19 Agustus 2020

𝗣𝗘𝗧𝗘PETER𝗥CAREY DAN RADIKALISME DIPONEGORO𝗬 𝗗𝗔𝗡 𝗥𝗔𝗗𝗜𝗞𝗔𝗟𝗜𝗦𝗠𝗘 𝗗𝗜𝗣𝗢𝗡𝗘𝗚𝗢𝗥𝗢

 

Oleh : Moeflich Hasbullah

𝗣𝗘𝗧𝗘𝗥 𝗖𝗔𝗥𝗘𝗬 𝗗𝗔𝗡 𝗥𝗔𝗗𝗜𝗞𝗔𝗟𝗜𝗦𝗠𝗘 𝗗𝗜𝗣𝗢𝗡𝗘𝗚𝗢𝗥𝗢

.


Dalam Tirto.ID, 5 Agustus 2020, dikutip, Peter Carey mengatakan Diponegoro itu "bukan seorang Wahabi, bukan seorang Taliban, dia bukan seorang radikal di dalam agama." Sebagai sesama sejarawan, saya ingin mengkritisi pernyataan Carey itu karena bermasalah. 


Pertama, anakronisme sejarah. Anakronisme (dari kata Yunani, "ana" artinya "melawan" dan "khronos" artinya "waktu") adalah ketidaksesuaian kronologis dalam suatu karya, khususnya penempatan seseorang, peristiwa, benda, atau adat-istiadat yang tidak sesuai dengan latar waktunya. 


Lain kata, anakronisme sejarah adalah mengukur peristiwa masa silam dengan istilah-istilah masa kini yang menghasilkan bias atau ketidakakuratan sebutan. Istilah "Taliban" baru muncul tahun 1994, gerakan perlawanan di Afghanistan yang didukung AS dan Pakistan. Dan istilah "radikal," baru populer dituduhkan pada gerakan politik agama, terutama pada Islam, sejak tahun 2001 oleh dunia Barat. Jadi mengatakan Diponegoro bukan radikal itu tidak tepat, bias. Walaupun seperti kalimat positif tapi mengandung tendensi kekinian yang negatif.


Kedua, kalau radikal atau radikalisme dimaksudkan sebagai gerakan perlawanan politik agama, sedangkan motivasi, dorongan dan spirit Diponegoro melawan kolonial Belanda, jelas-jelas agama karena dia seorang Muslim taat alias santri, kalau dikatakan "bukan radikal di dalam agama," lalu Diponegoro disebut gerakan apa? 


Diponegoro yang lahir di Dusun Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta, adalah santri penganut tarekat yang nama aslinya adalah Abdul Hamid. Santri Abdul Hamid mondok belajar agama pertama kepada KH Hasan Besari, ngaji kitab kuning kepada Kyai Taftazani Kertosuro, mengaji Tafsir Jalalain kepada KH Baidlowi Bagelen dan belajar ilmu hikmah kepada KH Nur Muhammad Ngadiwongso, Salaman, Magelang. Sebagai putra Sultan Hamengkubuwono ke-III dari istri Pacitan, Jawa Timur, nama lengkap Diponegoro beserta gelarnya adalah 𝙆𝙮𝙖𝙞 𝙃𝙖𝙟𝙞 𝘽𝙚𝙣𝙙𝙤𝙧𝙤 𝙍𝙖𝙙𝙚𝙣 𝙈𝙖𝙨 𝘼𝙗𝙙𝙪𝙡 𝙃𝙖𝙢𝙞𝙙 𝙊𝙣𝙩𝙤𝙬𝙞𝙧𝙮𝙤 𝙈𝙪𝙨𝙩𝙖𝙝𝙖𝙧 𝙃𝙚𝙧𝙪𝙘𝙤𝙠𝙧𝙤 𝙎𝙚𝙣𝙤𝙥𝙖𝙩𝙞 𝙄𝙣𝙜 𝘼𝙡𝙤𝙜𝙤 𝙎𝙖𝙮𝙮𝙞𝙙𝙞𝙣 𝙋𝙧𝙖𝙣𝙤𝙩𝙤𝙜𝙤𝙢𝙤 𝘼𝙢𝙞𝙧𝙪𝙡 𝙈𝙪’𝙢𝙞𝙣𝙞𝙣 𝙆𝙝𝙖𝙡𝙞𝙛𝙖𝙩𝙪𝙡𝙡𝙖𝙝 𝙏𝙖𝙣𝙖𝙝 𝙅𝙖𝙬𝙞. Motivasi santri Abdul Hamid alias Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawan (125-1930) jelas agama. Kalau bukan agama, apa? Patok dan tanah yang tergusur? Itu penghinaan pada ulama. 

 

Para ulama-pahlawan yang paling sadar kedaulatan negeri, paling sadar anti pengaruh buruk asing dan melawan penjajahan oleh Belanda disebut "pemberontak," oleh kita setelah merdeka disebut "pahlawan." Ulama dengan kesadaran yang sama, zaman kini, pemerintah dan kita menyebutnya "radikal" dengan tendensi yang sangat negatif. Sebutan yang kacau beliau.


Ungkapan "Diponegoro bukan radikal dalam agama" adalah ungkapan memaksakan diri Peter Carey agar tidak terkesan tendensi negatif kepada tokoh perang Jawa itu padahal faktanya memang radikal dalam sebutan sekarang, tapi kita melihatnya positif karena melawan kolonial sebagai penjajah. 


Mengapa Peter Carey mengatakan begitu? Karena sang sejarawan itu mengagumi sosok Diponegoro yang hebat, tapi tidak ingin "radikalisme Diponegoro" (tepatnya heroisme Diponegoro) menular dan menjadi spirit gerakan-gerakan keagamaan (Islam) sekarang. Mengapa begitu? Ya gampang menjawabnya. Karena Peter Carey adalah sejarawan asing dan non-muslim.***

16 Agustus 2020

MEMBUKA CATATAN SEJARAH: DETIK-DETIK PROKLAMASI, 17 AGUSTUS 1945

 

Oleh: 

Dadan Wildan


1. Suasana Sebelum Proklamasi


Tanggal 15 Agustus 1945, kira-kira pukul 22.00, di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, tempat  kediaman Bung Karno, berlangsung  perdebatan serius antara sekelompok pemuda dengan Bung Karno mengenai Proklamasi Kemerdekaan sebagaimana dilukiskan oleh Lasmidjah Hardi (1984:58); Ahmad Soebardjo (1978:85-87) sebagai berikut:  


 “…Sekarang Bung, sekarang…! malam ini  juga  kita kobarkan revolusi…!” kata Chaerul Saleh dengan meyakinkan  Bung Karno bahwa ribuan  pasukan bersenjata sudah siap mengepung kota dengan maksud mengusir tentara Jepang. ”


“Kita harus segera merebut  kekuasaan !” tukas Sukarni berapi-api. 


”Kami sudah siap mempertaruhkan jiwa kami…!” seru mereka bersahutan. 


Wikana malah berani mengancam Soekarno dengan pernyataan; 

”Jika Bung Karno  tidak mengeluarkan pengumuman pada malam  ini  juga, akan berakibat terjadinya suatu pertumpahan darah dan pembunuhan besar-besaran esok hari .”


Mendengar kata-kata ancaman seperti itu, Soekarno naik darah dan berdiri menuju Wikana sambil  berkata: 


 ”Ini batang leherku, seretlah saya ke pojok itu dan potonglah leherku malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari !”.


Hatta kemudian memperingatkan Wikana; 

“… Jepang adalah masa silam. Kita sekarang harus  menghadapi Belanda yang akan berusaha untuk kembali menjadi tuan di negeri kita ini. 

Jika saudara tidak setuju dengan  apa yang telah saya katakan, dan mengira bahwa saudara telah siap dan sanggup untuk memproklamasikan kemerdekaan, mengapa saudara tidak memproklamasikan kemerdekaan  itu sendiri? 

Mengapa meminta Soekarno untuk  melakukan hal itu?”


Namun, para pemuda terus mendesak; 

”Apakah kita harus menunggu hingga kemerdekaan itu diberikan  kepada kita sebagai hadiah, walaupun Jepang sendiri  telah menyerah dan telah  takluk  dalam ‘Perang Sucinya…!”.  

”Mengapa bukan rakyat itu sendiri yang memproklamasikan kemerdekaannya? 

Mengapa bukan kita yang menyatakan kemerdekaan kita sendiri, sebagai suatu bangsa?”.


Dengan lirih, setelah amarahnya mereda, Soekarno berkata;  

“Kekuatan yang segelintir ini tidak cukup untuk melawan kekuatan bersenjata dan kesiapan total tentara  Jepang…! 

Coba, apa yang  bisa kau perlihatkan kepada saya?  

Mana bukti kekuatan yang diperhitungkan itu? 

Apa tindakan bagian keamananmu untuk menyelamatkan perempuan dan anak-anak? 

Bagaimana cara mempertahankan kemerdekaan setelah  diproklamasikan? 

Kita tidak akan mendapat bantuan dari Jepang  atau Sekutu. 

Coba bayangkan, bagaimana kita akan tegak di atas kekuatan sendiri “. Demikian jawab Bung Karno dengan tenang.


Para pemuda, tetap menuntut agar Soekarno-Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan. Namun, kedua tokoh itu pun, tetap pada pendiriannya semula. Setelah berulangkali didesak oleh para pemuda, Bung Karno menjawab bahwa ia tidak  bisa memutuskannya sendiri, ia harus berunding dengan para tokoh lainnya. Utusan pemuda mempersilahkan Bung Karno untuk berunding. Para tokoh yang hadir pada  waktu itu antara lain, Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri,  Djojopranoto, dan Sudiro.


Tidak lama kemudian, Hatta menyampaikan keputusan, bahwa  usul para pemuda tidak dapat diterima dengan alasan kurang perhitungan serta kemungkinan  timbulnya  banyak korban jiwa dan harta. Mendengar penjelasan Hatta, para pemuda  nampak tidak puas. Mereka mengambil  kesimpulan yang menyimpang; menculik Bung Karno dan Bung Hatta dengan maksud menyingkirkan  kedua tokoh itu dari pengaruh Jepang.


