23 Maret 2011

Bocoran WikiLeaks dan Teori Konspirasi

 
Oleh Sabar Sitanggang


BEBERAPA pekan terakhir, bahkan mungkin beberapa pekan kedepan, wacana pemberitaan yang dirilis oleh dua media Australia pemberitaan tentang perilaku rezim SBY yang memata-matai rival politiknya dan 'Abused Power'-nya akan terus mendapat perhatian berbagai pihak. Coba kita renungkan beberapa peristiwa berikut.

Bocoran kawat diplomatik Kedubes Amerika Serikat di Indonesia tentang perilaku rezim permintahan SBY yang berhasil diperoleh WikiLeaks dimuat oleh dua surat kabar di Australia telah membuat Istana, Presiden dan para pendukungnya panik; Gempa berkekuatan 9 skala Richter yang menyebabkan terjadinya Tsunami mendapat perhatian serius para ahli nuklir di Indonesia karena meledaknya beberapa reaktor nuklir. Bahkan, begitu pentingnya, sebuah stasiun televisi swasta memandang perlu menghadirkan Staf Khusus Presiden bidang penanggulangan bencana, Andi Arif; Sebuah paket berisi buku yang dikirim oleh seseorang yang beralamat di Ciomas kepada aktifis Jaringan Islam Liberal ternyata juga berisi bom dan meledak yang mencederai beberapa orang termasuk aparat kepolisian; Selang beberapa jam setelah paket bom di Utan Kayu, paket sejenis dikirimkan ke kantor BNN, meski tak sempat meledak dan menelan korban.

Rentetan peristiwa di atas tampaknya wajar. Namun, melihat dekatnya jarak terjadinya dan respons atas peristiwa itu oleh Negara dan aparaturnya, patut menimbulkan tanda tanya. Tulisan ini berupaya memang dari sudut yang berbeda.

Teori Konspirasi
Salah satu teori yang sejak kelahirannya hingga hari ini belum selesai adalah Teori Konspirasi atau sering pula disebut sebagai Teori Persekong kolan. Pada dasarnya, Teori Konspirasi meyakini bahwa suatu peristiwa ganjil pasti dilatarbelakangi oleh persengkongkolan kuat di belakangnya.

Menurut Wikipedia, Teori Konspirasi (conspiracy theory), adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.

Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Dari kacamata Teori Konspirasi ini pula kita akan mencoba menelaah beberapa peristiwa di atas yang terjadi seolah-oleh bersinambung.

Berita Utama halaman depan The Age dan Sydney Morning Herald, yang menurunkan berita yang bersumber dari WikiLeaks berupa bocoran kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia bertitel Yudhoyono Abused Power, memang me nggemparkan publik dalam negeri. Sumber itu antara lain mengatakan bahwa Presiden SBY menggunakan intelijen Indonesia untuk memata-matai para pesaing politiknya, setidaknya satu kali, yakni seorang menteri sangat senior (most senior cabinet) di dalam pemerintahannya.

Istana berekasi. Didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi membantah semua informasi yang dibocorkan Wikileaks terkait Presiden Yudhoyono dan menjadi berita utama di dua harian Australia "The Age" dan "The Sydney Morning Herald".

Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi, berkomentar dengan mengatakan bahwa secara pribadi, SBY shock disebut telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Presiden mengurut dada, sementara Ibu negara menangis karena sangat terpukul.

Ketua Umum Partai Demokrat -Partai di mana SBY sebagai Ketua Dewan Pembinanya, Anas Urbaningrum, merasa perlu berkomentar keras.

Meski komentar yang disampaikan Anas, bila telisik dari sisi hubungan antar dua negara dan substansi persoalan jauh dari kesepadanan dalam tata pergaulan diplomatik. Yang pasti, Partai Demokrat panik.

Kepanikan juga terjadi pada Kementerian Luar Negeri. Marty Natalegawa, merasa perlu mengundang Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dan menggelar konferensi pers. Meski lagi-lagi, tata-pergaulan diplomatik -yang semestinya dijunjung tinggi oleh sekretariatnya Marty, tampak dilanggar.

Meski tampak berada di sebelah Marty, Duta Besar Amerika Serikat -yang tentunya tahu posisinya, enggan berkomentar. Meski akhirnya beliau berkomentar ketika wartawan mencegatnya sambil berjalan. Lagi, Departemen Luar negeri juga panik.

Wajar saja Istana dan pejabat serta orang-orang SBY panik. Hal ini setidaknya karena batalnya rencana telepon Obama kepada SBY. Direncanakan bahwa Obama seharusnya menelepon SBY pada hari Jumat untuk membicarakan dan membahas KTT Asia Timur yang akan datang, yang akan diselenggarakan di Indonesia. Tetapi, 'ketika kasus WikiLeaks tersebut mencuat, pembicaraan itu pun tidak terjadi'. Meski hal ini mendapat konfirmasi dari Juru Bicara Presiden Teuku Faizasyah yang memastikan tidak adanya telepon itu, tetapi Teuku mengecilkan maknanya dengan mengatakan "penjadwalan untuk telepon-telepon semacam itu selalu cair".

Sekali lagi rentetan peristiwa di atas, akan sangat menarik bila ditinjau dari sisi Teori Konspirasi. Setelah kewalahan dengan gencarnya pemberitaan tentang perilaku rezim SBY terhadap lawan-lawan politik dan hal lainnya, tampaknya "perlu pengalihan isu pemberitaan WikiLeaks". Memang, dari sisi teori komunikasi propaganda, pemberitaan dan dampak dari suatu informasi hanya mungkin tertutupi atau dialihkan oleh munculnya pemberitaan dan informasi yang lebih besar dampak dan kualitasnya.

Melemahnya dukungan AS?
Kembali ke persoalan WikiLeaks, sesungguhnya hal itu tidak berhubungan dengan content atau isi berita yang disampaikannya, karena mereka hanya menyadap kawat rahasia yang disampaikan oleh Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan kemudian mereka bocorkan. Baik Menlu AS Hillary Clinton maupun Dubes AS di Jakarta tidaklah membantah maupun membenarkan isi kawat yang disadap dan kemudian disebarkan itu.

Mereka hanya mengecam penyadapan itu. Isi kawat rahasia yang disebarkan itu, menurut mereka belumlah merupakan kebijakan Pemerintah AS. Tentu saja setiap laporan dari kedubes negara manapun di dunia ini, semuanya akan menjadi bahan untuk diverifikasi dan didalami lebih lanjut.

Namun apa sikap Pemerintah Pusat mereka tentang laporan itu, sangat tergantung, apakah akan didiamkan saja sebagai informasi atau akan dijadikan bahan untuk mewaspadai, atau akan ada reaksi, semuanya tergantung pada Pemerintahnya sendiri. (Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Departemen Sosiologi FISIP UI)