20 Desember 2023

In Memoriam; "Sang Pendekar itu telah berpulang"



Oleh : ISH

Meskipun tidak  menjadi santrinya yang tercatat secara akademik di Pesantren Persatuan Islam no 34 Cibegol (tjibegal) yang di pimpin oleh Allahuyarham ustadz Muhammad Romli, tapi saya kenal beliau dari kecil. 


Saya kenal beliau ketika sering menjadi khatib di masjid Al-Hikmah Soreang. Sedikit saya masih bisa mengingat di luar beliau ada nama-nama ustadz Ikin Sodikin MS, ustadz Mukhtar, ustadz Sukma, ustadz Toha (Bojong kunci), ustadz Didi kuswendi, ustadz Khalid, ustadz E. Hidayat dan beberapa yang samar-samar saya ingat wajahnya tapi lupa namanya.


Allahuyarham ustadz Muhammad Romli salah satu yang rajin dan telaten. Beliau jarang sekali membadalkan tugas khatib nya kepada orang lain, di luar urusan urgent kejamiyyahan atau sedang sakit. Beliau senantiasa hadir sebagai khatib Jum'at.


Saya biasa menyapa beliau dengan panggilan 'apak'. Panggilan ini yang sering beliau pake untuk di jadikan 'kata ganti' memanggil dirinya kalau sedang ngobrol. Beliau tidak pernah -setau saya- 'meng ustadz kan' dirinya sendiri. Mungkin yang sering keluar adalah bahasa 'ana'. Sebuah kata ganti dalam bahasa Arab.


*"Pendekar nu masagi"*


Saya jadi teringat komentar bapak saya dulu kepada beliau. " Ustadz Romli mah pendekar nu masagi. Sugih ku pangarti agama Jeung ilmu silatna". 


Ungkapan itu saya dengar waktu kecil hanya sebatas ungkapan. Tetapi setelah saya beranjak dewasa sedikit-sedikit ungkapan itu terbuktikan dari banyaknya informasi persaksian kepada Allahuyarham ini.


Konon lokasi pesantren cibegol(tjibegal) ini merupakan tempat yang angker bagi sebagian masyarakat karena sering terjadi pembegalan. Tapi beliau berani mengambil keputusan untuk mendirikan pesantren di tempat itu. 


Latarbelakang ilmunya yang masagi membuat nya tidak pernah takut untuk mendirikan pesantren sekaligus menyuarakan dakwah berbasis Qur'an Sunnah. Dimana masyarakat pada waktu secara faham keagamaan belum bisa menerima. 


*Seorang Ahli Hadits*


Persaksian bahwa beliau seorang pendekar masagi ini pun seringkali saya dengar dari sahabat dan kolega beliau. Bahkan saya pun pernah menyaksikan dalam sebuah acara "Dewan Hisbah". Sebuah forum penting di lingkungan organisasi Persis guna membahas fatwa-fatwa hukum Islam. 


Bagaimana kepiawaian beliau dalam menalar Qur'an dan hadits yang kemudian di jadikan dasar dalan istinbat hukum. Beliau membaca kan hadits lengkap dengan sanad dan matan di luar kepala. Beliau sampaikan dengan gaya khas nya. Sehingga di satu kesempatan Allahuyarham ustadz Usman Sholehudin mencandai beliau. "Sumputkeun kitab na".


Keahlian beliau dalam memahami hadits yang kemudian di jadikan pijakan pengambilan hukum mengingatkan saya pada salah satu pendiri Mazhab fiqih yakni Imam Ahmad Bin Hambal. Dimana karakteristik madzhab nya yang kental dengan rujukan Hadits nya.


Karakteristik itu pun sangat terlihat bagaimana pemikiran-pemikiran beliau ketika mengomentari sebuah masalah terlebih masalah hukum. Beliau mengutamakan hadits di banding akal. Pemahaman dan penguasaan nya yang kuat dalam ilmu Qur'an ,ilmu hadits , ilmu bahasa dlsb,  mengantarkan nya beliau sebagai seorang ustadz yang melampaui. Seorang ustadz par exelent.


Hari ini ustadz berpulang dan saya pun bersaksi ustadz adalah orang baik, orang Sholeh dan teladan bagi saya yang pernah berhubungan ustadz.


Saya hanya bisa melantunkan do'a-do'a terbaik sebagai teman perjalanan pulang.

*"Yaa ayatuhan nafsul Mutmainah irji'i ila robbiki rodhiatam Mardhiah fadkhulii fii 'ibadii wadkhulii jannatii"*



*Selamat jalan.....apa*