2. Rengasdengklok, 16 Agustus 1945


Pukul 04.00 dinihari, tanggal 16 Agustus 1945, Soekarno dan Hatta oleh sekelompok pemuda dibawa ke Rengasdengklok. Aksi “penculikan” itu sangat mengecewakan Bung Karno, sebagaimana dikemukakan Lasmidjah Hardi (1984:60). Bung Karno marah dan  kecewa, terutama  karena para pemuda tidak mau mendengarkan pertimbangannya yang sehat. Mereka menganggap perbuatannya itu sebagai tindakan patriotik. Namun, melihat keadaan dan situasi yang panas, Bung Karno tidak mempunyai pilihan lain, kecuali mengikuti kehendak para pemuda untuk dibawa ke tempat yang  mereka tentukan.


Fatmawati istrinya, dan Guntur yang pada waktu itu belum berumur satu tahun, ia ikut sertakan.   Rengasdengklok  kota kecil dekat Karawang  dipilih oleh para pemuda untuk mengamankan Soekarno-Hatta dengan perhitungan militer; antara anggota PETA (Pembela  Tanah Air) Daidan Purwakarta dengan Daidan Jakarta telah terjalin hubungan erat sejak mereka mengadakan latihan bersama-sama. Di samping itu, Rengasdengklok letaknya terpencil sekitar 15 km. dari Kedunggede Karawang. Dengan demikian, deteksi dengan mudah dilakukan terhadap setiap gerakan tentara Jepang yang mendekati Rengasdengklok, baik yang datang dari arah Jakarta maupun dari arah Bandung atau Jawa Tengah.


Sehari penuh, Soekarno dan Hatta berada di Rengasdengklok. Maksud para pemuda untuk menekan mereka, supaya segera melaksanakan Proklamasi Kemerdekaan terlepas dari segala kaitan dengan Jepang, rupa-rupanya tidak membuahkan hasil. Agaknya keduanya memiliki wibawa yang cukup besar. Para pemuda yang membawanya ke Rengasdengklok, segan untuk melakukan penekanan terhadap keduanya. Sukarni dan kawan-kawannya, hanya dapat mendesak Soekarno-Hatta untuk menyatakan proklamasi secepatnya seperti yang telah direncanakan oleh para pemuda di Jakarta .


Akan tetapi, Soekarno-Hatta tidak  mau didesak begitu saja. Keduanya, tetap berpegang teguh pada perhitungan dan  rencana mereka sendiri. Di sebuah  pondok  bambu berbentuk panggung  di tengah persawahan Rengasdengklok, siang itu terjadi perdebatan panas; 


”Revolusi berada di tangan kami sekarang dan kami memerintahkan Bung, kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, lalu …”. 

”Lalu apa ?” teriak Bung Karno sambil beranjak dari kursinya, dengan kemarahan yang menyala-nyala. 

Semua terkejut, tidak seorang pun yang bergerak atau berbicara.


Waktu suasana tenang kembali. Setelah Bung Karno duduk. 

Dengan suara rendah ia mulai berbicara;

 ”Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. 

Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 “. 

”Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?” tanya Sukarni. 

”Saya seorang yang percaya pada mistik”. 

Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. 

Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. 

Angka 17 adalah angka suci. 

Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. 

Tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. 

Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “.


Demikianlah antara lain dialog antara Bung Karno dengan para pemuda di Rengasdengklok sebagaimana ditulis Lasmidjah Hardi (1984:61).   


Sementara itu, di Jakarta, antara Mr. Ahmad Soebardjo dari golongan tua dengan Wikana dari golongan muda membicarakan kemerdekaan yang   harus dilaksanakan  di Jakarta. Laksamana Tadashi Maeda, bersedia untuk menjamin keselamatan mereka selama berada di rumahnya. Berdasarkan kesepakatan itu, Jusuf Kunto dari pihak pemuda, hari itu juga mengantar Ahmad Soebardjo bersama sekretaris pribadinya, Sudiro, ke Rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta.


3. Penyusunan Naskah Proklamasi


Rombongan penjemput  tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00. Ahmad Soebardjo memberikan jaminan, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan diumumkan pada tanggal 17 Agustus 1945, selambat-lambatnya pukul 12.00. Dengan jaminan itu, komandan kompi PETA setempat, Cudanco Soebeno, bersedia melepaskan Soekarno dan Hatta kembali  ke Jakarta (Marwati Djoened Poesponegoro,  ed. 1984:82-83).   


Rombongan Soekarno-Hatta tiba di Jakarta sekitar pukul 23.00. Langsung menuju rumah Laksamana Tadashi Maeda di Jalan Imam Bonjol No.1, setelah lebih dahulu menurunkan Fatmawati dan putranya di rumah Soekarno. 


Rumah Laksamada  Maeda, dipilih sebagai tempat penyusunan teks Proklamasi karena sikap Maeda sendiri yang memberikan jaminan keselamatan pada Bung Karno  dan tokoh-tokoh lainnya.


De Graff yang dikutip Soebardjo (1978:60-61) melukiskan sikap Maeda seperti ini. 


Sikap dari Maeda tentunya memberi kesan aneh bagi orang-orang Indonesia itu, karena perwira Angkatan Laut ini selalu berhubungan dengan rakyat Indonesia.  Sebagai seorang perwira Angkatan Laut yang telah melihat lebih banyak dunia ini dari rata-rata seorang perwira Angkatan Darat, ia mempunyai pandangan yang lebih tepat tentang keadaan dari orang-orang militer yang agak sempit pikirannya. Ia dapat berbicara dalam beberapa bahasa. Ia adalah pejabat yang bertanggungjawab atas Bukanfu di Batavia; kantor pembelian Angkatan Laut di Indonesia. Ia tidak khusus membatasi diri hanya pada tugas-tugas militernya saja, tetapi agar dirinya dapat  terbiasa dengan suasana di Jawa , ia membentuk suatu kantor penerangan bagi dirinya di tempat yang sama yang pimpinannya dipercayakan kepada Soebardjo.


Melalui  kantor inilah, yang menuntut biaya yang tidak  sedikit  baginya, ia  mendapatkan pengertian tentang masalah-masalah di Jawa lebih baik dari yang didapatnya dari buletin-buletin resmi Angkatan Darat. Terlebih-lebih ia memberanikan diri untuk mendirikan asrama-asrama bagi nasionalis-nasionalis muda Indonesia. 


Pemimpin-pemimpin terkemuka, diperbantukan sebagai guru-guru untuk mengajar di asrama itu. Doktrin-doktrin yang agak radikal dipropagandakan. Lebih lincah dari orang-orang militer, ia berhasil mengambil hati dari banyak nasionalis yang tahu pasti bahwa keluhan-keluhan dan keberatan-keberatan mereka selalu bisa dinyatakan kepada Maeda. Sikap Maeda seperti inilah yang memberikan keleluasaan kepada para tokoh nasionalis untuk melakukan aktivitas yang maha penting bagi masa depan bangsanya.


Malam itu, dari rumah Laksamana Maeda, Soekarno dan Hatta ditemani Laksamana Maeda menemui Somobuco (kepala  pemerintahan umum), Mayor Jenderal Nishimura, untuk menjajagi sikapnya mengenai pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. 


Nishimura mengatakan bahwa karena Jepang sudah  menyatakan menyerah kepada Sekutu,  maka berlaku ketentuan bahwa tentara Jepang tidak diperbolehkan lagi mengubah status quo. Tentara Jepang diharuskan tunduk kepada perintah tentara Sekutu. Berdasarkan garis kebijakan itu, Nishimura melarang Soekarno-Hatta mengadakan rapat PPKI dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan.


 Melihat kenyataan ini, Soekarno-Hatta sampai pada kesimpulan bahwa tidak ada gunanya lagi untuk membicarakan soal kemerdekaan Indonesia dengan Jepang. Mereka hanya berharap agar pihak Jepang  tidak menghalang-halangi pelaksanaan proklamasi kemerdekaan oleh rakyat Indonesia sendiri (Hatta, 1970:54-55).   Setelah pertemuan itu, Soekarno dan Hatta  kembali ke rumah Laksamana Maeda.


Di ruang makan rumah Laksamana Maeda itu dirumuskan teks proklamasi kemerdekaan. Maeda, sebagai tuan rumah, mengundurkan diri ke kamar tidurnya di  lantai dua ketika peristiwa bersejarah itu berlangsung. Miyoshi, orang kepercayaan Nishimura, bersama Sukarni, Sudiro, dan B.M. Diah menyaksikan Soekarno, Hatta, dan Ahmad Soebardjo membahas rumusan teks Proklamasi. Sedangkan  tokoh-tokoh lainnya,  baik  dari golongan tua maupun  dari  golongan pemuda, menunggu di serambi muka.   


Menurut Soebardjo (1978:109) di ruang makan rumah Laksamana Maeda menjelang tengah malam,  rumusan  teks Proklamasi yang akan dibacakan esok harinya disusun. Soekarno menuliskan  konsep proklamasi pada secarik kertas. Hatta dan Ahmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan.


Kalimat pertama dari teks Proklamasi merupakan saran Ahmad Soebardjo yang diambil dari rumusan   Dokuritsu Junbi Cosakai, sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan pikiran Mohammad Hatta. Hatta menganggap kalimat pertama hanyalah merupakan pernyataan dari kemauan bangsa Indonesia untuk menentukan nasibnya sendiri, menurut pendapatnya perlu ditambahkan pernyataan mengenai pengalihan   kekuasaan  (transfer of sovereignty). Maka dihasilkanlah rumusan terakhir dari teks proklamasi itu.   Setelah kelompok yang menyendiri di  ruang  makan itu selesai merumuskan teks Proklamasi, kemudian mereka menuju serambi muka untuk menemui hadirin yang berkumpul di  ruangan itu.


Saat itu, dinihari menjelang subuh. Jam menunjukkan pukul 04.00, Soekarno mulai membuka pertemuan itu dengan membacakan rumusan teks Proklamasi yang masih merupakan konsep. 


Soebardjo (1978:109-110) melukiskan suasana ketika itu: 

“Sementara teks Proklamasi ditik, kami  menggunakan kesempatan untuk mengambil makanan dan minuman dari ruang  dapur, yang telah disiapkan sebelumnya  oleh tuan rumah kami yang telah pergi ke kamar tidurnya di tingkat atas. Kami belum makan apa-apa, ketika meninggalkan Rengasdengklok. Bulan itu adalah bulan suci Ramadhan dan waktu hampir habis untuk makan sahur, makan terakhir sebelum sembahyang subuh. Setelah kami terima kembali teks yang telah  ditik, kami semuanya menuju ke ruang besar di bagian depan rumah. Semua orang berdiri dan tidak ada kursi di dalam ruangan. Saya  bercampur dengan  beberapa anggota Panitia di tengah-tengah ruangan. Sukarni berdiri  di samping  saya. Hatta berdiri mendampingi Sukarno menghadap para hadirin .


Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi tanggal 17 Agustus 1945, pada saat Soekarno membuka  pertemuan dini hari itu dengan beberapa  patah kata.  

“Keadaan yang mendesak telah memaksa  kita  semua mempercepat pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan. Rancangan teks telah  siap  dibacakan di hadapan saudara-saudara dan saya harapkan benar bahwa saudara-saudara sekalian dapat menyetujuinya sehingga kita dapat berjalan terus dan menyelesaikan pekerjaan kita sebelum fajar menyingsing”.


Kepada mereka yang hadir, Soekarno menyarankan agar bersama-sama  menandatangani  naskah proklamasi selaku wakil-wakil bangsa Indonesia. Saran itu diperkuat oleh Mohammad  Hatta dengan mengambil contoh pada “Declaration of Independence ” Amerika Serikat. Usul itu ditentang oleh pihak pemuda yang  tidak  setuju  kalau tokoh-tokoh  golongan tua yang disebutnya  “budak-budak Jepang” turut menandatangani naskah proklamasi. 


Sukarni mengusulkan agar penandatangan naskah  proklamasi  itu cukup dua orang saja, yakni Soekarno dan Mohammad  Hatta atas  nama bangsa Indonesia . Usul Sukarni itu  diterima oleh hadirin.   Naskah  yang sudah  diketik oleh Sajuti Melik,  segera ditandatangani oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.


Persoalan timbul mengenai  bagaimana Proklamasi itu harus diumumkan  kepada  rakyat  di seluruh Indonesia,  dan juga ke seluruh pelosok dunia. Di mana dan dengan cara bagaimana hal ini harus diselenggarakan? 


Menurut  Soebardjo (1978:113), Sukarni kemudian memberitahukan bahwa rakyat Jakarta dan sekitarnya, telah diserukan untuk datang berbondongbondong  ke lapangan IKADA pada  tanggal 17 Agustus untuk mendengarkan Proklamasi  Kemerdekaan. 


Akan tetapi Soekarno menolak saran Sukarni.


 ” Tidak ,” kata Soekarno, lebih  baik dilakukan  di tempat kediaman saya di Pegangsaan  Timur. Pekarangan  di  depan  rumah cukup luas untuk ratusan orang. Untuk apa kita harus memancingmancing  insiden ? Lapangan  IKADA adalah lapangan umum. Suatu rapat umum, tanpa diatur sebelumnya dengan penguasa-penguasa militer, mungkin akan menimbulkan salah faham. Suatu bentrokan  kekerasan antara rakyat dan penguasa militer yang akan membubarkan rapat umum tersebut, mungkin akan  terjadi. Karena itu, saya minta saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan  Timur 56 sekitar pukul 10.00 pagi .” 


Demikianlah keputusan terakhir dari pertemuan itu.


4. Detik Detik Proklamasi, 17 Agustus 1945


Hari  Jumat di bulan Ramadhan, pukul  05.00 pagi, fajar 17 Agustus 1945 memancar di ufuk timur. Embun pagi masih menggelantung di tepian daun. Para pemimpin bangsa dan para tokoh pemuda keluar dari rumah Laksamana Maeda, dengan diliputi kebanggaan setelah merumuskan teks Proklamasi hingga dinihari. Mereka, telah sepakat untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia hari  itu di rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, pada pukul 10.00 pagi. Bung Hatta sempat berpesan kepada para  pemuda  yang bekerja pada pers dan  kantor-kantor berita, untuk memperbanyak naskah proklamasi dan menyebarkannya ke seluruh dunia (Hatta, 1970:53).


Menjelang pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan, suasana di Jalan Pegangsaan Timur 56 cukup sibuk. Wakil Walikota, Soewirjo, memerintahkan kepada  Mr. Wilopo untuk mempersiapkan peralatan yang diperlukan  seperti mikrofon dan beberapa pengeras suara. Sedangkan Sudiro memerintahkan kepada S. Suhud untuk mempersiapkan  satu tiang bendera. Karena situasi yang tegang, Suhud tidak ingat bahwa di depan rumah Soekarno itu, masih ada dua tiang bendera dari besi yang tidak digunakan. Malahan ia mencari sebatang bambu yang berada di  belakang rumah. Bambu itu dibersihkan dan diberi  tali. Lalu ditanam beberapa langkah saja dari teras rumah.


Bendera  yang dijahit  dengan  tangan oleh Nyonya  Fatmawati Soekarno sudah disiapkan. Bentuk dan ukuran bendera itu tidak  standar, karena kainnya berukuran tidak  sempurna. Memang, kain itu awalnya tidak disiapkan untuk bendera.   


Sementara  itu, rakyat yang telah mengetahui  akan dilaksanakan Proklamasi Kemerdekaan telah berkumpul. Rumah Soekarno telah dipadati oleh sejumlah massa pemuda dan rakyat yang berbaris teratur. Beberapa orang  tampak gelisah, khawatir akan adanya pengacauan dari pihak Jepang. Matahari semakin tinggi, Proklamasi belum juga dimulai.


Waktu itu Soekarno terserang  sakit,  malamnya panas dingin terus menerus  dan baru  tidur  setelah selesai merumuskan teks Proklamasi. Para undangan telah banyak  berdatangan, rakyat yang telah menunggu  sejak pagi, mulai tidak sabar lagi. Mereka  yang diliputi suasana tegang berkeinginan keras agar Proklamasi segera dilakukan. 


Para pemuda yang tidak sabar, mulai mendesak Bung Karno untuk segera membacakan  teks Proklamasi. 


Namun, Bung Karno tidak mau membacakan teks Proklamasi tanpa kehadiran Mohammad Hatta. 


Lima menit sebelum acara dimulai, Mohammad Hatta datang dengan pakaian putih-putih  dan langsung menuju kamar Soekarno. 


Sambil menyambut kedatangan Mohammad Hatta, Bung Karno bangkit dari tempat tidurnya, lalu berpakaian.  Ia  juga mengenakan stelan putih-putih. Kemudian keduanya menuju tempat upacara.  Marwati Djoened Poesponegoro (1984:92-94) melukiskan upacara pembacaan teks Proklamasi itu.


Upacara itu berlangsung sederhana saja. Tanpa protokol. 

Latief Hendraningrat, salah  seorang  anggota  PETA, segera memberi aba-aba kepada seluruh barisan pemuda yang telah menunggu  sejak pagi untuk berdiri. 

Serentak semua berdiri tegak dengan sikap sempurna. 

Latief kemudian mempersilahkan Soekarno dan Mohammad Hatta  maju beberapa  langkah mendekati mikrofon. 

Dengan suara mantap dan jelas, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat  sebelum membacakan teks proklamasi.


“Saudara-saudara sekalian ! saya telah minta saudara hadir di sini, untuk menyaksikan suatu peristiwa maha penting dalam sejarah kita. 

Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia  telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita. 

Bahkan telah beratus-ratus tahun. 

Gelombangnya aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya. 

Tetapi jiwa  kita tetap menuju ke arah cita-cita. 

Juga di dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak berhenti. 

Di dalam jaman  Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri. Tetap kita percaya pada kekuatan sendiri. 

Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil  nasib bangsa dan nasib tanah air  kita  di dalam tangan kita sendiri. 

Hanya bangsa yang  berani mengambil nasib dalam tangan  sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. 

Maka kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari seluruh Indonesia, permusyawaratan itu seia-sekata  berpendapat,  bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.


Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan  tekad itu. 

Dengarkanlah Proklamasi kami: 

PROKLAMASI; 

Kami  bangsa Indonesia 

dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia. 

Hal-hal  yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. 

Jakarta , 17 Agustus 1945. 

Atas nama bangsa Indonesia 

Soekarno/Hatta.   


Demikianlah saudara-saudara! 

Kita sekarang telah merdeka. 

Tidak ada satu ikatan lagi  yang mengikat tanah air kita dan bangsa  kita! 

Mulai saat  ini kita menyusun  Negara  kita!  

Negara Merdeka.  

Negara Republik Indonesia  merdeka, kekal, dan abadi. 

Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu”. (Koesnodiprojo, 1951).

 

Acara, dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. 


Soekarno dan Hatta maju beberapa langkah menuruni anak tangga terakhir dari serambi muka, lebih kurang dua meter di depan tiang. 

Ketika S. K. Trimurti diminta maju untuk mengibarkan bendera, dia menolak: ” lebih baik seorang prajurit ,” katanya. 

Tanpa ada yang menyuruh, Latief Hendraningrat yang berseragam PETA berwarna hijau dekil maju ke dekat tiang bendera. 

S. Suhud  mengambil bendera dari  atas baki  yang  telah disediakan  dan mengikatnya pada tali dibantu oleh Latief Hendraningrat.     

Bendera dinaikkan perlahan-lahan. 

Tanpa ada yang memimpin, para hadirin dengan spontan menyanyikan lagu Indonesia Raya. 

Bendera dikerek dengan  lambat sekali, untuk menyesuaikan dengan irama lagu Indonesia Raya yang cukup panjang. 

Seusai pengibaran  bendera, dilanjutkan dengan pidato sambutan dari Walikota Soewirjo dan dr. Muwardi.


Setelah upacara pembacaan Proklamasi  Kemerdekaan, Lasmidjah Hardi (1984:77) mengemukakan bahwa ada sepasukan  barisan pelopor yang berjumlah kurang  lebih 100 orang di bawah pimpinan S. Brata, memasuki halaman rumah Soekarno. Mereka datang terlambat. 


Dengan suara lantang penuh kecewa S. Brata meminta agar Bung  Karno membacakan  Proklamasi sekali lagi. 

 Mendengar teriakan itu Bung  Karno tidak  sampai  hati,  ia  keluar  dari kamarnya. 

