26 Desember 2022
MENAKAR PERAN POLITIK UMAT ISLAM
20 Desember 2022
19 Desember ku SBY dijadikeun Hari Bela Negara
Ayeuna téh Desember kénéh. Ulah lali, baheula taun 1948 basa Soekarno - Hatta serah bongkokan di Yogya, Republik Indonesia ampir karebut deui ku Walanda.
Untung aya urang Sunda kelahiran Anyer Banten anu wani wangkelang. Inyana teu milu sumerah malah boga alpukah nyieun Pamaréntahan Darurat Républik Indonésia, PDRI.
Inyana Mr. Sjafrudin Prawiranegara.
Poéan dibentukna PDRI nyaéta tanggal 19 Desember ku SBY dijadikeun Hari Bela Negara.
Urang Sunda nu nyalametkeun RI téh.
15 Desember 2022
Femi Otedola (miliarder dari Nigeria)
Femi Otedola (miliarder dari Nigeria) dalam sebuah wawancara telepon, ditanya oleh presenter radio, "Tuan, apa yang dapat Anda ingat yang membuat Anda menjadi pria paling bahagia dalam hidup?"
Femi berkata:
"Saya telah melalui empat tahap kebahagiaan dalam hidup dan akhirnya saya mengerti arti kebahagiaan sejati".
Tahap pertama adalah mengumpulkan kekayaan dan sarana. Tetapi pada tahap ini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya inginkan.
Tahap kedua, saya mengumpulkan barang-barang berharga. Saya menyadari bahwa hal ini bersifat sementara dan kilau barang berharga tidak bertahan lama.
Tahap ketiga, tatkala mendapatkan proyek besar. Saat itu saya memegang 95% pasokan solar di Nigeria dan Afrika. Saya juga pemilik kapal terbesar di Afrika dan Asia. Sampai di sini saya tidak mendapatkan kebahagiaan yang saya bayangkan.
Tahap keempat adalah saat teman saya meminta saya untuk membelikan kursi roda untuk beberapa anak cacat. Hanya sekitar 200 anak.
Atas permintaan teman, saya langsung membeli kursi roda.
Teman itu bersikeras agar saya pergi bersamanya dan menyerahkan kursi roda kepada anak-anak. Saya bersiap dan pergi bersamanya.
Di sana saya memberikan kursi roda ini kepada anak-anak ini dengan tangan saya sendiri. Saya melihat pancaran kebahagiaan yang aneh di wajah anak-anak ini. Saya melihat mereka semua duduk di kursi roda, bergerak dan bersenang-senang.
“Seolah-olah mereka tiba di tempat piknik di mana mereka berbagi kemenangan jackpot", ujarnya.
"Saya merasakan sukacita nyata di dalam diri saya. Ketika saya memutuskan untuk pergi, salah satu anak memegang kaki saya. Saya mencoba membebaskan kaki saya dengan lembut, tetapi anak itu menatap wajah saya dan memegang kaki saya dengan erat.
“Saya membungkuk dan bertanya kepada anak itu: "Apakah Anda membutuhkan sesuatu yang lain?"
“Jawaban yang diberikan anak ini kepada saya tidak hanya membuat saya bahagia, tetapi juga mengubah sikap saya terhadap kehidupan sepenuhnya. Anak ini berkata:
"Saya ingin mengingat wajah Anda, sehingga ketika saya bertemu Anda di surga, saya akan dapat mengenali Anda dan berterima kasih sekali lagi.’”
*Kemurahan hati adalah bahasa yang bisa didengar oleh orang tuli dan dilihat oleh orang buta*
10 Desember 2022
Jajang Arohmana: Profesor Produktif UIN SGD Bandung
Saya merasa sebagai tipe akademisi serius mendalami ilmu. Membaca dan mendalami ilmu karena dorongan ketertarikan, keresahan, kegelisahan dan panggilan jiwa, bukan kewajiban sebagai dosen. Demikian pun dalam menulis. Sudah menulis artikel di koran-koran sejak awal kuliah (S1, 1986-1991) tentang sosial politik keislaman, menulis skripsi 300 hlm pakai mesin tik, menulis tesis di ANU Canberra yang membuat teori baru (coined) tentang "Muslim Middle Class" tahun 1900-an yang saat itu belum ada dan kemudian ringkasannya dimuat di Jurnal Studia Islamika PPIM UIN Jakarta tahun 2000. Artikel itu banyak dikutip para peneliti Islam Indonesia dan para Indonesianis asing di banyak buku dan jurnal mereka. Salah satunya yang sering adalah MC. Ricklefs, sejarawan Australia. Setelah tulisan saya muncul, baru kemudian banyak tulisan menyusul tentang kelas menengah Muslim Indonesia.
