16 November 2022

LIMA JENIS WILAYAH SAKIT MANUSIA (Lima Wilayah Gering Manusa)


Oleh Moeflich H. Hart


Sakit seseorang itu terjadi di dua wilayah: Jiwa dan fisik. Untuk wilayah jiwa, psikologi dan psikiatri menyebutnya “gila,” “sakit jiwa” atau “abnormal” dengan berbagai jenis dan gejala-gejalanya seperti stress, neurosis, psikosomatik, insomnia, autis, psikopherenia, dst. Sementara wilayah fisik, ilmu kedokteran menyebut “sakit” untuk seluruh penyakit yang menyerang tubuh manusia. 

Sakit fisik terjadi disebabkan karena masalah-masalah kejiwaan yaitu ketidakseimbangan hidup atau ketidakseimbangan fisik dan jiwa.

Semua sakit fisik terjadi sebagai saluran, outlet atau aktualisasi dari gejala-gejala kejiwaan yang tidak sehat. Berikut ini adalah lima gejala kejiwaan yang menyebabkan seseorang dinyatakan sakit. 


1. Sakit Fisiknya

(Gering warugadna)


Ini sakit di fisik (Sunda: Gering warugadna). Misalnya batuk, radang, masuk angin, sakit gigi, ginjal, lambung, hepatitis, diabetes, stroke dst. Sakit fisik pada dasarnya diakibatkan oleh masalah kejiwaan. Basis fisik yang sakit adalah jiwa yang sakit. Penyebab sakit mungkin tidak disadari oleh yang bersangkutan. 


Ketidakseimbangan² hidup seperti salah mengkonsumsi makanan, kurang vitamin, kebiasaan buruk, pikiran negatif dan pola hidup tidak sehat, semuanya akan menjadikan tubuh lemah dan membuat sakit. Psikosomatik adalah problem kejiwaan seperti stress, tertekan, sulit keluar dari beban dsb. Akibatnya, sakit lambung, bintik² merah di kulit, gatal-gatal dll. Jadi sakit fisik berfungsi sebagai media adanya masalah jiwa. Sakit di fisiknya tetapi sebabnya jiwanya yang sakit.


2. Sakit Kelihatannya

(Gering kadeuleuna)


Ini adalah sakit kelihatannya saja atau sakit tampaknya saja (kadeuleuna) padahal sebenarnya tidak. Sakit ini merupakan pandangan atau persepsi orang lain pada diri seseorang padahal sebetulnya ia tidak sakit. Seseorang nampak sakit atau seperti sakit disebabkan oleh kehadiran orang lain disisinya. Sakitnya lebih merupakan persepsi lingkungan terhadap seseorang. 


Dipersepsi dan didefinisikan sakit oleh lingkungan karena terdapatnya gejala-gejala yang oleh orang kebanyakan dianggap sebagai sakit seperti senyum² sendiri, ngomong sendiri atau berpenampilan aneh. Lingkungan, secara sederhana, menganggap perilaku seperti itu sebagai tidak normal atau sakit. Padahal belum tentu. Mungkin orang tersebut sengaja berbuat begitu, mungkin itu ekspresi protes, mungkin sedang bersandiwara, atau senang berimajinasi, atau ia berdialog dengan seseorang secara iamjiner dalam sebuah masalah yang belum tuntas. Sakit tampaknya atau gering kadeuleuna adalah sakit sangkaan, sakit dugaan, padahal tidak. Ia sehat-sehat saja. Banyak di lingkungan kita orang yang dianggap sakit seperti ini.


3. Sakit Keyakinannya

(Gering agemanana)


Ini adalah wilayah sakit karena ketidaktaatannya pada agama yang dianutnya. Sakit karena tidak melaksanakan ajaran-ajaran agama atau karena menentang keyakinan agamanya. Meninggalkan ajaran agama bisa menyebabkan jiwa seseorang sakit karena tidak stabil, lemah, terganggu dst. 


Misalnya, Muslim tapi tidak shalat, tidak puasa, tidak mau mendengar nasehat, menyepelekan agama, angkuh dan sombong, merasa tidak salah melakukan pelanggaran syariat. Mengaku muslim tapi ajaran agama tidak menjadi dasar pertimbangan dari sikapnya sehari-harinya. Mengaku Muslim tapi hidupnya tidak kenal agama, jauh dari agama. Hidupnya hanya sibuk oleh pekerjaan, sibuk mencari uang, sibuk kepuasan materi, apalagi menghalalkan segala cara, tidak tahu mana halal mana haram. Hartanya banyak yang kotor yang didapatkan dengan cara yang haram. 


Hidupnya pun jadi tidak seimbang, kacau, tidak terarah, tidak menentu, gelisah, merasa hampa. Ini bisa terasa akibatnya di fisik, kemudian sakit. Ini jenis orang sakit karena sakit keyakinannya. Penyakit yang timbul dari masalah ini adalah mudah stres, lemah mental, selalu resah dan gelisah, tidak tahu harus berbuat apa, jiwanya kering dan gersang, hidup tidak pernah tenang, tak tentu arah.


4. Sakit Sumber Kehidupannya

(Gering cikahuripana)


Ini adalah wilayah sakit yang diakibatkan oleh kesulitan seseorang memenuhi kebutuhan dasar hidupnya (cikahuripana) disebabkan kemiskinan yang parah dan lama, kemelaratan yang menyiksa, kepapaan yang membuatnya tidak bisa hidup normal dan wajar walaupun hanya untuk memenuhi kebutuhan fisiknya dst. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar bisa mengganggu perkembangan hidup seseorang secara wajar. Kemudian lahirlah ketidakseimbangan-ketidakseimbangan sehingga menimbulkan sakit. Sakit pada dasarnya adalah adanya ketidakseimbangan-ketidakseimbangan hidup. Sakit ini bisa menimbulkan fiksasi yaitu tidak berkembangnya potensi diri dan jiwa secara normal sesuai dengan perkembangan usianya secara normal. Kesulitan hidup itu kalau tidak teratasi dengan baik dan wajar bisa menimbulkan penyakit.


5. Sakit Nyawanya

(Gering nyawana)


Terakhir, sakit yang disebabkan oleh agama yang diyakininya bertentangan kenyataan hidup yang dihadapi dan dirasakannya (gering nyawana). 


Agamanya mengajarkan hal-hal luhur, mulia dan ideal tapi kenyataan hidupnya terlalu pahit, banyak tantangan, banyak yang kontradiktif, banyak paradoks dll sehingga oleh tuntutan-tuntutan agamanya yang berat yang ia tidak mampu melaksanakannya, sikapnya pun menjadi ironis, tidak seimbang dan menjadi sakit. Banyak orang sakit karena konflik agama dalam dirinya ini, yaitu kondisi psikologis yang antagonis antara apa yang diyakininya dan yang dipraktekkannya.


Orang-orang yang tak seimbang antara semangat agamanya yang sangat kuat atau terlalu tinggi dengan pengetahuan, wawasan dan kedewasaannya banyak yang tanpa sadar mengalami gejala sakit kejiwaan ini yang ditunjukkan oleh perilakunya yang tidak normal, aneh-aneh, masuk kelompok-kelompok sempalan atau sesat, tidak komunikatif dengan orang lain, mudah menyalahkan, merasa paling benar sendiri dll.*** 


Semoga bermanfaat!!