21 April 2020

K.H.E. Abdurrahman Peneguh Khittah Persis





Hari ini, banyak orang memperingati hari kartini. Tapi, saya ingin mengenang sosok lain yang juga sangat berperan penting dalam catatan sejarah umat Islam Indonesia. Hari ini, 21 April 2020, tepat 37 tahun wafatnya ulama besar Persatuan Islam KH. E. Abdurrahman, Ketua Umum PP. Persis (1962-1983).

K.H.E. Abdurrahman
Peneguh Khittah Persis
Oleh Prof. Dr. H. Dadan Wildan, M.Hum

“Kita mencari jelas bukan mencari puas”
(KHE. Abdurrahman)

1. Sosok KHE. Abdurrahman

Ustad Abdurahman dilahirkan di  kampung Pasarean, Desa Bojong Herang, Kabupaten Cianjur pada hari Rabu tanggal 12 Juni 1912 (26 Jumadi Tsaniah 1330 H).  Ia merupakan putra tertua dari 11 bersaudara. Ayahnya bernama Ghazali, seorang penjahit pakaian, dan ibunya bernama Hafsah, seorang pengrajin batik ( Wahid, 1988 : 9; Ghazali, 1997: 1).

Pada usia 7-8 tahun, Abdurahman telah hatam Al-Qur’an, dan pada usia semuda itu pula ia mulai meniti jenjang pendidikan dengan memasuki Madrasah  Nahdatul Ulama Al-Ianah Cianjur (1919-1926). Di madrasah inilah penguasaan bahasa Arab dan “ilmu alat”-nya semakin mantap.

Selesai menamatkan pelajaran di Madrasah Al-Ianah, Abdurahman pergi ke Bandung atas permintaan Tuan Swarha (Hassan Wiratama) untuk mengajar di  Madrasah Nahdatul Ulama Al-Ianah Bandung (1928-1930). Sekitar tahun 1930, atas permintaan Tuan Alakatiri, seorang tuan kaya di Bandung, ia diminta untuk memberikan bimbingan agama kepada putra-putranya.

Selain itu, Tuan Alkatiri pun mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) di Gg. Ence Azis No. 12/10 Kebon Jati Bandung, ustad Abdurrahman diberi tugas mengelola Madrasah AL-Hikmah di Rancabali Padalarang. Dalam perjalanan hidupnya, ustad Abdurahman menunaikan ibadah haji dua kali, tahun 1956 bersama Isa Anshary, A. Hassan, Tamar Jaya, Emzita, dengan membimbing jemaah  haji Persis berjumlah 89 orang.

Ustad Abdurrahman dikenal sebagai seorang ulama besar, ahli hukum yang tawadlu. Ia tidak ingin disanjung sehingga tidak banyak dikenal umum. Penghargaannya terhadap waktu sangat luar biasa. Ia menghabiskan waktunya menelaah kitab-kitab, mengajar di pesantren, dan hampir setiap malam mengisi berbagai pengajian.

Ulama besar ini, jika dilihat dari latar belakang pendidikannya hanyalah lulusan Madrasah Al-Ianah Cianjur. Namun, kegigihannya dalam membuka cakrawala ilmu tidaklah terbatas pada jenjang pendidikan formal. Ia mencoba memahami berbagai bahasa, khususnya bahasa Arab, Inggris, dan Belanda; dan akhirnya menguasainya.

Cakrawala keilmuannya terbuka luas. Surat kabar yang menjadi langganannya adalah Sipatahoenan, Kompas, dan Pikiran Rakyat, juga surat kabar berbahasa Inggris, The Indonesia Observer. Selain itu ia selalu mendapat kiriman majalah-majalah berbahasa Arab dari Saudi Arabia dan Mesir.

Keseriusannya menelaah kitab-kitab, telah  menjadi bagian dari kehidupannya. Perbendaharaan kitabnya yang begitu banyak dan keseriusan mengkajinya, merupakan faktor penunjang dalam membentuk dirinya sebagai ulama. Keahliannya meliputi berbagai bidang ilmu, antara lain teologi, syariah, ilmu tafsir, hadis dan ilmu hadis, fikih dan ushul fiqh; begitu juga ilmu hisab. Dengan ilmu yang dikuasainya, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, ia diangkat sebagai dosen UNISBA pada tahun 1959, dan tahun 1967 sebagai dosen FKIT IKIP Bandung.