Di depan corong mikrofon ia menjelaskan bahwa Proklamasi hanya diucapkan satu kali dan berlaku untuk selama-lamanya. 

Mendengar  keterangan itu  Brata belum merasa puas, ia meminta agar Bung Karno memberi  amanat singkat. 

Kali ini permintaannya dipenuhi.


Selesai  upacara itu rakyat masih belum mau beranjak, beberapa anggota Barisan Pelopor masih duduk-duduk bergerombol di depan kamar Bung Karno.   

Tidak lama setelah Bung Hatta pulang, menurut Lasmidjah Hardi (1984:79) datang tiga orang pembesar Jepang. Mereka diperintahkan menunggu di ruang belakang, tanpa  diberi kursi. 

Sudiro sudah dapat menerka, untuk apa mereka datang. 

Para anggota Barisan Pelopor mulai mengepungnya. 

Bung Karno sudah memakai piyama ketika Sudiro masuk, sehingga  terpaksa  berpakaian  lagi. 


Kemudian terjadi dialog antara utusan Jepang dengan Bung Karno: 

”Kami  diutus oleh Gunseikan Kakka, datang kemari untuk melarang Soekarno mengucapkan Proklamasi .” 

”Proklamasi sudah saya ucapkan,” jawab Bung  Karno dengan tenang. 

”Sudahkah ?” tanya utusan Jepang itu keheranan. 

”Ya, sudah !” jawab Bung Karno. 


Di sekeliling  utusan Jepang itu, mata para  pemuda melotot dan tangan mereka sudah diletakkan di atas golok masing-masing. 

Melihat kondisi seperti itu, orang-orang Jepang itu pun segera pamit.


Sementara  itu, Latief Hendraningrat tercenung memikirkan kelalaiannya. Karena dicekam suasana tegang, ia lupa menelpon Soetarto dari PFN untuk mendokumentasikan peristiwa itu. Untung ada Frans Mendur dari IPPHOS yang plat filmnya tinggal tiga lembar (saat itu belum ada rol film). Sehingga dari seluruh peristiwa bersejarah  itu, dokumentasinya hanya ada tiga; yakni sewaktu Bung Karno membacakan teks Proklamasi, pada saat pengibaran  bendera,  dan  sebagian  foto hadirin yang menyaksikan peristiwa itu.


Peristiwa  besar  bersejarah yang  telah mengubah jalan sejarah bangsa Indonesia itu berlangsung  hanya sekira  satu  jam, dengan penuh kehidmatan. Sekalipun sangat sederhana, namun ia telah membawa perubahan  yang  luar biasa  dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. 


“Gema lonceng kemerdekaan”  terdengar  ke seluruh  pelosok Nusantara dan menyebar ke seantero dunia. 


Para  pemuda, mahasiswa,  serta pegawai-pegawai bangsa Indonesia pada jawatan-jawatan perhubungan yang penting giat bekerja menyiarkan isi proklamasi itu  ke seluruh pelosok negeri. Para wartawan Indonesia yang bekerja pada kantor berita Jepang Domei , sekalipun telah disegel oleh pemerintah Jepang, mereka berusaha menyebarluaskan gema Proklamasi itu ke seluruh dunia.   


Dirgahayu Indonesiaku!

10 Agustus 2020

GERAKAN-GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM

 

 Gerakan Pan Islamisme

Pan Islamisme dalam pengertian yang luas adalah rasa sol- idaritas antara seluruh umat Islam. Atau dengan kata lain bisa juga diartikan persatuan seluruh umat Islam.

Gagasan Pan  Islamisme ini  muncul  pada  pertengahan abad ke-19. pencetusnya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Al-Afghani melihat pada saat itu, umat Islam be- rada dalam kemunduran yang sangat membahayakan. Menurut Al-Afghani, kemunduran  umat Islam, bukan karena ajaran Is- lam, tetapi karena umat Islam itu sendiri yang tidak mau beru- saha merubah nasIbnya sendiri. Umat Islam terpengaruh oleh faham fatalisme sehingga menjadi statis, tidak dinamis.

Dilihat dari segi politik, menurut  Al-Afghani, kemundu- ran umat Islam disebabkan perpecahan di kalangan umat Islam, pemerintahan yang absolut, mempercayakan pimpinan kepada orang yang tidak dipercaya, mengabaikan masalah kemiliter- an, menyerahkan administrasi kepada orang-orang yang tidak kompeten dan adanya intervensi asing. Intervensi asing terli- hat bagaimana Inggris ikut campur dalam masalah politik dan ekonomi dunia Islam, seperti di India dan Mesir.

Melihat kondisi umat Islam ini, Al-Afghani insaf, bahwa dunia Islam yang lemah diancam oleh Barat yang kuat dan dina- mis. Lebih-lebih persaudaraan umat Islam lemah.

Untuk memajukan kembali umat Islam, menurut  Al-Af- ghani, tidak ada jalan lain, kecuali mewujudkan kembali per- saudaraan Islam di zaman klasik. Dengan persatuan dan kerja sama yang baik di antara umat Islam, pada gilirannya akan dapat membela dan membebaskan diri dari intervensi dan penjajahan


bangsa asing. Jadi untuk tujuan inilah, kelihatannya ide-ide Pan Islamisme ini dicetuskan dan dikobarkan di negara-negara Is- lamyang sedang berada dalam kemunduran dan jajahan bangsa asing.

Pan Islamisme ini mempunyai  pengaruh  besar, sebagai contoh, Sultan Abd. Hamid II (1876-1909) dari kerajaan Turki Usmani menyambut baik gagasan ini. Ia mendirikan organisasi propaganda Pan Islamisme, dan ia mengirimkan utusan-utusan yang tidak terhitung jumlahnya ke negeri-negeri Islam, dengan membawa pesan dan harapan agar dapat bersiap-siap melepas- kan diri dari penjajahan Barat. Propaganda ini berjalan selama

30 tahun. Efek inilah yang kemudian hari melahirkan pemimpin nasionalisme di kalangan umat Islam yang berjuang menuntut kemerdekaan negeri mereka dari kolonialisme Barat.

 

Gerakan Nasionalisme

Gerakan nasionalisme adalah gerakan kebangsaan. Ga- gasan ini berasal dari Barat yang masuk ke negeri-negeri Muslim melalui persentuhan  umat Islam dengan Barat yang menjajah mereka dan dipercepat oleh banyaknya pelajar muslim menun- tut ilmu ke Eropa atau lembaga-lembaga pendidikan Barat yang didirikan  di negeri mereka. Gagasan kebangsaan ini awalnya banyak mendapat tantangan dari pemuka-pemuka Islam karena dipandang tidak sesuai dengan semangat ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, ia berkembang cepat gagasan Pan Islamisme redup. Gerakan ini banyak muncul di negeri-negeri muslim, terutama setelah perang dunia pertama.

 

1. Mesir


Masuknya Napoleon ke Mesir (1798) tanpa perlawanan yang berarti dari umat Islam kembali menyadarkan  umat Is- lam akan  kemerdekaan  kebudayaannya. Pada masa selanjut- nya memunculkan  gagasan-gagasan besar bagi para  pemikir dan  pemimpin  umat  Islam khususnya  di  Mesir. Patriotisme Mesir dipelopori oleh Al-Tahtawi (1801-1873) yang berpendi- rian bahwa Mesir dan negara lain baru bisa maju bila berada di bawah penguasa sendiri, bukan di bawah orang asing. Nasion- alisme Mesir dipelopori oleh Musthafa Kamil (lahir 1874) yang mendirikan partai Hizb al-Wathan untuk memperjuangkan ke- merdekaan Mesir dari kekuasaan Inggris. Musthafa Kamil tidak berusia panjang, ia meninggal pada tahun 1908 dalam usia 34 tahun. Perjuangannya dilanjutkan oleh Muhammad Faried Bey (1867-1919), ia adalah pemimpin majalah “Al-Liwa”. Lewat ma- jalah ini, ia mengumandangkan semangat nasionalisme.

Setelah perang dunia pertama, gerakan nasionalisme dipelopori oleh Saad Zaghniul Pasya (1857-1927). Atas perjuan- gannya pada bulan Pebruari 1922 Mesir diakui kemerdekaannya dan Saad Zaghlul Pasya dijadikan sebagai perdana menteri per- tama Mesir.

2. Turki

Setelah perang dunia pertama, keadaan Turki Usmani itu bukan saja kehilangan daerah-daerah jajahannya, bahkan juga negerinya sendiri terancam puna dari muka bumi. Tentara se- kutu dari Inggris dan Prancis sudah menginjak ibukota Turki Usmani, yaitu Istambul. Tetapi kebangkitan semangat nasional dapat berhasil menghalaunya. Akhirnya, pada tanggal 25 Juli

1925 ditandatangani perjanjian Lausanue, dan pemerintah Mus- tafa Kemal mendapatkan pengakuan internasional.


3. India-Pakistan

Sejak tahun  1857, setelah hancurnya  kerajaan Mughal, India menjadi jajahan Inggris. Penduduk India yang kebanyaan dari umat Hindu dan Islam. Masing-masing selalu berusaha un- tuk melepaskan diri dari jajahan Inggris.

Pembaharu-pembaharu di India mempunyai peranan masing-masing, sengaja atau tidak, dalam perwujudan Pakistan, Sayyid Ahmad Khan dengan idenya tentang pentingnya ilmu pengetahuan, Sayyid Amir Ali dengan idenya bahwa Islam tidak menentan ilmu pengetahuan dab kemajuan modern, dan Iqbal dengan ide dinamikanya, amat membantu bagi usaha Jinnah da- lam menggerakkan umat Islam di India, yang seratus tahun lalu masih merupakan masyarakat yang berada dalam kemunduran, untuk  menciptakan  negara dan masyarakat Islam modern  di anak benua India. Philip K.Hitti. 243-244.

Gerakan-gerakan pembebasan yang mulai dari Pan Isla- misme dan Nasionalisme kemudian mengilhami umat Islam di seluruh dunia akan pentingnya kebebasan dan kemajuan diri, baik dari sisi politik kenegaraan maupun  sians dan ilmu pen- getahuan. Gerakan-gerakan Ini yang menjadikan Islam begitu diperhitungkan dalam percaturan politik kenegaraan di dunia.

