16 Desember 2021

HANYA SURGA ALLAHLAH TEMPATMU REGIAKU

 

إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ، وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمَّى…فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ. 

*Percakapan titipan Allah*
(Regia Radlita Latiefah binti Hilman Latief)

Bismillah...
Saya *Regia Radlita Latiefah*. Melalui WA ini, mohon maaf sebesar-besarnya atas kesalahan yang selama ini telah diperbuat.
Doakan Saya, untuk diberi yang terbaik oleh Allah. Semoga Allah memberkahi. 😇 Aamiin.

*HCU RSHS, 14 December 2021. pukul 07.44 wib*

Untuk anakku *REGIA* :

"ALLAH mengumpulkan kita untuk satu alasan".

Entah untuk memberi atau menerima.

Entah untuk belajar atau mengajarkan.

Entah untuk bercerita atau mendengarkan.

Entah untuk sesaat atau selamanya.

Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya.

Lambaian tanganmu meski terlihat jauh dari ruang HCU, membuat kami lega dan yakin, *Regia* akan segera sehat kembali.

Semua itu tidak ada yang sia-sia karena Allah yang berkehendak, baik sakit maupun sehat,
gembira maupun sedih...,
itu semua adalah takdir-Nya.

Tetaplah tegar dan kuat *Regia anakku* , janganlah ragu untuk selalu berdo'a minta pertolongan kepada Allah. Kami semua senantiasa berdo'a; untuk kesembuhan *Gia*

Tetap shabar...
Tetap kuat...
Hadapi dengan ikhlas anakku, insya Allah ujian ini akan segerq berlalu,
Sekali lagi wa Eri katakan: *Allah akan menyembuhkanmu, anakku...*, yakini itu*

شفاها اللّٰهُ

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

*RSHS Selasa, 14 Desember 2021 11.35 wib*


Bagai petir disiang bolong .

Allah lebih menyayangimu; REGIA RADLITA LATIEFAH anakku dengan mengambilmu lebih cepat ......, 

walau berat rasanya menerima kenyataan ini.

Engkau lahir di 13 Juli 1999

Engkau kembali pada dekapan Allah di usia 22 tahun, anakku yang shalehah...

Engkau mampu menginspirasi kami bagaimana memaknai keshabaran.

Engkau adalah bidadari surga...

Engkau laksana mutiara hidup kami..

Engkau adalah belahan jiwa kami, anakku

Kusimpan harapanmu di awan untuk keabadian

Ku amalkan nasihatmu dibumi untuk ku jadikan amal yg senantiasa terkirim kebaikanmu menjadi pahala keshalehanmu 


Kami yakin ; Engkau adalah penghuni surga Allah

Tenanglah disisi Allah, anakku... 


*Ciapus, Selasa 14 Desember 2021 pukul 22.15 wib*.


Untuk adikku ; Hilman Latief  dan Dian Diana  ayah dan Bunda Regia Radlita Latiefah, kalian adalah orang tua yang kuat, cerdas, shaleh, dan shabar.

Yaa Rabb berkahi dan lindungilah keluarga adikku dengan limpahan kasih sayang-Mu. Aamiin..

29 November 2021

PERISTIWA SEPUTAR MUNAS XI ORARI 2021

 



Oleh : R. Syarif Hidayat - YB1FWO

1. Proses pertanggungjawaban belum selesai, pemandangan umum anggota blm ada, ketua sidang main ketok palu dengan kilat menerima pertanggung jawaban, padahal banyak catatan yg sdh saya siapkan untuk menanggapi laporan tsb,... hak anggota dimatikan dg diketuk "setuju" sebelum kami diberi kesempatan bicara sesuai ketentuan. .... ini cacat

2. Pemilihan DPP dilaksanakan sebelum PERTANGGUNGJAWABAN PENGURUS usai tidak sesuai ketentuan yg sudah disepakati dalam tata tertib yg sudah disepakati malem sebelumnya , harusnya sidang komisi dulu tapi sidang komisi diskip langsung ke pemilihan dpp.

3. Pemilihan DPP secepat kilat tidak memberi kesempatan orda diluar kelompok 21 untuk menyampaikan pilihannya. Praktis itu dpp paket yg sesuai keinginan kubu A tapi blm mengakomodasi 12 orda lainnya,

Intinya pimpinan sidang tidak capable memimpin,  yg akhirnya memicu protes dan protes tsb tidak ditangani dg benar sehingga akhirnya ada 2 utusan daerah  emosi tidak terkendali, meja didorong maju mendekati pimpinan sidang .... dan begitu berkerumun di depan, polisi yg stand by (kapolsek) langsung menghentikan  acara dan menyuruh semua orang keluar ruangan.
Sidang dihentikan sampai waktu yg tidak ditentukan

Saran saya :
Marilah kita cool down, tidak mereka-reka apa yg terjadi didalam ruang sidang yg bisa menimbulkan kesimpang siuran, kita percayakan kepada pihak yang kompeten (DPP dan Pengurus, bersama SC dan OC MUNAS XI)  menyelesaikan seluruh proses sampai tuntas. 

Mari lanjutkan hidup kita spt semula, ... kita dx ing on air, nikmati keindahan menjadi amatir radio.  Kita rakyat jelata orari harus tetap bersatu menikmati hobi ini dg baik

Salam amatir radio

de YB1FWO

26 November 2021

HALAQOH KEBANGSAAN

 





Sebagai lembaga MANDATORI berdasarkan PBM Nomor 9 & 8 tahun 2006, FKUB harus mampu menjadi garda terdepan pemerintah dalam membangun moderasi beragama terutama dalam membangun kebersamaan merajut silaturrahmi antar umat beragama khususnya di Kabupaten Bandung.


BEDAS dalam merajut KEBHINEKAAN,

BEDAS dalam menjaga MARWAH Pemerintahan Kabupaten Bandung,

BEDAS dalam menetapkan keputusan yang berperikeadilan.


#kesbangpolkabbandung 

#fkubkabbandung

23 November 2021

UNTUK ANAK-ANAKKU




 "Ruh itu bagaikan pasukan yang dihimpun dalam kesatuan.. Jika saling mengenal di antara mereka maka akan bersatu. Dan yang saling merasa asing di antara mereka maka akan berpisah.”

Dear Pak Dudung

 


Oleh : Moeflich Hasbullah

Silahkan Pak Dudung berlakukan. Yang sudah terjadi, Pak Hartonya menua, meninggal dunia dan meninggalkan jejak buruk otoriter, sementara "radikalisme"-nya tidak pernah hilang. 


Jangankan Pak Dudung, negara raksasa AS dan Cina saja, jika memerangi radikalisme (maksudnya pasti Islam), AS dan Cina-nya kelak akan bubar atau musnah, dan radikalisme masih akan tetap hidup. Dalam sejarah, radikalisme lebih tua dari usia negara-negara yang pernah berdiri dan sudah ditelan sejarah.


Memerangi radikalisme selalu akan menjadi pekerjaan sia-sia. Mengapa? Karena kita memerangi akibat bukan sebab, memerangi dampak bukan sumber, mengobati sakit bukan menghilangkan kebiasaan buruk yang mendatangkan penyakit. 


Radikalisme masalahnya bukan di "radikalisme"-nya tapi di akar-akarnya: ketidakadilan sosial, ketidakadilan hukum, ekonomi dan politik. Selama itu semua ada, radikalisme àkan tetap hidup, subur, apalagi sumber-sumber itu dipelihara. Ya jangan mimpi radikalisme bisa dihilangkan. 


Memerangi radikalisme dalam konsteks itu hanya akan menimbulkan banyak korban warga negara yang sakit hati kehilangan nyawa dan anggota keluarga, hukum dan penguasa yang tidak adil, yang mungkin kita anggap enteng, yang di akhirat kelak akan lapor kepada Tuhannya di yaumul hisab mengadukan kedzaliman penguasanya kepada mereka sebagai rakyat. Siapa yang bisa melawan kekuasaan Tuhan disana? Di dunia saja, kita diberi sakit gigi saja, sakitnya minta ampun, apalagi stroke, hidup menderita. Apalagi adzab disana. Ngeri.


