak bisa menahan tangis. Di hari itu, sakit yang mendera Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semakin berat. Dalam kondisi seperti ini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda kepada orang-orang yang berada di sekitarnya, “Ambilkanlah untuk saya sebuah buku! Saya akan menuliskan buat kalian sebuah tulisan yang dijamin kalian tidak tersesat selama kalian berpegang teguh dengannya!” Para Sahabat yang berada disekitarnya berselisih tentang sabda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Diantara mereka, ada yang mengatakan bahwa Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengalami sakit berat, sementara kita sudah memiliki al-Qur’an, maka cukuplah al-Qur’an sebagai pegangan kita. Dan ada pula yang ingin memberikan kitab supaya Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menulis sesuatu yang dijadikan sebagai pedoman sehingga umatnya tidak akan tersesat. Dan ada pula yang berpendapat yang berbeda. Mendengar perselisihan dan percekcokan diantara mereka, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

دَعُونِي فَالَّذِي أَنَا فِيهِ خَيْرٌ، أُوصِيكُمْ بِثَلَاثٍ: أَخْرِجُوا الْمُشْرِكِينَ مِنْ جَزِيرَةِ الْعَرَبِ، وَأَجِيزُوا الْوَفْدَ بِنَحْوِ مَا كُنْتُ أُجِيزُهُمْ بِهِ “، قَالَ: وَسَكَتَ، عَنِ الثَّالِثَةِ، أَوْ قَالَهَا فَأُنْسِيتُهَا

Bebaskan aku (dari semua perselisihan)! Sesungguhnya apa yang ada padaku ini lebih baik daripada apa yang ada pada kalian. Saya wasiatkan kepada kalian tiga hal : (pertama), keluarkanlah orang-orang musyrik dari Jazirah Arab; (kedua) terima dan perlakukanlah para utusan (duta) yang datang kepada kalian sebagaimana aku menerima dan memperlakukan para duta itu;

Perawi hadits ini yaitu Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak menyebutkan yang ketiga atau Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menyebutkannya, namun saya lupa. (HR. Muslim)

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  meminta untuk diambilkan air dingin sebanyak tujuh qirbah (wadah air yang terbuat dari kuliat yang sudah disama’-red) yang belum dibuka talinya, karena Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  saat itu mengalami demam yang sangat tinggi dan kepala Beliau terasa sangat panas. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  meminta diambilkan air sebanyak itu agar dapat diguyurkan ke badan Beliau untuk mengurangi demam dan meredakan panasnya. Kemudian Aisyah Radhiyallahu anhuma dan yang lainnya mendudukkan Rasûlullâh pada mikhdhab (wadah yang biasa digunakan untuk mandi-red) milik Hafshah Radhiyallahu anhuma dan mengguyur Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan air-air tersebut sesuai dengan permintaan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau didudukkan di tempat tersebut, karena keadaan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat lemah. Setelah dirasa cukup, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan isyarat agar berhenti.

CERAMAH TERAKHIR RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM

Kemudian setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dipandu keluar menemui para Sahabatnya dalam keadaan kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam diikat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dibawa keluar dari rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma sampai ke mimbar lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk. Setelah memuja dan memuji Allâh Azza wa Jalla , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ خَيَّرَ عَبْدًا بَيْنَ الدُّنْيَا وَبَيْنَ مَا عِنْدَهُ فَاخْتَارَ ذَلِكَ الْعَبْدُ مَا عِنْدَ اللَّهِ

Sesungguhnya Allâh telah memberikan pilihan kepada seorang hamba-Nya untuk memilih dunia atau memilih apa yang ada di sisi Allâh, lalu hamba tersebut memilih apa yang ada pada Allâh.

Mendengar apa yang dikatakan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Abu Bakar Radhiyallahu anhu sedih,  menangis tersedu-sedu dan mengatakan, “Wahai Rasûlullâh! Kami siap menebus engkau dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami!”

Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu mengatakan, “Kami tercengang dan terheran-heran dengan Abu Bakar.” Kala itu, sebagian orang mengatakan, “Lihatlah orang ini! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan tentang seorang hamba disuruh memilih oleh Allâh Azza wa Jalla antara memilih perhiasan dunia apapun yang dikehendakinya atau memilih apa yang ada di sisi Allâh Azza wa Jalla , namun orang ini mengatakan, ‘Kami siap menebus engkau dengan ayah-ayah kami dan ibu-ibu kami!’

Namun akhirnya mereka sadar bahwa hamba yang dimaksudkan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah diri Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri, oleh karena itu Abu Bakar Radhiyallahu anhu menangis tersedu-sedu. Abu Bakar Radhiyallahu anhu sangat memahami maksud dari ucapan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Menyaksikan tangis Abu Bakar Radhiyallahu anhu , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا أَبَا بَكْرٍ لَا تَبْكِ إِنَّ أَمَنَّ النَّاسِ عَلَيَّ فِي صُحْبَتِهِ وَمَالِهِ أَبُو بَكْرٍ وَلَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلًا مِنْ أُمَّتِي لَاتَّخَذْتُ أَبَا بَكْرٍ وَلَكِنْ أُخُوَّةُ الْإِسْلَامِ وَمَوَدَّتُهُ لَا يَبْقَيَنَّ فِي الْمَسْجِدِ بَابٌ إِلَّا سُدَّ إِلَّا بَابُ أَبِي بَكْرٍ

Wahai Abu Bakar! Janganlah engkau menangis! Sesungguhnnya orang yang paling baik kepadaku dengan hartanya dan pertemanannya adalah Abu Bakar. Sekiranya aku boleh mengambil seseorang dari ummatku sebagai kekasih (teman yang paling akrab), maka tentu saya telah menjadi Abu Bakar sebagai kekasih, namun yang ada diantara kami persaudaraan Islam dan kasih sayangnya. Sesungguhnya semua pintu masjid kebaikan telah tertutup, kecuali pintu Abu Bakar Ash Shidiq. 

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyempurnakan khutbah tersebut dengan sabda Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ

Ketahuilah sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan para Nabi dan orang-orang shalih sebagai masjid, maka jangan kalian menjadikan kuburan-kuburan sebagai masjid!

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  juga bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنَّ النَّاسَ يَكْثُرُونَ وَيَقِلُّ الْأَنْصَارُ حَتَّى يَكُونُوا فِي النَّاسِ بِمَنْزِلَةِ الْمِلْحِ فِي الطَّعَامِ فَمَنْ وَلِيَ مِنْكُمْ شَيْئًا يَضُرُّ فِيهِ قَوْمًا وَيَنْفَعُ فِيهِ آخَرِينَ فَلْيَقْبَلْ مِنْ مُحْسِنِهِمْ وَيَتَجَاوَزْ عَنْ مُسِيئِهِمْ

Wahai manusia! Sesungguhnya manusia akan bertambah banyak namun Anshar akan semakin berkurang dan sedikit, sehingga para Anshar ini di tengah manusia ibarat garam dalam makanan. Barangsiapa diantara kalian yang diberi amanah untuk mengurusi sesuatu (menangani sesuatu sebagai pemimpin-red) yang sesuatu itu bisa mendatangkan madharat bagi sebagian kaum namun bisa mendatangkan manfaat bagi sebagian kaum yang lainnya, maka hendaklah dia menerima masukan dari orang-orang baik diantara mereka dan memaafkan orang-orang yang berbuat buruk.

Setelah menyampaikan ini, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun dari mimbar. Itulah ceramah terakhir Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas mimbarnya dihadapan para Sahabatnya Radhiyallahu anhum .

Di saat itu, seluruh istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah berkumpul di dekat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidak ada seorang pun yang meninggalkan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu anak Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  Fathimah Radhiyallahu anhuma datang dengan berjalan kaki. Cara berjalan Fathimah Radhiyallahu anhuma sama seperti cara berjalan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Mengetahui kedatangan Fathimah Radhiyallahu anhuma , Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya, “Marbahaban (selamat datang), wahai anakku!”

Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberi isyarat dengan tangannya agar ia duduk di sisi kanan atau sisi kirinya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu tidak lama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberikan isyarat kepada Fathimah untuk mendekatkan wajahnya, mendekatkan telinganya ke mulut Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan sesuatu yang tidak didengar oleh para istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak terdengar oleh orang lain selain Fathimah Radhiyallahu anhuma . Setelah mendengar bisikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , Fathimah Radhiyallahu anhuma menangis. Setelah itu, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  membisikkan sesuatu yang lain kepada Fathimah Radhiyallahu anhuma yang membuat beliau Radhiyallahu anhuma tertawa. Melihat ini, Aisyah Radhiyallahu anhuma penasaran dan bertanya, “Wahai Fathimah! Apakah yang membuatmu menangis?” Fathimah Radhiyallahu anhuma merespon pertanyaan ini dengan mengatakan, “Demi Allâh! Aku tidak akan mau membeberkan rahasia Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Setelah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Aisyah Radhiyallahu anhuma masih menyimpan rasa penasaran dan menanyakan kembali kepada Fathimah Radhiyallahu anhuma prihal bisikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Fathimah Radhiyallahu anhuma menjawab, “Kalau sekarang, ya (saya menjelaskannya-red).  Masalah yang disampaikan kepada saya pada bisikan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama adalah Beliau memberitahukan bahwa Jibril Alaihissallam datang kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sekali dalam setahun untuk mendengarkan al-Qur’an seluruhnya, namun tahun ini Jibril Alaihissallam mendatangi Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebanyak dua kali. Saya kira ajalku sudah dekat atau akan datang, maka hendaklah kamu bertakwa kepada Allâh dan bersabar. Karena sesungguhnya pendahulu terbaik bagimu adalah saya.’Lalu Fathimah Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Mendengar ini, saya menangis sebagaimana yang engkau lihat tangisku. Saat Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kesedihan yang menderaku, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbisik lagi kepadaku. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Tidakkah engkau rela menjadi sayyidah umat ini?! Sayyidah kaum Mukminin?!’ Lalu saya tertawa sebagaimana yang engkau lihat.”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Fathimah Radhiyallahu anhuma mengatakan, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan bahwa saya adalah keluarga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pertama kali mengikuti Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Lalu saya tertawa sebagai yang engkau lihat.”

Ketika Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit kala itu, sebagian para istri Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  saling berbicara satu sama lain. Diantaranya, Ummu Salamah Radhiyallahu anhuma dan Ummu Habibah Radhiyallahu anhuma mengisahkan apa yang mereka lihat ketika mereka hijrah ke Habasyah. Mereka bercerita bahwa mereka melihat sebuah gereja yang penuh dengan gambar-gambar. Mendengar ini, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam kondisi sakit keras:

إِنَّ أُولَئِكَ إِذَا كَانَ فِيهِمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ فَمَاتَ، بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا، وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Sesungguhnya mereka itu jika ada da orang shalih diantara mereka yang meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburan orang shalih tersebut, lalu mereka membuatkan gambar-gambar di sana. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk di sisi Allâh Azza wa Jalla pada hari kiamat.

PERHATIAN RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM TERHADAP SHALAT KAUM MUSLIMIN

Ketika dalam kondisi Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam kondisi sakit keras dan tidak bisa berdiri juga, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lepas perhatiannya terhadap shalat kaum Muslimin. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya:

أَصَلَّى النَّاسُ؟ فَقَالُوْا: لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ

“Apakah mereka telah melaksanakan shalat?” Para Sahabat menjawab, “Belum. Mereka masih menunggu engkau, wahai Rasûlullâh!” Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Taruhkanlah air untukku pada al-makhdhab (tempat air untuk mandi-red).

Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, “Kami melakukan apa yang diminta oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam ” Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mandi wadah tersebut lalu bangkit hendak berdiri hendak ke masjid, namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kuat lalu pingsan. Tidak lama berselang, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersadar dan bertanya:

أَصَلَّى النَّاسُ؟ فَقَالُوْا: لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ

“Apakah mereka telah melaksanakan shalat?” Para Sahabat menjawab, “Belum. Mereka masih menunggu engkau, wahai Rasûlullâh!” Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Taruhkanlah air untukku pada al-makhdhab (tempat air untuk mandi-red).

Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, “Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di al-makhdhab tersebut dan mandi. Setelah itu, Beliau bangun hendak berdiri, namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kuat lalu pingsan. Tidak lama kemudian, Beliau siuman kembali. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kembali:

أَصَلَّى النَّاسُ؟ فَقَالُوْا: لَا هُمْ يَنْتَظِرُونَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: ضَعُوا لِي مَاءً فِي الْمِخْضَبِ

“Apakah mereka telah melaksanakan shalat?” Para Sahabat menjawab, “Belum. Mereka masih menunggu engkau, wahai Rasûlullâh!” Lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Taruhkanlah air untukku pada al-makhdhab

Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata, “Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk di al-makhdhab tersebut dan mandi. Setelah itu, Beliau bangun hendak berdiri, namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kuat lalu pingsan. Tidak lama kemudian, Beliau siuman kembali. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali melontarkan hal yang sama, sementara pada Sahabat setia menunggu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menunaikan shalat Isya bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah berusaha dan tidak mampu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam akhirnya menyuruh orang-orang yang ada disekitarnya  untuk meminta Abu Bakr Radhiyallahu anhu agar memimpin para Sahabat menunaikan shalat Isya’.

Baca Juga  Bertaqlid Kepada Madzhab dan Menolak Untuk Belajar

Aisyah Radhiyallahu anhuma berkata:

إِنَّ أَبَا بَكْرٍ رَجُلٌ رَقِيقٌ وَإِذَا قَرَأَ الْقُرْآنَ لا يَمْلِكُ دَمْعَهُ، فَلَوْ أَمَرْتَ غَيْرَ أَبِي بَكْرٍ. قَالَتْ: وَاللَّهِ، مَا بِي إِلا كَرَاهِيَةُ أَنْ يَتَشَاءَمَ النَّاسُ بِأَوَّلِ مَنْ يَقُومُ فِي مُقَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Wahai Rasûlullâh! Sesungguhnya Abu Bakr seorang yang sangat peka hatinya, mudah menangis. Jika beliau Radhiyallahu anhu membaca al-Qur’an, beliau Radhiyallahu anhu tidak bisa menahan air matanya. Sekiranya engkau berkenan menyuruh Sahabat lain selain Abu Bakar Radhiyallahu anhu ?

Aisyah Radhiyallahu anhuma juga mengatakan, “Demi Allâh! Saya tidak ada apa-apa, hanya saja saya khawatir orang-orang merasa bosan dengan orang yang pertama kali menggantikan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Meski demikian, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersabda:

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

Suruhlah Abu Bakr! Hendaklah dia shalat bersama para Sahabat (sebagai imam-red)

Aisyah Radhiyallahu anhuma mengucapkan perkataan yang sama, namun Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersabda:

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

Suruhlah Abu Bakr! Hendaklah dia shalat bersama para Sahabat

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirim utusan untuk menemui Abu Bakr Radhiyallahu anhu agar beliau Radhiyallahu anhu mengimami para Sahabat menunaikan shalat Isya. Setelah menjumpai Abu Bakr, utusan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan pesan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada beliau. Menerima pesan ini, Abu Bakr Radhiyallahu anhu merasa berat dan mengalihkannya kepada Umar bin Khatthab Radhiyallahu anhu , namun Umar Radhiyallahu anhu menolak dan mengatakan bahwa Abu Bakr Radhiyallahu anhu adalah orang yang paling berhak untuk itu. Akhirnya, sejak saat itu dalam beberapa hari , Abu Bakr Radhiyallahu anhu memimpin para Sahabat menunaikan shalat di masjid Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Ketika merasa sakitnya agak sedikit ringan, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju masjid dengan dipapah oleh dua Sahabat Radhiyallahu anhuma . Saat berjalan menuju masjid, Aisyah  memperhatikan jalan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dia  mengatakan:

كَأَنِّي أَنْظُرُ رِجْلَيْهِ تَخُطَّانِ الأَرْضَ مِنَ الْوَجَعِ

seakan-akan aku melihat kedua kaki Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis di tanah (diseret) disebabkan sakit yang Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam derita

