24 Mei 2021

KAIFIYAT (TATA CARA) SHALAT GERHANA & DALIL-DALINYA

 



Oleh: hajar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


IKHWAN FILLAH, IN SYAA ALLAH AKAN TERJADI GERHANA BULAN TOTAL PADA HARI RABU 

Tanggal 26 Mei 2021 M

Insyaallah Gerhana Bulan Total dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, dengan keterangan sebagai berikut:


Awal Umbra  (U1)=

16:44:56 WIB

Awal Total (U2)=

18:11:23 WIB

Tengah Gerhana (Max)=  

18:18:41 WIB

Akhir Total (U3)=  

18:25:59 WIB

Akhir Umbra (U4)=

19:52:26 WIB


Sumber: Almanak Islam 1442 H. yang dikeluarkan oleh PP Persatuan Islam (PERSIS)


KAIFIYAH (TATA CARA) SHALAT KHUSUF


Shalat Kusuf (di waktu ada Gerhana Matahari) dan Khusuf (di waktu ada Gerhana Bulan)


Hal Yang Berkaitan Dengan Terjadinya Gerhana

Pada waktu terjadinya selain Shalat Gerhana DUA RAKA'AT, ada perintah:


1- Berkhutbah (seperti khutbah Jum'at, tetapi tidak ada duduk antara dua khutbah, hanya sekali khutbah) setelah shalat dengan memberi nasihat apa yang perlu di waktu itu, menerangkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Besar, dan mengingatkan, bahwa gerhana itu terjadinya bukan karena mati atau hidupnya seseorang, melainkan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. yang ditunjukkan kepada kita.


2- Membanyakan menyebut asma Allah (bertakbir) dengan mengingat kekuasaan-Nya.


3- Berdo'a meminta sekalian apa yang hendak diminta, dan minta ampun dari dosa.


4- Bershadaqah.


5- Memerdekakan hamba sahaya, kalau ada.


KAIFIYAH (CARA) SHALAT GERHANA:


SHALAT GERHANA ITU DUA RAKA'AT SECARA BERJAMA'AH DENGAN TIDAK ADA ADZAN DAN IQOMAH.

SHALATNYA SEPERTI SHALAT SHUBUH, TETAPI DI TIAP-TIAP RAKA'AT DITAMBAH SATU RUKU', YAITU SESUDAH BANGKIT DARI RUKU' DENGAN MEMBACA _"SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH"_ DAN _"RABBANAA WALAKAL HAMDU"_ TERUS BERDIRI SEDEKAP DAN DILANJUTKAN MEMBACA AL-FATIHAH DAN SURAT LAGI, SESUDAHNYA KEMUDIAN RUKU' LAGI, LALU BANGKIT DARI RUKU', LALU SUJUD LALU DUDUK LALU SUJUD, DEMIKIAN SELANJUTNYA PADA RAKA'AT KEDUA.


JADI SHALAT GERHANA ITU DUA RAKA'AT DENGAN EMPAT RUKU' DAN EMPAT SUJUD.


Mulai Takbir : Setelah Shalat Maghrib +- 10 menit, dilanjut Shalat Gerhana, lalu Khutbah, 

pengumpulan, dan pendistribusian shadaqah.


Dalil-dalil Shalat Gerhana


Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (berkata): 


« أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَعَثَ مُنَادِيًا بِالصَّلاَةُ جَامِعَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ »


"Bahwasanya Matahari terjadi gerhana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mengutus penyeru mengajak orang-orang berkumpul untuk shalat, kemudian beliau berdiri shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud". {H.R. al-Bukhari: 1066}


Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata:  


« خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ، فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ » . ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِىَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ: « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ». ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ ، وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ »

Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Raslullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke masjid kemudian berdiri dan bertakbir dan orang-orang pun berbaris di belakangnya, lalu beliau membaca dengan bacaan yang panjang kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau berdiri lalu membaca dengan bacaan yang panjang tetapi kurang dari bacaan yang pertama, kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang tetapi kurang dari ruku' yang pertama, (kemudian mengangkat kepalanya) sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau sujud (dua kali sujud) kemudian beliau melakukan pada raka'at yang selanjeutnya seperti itu hingga sempurna dikerjakan empat raka'at dan empat sujud dan gerhana Matahari pun berakhir sebelum beriau berpaling, kemudian beliau berdiri dan berkhutbah memuji dan menyanjung Allah sengan sepantasnya, dan beliau bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah bersegera melaksanakan shalat (gerhana)". {H.R. Muslim: 2129 dan Ibnu Khuzaimah: 1311}


Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (ia berkata):


« أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ »


*"Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaannya pada shalat gerhana, beliau shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud."* {H.R. Muslim: 2131}


Anjuran Bershadaqah, Istighfar, Dan Dzikir Pada Kejadian Gerhana, Dan Keluar Waktu Selesai Shalat Dengan Keadaan Terang:


Dari Asma' Radhiyallahu 'anha, ia berkata: 


« لَقَدْ أَمَرَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِالْعَتَاقَةِ فِى كُسُوفِ الشَّمْسِ »


*"Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memerdekakan hamba sahaya pada hari terjadi gerhana Matahari".* {H.R. al-Bukhari: 1054, Ibnu Khuzaimah: 1324, al-Hakim: 1178, Ibnu al-Jarud: 251, dan al-Baihaqi: 4176}


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 


« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا »


*"Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah berdo'a kepada Allah SWT., bertakbir, shalat, dan bershadaqah".* {Muttafaq Alaih dari Aisyah Radhiyallahu 'anha}

 

Dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 


« خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَقَامَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم فَزِعًا ، يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ ، فَأَتَى الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ وَقَالَ « هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِى يُرْسِلُ اللهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللهُ بِهِ عِبَادَهُ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ »


"Telah terjadi gerhana Matahari, (di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka Nabi saw. berdiri dengan terkejut, beliau khawatir terjadi kiamat, lalu beliau menuju masjid, kemudian beliau shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang sangat lama, saya melihat beliau melakukannya, kemudian beliau bersabda: *"Ini adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang Allah tunjukkan bukan dikarenakan kematian seseorang dan hidupnya, tetapi Allah pemperingatkan hamba-hamba-Nya dengannya, maka apabila kalian melihat sesuatu dari itu maka bersegeralah bangun untuk mengingat-Nya, berdo'a kepada-Nya, dan memohon ampun (dari dosa dan kesalahan) kepada-Nya".* {H.R. al-Bukhari: 1059 & Muslim: 2156, an-Nasa`i: 1502, Ibnu Khuzaimah: 1297, Abu 'Awanah: 1957, dan al-Baihaqi: 1890}


#Semoga bermanfaat🤲


Wallahu A'lam


#Mari Hidupkan Sunnah


@Silahkan dishare🙏


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 


« مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ »


*"Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya."*


{HR Muslim: 3509, Ahmad: 175499, Abu Daud: 5131, at-Tirmidzi: 2884, Ibnu Hubban: 289, Abu 'Awanah: 5964, al-Baihaqi: 17622, ath-Thayalisi: 611, dan ath-Thabrani: 1681 dari Abu Mas'ud Al Anshari Radhiyallahu 'anhu}


بارَكَ اللهُ لي ولكم

23 Mei 2021

BIOGRAFI KH. MUHAMMAD SYARIEF SUKANDI

 


Kiai Muhammad Syarief Sukandi dikenal sebagai muballigh tentara, karena beliau bertugas di ketentaraan. Kadang-kadang, ketika berceramah pun memakai baju dinas. “Bukan sombong, tetapi habis dinas, tidak pulang dulu kerumah, terus ngaji,” katanya suatu ketika. Ustadz Andi, begitu beliau dipanggil di lingkungan Persis, dikenal pula sebagai pengarang. Karya tulisnya meliputi bidang keagamaan, untuk umum atau untuk pelajaran di sekolah, seperti fiqh Islam (bahasa sunda), juga terjemah hadits Arba’in, hadits kuluhan Budi (bahasa Sunda), obor, Tauhid, Laki Rabi (bahasa Sunda). Khusus bagi TNI yang akan bertugas ke Timur Tengah, sebagai bekal, beliau menyusun pelajaran Tulis/Baca huruf Arab sistem enam jam. Sementara di Markas TNI dikjenal dengan panggilan Pak Syarief. Mungkin merupakan keistimewaan baginya bahwa dari mulai bawahan sampai atasan selalu memanggil Pak Syarief. Kata-kata “Pak” di depan Syarief tidak dihilangkan walaupun oleh atasannya.


