10 Agustus 2020

GERAKAN-GERAKAN PEMBAHARUAN ISLAM

 

 Gerakan Pan Islamisme

Pan Islamisme dalam pengertian yang luas adalah rasa sol- idaritas antara seluruh umat Islam. Atau dengan kata lain bisa juga diartikan persatuan seluruh umat Islam.

Gagasan Pan  Islamisme ini  muncul  pada  pertengahan abad ke-19. pencetusnya adalah Sayyid Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Al-Afghani melihat pada saat itu, umat Islam be- rada dalam kemunduran yang sangat membahayakan. Menurut Al-Afghani, kemunduran  umat Islam, bukan karena ajaran Is- lam, tetapi karena umat Islam itu sendiri yang tidak mau beru- saha merubah nasIbnya sendiri. Umat Islam terpengaruh oleh faham fatalisme sehingga menjadi statis, tidak dinamis.

Dilihat dari segi politik, menurut  Al-Afghani, kemundu- ran umat Islam disebabkan perpecahan di kalangan umat Islam, pemerintahan yang absolut, mempercayakan pimpinan kepada orang yang tidak dipercaya, mengabaikan masalah kemiliter- an, menyerahkan administrasi kepada orang-orang yang tidak kompeten dan adanya intervensi asing. Intervensi asing terli- hat bagaimana Inggris ikut campur dalam masalah politik dan ekonomi dunia Islam, seperti di India dan Mesir.

Melihat kondisi umat Islam ini, Al-Afghani insaf, bahwa dunia Islam yang lemah diancam oleh Barat yang kuat dan dina- mis. Lebih-lebih persaudaraan umat Islam lemah.

Untuk memajukan kembali umat Islam, menurut  Al-Af- ghani, tidak ada jalan lain, kecuali mewujudkan kembali per- saudaraan Islam di zaman klasik. Dengan persatuan dan kerja sama yang baik di antara umat Islam, pada gilirannya akan dapat membela dan membebaskan diri dari intervensi dan penjajahan


bangsa asing. Jadi untuk tujuan inilah, kelihatannya ide-ide Pan Islamisme ini dicetuskan dan dikobarkan di negara-negara Is- lamyang sedang berada dalam kemunduran dan jajahan bangsa asing.

Pan Islamisme ini mempunyai  pengaruh  besar, sebagai contoh, Sultan Abd. Hamid II (1876-1909) dari kerajaan Turki Usmani menyambut baik gagasan ini. Ia mendirikan organisasi propaganda Pan Islamisme, dan ia mengirimkan utusan-utusan yang tidak terhitung jumlahnya ke negeri-negeri Islam, dengan membawa pesan dan harapan agar dapat bersiap-siap melepas- kan diri dari penjajahan Barat. Propaganda ini berjalan selama

30 tahun. Efek inilah yang kemudian hari melahirkan pemimpin nasionalisme di kalangan umat Islam yang berjuang menuntut kemerdekaan negeri mereka dari kolonialisme Barat.

 

Gerakan Nasionalisme

Gerakan nasionalisme adalah gerakan kebangsaan. Ga- gasan ini berasal dari Barat yang masuk ke negeri-negeri Muslim melalui persentuhan  umat Islam dengan Barat yang menjajah mereka dan dipercepat oleh banyaknya pelajar muslim menun- tut ilmu ke Eropa atau lembaga-lembaga pendidikan Barat yang didirikan  di negeri mereka. Gagasan kebangsaan ini awalnya banyak mendapat tantangan dari pemuka-pemuka Islam karena dipandang tidak sesuai dengan semangat ukhuwah Islamiyah. Akan tetapi, ia berkembang cepat gagasan Pan Islamisme redup. Gerakan ini banyak muncul di negeri-negeri muslim, terutama setelah perang dunia pertama.

 

1. Mesir


Masuknya Napoleon ke Mesir (1798) tanpa perlawanan yang berarti dari umat Islam kembali menyadarkan  umat Is- lam akan  kemerdekaan  kebudayaannya. Pada masa selanjut- nya memunculkan  gagasan-gagasan besar bagi para  pemikir dan  pemimpin  umat  Islam khususnya  di  Mesir. Patriotisme Mesir dipelopori oleh Al-Tahtawi (1801-1873) yang berpendi- rian bahwa Mesir dan negara lain baru bisa maju bila berada di bawah penguasa sendiri, bukan di bawah orang asing. Nasion- alisme Mesir dipelopori oleh Musthafa Kamil (lahir 1874) yang mendirikan partai Hizb al-Wathan untuk memperjuangkan ke- merdekaan Mesir dari kekuasaan Inggris. Musthafa Kamil tidak berusia panjang, ia meninggal pada tahun 1908 dalam usia 34 tahun. Perjuangannya dilanjutkan oleh Muhammad Faried Bey (1867-1919), ia adalah pemimpin majalah “Al-Liwa”. Lewat ma- jalah ini, ia mengumandangkan semangat nasionalisme.

