11 Januari 2024

KH. IMAN ATQIYYA WAFAT

 


_Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun_


Hatur uninga ka sadaya ikhwatu ieman rehing parantos tilar dunya ngantunkeun urang sadayana *Ustadz Iman Atqiya*  Alumni PPI 1 Pajagalan Bandung nembe pisan kirang langkung tabuh 23.55 WIB.


Mugia almarhum ditampi iman islamna dihapunten sadaya dosana sareng dipernahkeun ku Alloh dina tempat anu mulya surga Mantenna.


Kalih ti eta mugia sadaya kulawargi kalih wargi wargi nu dikantunkeun dipaparin kakiatan tur kasabaran dina nampi sadaya qadar ti Alloh nu maha heman.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ


اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَا شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهَ

6 Januari 2024

Akankah Kisah Ini Terulang Lagi Dimasa Sekarang



Presiden Soekarno pernah 'menyerang' Ulama besar dimasanya...Buya Hamka..."

Bersama Mohammad Yamin, Soekarno melalui headline 

beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka, namun tak sedikit pun fokus Hamka bergeser dalam menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar... 

Sebab terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan Ulama besar asal Minangkabau ini kedalam penjara tanpa melewati Persidangan... 


2 tahun 4 bulan lamanya Hamka 

dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Soekarno padanya...? 

Tidak...! Hamka justru bersyukur bisa masuk penjara... 

Didalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 Juz Tafsir Alqur'an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar...

Lantas, bagaimana dengan ketiga Tokoh tadi...? Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno...?

Ternyata Allah masih sayang pada mereka, Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno... 

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di Akhirat... 

Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di Dunia... Diusia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya dimasa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri... 

Apakah Hamka menolak...? 

Tidak...!  Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu Agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit - ungkit kekejaman Pramoedya... 

Astuti, anak perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati Ulama Besar ini... 

Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya.. 

Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka.. 

Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada Ulama Besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya... 

Dalam kesempatan nafas terakhirnya, Tokoh Besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka...

Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Alqur'an... 

Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan Tokoh Besar Indonesia, Proklamator Bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah... 

Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua... 

Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek : 

“Bila aku mati kelak,  aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi Imam Shalat Jenazahku...”

Hamka langsung bertanya pada sang ajudan.. Dimana...? 

Dimana beliau sekarang...?  

Dengan pelan dijawab : "Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso..."

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca... Rasa rindunya ingin bertemu dengan Tokoh Besar Negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara... 

Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno... 

Untaian do'a yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia...``` 

Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu...

Semoga Allah balas Syurga Firdaus atas semua ilmu dan sikap hidupmu yang sudah diajarkan & dicontohkan untuk kami dan Negara kita tercinta,  Aamiin...

3 Januari 2024

Partai Gelora Duduki Posisi Lima Besar Perolehan Suara Simulasi Pemilu 2024 untuk DPRD Jabar Dapil Jabar II


Partai Gelombang Rakyat Indonesia atau Partai Gelora sebagai pendatang baru di kancah Pemilu 2024 berhasil bercokol di lima besar perolehan suara Simulasi Pemilu 2024 Radar Bandung untuk raihan suara terbanyak surat suara DPRD Jabar dapil Jabar II.

Partai Gelombang Rakyat Indonesia mampu bersaing sengit dengan partai-partai raksasa para penguasa pemilu sebelumnya seperti Partai Gerakan Indonesia Raya, PDI Perjuangan, Partai Golkar dan PKS.

Berikut lima besar raihan suara terbanyak  Simulasi Pemilu 2024 Radar Bandung untuk surat suara DPRD Jabar Dapil Jabar II yang meliputi Kabupaten Bandung dan KBB yang salah satunya dihuni Partai Gelombang Rakyat Indonesia.

Posisi pertama dihuni parpol besutan Prabowo Subianto, Partai Gerakan Indonesia Raya dengan sang caleg H. Taufik Hidayat: 5,73 persen dan disusul caleg Endah Suwarni  dengan raihan 2,06 persen.

Posisi kedua dihuni Partai Demokrat dengan caleg Toni Setiawan 3,96 persen diikuti caleg Saeful Bachri dengan raihan 1,32 persen.

Posisi ketiga ada Partai Keadilan Sejahtera dengan sang caleg H. Jajang Rohana dengan raihan suara 3,23 persen diikuti  Tedi Surahman dengan raihan suara 1,91 persen.