Karya tulis lainnya dimuat di majalah, misalnya tentang seni, naskah Sempalan Padalangan yang dihimpun oleh Padalangan “Pamager Sari” pimpinan R.U. Partasuanda (alm). Tidak ketinggalan mencintai lagu, Dakwah Kawih, Sifat Dua Puluh, Syukur Nikmat yang dinyayikan oleh Cicih Cangkurileung. Kasetnya beredar terutama di daerah Jawa Barat. Kiai yang memncintai seni ini mengarang pula novel Sunda, seperti Nu Geulis Jadi werejit, perlaya di Tegal Karbala yang kemudian novelnya dimuat secara bersambung di hari8) harian Bandung Pos. Selanjutnya melalui Kodam mencipta lagu Al-Qur’an irama sunda yang kemudian ditangani Menteri Agama (ketika itu Prof.Dr. Mukti Ali), tetapi tidak ada kelanjutannya.


KH. Muh. Syarief Sukanndi adalah putra tunggal pasangan suami istri Yaya atmajaya (seorang perintis kemerdekaan) dan Engkik Rodiyah, dilahirkan di Garut, 7 April 1931. Pendidikannya banyak dijalani di Bandung. Pada usia tujuh tahun (1938) sekolah di Holland Inlandse School (HIS) setingkat SD sambil mesantren di pesantren cikuya, cicalengka dibawah asungan Ajengan Toha. Namun di HIS tidak sampai tamat, karena ketika itu perang berkecamuk, sedangkan mesantrennya berlangsung sampuan sampai tahun 1945. Selama 6 tahun pendidikannya terhenti, karena ketika itu para pemuda diwajibkan masuk laskar TNI hingga tahun 1951.


Setelah 6 tahun di laskar TNI, baru pendidikannya dilanjutkan lagi di Pesantren Persatuan Islam (Pesantren Persis), jl. Pajagalan, Bandung tingkat Tsanawiyah (SLP) lulus tahun 1954. Tahun1962 tamat MuallimIin, setingkat SLA di Pesantren yang sama, dan tahun 1967 lulus Sarjana Muda dari Institut Islam Siliwangi (INISI). Sepuluh tahun berikutnya (1977) lulus Sarjana (S1) dan Fakultas Ussuluddin jurusan Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidikannya tersendat karena dirintis sambil bertugas di tentara.


Sejak tahun 1951 beliau aktif mengajar agama. Sampai 1966 menjadi guru di Tamhidul Mubhalligin (kader mubaligh Persis),dan anggota Veteran RI. Dari 1966-1986 menjadi TNI/AD yang kedua kalinya dengan pangkat Letnan satu. Sampai akhir hayatnya menjadi guru tetap di Pesantren Persis Pajagalan, Bandung. Kesibukannya di tentara (Bintal Dam III Siliwangi) tidak membuat Ustadz Andi berhenti aktif di lembaga lain. Tahun 1966-1967 menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan Andir, 1967-11978 anggota MUI kota Bandung, dan tahun berikutnya menjadi ketua MUI kec. Bandung kulon. Hasil Musda MUI Kodya Bandung periode 1968/1990.


Dalam mengerjakan ibadah haji tahun 1984 saat sistem muassasah (tanpa melalui syekh) diakuinya, ibarat tentara yang diterjunkan ke medan perang yang tidak diketahui sebelumnya, kalau tidak dihadapi dengan penuh keberanian, kesungguhan hati dan pelaksanaan ibadah semata-mata mengharap rido Alloh, tidak sedikit yang mengerjakan ibadah haji tidak mengikuti ketentuan yang telah dicontohkan oleh Rasullulah.dengan demikian pelaksanaan ibadah hajinya jauh dari apa yang disebut haji mabrur, bahkan bisa jadi ibadah hajinya batal. Syetan dalam mengerjakan ibadah haji sering tampak “bungkeuleukan” muncul di depan mata.


Keluarga beliau adalah keluarga mubaligh, mulai dari beliau sendiri, istrinya (ibu Ustadzah Rokayah Syarif) dan di antara putra-putrinya yang berjumlah 11 orang menjadi mubaligh ditambah 5 orang menantunya yang rata-rata termasuk aktifis Majlis Ulama. “Apapun pekerjaannya, jadi mubaligh jangan di tinggalkan”. Itulah prinsip beliau. KH. Muh Syarif Sukandi termasuk keluarga besar. Ketika beliau wafat, 31 juli 1997, beliau meninggalkan seorang istri, sebelas anak, dan 28 cucu. Kini cucunya telah berkembang menjadi 34 orang ditambahcicit 4 orang.


Diakuinya, meski banyak kegiatan di luar, tidak melupakan keluarga. Seminggu sekali secara rutin diadakan pengajian keluarga di rumahnya di jalan Holis 28/81, kel. Cibuntu. Rumahnyabahkan dibafi dua dengan Madrasah “Al-Quran”. Hal itu dimaksudkan sebagai pembinaan terhadap keluarga menjadi sebulan sekali, tempatnya bergiliran diantara 11 putra-putrinya. Dalam pengajian keluarga, disamping membahas pelajaran agama dan masalah kemasyarakatan juga diskusi dan pemecahan masalah rumah tangga/keluarga. Di ruang tamu rumahnya tertampang tulisan yang cukup besaar dari triplek berwarna kuning Imah Kuring (rumahku surgaku). Tulisan itu terjemahan dari hadits Nabi saw. :Baiti Jannati. Sengaja tulisan itu di pampangkan di dalam rumah, sebagai peringatan (dzikroh) bagi keluarga, agar di rumah tidak ada yang murung, marah atau caci maki. “tidak pantas di surga ada yang murung,” katanya.


Beliau berpegang pada fiman Allah : “famal hayatuddun-ya illa la’ibun walahwun” (kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah permainan dan sendau gurau belaka) “pasang surut permainan laut, panas dingin permainan hari, susah senang permainan hidup. Mengapa harus murung dalam bermain. Ikutilah peraturan permainan itu supaya senang”. Demikianlah kata kyai yang senang humor ini. “Apakah keluarga Bapak tidak boleh menangis? Beliau menjawab : “Di hadapan manusia usahakan terseenyum dan tertawa, tetapi di kala menghadap Allah (shalat, dzikir, atau berdo’a) menangislah sepuas-puasnya. Tangisilah dosa-dosa yang telah di perbuat, mohon ampunlah kepadaNya dan bertobatlah dengan derai aiar mata. Seperti halnya Nabi Adam dan Hawa bila bertobat mereka sambil menangis, demikian pula Nabi Muhammad saw. Sering menangis di kala beliau sedang shalat.


Bulan April 1986 beliau pensiun dari dinas tentara, mengomentari hal itu beliau menegaskan : “bebas tugas itu dari tentara, tetapi dari mubaligh atau juru dakwak tidak ada istilah bebas tugas, dan bila Allah mengingiinkan saya ingin menyusun buku lagi sebelum meninggal”. Kini Haji Muh. Syarif Sukandi telah tiada. Beliau wafat pada 31 juli 1997 di rumahnya, sekira pukul 12 malam, dihadapan istri dan salah seorang putrinya, Ny Lie Armanusah.


(Akhbar Jam’iyyah, No.13 TH. V Juli-Agustus, 2005).

11 Mei 2021

“Si Cikal, yang Prihatin dan Penuh Perhatian”

 


"USTADZ  USMAN SHOLEHUDIN"

Pengakuan Sang Adik, Ust. Zae Nandang: 


Ust. Usman adalah putra dari pasangan bapak Uya Mulyana dan Ibu Odah, anak pertama dari tujuh bersaudara, tiga laki-laki dan empat perempuan. Semasa sekolah beliau adalah anak yang paling memprihatinkan dibanding adik-adiknya, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau, sekalipun harus jalan kaki menuju pesantren. Sehingga hasil dari keseriusannya dalam belajar membuahkan hasil dan ilmunya bisa dirasakan oleh adik-adiknya secara khusus, begitu juga oleh umat secara umum. Kata-katanya khas, padat dan mendalam, sedikit tapi sarat makna.


Beliau menjadi tumpuan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan permasalahan. Sepeninggal orangtua, beliau betul-betul mengamalkan sabda Rasulullah SAW, Kabiratul-Ikhwah bi manzilatil-ab , (anak yang paling besar itu, harus bisa menggantikan tempat ayah). Hal tersebut tampak sekali ditunjukkannya, sehingga semua saudara, yaitu adik-adiknya yang selalu memiliki permasalahan yang selalu dibereskan oleh beliau. Seluruhnya patuh kepada beliau, apalagi karakter beliau yang tegas terhadap semuanya, beliau selalu menekankan kami betul-betul menjadi orang yang benar. Tidak hanya ketegasannya saja yang dirasakan, tapi rasa sayang seorang kakak kepada adik-adiknya, dirasakan oleh semua. Sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk mendukung beliau.


