Saya merasa sebagai tipe akademisi serius mendalami ilmu. Membaca dan mendalami ilmu karena dorongan ketertarikan, keresahan, kegelisahan dan panggilan jiwa, bukan kewajiban sebagai dosen. Demikian pun dalam menulis. Sudah menulis artikel di koran-koran sejak awal kuliah (S1, 1986-1991) tentang sosial politik keislaman, menulis skripsi 300 hlm pakai mesin tik, menulis tesis di ANU Canberra yang membuat teori baru (coined) tentang "Muslim Middle Class" tahun 1900-an yang saat itu belum ada dan kemudian ringkasannya dimuat di Jurnal Studia Islamika PPIM UIN Jakarta tahun 2000. Artikel itu banyak dikutip para peneliti Islam Indonesia dan para Indonesianis asing di banyak buku dan jurnal mereka. Salah satunya yang sering adalah MC. Ricklefs, sejarawan Australia. Setelah tulisan saya muncul, baru kemudian banyak tulisan menyusul tentang kelas menengah Muslim Indonesia.
Pulang dari studi dengan perasaan sebagai akademisi itu, kemudian menemukan komunitas yang klop alias matching di PPIM UIN Ciputat. Berlatarbelakang kesamaan alumni program Cados Kemenag yang digagas Menteri Munawir Sadzali, saya merasa PPIM adalah lingkungan yang "feel at home" disitu: Para akademisi produktif yang rata-rata alumni luar negeri dengan kesamaan karakter: Tukang bercanda. Itu yang membetahkan, asyik gila!
Maksud menceritakan itu, dalam setting itulah saya menemukan sosok berbeda, alumni domestik tapi produktif: Jajang Arohmana. Sosok yang saat itu, tidak saya temukan di kalangan dosen muda kampus UIN Bandung, dengan kemampuan menulis akademik ketat standar nasional. Tentu domestik-luar negeri bukan ukuran. Tapi bagi saya saat itu, Jajang agak spesial.
Sebelumnya tidak kenal dan sekarang pun hanya kenal biasa tapi yang membuat saya memberikan perhatian lebih tanpa dia tahu adalah minatnya pada keseriusan produktifitas terutama dalam minatnya: Islam Sunda bidang tafsir. Jajang adalah sosok akademisi muda produktif dengan kualitas riset dan tulisan bagus, beliau diamanati menduduki posisi Ketua Dewan Tafkir PP. PERSIS, beliau orang Subang yang namanya tahun 2000-an tidak dikenal dalam pergaulan alumni luar negeri, tapi hingga kini konsisten menulis jurnal hingga meraih penghargaan salah seorang dosen teladan dan penulis jurnal terbanyak di lingkungan Kemenag. Itu yang membuat kesan tersendiri. Potensinya sudah saya lihat sejak lama. Sekali lagi, tanpa dia tahu.
Orangnya lurus, lempeng, teu neko-neko, soleh, tidak kritik sana sini, tidak berimajinasi tentang perubahan sosial dan kehidupan sosial politik yang lebih baik, tidak terlibat dalam diskursus tema-tema publik, fokus saja di minat keilmuannya. Dalam kategori Gramsci, Jajang beserta prototipe sejenisnya adalah tipe "intelektual organik" yang asyik masuk di dunianya, lingkungan eksklusif akademis dan minat keilmuannya. Suatu saat saya pernah komentar tentang tipenya, dia bilang: "Enya, saya mah teu resep nu panas-panas teh." 😊.
Latar belakangnya sebagai santri Persis Garut, membuat agak unik. Dari Persis yang puritan tapi minat keilmuannya membuatnya kultural nyunda. Soal ini sama dengan orang Persis lain, Dadan Wildan yang menulis disertasi di UNPAD tentang sosok Sunan Gunung Djati berdasarkan perbandingan naskah. Konon, di lingkungan Persis, disertasi itu dicap sebagai "disertasi loba bid'ah" 😊😄.
Wilayah keilmuannya adalah "elmu tajug" sama dengan Oman Fathurrahman, gubes filologi UIN Jakarta. Ilmu yang ditekuninya sejak kecil di tajug (pasantren) yang tak terbayangkan kemudian, membentuk profesi dan keahliannya setelah dewasa. Dengan Oman, tipe kepribadiannya pun hampir sama, tekun, rajin, produktif, lempeng, leumpang ngagandeuang bangun taya karingrang ... 😊
Sekarang, Jajang, anak Subang dan santri Persis itu, 11 tahun lebih mudah dari saya, sudah jadi profesor. Tentu itu kebanggaan hasil ketekunan dirinya, kebanggaan keluarganya dan institusi/kampusnya. Dan bagi saya, dia adalah salah seorang profesor beneran alias profesor berbasis karya atau produktivitas bukan profesor kepangkatan. Inilah dorongan saya menuliskannya. Orasi ilmiahnya dalam pengukuhan guru besarnya tentang tafsir Qur'an Sunda, membuktikan itu.
Produktifitasnya banyak, 49 tulisan jurnal, rata-rata 2 bulan dia menulis satu artikel jurnal, selain beberapa buku dan tulisan bagian buku. Minatnya fokus di tafsir Qur'an Sunda dan pemikiran Haji Hasan Mustapa, yang saat ngobrol dengan saya: "Saya mah hayoh weeh ... didinya, ulukutek tentang Haji Hasan Mustapa." Nya teu nanaon tapi jadi ahli dan itu mahal. Sesuatu yang saya tidak bisa karena saya senang berpikir banyak, menulis banyak hal, mencari hikmah-hikmah kehidupan. Sebagai sejarawan pun tak merasa, itu sebutan formal orang saja.
Wilujeng kang Prof, mugia elmuna mangpaat dunia aherat.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar