26 Desember 2022

MENAKAR PERAN POLITIK UMAT ISLAM

 



Oleh : Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag *


Muqadimah


Ketika kita bicarakan Menakar Peran Politik Umat Islam , seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi –yang terlalu berani melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat rentan melahirkan pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Umat Islam secara otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at di hadapan Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap berpegang teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang siap untuk tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : Dan berpegang teguhlah kamu sekaliankepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai (QS. Ali Imran : 103 ).

Langkah untuk menyerap limpahan menuju wawasan yang berkualitas, tentunya tidak bisa dipersepsikan memberikan segalanya dan serba komprehensif. Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak mengakui “yang aku tahu adalah bahwa aku semakin tidak tahu apa-apa.” Tapi selanjutnya kita akan berani mengatakan “yang aku tahu adalah aku semakin tahu apa-apa”. Artinya, walaupun kita nantinya tidak sebijak socrates, tetapi paling tidak kita lebih “percaya diri” daripada Socrates.

Samuel P Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilizations and Remaking of World Order” mengatakan bahwa di benak kita tersembunyi asumsi-asumsi, bias-bias serta prasangka-prasangka yang “Membimbing” kita tentang bagaimana mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang kita lihat dan bagaimana kita menilai manfaat serta kebaikannya.
Salah-satu model berpikir yang senantiasa -minimal- harus ada di benak umat Islam diantaranya adalah bahwa umat Islam harus mampu ;

1. mengatur dan menggeneralisasikan realitas;
2. memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena;
3. melakukan antisipasi dan, jika beruntung, melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang;
4. memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting, dan;
5. menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan tujuan kita.

Perjalanan Politik Umat Islam

Membahas perjalanan politik umat Islam tidak bisa lepas dari proses berdirinya Indonesia sebagai negara yang berdaulat dan diproklamirkan pada hari Jum’at, tanggal 17 Agustus 1945 di jalan Pegangsaan Timur Jakarta. Kenapa demikian, karena tokoh-tokohnya seperti ; Tuan A. Hasan dan Moch. Natsir dan yang lainnya juga turut ambil bagian dalam “Membangun karakter Bangsa” melalui “symbol” Bung Karno sebagai salah satu Proklamator Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Berikut kutipan Surat-Surat Islam dari Endeh semasa Bung Karno hidup dalam masa pengasingan di Endeh Flores, dalam buku “Dibawah Bendera Revolusi” cetakan pertama hal 325 dan 338 :

DARI IR. SUKARNO KEPADA TUAN. A. HASSAN, GURU “PERSATUAN ISLAM”, BANDUNG
No.1. . Endeh, 1 Desember 1934.

Assalamu’alaikum,

Djikalau saudara-saudara memperkenankan, saja minta saudara mengasih hadiah kepada saja buku-buku jang tersebut dibawah ini: 1 Pengadjaran Shalat, 1 Utusan Wahabi, 1 Al-Muchtar, 1 Debat Talqien, 1 Al-Burhan compleet, 1 Al-Djawahir.

Kemudian daripada itu, djika saudara-saudara ada sedia, saja minta sebuah risalah jang membitjarakan soal “sajid”. Ini buat saja bandingkan dengan alasan-alasan saja sendiri tentang hal ini. Walaupun Islam zaman sekarang menghadapi soal-soal jang beribu-ribu kali lebih besar dan lebih sulit daripada soal “sajid” itu, maka toch menurut kejakinan saja, salah satu ketjelaan Islam zaman sekarang ini, ialah pengeramatan manusia jang menghampiri kemusjrikan itu. Alasan-alasan kaum “sajid”, misalnja mereka punja brosjur “Bukti kebenaran”,saja sudah batja, tetapi tak bisa mejakinkan saja. Tersesatlah orang jang mengira, bahwa Islam mengenal suatu “aristokrasi Islam”. Tiada satu agama jang menghendaki kesama-rataan lebih daripada Islam. Pengeramatan manusia itu, adalah salah satu sebab jang mematahkan djiwanja sesuatu agama dan ummat, oleh karena pengeramatan manusia itu, melanggar tauhid. Kalau tauhid rapuh, datanglah kebentjanaan!

