4 September 2024

MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA

 

TOLAK PEMBERANGUSAN SYI'AR ADZAN, MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA


_1. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. 4. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”_

*[QS: Al Kafirun]*


Sehubungan dengan akan diselenggarakannya acara misa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus pada hari Kamis, tanggal 5 September 2024, dimulai pukul17.00 s/d pkl.19.00, yang disiarkan secara langsung dan tidak terputus diseluruh televisi nasional, mengingat pula adanya Surat dari Kemenkoinfo agar Syi'ar Adzan Maghrib yang biasa disiarkan melalui televisi nasional ditiadakan dan cukup diganti dengan Running Text, maka kami TPUA bersama segenap Tokoh, Advokat, Aktivis, Ulama dan elemen pergerakan Islam, menyatakan:

*Pertama,* gelaran Misa Kudus bersama Paus Fransiskus, merupakan kegiatan ritual keagamaan yang memiliki dimensi syi'ar, karena dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, terlebih lagi akan disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun TV nasional. Tindakan ini, termasuk dan terkategori tindakan intoleran, tidak menghormati _local wisdom (Kearifan Lokal)_, karena dilakukan diruang publik, disyiarkan secara terbuka di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Acara semacam ini, dalam pandangan Islam adalah termasuk dan terkategori pendangkalan akidah Islam, karena tentunya berpotensi besar akan diakses dan ditonton oleh umat Islam. Padahal, dalam doktrin agama Islam yang berkaitan dengan akidah dan ibadah non muslim, berlaku kaidah *"BAGIMU AGAMAMU, BAGIKU AGAMAKU".*

*Kedua,* misi perdamaian yang diusung Paus Franciscus, justru kontradiktif dengan Misa yang dilakukan secara intoleran dan arogan, karena dilakukan diruang publik secara terbuka dan diglorifikasi melalui siaran media, di tengah negeri yang mayoritas penduduknya muslim. 

Semestinya, acara seperti ini cukup dilakukan di gereja dan tidak disiarkan secara terbuka. Karena acara semacam ini, menggores luka ruang keberagaman dan keberagamaan umat  Islam, sekaligus menjadi simbol tirani minoritas terhadap mayoritas.

*Ketiga,* tindakan Kemenkoinfo yang meminta Syi'ar Adzan ditiadakan dan hanya diganti running Text saat berlangsungnya siaran langsung Misa Paus, adalah tindakan pemberangusan Syi'ar adzan, sekaligus melecehkan ajaran Islam. Syi'ar adzan adalah Syi'ar rutin berkala, yang tidak bisa diganggu dan dibatalkan oleh agenda insidental. Semestinya, kegiatan Misa yang menyesuaikan dengan Syi'ar adzan.

*Keempat,* kejadian seperti ini hanya terjadi di era rezim Jokowi. Rezim yang banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam, rezim yang tendensi negatif terhadap Islam, sekaligus rezim yang paling sering mendeskreditkan Syi'ar & ajaran Islam.

Karena itu, *kami menuntut agar Misa Paus Franciscus tidak disiarkan secara langsung dan Syi'ar Adzan tetap dikumandangkan seperti biasa.* Jangan sampai, ketegangan antar umat beragama justru terpantik oleh Ibadah Misa Paus yang memiliki misi menjaga perdamaian dunia.


Demikian pernyataan sikap disampaikan.

Jakarta, 4 September 2024.


TTD 


Prof Dr Eggi Sudjana, SH, Msi
Ketua Umum TPUA


Azam Khan, S.H.
Sekertaris Jenderal TPUA 


Ahmad Khozinudin, S.H.
Koordinator Agenda




3 September 2024

Kawal Kunjungan Paus Fransiscus, Hima Persis Jakarta Siap Bersinergi dengan Polda Metro Jaya



Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PW Hima Persis) Daerah Khusus Jakarta menyampaikan pernyataan dukungan atas rencana kunjungan Paus Fransiscus ke Jakarta yang dijadwalkan pada tanggal 3 hingga 6 September 2024.

“Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan, kami memandang kunjungan ini sebagai momentum signifikan dalam konteks penguatan hubungan antar umat beragama dan konsolidasi toleransi di negara yang bercirikan Keberagaman Agama ini” kata Ihsan, ketua Hima Persis Jakarta, Selasa (3/9/2024).

Ihsan Ketua Hima Persis Jakarta Menyatakan, pihaknya juga siap untuk berkolaborasi dengan Polda Metro Jaya dalam upaya menjamin keamanan selama berlangsungnya kunjungan di Indonesia Khususnya di Jakarta.

Dilansir oleh Nusantara TV, Polda Metro Jaya telah menyiapkan 4.730 personel gabungan untuk mengamankan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Selain berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Siber dan Sandi Negara, serta TNI, pihak kepolisian juga menempatkan penembak jitu di beberapa titik strategis.

Pada kunjungan Asia Pasifik kali ini, Indonesia dipilih menjadi negara pertama yang akan dikunjungi Paus Fransiskus. Sebelumnya, ketika masa kepemimpinan Paus Paulus VI pada 1970 pernah mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya.

Kemudian, kunjungan yang kedua pada 1989 ketika Gereja Katolik Roma dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II. Lalu untuk yang ketiga kalinya akan dilakukan oleh Paus Fransiskus, sekaligus akan tercatat menjadi perjalanan Apostolik yang ke-45 dalam masa kepausannya.

“Kunjungan Pemimpin Gereja Katolik Dunia ke Indonesia ini menjadi peristiwa bersejarah dan penting dalam memperkuat hubungan diplomasi dua negara, meningkatkan toleransi antar umat beragama, sekaligus menekankan nilai perdamaian dan kemanusiaan” terang Ihsan.

Dalam perspektif kemanusiaan dan kebangsaan, kunjungan Paus Fransiscus dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi Kebebasan beragama yang diatur dalam Konsitusi Pasal 29 UUD 1945 Ayat 2 “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”

“Dukungan kami terhadap kunjungan ini dilandasi oleh pemahaman theologis yang bersumber dari Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang menyatakan: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ungkapnya.

“Interpretasi kontemporer terhadap ayat ini, sebagaimana diuraikan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya Al-Misbah, menekankan pentingnya membangun relasi positif dengan non-Muslim dalam konteks kenegaraan dan kemanusiaan, selama tidak mengancam akidah dan kedaulatan negara, tegas Ihsan” pungkas Ihsan.

Surat Terbuka PP PERSIS atas Kunjungan Paus Fransiskus



Sehubungan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, PP. PERSIS menyambut gembira dengan semangat ukhuwah insaniyah-basyariyah sebagaimana diajarkan oleh Islam. PP Persis menyerukan dan menyatakan sikap sebagai berikut :


Pertama, Kami berharap kehadiran pemimpin tertinggi umat Katolik di Indonesia dan beberapa negara Asean, dapat memberi pesan yang memperkuat semangat persaudaraan antar iman dan toleransi antar umat beragama.

Kedua, kedatangan Paus dapat membawa kabar yang memberikan harapan kebahagiaan dan pesan perdamaian bagi dunia yang sedang dilanda ketegangan dan perang seperti yang terjadi antara Ukraina dan Rusia.

Ketiga, Harapan kami yang terbesar atas kujungan Paus ke Indonesia dan beberapa negara kali ini dapat menjadi momentum untuk menyerukan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan Negara Palestina

Keempat, kami berharap Paus menyerukan masyarakat dunia  untuk bersama-sama menghentikan kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kelima, Dengan pesan-pesan dan seruan Paus untuk memperkuat kerukunan antar iman, mewujudkan toleransi antar umat beragama dan menghentikan islamophobia.

Demikian seruan dan pernyataan kami sampaikan, Insya Allah kunjungan Paus akan sangat bermakna dan dikenang oleh masyarakat muslim di Indonesia dan dunia.