Setelah perang dunia pertama, gerakan nasionalisme dipelopori oleh Saad Zaghniul Pasya (1857-1927). Atas perjuan- gannya pada bulan Pebruari 1922 Mesir diakui kemerdekaannya dan Saad Zaghlul Pasya dijadikan sebagai perdana menteri per- tama Mesir.

2. Turki

Setelah perang dunia pertama, keadaan Turki Usmani itu bukan saja kehilangan daerah-daerah jajahannya, bahkan juga negerinya sendiri terancam puna dari muka bumi. Tentara se- kutu dari Inggris dan Prancis sudah menginjak ibukota Turki Usmani, yaitu Istambul. Tetapi kebangkitan semangat nasional dapat berhasil menghalaunya. Akhirnya, pada tanggal 25 Juli

1925 ditandatangani perjanjian Lausanue, dan pemerintah Mus- tafa Kemal mendapatkan pengakuan internasional.


3. India-Pakistan

Sejak tahun  1857, setelah hancurnya  kerajaan Mughal, India menjadi jajahan Inggris. Penduduk India yang kebanyaan dari umat Hindu dan Islam. Masing-masing selalu berusaha un- tuk melepaskan diri dari jajahan Inggris.

Pembaharu-pembaharu di India mempunyai peranan masing-masing, sengaja atau tidak, dalam perwujudan Pakistan, Sayyid Ahmad Khan dengan idenya tentang pentingnya ilmu pengetahuan, Sayyid Amir Ali dengan idenya bahwa Islam tidak menentan ilmu pengetahuan dab kemajuan modern, dan Iqbal dengan ide dinamikanya, amat membantu bagi usaha Jinnah da- lam menggerakkan umat Islam di India, yang seratus tahun lalu masih merupakan masyarakat yang berada dalam kemunduran, untuk  menciptakan  negara dan masyarakat Islam modern  di anak benua India. Philip K.Hitti. 243-244.

Gerakan-gerakan pembebasan yang mulai dari Pan Isla- misme dan Nasionalisme kemudian mengilhami umat Islam di seluruh dunia akan pentingnya kebebasan dan kemajuan diri, baik dari sisi politik kenegaraan maupun  sians dan ilmu pen- getahuan. Gerakan-gerakan Ini yang menjadikan Islam begitu diperhitungkan dalam percaturan politik kenegaraan di dunia.

 

Era Kebangkitan Islam

Kebangkitan Islam banyak dipelopori oleh tokoh-tokoh karismatik, di antaranya; Jamaluddin al-Afghani 1838-1897 M, Syaikh Muhammad  Abduh  1849-1905 M bersama muridnya Syaikh Rashid Ridha 1856-1935 M, yang mengumandangkan ruh jihad dan ijtihad. Al-Afghani, menulis buku dalam bahasa Persia dan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh Muham-


mad Abduh dengan judul Ar-Ruddu ‘alad-Dahriyin Penolakan atas Paham Materialisme. Al-Afghani, memperingatkan bahwa terdensi berbahaya yang melekat pada kebudayaan Barat adalah “materialisme”.

Lewat poyek politiknya yang terkenal dengan “Pan-Isla- misme”, al-Afghani terkenal sebagai seorang arsitek dan aktivis “revitalis Muslim pertama” yang menggunakan  konsep “Islam dan Barat sebagai fenomena sejarah yang berkonotasi korelatif dan sekaligus bersifat antagonistik. Seruang al-Afghani kepada dunia dan umat Islam untuk menentang dan melawan Barat, se- bab al-Afghani melihat kolonialisme Barat sebagai musuh yang harus dilawan karena mengancam Islam dan umatnya. Semen- tara disisi lain, al-Afghani juga menghimbau dan menyerukan kepada  umat  Islam untuk  mengembangkan  akal dan  teknik seperti yang dilakukan oelh Barat agar kaum Muslimin menjadi kuat. Ide pembaruan dan kebangkitan Islam yang dilancarkan oleh Muhammad Abduh, pembaru dari Mesir itu, juga memiliki pengaruh yang luas. Gagasan-gagasan pembaruan Abduh difor- mulasikan oleh HAR Gibb ke dalam empat butir penting, yaitu :

1.  Memurnikan   Islam  dari  pengaruh-pengaruh   dan  prak- tik-praktik yang merusak.

2.  Melakukan reformasi pendidikan tinggi Islam.

3.  Melakukan reformasi doktrin Islam berdasarkan pemikiran modern.

4.  Mempertahankan Islam dari serangan-serangan Barat-Kris- ten.

Muhammad Iqbal 1873-1938 M dari India, seorang pen- yair sekaligus filosof, yang banyak mendalami kebudayaan Barat dan kebudayaan Islam. Iqbal lewat puisi-puisinya merangsang


dan membangun semangat juang ummat Islam untuk kejayaan Islam. Iqbal memperingatkan bahwa cita etis dalam kebudayaan Barat telah digantikan oleh paham serba guna utilitarianisme dalam bentuknya yang kasar, yaitu serba dagang atau komersial- isme. Oleh karena itu, Iqbal lewah sebuah pusinya mengkritik kebudayaan Barat, yaitu : “Akal budi dan agama telah diperdaya bid’ah.  Dan cuta-cita asyik’lah  dialihkan serba dagang semata. Kau berserikat dengan benda, Tak memberikan padamu apa-apa, kecuali perhiasan zahir. Kamatian  mencanangkan kedatangan hidup baru untuk dunia.