Sebelum dan sesudahnja terima itu buku-buku, jang saja tunggu-tunggu benar, dan mudah-mudahan nanti buku tersebut dibatja oleh banjak orang Indonesia agar bisa mendapat inspiration daripadanja. Sebab, sesungguhnja buku tersebut penuh dengan inspiration. Inspiration bagi kita punja bangsa jang begitu muram dan kelam hati, inspiration bagi kaum Muslimin jang belum mengerti betul-betul artinja perkataan “Sunnah Nabi”, – jang mengira, bahwa sunnah Nabi S.a.w itu hanja makan korma dibulan Puasa dan celak- mata dan sorban sahadja !.

Saudara, please tolonglah. Saja mengutjap beribu-ribu terima kasih.

Wassalam,

SOEKARNO

Surat-surat Islam dari Ir. Soekarno kepada A. Hassan dapat menjadi saksi begitu dekatnya Soekarno dengan A. Hassan, dan merupakan salah satu bukti dari perjalanan “High Politic”nya -melalui tokoh-tokohnya- dalam peta politik nasional, bahkan Internasional.

Peran Politik Umat Islam … ?

Setelah mendalami perjalanan pergerakkan Umat islam di arena politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana seharusnya peran politik Umat Islam ?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji. Kenapa demikian, karena kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing arus politik global, dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi antar warga negaranya, interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa mempercayai orang –kelompok- yang lain.

Mari kita kerucutkan pada pengkajian bagaimana seharusnya umat Islam bersikap, baik dalam interaksi sebagai warga negara, maupun sebagai satu komunitas Muslim yang bercita-cita ingin melaksanakan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah seperti termaktub dalam sila pertama Pancasila yaitu : “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Melaksanakan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.

Kajian saat ini dibangun oleh 3 (tiga) tahapan berpikir : pertama, bagaimana memahami kondisi masyarakat -bangsa- Indonesia saat ini ? kedua, bagaimana realitas pandangan masyarakat terhadap peran partai politik di Indonesia dan ketiga, bagaimana seharusnya Persis berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?

Pertama, dengan berakhirnya masa Orde Baru diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ Habibie sebagai Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik eksekutif, legislatif, masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantangnya mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan -kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika justru lembaga yang diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab problematika hidup mereka, tapi sebaliknya para politisi yang menjadi “kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri dan keluarganya saja bahkan tidak kurang dari realitas yang ada mereka hanya menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang bangsa ini.

Kedua, akibat dari kondisi di atas masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang kepercayaan, saling meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis. Kepercayaan terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya menjadikannya (rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan politiknya tercapai, maka rakyat yang mendukungnya dengan setia ditinggalkan begitu saja. Kondisi inilah yang menjadi penyebab tercorengnya pemerintahan Indonesia di mata rakyatnya, apalagi di mata internasional. Peristiwa Ambalat, lepasnya Timor Timur, munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan lainnya, hal tersebut merupakan realitas politik yang tidak bisa kita pungkiri. 

Ketiga, bagaimana seharusnya umat Islam berperan dalam meng-apresiasi peta politik negara ini ?. Jawabannya ada pada sejauhmana naluri kebangsaan umat Islam, realitas politik bangsa tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Umat Islam tidak perlu melakukan kesalahan politik lagi, apalagi setelah Mahkamah Konstitusi meloloskan “Calon Independen” dalam peta politik bangsa, dimana kekuatan politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan partai-partai politik, tetapi berada di tangan kekuatan rakyat, LSM, dan organisasi masyarakat. Partai politik saat ini sedang mengalami kehilangan rasa percaya diri, maka mereka banyak melakukan political intrude -politik yang bermaksud mengganggu- dengan dalih “silaturrahmi politik”, sekali lagi hal tersebut merupakan jebakan politik saja. Sikap politik umat Islam sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung, tapi dapat dimaknai ; bagaimana umat Islam merealisasikan “the hidden program” nya yaitu : “terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan,” dalam bingkai pendidikan dan dakwah.