 

Era Kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam banyak dipelopori oleh tokoh-tokoh karismatik, di antaranya; Jamaluddin al-Afghani 1838-1897 M, Syaikh Muhammad  Abduh  1849-1905 M bersama muridnya Syaikh Rashid Ridha 1856-1935 M, yang mengumandangkan ruh jihad dan ijtihad. Al-Afghani, menulis buku dalam bahasa Persia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muham-


mad Abduh dengan judul Ar-Ruddu ‘alad-Dahriyin Penolakan atas Paham Materialisme. Al-Afghani, memperingatkan bahwa terdensi berbahaya yang melekat pada kebudayaan Barat adalah “materialisme”.

Lewat poyek politiknya yang terkenal dengan “Pan-Isla- misme”, al-Afghani terkenal sebagai seorang arsitek dan aktivis “revitalis Muslim pertama” yang menggunakan  konsep “Islam dan Barat sebagai fenomena sejarah yang berkonotasi korelatif dan sekaligus bersifat antagonistik. Seruang al-Afghani kepada dunia dan umat Islam untuk menentang dan melawan Barat, se- bab al-Afghani melihat kolonialisme Barat sebagai musuh yang harus dilawan karena mengancam Islam dan umatnya. Semen- tara disisi lain, al-Afghani juga menghimbau dan menyerukan kepada  umat  Islam untuk  mengembangkan  akal dan  teknik seperti yang dilakukan oelh Barat agar kaum Muslimin menjadi kuat. Ide pembaruan dan kebangkitan Islam yang dilancarkan oleh Muhammad Abduh, pembaru dari Mesir itu, juga memiliki pengaruh yang luas. Gagasan-gagasan pembaruan Abduh difor- mulasikan oleh HAR Gibb ke dalam empat butir penting, yaitu :

1.  Memurnikan   Islam  dari  pengaruh-pengaruh   dan  prak- tik-praktik yang merusak.

2.  Melakukan reformasi pendidikan tinggi Islam.

3.  Melakukan reformasi doktrin Islam berdasarkan pemikiran modern.

4.  Mempertahankan Islam dari serangan-serangan Barat-Kris- ten.

Muhammad Iqbal 1873-1938 M dari India, seorang pen- yair sekaligus filosof, yang banyak mendalami kebudayaan Barat dan kebudayaan Islam. Iqbal lewat puisi-puisinya merangsang


dan membangun semangat juang ummat Islam untuk kejayaan Islam. Iqbal memperingatkan bahwa cita etis dalam kebudayaan Barat telah digantikan oleh paham serba guna utilitarianisme dalam bentuknya yang kasar, yaitu serba dagang atau komersial- isme. Oleh karena itu, Iqbal lewah sebuah pusinya mengkritik kebudayaan Barat, yaitu : “Akal budi dan agama telah diperdaya bid’ah.  Dan cuta-cita asyik’lah  dialihkan serba dagang semata. Kau berserikat dengan benda, Tak memberikan padamu apa-apa, kecuali perhiasan zahir. Kamatian  mencanangkan kedatangan hidup baru untuk dunia.

Kesempatan-kesempatan baik bagi Islam semakin ter- buka  juga dengan  telah bangkinya negara-negara  Islam dari cengkraman penjajahan, terutama di Asia dan Afrika, yang ber- penduduk mayoritas Islam. Selain itu, telah didirikan organisa- si-organisasi Islam untuk menggalang persatuan dan kesatuan Islam secara internasional, yang sangat berguna bagi forum di- alog dalam merundingkan  permasalahan-permasalahan  Islam dan sekaligus memecahkannya. Diskusi, konsultasi dan konsol- idasi makin terasa intensif dilakukan di Dunia Islam. Organisa- si-organisasi Islam internasional itu di antaranya dapat disebut World Muslim Conggres, bermarkas di Karachi, World Muslim League [Rabithah Alam Islamy, berpusat di Mekkah dan Majlis A’la al-Alamy lil-Masajid Dewan Masjid se-Dunia, berkedudu- kan di Mekkah. Di samping itu muncul pula pusat-pusat Islam Islamic Centre di berbagai kota dan negara seperti di Washing- ton, Londong, Jepang, Belanda, Jerman dan sebagainya. Maka dengan lewat borsur-brosur dari oragnisasi-organisasi tersebut, ajaran-ajaran Islam disebarkan menebus radius lingkungan yang lebih luas.


Dalam gerakan kebangkitan  kembali itu  terlihat  pula kemajuan  pembangunan  ekonomi  yang sedikit demi  sedikit menanjak maju di kalngan negara-negara Islam. Bangsa-bangsa Arab di kawasan Timur Tengah dengan kekayaan minyaknya se- makin memperlihatkan getaran-getaran kemajuan. Negara-neg- ara Arab ini sempat membuat resah negara-negara industri Barat dengan politik “embargi minyak”-nya ketaika terjadi perang Ar- ab-Israil di tahun 1970-an. Embargo minyak oleh negara-neg- ara Arab ini telah mencemaskan negara-negara Barat bagi ke- langsungan hidup industri-industri  mereka. Sekarang ini, pada dekade 2000-an negara Pakistan dan Iran, juga menggetarkan negara Eropa dan Barat dengan program teknologi nuklirnya.

Proses  kebangkitan  kebudayaan  Islam  makin  terasa. Ini tidak lain karena Islam itu sendiri yang menjadi energi ru- haniah dan etos akliyah. Energi, vitalitas dan etos inilah yang memberi semangat “renaissance” kebudayaan di kalangan umat Islam dewasa ini. Menarik apa yang ditulis seorang guru besar dari universitas McGill, Charles J. Adams, bahwa : Tercapainya kemerdekaan  politik dan  berkembangnya kesadaran nasional di kalangan umat Islam disertai satu renaissance kebudayaan. Umat Islam menoleh kembali kepada sejarah kejayaan mereka di zaman lampau untuk menemukan kembali identitas mereka, ser- ta mendapatkan bimbingan hidup dalam menghadapi keadaan dan persoalan-persoalan yang serba sulit dan berat dalam dunia medern sekarang. Setelah mereka kehilangan vitalitas selama be- berapa abad sampai sekarang, Islam sekali lagi menempuh masa kebangkitannya. Umat Islam yang berjumlah 1/7 atau lebih dari jumlah penduduk dunia, setiap hari meningkat baik dalam jum- lahnya atau pun dalam kekayaannya dan nilai kedudukannya.


Vilatitas baru di kalangan umat Islam ini juga membawa kebangkitan dalam arti religius [keagamaan] di antara mereka sendiri. Di tengah-tengah mereka mengalami kemerosotan dari dalam dan menghadapi tekanan-tekanan  dari luar, mereka be- rusaha memurnikan  dan memuliahkan  segi-segi penting dari ajaran agama yang mereka warisi. Islam telah mencapai dinami- ka baru dan merupakan suatu kekuatan utama yang mendorong umat Islam untuk memperoleh kedudukan lebih baik di dunia ini. Maka, jika dikaitkan dengan situasi dunia Islam dewasa ini, apa yang ditulis Adams, agaknya tidak jauh berbeda, bahkan it- ulah yang sebenarnya terjadi: kebangkitan Islam dengan renais- sance kebudayaannya.


 

PERKEMBANGAN PERADABAN BANI UMAIYAH I DAMASKUS

 

 

1.     Proses Kodifikasi Hadis Masa Khalifah Umar bin Abdul Azis

Pengumpulan dan penyempurnaan hadis terjadi pada masa pemerintahan khalifah ke-8 Bani Umaiyah, Umar bin Abdul Azis tahun 99 – 101 H. Khalifah Umar menginstruksikan kepada gubernur Madinah yang memerintah pada waktu itu agar segera mengumumkan pada masyarakat umum tentang gerakan penghimpun dan penyempurnaan hadis. Kebijakan tersebut dilakukan oleh khalifah Umar karena kondisi di lapangan, hadis telah diselewengkan dan telah bercampur aduk dengan ucapan-ucapan israiliyat, hadis difungsikan untuk menguatkan kedudukan kelompok-kelompok tertentu seperti, Bani Umaiyah, kelompok khawarij dan kelompok syiah yang saling berebut membuat hadis-hadis untuk menguatkan eksistensi kelompok masing-masing. Setelah perintah dari gubernur Madinah atas instruksi dari khalifah Umar bin Abdul Azis, maka berangkatlah sahabat-sahabat nabi dan beberapa thobiin untuk mencari dan menyeleksi hadis-hadis nabi. Imam-imam hadis berjuang  dngan sungguh-sunggu,  sabar  dan  istiqamah  di dalam mencari  dan melacak sebuah  hadis. Mereka  mengembar  sampai  di wilayah-wilayah  yang setelah mengetahui bahwa ada  sumber  hadis di  wiayah  terbut. Berhari-hari, bermnggu-miggu, berbulan –bulan bahkan  betahun-tahun  mereka   dengan sabar mencari dan mengejar  informasi  tentang keberadan  sebuha hadis.  Imam-imam  hadis  yang sangat terkenal seperti Bukhari, Muslim, Nasai, Turmizi, Ahmad bin Hambal dan Zarqutni . Merka  ini  yang dengan  serius  meluangkan  waktunya mencari,melacak  dan  selanjutnya menyeleksi  dan mengimpun hadis. Dengn upaya keras  dari para imam-imam  hadis ini, maka jadilah  kitab- kitab  hadis  yang  sering  kita  baca  dan mengambil hadis  sebagai  rujukan dan  refrensi.

 

2.    Proses Perkembangan Ilmu Pengetahuan Masa Bani Umaiyah I   

Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman permulaan Islam termasuk masa Bani Umaiyah I meliputi 3 bidang yaitu bidang Diniyah, bidang Tarikh dan bidang Filsafat. Pembesar Bani Umaiyah tidak berupaya untuk mengembangkan peradaban lainnya. Akan tetapi Bani Umaiyah secara khusus menyediakan dana tertentu untuk pengembangan ilmu pengetahuan, para khalifah mengangkat ahli-ahli cerita dan mempekerjakan mereka dalam lembaga-lembaga ilmu berupa masjid-masjid dan lembaga lainnya yang disediakan oleh pemerintah. Kebijakan ini mungkin karena didorong oleh beberapa hal :

1.    Pemerintah Bani Umaiyah I dibina atas dasar kekerasan karena itu mereka membutuhkan ahli syair, tukang kisah dan ahli pidato untuk bercerita menghibur para khalifah dan pembesar istana.

