Pengaruh Ahmad Hassan bagi perkembangan Persis sangat besar. Pada 1941 ia pindah dari Bandung ke Bangil, Jawa Timur, atas permintaan keluarganya. Dan di kota ini juga Persis berkembang pesat.
“Ahmad Hasan adalah adalah figur utama dalam Persatuan Islam dan ia bertanggung jawab terhadap orientasi khasnya dalam persoalan-persoalan keislaman. Tidak ada orang lain lagi dalam organisasi itu yang mengekspresikan diri sepenuh hati seperti yang dilakukan Ahmad Hassan (Howard Federspiel).
Saat menetapkan Hari Santri Nasional, Presiden Joko Widodo menyebut sejumlah tokoh santri yang ikut menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka adalah KH Hasyim As’yari (Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), Ahmad Hassan (Persis), Ahmad Soorhati (Al-Irsyad), dan Mas Abdul Rahman (Matlaul Anwar).
Ahmad Hassan lahir di Singapura pada tahun 1887. Nama kecilnya Hassan bin Ahmad. Sang ayah, Ahmad, merupakan pedagang, pengarang, dan wartawan terkenal di Singapura. Ahmad menjadi pemimpin redaksi surat kabar Nurul Islam di Singapura.
Ahmad Hassan banyak menulis artikel tentang Islam. Selain itu, ia pun sering menyampaikan ide-idenya dalam pidato. Pikiran-pikiran Ahmad Hassan sangat tajam dan kritis. Walaupun sebagai pemuka dan guru besar Persatuan Islam (Persis), pendapat dan sikapnya terhadap takhayul, bid’ah, dan khurafat sama dengan Muhammadiyah.
Pada 1921, Ahmad Hassan pindah dari Singapura ke Surabaya. Dia berniat meneruskan pengelolaan toko tekstil milik pamannya, tetapi rugi. Dia pun kembali ke profesi awal sebagai tukang vulkanisir ban mobil. Sambil menjalankan usahanya, dia menjalin persahabatan dengan tokoh Sarekat Islam seperti HOS Tjokroaminoto, AM Sangaji, dan Haji Agus Salim.
Ahmad Hassan juga pernah belajar menenun di Kediri. Tak puas, pada tahun 1925 dia pindah ke Bandung dan mendapat ijazah menenun di kota tersebut. Di Bandung, dia bertemu dengan sejumlah saudagar Persis seperti Asy’ari, Tamim, dan Zamzam. Di Bandung, Ahmad Hassan tinggal di rumah keluarga Muhammad Yunus, salah seorang pendiri Persis.
Ahmad Hassan sering datang untuk ceramah dan memberikan pelajaran pada pengajian jamaah Persis. Dengan metode dakwah, kepribadian, dan pengetahuan yang luas, jamaah Persis tertarik pada Ahmad Hassan. Ia kemudian menjadi guru dan tokoh Persis. Hal ini membuatnya batal balik ke Surabaya.
Setelah 17 tahun berjuang dan berdakwah di Bandung, pada 1941 Ahmad Hassan hijrah ke Bangil. Sosok yang suka memakai peci hitam dan sarung dari kain pelekat, jas putih tutup leher, dan sepasang sepatu ini membawa serta percetakannya untuk bekal hidup.
Di tempat barunya dia terus berdakwah melalui penulisan, tabligh, pengajian, dialog, dan perdebatan. Ia menulis buku, mencetak, dan menerbitkannya sendiri.
Ahmad Hassan memberikan andil besar terhadap pemikiran keislaman Presiden Soekarno. Bung Karno kerap meminta buku dan majalah karya Ahmad Hassan saat menjalani masa pembuangan oleh penjajah Belanda di Ende, Flores.
Surat-surat Bung Karno kepada Ahmad Hasan menjadi saksi kedekatan mereka. Ketika Bung Karno di penjara Sukamiskin, Ahmad Hasan kerap mengunjunginya dan memberikan buku-buku bacaan. Ahmad Hassan menganggap Bung Karno sebagai kawannya.