Umat Islam tidak bermain api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi umat Islam harus mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader yang memiliki “militansi ummah”, tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan langkah politik yang justru akan merusak harga diri umatnya tersebut; menjual kekuatan ummat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai politik maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah politik praktis. Makna partisipasi politik –penekanannya- bukan pada proses dukung mendukung, tetapi Umat Islam harus siap jadi bagian yang utuh, independen, dan memiliki karakter yang jelas, tegas dan berakhlakul karimah. Umat Islam yang diberi tanggungjawab penuh untuk mewakili umat dalam percaturan politik praktis, dia tidak mencampur adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter ummat dimanapun mereka beraktifitas, bukan  sebaliknya dia membawa karakter “luar” dan melakukan uji coba politik di dalam wilayah pergerakannya sendiri.

Khatimah

Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan bahwa: “Orang Barat -Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya lebih melihat ke bumi dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga bertendensi materialis, sedang orang Timur (Islam) lebih melihat ke langit karena perintah langit (Allah) memposisikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, sehingga bertendensi religius.
Aplikasi pergerakan yang sesungguhnya adalah sejauhmana kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan dengan berlandaskan firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ), serta melaksanakan komitmen dakwah dalam mewujudkan “terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.”.Wallah a’lam bish shawab.

*Penulis adalah Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Bandung

20 Desember 2022

19 Desember ku SBY dijadikeun Hari Bela Negara



Ayeuna téh Desember kénéh. Ulah lali, baheula taun 1948 basa Soekarno - Hatta serah bongkokan di Yogya, Republik Indonesia ampir karebut deui ku Walanda. 

Untung aya urang Sunda kelahiran Anyer   Banten anu wani wangkelang. Inyana teu milu sumerah malah boga alpukah nyieun Pamaréntahan Darurat Républik Indonésia, PDRI. 

Inyana Mr. Sjafrudin Prawiranegara. 

Poéan dibentukna PDRI nyaéta tanggal 19 Desember ku SBY dijadikeun Hari Bela Negara. 

Urang Sunda nu nyalametkeun RI téh.

15 Desember 2022

Femi Otedola (miliarder dari Nigeria)



Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, "Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?"

Femi berkata:

"Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati".


Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana.  Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.

Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.

Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.

Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak.

Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.

Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya.

Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang.

“Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot", ujarnya.

"Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya.  Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.

“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: "Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?"

“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya.  Anak ini berkata:

"Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’”


*Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta* 


10 Desember 2022

Jajang Arohmana: Profesor Produktif UIN SGD Bandung


Oleh : Moeflich H. Hart

Saya merasa sebagai tipe akademisi serius mendalami ilmu. Membaca dan mendalami ilmu karena dorongan ketertarikan, keresahan, kegelisahan dan panggilan jiwa, bukan kewajiban sebagai dosen. Demikian pun dalam menulis. Sudah menulis artikel di koran-koran sejak awal kuliah (S1, 1986-1991) tentang sosial politik keislaman, menulis skripsi 300 hlm pakai mesin tik, menulis tesis di ANU Canberra yang membuat teori baru (coined) tentang "Muslim Middle Class" tahun 1900-an yang saat itu belum ada dan kemudian ringkasannya dimuat di Jurnal Studia Islamika PPIM UIN Jakarta tahun 2000. Artikel itu banyak dikutip para peneliti Islam Indonesia dan para Indonesianis asing di banyak buku dan jurnal mereka. Salah satunya yang sering adalah MC. Ricklefs, sejarawan Australia. Setelah tulisan saya muncul, baru kemudian banyak tulisan menyusul tentang kelas menengah Muslim Indonesia.


Pulang dari studi dengan perasaan sebagai akademisi itu, kemudian menemukan komunitas yang klop alias matching di PPIM UIN Ciputat. Berlatarbelakang kesamaan alumni program Cados Kemenag yang digagas Menteri Munawir Sadzali, saya merasa PPIM adalah lingkungan yang "feel at home" disitu: Para akademisi produktif yang rata-rata alumni luar negeri dengan kesamaan karakter: Tukang bercanda. Itu yang membetahkan, asyik gila!


