20 Agustus 2010

"Si Kabayan" Tutup Usia




CIWASTRA,(GM)-
Innalillahi wa inna ilaihirojiun. Satu lagi seniman Sunda berpulang ke rahmatullah. Raden Aang Kusmayatna atau yang lebih dikenal Ibing Kusmayatna (Kang Ibing) tutup usia, Kamis (19/8) sekitar pukul 20.45 WIB. Almarhum yang melambung namanya lewat film Si Kabayan itu meninggal saat dilarikan ke Rumah Sakit Al Islam (RSAI), Jln. Soekarno-Hatta Bandung. Kepergian budayawan tersebut mengejutkan keluarga dan teman-teman dekatnya, karena tak ada tanda-tanda Kang Ibing akan meninggal. Siang harinya, ia pergi ke Sumedang untuk melihat rumahnya.

Ibing memiliki rumah yang sering ia kunjungi di kota kecil itu. "Dari Sumedang hanya ngabuburit saja. Datang ke sini jam delapan malam," kata Muhamad Yusuf, adik ipar Kang Ibing di rumah duka, Margawangi Estate, Jln. Kencanawangi No. 70 RT 01/RW 13 Kel. Cijawura, Kec. Buahbatu, Bandung.

Setiba di rumahnya itu, tiba-tiba Kang Ibing jatuh di depan kandang domba miliknya yang berada di samping rumah. Pelawak cerdas ini sempat muntah-muntah sehingga keluarganya membawanya ke RSAI untuk berobat. Namun sesampainya di rumah sakit, dokter yang memeriksanya menyatakan pentolan D'Kabayan itu sudah tiada. Menurut rencana, Kang Ibing akan dimakamkan di Gunung Puyuh Kab. Sumedang. Ini merupakan amanat almarhum semasa hidupnya.

Kang Ibing meninggalknan tiga anak, Kusmadika (32), Kusmananda (28), Diane Fatmawati (25), dan satu istri Nike Wahtuningsih. Ia baru menikahkan putranya 7 Agustus 2010 lalu.

Tak ada firasat

Putra pertama Kang Ibing, Kusmandika menilai ayahnya sebagai sosok pekerja keras. Figur itu juga yang diajarkan kepada dirinya. "Ia selalu mengajarkan kepada kami untuk selalu kerja keras dan hidup sederhana," kata Kusmandika.

Sebelum meninggal, keluarga tidak pernah merasakan ada firasat apa-apa. Meski memiliki penyakit gula dan jantung, namun Kang lbing tidak pernah merasakannya. "Beliau tidak pernah mengeluhkan sakit yang dialaminya," katanya lagi.

Di mata sahabat dan rekan seprofesinya, Aom Koesman, Ibing dikenal sebagai sosok seniman, pelawak yang cerdas. Itu sebabnya, ia sangat kehilangan dengan meninggalnya Kang Ibing.

Aom Koesman mengaku sudah kenal Ibing sejak tahun 1966, ketika masih aktif di Daya Mahasiswa Sunda (Damas). Sehari-hari ia sudah seperti keluarga, dengan gaya pergaulan yang khas. "Kalau ada yang nanya mana Ibing, saya selalu menjawab maot (mati)," katanya.

Ketika kabar itu benar, Aom sempat tidak percaya. "Saya dapat kabar dari Radio Mara. Radio Mara katanya dari anaknya. Tapi saya tanya sendiri, bener teu ieu teh," katanya.

Meskipun demikian, ia datang juga ke rumah duka untuk melayat sahabatnya itu.

Aom mengungkapkan, sejak di Damas ia telah dekat dengan Kang Ibing. Pada 1968, katanya, ia dan Ibing membuat pergelaran komedian yang berjudul "Kawinan Senapati". Pergelaran ini sukses dan melambungkan nama keduanya.

Pada 1976, Ibing dan Aom Koesman main film bersama Leni Marlina berjudul Si Kabayan. "Setelah main film itu kemudian kami mendirikan grup lawak D'Kabayan, beranggotakan saya, Ibing, Wawa Sofwan, Ujang, dan Suryana Fatah. Kini tinggal saya yang tersisa," katanya.

Obrolan terakhir yang selalu terngiang di telinga Aom Koesman adalah pernyataan Kang Ibing yang meminta teman-teman lain agar menjaga Aom Koesman jangan sampai sakit. "Dia berceloteh, 'Si Koesman tong sina gering'," katanya. Mata Aom Koesman tampak berkaca-kaca. (B.83/B.81)**