2.    Jiwa Bani Umaiyah adalah jiwa Arab murni yang belum begitu berkenalan dengan filsafat dan tidak begitu serasi dengan pembahasan agama yang mendalam. Mereka merasa senang dan nikmat dengan syair-syair yang indah dan khutbah-khutbah balighah (berbahasa indah).

 

Para ahli sejarah menyimpulkan bahwa perkembangan gerakan ilmu pengetahuan dan budaya pada masa Bani Umaiyyah I memfokuskan pada tiga gerakan besar yaitu ;       

a)         Gerakan ilmu agama, karena didorong oleh semangat agama yang sangat kuat pada saat itu.

b)         Gerakan filsafat, karena ahli agama diakhir daulah Umaiyah I terpaksa  menggunkan  filsafat untuk menghadapi kaum Nasrani dan Yahudi.

c)         Gerakan sejarah, karena ilmu-ilmu agama memerlukan riwayat.

 

3.    Peradaban yang Tumbuh pada Masa Bani Umaiyah I

Pengembangan budaya, filsafat dan ilmu pada masa Bani Umaiyah I difokuskan pada beberapa bidang, diantaranya :

1.    Ilmu Pengetahuan;

a.    Ilmu Tafsir

Setelah Daulah Umaiyah I berdiri, maka kaum muslim berkhajat kepada hukum dan undang-undang yang bersumber dari al qur’an sedangkan para qurra dan mufassirin menjadi tempat bertanya masyarakat dalam bidang hukum. Pada zaman ini keberadaan tafsir masih berkembang dalam bentuk lisan dan belum dibukukannya. Ilmu tafsir pada saat itu belum berkembang seperti pada zaman Bani Abasiyah.

 

b.   Ilmu Hadis

Pada saat mengartikan makna ayat-ayat al qur’an, kadang-kadang para ahli hadis kesulitan mencari pengertian dalam hadis karena terdapat banyak hadis yang sebenarnya bukan hadis. Dari kondisi semacam ini maka timbullah usaha para muhaddisin untuk mencari riwayat dan sanad alhadis, yang proses seperti ini pada akhirnya berkembang menjadi ilmu hadis dengan segala cabang-cabangnya. Perkembangan hadist diawali dari masa khalifah Umar bin Abdul Azis dan ulama hadis yang mula-mula membukukan hadis yaitu Ibnu Az Zuhri atas perintah khalifah Umar bin Abdul Azis.

 

c.    Ilmu Qiraat

Dalam sejarah perkembangan ilmu, yang pertama sekali berkembang adalah ilmu qiraat. Cabang Ilmu ini mempunyai kedudukan yang sangat penting pada permulaan Islam sehingga orang-orang yang pandai membaca al-quran pada saat itu disebut para Qurra. Setelah pembukuan dan penyempurnaan al-qur’an pada masa khulafaurrasyidin dan al-qur’an yang sah dikirim ke berbagai kota wilayah bagian maka lahirlah dialek bacaan tertentu bagi masing-masing penduduk kota tersebut dan mereka mengikuti bacaan seorang qari’ yang dianggap sah bacaannya. Akhirnya mucul dan masyhurlah tujuh macam bacaan yang sekarang terkenal dengan nama Qiraat sab’ah kemudian selanjutnya ditetapkan sebagai bacaan standar atau dasar bacaan .          

d.   Ilmu Nahwu

Memulai mempelajari tata Bahasa Arab yang dikenal dengan nama nahu adalah ketika seorang bayi memulai berbicara di lingkungannya. Tanpa tata bahasa maka pembicaraan tidak akan baik dan benar. Setelah banyak bangsa di luar bangsa Arab masuk Islam dan sekaligus wilayahnya masuk dalam daerah kekuasaan Islam maka barulah terasa bagi bangsa Arab dan  mulai di perhatikan degan cara menyusun ilmu nahu. Adapun ilmuwan bidang bahasa pertama yang tercatat dalam sejarah perkembangan ilmu yang menyusun ilmu nahu adalah Abu Aswad Ad Dauly yang wafat tahun 69 H. Tercatat beliau belajar dari shahabat Ali bin Abi Thalib, dengan demikian ada saja ahli sejarah mengatakan bahwa  shaabat Ali bin Abi Thalib-lah adalah bapaknya ilmu nahu.       

e.    Tarikh dan Geografi

Penulisan sejarah Islam dimulai pada saat terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam Islam dan dibukukannya dimulai pada saat Bani Umaiyah dan perkembangan pesat terjadi pada saat Bani Abasiah. Demikian begitu pesatnya perkembangan sejarah Islam sehingga para ilmuan berkecimpung dalam bidang itu dapat mengarang kitab-kitab sejarah yang tidak dapat dihitung banyaknya. Sampai  sekarang prestasi penulisan sejarah pada saat Bani Umaiyah dan Abasiyah tidak dapat ditandingi oleh bangsa manapun, tercatat nama-nama sejarah kitab sejarah yang ditulis pada zaman itu lebih dari 1.300 judul buku.

f.     Seni  Bahasa

Umat  Islam masa  bani Umaiyah  selain telah mencapai kemajuan dalam politik, ekonomi dan  ilmu pengetahuan, qiraat, nahu,  hadis dan  tafsir, dan juga telah tumbuh berkembang seni bahasa. Pada  masa  ini seni dan bahasa mengambil tempat yang penting dalam  hati pmerintah dan masyarakat Islam pada umumnya. Pada saat kota-kota  seperti Bashra dan Kufah adalah pusat perkembangan ilmu dan sastra. Orang-orang  Arab muslim berdiskusi dengn bangsa-bangsa yang telah majudalam hal  bahasa  dan  sastra. Di  kota – kota  tersebut umat  Islam  menyusun riwayat Arab, seni  bahasa dan hikmah atau sejarah, nahu,  sharaf,  balaghah dan  juga berdiri klub-klub para pujangga.

 

2.    Membentuk  dan Menyempurnakan Departeman-departemen Pemerintahan

      Departemen  yang  berkembang  pada  masa   Bani Umaiyah I  adalah  perkembangan dari pemerintahan sebelunya yaitu khulafaurrasyidin. Pada masa pemerintahan khalifah Umar,  beliau  telah membentuk 5 departemen, Nidhmul Maaly, Nidhamul harbi, Nidhamul Idary, Nidamul  Siashi dan Nidhamul Qadhi. Bentuk  departemen  ini dikembangkan  lagi oleh Muawiyah  bin Abi Sufyan dalam bentuk yang lebih luas dan  menyeluruh.

     Departemen  atau  organisasi  yang  berkembang  pada masa  bani Umaiyah 1 adalah;

a.         Diwan Qadhil Qudhah (fungsi dan tugasnya mirip dengan Departemen Kehakiman) yang dipimpin oleh Qadhil Qudhah (Ketua Mahkamah Agung). Semua badan-badan pengadilan atau badan-badan lain yang ada hubungan dengan kehakiman berada di bawah Diwan Qadhil Qudhah.

b.        Qudhah Al Aqali (hakim provinsi yang mengetuai pengadilan tinggi).

c.         Qudhah Al Amsar (hakim kota yang mengetuai pengadilan negeri Al Qadhau atau Al Hisbah).

d.        Al Sulthah Al Qadhaiyah, yaitu jabatan kejaksaan. Di ibukota Negara dipimpin oleh Al Mudda’il Umumi (jaksa agung), dan di tiap-tiap kota oleh Naib Umumi (jaksa).

 

Adapun badan pengadilan ada tiga macam:

a.         Al Qadhau dengan hakimnya yang bergelar Al Qadhi. Tugasnya mengurus perkara-perkara yang berhubungan dengan agama pada umumnya.

b.        Al Hisbah dengan hakimnya yang bergelar Al Muhtasib. Tugasnya menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan masalah-masalah umum dan tindak pidana yang memerlukan pengurusan segera.

c.         An Nadhar fil Madhalim dengan hakimnya yang bergelar shahibul atau qadhil madhalim. Tugasnya menyelesaikan perkara-perkara banding dari kedua pengadilan pertama (Al Qadhau dan Al Hisbah).

 

Selain mengurusi perkara-perkara banding, Mahkamah Madhalim juga mengurusi  hal-hal yaitu:

a.         Pengaduan rakyat atas para gubernur yang memperkosa keadilan, para petugas pajak, pegawai tinggi yang menyeleweng dan lain-lain.

b.        Pengaduan para pegawai dikurangi gajinya atau terlambat pembayarannya.

c.         Menjalankan keputusan-keputusan hakim yang tidak berdaya, kemudian qadhi atau muhtashib yang menjalankannya.

d.        Mengawasi terlaksananya ibadah.

 

Mahkamah Madhalim diketahui oleh khalifah, kalau di ibukota Negara oleh gubernur dan kalau di ibukota wilayah oleh Qadhil Qudhah atau hakim-hakim lain yang mewakili khalifah atau gubernur.

Para hakim waktu mengadili perkara memakai jubah dan sorban hitam, sebagai lambang dari Daulah Abbasiyah. Jubah dan sorban hitam pada waktu itu, khusus untuk para hakim.

1)   Kekuasaan. Perebutan kekuasaan oleh Muawiyh bin Abi Sofyan telah mengakibatkan terjadinya perubahan dalam peraturan yang menjadi dasar pemilihan Khulafaur Rasyidin. Maka dengan demikian, jabatan khalifah beralih ke tangan raja satu keluarga, yang memerintah dengan kekuatan pedang, politik dan tipu daya (diplomasi). Penyelewengan semakin jauh setelah Muawiyah mengangkat anaknya Yazid menjadi putra mahkota, yang dengan demikian berarti beralihnya organisasi khalifah yang berdiri atas dasar Syura dan bersendikan agama kepada organisasi Al Mulk (kerajaan) yang tegak atas dasar keturunan serta bersandar terutama kepada politik dari pada kepada agama.