Dalam penilaian Mohammad Natsir (Wahid, 1988 :74), Ustad Abdurrahman mempunyai kelebihan dalam hal kecermatannya ketika mendapatkan hukum dari ijtihadnya, dengan landasan dalil yang selalu kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, ulama seperti ini termasuk langka, bahkan jarang ditemui , diluar negeri sekalipun.

Sosok Ustad Abdurahman menunjukkan orang yang sehat, bersih, dan selalu rapi dalam berpakaian. Apalagi jika akan mengajar di pesantren, ia selalu tampil mengenakan celana panjang, berjas, dan berdasi. Hal ini ia lakukan bukan untuk disanjung dan menyombongkan diri, tetapi untuk menghilangkan kesan bahwa pakaian para ustad di pesantren selalu kotor, kumal dan jorok. Dalam berucap, ia senantiasa berhati-hati sehingga kata-katanya tidak pernah menyakitkan orang.

Ia pun seorang penulis yang produktif. Tulisan lepasnya banyak tersebar dimajalah-majalah. Materi-materi khotbah Jumat, khotbah Idul Fitri dan Idul Adha disusunnya dengan baik.
Buku-buku yang pernah ditulisnya antara lain jihad dan Qital, Darul Islam, Ahlu Sunnah Wal Jamaah, Dirasah Ilmu Hadits, Perbandingan Mazhab, Ahkamusyar’i; Risalah Jum’at; Recik-recik Dakwah; Sekitar Masalah Tarawih, Takbir, dan Shalat Ied dilengkapi khutbah Iedul Fitri, Hukum Qurban, Aqiqah, dan sembelihan, Petunjuk Praktis Ibadah haji, Renungan Tarikh, Mernahkeun Hukum dina Agama, Syiatu aly, dan Risalah Wanita. Selain itu, ia juga menuliskannya dalam bentuk tanya jawab pada majalah Risalah dalam ruang “Istifta”.

Dalam perjuangannya di Persis, menurut Muchtar (1997:12-13), Ustad Abduirrahman sering berkata, “ Kita harus mampu menghilangkan diri”. Pernyataannya itu mengandung makna: demi hidupnya pemikiran dan perjuangan dalam mempertahankan dan menegakkan jam’iyyah diperlukan  keikhlasan dan keberanian melepaskan kepentingan pribadi untuk kepentingan Jam’iyyah. Selain tidak membanggakan diri terhadap jasa yang telah diberikan; semuanya dilakukan hanyalah karena Allah.

Dalam setiap tausiah-nya, beliau selalu berkata ,” Kita bukan pengikut dari generasi terdahulu, melainkan sebagai pelanjut”; maksudnya, pemikiran dan perjuangan Persis hendaklah tidak taklid, melainkan harus inovatif sesuai perkembangan zaman dalam batas-batas kerangka Al-Qur’an dan sunnah. Adapun dalam hal metode dakwahnya, Ustad Abdurahman selalu mengatakan, “ Kita perlu mencari jelas, dan bukan mencari puas.”

2. K.H.E. Abdurrahman dan Persis

Atas kehendak Allah, suatu hal yang jarang terjadi bisa saja terjadi; seorang ulama yang semula pemahaman keagamaannya bersifat tradisional, beralih menjadi yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta menentang berbagai bidah, khurafat, dan Takhayul. Hal itu dialami oleh Ustad Abdurahman.

Kisah yang disampaikan oleh K.H. Eman Sar’an yang berasal dari Ustad E. Sasmita, sebagaimana dikutip Wahid (1988:15), cukup memberikan gambaran tentang bagaimana Ustad Abdurahman berubah sikap dari sosok ulama tradisional menjadi sosok  mujadid yang tangguh.

Keputusan Ustad Abdurahman itu berawal dari adanya  pengajian yang diselenggarakan oleh Persis di jalan pangeran Sumedang yang dipimpin oleh A. Hassan. Dalam suatu kesempatan, A. Hasan membahas masalah haramnya tahlilan, talqin, marhaban, dan Ushalli, A. Hassan menyebutnya sebagai perbuatan bidah. Ustad E. Sasmita, salah seorang murid Ustad Abdurahman yang mengetahui hal itu, kemudian menyampaikan bahasan A. Hasan kepada kelompok pengajiannya di madrasah malam MPDI. Masalah ini ternyata diketahui pula oleh guru kebanggaan mereka, Ustadz Abdurahman.

Ustad Abdurrahman dan masyarakat sekitarnya merasa tersinggung mendengar bahasan A. Hasan, karena merasa keyakinan dan paham  yang dianutnya dipersoalkan  dan dihinas, apalagi  dikategorikan perbuatan haram karena bidah.

Dengan keberaniannya, Ustad Abdurahman beserta beberapa  muridnya mendatangi  pengajian Persis yang dipimpiun A. Hasan . Terjadilah perdeabtan antara A. Hasan dan Ustad Abdurahman hingga belangsung beberapa malam. Akhirnya, Ustad Abdurahman  dapat menerima seluruh keterangan dan dalil-dalil  yang dikemukakan A. Hasan. Sejak saat itu, Ustad Abdurahman selalu hadir dalam setiap pengajian Persis di Jalan pangeran  Sumedang. Sejak itu pula, ia manjadi murid A. Hasan yang paling akrab dan setia mendampinginya dalam berbagai kegiatan.

Pada suatu waktu, dalam pengajian yang disaksikan  banyak orang, sambil mengelus kepala Ustad Abdurahman, A. Hasan berkata: “Abdurahman, anta akan menjadi murid saya yang pintar dan akan melebihi anak kandung saya sendiri “.

Mulai tahun 1934, Ustad Abdurahman dilibatkan sebagai guru pada lembaga pendidikan Islam (Pendis) Persis yang dikelola oleh Mohammad Natsir. Dengan demikian, ia semakin dekat dengan para ulama Persis beserta para anggotanya.

Kedekatannya dengan Persis iini harus dibayar  mahal. Ia diusir oleh Tuan Alkatiri yang masih berpandangan tradisional. Ia diberhentikan dari tugasnya sebagai pengajar di MPDI, juga sebagai khatib di Pakauman Bandung. Ia bahkan diusir dari rumah milik Tuan Alkatiri yang ia tempati sejak lama.

Sejak saat  itulah, Ustad Abdurahman mengalami perubahan dalam kehidupannya: hidupnya yang tadinya serba kecukupan karena menjadi anak anak emas Tuan Alkatiri, kini berubah penuh keprihatinan. Namun, semuanya itu ia terima sebagai ujian dari Allah SWT (lihat Wahid, 1988 :16- 17).

Sekitar tahun 1940, sebagian seantri Pesantren Persis untuk orang dewasa (Pesantren Besar) yang dikelola A. Hassan- bersamaan dengan kepindahannya ke Bangil, pindah ke Bangil. Sementara Pesantren Kecil yang dipimpin Ustad Abdurahman  diungsikan ke gunung Cupu Ciamis. Setelah revolusi fisik (1945-1949) Pesantren Persis dipusatkan lagi di Bandung dan terus mengembangkan jenjang pendidikannya hingga tingkat muallimin.

Dalam aktivitas organisasi di jam’iyyah Persis,Ustad Abdurahman menunjukkan sikap loyal. Ia aktif sebagai anggota Persis sejak tahun 1934. Jabatan dalam jam’iyyah yang pertama  kali dipegangnya  adalah ketua bagian tablig dan pendidikan pada tahun 1952. Pada tahun 1953 (pada Muktamar ke-5 Persis di Bandung) Ustad Abdurahman terpilih sebagai Sekretaris Umum Pusat Pimpinan Persis, mendampingi K.H. Mohammad Isa Anshary sebai Ketua Umum.

3. Kita Sekalian Sebagai Pelengkap

Saya ingin menunjukkan sebuah pidato Ustad Abdurrahman yang menginspirasi untuk kita semua para aktivis dan simpatisan Persis berjudul:  KITA SEKALIAN SEBAGAI PELENGKAP

Ikhwatu Iman, hadiri yang kami hormati !
Kami tidak akan mengatakan selamat datang, tetapi akan mendu’akan ,”rafaqatumukumu s’Salamah”, bukan selamat di waktu datang saja; tetapi keselamatan senantiasan menyertai kita sekalian.

Pada malam ini kita mendapat undangan dari Allah, bukan hanya bertemu muka sesama anggota Persatuan Islam, tetapi pada malam ini akan bertemu ruh seperti sabda Rasul; bertemunya jiwa  umat Islam itu bagaikan suatu pasukan yang tanguh! Sebab bil aruh tidak sesuara, searah, dan setujuan, maka akan terjadi ikhtilaf yang melemahkan.

Ternyata kita telah berkumpul, merasakan kegembiraan sesama ikhwatu iman, dapat bertemu, dan saling merasakan kenikmatan.
Saya merasa terharu, melihat sesama ikhwatu iman yang sudah lama tidak bertemu, saling merangkul; disebabkan kerinduan ingin bertemu yang menunjukkan terjalinnya hubungan bathin yang  kukuh.

Kalimat Muaakhat, buka sekedar nama, tetapi antara nama dan makna itu tidak bertentangan; mampu menjadi amal nyata untuk meningkatkan ibadah kepada Alloh SWT!

Bukan Persatuan Islam yang artinya menunjukan, bahwa memisahkan diri dari organisasi Islam yang lain; tetapi Persatuan Islam memeprsatukan tenaga, mempersatukan kekuatan; yakni demi untuk tujuan membela, memajukan Islamnya sendiri. Membela orang Islam itu mudah, orang kafir pun bisa membela orang Islam, seperti dokter kafir yangmenyembuhkan orang Islam.

Tetapi membela agama Islam sendiri, bila diganggu tidak akan ada orang yang membela, kecuali orang Islam itu sendiri yang bersatu mempersatukan tenaga dan kekuatan untuk liya’lu wala yu’la alaihi!

Kita membuat nama Muaakhat untuk menjadikan kalimat tersebut sebagai sifat kita; salam berbagai amal kita harus mu’akhat, saling membantu, saling menunjang, seluruhnya menjadi pelengkap yang lainnya.

Dalam lisanul Arab diterangkan, bahwa Muaakhat itu perbuatan yang dilakukan Rasulullah di Mekkah dan di Madinah. Rasulullah mengangkat sebagai saudara, Salman Al-Farisi dengan  Abu Darda, mengangkat antara Muhajirin dan Anshar, sebab kalimah Ikhwatun ini bermakna se-ibu dan se-bapak, lain dengan kalimat ikhwanun, yang artinya saudara yang turut, seperti ikhwanu syaaithan!

Rasulullah Saw, memuakhatkan Muhajirin dan Anshar, sehingga kaum  Muhajirin yang akhli dalam bidang pemasaran dapat membantu kaum Anshar yang ahli bidang pertanian; maka hasil dari muaakhat itu, lahirlah suatu kerjasama yang menguntungkan kedua belah pihak.

Saya dan hadirin sekalian, sebagai ikhwatu iman tidak ada yang berhak menepuk dada, sebab kita sekalian tidak lebih dari penyempurna, sebab setiap orang sangat memerlukan pelengkap; maka didalam Qanun Persatuan Islam tidak terdapat Pengurus Besar, tetapi Pimpinan, karena semua sudah memiliki pedoman Qur’an dan Hadist, kata pemimpin hanya membimbing untuk mencegah, agar ajaran Islam ini jangan  kurang dan jangan lebih!

Maka dalam organisasi Persatuan Islam (Persis), tidak terdapat atasan dan bawahan; tetapi seluruhnya saling membantu, saling menunjang dengan sesama; sehingga tercipta saling menghargai pekerjaan satu dengan yang lainnya.

Bila pekerjaan kawan kurang memuaskan, janganlah dikecewakan dan dihina, tetapi amal dan jerih payahnya perlu kita hargai; sebab tujuan dari pekerjaan tersebut sebeanarnya baik, tidak mau mengecewakan orang lain.

Maka terimalah segala apa yang telah kita rasakan, janganlah terlalu beragama lebih jauh; tetapi yang pokok bagi kita adalah meningkatkan kerja, untuk membina hari esok yang lebih baik, yakni hari esok di akhirat. Sedangkan hari pembinaan hari esok untuk akhirat itulah akan tercipta pula hari esok dunia yang lebih cerah; perhatikanlah waktu yang tengah kita alami ini, sebab hari esok kita sangat tergantung dengan amal kita pada hari ini.

Bila lahir pertanyaan, kenapa Persatan Islam ini tidak ada kemajuan, hanya berputar-putar disana; maka jawabnya, begitulah Persatuan Islam, yang senantiasa thawaf, berputar dalam lingkaran Mardhatillah.

Meskipun Persatuan Islam ini anggotanya bisa dihitung dengan jari, tetapi pengaruhnya cukup besar, banyak ajaran Persatuan Islam yag sekarang dilakukan oleh mereka yang tidak akan mengaku bila dikatakan orang Persatuan Islam.

Saya menerima laporan, ketika diadakan shalat khusuf di sebuah cabang Persatuan Islam, maka anggota Persis dimaki dan diejek, katanya Persis  ini ingin melebihi Tuhan sehingga meramalkan terjadinya khusuf. Tetapi ketika khusuf memang terjadi, mereka yang mengejek dan memaki itu, turut melakukan shalat khusuf.

Juga bagaimana anggota Persis yang ditonton orang banyak ketiak melakukan shalat ‘Ied di lapangan tegallega Bandung; namun sekarang ternyata banyak jemaah yang memadati lapangan untuk Shalat ‘Ied, meskipun mereka bukan Persis.

Timbulnya Ukhuwah Islamiyyah itu, adalah dari Badratul iman yang tumbuh karena badratul iman; seperti jaman Rasulullah SAW, dari badratul iman, maka tumbuhlah Abu Bakar, tumbuhlah Umar dan Utsman, yang tidak diperintah untuk menjadi mukmin.
Namun badratul iman ini, tidak akan tumbuh subur bila tidak disiram dengan peningakatan ilmu, perjuangan dan dakwah Islamiyyah. Tugas inilah yang kadangkala kurang mendapat perhatian yang seksama dari umat Islam, bagaikan menanamkan benih yang murni, yang sudah tentu yang kelak akan menumbuhkannya bukan kita, tetapi Allh Rabul’alamin!

Maa’milat aidhim liyakulu min tsamarihi, kita umat manusia hanya menanam, hanya alloh yang akan menumbuhkannya,  dan kita akan memakan buahnya; hanya alloh yang akan menumbuhkan, seperti diutusnya para Rasul dan Nabi, yang  hanya menanamkan badratul iman, tetapi karena tumbuh disiram, maka wujudlah Abu Bakar, Umar, dan Ustman, wujudlah Khalid bin Walid.

Karena itu janganlah mengharapkan pekejaan yang bukan garapan kita, membangun sekolah ini tidak cukup dengan tukang kayu, tetapi diperlukan tukang tembok; mereka saling menjadi pelengkap untuk menumbuhkan suatu bangunan, menciptakan suatu rumah, suatu sekolah, atau suatu bangunan megah.

Negara kita lengkapilah dengan suatu yang dibutuhkan, rakyat Indonesia di masa yang akan datang apa agamanya, tergantung dengan perjuangan kita sekarang; janganlah mengerjakan sesuatu yang bukan pekerjaan kita, keahlian kita, kita tidak mau untuk melakukan sesuatu yang bukan garapan kita!
Semua itu jangan menyedihkan kita, menyusahkan kita, jaman sekarang perlu juga mubaligh, da’i agar agama senantiasa berjalan sesuai dengan jalurnya!

Betul kita sedikit, tatapi pengaruh kita cukup kuat, hampir seluruh Indonesia terpengaruh dengan faham kita, meskipun mereka tidak  mau dikatakan Persatuan Islam!

Kalau dahulu ditakdirkan Persatuan Islam tidak ada, wajah umat Islam di Indonesia tidak akan seperti ini; kalau kebiasaan khutbah Jum’at berbahasa Arab, tidak diubah, bagaimana keadaan umat Islam sekarang ini?

Kita tidak perlu menepuk dada, bukan maksud kita menepuk dada, tetapi kita menerangkan suatu kenyataan, seperti diterangkan dalam suatu ensiklopedi, bahwa Persatuan Islam itu adalah; Jam’iyyatul Ittihad Islamy Mu’adadatun Shagiratun Kabirun Nufus”, Artinya Persatuan Islam adalah yang tergolong kecil, tetapi memiliki pengaruh yang cukup besar.

Kita harus sabar dan ikhlas dalam berjuang, sebab Rasulullah  juga tidak langsung berhasli dalamperjuangannya, memerlukan waktu yang panjang...! (Arsip Muakhat 1981).

4. Khatimah

Hari Kamis, 21 April 1983, Pukul 02.30 WIB, umat Islam telah kehilangan seorang ulama besar, KH. E. Andurrahman, Ketua Umum PP Persis (1962-1983). Mohammad Natsir, mengenang Ustad Abdurrahman sebagai ulama yang luas keilmuannya: “Sepanjang pergaulan saya di Rabithah ‘Alam Islamy, saya belum menjumpai ulama yang akurat dan cermat dalam Ilmu Hadits seperti Ustadz KHE. Abdurrahman”, suatu pengakuan yang dinyatakan tokoh Islam kaliber internasional.

Senada dengan Pak natsir, DR. KH. EZ. Mutaqien menyatakan: “Beliau adalah ulama yang paling dalam di bidang Hadits dan Tafsir.” Ustad Abdurrahman, membaktikan seluruh hidupnya dalam dakwah dan dunia pendidikan Islam, yang hingga akhir hayatnya, tetap menjabat sebagai Pimpinan Pesantren Persatuan Islam No. 1 Bandung, yang dirintisnya lebih empat puluh tahun (1942-1983) serta Ketua Umum PP. Persis (1962-1983).

Persatuan Islam di bawah kepemimpinannya, mencapai kemajuan pesat. Dengan kemampuannya dalam bidang Fiqh, Tafsîr dan Hadîts, KHE. Abdurrahman membina Persatuan Islam dan umat pada umumnya melalui sektor pendidikan dan dakwah. Dengan kata lain, KHE. Abdurrahman sangat memperhatikan pendidikan sebagai salah satu lembaga strategis bagi pengkaderan Persatuan Islam.

Abdurrahman was one of Hassan’s pupils who followed his mentor in terms of religious doctrines. He was primarily an educator and administrator for the Persatuan Islam. His writings in Persis’s periodicals show deep knowledge of Islamic history and doctrine. As an administrator, he showed considerable organizational ability in keeping the Persis functioning during a period of considerable political instability and rapid national economic decline, tulis Fiderspiel.

Pada usia 71 tahun, KHE. Abdurrahman menderita sakit yang cukup serius, dan hampir tiga kali menjalani opname di RS. Hasan Sadikin. Hingga pada akhirnya Allah SWT memanggil beliau, untuk istirahat panjang di alam baqa, tepatnya pada hari Kamis, 21 April 1983, jam 02.30 WIB di RS. Hasan Sadikin Bandung.

Keesokan harinya, ulama besar yang hampir 50 tahun telah mengabdikan dirinya di Persatuan Islam ini, dimakamkan di Pekuburan Karang Anyar, Komplek Pekuburan Bupati Bandung, dengan ribuan para pencintanya yang turut mengantar hingga selesai upacara penguburan.

Alhamdulillah, penerus perjuangan Ustad Abdurrahman hingga saat ini semakin banyak. Para muridnya, menjadi pelopor dakwah dan jamiyyah di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Para putra-putrinya, tetap berkhidmat di jam’iyyah. Dan perjuangan dakwahnya dilanjutkan oleh putranya, Ustad Deddy Rahman allohu yarham. Semoga Allah melapangkan alam kuburnya, meneranginya dengan amal jaiyah dari ilmu yang diamalkannya dan terus mengalir ditangan putra-putri dan murid-muridnya...