15 Mei 2020

Membaca Sejarah Pemudi Persatuan Islam




Oleh Dadan Wildan Anas

1. Awal Berdirinya

Pemudi Persis Mulai dirintis dari kegiatan Ummahaatul Ghad (UG; kumpulan santri putri atau sejenis OSIS Putri-red) Pesantren Persis menjelang tahun 1953 di masa kepemimpinan Ketua Umum Persis K.H.M. Isa Anshari (Periode ke-2) setelah H. Zamzam dan H.M. Yunus. Kegiatan keputrian ini pada awalnya hanya berupa pengajian keliling yang diselenggarakan di rumah-rumah staf/ anggota UG selain kegiatan di lingkungan pesantren. Tak banyak kegiatan yang dilakukan dalam kumpulan pengajian ini, selain pelatihan dan membiasakan diri berbicara di hadapan orang lain. Terutama menasehati diri di hadapan teman-teman dan mengasah kemampuan menyampaikan kembali (tabligh) ajaran Islam yang telah dipelajari di bangku pesantren dalam rangka melaksanakan amar ma’ruf nahyi munkar di kalangan sesama remaja.

Dari kegiatan UG, remaja-remaja Islam ini – setelah keluar dari pesantren – meningkatkan kegiatannya dengan mengadakan kegiatan khusus tentang kepemudian. Mereka belajar memasak, merias bunga, kerajinan tangan hingga belajar tabligh (dakwah).

Keaktifan mereka dalam merintis kegiatan Pemudi tidak meninggalkan partisipasi mereka dalam mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh Persis dan Persatuan Islam Istri (Persistri) yang telah lahir jauh sebelum Pemudi Persis berdiri. Bahkan terkadang para Pemudi ini sering dijadwalkan menjadi pembicara pada kegiatan-kegiatan Persistri.

Setelah melihat kegiatan dan kepiawaian pemudi-pemudi tersebut dalam menyampaikan ajaran Islam, Persis menganjurkan agar dibentuk Pemudi secara terpisah dari Persistri. Maka pada tanggal 28 Pebruari 1954 Persis bagian pemudi pada awalnya didirikan dengan nama “Pemudi Persistri” namun kemudian berubah   nama menjadi Jamiyyatul Banaat. Pada kesempatan tersebut terpilih sebagai ketua E. Rukmini, Aminah Dahlan Sjihab (Wakil Ketua), Permasih Hassan Romli (Sekretaris) dan Malicha (Bendahara).

Di awal masa kepemimpinan organisasi ini, tentu tidak lepas dari cita-cita mulia para pendirinya saat itu. Saat itu fokus kegiatan Pemudi Persis tidak lepas dari kegiatan keputrian yang ingin membentuk wanita-wanita Islam yang kaya akan ilmu pengetahuan mengenai “keperempuanan” dan berkembang sampai ke hal-hal yang terkait dengan rumah tangga.

Seiring dengan perkembangan organisasi, kegiatanpun mulai berkembang tidak hanya mengurusi masalah yang terkait dengan rumah tangga dan perempuan, namun meningkat ke hal-hal keilmuan terkait dengan public speaking, dan mengembangkan organisasi ini ke depannya agar lebih mapan.

Pemudi Persis berdiri secara resmi sebagai bagian otonom di bawah naungan dan binaan Persis pada tanggal 28 Februari 1954. Awal berdirinya Pemudi Persis bernama Jam’iyyatul Banaat, tidak disingkat. Nama itu terdapat pada “Anggaran Dasar Djam’ijjatul Banaat” pasal 1 tertanggal 18 Desember 1956 yang ditandatangani oleh Ketua umum Jam’iyyatul Banaat pertama, Aminah D. Sjihab, dan sekretaris-I, Permasih Hassan.

Sebenarnya, jam’iyyatul Bannat, pertama kali berdiri, telah menggunakan “pemudi” untuk menyebut dirinya (bukan organisasi), seperti tertulis pada pasal 4 tentang maksud dan tujuan Iam’iyyatul Bannat, yaitu; (1) meninggikan derajat pemudi dalam rumah tangga dan masyarakat sesuai dengan ajaran Islam; dan (2) mempersatukan pemudi Islam dalam satu susunan jamaah.

Sementara dalam Pasal 5 tentang usaha, Jam’iyyatul Bannat berusaha untuk:

 (1) memperdalam pengetahuan agama Islam dan pengetahuan yang dianggap perlu dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam di kalangan anggota dan wanita Islam.

(2) Mengadakan da’wah dan memperluas syi’ar Islam dan mendidik anggota untuk mengamalkan, serta memberi teladan kepada umum terutama pemudi yang tidak faham tentang apa dan bagaimana hidup secara orang Islam dalam penghidupan sehari-hari.

(3) Mengusahakan terbentuknya cabang-cabang di seluruh Indonesia.