Kesempatan-kesempatan baik bagi Islam semakin ter- buka  juga dengan  telah bangkinya negara-negara  Islam dari cengkraman penjajahan, terutama di Asia dan Afrika, yang ber- penduduk mayoritas Islam. Selain itu, telah didirikan organisa- si-organisasi Islam untuk menggalang persatuan dan kesatuan Islam secara internasional, yang sangat berguna bagi forum di- alog dalam merundingkan  permasalahan-permasalahan  Islam dan sekaligus memecahkannya. Diskusi, konsultasi dan konsol- idasi makin terasa intensif dilakukan di Dunia Islam. Organisa- si-organisasi Islam internasional itu di antaranya dapat disebut World Muslim Conggres, bermarkas di Karachi, World Muslim League [Rabithah Alam Islamy, berpusat di Mekkah dan Majlis A’la al-Alamy lil-Masajid Dewan Masjid se-Dunia, berkedudu- kan di Mekkah. Di samping itu muncul pula pusat-pusat Islam Islamic Centre di berbagai kota dan negara seperti di Washing- ton, Londong, Jepang, Belanda, Jerman dan sebagainya. Maka dengan lewat borsur-brosur dari oragnisasi-organisasi tersebut, ajaran-ajaran Islam disebarkan menebus radius lingkungan yang lebih luas.


Dalam gerakan kebangkitan  kembali itu  terlihat  pula kemajuan  pembangunan  ekonomi  yang sedikit demi  sedikit menanjak maju di kalngan negara-negara Islam. Bangsa-bangsa Arab di kawasan Timur Tengah dengan kekayaan minyaknya se- makin memperlihatkan getaran-getaran kemajuan. Negara-neg- ara Arab ini sempat membuat resah negara-negara industri Barat dengan politik “embargi minyak”-nya ketaika terjadi perang Ar- ab-Israil di tahun 1970-an. Embargo minyak oleh negara-neg- ara Arab ini telah mencemaskan negara-negara Barat bagi ke- langsungan hidup industri-industri  mereka. Sekarang ini, pada dekade 2000-an negara Pakistan dan Iran, juga menggetarkan negara Eropa dan Barat dengan program teknologi nuklirnya.

Proses  kebangkitan  kebudayaan  Islam  makin  terasa. Ini tidak lain karena Islam itu sendiri yang menjadi energi ru- haniah dan etos akliyah. Energi, vitalitas dan etos inilah yang memberi semangat “renaissance” kebudayaan di kalangan umat Islam dewasa ini. Menarik apa yang ditulis seorang guru besar dari universitas McGill, Charles J. Adams, bahwa : Tercapainya kemerdekaan  politik dan  berkembangnya kesadaran nasional di kalangan umat Islam disertai satu renaissance kebudayaan. Umat Islam menoleh kembali kepada sejarah kejayaan mereka di zaman lampau untuk menemukan kembali identitas mereka, ser- ta mendapatkan bimbingan hidup dalam menghadapi keadaan dan persoalan-persoalan yang serba sulit dan berat dalam dunia medern sekarang. Setelah mereka kehilangan vitalitas selama be- berapa abad sampai sekarang, Islam sekali lagi menempuh masa kebangkitannya. Umat Islam yang berjumlah 1/7 atau lebih dari jumlah penduduk dunia, setiap hari meningkat baik dalam jum- lahnya atau pun dalam kekayaannya dan nilai kedudukannya.


Vilatitas baru di kalangan umat Islam ini juga membawa kebangkitan dalam arti religius [keagamaan] di antara mereka sendiri. Di tengah-tengah mereka mengalami kemerosotan dari dalam dan menghadapi tekanan-tekanan  dari luar, mereka be- rusaha memurnikan  dan memuliahkan  segi-segi penting dari ajaran agama yang mereka warisi. Islam telah mencapai dinami- ka baru dan merupakan suatu kekuatan utama yang mendorong umat Islam untuk memperoleh kedudukan lebih baik di dunia ini. Maka, jika dikaitkan dengan situasi dunia Islam dewasa ini, apa yang ditulis Adams, agaknya tidak jauh berbeda, bahkan it- ulah yang sebenarnya terjadi: kebangkitan Islam dengan renais- sance kebudayaannya.


 

Tidak ada komentar: