Oleh Drs. H. Ery Ridwan Latief, M.Ag
Bahasan “Menakar Kadar Kepemimpinan” yang kita kaji, merupakan tindak lanjut dari komitmen keimanan yang tertuang dalam kajian Filsafat Ilmu, dan sangatlah sulit kita untuk melakukan justifikasi (penilaian) terhadap implikasi pelaksanaannya dikarenakan subyektifitas personal , ada pada setiap diri manusia yang diberi kewenangan total oleh Allah Swt sebagai Khaliq untuk menginterpretasi setiap persoalan yang dihadapinya.
Tidak diragukan lagi bahwa Muhammad Rasulullah Saw adalah sosok manusia yang paling ideal, sempurna dalam segala hal. Beliau bukan hanya seorang nabi dan rasul pilihan, juga sebagai kepala rumah tangga yang harmonis bagi keluarganya, shahabat yang baik bagi sesamanya, guru yang berhasil bagi murid-muridnya, teladan yang berakhlaq mulia bagi umatnya, panglima yang berwibawa bagi prajuritnya dan pemimpin yang besar bagi kaumnya. Segala akhlaq yang mulia ada padanya, sehingga Allah sebagai Pencipta pun memujinya,
Dan Sesunggulmya kamu benar-benar berakhlak yang agung. (QS al-Qalam [67]: 4)
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS al-Ahzab [33]: 21)
Keberhasilan Muhammad Rasulullah Saw sebagai pemimpin yang besar, diakui oleh kawan dan lawan. Seorang Kristen, pengarang buku terlaris, Michael H. Hart yang diterjemahkan H. Mahbub Djunaidi, "Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah" menempatkan beliau sebagai orang nomor satu. Ia menulis :
"Jatuhnya saya kepada Nabi Muhammad dalam urutan pertama daftar seratus Tokoh yang berpegaruh di dunia mungkin mengejutkan sementara pembaca dan mungkin jadi tanda tanya sebagian yang lain. Tapi saya berpegang pada keyakinan saya, dialah Nabi Muhammad satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih sukses-sukses luar biasa baik ditilik dari ukuran agama maupun ruang lingkup duniawi." Selanjutnya ia menulis, "Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kiranya sifat-sifat apakah yang terpancar dari sosok yang agung ini, yang harus diteladani oleh para pemimpin dan calon pemimpin agar menjadi panutan dan harapan umat. Tidak ada alasan bagi siapapun untuk berbeda dengan beliau, sehingga ia mengatakan Aku bukan seorang nabi, aku tidak sempurna, aku tidak bisa seperti beliau" sementara ia tidak berusaha untuk meniru dan mendekati sifat-sifatnya.
Untuk dapat melakukan “Evaluasi Diri” mengenai sejauhmana kadar kepemimpinan yang ada pada diri kita masing-masing, tentu harus berani menetapkan titik pangkal kesimpulan dari (minimal) 2 teknik identifikasi kritis terhadap masalah tersebut yaitu : pertama, apa yang dapat kita simpulkan dengan mengambil Rasulullah sebagai “Uswatun Hasanah” dan yang kedua, mengejawantahkan sunnah tersebut dengan menggunakan pisau analisis kriteria formal dari pendapat para cendekia mengenai teori-teori kepemimpinan yang bersifat umum dan terbuka, maka dari keduanya barulah kita dapat menyimpulkan sejauhmana kadar kepemimpinan yang kita miliki. Sudahkah kita menjadi pemimpin yang ideal..? atau kita baru mampu menafsirkannya dengan kemampuan nalar yang sangat sederhana, bahkan dalam pelaksanaannya kita sering berlindung pada dalil-dalil sebagai “bungkus” dari ketidakmampuan dengan kata lain lahir satu perilaku negatif “Asa jadi pang pamingpinna”.