Maksud menceritakan itu, dalam setting itulah saya menemukan sosok berbeda, alumni domestik tapi produktif: Jajang Arohmana. Sosok yang saat itu, tidak saya temukan di kalangan dosen muda kampus UIN Bandung, dengan kemampuan menulis akademik ketat standar nasional. Tentu domestik-luar negeri bukan ukuran. Tapi bagi saya saat itu, Jajang agak spesial.


Sebelumnya tidak kenal dan sekarang pun hanya kenal biasa tapi yang membuat saya memberikan perhatian lebih tanpa dia tahu adalah minatnya pada keseriusan produktifitas terutama dalam minatnya: Islam Sunda bidang tafsir. Jajang adalah sosok akademisi muda produktif dengan kualitas riset dan tulisan bagus, beliau diamanati menduduki posisi Ketua Dewan Tafkir PP. PERSIS, beliau orang Subang yang namanya tahun 2000-an tidak dikenal dalam pergaulan alumni luar negeri, tapi hingga kini konsisten menulis jurnal hingga meraih penghargaan salah seorang dosen teladan dan penulis jurnal terbanyak di lingkungan Kemenag. Itu yang membuat kesan tersendiri. Potensinya sudah saya lihat sejak lama. Sekali lagi, tanpa dia tahu.


Orangnya lurus, lempeng, teu neko-neko, soleh, tidak kritik sana sini, tidak berimajinasi tentang perubahan sosial dan kehidupan sosial politik yang lebih baik, tidak terlibat dalam diskursus tema-tema publik, fokus saja di minat keilmuannya. Dalam kategori Gramsci, Jajang beserta prototipe sejenisnya adalah tipe "intelektual organik" yang asyik masuk di dunianya, lingkungan eksklusif akademis dan minat keilmuannya. Suatu saat saya pernah komentar tentang tipenya, dia bilang: "Enya, saya mah teu resep nu panas-panas teh." 😊. 


Latar belakangnya sebagai santri Persis Garut, membuat agak unik. Dari Persis yang puritan tapi minat keilmuannya membuatnya kultural nyunda. Soal ini sama dengan orang Persis lain, Dadan Wildan yang menulis disertasi di UNPAD tentang sosok Sunan Gunung Djati berdasarkan perbandingan naskah. Konon, di lingkungan Persis, disertasi itu dicap sebagai "disertasi loba bid'ah" 😊😄. 


Wilayah keilmuannya adalah "elmu tajug" sama dengan Oman Fathurrahman, gubes filologi UIN Jakarta. Ilmu yang ditekuninya sejak kecil di tajug (pasantren) yang tak terbayangkan kemudian, membentuk profesi dan keahliannya setelah dewasa. Dengan Oman, tipe kepribadiannya pun hampir sama, tekun, rajin, produktif, lempeng, leumpang ngagandeuang bangun taya karingrang ... 😊


Sekarang, Jajang, anak Subang dan santri Persis itu, 11 tahun lebih mudah dari saya, sudah jadi profesor. Tentu itu kebanggaan hasil ketekunan dirinya, kebanggaan keluarganya dan institusi/kampusnya. Dan bagi saya, dia adalah salah seorang profesor beneran alias profesor berbasis karya atau produktivitas bukan profesor kepangkatan. Inilah dorongan saya menuliskannya. Orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besarnya tentang tafsir Qur'an Sunda, membuktikan itu.


Produktifitasnya banyak, 49 tulisan jurnal, rata-rata 2 bulan dia menulis satu artikel jurnal, selain beberapa buku dan tulisan bagian buku. Minatnya fokus di tafsir Qur'an Sunda dan pemikiran Haji Hasan Mustapa, yang saat ngobrol dengan saya: "Saya mah hayoh weeh ... didinya, ulukutek tentang Haji Hasan Mustapa." Nya teu nanaon tapi jadi ahli dan itu mahal. Sesuatu yang saya tidak bisa karena saya senang berpikir banyak, menulis banyak hal, mencari hikmah-hikmah kehidupan. Sebagai sejarawan pun tak merasa, itu sebutan formal orang saja.