Bila yang ditekadkan Pak Dudung adalah memerangi ketidakadilannya, yang secara psiko-sosiologis menjadi akar yang melahirkan radikalisme, Pak Dudung akan menghasilkan tiga hal: Pertama, Pak Dudung akan dikenang sebagai pahlawan pembela keadilan, walaupun tentu sangat berat dan tidak berhasil maksimal. Kedua, radikalisme akan menurun secara drastis. Ketiga, Pak Dudung akan dicintai Tuhan. Saya berani jamin itu!!


Saya tidak tahu kebenaran ucapan dan tekad Pak Dudung itu, gak apa-apa, ini inspirasi saja buat siapapun yang ingin memerangi radikalisme. Saya pun memeranginya dengan cara memberikan pemahaman historis-sosiologis agar kita tidak salah langkah dan kita bisa melangkah dengan benar. Wallahu a'lam.***

8 November 2021

TOHA & RAMDAN, PAHLAWAN BANDUNG SELATAN YANG TERLUPAKAN

 

 


Oleh

Dadan Wildan


@ Pendahuluan


Hingga saat ini, kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua pahlawan muda dari Bandung Selatan, belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah, baik dalam sejarah local kota dan Kabupaten Bandung, maupun dalam sejarah Nasional. Informasi tentang kedua pahlawan ini, masih sangat terbatas. Apalagi, berbagai penafsiran muncul terhadap perjuangan kesyahidan Toha  Ramdan dalam mengancurkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot pada tanggal 11 Juli 1946. Padahal, penghancuran gudang mesiu ini telah melemahkan kekuatan tentara Belanda yang akan kembali menjajah bangsa Indonesia.


Sebagai upaya menghargai jasa kedua pahlawan ini, seyogianya kita menghilangkan penafsiran-penafsiran yang tidak didasarkan pada fakta-fakta keras (hard fact) sejarah. Penafsiran yang terlalu jauh, seperti peledakan bom itu sebagai bentuk prustasi Mohammad Toha akibat putus cinta, atau dibelokkan oleh kepentingan Belanda yang tidak mau mengakui kehancuran gudang mesiu itu akibat dari perjuangan kedua anak muda kusumah bangsa ini. Belanda bahkan menyatakan, kehancuran gudang mesiu di dayeuhkolot hanyalah kecelakaan akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bahkan, secara politis, perlakuan kepada kedua pahlawan yang gugur itu, malah berbeda. Hanya karena perbedaan lasykar perjuangan. Mohammad Toha dari Barisan Banteng Republik Indonesia, sementara Mohammad Ramdan dari lasykar Hizbullah. Marilah kita diskusikan secara jernih, untuk bersama-sama menghargai jasa keduanya secara layak dan proporsional.


Siapakah Mohamad Ramdan?


Sejak lahir hingga masa-masa kuliah,  saya hidup di Kampung Leles, Desa Magung (sekarang Desa Mekarsari), Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Tempat lahir hingga masa remaja Mohammad Ramdan. Sejak kecil, saya telah mendengar kepahlawanan Mohammad TYoha dan Mohammad Ramdan. Ketertarikan saya kepada kedua pahlawan ini, baru muncul pada tahun 1988, ketika saya kuliah di jurusan Sejarah IKIP Bandung. Beberapa sepuh, saya wawancarai. Karena, saya tidak menemukan informasi yang cukup dan referensi yang memadai tentang keduanya.


Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan, mengemukakan masa kecil Mohammad Ramdan:

Mohammad Ramdan dilahirkan pada tahun 1928, di Kampung Leles, Desa Magung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Ramdan, adalah anak kedua dari keluarga Hassan, seorang petani di desa itu. Ibunya bernama Warsih. Hassan kemudian bercerai dengan Warsih. Warsih kemudian menikah dengan Ahmudi, seorang pedagang beras di pasar Ciparay. Sejak usia satu tahun, Ramdan diasuh oleh ayah tirinya, Ahmudi.


Dalam usia tujuh tahun, pada tahun 1935, Ramdan---yang biasa dipanggil dengan nama kecil Endang---sekolah di Sekolah Rakyat (Volkschool) di Kampung Leles. Kemudian pada tahun 1938 melanjutkan sekolah ke sekolah sambungan (Vervolgschool) di Kecamatan Ciparay. Sebagaimana anak-anak lainnya, selain sekolah ia pun rajin mengaji di Surau dan pesantren. Ramdan termasuk anak yang rajin. Waktu senggangnya diisi dengan membuat berbagai kerajinan tangan, seperti ayakan, korang, hihid, aseupan, dan kekesed.


Menurut teman sepermainannya, Endin, pensiunan Kepala SDN Magung I, sejak kecil Ramdan telah menunjukkan sikap pemberani. Ramdan gemar bermain perang-perangan atau perang gobang (pedang-pedangan yang terbuat dari kayu). Tahun 1942, Ramdan telah menyelesaikan sekolah di Vervolgschool. Pada masa pendudukan Jepang, Ramdan kembali bersekolah di Vervolgscholl selama satu tahun, untuk mempelajari bahasa Jepang.


Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat. Maka mulailah zaman baru bagi rakyat Indonesia yang ditandai dengan berbagai penderitaan. Pada awal pendudukan Jepang, Pemerintah Jepang memberikan latihan-latihan kemiliteran bagi para pemuda di tanah air untuk memupuk tenaga guna kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Bagai para pemuda kita, latihan militer ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mempersiapkan diri untuk menyongsong kemerdekaan. Para pemuda banyak yang menggabungkan diri antara lain dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air), Heiho, Keibodan, dan Seinendan. Mohammad Ramdan, juga tertarik menggabungkan diri dalam latihan-latihan kemiliteran yang diselenggarakan oleh tentara Jepang. Latihan ini, dijadikan sarana yang baik untuk melatih kepercayaan pada diri sendiri, ketabahan, serta perjuangan tanpa kenal menyerah.


Siapakah Mohammad Toha?

Informasi yang saya terima menyebutkan bahwa Toha, lahir di Jalan Suniaraja Bandung pada tahun 1927. Dalam usia satu tahun, ia telah yatim, karena ayahnya, Ganda, seorang pegawai UNIE meninggal dunia. Masa kecilnya dihabiskan di kota Bandung. Toha menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Babakan Bandung hingga lulus tahun 1940.  Masa remajanya, ia habiskan untuk bekerja di bengkel motor Cikudapateuh dari tahun 1943 - 1945.


Peledakkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot


Masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia. Kesempatan ini, digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu, para pemuda dan rakyat Indonesia bergerak melakukan tindakan pengambilahan kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda, kemudian menggabungkan diri dalam berbagai lasykar perjuangan, seperti Hizbullah, Sabilillah, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, dan berbagai lasykar perjuangan lainnya. Mohammad Ramdan, bergabung dengan lasykar Hizbullah. Sementara Mohammad Toha bergabung dengan lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia.


Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kondisi awal kota Bandung menjelang peristiwa peledajan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot sebagai berikut:

Pada bulan September-Oktober 1945 terjadi bentrokan fisik antara pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan rakyat Bandung dengan tentara Jepang dalam usaha pemindahan markas Jepang. Bentrokan iti terjadi antara lain di Gedung PTT, pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong, dan puncaknya terjadi di Heetjanweg, Tegalega. Pada tanggal 9 Oktober 1945, bentrokan fisik dengan pihak Jepang dapat diselesaikan dengan damai. Pemuda, TKR, dan rakyat Bandung berhasil mendapatkan senjata mereka dan kemenangan ada di pihak rakyat Bandung. Namun bersamaan dengan itu, pada tanggal 21 Oktober 1945 satu brigade tentara Sekutu di bawah pimpinan Mc Donald dari Divisi India ke 23 memasuki kota Bandung.  Peranan Sekutu sebagai wakil kolonial Belanda segera menimbulkan ketegangan dan bentrokan dengan rakyat Bandung. Insiden-insiden kecil yang menjurus pada pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi.


