Oleh : Pepen Irpan Fauzan
_Borosngora Persatuan Islam_
Koran _Sipatahoenan_ pada 27 Djanoeari 1933 memberitakan pujian-apresiatif para tokoh pada jamiyah Persatuan Islam (PERSIS), khususnya pada KM. Zamzam selaku pendiri dan ketuanya yang pertama. Penghargaan diberikan karena satu faktor krusial: PERSIS dianggap berhasil membangun lembaga pendidikan umum setara sekolah Belanda, dari mulai jenjang _Frobel School_ (TK), _Hollandsch-Inlandsche School_ (SD), dan _Meer Uitgebreid Lager Onderwijs_ (SMP). Pada waktu apresiasi _Sipatahoenan_ tahun 1933, PERSIS memang baru mendirikan tiga jenjang satuan pendidikan tersebut. Barulah pada tahun berikutnya, PERSIS mendirikan _Hollandsch-Inlandsche Kweekschool_ (setingkat SMA, dulu tenar dengan sebutan _Sakola Guru_).
Apresiasi _Sipatahoenan_ itu bahkan diakhiri dengan do’a: _“Moega-moega ieu sakola tambah-tambah kamadjoeanana_!” (Bandoeng, 27 Djanoeari 1933). Pujian itu lantas membuat Sekolah PERSIS menjadi buah bibir, dan akhirnya menjadi sekolah rujukan. Di berbagai daerah, bahkan hingga luar-Jawa, mereka berlomba membangun lembaga pendidikan dengan model Sekolah PERSIS di Bandung.
Sekolah PERSIS tersebut—yang diinisiasi oleh para kader jamiyah alumnus Sekolah Belanda—sebenarnya ditujukan untuk apa? Apakah Sekolah PERSIS muncul hanya karena permintaan pasar? Ataukah di balik Sekolah PERSIS itu ada gagasan yang visioner?
Prof. Teuku Usman El-Muhammady memberikan kesaksian tentang tuan A. Hassan dan murid-muridnya, para pelajar sekolah Belanda jenjang _Algemeene Middlebare School_ (SMA) jurusan _westersch-klassieke letteren_ di Bandung. Pada era 1927-1930. Teuku Usman menggambarkan bagaimana tuan Hassan berhasil “mengubah” orientasi dan fikrah para pelajar sekolah Belanda itu. Bagaimana Sobirin berubah dari seorang pemuda intelek yang sekuler, setelah belajar pada tuan Hassan di lembaga _Lezing_ “Persatuan Islam” gang belakang pakgade, Bandung.
Di antara murid tuan Hassan itu adalah Mohamad Natsir. Natsir pula yang diserahi urusan tata-kelola Sekolah PERSIS. Termasuk konsep-fundamentalnya. Sebagai _raising star_ Jamiyah, Natsir membentangkan pada Konferensi Persatuan Islam di Bogor, 17 Juni 1934, apa yang disebutnya: _“Islamietisch Paedagogische Ideaal.”_ Lebih tepatnya—dalam brosur yang dimuat di Capita Selecta jilid I (1956: 84)—yaitu: _“…Islamietisch Paedagogische Ideaal jang gemerlapan jang harus memberi suar kepada tiap-tiap pendidik Muslimin dalam mengemudikan perahu pendidikannya_.”
Natsir memang tidak menjadikan Sekolah PERSIS sebagai “mainan” belaka. Bukan lembaga pendidikan _as just business as usual_. Ia pelajari dengan sungguh-sungguh tentang kurikulum. Ia cari model pendidikan unggul di zamannya. Bahkan, dengan keseriusannya, Natsir memaksakan dirinya mengikuti kursus guru diploma LO ( _Lager Onderwijs_) pada 1931-1932, setelah tamat AMS.
Menarik testimoni dari Teuku Usman tentang Natsir, kala ia diserahi amanah membangun fundamen dan tata-kelola Sekolah PERSIS. _“Natsir sedang gila-gilanya belajar bahasa Perancis_,” kata Teuku Usman. Untuk apa? Ternyata, ia ingin mempelajari dan memahami secara mendalam urusan pendidikan. Sebab, kata Teuku Usman, model rujukan pendidikan unggul waktu itu mayoritas berbahasa Perancis!
Apakah Natsir tidak mengerti dengan model sekolah Belanda, sehingga harus mengacu ke model pendidikan Perancis? Tentu saja, Natsir sangat paham dengan model sekolah Belanda. Tokh, ia sendiri mengalami secara langsung proses pendidikannnya dari mulai jenjang HIS, MULO, hingga AMS. Namun, Natsir jelas tidak puas. Ia ingin melangkah lebih jauh. Ia ingin melampaui standar!
Natsir muda yang begitu visioner. Dengan visisnya itu, dengan bekal pengalaman dan pengetahuan teoretik tentang pendidikan modern yang unggul (di zamannya), Natsir dengan penuh percaya diri menyodorkan konsep pendidikan Islamietisch Paedagogische Ideaal, kurang lebih kita artikan sebagai *Model Pendidikan Unggul* yang berdasar Islam. Mengapa Natsir menekankan dasar Islam? Jelas, karena _pattern_ pendidikannya kala itu adalah Barat (Belanda _plus_ Perancis), sehingga mesti dipertegas dasar Islam-nya.
Ini bukan berarti harus (melulu) _western oriented_. Bukan itu intinya. _Core value_-nya terletak pada spirit untuk merancang program pendidikan yang bermutu secara serius. Bukan sekedarnya saja. Bukan “asal ada” saja.
Bagi Natsir itu sendiri, kita tidak boleh terjebak dalam urusan dikotomi antara pendidikan Barat vis-à-vis pendidikan Timur. Bahkan, kata Natsir (1956: 84-85), _“seorang pendidik Islam tidak usah memperdalam-dalam dan memperbesar-besarkan antagonisme (pertentangan) antara Barat dengan Timur itu. Islam hanja mengenal antagonisme antara hak dan batil. Semua jang hak akan ia terima, biarpun datangnja dari Barat. Semua jang batil ia singkirkan, walaupun datangnja dari Timur_.”
Sudah saatnya kini, kita pun membangun Sekolah-Sekolah PERSIS dengan model keunggulan di zamannya: Abad 21 yang serba digital ini. Bukan hanya “asal ada” Sekolah PERSIS…! Kita nantikan dari para mudir/mudirah Sekolah PERSIS, kreatifitas-diskusi yang dinamis dengan didasari pemikiran yang visioner. Semoga!
*PIF*
Merdeka, 210825
_Be a Bee_!
NB: Bidang Tarbiyah sedang menyusun kurikulum baru sejak awal tahun 2024. Sudah lebih dari 17 bulan—dengan intensitas pertemuan online dan offline per dua minggu—kurikulum khas tersebut terus digodo. Hingga kini, bulan Agustus-Desember 2025 diadakan uji coba pada Sekolah, Madrasah dan Pesantren PERSIS. Mohon do’anya.