Reaksi Debat Cawapres
Oleh : Dedi Jamaludin
Segagah-gagahnya mantan hulubalang tetap tidak kuasa menghadapi pangeran yang disiapkan mewarisi tahta kekuasaan sang raja.
Mahfud MD & Muhaimin dalam debat semalam seperti kehilangan taji nya. Seperti larut dalam atmosfir "sihir" sang pangeran Gibran. Nampak tekanan psikologis menghantui Muhaimin dan Mahfud MD. Secara substansi sebenarnya gagasan gus muhaimin soal "slepetekonomi" jika disuguhkan dengan percaya diri harusnya mampu memukau, sayang malah jadi bahan candaan netizen. Muhaimin kehilangan taji sebagai orang yang makan asam garam menghadapi forum2 besar.
Muhaimin bahkan sejak awal sudah menunjukan ketidakpercayaan diri membahas tema yang disuguhkan soal ekonomi. Dipembukaan dia berkata, harusnya tema debat capres soal hukum menjadi menu dirinya.
Mahfud MD pun demikian tidak lebih seperti hulubalang yang menyuguhkan presentasi depan pangeran. Ide soal permasalahan mendasar tentang korupsi sebagai penghambat laju pertumbuhan ekonomi terdengar datar-datar saja.
Sebaliknya sang pangeran Gibran mendikte jalannya perdebatan sejak bel peluit dibunyikan. Term-term sulit soal ekonomi menjadi diksi yang digunakan seolah2 paham inti dari tema perdebatan. Performance pangeran Gibran berhasil meyakinkan di depan dua mantan hulubalang.
Masih menyisakan debat selanjutnya, jika Muhaimin dan Mahfud MD tidak merubah strategi, dirasa akan menjadi faktor penilaian mins bagi capresnya.
*Mengubah posisi Muhaimin*
Muhaimin harusnya keluar dari bayang-bayang Anies sebagai capres dalam forum debat. Muhaimin bukan Anies yang siap diposisikan diberbagai posisi. Anies tipe pemain modern, bisa ditempatkan dimana saja. Punya keseimbangan saat menyerang dan saat bertahan.
Muhaimin melihat semalam bukan tipe offensive player atau defensive player. Harusnya tim menyiapkan Muhaimin sebagai playmaker yang fokus pada mengatur ritme dan menjaga keseimbangan. Bagi Muhaimin cukup target skor seimbang saja dah bagus.
Ketika Muhaimin di fungsikan sebagai offensive player, maka lupa dan tidak piawai pada tugas pertahanan. Menyerang sekali soal IKN saja, langsung diserang balik cepat dan goal. Sebaliknya jika ditempatkan bertahan kelihatannya akan menjadi bulan-bulanan serangan lawan.
Di sisa debat, Muhaimin cukup mengatur ritme dan menjaga keseimbangan. Hindari serangan-serangan yang sporadis, karena bagaimana pun Muhaimin bagian dari pemerintah. Sekali diserang balik, langsung kebobolan.
