30 September 2009

TEMU KAWAN SMAN MARGAHAYU Angk. 1986


Kepada seluruh Alumni SMAN Margahayu Bandung angkatan 1986 diharapkan dapat hadir pada acara : "TEMU KAWAN SMAN MARGAHAYU Angkatan 1986" Tempat di KOPO SQUARE Sabtu, 17 Oktober 2009 pukul : 11.00 s/d 17.00 wib

Bahaya Merah PKI & Neo PKI Versus Pemutihan PKI


Kontroversi tragedi berdarah 30 September 1965 yang melibatkan PKI (Partai Komunis Indonesia) dengan jaringan underbownya masih terus berlangsung hingga hari ini, peristiwa pasca itu juga masih menjadi polemik berkepanjangan utamanya operasi pemulihan keamanan ketertiban dan penumpasan gerakan yang disebut G30S/PKI yang konon justru memakan korban luarbiasa banyaknya serta diindikasikan kuat diwarnai berbagai aksi/tindakan pelanggaran HAM.

Dalam setiap propaganda dan aksi yang dilakukan oleh PKI dan organisasi underbownya jauh sebelum meletusnya tragedi september berdarah tersebut seringkali umat islam yang cenderung bersebrangan kepentingan menjadi sasaran intimidasi dan anarki hal ini berlangsung cukup massive di jawa tengah dan jawa timur yang menjadi daerah basis merah (PKI), hal ini tidak berlaku untuk daerah jawa barat dimana umat islam yang direpresentasikan oleh Masyumi memiliki kantong-kantong massa yang solid.

Tidak bisa dinafikan bahwa secara politik Masyumi yang agamis atau beraliran kanan dan PKI yang atheis dan beraliran kiri sangat nyata bersebrangan, namun tokoh-tokoh elite kedua partai selalu bisa melokalisir perseteruan itu hanya ditingkat politik dan di panggung parlemen sementara di luar itu tokoh-tokoh Masyumi menunjukkan kedekatan dan solidaritasnya dengan tokoh elite PKI.
Pemahaman dan kesadaran politik ditingkat elite berbeda dengan di tingkat lapis bawah (grass root) terlebih karena Masyumi sangat vokal mengkritisi kebijakan pemerintah bung karno sementara PKI senantiasa memback up bung karno dan bahkan memobilisasi sebuah lascar pembela bung karno yang disebut barisan soekarno. Faktanya di daerah-daerah basis PKI sering terjadi riak-riak politik yang seringkali berujung anarkisme.

Bahaya Merah PKI, Menggali Kuburnya Sendiri
Kalangan umat islam menjuluki PKI dengan ideologi tak bertuhannya sebagai Bahaya Merah, PKI tidak segan-segan melakukan aksi-aksi demontrasi yang sporadis dan anarkis, PKI dalam memperjuangkan dan mempertahankan keyakinan politiknya cenderung bersikap anti kompromi dan menghalalkan segala cara.
Terlepas kontroversi yang mengiringi tragedy berdarah tahun 1965, PKI telah menggali kuburnya sendiri yang secara jeli bisa dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan dan kepentingan tertentu.
Reaksi Keras Umat Islam yang menuntut pembubaran PKI adalah reaksi wajar dan sama sekali terpisah dengan Operasi Penumpasan PKI yang dilakukan oleh TNI dengan sebuah operasi yang ternyata dalam beberapa versi sejarah menelan cukup banyak korban jiwa (konon dinyatakan jumlah korban meninggal menyentuh angka yang fantastis dan jumlah korban meninggal terbesar setelah perang dunia kedua)

Pelurusan Sejarah Jangan "Putihkan" PKI
Terlepas dari itu kontroversi-kontroversi diatas, PKI dan Neo PKI tetaplah menjadi bahaya merah bagi bangsa ini karena idiologinya yang cenderung menyelisihi dan menyimpang dari nilai-nilai dasar yang dianut oleh masyarakat bangsa ini.
Ada kecenderungan yang dihembuskan oleh berbagai pihak tertentu untuk menganggap peristiwa 30 September 1965 hanya merupakan ekses dari pertarungan elit politik saat itu atau upaya kudeta dari militer, khususnya Angkatan Darat, dan menempatkan PKI sebagai korban, karena itu diperlukan upaya-upaya nyata pelurusan Sejarah yang sangat diperlukan agar generasi bangsa ini bisa melihat secara jernih dan obyektif serta tidak terbawa oleh sentimen golongan atau kepentingan semata. Jangan Sampai Upaya Pelurusan Sejarah justru berbelok arah menjadi alat kepentingan tertentu untuk Memutihkan PKI dari cap-nya selama ini sebagai Bahaya Merah…Wallahua’lam
(Badrut Tamam Gaffas)