Pada tanggal 24 November 1945, TKR, pemuda, dan rakyat yang dipimpim oleh Arudji Kartasasmita sebagai komandan TKR Bandung memutuskan aliran listrik dengan maksud mengadakan serangan malam terhadap kedudukan Sekutu. Seluruh kota Bandung gelap gulita. Sejak saat itu, pertempuran terus berkecamuk di Bandung. Karena merasa terdesak, pada tanggal 27 November 1945 Sekutu memberikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat Sutarjo yang ditujukan kepada seluruh rakyat Bandung agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 seluruh unsur bersenjata RI meninggalkan Bandung Utara dengan jalan kereta api sebagai garis batas dermakasinya. Tetapi sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya. Sejak saat itu, Sekutu---secara sepihak---menganggap bahwa kota Bandung telah terbagi menjadi dua bagian; dengan jalan kereta api sebagai garis batasnya. Bandung bagian utara dianggap milik Inggris, sedangkan Bandung Selatan milik Republik.

Mulailah tentara Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, Gurkha, dan NICA meneror penduduk di bagian Utara jalan kereta api. Mereka menghujani tembakan ke kampung-kampung dengan membabi buta. Kekalahan Republik dalam mempertahankan Gedung Sate/PTT membawa korban 7 orang meninggal dunia sebagai pahlawan.


Pertempuran di UNPAD pada tanggal 1 Desember, Balai Besar K.A., dan Stasiun Viaduct pada 3 Desember menjadi saksi atas semangat juang rakyat Bandung. Sepanjang bulan Desember 1945 sampai Januari 1946, pertempuran masih berlangsung dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Titik utamanya: Waringin, Stasiun Viaduct, dan Cicadas. Demikian pula pertempuran di Fokkerweg berlangsung selama tiga  hari tiga malam. Pada tanggal 2 Januari 1946, konvoi Inggris dari Jakarta yang terdiri dari 100 truk tiba di Bandung. Bantuan dari Jakarta terus   mengalir untuk membantu pertahanan Sekutu yang ada di Bandung, sementara di pihak Republik bantuan pun tak kunjung henti dari berbagai daerah. Sekutu merasa tidak aman karena selalu mendapat serangan dari TKR, pemuda, dan rakyat Bandung.


Pada tanggal 24 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum lagi kepada rakyat Bandung yang masih mempunyai atau menyimpan senjata, bahwa pada malam minggu harus sudah meninggalkan seluruh kota Bandung. Dengan demikian, garis demarkasi yang telah dibuat itu tidak digunakan lagi. Ultimatum itu berakhir sampai tengah malam Senin 24-25 Maret 1946. Secara lisan, pihak Sekutu meminta untuk mengawasi daerah dengan radius 11 km sekitar Bandung. TKR dan pasukan lainnya meminta waktu 10 hari karena penarikan TKR dalam waktu singkat tidak mungkin, namun tuntutan itu tidak disetujui. 


Dengan demikian, pertempuran sulit untuk dihindarkan. Ribuan orang, berduyun-duyun mulai meninggalkan kota Bandung. Bulan Februari sampai Maret 1946, Bandung telah berubah menjadi arena pertempuran. Kantor Berita ANTARA memberitakan sebagai berikut:

Berita yang diterima siang hari ini menyatakan sebagai berikut: Bandung menjadi lautan api. Gedung-gedung dari jawatan-jawatan besar hancur, di antaranya kantor telpon, kantor pos, jawatan listrik. Sepanjang jalan Pangeran Sumedang, Cibadak, Kopo, puluhan rumah serta pabrik gas terbakar. Semua listrik, penerangan di daerah Bandung putus, yakni Banjaran, Ciperu, dan Cicalengka. Yang masih berjalan hanya listrik penerangan daerah Pengalengan. Lebih lanjut dikabarkan, bahwa Inggris mulai menyerang pada tanggal 25 Maret pagi, sehingga terjadi pertempuran sengit yang masih berjalan sampai saat dibikinnya berita ini (Sumber: Berita ANTARA, 26 Maret 1946).


Bandung sengaja dibakar oleh tentara Republik, menjadi Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946. Hal ini dimaksudkan agar Sekutu tidak dapat menggunakannya kota ini sebagai basis pertahanannya. Di sana sini asap hitam mengepul membumbung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi.

Pada tahun 1946, daerah Bandung Selatan diserahkan oleh pihak Sekutu kepada tentara Belanda dari Brigade V yang dipimpin oleh Kolonel Meier yang bermarkas di Kampung Dengki Dayeuhkolot. Watra, saksi seperjuangan dengan Mohammad Ramdan yang saya temui sekitar pada tahun 1988 mengemukakan:

Pihak lasykar perjuangan Bandung Selatan, kemudian mendirikan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP) di Baleendah. Baleendah, menjadi front paling depan yang berhadapan langsung dengan markas tentara Belanda di Dayeuhkolot. Batas yang memisahkan kedua pos pertahanan yang saling bermusuhan itu, adalah sungai Citarum. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, markas MPPP selalu dijaga secara bergantian oleh lasykar-lasykar perjuangan yang tergabung di dalamnya.  Mohammad Ramdan yang juga bergabung dalam MPPP dari lasykar Hizbullah yang bermarkas di Majalaya, juga secara bergantian mendapat tugas jaga di pos MPPP.


Menjelang peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot, Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan yang saya wawancarai mengemukakan:

Hari Kamis, pukul 10.00 pagi tanggal 10 Juni 1946,


Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat pabrik mesiu yang besar milik Sekutu. TKR bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan kosong dari tentara. Tetapi api masih membumbung masih membakar Bandung. Kini Bandung berubah menjadi lautan api. Rakyat berduyun-duyun meninggalkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke desa-desa. Sekutu tetap melancarkan serangan-serangan tapi jauh di utara ditujukan ke selatan. Sampai saat itu, hanya 16.000 orang pribumi yang tinggal di Bandung Utara, padahal sebelumnya daerah itu berpenduduk 100.000 jiwa.


Tentang hancurnya gudang mesiu di Dayeuhkolot, Watra menuturkan seperti ini. Ketika itu, dua hari sebelum dilakukan infiltrasi, terjadi silang pendapat di antara lasykar-lasykar perjuangan di markas MPPP tentang strategi yang tepat untuk menghancurkan gudang mesiu? Siapa yang akan melakukannya, bagaimana caranya, dan kapan akan dilaksanakan? Pada akhirnya, komandan MPPP memberi tugas kepada lasykar-lasykar perjuangan untuk melakukan penyerangan terhadap markas  pertahanan Belanda sekaligus menghancurkan gudang persenjataannya, karena dengan melumpuhkan markas Belanda di Dayeuhkolot, apalagi menghancurkan gudang persenjataannya, akan melumpuhkan kekuatan Belanda di sektor selatan.


Engkos, seorang pensiunan perintis kemerdekaan, mengungkapkan bahwa keputusan penyerangan ke markas Belanda di Dayeuhkolot diambil pada malam Jumat, dan dilakukan pada malam itu juga.  


Menurut penuturan Engkos dan Watra, Kira-kira pukul 21.45 malam Jumat tanggal 10 Juli 1946, ternyata anggota lasykar perjuangan yang siap melaksanakan tugas menghancurkan gudang mesiu itu hanya dua lasykar, yakni lasykar Hizbullah dengan anggotanya antara lain Mohammad Ramdan, Watra, dan Idas serta lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) dengan anggotanya, antara lain; Mohamad Toha, Juju, Muin, dan Jojo. Mereka akan melakukan penyusupan dengan cara menyeberangi sungai Citarum dan masuk melalui gorong-gorong.


Menurut kesaksian Watra, malam Jumat itu beberapa orang yang siap melakukan infiltrasi mulai menyusuri pematang sawah, menyeberangi sungai Citarum, dan mendekati terowongan air. Tetapi sebelum masuk terowongan air, mereka diketahui oleh petugas jaga tentara Belanda. Akhirnya terjadilah pertempuran, Watra terluka dengan sembialn luka tembak di sekujur tubuhnya dan ia menimbun diri di sungai untuk menyelamatkan diri, sementara Ramdan dan Toha berhasil masuk terowongan air dengan berbekal dua buah geranat tangan dan sepucuk pistol.