2)   Al Kitabah. Seperti halnya pada masa permulaan Islam, maka dalam masa Daulah Umayah dibentuk semacam Dewan Sekretariat Negara yang mengurus berbagai urusan pemerintahan. Karena dalam masa ini urusan pemerintahan telah menjadi lebih banyak, maka ditetapkan lima orang sekretaris yaitu;

-          Katib Ar Rasail (Sekretaris Urusan Persuratan)

-          Katib Al Kharraj (Sekretaris Urusan Pajak atau Keuangan)

-          Katib Asy Syurthah (Sekretaris Urusan Kepolisian)

-          Katib Al Qadhi (Sekretaris Urusan Kehakiman)

Diantara para sekretaris itu, Katib Ar Rasail-lah yang paling penting, sehingga para khalifah tidak akan memberi jabatan itu, kecuali kepada kaum kerabat atau orang-orang tertentu. Diantara para kuttab yang paling terkenal selama Daulah Umayah ialah:

-          Zaiyad bin Abihi, sekretaris Abu Musa Al Asy’ary

-          Salim, sekretaris Hisyam bin Abdul Malik

-          Abdul Hamid, sekretaris Marwan bin Muhammad

3)   Al Hijabah. Pada masa Daulah Umayah, diadakan satu jabatan baru yang bernama Al Hijabah, yaitu urusan pengawalan keselamatan khalifah. Mungkin karena khawatir akan terulang peristiwa pembunuhan terhadap Ali dan percobaan pembunuhan terhadap Muawiyah dan Amru bin Ash, maka diadakanlah penjagaan yang ketat sekali terhadap diri khalifah, sehingga siapapun tidak dapat menghadap sebelum mendapat izin dari para pengawal (hujjab). Kepala pengawalan keselamatan khalifah adalah jabatan yang sangat tinggi dalam istana kerajaan, waktu khalifah Abdul Malik bin Marwan melantik kepala pengawalnya, antara lain dia memberi amanat, “Engkau telah kuangkat menjadi kepala pengawalku. Siapapun tidak boleh masuk menghadap tanpa izinmu, kecuali muazzin, pengantar pos dan pengurus dapur”.

Deparemen yang yang  lahir  pada  masa  khulafaur dikembangkan   dan  disempurnakan oleh  bani  Umaiyah terutama pada masa Umiyah ;

a.      An Nidhamul Idari

Organisasi tata usaha Negara pada permulaan Islam sangat sederhana, tidak diadakan pembidangan usaha yang khusus. Demikian pula keadaannya pada masa Daulah Bani Umayyah, administrasi Negara sangat simpel.

Pada umumnya, di daerah-daerah Islam bekas daerah Romawi dan Persia, administrasi pemerintahan dibiarkan terus berlaku seperti yang telah ada, kecuali diadakan perubahan-perubahan kecil.

1)        Ad Dawawin. Untuk mengurus tata usaha pemerintahan, maka Daulah Umayah mengadakan empat buah dewan atau kantor pusat, yaitu:

-     Diwanul Kharraj

-     Diwanur Rasail

-     Diwanul Mustaghilat al Mutanawi’ah

-     Diwanul Khatim, dewan ini sangat penting karena tugasnya mengurus surat-surat lamaran raja, menyiarkannya, menstempel, membungkus dengan kain dan dibalut dengan lilin kemudian diatasnya dicap.

2)        Al Imarah Alal Baldan. Daulah Umayah membagi daerah Mamlakah Islamiyah kepada lima wilayah besar, yaitu:

-     Hijaz, Yaman dan Nejed (pedalaman jazirah Arab)

-     Irak Arab dan Irak Ajam, Aman dan Bahrain, Karman dan Sajistan, Kabul dan Khurasan, negeri-negeri di belakang sungai (Ma Wara’a Nahri) dan Sind serta sebagian negeri Punjab

-     Mesir dan Sudan

-     Armenia, Azerbaijan, dan Asia Kecil

-     Afrika Utara, Libia, Andalusia, Sisilia, Sardinia dan Balyar

-     Untuk tiap wilayah besar ini, diangkat seorang Amirul Umara (Gubernur Jenderal) yang dibawah kekuasaannya ada beberapa orang amir (gubernur) yang mengepalai satu wilayah.

 

Dalam rangka pelaksanaan kesatuan politik bagi negeri-negeri Arab, maka khalifah Umar mengangkat para gubernur jenderal yang berasal dari orang-orang Arab. Politik ini dijalankan terus oleh khalifah-khalifah sesudahnya, termasuk para khalifah Daulah Umayah.

3)        Barid. Organisasi pos diadakan dalam tata usaha Negara Islam semenjak Muawiyah bin Abi Sofyan memegang jabatan khalifah. Setelah khalifah Abdul Malik bin Marwan berkuasa maka diadakan perbaikan-perbaikan dalam organisasi pos, sehingga ia menjadi alat yang sangat vital dalam administrasi Negara.

4)        Syurthah. Organisasi syurthah (kepolisian) dilanjutkan terus dalam masa Daulah Umayah, bahkan disempurnakan. Pada mulanya organisasi kepolisian ini menjadi bagian dari organisasi kehakiman, yang bertugas melaksanakan perintah hakim dan keputusan-keputusan pengadilan, dan kepalanya sebagai pelaksana Al Hudud. Tidak lama kemudian, maka organisasi kepolisian terpisah dari kehakiman dan berdiri sendiri, dengan tugas mengawasi dan mengurus soal-soal kejahatan. Khalifah Hisyam memasukkan dalam organisasi kepolisian satu badan yang bernama Nidhamul Ahdas dengan tugas hampir serupa dengan tugas tentara yaitu semacam brigade mobil.

b.        An Nidhamul Mali

Yaitu organisasi keuangan atau ekonomi, bahwa sumber uang masuk pada zaman Daulah Umayah pada umumnya seperti di zaman permulaan Islam.

·      Al Dharaib. Yaitu suatu kewajiban yang harus dibayar oleh warga Negara (Al Dharaib) pada zaman Daulah Umayah dan sudah berlaku kewajiban ini di zaman permulaan Islam. Kepada penduduk dari negeri-negeri yang baru ditaklukkan, terutama yang belum masuk Islam, ditetapkan pajak-pajak istimewa. Sikap yang begini yang telah menimbulkan perlawanan pada beberapa daerah.

 

·      Masharif Baitul Mal. Yaitu saluran uang keluar pada masa Daulah Umayah, pada umumnya sama seperti pada masa permulaan Islam yaitu untuk:

-      Gaji para pegawai dan tentara serta biaya tata usaha Negara

-      Pembangunan pertanian, termasuk irigasi dan penggalian terusan-terusan

-      Biaya orang-orang hukuman dan tawanan perang

-      Biaya perlengkapan perang

-      Hadiah-hadiah kepada para pujangga dan para ulama

 

Kecuali itu, para khalifah Umayah menyediakan dana khusus untuk dinas rahasia, sedangkan gaji tentara ditingkatkan sedemikian rupa, demi untuk menjalankan politik tangan besinya.

 

c.         An Nidhamul Harbi

Organisasi pertahanan pada masa Daulah Umayah sama seperti yang telah dibuat oleh khalifah Umar, hanya lebih disempurnakan. Hanya bedanya, kalau pada waktu Khulafaur Rasyidin tentara Islam adalah tentara sukarela, maka pada zaman Daulah Umayah orang masuk tentara kebanyakan dengan paksa atau setengah paksa, yang dinamakan Nidhamut Tajnidil Ijbari yaitu semacam undang-undang wajib militer.

Politik ketentaraan pada masa Bani Umayah, yaitu politik Arab oriented dimana anggota tentara haruslah terdiri dari orang-orang Arab atau imam Arab. Keadaan itu berjalan terus, sampai-sampai daerah kerajaannya menjadi luas meliputi Afrika Utara, Andalusia dan lain-lainnya sehingga terpaksa meminta bantuan kepada bangsa Barbar untuk menjadi tentara.

Organisasi tentara pada masa ini banyak mencontoh organisasi tentara Persia. Pada masa khalifah Utsman telah mulai dibangun angkatan laut Islam, tetapi sangat sederhana. Setelah Muawiyah memegang Kendali Negara Islam, maka dibangunlah armada Islam yang kuat dengan tujuan:

1)   Untuk mempertahankan daerah-daerah Islam dari serangan armada Romawi

2)   Untuk memperluas dakwah Islamiyah

Muawiyah membentuk armada musim panas dan armada musim dingin, sehingga ia sanggup bertempur dalam segala musim.Armada Laut Syam terdiri dari banyak kapal perang, di zaman Muawiyah Laksamana Aqobah bin Amri Fahrim menyerang pulau Rhadas.Dalam tahun 53 H, armada Romawi menyerang daerah Islam dan terbunuh seorang panglimanya yang bernama Wardan. Hal ini membuka mata kaum muslimin sehingga para pembesar Islam bergegas membangun galangan kapal perang di Pulau Raudhah dalam tahun 64 H.

 

d.        An Nidhamul Qadhai

Di zaman Daulah Umayah kekuasaan pengadilan telah dipisahkan dari kekuasaan politik. Kehakiman pada zaman itu mempunyai dua cirri khasnya yaitu:

·      Bahwa seorang qadhi memutuskan perkara dengan ijtihadnya, karena pada waktu itu belum ada lagi madzhab empat atau madzhab lainnya. Pada masa itu para qadhi menggali hukum sendiri dari Al Kitab dan As Sunnah dengan berijtihad.

·      Kehakiman belum terpengaruh dengan politik, karena para qadhi bebas merdeka dengan hukumnya, tidak terpengaruh dengan kehendak para pembesar yang berkuasa.

Para hakim pada zaman Umayah adalah manusia pilihan yang bertakwa kepada Allah SWT dan melaksanakan hukum dengan adil, sementara para khalifah mengawasi gerak-gerik dan perilaku mereka, sehingga kalau ada yang menyeleweng terus dipecat.

Kekuasaan kehakiman di zaman ini dibagi ke dalam tiga badan:

1)   Al Qadha seperti diuraikan di atas, tugas qadhi biasanya menyelesaikan perkara-perkara yang berhubungan dengan agama.

2)   Al Hisbah dimana tugas Al Muhtashib (kepala hisbah) biasanya menyelesaikan perkara-perkara umum dan soal-soal pidana yang memerlukan tindakan cepat.

3)   An Nadhar fil Madhalim yaitu mahkamah tertinggi atau mahkamah banding.

e.         An Nadhar fil Madhalim

Ini adalah pengadilan tertinggi, yang bertugas menerima banding dari pengadilan yang dibawahnya dan mengadili para hakim dan para pembesar tinggi yang bersalah.