Wilujeng kang Prof, mugia elmuna mangpaat dunia aherat.***

6 Desember 2022

Bantu Penyintas Gempa Cianjur, Persis Siap Bangun 1.000 Huntara

 







Gempa bumi yang memporak-porandakan beberapa wilayah Kabupaten Cianjur menyisakan kerugian materi, non-materi dan berdampak pada psikis para penyintas. Butuh waktu cukup lama bagi warga Cianjur untuk bisa kembali seperti sedia kala.


Sebagai bentuk dukungan, Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) K.H. Jeje Jaenudin melakukan agenda kunjungan ke beberapa wilayah terdampak gempa di Cianjur selama dua hari yang dimulai sejak Senin (5/12) hingga hari ini Selasa (6/12).

Titik pertama yang dikunjungi adalah lokasi pembangunan hunian sementara (Huntara) di Desa Ciherang, Kecamatan Pacet. Kemudian menyambangi wilayah Kecamatan Cugenang, termasuk mengunjungi posko utama relawan.

Dalam kesempatan tersebut, K.H. Jeje berkesempatan menyapa para penyintas sembari memberikan nasihat, motivasi, dan melihat mushola darurat (sementara) yang sudah lebih awal didirikan tim Respon Persis Peduli, yakni LAZ Persis (Pusat Zakat Umat) dan Sigab Persis.

Ketum Persis mengapresiasi seluruh jamaah dan simpatisan karena telah berlomba-lomba membantu saudaranya yang saat ini terkena musibah gempa bumi di Cianjur, dengan berbagai peran dan kapasitasnya masing-masing, baik sebagai relawan maupun donatur.

Ia pun memberi apresiasi program Huntara berupa  tenda keluarga yang saat ini sudah berdiri 47 unit. Rencananya akan didirikan 1.000 Huntara, mengingat butuh waktu cukup lama untuk para korban bisa membangun rumah seperti sedia kala.

Program Huntara tersebut diharapkan bisa berjalan baik mengingat butuh cukup dana untuk membangunnya. Karenanya, ia berharap masyarakat bisa bahu-membahu membantu saudaranya yang sedang terkena musibah.

"Inilah saatnya membuktikan falsafah hidup kita sebagai muslim yang sering kita gembar-gemborkan; ‘Kita ini seperti satu tubuh’. Ketika saudara kita yang terkena musibah, harus juga menjadi bagian penderitaan kita,” ucap K.H. Jeje dalam keterangannya, Selasa (6/12).

Sementara di hari kedua kunjungannya, K.H. Jeje mengawali kegiatan dengan shalat subuh berjamaah, dan dilanjutkan berbincang bersama para pengungsi korban gempa Cianjur serta seluruh Tasykil PP Persis yang hadir beserta para relawan.

Dalam kegiatan tersebut, Ketum Persis menyampaikan, mengkontribusikan sebagian harta yang dimiliki untuk membantu saudara yang sedang membutuhkan adalah sebuah kebaikan. 

“Apapun yang dapat kita berikan berupa tenaga, pikiran, dan harta, maka berikanlah. Semua ini untuk meringankan beban saudara kita,” terangnya.

K.H. Jeje juga berpesan kepada seluruh jamaah dan masyarakat bahwa pada dasarnya memberikan bantuan itu baik. Apalagi jika bantuan itu dikoordinir secara rapih dan amanah, maka insya Allah akan jauh lebih baik. 

“Karena akan tepat sasaran, tepat guna, dan lebih bermanfaat. Jangan merasa khawatir saat memberikan bantuan yang dikoordinir oleh suatu lembaga amil zakat bantuan atau sodaqohnya tidak disalurkan,” terangnya.

Dirinya juga menekankan, akan lebih bagus lagi jika jamaah dan simpatisan Persis  memberikan bantuan lewat Lembaga Amil Zakat resmi milik Persis, yaitu LAZ Persis yang dikenal dengan nama Pusat Zakat Umat. 

“Bantuan ini akan lebih terdata dan laporannya jelas pada akhir program kegiatan ini,” tutupnya. 