Sementara itu, posisi keempat ada Partai Gelombang Rakyat Indonesia dengan sang caleg H. Abdurrachim Santosa dengan suara 3,23 persen dan diikuti oleh caleg Rudi Darmawan dengan raihan suara 1,32 persen.

Sementara PDI Perjuangan harus rela berada di posisi kelima dengan sang caleg  S. Apriyanto Wijaya dengan raihan suara  2,20 persen diikuti  caleg Neng Yuyun dengan 1,47 persen.

Pengamat Politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani), Arlan Siddha mengatakan, mampunya partai Gelora masuk pada lima besar simulasi tersebut merupakan fenomena yang menarik.


"Partai baru sebenarnya tapi orang lama. Sehingga menarik fenomena ini karena partai Gelora ini sebenarnya partai pecahan dari PKS yah," katanya saat dihubungi, Jumat (29/12/2023).

Ia menambahkan, munculnya Partai Gelora di lima besar merupakan bukan sesuatu hal yang besar.

Namun demikian, hal tersebut menjadi sesuatu yang mengejutkan bagi partai yang lain.

"Karena sekali lagi partai Gelora ini adalah partai dimana kemudian loyalis-loyalis dari partai PKS  dan mereka mempunyai basis yang hampir sama dengan PKS dan ditambah lagi partai Gelora ini sedikit lebih menyentuh kepada anak-anak muda," katanya.

"Jadi artinya basisnya masih sama seperti PKS tapi cara perjuangannya agak berbeda dalam mencari marketnya. Sehingga banyak konstituen yang dulunya memang loyalis gitu ya. Akhirnya pindah ke Gelora kemudian cukup besar," katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, cara dan strategi Partai  Gelora  dalam mendapatkan konstituen hampir sama dengan PKS. Namun ada cara lain yang berbeda dilakukan oleh Partai Gelora.

"Itu sih tentunya hampir sama tapi ada cara-cara yang kemudian  mereka tawarkan kepada konstituen tapi tidak seperti PKS . Cara mereka mengajak, cara mereka memaparkan platform partai. PKS jelas dia lakukan secara door to door yang sering dilakukan," paparnya.

"Gelora ini kan saya tidak mengatakan lebih modern tapi Gelora ini lebih dekat dengan cara dia berkomunikasinya. Menurut saya partai gelora ini nantinya akan menjadi tantangan tersendiri buat partai-partai yang lain," imbuhnya.

Ia menegaskan, dirinya melihat bahwa partai Gelora ini memang sangat menjanjikan dalam konteks platform baik  kedewasaan berpolitik, kedewasaan berpikir dan Partai Gelora ini agak berbeda dari partai pecahannya.

"Gelora memiliki komitmen yang jelas. Progress Gelora sebagai partai baru walaupun orang lama tapi mereka cukup berani untuk tampil dan percaya diri di hadapan partai-partai yang sudah mapan," tandasnya. (kro)

𝗦𝗧𝗔𝗟𝗜𝗡 𝗱𝗮𝗻 𝗔𝗬𝗔𝗠 BONDOL



Pada satu pertemuan bersama seluruh anggota parlemen, Stalin (diktator Soviet 1878-1953) meminta asistennya untuk membawakannya seekor ayam. 


Dia memegang erat ayam hidup itu dengan satu tangan dan mulai mencabut bulunya satu persatu dengan tangan lainnya. Ayam itu kesakitan dan mencoba melarikan diri, tetapi tidak bisa.  Lalu Stalin berkata kepada asistennya: "Sekarang lihat apa yang akan terjadi ..." 


Diletakkannya ayam itu, yg kemudian lari menjauh darinya. Lalu Stalin mengambil segenggam gandum, sementara itu semua anggota parlemen menyaksikan dgn takjub. Betapa ayam betina itu ketakutan, sakit dan berdarah tapi malah lari mengejar saat Stalin menghamburkan gandum ke arahnya. 


Ayam itu terus mengejarnya, kemudian Stalin berkata : “Begitu mudahnya memerintah orang bodoh. Kalian lihat bagaimana ayam itu mengejarku meski aku sudah membuatnya kesakitan. Begitulah kebanyakan orang, mereka dianiaya dan diperalat oleh para pemimpin dan politisi, lalu jadi pengagum hanya karena menerima hadiah murahan atau makanan selama 1 atau 3 hari saja."


Jangan mudah dijadikan ayam bondol