Keesokan harinya, hari Jumat, pukul 12.10 tanggal 11 Juli 1946, terdengar bunyi ledakan dahsyat dari Dayeuhkolot. Gudang Mesiu telah hancur bersama pelaku penghancurannya, Mohammad Toha dan Mohammar Ramdan, keduanya hancur luluh bersama 18.000 ton bahan peledak dan amunisi dari berbagai jenis. Keduanya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, meski tubuh mereka hancur luluh.


Tanggal 14 Juli 1946, kawan-kawan Mohammad Ramdan dan Mohammad Toha datang menyatakan bela sungkawa. Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin, memberikan penghargaan berupa piagam dan pedang samurai bagi keluarga Toha dan Ramdan.


Toha gugur dalam usia 19 tahun, dan Ramdan gugur dalam usia 18 tahun. Mereka gugur dalam usia remaja, bukan anak-anak yang baru berusia 14 tahun. Jadi, kalau Mohammad Toha dianggap fiktif, mengapa Mr. Amir Syarifuddin memberikan penghargaan kepada keduanya? Mengapa pula, Arsip Nasional mencatatnya sebagai sebuah dokumen sejarah? Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, bukanlah tokoh sangkuriang. Keluarganya, dapat memberikan kesaksian riwayat hidup keduanya.


Hari ini saya hanya bisa menyanyi sedih, sebab tidak banyak  orang yang mengetahui dan dapat menghargai perjuangan kedua pahlawan muda ini :


Getih suci nyiram bumi

Tulang setra mulang lemah

Babakti nyungkem pertiwi

Cikal bugang putra bangsa

Nyatana Pahlawan Toha

Pahlawan Bandung Selatan

Patriot ti Dayeuhkolot

Tugu ngawangun ngajadi ciri

Tarate nu mangkak ligar di empang

Jadi bukti gugurna pahlawan bangsa.


*)Makalah disajikan pada Seminar Pengusulan Mohammad Toha sebagai Pahlawan Nasional di Soreang Kabupaten Bandung, 21 Maret 2007.

5 September 2021

GEBYAR VAKSINASI PESANTREN SELURUH INDONESIA



Karena antusias dari masyarakat Keluarga Besar PERSIS dan Santri PPI 31 Banjaran, maka pelaksanaan VAKSINASI MERDEKA di PPI 31 Banjaran dilaksanakan dalam hari yaitu pada hari Kamis, 2 September 2021 dan Senin, 6 September 2021.


Dalam pelaksanaannya  kami menggandeng/bekerjasama dengan POLRESTA BANDUNG yang didukung oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung dalam hal ini PUSKESMAS Banjaran Kota, ungkap Yudi Wildan Latief selaku Kepala Madrasah Tsanawiyah dan Mu'alimin PPI 31 Banjaran.

Peserta yang melaksanakan Vaksinasi berjumlah 2000 orang terdiri dari :
1. Santri PPI 31 Banjaran sebanyak : 985 santri Tsanawiyah dan Mu'alimin
2. Orang tua santri dan Keluarga Besar Persatuan Islam sebanyak : 755 orang
3. Masyarakat di sekita Kampus Hijau PPI 31 Banjaran sebanyak : 260 orang.

Pada pelaksanaan pertama hari Kamis, 2 September 2021 hadir pula Bapak Faizal Arbi (Camat Kecamatan Banjaran) yang selalu mendukung dan aktif hadir disetiap kegiatan kemasyarakatan di Kecamatan Banjaran. Saya sangat bangga memiliki seorang camat yang brilian dan merakyat seperti pak Faizal, kata Eri Ridwan Latief Wakil Kepala Madrasah bidang Humas yang juga Ketua FKUB Kabupaten Bandung. 

Dalam kegiatan tersebut juga hadir seluruh alumni PPI 31 Banjaran sebagai "relawan Nakes" baik dokter, bidan maupun perawat yang dengan sigap dan ikhlas bekerja tanpa dibayar. Kami hanya mengharap Ridlo Allah Swt, yang penting Indonesia terbebas dari ancaman COVID19, kata ibu Hj. Neni Cefridayani pembina Santri Sehat PPI 31 Banjaran, bersemangat.


Pelaksanaan hari Kamis selesai pada pukul 13.00 wib dan insya Allah akan dilanjutkan pada Senin, 6 September 2021 (besok) berjumlah 922 orang yang terdiri dari Santri dan Keluarga Besar PERSIS.

Seluruh kegiatan ini adalah hasil kerja bareng Staf Khusus Presiden RI dengan Seluruh Pesantren Persatuan Islam di Jawa Barat. Semoga langkah kecil Pesantren Persatuan Islam dapat menurunkan berkah sehingga Indonesia terhindar dari bahaya COVID19. Wallahu a'lam

30 Agustus 2021

"PANCASILA PERMADANI BANGSA"

 


oleh : Eri Ridwan Latief


Tangisan ku tak pernah berwujud
di mata ini,
Tangisan ku seperti darah
Yang mengalir dalam denyut nadi

Sampai tubuh ini terasa bergejolak
Karena menahan setiap isakan
yang keluar dalam diri,
Menahan setiap air mata menetes.

Kalimat inilah yang keluar dari salah satu elemen masyarakat bangsa yang melihat betapa telah "melenceng" jauh cara pandang "bangsa" dalam memaknai kedalaman makna PANCASILA.

Sebagai dasar negara PANCASILA dimaknai berbeda-beda tergantung dari kacamata atau sudut pandang masing-masing warga negara "seolah" mereka leluasa menafsirkan sekehendaknya.

Satu kubu bersikeras menafsirkan PANCASILA sebagai puncak dialektika bangsa menuju kebhinekaan berbasis gotong royong dengan budaya Indonesia sebagai warna ideologinya dengan tidak memasukan makna agama sedikitpun, kubu yang lain memaknai bahwa substansi PANCASILA merupakan kesimpulan para founding father bangsa yang bersumber pada ajaran agama-agama yang ada, sehingga menjadi prasyarat utama penopang haluan keadaban bangsa yang berlandaskan KETUHANAN YANG MAHA ESA, artinya INDONESIA adalah sebuah negara yang menjadi tempat hidup rakyatnya yang BERTUHAN (beragama).

Perbedaan yang diameteral ini harus segera diakhiri, maka harus ada satu langkah dari warga negara yang berani mengambil ARAH BARU INDONESIA dengan melakukan terobosan berfikir menyatukan pandangan bahwa PANCASILA merupakan PERMADANI BANGSA yang menjadi pijakan dasar bangsa dalam membangun keadaban dalam keberadaban.
PANCASILA harus menjadi dasar paradigma berfikir rakyat yang multi fungsi;
PANCASILA sebagai Karakter Bangsa yang BERTUHAN,
PANCASILA sebagai perekat keberagaman, suku, adat, dan agama,
PANCASILA sebagai Dasar Negara Bangsa yang diambil dari intisari Agama - agama yang ada, harus mampu berdiri tegak dalam meninggikan harga diri bangsa, sehingga mampu menjadi Kekuatan ke 5 Dunia.

PANCASILA tidak dijadikan senjata untuk menghacurkan kekuatan politik manapun oleh kekuatan manapun.
Pertanyaannya ; kita mau memosisikan diri dimana? Menjadikan PANCASILA sebagai ruh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara?, atau PANCASILA hanya dijadikan alat politik dan dimaknai sekehendak syahwat politiknya?
Jawabannya ada pada diri masing-masing pengisi bangsa ini.

Khatimah

PANCASILA adalah sinar gemintang yang tak'kan pernah padam dalam memberikan semangat berjuang.....

PANCASILA adalah PERMADANI BANGSA yang harus senantiasa diperjuangkan, dalam mewujudkan tatanan masyarakat yang makmur, beradab dan sejahtera.

Teruslah berjuang, GELORA-kan, dan teguhkan nilai dasar bangsa  menuju masa depan INDONESIA yang GEMILANG

19 Juli 2021

Kang Mul; Pendiri Shurulkhan itu telah tiada

 




Kang Mul bukan panggilan tokoh di sinetron. Yang dimaksud Kang Mul di sini ialah kang H. Mulyana. Pria yang lahir di Garut ini merupakan aktivis Brigade dan Shurulkhan Persatuan Islam. Orang yang mengenalnya pasti tahu dengan penampilan yang apa adanya, humoris, bersemangat, dan rela berkorban.


Perkenalan intens dengan kang Mul dimulai sejak pembentukan Shurulkhan di Persatuan Islam. Peristiwa 26 September 2017 tersebut bertepatan dengan 5 Muharram 1439 H. Para tokoh dari Syufu, Thifan, dan Bidgar Jamiyah yang diketuai Dr. Ihsan Setiadi Latif waktu itu mendeklarasikan Shurulkhan Persatuan Islam. Kang Mul ialah satu diantara dua puluh lima pendiri tersebut.


Orang akan cepat kenal, bersahabat, dan ngobrol enak dengan kang Mul. Menggunakan bahasa sederhana kang Mul akan berkata kepada lawan bicaranya. “Kang ti mana?,” tanya kang Mul ke penumpang elf di sebelah kiri saya. “Cilawu,” jawab pria yang ditanya. Laki-laki berempat tersebut rupanya pulang dari pekerjaannya di Bandung. Obrolan pun hangat dilakukan dengan gaya banyolan kang Mul yang mendominasi. Satu diantaranya untuk jangan salah memilih presiden. “Engké  taun 2024 pilih akang nya! Rék nyalon présiden,” jelas kang Mul. Semua penumpang elf pun tersenyum. Itu diantara obrolan yang saya saksikan sewaktu pulang dari Viaduct menuju Garut.


H. Mulyana sangat punya perhatian dengan gerak perjuangan. Hari Sabtu 16 Juni 2021 direncanakan ada pertemuan Shurulkhan dengan Ketua Bidang Jamiyah yang baru yaitu ustadz H. Uus M. Ruchiyat. Rupanya beliau sangat respek. Pukul 10.52 sudah mengontak saya untuk mengingatkan pertemuan tersebut. Padahal kami pun di Shurulkhan sudah bertemu di 5 Juni 2021.


Diantara obrolan yang cukup membekas dalam benak ialah kaderisasi Brigade melalui Shurulkhan. Beliau sangat berharap bahwa yang masuk ke Brigade Persis telah ditempa Shurulkhan. “Dengan masuk Shurulkhan dipastikan menguasai beladiri, dan ini khas Persis. Ketika anggota Brigade dari Shurulkhan maka otomatis telah mempunyai beladiri. Maka ini kualitasnya akan terjamin,” demikian diantara alasan kang Mul.


Kang Mul benar-benar aktivis sejati. Setelah mendirikan Shurulkhan beliau tidak berpangku tangan. Setiap kegiatan yang diselenggarakan Shurulkhan senantiasa ikut. Manakala ada kemandegan dalam organisasi dan kegiatan kang Mul selalu memberikan ide segar. Tidak hanya usul untuk pelaksana pun siap dan sigap. Rumahnya tidak susah untuk dikunjungi dan diinapi. Villanya sering dijadikan tempat bermusyawarah. Kendaraannya sudah tak terhitung untuk kegiatan. Tak terhingga kegiatan didanai dari dompetnya sendiri. Anngota Diwan I Hakim itu kini telah pergi menghadap Ilahi. Selamat jalan kang haji. Semoga Allah memberikan magfirah dan rahmat-Nya. (/Yusup Tajri)

15 Juli 2021

𝐏𝐮𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐛𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠

 


𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑒𝑙𝑎𝑙𝑢 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑠𝑒𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 ℎ𝑎𝑦𝑎𝑡, 𝑠𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑔𝑎𝑠𝑖ℎ𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟, 𝑑𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑟𝑠𝑎𝑚𝑎-𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑏𝑒𝑟𝑝𝑢𝑙𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒 ℎ𝑎𝑟𝑖𝑏𝑎𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎..


𝐏𝐮𝐫𝐧𝐚𝐦𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐠𝐚𝐧𝐭𝐢 𝐛𝐢𝐧𝐭𝐚𝐧𝐠

Oleh : Indra Fajar Nurdin



Dibawa takdir aku menepi sampai ke tebing air mata

berjatuhan membuat suara gaduh menderu

bila tak ada penyangga, aku bisa jatuh terhempas

tak bisa pulang


Wajah-wajah basah mendekapku tanpa suara

tapi gemuruh air terdengar terus menerus beradu

dibiarkan tak diusik orang-orang yang datang

telaga pun akhirnya penuh berkubang duka


air mata

bukankah engkau memiliki mata air berlimpah?

biarkan isakmu mengalir 

sepanjang pusara yang bertambah menjadi dua

banyak yang ingin kukatakan tak tersampaikan

sekian banyak kalimat tak mampu keluar

biarlah kini diambil alih air mata


kulihat langit tertutup kabut bergulung-gulung

membuat mendung tak kuasa menahan hujan

redup memekat terbawa ke ujung malam

tak butuh satu purnama

matahari dan bulan tersenyum pergi

tinggalkan sisa cahaya

malam pun senyap dalam semesta fana

tinggallah mimpi mendekap nama

menunggu bintang menggantikan purnama

(Bandung 10 Juli 2021, written by KN)


𝑌𝑎 𝑎𝑦𝑦𝑎𝑡𝑢ℎ𝑎𝑛𝑛𝑎𝑓𝑠𝑢𝑙 𝑚𝑢𝑡ℎ𝑚𝑎𝑖𝑛𝑛𝑎ℎ

𝑖𝑟𝑗𝑖'𝑖𝑦 𝑖𝑙𝑎𝑎 𝑟𝑎𝑏𝑏𝑖𝑘𝑖 𝑟𝑎𝑎𝑑𝑙𝑖𝑦𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑚𝑎𝑟𝑑𝑙𝑖𝑦𝑦𝑎ℎ

𝐹𝑎𝑑𝑘ℎ𝑢𝑙𝑖𝑖 𝑓𝑖𝑖 𝑖𝑏𝑎𝑎𝑑𝑖𝑖𝑦

𝑊𝑎𝑑𝑘ℎ𝑢𝑙𝑖𝑖 𝑗𝑎𝑛𝑛𝑎𝑡𝑖𝑖..

13 Juni 2021

"18 JAM YANG MENCEKAM"

 


(Catatan ini ditulis dari perjalan sejarah hidup nyata, yang penulisnya ada pada redaksi, semoga menjadi "ibrah" bagi kita semua)

Senin 14 juni 2021

Berita duka datang bertubi-tubi, yang sakit yg meninggal dan kita tak bisa menjenguk ta'jiyyah, rasa bersalah... bingung.. kita jadi sensitif.

Selasa 15 juni 2021

Sepulang dari ta'jiyyah hati msh diliputi duka mendalam.. kami rebahan sambil menunggu adzan dzuhur.
"Bu... ke Bandung ya.. sekarang.. , tolong ambilin barang yang ketinggalan"
"Ok" sahutku sambil menahan kantuk. 30 menit berikutnya, eh... katanya mau ambil barang.. sekarang cepetan bangun...",
nadanya agak tinggi.

Selesai shalat dzuhur, kami bersiap untuk berangkat ke Bandung, masker, hp, hand sanitaizer sudah aman di tas.
Selang beberapa menit "hpku" masih tergeletak di kursi tamu... hmm untung masih belum berangkat pikirku. Ketika hampir sampai ditempat yg dituju teleponku berdering, kudengar suamiku teriak;"Buu.. hp aku dibawa ku ibu?".. aku kaget, ketika kuperiksa, ternyata ditasku ada 2 hp yg mirip; "Balik deui wèh bapa perlu ayeuna pisan, teriaknya mengalahkan deru kendaraan dilampu merah tegallega.... "tanggung pah.. sebntar lagi nyampe"..... "Ah....teu nurut ka salaki".. kalimat itu terdengar samar.. diantara puluhan knalpot di lampu merah.
Segera kubereskan urusanku dan segera pulang ,rasa bersalah menggunung dihatiku, sampai di rumah kudapati rumah masih terkunci.. shalat asharku sudah lebih dari jam 16.00 sore hmmm.... suamiku belum pulang juga... adzan magrib.... shalat magrib, isya berjama'ah terlewatkan karena imamku belum pulang... kutatap kedua hp dan berharap ada kabar ttg keberadaannya.. lewat tengah malam belum ada kabar juga, kegelisahan memuncak.. rasa penyesalan karena tidak ta'at ke suami semakin menggunung. Tumpah pecah dala. sajadah... semua panik.... berbagai kemungkinan terucap dari saudara saudaraku... ketakutan kami semakin memuncak...; "ada yg bilang dibajak geng motor".... atau "jatuh dari motor karena hipertensi". Jam 02.00 dini hari kami sepakat untuk menyusuri setiap UGD di rumah sakit, hasilnya ...nihil... Tangisku tak ada yg bisa menghentikan" ini semakin membuat panik seluruh keluarga besarku.... akhirnya melalui berbagai media.. secara berantai .. semua berniat baik.. menolong.. membantu mencari, membantu berdoa untuk suamiku.
Kedatangan putra ke tigaku.. membuatku bisa sejenak merebahkan diri.. selepas shalat shubuh.

