8 November 2008

KH. O. Surahman beserta Keluarga


Jas Merah

Judul di atas merupakan sebuah ungkapan yang pernah dilontarkan oleh presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno. JAS MERAH adalah akronim dari JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH. Beliau menyatakan hal ini untuk menjelaskan betapa sejarah memiliki nilai yang sangat mahal bagi kemajuan suatu bangsa. Sejarah ibarat panduan yang akan mengantarkan sesuatu kepada tujuan. Sejarah adalah rambu-rambu yang akan membimbing sesuatu ke arah yang akan dituju.

Mempelajari sejarah adalah berusaha untuk menyambungkan tali perjuangan dengan para pejuang terdahulu. Mempelajari sejarah adalah mengambil bara api yang pernah digenggam oleh para syahid yang telah mengorbankan jiwanya demi perjuangan. Mempelajari sejarah adalah menarik garis dari tinta emas perjuangan yang telah ada untuk kemudian kita torehkan tinta emas baru di lembar sejarah perjuangan selanjutnya.

Demikian peran sejarah dalam kehidupan. Tapi mempelajari sejarah bukanlah menjebak diri dalam romantisme atau khayalan-khayalan masa lalu tanpa ada usaha untuk melanjutkan perjuangan itu. Mempelajari sejarah bukan hanya memperbincangkan kejayaan masa lalu, tetapi melanjutkan perjuangan itu dengan cara mengambil dan memiliki semangat juang masa lalu itu.

Dalam konteks seperti ini pula kita mesti mempelajari kembali sejarah perjuangan Islam dan Persatuan Islam masa lalu. Bukan hanya untuk mengenang bagaimana tokoh Islam masa lalu berjuang, tetapi untuk melanjutkan perjuangan itu dengan mencoba memiliki semangatnya. Kondisi Persis, terutama para pemuda saat ini, di mana sebagian anggota masih belum memahami pola perjuangan Persis, di mana semangat berjuang mulai mengalami pembiasan, di mana militansi perjuangan itu mulai pudar, di mana tali perjuangan mulai tidak nyambung dengan pola juang para pendahulu mesti segera diperbaiki. Dan salah satu caranya adalah dengan mencoba menarik mereka kepada situasi yang sama dengan situasi masa lalu.

Betapa banyak kisah heroik yang pernah dialami para pendahulu kita dalam berjuang dan berdakwah mengenalkan Islam. Para sahabat Rasulullah rela berhijrah meninggalkan kampung halamannya untuk menjaga kelanjutan perjuangan Islam. Mereka rela berjalan berjuta kilo untuk berjihad di jalan Allah. Mereka rela meninggalkan keluarga dan pekerjaan mereka demi Islam. Mereka sanggup mengorbankan diri untuk kejayaan Islam.

Begitu pula dengan para pendahulu Persatuan Islam. Di antara mereka ada yang sanggup menempuh perjalanan berkilo-kilo hanya untuk bertemu dan berdialog dengan para jama’ah. Tak sedikit pula yang harus meninggalkan keluarga, anak dan istri untuk berdakwah. Bahkan seringkali mereka mesti melupakan penyakit yang diderita untuk melakukan tugas mulia ini. Para anggotanya pun seperti itu, mereka berani menempuh perjalanan jauh hanya untuk menghadiri pengajian-pengajian. Mereka tidak melihat jarak dan waktu untuk bertemu dengan imam mereka. Mereka semua telah menjual dirinya demi dakwah, demi surga yang Allah janjikan sebagaimana diisyaratkan dalam surat Ash-Shaf ayat 10. Mereka lebih tertarik dengan balasan akhirat dibanding dengan gemerlapnya dunia.

Dalam tulisan terdahulu kita telah membahas tentang pembentukan organisasi yang solid untuk menatap masa depan. Tetapi masa depan yang sungguh banyak tantangan itu tak akan bisa ditempuh tanpa panduan obor dari masa lalu. Masa depan yang akan kita hadapi adalah sesuatu yang gelap dan ghaib. Sebab kita tidak akan pernah tahu bagaimana rupa dan warna hari esok. Dan di sinilah sejarah mengambil perannya, yaitu untuk membimbing kita menuju arah yang tepat dalam berjuang, untuk menerangi jalan kita dalam berjuang, untuk kesinambungan perjuangan sehingga tujuan utama perjuangan itu bisa tercapai.

Dan dalam titik inilah kita mesti memperbanyak dialog dengan orang tua, mumpung mereka masih ada, agar kita tidak kehilangan obor itu. Agar kita bisa semakin dewasa dalam melanjutkan perjuangan mereka. Agar kita bisa membuat mereka bangga, bukan kecewa. Agar kita bisa menjadi pelanjut dan bukan pengikut. Agar jariyah dan jerih payah mereka bisa kita lanjutkan, karena tugas kita sebagai ‘anak’ adalah melanjutkan amal-amal baik yang telah dilakukan oleh orang tua kita.

Maka sekali lagi, JAS MERAH, “jangan sekali-kali melupakan sejarah”.

Orang Tua H. Eri