Pulang dari studi dengan perasaan sebagai akademisi itu, kemudian menemukan komunitas yang klop alias matching di PPIM UIN Ciputat. Berlatarbelakang kesamaan alumni program Cados Kemenag yang digagas Menteri Munawir Sadzali, saya merasa PPIM adalah lingkungan yang "feel at home" disitu: Para akademisi produktif yang rata-rata alumni luar negeri dengan kesamaan karakter: Tukang bercanda. Itu yang membetahkan, asyik gila!
Maksud menceritakan itu, dalam setting itulah saya menemukan sosok berbeda, alumni domestik tapi produktif: Jajang Arohmana. Sosok yang saat itu, tidak saya temukan di kalangan dosen muda kampus UIN Bandung, dengan kemampuan menulis akademik ketat standar nasional. Tentu domestik-luar negeri bukan ukuran. Tapi bagi saya saat itu, Jajang agak spesial.
Sebelumnya tidak kenal dan sekarang pun hanya kenal biasa tapi yang membuat saya memberikan perhatian lebih tanpa dia tahu adalah minatnya pada keseriusan produktifitas terutama dalam minatnya: Islam Sunda bidang tafsir. Jajang adalah sosok akademisi muda produktif dengan kualitas riset dan tulisan bagus, beliau diamanati menduduki posisi Ketua Dewan Tafkir PP. PERSIS, beliau orang Subang yang namanya tahun 2000-an tidak dikenal dalam pergaulan alumni luar negeri, tapi hingga kini konsisten menulis jurnal hingga meraih penghargaan salah seorang dosen teladan dan penulis jurnal terbanyak di lingkungan Kemenag. Itu yang membuat kesan tersendiri. Potensinya sudah saya lihat sejak lama. Sekali lagi, tanpa dia tahu.
Orangnya lurus, lempeng, teu neko-neko, soleh, tidak kritik sana sini, tidak berimajinasi tentang perubahan sosial dan kehidupan sosial politik yang lebih baik, tidak terlibat dalam diskursus tema-tema publik, fokus saja di minat keilmuannya. Dalam kategori Gramsci, Jajang beserta prototipe sejenisnya adalah tipe "intelektual organik" yang asyik masuk di dunianya, lingkungan eksklusif akademis dan minat keilmuannya. Suatu saat saya pernah komentar tentang tipenya, dia bilang: "Enya, saya mah teu resep nu panas-panas teh." 😊.
Latar belakangnya sebagai santri Persis Garut, membuat agak unik. Dari Persis yang puritan tapi minat keilmuannya membuatnya kultural nyunda. Soal ini sama dengan orang Persis lain, Dadan Wildan yang menulis disertasi di UNPAD tentang sosok Sunan Gunung Djati berdasarkan perbandingan naskah. Konon, di lingkungan Persis, disertasi itu dicap sebagai "disertasi loba bid'ah" 😊😄.
Wilayah keilmuannya adalah "elmu tajug" sama dengan Oman Fathurrahman, gubes filologi UIN Jakarta. Ilmu yang ditekuninya sejak kecil di tajug (pasantren) yang tak terbayangkan kemudian, membentuk profesi dan keahliannya setelah dewasa. Dengan Oman, tipe kepribadiannya pun hampir sama, tekun, rajin, produktif, lempeng, leumpang ngagandeuang bangun taya karingrang ... 😊
Sekarang, Jajang, anak Subang dan santri Persis itu, 11 tahun lebih mudah dari saya, sudah jadi profesor. Tentu itu kebanggaan hasil ketekunan dirinya, kebanggaan keluarganya dan institusi/kampusnya. Dan bagi saya, dia adalah salah seorang profesor beneran alias profesor berbasis karya atau produktivitas bukan profesor kepangkatan. Inilah dorongan saya menuliskannya. Orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besarnya tentang tafsir Qur'an Sunda, membuktikan itu.
Produktifitasnya banyak, 49 tulisan jurnal, rata-rata 2 bulan dia menulis satu artikel jurnal, selain beberapa buku dan tulisan bagian buku. Minatnya fokus di tafsir Qur'an Sunda dan pemikiran Haji Hasan Mustapa, yang saat ngobrol dengan saya: "Saya mah hayoh weeh ... didinya, ulukutek tentang Haji Hasan Mustapa." Nya teu nanaon tapi jadi ahli dan itu mahal. Sesuatu yang saya tidak bisa karena saya senang berpikir banyak, menulis banyak hal, mencari hikmah-hikmah kehidupan. Sebagai sejarawan pun tak merasa, itu sebutan formal orang saja.
Wilujeng kang Prof, mugia elmuna mangpaat dunia aherat.***
6 Desember 2022
Bantu Penyintas Gempa Cianjur, Persis Siap Bangun 1.000 Huntara
2 Desember 2022
TO KILL OR TO BE KILLED OR BULDOZER
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
Oleh : Pepen Irpan Fauzan _Borosngora Persatuan Islam_ Koran _Sipatahoenan_ pada 27 Djanoeari 1933 memberitakan pujian-apresiatif para tok...