Bila dilihat dari sisi makna kalimat; Menakar bermakna: mengukur banyaknya barang / membatasi jumlah. sinonim: mengukur, menimbang. Kadar : Ukuran untuk menentukan suatu norma / Isi atau bagian yg tulen (tt emas, perak, dsb) / Nilai, harga, taraf (tingkatan) / Lebih kurang; kira-kira / Antr jumlah hasil pengukuran dl persentase mengenai gejala tertentu yg terdapat pd populasi tertentu dl keadaan dan jangka waktu tertentu; Sinonim: kekuatan, kemampuan, kuasa, bilangan, ketentuan, kodrat, nasib, suratan, sifat bawaan, persentase, takaran, tingkatan, ukuran, karat, harga, harkat, kualitas, martabat, mutu, nilai, taraf Drs. H. Malayu S.P. Hasibuan berpendapat bahwa pemimpin adalah: ”seseorang dengan wewenang kepemimpinannya mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian dari pekerjaannya dalam mencapai tujuan”.
Robert Tanembaum :”Mereka yang menggunakan wewenang formal untuk mengorganisasikan, mengarahkan, mengontrol para bawahan yang bertanggung jawab, supaya semua bagian pekerjaan dikoordinasi demi mencapai tujuan perusahaan”.
Davis and Filley : ”Seseorang yang menduduki suatu posisi manajemen atau seseorang yang melakukan suatu pekerjaan memimpin”
Dari begitu banyak definisi mengenai pemimpin, dapat penulis simpulkan bahwa : Pemimpin adalah orang yang mendapat amanah serta memiliki sifat, sikap, dan gaya yang baik untuk mengurus atau mengatur orang lain.
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang mempengaruhi dan memotivasi orang lain untuk melakukan sesuatu sesuai tujuan bersama. Kepemimpinan meliputi proses mempengaruhi dalam menentukan tujuan organisasi, memotivasi perilaku umat untuk mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya. Kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi dan menggerakkan orang – orang sedemikian rupa untuk memperoleh kepatuhan, kepercayaan, respek, dan kerjasama secara royal untuk menyelesaikan tugas – Field Manual 22-100.
Dari tela’ah yang sudah kita fahami bersama bahwa ada beberapa sifat yang wajib dimiliki oleh Pemimpin berdasarkan Islam yang dicontohkan oleh Rosulullah Saw diantaranya ; Pemimpin itu haruslah :
- Bertaqwa kepada Allah
- Amanah ; jujur
- Shiddiq ; membenarkan
- Fathonah ; cerdas
- Tabligh ; menyampaikan
- Tegas dan Teguh Pendirian (dlm urusan Haq)
- Lemah lembut
- Pema’af
- Mengajak Musyawarah
- Bertawakkal kepada Allah
- Adil
- Shabar
- Bertanggungjawab
Sedangkan beberapa pendapat para cendekia ada (minimal) 5 (lima) teori tentang kepemimpinan antara lain :
- Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )
Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain :
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari umatnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan umatnya.
· Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
· Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
· Sikap Hubungan Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga umatnya mampu berpihak kepadanya, bukan sebagai muqallid
- Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecenderungan kearah 2 hal.
· Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh : membela umat, memberi masukan kepada umat dan bersedia berkonsultasi dengan umat.
· Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada umat. Contoh yang dapat dilihat , umat mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
· Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada umat dan terhadap hasil yang tinggi pula.
- Teori Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
- Teori Kepemimpinan Situasi
Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
- Teori Kelompok
Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan umatnya.
Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpin bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.
Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi umat. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berarti telah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.
Gaya kepemimpinan dibagi dalam 4 bagian seperti :
1. Otokratis ; Metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya.
2. Partisipasif : Lebih banyak mendesentrelisasikan wewenang yang dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak.
3. Demokrasi : Ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif.dan
4. Kendali Bebas : Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif
Sedangkan Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow dan Panton,1996 : 18 dst) sbb :
1. Directing : Pemimpin memberikan aturan –aturan dan proses yang detil kepada bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan dengan detil yang sudah dikerjakan.
2. Coaching : Pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan aturan kepada bawahan tapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu diambil,
3. Supporting : pemimpin memfasiliasi dan membantu upaya bawahannya dalam melakukan tugas
4. Delegating : Sebuah gaya dimana seorang pemimpin mendelegasikan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan
Keempat gaya ini tentu saja mempunyai kelemahan dan kelebihan, serta sangat tergantung dari lingkungan di mana seorang pemimpin berada, dan juga kesiapan dari bawahannya. Maka kemudian timbul apa yang disebut sebagai ”situational leadership”. Situational leadership mengindikasikan bagaimana seorang pemimpin harus menyesuaikan keadaan dari orang – orang yang dipimpinnya.