11 September 2009

UNDANGAN TEMU KAWAN ANGKATAN 86


UNDANGAN
TEMU KAWAN ANGKATAN 86

Dilandasi harapan semoga setiap gerak langkah kita senantiasa berada dalam ridho dan inayah Allah Swt. Aamiin.
Sehubungan dengan Pelaksanaan “Temu Kawan Angkatan 86” SMA Negeri 387 Margahayu Angkatan 1986 insya Allah akan dilaksanakan pada :
Hari/tanggal : Sabtu, 17 Oktober 2009
Tempat : Gedung KOPO SQUARE Bandung
Pukul : 11.00 s/d selesai
Kami mengundang Sahabat semua untuk hadir tepat pada waktunya.

Tiada harapan yang paling utama selain dukungan dan perhatian penuh dari semua pihak dapat berjalan dengan sukses. disertai do’a “Jazaakumullahu Khairan Katsiiran”.

Bandung, 5 September 2009
Panitia Kolektif
SMA N 387 Margahayu Angkatan '86

Bimbo Berharap Presiden Batalkan SK Menhut

BANDUNG, (PR).-
Kelompok musik kenamaan asal Bandung, Bimbo, mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono terkait keluarnya SK Menteri Kehutanan No. 306/ Menhut-II/2009.

Dalam SK tersebut, Menteri Kehutanan M.S. Kaban memberikan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) atas lahan seluas 250,7 hektare di Taman Wisata Alam Gunung Tangkubanparahu, Kab. Bandung Barat, kepada PT Graha Rani Putra Persada (GRPP). Bimbo berharap presiden bersedia membatalkan SK Menhut tersebut.

Kehadiran perusahaan swasta di Tangkubanparahu, apalagi tanpa rekomendasi dari Pemprov Jabar, dinilai telah mengusik jati diri dan kehormatan masyarakat Sunda.

"Tangkubanparahu menjadi suatu simbol budaya yang bergerak dan melekat pada perubahan zaman yang terjadi di Parahyangan melalui kisah-kisah dalam pantun yang mengandung seloka dan tuntunan hidup masyarakat Sunda. Lantas dengan adanya perusahaan yang dengan tiba-tiba menjadi penguasa di Tangkubanparahu, siapa pun itu dan sehebat apa pun keberadaan mereka dalam pandangan pemerintah, bagi kami hal itu adalah sebuah pelecehan yang tidak bertenggang rasa," demikian petikan surat terbuka yang dikirim Rabu (9/9).

Surat terbuka tersebut ditandatangani tiga personel Bimbo, yaitu Samsudin Hardjakusumah (Sam Bimbo), Darmawan Hardjakusumah (Acil Bimbo), dan Jaka Purnama Hardjakusumah (Jaka Bimbo).

Bukan pertama

Peristiwa semacam ini bukan yang pertama kali. Sejak Orde Baru, sudah banyak investor yang masuk ke Jawa Barat atas kebijakan dan ketetapan dari pemerintah pusat maupun daerah. Hal itu dinilai Bimbo justru mempertegas adanya keserakahan.

Masyarakat Sunda dibuat tak berdaya dan harus diam demi pembangunan. Padahal tindakan investor yang dilegalisasi pemerintah telah mengesampingkan moral, etika, historis, spiritual, dan tata krama masyarakat Sunda.

"Hal tersebut membuat kami, Bimbo, merasa semakin sempit tempat dan tidak punya hak untuk mencintai kampung halamannya sendiri bila investor mempunyai kehendak di Tatar Sunda. Mau sampai kapan hal ini terjadi," kata Sam Bimbo.

Bimbo mengingatkan agar gunung dan hutan di Jawa Barat dibiarkan menjadi hutan rimba secara alamiah. Tidak perlu ada usaha swasta yang mengelola sebab sudah banyak ekses yang diakibatkan. Selanjutnya Bimbo berharap Presiden bersedia memerintahkan Menhut untuk mencabut SK Menhut tentang IPPA tersebut. (A-170)***