(4) Menjalankan usaha lain yang dibenarkan oleh Islam.

Pasal 5 “Anggaran Dasar Djam’ijjatul Bannat” itu dijabarkan dalam lima program kerja yang meliputi organisasi, pendidikan, penerangan, sosial, dan keuangan.

Dalam bidang organisasi terdapat enam program kerja, yaitu:

(1) Menyempurnakan susunan pimpinan mulai pusat sampai ranting.

(2) Memperbanyak anggota/membentuk cabang.

(3) Mengadakan registrasi anggota.

(4) Menyempurnakan administrasi dari Pusat sampai Ranting.

(5) Menyempurnakan bahagian-bahagian dengan usahanya.

(6) Peninjauan dari PP ke cabang.

Dalam bidang pendidikan terdapat lima program kerja, yaitu:

(1) Memelihara anggota dengan mengadakan tabligh-tabligh, kursus-kursus dan pertemuan-pertemuan.

(2) Menyelenggarakan pendidikan keagamaan, keibuan/kewanitaan.

(3) Mengusahakan agar terjelma guru-guru Taman Kanak-Kanak yang berjiwa Islam dan berdirinya sekolah Taman Kanak-Kanak di tiap cabang.

(4) Membuat petunjuk/tuntunan organisasi/administrasi.

(5) Mengadakan latihan/kader di tiap-tiap cabang.

Dalam bidang penerangan hanya ada satu program kerja yaitu mengadakan kader penerangan/muballighat untuk mengadakan da’wah dan memperluas syiar Islam.

Dalam bidang sosial terdapat dua program kerja, yaitu:

(1) Mengadakan/mengusahakan kelancaran ekonomi yang sederhana bagi anggota.

(2) Mengadakan usaha sosial bersama-sama dengan badan sosial.

Sementara dalam bidang keuangan terdapat dua program, yaitu:

(1) Memperbanyak anggota penyokong yang terdiri dari ibu/bapak pecinta Jam’iyyatul Bannat.

(2) Mengusahakan agar tiap-tiap cabang menepati kewajiban keuangannya kepada pucuk pimpinan.

Susunan pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyatul Bannat yang disahkan tahun 1957 adalah:

Aminah D. Sjihab (ketua umum), Nur Asikin Jahja (ketua I), Malicha Iswandi (ketua II), Permasih Hassan (sekretaris I), Mumun (sekretaris II), Malicha Iswandi (keuangan I), Jojoh Rokajah (keuangan II), Nur Asikin Jahja (penerangan), Rokajah Syarief (pendidikan), Masfiroh (sosial/ekonomi), dan para pembantu antara lain: Sa’dijah, Sofiah, Lathifah Abdurrachman, Aminah Z., Farida A., dan Ajuning.

Jam’iyyatul Bannat, dalam mengemban misi jihadnya, menghadapi berbagai kendala, antara lain karena kesibukan rumah tangga, mengurus anak, atau mengikuti suaminya ke berbagai tempat, menyebabkan seperangkat program kerja tidak terlaksana dengan baik.

Periode 1957-1967 di masa kepemimpinan Ibu Aminah D. Sjihab dan Ibu Asikin Yahya, aktivitas Jam’iyyatul Bannat lebih ditekankan pada pendidikan dan dakwah. Di samping itu, menjalin kerjasama dengan Pemuda Persis, misalnya, ketika Pemuda Persis menidirikn kepanduan (pramuka) Syubbanul Yaum pada tanggal 1 April 1954, Jam’iyyatul Bannat yang baru berdiri tanggal 28 Februari 1954 membantu keperluan pandu Pemuda Persis dengan membuat berbagai perlengkapan kepanduan seperti emblim, atribut, dan berbagai perlengkapan lainnya.

Beberapa kegiatan Jam’iyyatul Bannat periode 1967-1981 di masa kepemimpinan Ibu Lathifah Dahlan antara lain;

(1) menyelenggarakan pengajian rutin/bulanan setiap jumat ke-2 di Gedung Persistri Jalan Kalipah Apo Bandung;

(2) menghadiri dan memberikan ceramah triwulan di cabang-cabang;

(3) ikut serta dalam pengajian-pengajian yang diselenggarakan Persistri;

(4) mengikuti kegiatan Tamhiedul Muballighat;

(5) memberikan pelajaran di madrasah-madrasah dan ibu-ibu di lingkungannya;

(6) mengisi siaran Mimbar Islam di radio-radio dan siaran “Bina Mentalita” di radio Dwikarya Bandung;

(7) menyebarluaskan majalah dan buku-buku terbitan Persis, dan serangkaian aktivitas keagamaan lainnya.