Setibanya di masjid, Abu Bakr Radhiyallahu anhu yang sedang mengimami shalat merasakan kedatangan Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat hendak mundur ke barisan makmum, namun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memberikan isyarat kepada Abu Bakr Radhiyallahu anhu agar tetap berada pada posisinya. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  terus dipapah, didudukkan dan shalat di samping Abu Bakr Radhiyallahu anhu . Abu Bakr Radhiyallahu anhu mengikuti shalat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , sementara para Sahabat tetap shalat dengan mengikuti Abu Bakr Radhiyallahu anhu . Kejadian ini ini terjadi pada shalat Zhuhur pada hari Kamis. Shalat itu adalah shalat terakhir yang dilaksanakan oleh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berjama’ah bersama para Sahabatnya.

Setelah itu, sakit yang mendera Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  semakin parah. Tiga hari menjelang wafat, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

أَحْسِنُوْا الظَّنَّ بِاللهِ

Berbaik sangkalah kalian kepada Allâh! berbaik sangkalah kalian kepada Allâh!

Kemudian seakan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam merasakan sakit yang luar biasa, sehingga Ummul Mukminin Aisyah Radhiyallahu anhuma mengatakan  bahwa beliau Radhiyallahu anhuma tidak pernah melihat orang yang merasakan sakit yang lebih berat daripada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Dalam kondisi ini, Abu Said al-Khudri Radhiyallahu anhu berkata, “Aku masuk ke rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma untuk menemui Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan di saat itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  sedang merintih merasakan sakit yang luar biasa. Aku meletakkan kedua tanganku ke tubuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang menggunakan selimut dan aku mendapati panas tubuh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  sangat tinggi sekali. Abu Said Radhiyallahu anhu mengatakan, “Alangkah berat sakitmu, wahai Rasûlullâh.” Kemudian Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda:

إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ

Begitulah kita. Ujian kita dilipat gandakan dan pahala kita juga dilipat gandakan

Salah seorang Sahabat yang lain yaitu Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu mengatakan, “Aku juga mendatangi Rasûlullâh, dan ketika itu, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang merintih kesakitan yang luar biasa.”

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM MENGUTUK YAHUDI DAN NASHARA

Sakit Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  terus bertambah parah dan berat. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil kain untuk menutupi wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Jika sedikit berkurang, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap kain itu dari wajahnya n . Dalam kondisi menahan sakit yang sangat dahsyat ini, Beliau tidak lupa mengingatkan umatnya tentang suatu yang sangat penting. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلَى اليَهُوْدِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَاءِهِمْ مَسَاجِدَ

Semoga Allâh melaknat Yahudi dan Nashara yang telah menjadikan kuburan-kuburan para nabi mereka sebagai masjid.

Pada hari-hari itu, Abu Bakr Radhiyallahu anhu terus mengimami para Sahabat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam shalat-shalat mereka. Saat mereka sedang bersiap menunaikan shalat Shubuh dengan diimami oleh Abu Bakr Radhiyallahu anhu , tepatnnya pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, menurut pendapat mayoritas para Ulama, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuka kain penutup yang menutupi kamar Aisyah Radhiyallahu anhuma dari Masjid Nabawi. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kearah para Sahabat yang sedang berbaris rapi menunaikan shalat Shubuh. Wajah Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terlihat berseri-seri lalu tersenyum. Hampir saja kaum Muslimin terpengaruh dalam shalat mereka dengan senyum Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka lihat.  Merasakan ini, Abu Bakr Radhiyallahu anhu mundur karena menyangka Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan keluar dari kamar atau rumah Aisyah Radhiyallahu anhuma menuju masjid. Namun memberikan isyarat agar mereka menyempurnakan shalat mereka. Lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menutup kembali kain tabir itu. Para Sahabat menyangka bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah mulai sembuh dari sakitnya.

Dugaan para Sahabat ini berlawanan dengan fakta yang ada. Sakit Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  semakin parah sampai-sampai Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam pingsan beberapa kali. Fathimah Radhiyallahu anhuma yang terus mengamati kondisi baginda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berkata, “Alangkah berat penderitaanmu, wahai ayahku!” Mendengar ungkapan hati Fathimah Radhiyallahu anhuma , Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam meyakinkan beliau Radhiyallahu anhuma :

لَيْسَ عَلَى أَبِيكِ كَرْبٌ بَعْدَ الْيَوْمِ

Sesungguhnya setelah ini, tidak ada lagi penderitaan yang akan mendera bapakmu.