Pengadilan ini bersidang di bawah pimpinan khalifah sendiri atau orang yang ditunjuk olehnya. Para khalifah Bani Umayah menyediakan satu hari saja dalam seminggu untuk keperluan ini dan yang pertama kali mengadakannya yaitu Khalifah Abdul Malik bin Marwan. Seperti mahkamah-mahkamah yang lain, maka Mahkamah Madhalim ini diadakan dalam masjid.

Ketua Mahkamah Madhalim dibantu oleh lima orang pejabat lainnya, dimana sidang mahkamah itu tidak sah tanpa mereka yaitu:

1)   Para pengawal yang kuat-kuat, yang sanggup bertindak kalau para pesakitan lari atau berbuat

2)   Para hakim dan qadhi

3)   Para sarjana hukum (fuqaha) tempat para hakim meminta pendapat tentang hukum

4)   Para penulis yang bertugas mencatat segala jalannya sidang

 

 

3.    Pusat -  pusat Peradaban Bani Umaiyah 1

Selama 92 tahun berdiri Bani Umaiyah I dapat mengembangkan Budaya dan Ilmu pengetahuan dengan baik, meskipun pengembangannya berjalankurang lambankarena polapengembangan memkai pendekatan Arab oriented. Pusat-pusat peradaban sebagai tempat pengembangan ilmu pengetahuan Bani Umaiyah I menyebar diberbagai wilayah Bani Umaiyah I seperti Damaskus, Kufah, Madinah, Syria, Mesir, Andalusia, Yaman dan Wilayah Magribi. Diantara pusat –pusat peradaban bani Umaiyah 1 ada  beberapa  kota  yang  berkembang  ilmu pengetahuan dengan  baik seperti;

a.Kufah                                 f. Kordova

b.Basrah                               g. Granada

c.Syiria                                 h. Mesir

d.Andalusia                         g. Kairawan     

 

5 Agustus 2020

Sejarah Dakwah Rasulullah SAW Pada Periode Mekkah


1.       

Masyarakat Arab Jahiliyah Periode Mekah


Objek dakwah Rasulullah SAW pada awal kenabian adalah masyarakat Arab Jahiliyah, atau masyarakat yang masih berada dalam kebodohan. Dalam bidang agama, umumnya masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama tauhid, yang telah diajarkan oleh para rasul terdahulu, seperti Nabi Adam A.S. Mereka umumnya beragama watsani atau agama penyembah berhala. Berhala-berhala yang mereka puja itu mereka letakkan di Ka’bah (Baitullah = rumah Allah SWT). Di antara berhala-berhala yang termahsyur bernama: Ma’abi, Hubai, Khuza’ah, Lata, Uzza dan Manar. Selain itu ada pula sebagian masyarakat Arab Jahiliyah yang menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum
Sabi’in.

2.      Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul


Pengangkatan Muhammad sebagai nabi atau rasul Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadan, 13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala beliau sedang bertahannus di Gua Hira, waktu itu beliau genap berusia 40 tahun. Gua Hira terletak di Jabal Nur, beberapa kilo meter sebelah utara kota Mekah.


Muhamad diangkat Allah SWT, sebagai nabi atau rasul-Nya ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril untuk menyampaikan wahyu yang pertama kali yakni Al-Qur’an Surah Al-‘Alaq, 96: 1-5. Turunnya ayat Al-Qur’an pertama tersebut, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al-Qur’an.


Menurut sebagian ulama, setelah turun wahyu pertama (Q.S. Al-‘Alaq: 1-5) turun pula Surah Al-Mudassir: 1-7, yang berisi perintah Allah SWT agar Nabi Muhammad berdakwah menyiarkan ajaran Islam kepada umat manusia.


Setelah itu, tatkala Nabi Muhammad SAW berada di Mekah (periode Mekah) selama 13 tahun (610-622 M), secara berangsur-angsur telah diturunkan kepada beliau, wahyu berupa Al-Qur’an sebanyak 4726 ayat, yang meliputi 89 surah. Surah-surah yang diturunkan pada periode Mekah dinamakan Surah Makkiyyah.

3.      Ajaran Islam Periode Mekah

 

Ajaran Islam periode Mekah, yang harus didakwahkan Rasulullah SAW di awal kenabiannya adalah sebagai berikut:


a. Keesaan Allah SWT


b. Hari Kiamat sebagai hari pembalasan


c. Kesucian jiwa


d. Persaudaraan dan Persatuan

 

STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH

Tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekah adalah agar masyarakat Arab meninggalkan kejahiliyahannya di bidang agama, moral dan hokum, sehingga menjadi umat yang meyakini kebenaran kerasulan nabi Muhammad SAW dan ajaran Islam yang disampaikannya, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Strategi dakwah Rasulullah SAW dalam berusaha mencapai tujuan yang luhur tersebut sebagai berikut:


1. Dakwah secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun

Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam, orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat dekatnya. Mengenai orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah: Khadijah binti Khuwailid (istri Rasulullah SAW, wafat tahun ke-10 dari kenabian), Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya), Zaid bin Haritsah (anak angkat Rasulullah SAW), Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat dekat Rasulullah SAW) dan Ummu Aiman (pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil).
Abu Bakar Ash-Shiddiq juga berdakwah ajaran Islam sehingga ternyata beberapa orang kawan dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah:


۞    Abdul Amar dari Bani Zuhrah


۞    Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris

۞    Utsman bin Affan


۞    Zubair bin Awam


۞    Sa’ad bin Abu Waqqas


۞    Thalhah bin Ubaidillah.


Orang-orang yang masuk Islam, pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang namanya sudah disebutkan d atas disebut Assabiqunal Awwalun (pemeluk Islam generasi awal).

2. Dakwah secara terang-terangan


Dakwah secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan. Wahyu tersebut berupa ayat Al-Qur’an Surah 26: 214-216.


Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebaga berikut:

Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak agar masuk Islam. Walau banyak yang belum menerima agama Islam, ada 3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim yang sudah masuk Islam, tetapi merahasiakannya. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.

Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah, terutama yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di Bukit Shafa.

Pada periode dakwah secara terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dari kalangan kaum kafir Quraisy, yaitu: Hamzah bin Abdul Muthalib (paman Nabi SAW) dan Umar bin Khattab. Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada tahun ke-6 dari kenabian, sedangkan Umar bin Khattab (581-644 M).


Rasulullah SAW menyampaikan seruan dakwahnya kepada para penduduk di luar kota Mekah. Sejarah mencatat bahwa penduduk di luar kota Mekah yang masuk Islam antara lain:


۞    Abu Zar Al-Giffari, seorang tokoh dari kaum Giffar.


۞    Tufail bin Amr Ad-Dausi, seorang penyair terpandang dari kaum Daus.


۞    Dakwah Rasulullah SAW terhadap penduduk Yastrib (Madinah).

Gelombang pertama tahun 620 M, telah masuk Islam dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Gelombang kedua tahun 621 M, sebanyak 13 orang, dan pada gelombang ketiga tahun berikutnya lebih banyak lagi. Diantaranya Abu Jabir Abdullah bin Amr, pimpinan kaum Salamah.
Pertemuan umat Islam Yatsrib dengan Rasulullah SAW pada gelombang ketiga ini, terjadi pada tahun ke-13 dari kenabian dan menghasilkan Bai’atul Aqabah. IsiBai’atul Aqabah tersebut merupakan pernyataan umat Islam Yatsrib bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah SAW. Selain itu, mereka memohon kepada Rasulullah SAW dan para pengikutnya agar berhijrah ke Yatsrib.


3. Reaksi Kaum Kafir Quraisy terhadap Dakwah Rasulullah SAW


Prof. Dr. A. Shalaby dalam bukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab kaum Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:

Kaum kafir Quraisy, terutama para bangsawannya sangat keberatan dengan ajaran persamaan hak dan kedudukan antara semua orang. Mereka mempertahankan tradisi hidup berkasta-kasta dalam masyarakat. Mereka juga ingin mempertahankan perbudakan, sedangkan ajaran Rasulullah SAW (Islam) melarangnya.

Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran Islam yang adanya kehidupan sesudah mati yakni hidup di alam kubur dan alam akhirat, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.

Kaum kafir Quraisy menilak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan agama dan tradisi hidupa bermasyarakat warisan leluhur mereka.

Dan, kaum kafir Quraisy menentang keras dan berusaha menghentikan dakwah Rasulullah SAW karena Islam melarang menyembah berhala.

Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:


۞    Para budak yang telah masuk Islam, seperti: Bilal, Amr bin Fuhairah, Ummu Ubais an-Nahdiyah, dan anaknya al-Muammil dan Az-Zanirah, disiksa oleh para pemiliknya (kaum kafir Quraisy) di luar batas perikemanusiaan.


۞    Kaum kafir Quraisy mengusulkan pada Nabi Muhammad SAW agar permusuhan di antara mereka dihentikan. Caranya suatu saat kaum kafir Quraisy menganut Islam dan melaksanakan ajarannya. Di saat lain umat Islam menganut agama kamu kafir Quraisy dan melakukan penyembahan terhadap berhala.


Dalam menghadapi tantangan dari kaum kafir Quraisy, salah satunya Nabi Muhammad SAW menyuruh 16 orang sahabatnya, termasuk ke dalamnya Utsman bin Affan dan 4 orang wanita untuk berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), karena Raja Negus di negeri itu memberikan jaminan keamanan. Peristiwa hijrah yang pertama ke Habasyah terjadi pada tahun 615 M.
Suatu saat keenam belas orang tersebut kembali ke Mekah, karena menduga keadaan di Mekah sudah normal dengan masuk Islamnya salah satu kaum kafir Quraisy, yaitu Umar bin Khattab. Namun, dugaan mereka meleset, karena ternyata Abu Jahal labih kejam lagi.
Akhirnya, Rasulullah SAW menyuruh sahabatnya kembali ke Habasyah yang kedua kalinya. Saat itu, dipimpin oleh Ja’far bin Abu Thalib.


Pada tahun ke-10 dari kenabian (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan pelindungnya wafat. Empat hari setelah itu istri Nabi Muhammad SAW juga telah wafat. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya Abu Thalib dan Khadijah disebut ‘amul huzni (tahun duka cita).