Selama periode 1967-1981 tercatat satu bentuk kegiatan yang cukup besar dengan nama kegiatan “Tazwiedu Fatayatil Qur’an” yang diselenggarakan tanggal 1-2 Maret 1969 di Bandung dengan tujuan membimbing anggota dari Pusat Pimpinan hingga ke cabang-cabang dalam berorganisasi dan berdakwah, yang juga merupakan sarana pembinaan/kaderisasi pimpinan Jam’iyyatul Bannat.

Aktivitas Jamiyyatul Bannat di masa kepemimpinan Ibu Lathifah Dahlan dilanjutkan oleh Ibu Nung Nuriyah Sudibdja (1981-1990) dan Ibu Ai Maryamah (1990-1995) dengan penambahan berbagai kegiatan. Dalam bidang pendidikan, banyak aktivis Jam’iyyatul Bannat yang mengabdikan dirinya menjadi guru di Taman Kanak-Kanak (Raudhatul Atfal) dan pesantren-pesantren, dan mengadakan berbagai pendidikan dan latihan keorganisasian.

Dalam bidang tabligh, pengajian rutin setiap jumat ke-2 tetap dipertahankan, disamping pengajian rutin ke berbagai cabang. Sementara dalam bidang sosial/kesejahteraan PP. Jam’iyyatu Bannat telah berani membentuk Ummu Dhu’afa, meski belum berkembang, yang bertujuan membantu anak-anak pesantren yang memerlukan bantuan dengan cara mengkoordinir orang tua asuh bekerjasama dengan Pesantren Persis No. 1 Bandung.

2. Dari Jamiyyatul Banaat ke Pemudi Persis

Pada tanggal 18 Desember 1956 diadakan pertemuan pimpinan yang membahas masalah kepemimpinan, nama dan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Pemudi. Pertemuan itu menghasilkan beberapa kesepakatan, di antaranya;

Pertama, Susunan Pimpinan yang mengalami perubahan.

Kedua, nama Jama’ah Pemudi Persistri diganti menjadi Jam’iyyatul Banaat.

Ketiga, Mengesahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Jam’iyyatul Banaat.

Pada Muktamar ke-6, bertepatan dengan Muktamar Persis ke XI di Jakarta tanggal 2-4 September 1995, Jam’iyyatul Bannat mengadakan perubahan nama menjadi Pemudi Persis, dengan ketua umumnya yang terpilih adalah Hafifah Rahmi Puspitaningsih (1995-2000).

Seperangkat program kerja disusun, wajah-wajah aktivis baru pun mewarnai awal aktivitas Pemudi Persis ini. Dengan latar belakang pendidikan yang beragam, Insya Allah Pemudi Persis dapat melakukan aktivitas sejalan dengan pertumbuhan dan perkembangan jaman.

Didirikan secara resmi pada tahun 1954, tepatnya 4 Sya’ban 1375 H  bertepatan dengan tanggal 28 Februari 1954 M, nama Pemudi Persatuan Islam (selanjutnya disebut Pemudi Persis) merupakan perkembangan dari nama terdahulu yakni Jama’ah Pemudi Persistri berganti nama menjadi Jam’iyyatul Banaat dan akhirnya kembali menjadi Pemudi Persatuan Islam. Organisasi kemasyarakatan yang menghimpun para kaum muda perempuan muslim ini memiliki fokus perjuangan dalam bidang pendidikan dan dakwah.

Pemudi Persatuan Islam telah berganti sembilan kali kepemimpinan, yakni: Aminah Dahlan Sjihab (1957-1962), Nur Asikin Yahya (1962-1967), Lathifah Dahlan, BA. (1967-1981), Nung Nuriyah Sudibdja (1981-1990), Ai Maryamah (1990-1995), Hj. Hafifah Rahmi Puspitaningsih (1995-2000), Dra. Husni Rofiqoh (2000-2005), Imas Karyamah, S.Ag. (2005-2010), Hj. Lela Sa’adah, S. Pd. (2010-2014) dan Hj. Gyan Puspa Lestari, Lc., M. Pd. (2014-2018).

Dinamika organisasi  Pemudi Persis  yang terus berkembang, mengisyaratkan adanya kedewasaan berpikir, keragaman aktivitas dan kemauan untuk menjalin hubungan dengan organisasi lain yang sejenis dalam mengibarkan panji Al-Quran dan As-Sunnah di kalangan pemudi.

Pemudi Persatuan Islam (Pemudi Persis) adalah organisasi kepemudaan (OKP) yang saat ini berusia 66 tahun. Sebagai organisasi besar, Pemudi Persis tetap berusaha mengepakkan sayapnya dalam mengembangkan syari’at Islam melalui pengembangan dakwah, pendidikan, dan sosial di setiap kalangan masyarakat melalui jenjang kepemimpinan Pemudi Persis di seluruh wilayah Indonesia. Semoga Pemudi Persis tetap eksis...