Meskipun Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang mengalami sakit parah, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali memberikan wasiat kepada para Sahabatnya terutama wasiat tentang shalat. Bahkan wasiat tentang shalat merupakan wasiat terakhir, ketika Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengalami sakaratul maut. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkannya dengan terbata-bata seraya menahan sakit:

الصَّلاَةَ الصَّلاَةَ وَاتَّقُوْا اللهَ فِيْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

Perhatikanlah shalat kalian… Perhatikanlah shalat kalian… Dan hendaklah kalian bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dalam urusan budak-budak kalian.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM BERSIWAK

Pada hari Senin pagi, Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiyallahu anhuma memasuki kamar Aisyah Radhiyallahu anhuma . Saat itu ia melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan sakit keras sehingga Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mampu lagi untuk berucap. Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiyallahua anhuma masuk sambil membawa siwak dan sedang menggunakannya.  Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  melihat apa yang dilakukan oleh Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiyallahua anhuma sembari bersandar pada Aisyah Radhiyallahu anhuma. Ketika melihat Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memandangi dan memperhatikan Abdurrahman bin Abu Bakr Radhiyallahua anhuma, Aisyah Radhiyallahu anhuma memahami bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  ingin bersiwak. Untuk memastika dugaan ini, Aisyah Radhiyallahu anhuma bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

آخُذُهُ لَكَ

 Apakah engkau ingin aku ambilkan engkau siwak itu?

Rasûlullâh memberikan isyarat dengan anggukan kepala. Aisyah Radhiyallahu anhuma mengambilkan siwak itu dan menyerahkannya kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam . lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersiwak dengannya, sementara dihadapan Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam ada sebuah wadah air yang terbuat dari kulit. Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan tangannya kedalam air yang ada dihadapannya lalu mengusap wajahnya dengan air tersebut, sembari mengatakan:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ إِنَّ لِلْمَوْتِ لَسَكَرَاتٍ. اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى سَكَرَاتِ الْمَوْتِ

 Tidak ada ilah yang diibadahi dengan hak selain Allâh. Sesungguhnya kematian memiliki sakarat. Ya Allâh! Bantulah aku menghadapi sakaratul maut ini!

Aisyah Radhiyallahu anhuma juga mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  berdo’a:

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْهِمْ مِنْ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

Mereka bersama orang-orang yang Allâh berikan nikmat padanya daripada para nabi dan orang-orang sholeh dan mereka adalah sebaik-baiknya teman.

Aisyah Radhiyallahu anhuma juga mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa sambil bersandar pada Aisyah Radhiyallahu anhuma :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي، وَألْـحِقْنِي بِالرَّفِيقِ الْأَعْلَى

Wahai Allâh! Ampunilah dosaku! Karuniakanlah rahmat-Mu kepadaku dan angkatlah aku ke ar-Rafiqul A’la (masukkanlah aku ke dalam surga bersama orang-orang terbaik-red)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan doa-doa itu, padahal Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang Rasul yang dijamin akan masuk surga, bagaimana dengan kita???

Ketika berada di atas pangkuan Aisyah Radhiyallahu anhuma, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pingsan selama kurang lebih satu jam, lalu siuman. Saat itu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  memandang ke atap, lalu Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kepala Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bersandar pada badan Aisyah Radhiyallahu anhuma . Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengangkat kedua tangan Beliau yang mulia seraya terus memanjatkan doa:

اللَّهُمَّ الرَّفِيْقَ الأَعْلَى

 Ya Allâh! Masukkanlah aku ke syurga.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus memanjatkan doa itu sampai ruh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dicabut dan tangan Beliau yang mulia pun lemas. Kalimat itulah yang terakhir kali diucapkan oleh baginda Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam  .

Aisyah Radhiyallahu anhuma yang menyaksikan saat yang paling menyedihkan itu mengatakan, “Ketika ruh Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam dicabut, saya mencium aroma paling harum yang pernah saya ketahui.