Peran beliau di keluarga sangat penting terutama dalam hal Birrul Waalidain yang sampai saat ini tidak bisa diikuti oleh adik-adiknya. Terimakasih kepada Tuhan, beliau tidak pernah terhalang oleh apapun. Sempat satu waktu ibu saya ingin pergi ke Cimahi dan ingin diantar oleh Uman (panggilan ibunya kepada Ust. Usman), beliau pasti datang. Mau dalam keadaan capek, sakit, jauh atau sedang ada sekalipun, pasti beliau datang. Kalau saya, belum tentu sanggup seperti beliau.


Beliau juga tidak pernah mengeluh, tidak mencari alasan apapun, selama sang ibu membutuhkannya, pasti beliau datang. Ini adalah pelajaran yang berharga dari beliau kepada adik-adiknya, dalam peringatan dan baik kepada seorang ibu. Makanya, saya tidak menolak beliau ketika memerintahkan pengajian di suatu tempat, sekalipun saya sudah ada jadwal.


Sebagai seorang kakak, beliau sangat terbuka dengan adik-adiknya. Masalah apapun selalu dibahas bersama, sehingga terasa enak oleh semuanya. Beliau adalah orang yang dituakan di keluarga, sehingga kalau pulang ke rumah sangat bisa dirasakan kehadirannya. Kalau Ust. Usman sudah masalah definisi harus seperti apa, maka beres sudah tersebut. Beliau betul-betul figur buat kami.


Sikapnya sangat sederhana, semangat dalam membaca kuat, dan perhatian sekali kepada kami. Kami semua mendukung untuk semangat membaca, cinta akan ilmu dan tidak berhenti belajar, baik dilembaga pendidikan yang formal maupun non formal.


Beliau selalu menuntut kami untuk terus meningkatkan keilmuan kami. Pernah satu waktu saya mengisi pengajian di Cimahi, memberikan pengajian beliau dengan kata-kata khasnya mengatakan, “suaranya kedengaran sampai sini, tapi hati-hati, awas tidak ada isinya”. Pernah juga saya dan Ust. Ua Saepudin mengisi pengajian di Cipatat, terus jamaah Cipatat mengatakan Alhamdulillah yang mengisi pengajian bagus-bagus. Ust. Usman Cuma berkomentar “Lilin juga terang kalau di tempat gelap”. Saya memahami komentar yang ditujukan kepada saya, omong kosong saya terus meningkatkan keilmuan. Setiap kali beliau berkunjung ke rumah, pasti beliau ngomong “ dapat nambah kitab teh”(Belum bertambah lagi kitabnya). Jadi beliau selalu mengadili kami kitab dan buku yang baru, punya banyak membaca. Maka, ketika beliau wafat kami sangat kehilangan.


Pesan yang saya ingat adalah ketika saya berdua di Maleer, kemudian ada kuli Batako lewat, beliau nanya, mau bawa pake tenaga atau pake ilmu ?. Artinya jangan jadi orang yang cape-cape kesana kemari bawa ijazah untuk mencari pekerjaan, tapi wujudkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang lain, punya apa kita, sehingga orang lain datang kepada kita.


Seperti A Hassan saja, walau tempatnya jauh, tapi banyak jamaah yang selalu berdatangan ke tempat beliau untuk belajar, karena pada diri A Hassan ada sesuatu yang diperlukan jamaah, maka mereka datang sekalipun harus menempuh jarak yang jauh. Kami berharap, ada yang memulai perjuangan dan bersemangat, saya pihak keluarga yang berusaha menyelesaikan jejak langkah beliau menjadi jariyah buat semuanya.


Ust. Usman sudah aktif di Jam'iyyah sejak masih muda, kecintaannya terhadap Persis tidak lepas dari peran bapak Uya yang sebelumnya sering mengikuti kegiatan A Hassan, sehingga ketertarikannya kepada A Hassan membuat bapak Uya menyekolahkan anak-anaknya ke Pesantren Pajagalan. Mulai dari Pesantrenlah Ust. Usman mengenal tokoh-tokoh Persis seperti KH. E. Abdurrahman, dan dari beliaulah kakak saya mendapatkan ilmu, dan ilmunya semakin terasah sewaktu beliau menjadi asisten Ust. HE Abdurrahman.