Dalam perspektif yang lebih sederhana, Morgan ( 1996 : 156 ) mengemukakan 3 macam peran pemimpin yang disebut dengan 3A, yakni :
ü Alighting ® Menyalakan semangat Umat dengan tujuan individunya.
ü Aligning ® Menggabungkan tujuan individu dengan tujuan organisasi sehingga setiap orang menuju ke arah yang sama.
ü Allowing ® Memberikan keleluasaan kepada umat untuk menantang dan mengubah cara kerja mereka.
Jika saja Persatuan Islam (PERSIS) memiliki pemimpin yang sangat tangguh tentu akan menjadi luar biasa. Karena jatuh bangun kita tergantung pada pemimpin. Pemimpin memimpin, pengikut mengikuti. Jika pemimpin sudah tidak bisa memimpin dengan baik, cirinya adalah Umat tidak mau lagi mengikuti. Oleh karena itu kualitas kita tergantung kualitas pemimpin kita. Makin kuat yang memimpin maka makin kuat pula yang dipimpin.
Merenungkan kembali arti makna kepemimpinan, sering diartikan kepemimpinan adalah jabatan formal, yang menuntut untuk mendapat fasilitas dan pelayanan dari umat yang seharusnya dilayani. Meskipun banyak di antara pemimpin yang ketika dilantik mengatakan bahwa jabatan adalah sebuah amanah, namun dalam kenyataannya sedikit sekali atau bisa dikatakan hampir tidak ada pemimpin yang sungguh – sungguh menerapkan kepemimpinan dari hati, yaitu kepemimpinan yang melayani.
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, (QS. Al Ahzab 72).
Penutup, Ken Blanchard membagi ke dalam 3 (tiga) ciri Substansi Kepemimpinan :
Hati Yang Melayani : Kepemimpianan yang melayani dimulai dari dalam diri kita. Kepemimpinan menuntut suatu transformasi dari dalam hati dan perubahan karakter. Kepemimpinan yang melayani dimulai dari dalam dan kemudian bergerak keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Disinilah pentingnya karakter dan integritas seorang pemimpin untuk menjadi pemimpin yang diterima oleh rakyat yang dipimpinnya.
Kepala Yang Melayani : Seorang pemimpin tidak cukup hanya memiliki hati atau karakter semata, tapi juga harus memiliki serangkaian metode kepemimpinan agar dapat menjadi pemimpin yang efektif. Banyak sekali pemimpin memiliki kualitas sari aspek yang pertama yaitu karakter dan integritas seorang pemimpin, tetapi ketika menjadi pimpinan formal, justru tidak efektif sama sekali karena tidak memiliki metode kepemimpinan yang baik. Contoh adalah para pemimpin yang diperlukan untuk mengelola mereka yang dipimpinnya.
Tangan Yang Melayani : Pemimpin yang melayani bukan sekedar memperlihatkan karakter dan integritas, serta memiliki kemampuan metode kepemimpinan, tapi dia harus menunjukkan perilaku maupun kebiasaan seorang pemimpin. Dalam buku Ken Blanchard disebutkan perilaku seorang pemimpin, yaitu :
Untuk menjawab pertanyaan di atas :”Sejauhmana Kadar Kepemimpinan Kita .?”, Jawabannya ada pada diri kita masing-masing, sudahkah Rosulullah kita tempatkan sebagai Uswatun hasanah yang diejawantahkan melalui pendapat-pendapat yang mu’tabar...?, atau justeru kita tetap akan menggunakan dalil-dalil yang kita jadikan sebagai pelindung kekurangfahaman kita...?.
Termasuk karunia terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia adalah hati. Hati adalah alat untuk melihat, berkata, mendengar, dan memahami.
Jadi, hati itu punya mata yang disebut mata hati.
Hati juga punya mulut yang ucapannya dikenal dengan istilah kata hati.
Hati juga punya telinga yang bisa digunakan untuk mendengarkan suara hati. Wallahu a’lam bish-shawab