Hadir mendampingi Ketua Umum Ustadz, Faisal Nursyamsi,
Sekretaris Majelis Penasehat PP
Persis, Dadan Wildan Anas, Direktur Pendayagunaan LAZ Persis (Pusat Zakat Umat) Heri
Sholehudin, serta Ketua Siaga
Bencana Persis, Sony Ramdhani 

2 Desember 2022

TO KILL OR TO BE KILLED OR BULDOZER

 



Oleh ::M Rizal Fadillah
( Pemerhati Politik dan Kebangsaan )

Bandung, 1 Desember 2022

Tuhan baru telah muncul di Indonesia yang bernama "Investasi". Menteri terdepan penyembah berhala ini adalah Luhut Panjaitan. Bukan hanya sudah sujud tetapi tersungkur menghamba. Dengan puja puji berbagai negara akan kehebatan Indonesia yang mungkin basa basi saja Pak Menteri sudah menggembung hidung.

Fikirnya investasi adalah dewa penyelamat negeri. Fatamorgana itu muncul dari bayang-bayang kemakmuran palsu. Keterpurukan dan keputus-asaan rupanya telah membuat halusinasi tentang banjir investasi. Berkokok dengan slogan to kill or to be killed. Lebih gila lagi dengan ancaman akan main buldozer.
Emang rakyat itu gundukan tanah yang seenaknya di buldozer.

"Saya akan turun dengan kewenangan saya untuk membuat Anda susah, kalau Anda bermain-main dengan itu tadi. Karena  latar belakang saya tentara, buat saya ada satu titik to kill or to be killed. Jadi gak bisa main-main". Begitu kata Pak Luhut di Rakornas Investasi 30 Nopember 2022.

Ada tiga hal ngawurnya Luhut disini, yaitu  :

Pertama, investasi adalah jurus mabuk cinta eh china yang membuat sang jagal terus minum dan minum hingga hilang kesadaran. Berjalan oleng mengoceh tanpa jelas arah. Main ancam sok jago. Investasi itu bagi Luhut nampaknya sudah menjadi candu. Sebenarnya investor itu tidak percaya ketika rakyat tidak mendukung rezim.

Kedua, bahwa ada slogan 'to kill or to be killed'  tentu iya, akan tetapi menjeneralisasi bahwa latar belakang tentara harus pada titik ini tentu berlebihan. Tentara itu bukan tukang bunuh. Tukang bunuh namanya pembunuh. Ada aturan main dalam peperangan. Sebenarnya ingin tanya juga kapan ya bapak Luhut berperang ? Kok sombong amat sudah jadi tukang "to kill"

Ketiga, Luhut mau bikin Anda susah. Aneh pemimpin model apa seperti ini. Menteri itu pembantu Presiden dalam upaya menggembirakan atau membahagiakan rakyat. Bukan membuat susah. Hanya gerombolan yang suka petantang petenteng kesana sini yang kerjanya menakut-nakuti masyarakat. Geng kampak dengan ketua yang berwajah sinis dan cengengesan. Mungkin berambut putih berkulit keriput.

Fokus investasi yang dimaksud Luhut adalah asing atau Foreign Direct Investment. Antara investasi dan penjajahan ekonomi sebenarnya tipis-tipis. Apa kurangnya investasi Belanda di Indonesia dulu, ujungnya ya menjajah. Pembangunan bangsa Indonesia di bawah Jokowi dengan tukang pukul Luhut ini bukan untuk memandirikan ekonomi tapi membuka jalan bagi kolonialisasi.

Rakyat dan pelaku ekonomi pribumi harus semakin intensif berlatih mempersiapkan jurus jurus perlawanan terhadap kedatangan para pebisnis asing yang terang-terangan difasilitasi dan dilindungi oleh centeng-centeng bayaran. Mencoba mengganggunya "Anda akan dibuat susah".

Waspada pada jurus katak kungfu hustle, jurus wing chun, rajawali sakti condor heroes atau drunken master si dewa mabuk. Siapkan tepak satu cimande, naga terbang tapak suci, pulo kali, brajamusti atau lainnya.
Pribumi mandiri dan pribumi usaha bersatu perlu dibangun agar tidak tergerus oleh kekuatan investasi asing dan aseng yang kini digelar karpet merah oleh para penjual atau penggadai kedaulatan bangsa. "plis inpest tu may kantri".