Sepengetahuan saya, beliau hanya belajar kepada Ust. Abdurrahman saja, sehingga ilmu dan karakternya melekat pada diri Ust. Usman. Keberhasilan beliau menjadi seorang ustadz adalah bentuk dari terlaksananya cita-cita orangtuanya. Beliau adalah anak yang pertama yang mewujudkan keinginan bapak dan ibu, yang ingin mempunyai anak seorang ustadz.


Ust. Usman mengawali kiprah di Jam'iyyah setelah aktif di Pemuda Persis pada usia 17 tahun. Setelah itu sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah lepas dari Persis. Beliau pernah berpesan, “ tong kabita ku imah batur najan alus ” (jangan tertarik dengan rumah orang lain, meskipun bagus), meskipun ada bagian rumah yang bocor, perbaiki karena itu rumah kita dan tidak perlu membangun rumah yang baru lagi. Cukup yang ada saja, tinggal di urus dengan baik, sebab belum tentu yang baru juga bagus.


Dalam pandangannya, Jam'iyyah Persis memiliki ciri khas unik, sehingga menarik perhatian orang lain. Karena kita menggarap sesuatu yang tidak digarap oleh orang lain, kalau garapan kita sama dengan yang lain maka orang tidak akan mau bergabung dengan Persis. Tapi, kadang-kadang kritkannya terhadap jam'i krityyah, itu bukan hal yang aneh, karena memang karakternya seperti itu. Kritikan yang keras merupakan rasa sayang beliau kepada Jam'iyyah, makanya sampai akhir hayatnya tidak pernah lepas dari Persis.


Sumber: Majalah Risalah no.9 th.52 Shafar 1436 / Desember 2014 hlm.16-18 Rubrik Kajian Utama.

4 Mei 2021

KRITERIA MUSTAHIQ ZAKAT DAN PENGERTIAN 5 WASAQ


 


1. Pengertian Mustahiq Zakat sebagai berikut:
1.1. Faqir Miskin:
a. Faqir: orang yang tidak bisa memenuhi primer sehari-harinya karena tidak bisa kasab.
b. Miskin: Orang yang bisa kasab tapi hasilnya tidak bisa memenuhi kebutuhan primer sehari-harinya.
c. Faqir dan miskin mempunyai kesamaan dari segi sama-sama membutuhkan bantuan, jika disebut salah satunya menyangkut pengertian dua-duanya, jika disebut dua-duanya menunjukkan diantara keduanya ada perbedaan.
1.2. Amilin:
Ialah orang-orang yang diangkat oleh imam atau naibnya untuk menggarap tugas-tugas pemungutan, pengumpulan, pemeliharaan, pencatatan dan pembagian zakat, infaq dan shadaqah.
Syarat-syaratnya:
a. Muslim yang tha'at
b. Mukallaf
c. Amanah (jujur)
d. Memahami hukum zakat, infaq dan shadaqah
e. profesional/terampil.
1.3. Muallaf:
Orang-orang yang dijinakkan (didomestiasi) hatinya untuk kepentingan Islam dan muslimin.
Yang termasuk katagori muallaf, antara lain
a. Mereka yang diharapkan masuk Islam
b. Mereka yang dikhawatirkan gangguannya terhadap Islam dan Muslimin.
c. Mereka yang baru masuk Islam untuk memperkuat keislamannya.
d. Tokoh-tokoh masyarakat yang beragama Islam tapi lemah imannya yang disegani di masyarakatnya.
e. Mereka yang telah lama menjadi muslim tapi ada di front (perbatasan) dengan musuh.
f. Mereka yang termasuk tokoh muslim yang mempunyai kawan dari kalangan orang kafir yang diharapan keislamannya.
1.4. Riqab: hamba sahaya (untuk menebus atau memerdekakan dirinya)
1.5. Gharimin:
Mereka yang tenggelam dalam utang dan tidak mampu membayar, yang utangnya itu bukan karena ma'shiyat, penghamburan atau safahah (bodoh atau belum dewasa)
1.6. Sabilillah:
Kemaslahatan umum kaum muslimin (bukan untuk kepentingan pribadi) yang dengannya (Zakat, infaq dan shadaqah itu) berdiri Islam dan daulahnya.
1.7. Ibnu Sabil :
Mereka yang kehabisan ongkos di perjalanan.

2. Pengertian 5 (lima) wasaq:
1 wasaq = 60 sha' jadi 5 wasaq = 300 sha'
1 sha' = 2,176 kg jadi 300 sha' = 652,8 kg
Jadi 5 wasaq jika dibulatkan menjadi 653 kg.