Cerita suamiku...
Jam 14.00 wib baru sadar kalau hp-nya tidak ada, dicari disekitar rumah tidak ada.. padahal ada data yg harus segera di update.. kekecewaan semakin memuncak ketika diujung telpon, aku menolak untuk segera pulang... hmmm.. harus diajarkan lagi untuk ta'at kepada suami.. pikirnya sambil menjalankan motornya.. dalam keadaan badan yg tidak fit.. kepala keleyengan.. takut jatuh, akhirnya singgah di sebuah penginapan.. makan obat.. dan bisa istirahat "tertidur" tengah malam terbangun.. mencoba u pulang.. tapi badan masih lemes... 
Akhirnya istirahat kembali.. pagi-pagi setelah minum dan sarapan.. bersiap untuk pulang karena ada rapat di pesantren. Kepala masih agak berat.
Sampai dipesantren.. disambut dengan pelukan dan tangisan dan berbagai pertanyaan.. semakin membuat badan limbung.. dan bingung...

Alhamdulillah suamiku pulang, kuterima wajah marahnya.. kupeluk, kucium pipinya ku mohon ampun dan ma'af atas segala kesalahanku.
Baru sadar kalau berita hilangnya suamiku tersebar seantero jagat maya, karena disebar melalui seluruhfasilitas sosial media.

Ya Allah... 
ternyata sangat banyak yg menyayangi suamiku... ku mohon ampun pada-Mu.
Ya Robbii. jadikan aku istri yg shalehah.. 
jadikan aku penyejuk disa'at suamiku butuh perhatianku..
jadikan aku istri yg selalu taat dan patuh pada suamiku.

Jazaakumullohu khoeron kepada saudara-saudaraku semua kasih sayang, perhatian kalian sangat berarti bagi kami
Mohon maaf telah membuat "kegaduhan".

Semoga bisa kita ambil hikmahnya....

Semoga covid19 segera berlalu.

7 Juni 2021

Pak Mochtar Kusumaatmadja dan Unpad

 



Oleh: Atip Latifulhayat


Prof.Mochtar Kusumaatmadja tidak bisa dipisahkan dan terpisah dari Unpad. Beliau sangat mencintai Unpad.

Tahun 1988 sebagai Ketua Sema Fakultas Hukum Unpad menghadiri pertemuan Ismahi (Ikatan Senat Mahasiswa Hukum Indonesia) di Bali. 

Pada sesi pertemuan ilmiah, hadir sebagai Nara Sumber Menlu Mochtar dan Pak Hassan Wirayudha. Bertindak sebagai moderator, kolega saya dari Sema FH UI. 

Ketika memperkenalkan riwayat hidup singkat Pak Mochtar sang moderator antara lain mengatakan, dalam kasus Tembakau Bremen Prof Mochtar mendampingi Prof Sudargo Gautama (Gauw Giok Siong). Begitu mendengar informasi ini Pak Mochtar langsung menginterupsi. Sebentar, tadi salah informasinya, bukan Mochtar mendampingi Sudargo, tapi Mochtar mengajak Sudargo, karena dalam perkembangannya kasus tersebut juga mengandung aspek-aspek hukum perdata internasional dan Sudargo adalah ahlinya. Jadi begitu duduk perkaranya. 

Lantas Pak Mochtar bertanya kepada sang moderator, anda dari universitas mana? dari UI Pak. Oh pantas... .. saudara bukan dari Unpad, sambil tertawa kecil. 

Memang cinta Prof Mochtar untuk Unpad ... luar biasa. 

Selamat jalan menuju keabadian. Insya Alloh amal jariah Bapak menuntun ke Jannatun Naim. Amien.

24 Mei 2021

KAIFIYAT (TATA CARA) SHALAT GERHANA & DALIL-DALINYA

 



Oleh: hajar


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ


IKHWAN FILLAH, IN SYAA ALLAH AKAN TERJADI GERHANA BULAN TOTAL PADA HARI RABU 

Tanggal 26 Mei 2021 M

Insyaallah Gerhana Bulan Total dapat disaksikan di seluruh wilayah Indonesia, dengan keterangan sebagai berikut:


Awal Umbra  (U1)=

16:44:56 WIB

Awal Total (U2)=

18:11:23 WIB

Tengah Gerhana (Max)=  

18:18:41 WIB

Akhir Total (U3)=  

18:25:59 WIB

Akhir Umbra (U4)=

19:52:26 WIB


Sumber: Almanak Islam 1442 H. yang dikeluarkan oleh PP Persatuan Islam (PERSIS)


KAIFIYAH (TATA CARA) SHALAT KHUSUF


Shalat Kusuf (di waktu ada Gerhana Matahari) dan Khusuf (di waktu ada Gerhana Bulan)


Hal Yang Berkaitan Dengan Terjadinya Gerhana

Pada waktu terjadinya selain Shalat Gerhana DUA RAKA'AT, ada perintah:


1- Berkhutbah (seperti khutbah Jum'at, tetapi tidak ada duduk antara dua khutbah, hanya sekali khutbah) setelah shalat dengan memberi nasihat apa yang perlu di waktu itu, menerangkan kekuasaan Allah Azza wa Jalla yang Maha Besar, dan mengingatkan, bahwa gerhana itu terjadinya bukan karena mati atau hidupnya seseorang, melainkan salah satu dari tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. yang ditunjukkan kepada kita.


2- Membanyakan menyebut asma Allah (bertakbir) dengan mengingat kekuasaan-Nya.


3- Berdo'a meminta sekalian apa yang hendak diminta, dan minta ampun dari dosa.


4- Bershadaqah.


5- Memerdekakan hamba sahaya, kalau ada.


KAIFIYAH (CARA) SHALAT GERHANA:


SHALAT GERHANA ITU DUA RAKA'AT SECARA BERJAMA'AH DENGAN TIDAK ADA ADZAN DAN IQOMAH.

SHALATNYA SEPERTI SHALAT SHUBUH, TETAPI DI TIAP-TIAP RAKA'AT DITAMBAH SATU RUKU', YAITU SESUDAH BANGKIT DARI RUKU' DENGAN MEMBACA _"SAMI'ALLAHU LIMAN HAMIDAH"_ DAN _"RABBANAA WALAKAL HAMDU"_ TERUS BERDIRI SEDEKAP DAN DILANJUTKAN MEMBACA AL-FATIHAH DAN SURAT LAGI, SESUDAHNYA KEMUDIAN RUKU' LAGI, LALU BANGKIT DARI RUKU', LALU SUJUD LALU DUDUK LALU SUJUD, DEMIKIAN SELANJUTNYA PADA RAKA'AT KEDUA.


JADI SHALAT GERHANA ITU DUA RAKA'AT DENGAN EMPAT RUKU' DAN EMPAT SUJUD.


Mulai Takbir : Setelah Shalat Maghrib +- 10 menit, dilanjut Shalat Gerhana, lalu Khutbah, 

pengumpulan, dan pendistribusian shadaqah.


Dalil-dalil Shalat Gerhana


Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (berkata): 


« أَنَّ الشَّمْسَ خَسَفَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ -صلى الله عليه وسلم- فَبَعَثَ مُنَادِيًا بِالصَّلاَةُ جَامِعَةٌ، فَتَقَدَّمَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ »


"Bahwasanya Matahari terjadi gerhana pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau mengutus penyeru mengajak orang-orang berkumpul untuk shalat, kemudian beliau berdiri shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud". {H.R. al-Bukhari: 1066}


Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, ia berkata:  


« خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَخَرَجَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ، فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ » . ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِىَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ: « سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ ». ثُمَّ سَجَدَ ، ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ ، وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: « إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ »

Pernah terjadi gerhana Matahari pada masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu Raslullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar ke masjid kemudian berdiri dan bertakbir dan orang-orang pun berbaris di belakangnya, lalu beliau membaca dengan bacaan yang panjang kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau berdiri lalu membaca dengan bacaan yang panjang tetapi kurang dari bacaan yang pertama, kemudian takbir sambil ruku' dengan ruku' yang panjang tetapi kurang dari ruku' yang pertama, (kemudian mengangkat kepalanya) sambil mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah, rabbanâ lakal hamdu' lalu beliau sujud (dua kali sujud) kemudian beliau melakukan pada raka'at yang selanjeutnya seperti itu hingga sempurna dikerjakan empat raka'at dan empat sujud dan gerhana Matahari pun berakhir sebelum beriau berpaling, kemudian beliau berdiri dan berkhutbah memuji dan menyanjung Allah sengan sepantasnya, dan beliau bersabda: "Sesungguhnya Matahari dan Bulan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah bersegera melaksanakan shalat (gerhana)". {H.R. Muslim: 2129 dan Ibnu Khuzaimah: 1311}


Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha (ia berkata):


« أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ »


*"Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan bacaannya pada shalat gerhana, beliau shalat empat ruku' dalam dua raka'at dan empat sujud."* {H.R. Muslim: 2131}


Anjuran Bershadaqah, Istighfar, Dan Dzikir Pada Kejadian Gerhana, Dan Keluar Waktu Selesai Shalat Dengan Keadaan Terang:


Dari Asma' Radhiyallahu 'anha, ia berkata: 


« لَقَدْ أَمَرَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم بِالْعَتَاقَةِ فِى كُسُوفِ الشَّمْسِ »


*"Sungguh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan memerdekakan hamba sahaya pada hari terjadi gerhana Matahari".* {H.R. al-Bukhari: 1054, Ibnu Khuzaimah: 1324, al-Hakim: 1178, Ibnu al-Jarud: 251, dan al-Baihaqi: 4176}


Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 


« إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ ، لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا ، وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا »


*"Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah, keduanya tidak terjadi gerhana dikarenakan kematian dan hidupnya seseorang, maka apabila kalian melihatnya hendaklah berdo'a kepada Allah SWT., bertakbir, shalat, dan bershadaqah".* {Muttafaq Alaih dari Aisyah Radhiyallahu 'anha}

 

Dari Abu Musa Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: 


« خَسَفَتِ الشَّمْسُ ، فَقَامَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم فَزِعًا ، يَخْشَى أَنْ تَكُونَ السَّاعَةُ ، فَأَتَى الْمَسْجِدَ ، فَصَلَّى بِأَطْوَلِ قِيَامٍ وَرُكُوعٍ وَسُجُودٍ رَأَيْتُهُ قَطُّ يَفْعَلُهُ وَقَالَ « هَذِهِ الآيَاتُ الَّتِى يُرْسِلُ اللهُ لاَ تَكُونُ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللهُ بِهِ عِبَادَهُ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَافْزَعُوا إِلَى ذِكْرِهِ وَدُعَائِهِ وَاسْتِغْفَارِهِ »


"Telah terjadi gerhana Matahari, (di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam) maka Nabi saw. berdiri dengan terkejut, beliau khawatir terjadi kiamat, lalu beliau menuju masjid, kemudian beliau shalat dengan berdiri, ruku', dan sujud yang sangat lama, saya melihat beliau melakukannya, kemudian beliau bersabda: *"Ini adalah tanda-tanda (kekuasaan Allah) yang Allah tunjukkan bukan dikarenakan kematian seseorang dan hidupnya, tetapi Allah pemperingatkan hamba-hamba-Nya dengannya, maka apabila kalian melihat sesuatu dari itu maka bersegeralah bangun untuk mengingat-Nya, berdo'a kepada-Nya, dan memohon ampun (dari dosa dan kesalahan) kepada-Nya".* {H.R. al-Bukhari: 1059 & Muslim: 2156, an-Nasa`i: 1502, Ibnu Khuzaimah: 1297, Abu 'Awanah: 1957, dan al-Baihaqi: 1890}


#Semoga bermanfaat🤲


Wallahu A'lam


#Mari Hidupkan Sunnah


@Silahkan dishare🙏


Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 


« مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ »


*"Barangsiapa dapat menunjukkan suatu kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya."*


{HR Muslim: 3509, Ahmad: 175499, Abu Daud: 5131, at-Tirmidzi: 2884, Ibnu Hubban: 289, Abu 'Awanah: 5964, al-Baihaqi: 17622, ath-Thayalisi: 611, dan ath-Thabrani: 1681 dari Abu Mas'ud Al Anshari Radhiyallahu 'anhu}


بارَكَ اللهُ لي ولكم

23 Mei 2021

BIOGRAFI KH. MUHAMMAD SYARIEF SUKANDI

 


Kiai Muhammad Syarief Sukandi dikenal sebagai muballigh tentara, karena beliau bertugas di ketentaraan. Kadang-kadang, ketika berceramah pun memakai baju dinas. “Bukan sombong, tetapi habis dinas, tidak pulang dulu kerumah, terus ngaji,” katanya suatu ketika. Ustadz Andi, begitu beliau dipanggil di lingkungan Persis, dikenal pula sebagai pengarang. Karya tulisnya meliputi bidang keagamaan, untuk umum atau untuk pelajaran di sekolah, seperti fiqh Islam (bahasa sunda), juga terjemah hadits Arba’in, hadits kuluhan Budi (bahasa Sunda), obor, Tauhid, Laki Rabi (bahasa Sunda). Khusus bagi TNI yang akan bertugas ke Timur Tengah, sebagai bekal, beliau menyusun pelajaran Tulis/Baca huruf Arab sistem enam jam. Sementara di Markas TNI dikjenal dengan panggilan Pak Syarief. Mungkin merupakan keistimewaan baginya bahwa dari mulai bawahan sampai atasan selalu memanggil Pak Syarief. Kata-kata “Pak” di depan Syarief tidak dihilangkan walaupun oleh atasannya.


Karya tulis lainnya dimuat di majalah, misalnya tentang seni, naskah Sempalan Padalangan yang dihimpun oleh Padalangan “Pamager Sari” pimpinan R.U. Partasuanda (alm). Tidak ketinggalan mencintai lagu, Dakwah Kawih, Sifat Dua Puluh, Syukur Nikmat yang dinyayikan oleh Cicih Cangkurileung. Kasetnya beredar terutama di daerah Jawa Barat. Kiai yang memncintai seni ini mengarang pula novel Sunda, seperti Nu Geulis Jadi werejit, perlaya di Tegal Karbala yang kemudian novelnya dimuat secara bersambung di hari8) harian Bandung Pos. Selanjutnya melalui Kodam mencipta lagu Al-Qur’an irama sunda yang kemudian ditangani Menteri Agama (ketika itu Prof.Dr. Mukti Ali), tetapi tidak ada kelanjutannya.


KH. Muh. Syarief Sukanndi adalah putra tunggal pasangan suami istri Yaya atmajaya (seorang perintis kemerdekaan) dan Engkik Rodiyah, dilahirkan di Garut, 7 April 1931. Pendidikannya banyak dijalani di Bandung. Pada usia tujuh tahun (1938) sekolah di Holland Inlandse School (HIS) setingkat SD sambil mesantren di pesantren cikuya, cicalengka dibawah asungan Ajengan Toha. Namun di HIS tidak sampai tamat, karena ketika itu perang berkecamuk, sedangkan mesantrennya berlangsung sampuan sampai tahun 1945. Selama 6 tahun pendidikannya terhenti, karena ketika itu para pemuda diwajibkan masuk laskar TNI hingga tahun 1951.


Setelah 6 tahun di laskar TNI, baru pendidikannya dilanjutkan lagi di Pesantren Persatuan Islam (Pesantren Persis), jl. Pajagalan, Bandung tingkat Tsanawiyah (SLP) lulus tahun 1954. Tahun1962 tamat MuallimIin, setingkat SLA di Pesantren yang sama, dan tahun 1967 lulus Sarjana Muda dari Institut Islam Siliwangi (INISI). Sepuluh tahun berikutnya (1977) lulus Sarjana (S1) dan Fakultas Ussuluddin jurusan Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Pendidikannya tersendat karena dirintis sambil bertugas di tentara.


Sejak tahun 1951 beliau aktif mengajar agama. Sampai 1966 menjadi guru di Tamhidul Mubhalligin (kader mubaligh Persis),dan anggota Veteran RI. Dari 1966-1986 menjadi TNI/AD yang kedua kalinya dengan pangkat Letnan satu. Sampai akhir hayatnya menjadi guru tetap di Pesantren Persis Pajagalan, Bandung. Kesibukannya di tentara (Bintal Dam III Siliwangi) tidak membuat Ustadz Andi berhenti aktif di lembaga lain. Tahun 1966-1967 menjadi ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) kecamatan Andir, 1967-11978 anggota MUI kota Bandung, dan tahun berikutnya menjadi ketua MUI kec. Bandung kulon. Hasil Musda MUI Kodya Bandung periode 1968/1990.


Dalam mengerjakan ibadah haji tahun 1984 saat sistem muassasah (tanpa melalui syekh) diakuinya, ibarat tentara yang diterjunkan ke medan perang yang tidak diketahui sebelumnya, kalau tidak dihadapi dengan penuh keberanian, kesungguhan hati dan pelaksanaan ibadah semata-mata mengharap rido Alloh, tidak sedikit yang mengerjakan ibadah haji tidak mengikuti ketentuan yang telah dicontohkan oleh Rasullulah.dengan demikian pelaksanaan ibadah hajinya jauh dari apa yang disebut haji mabrur, bahkan bisa jadi ibadah hajinya batal. Syetan dalam mengerjakan ibadah haji sering tampak “bungkeuleukan” muncul di depan mata.


Keluarga beliau adalah keluarga mubaligh, mulai dari beliau sendiri, istrinya (ibu Ustadzah Rokayah Syarif) dan di antara putra-putrinya yang berjumlah 11 orang menjadi mubaligh ditambah 5 orang menantunya yang rata-rata termasuk aktifis Majlis Ulama. “Apapun pekerjaannya, jadi mubaligh jangan di tinggalkan”. Itulah prinsip beliau. KH. Muh Syarif Sukandi termasuk keluarga besar. Ketika beliau wafat, 31 juli 1997, beliau meninggalkan seorang istri, sebelas anak, dan 28 cucu. Kini cucunya telah berkembang menjadi 34 orang ditambahcicit 4 orang.


Diakuinya, meski banyak kegiatan di luar, tidak melupakan keluarga. Seminggu sekali secara rutin diadakan pengajian keluarga di rumahnya di jalan Holis 28/81, kel. Cibuntu. Rumahnyabahkan dibafi dua dengan Madrasah “Al-Quran”. Hal itu dimaksudkan sebagai pembinaan terhadap keluarga menjadi sebulan sekali, tempatnya bergiliran diantara 11 putra-putrinya. Dalam pengajian keluarga, disamping membahas pelajaran agama dan masalah kemasyarakatan juga diskusi dan pemecahan masalah rumah tangga/keluarga. Di ruang tamu rumahnya tertampang tulisan yang cukup besaar dari triplek berwarna kuning Imah Kuring (rumahku surgaku). Tulisan itu terjemahan dari hadits Nabi saw. :Baiti Jannati. Sengaja tulisan itu di pampangkan di dalam rumah, sebagai peringatan (dzikroh) bagi keluarga, agar di rumah tidak ada yang murung, marah atau caci maki. “tidak pantas di surga ada yang murung,” katanya.


Beliau berpegang pada fiman Allah : “famal hayatuddun-ya illa la’ibun walahwun” (kehidupan dunia ini tiada lain hanyalah permainan dan sendau gurau belaka) “pasang surut permainan laut, panas dingin permainan hari, susah senang permainan hidup. Mengapa harus murung dalam bermain. Ikutilah peraturan permainan itu supaya senang”. Demikianlah kata kyai yang senang humor ini. “Apakah keluarga Bapak tidak boleh menangis? Beliau menjawab : “Di hadapan manusia usahakan terseenyum dan tertawa, tetapi di kala menghadap Allah (shalat, dzikir, atau berdo’a) menangislah sepuas-puasnya. Tangisilah dosa-dosa yang telah di perbuat, mohon ampunlah kepadaNya dan bertobatlah dengan derai aiar mata. Seperti halnya Nabi Adam dan Hawa bila bertobat mereka sambil menangis, demikian pula Nabi Muhammad saw. Sering menangis di kala beliau sedang shalat.


Bulan April 1986 beliau pensiun dari dinas tentara, mengomentari hal itu beliau menegaskan : “bebas tugas itu dari tentara, tetapi dari mubaligh atau juru dakwak tidak ada istilah bebas tugas, dan bila Allah mengingiinkan saya ingin menyusun buku lagi sebelum meninggal”. Kini Haji Muh. Syarif Sukandi telah tiada. Beliau wafat pada 31 juli 1997 di rumahnya, sekira pukul 12 malam, dihadapan istri dan salah seorang putrinya, Ny Lie Armanusah.


(Akhbar Jam’iyyah, No.13 TH. V Juli-Agustus, 2005).

11 Mei 2021

“Si Cikal, yang Prihatin dan Penuh Perhatian”

 


"USTADZ  USMAN SHOLEHUDIN"

Pengakuan Sang Adik, Ust. Zae Nandang: 


Ust. Usman adalah putra dari pasangan bapak Uya Mulyana dan Ibu Odah, anak pertama dari tujuh bersaudara, tiga laki-laki dan empat perempuan. Semasa sekolah beliau adalah anak yang paling memprihatinkan dibanding adik-adiknya, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat beliau, sekalipun harus jalan kaki menuju pesantren. Sehingga hasil dari keseriusannya dalam belajar membuahkan hasil dan ilmunya bisa dirasakan oleh adik-adiknya secara khusus, begitu juga oleh umat secara umum. Kata-katanya khas, padat dan mendalam, sedikit tapi sarat makna.


Beliau menjadi tumpuan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan permasalahan. Sepeninggal orangtua, beliau betul-betul mengamalkan sabda Rasulullah SAW, Kabiratul-Ikhwah bi manzilatil-ab , (anak yang paling besar itu, harus bisa menggantikan tempat ayah). Hal tersebut tampak sekali ditunjukkannya, sehingga semua saudara, yaitu adik-adiknya yang selalu memiliki permasalahan yang selalu dibereskan oleh beliau. Seluruhnya patuh kepada beliau, apalagi karakter beliau yang tegas terhadap semuanya, beliau selalu menekankan kami betul-betul menjadi orang yang benar. Tidak hanya ketegasannya saja yang dirasakan, tapi rasa sayang seorang kakak kepada adik-adiknya, dirasakan oleh semua. Sehingga tidak ada alasan bagi kami untuk mendukung beliau.


Peran beliau di keluarga sangat penting terutama dalam hal Birrul Waalidain yang sampai saat ini tidak bisa diikuti oleh adik-adiknya. Terimakasih kepada Tuhan, beliau tidak pernah terhalang oleh apapun. Sempat satu waktu ibu saya ingin pergi ke Cimahi dan ingin diantar oleh Uman (panggilan ibunya kepada Ust. Usman), beliau pasti datang. Mau dalam keadaan capek, sakit, jauh atau sedang ada sekalipun, pasti beliau datang. Kalau saya, belum tentu sanggup seperti beliau.


Beliau juga tidak pernah mengeluh, tidak mencari alasan apapun, selama sang ibu membutuhkannya, pasti beliau datang. Ini adalah pelajaran yang berharga dari beliau kepada adik-adiknya, dalam peringatan dan baik kepada seorang ibu. Makanya, saya tidak menolak beliau ketika memerintahkan pengajian di suatu tempat, sekalipun saya sudah ada jadwal.


Sebagai seorang kakak, beliau sangat terbuka dengan adik-adiknya. Masalah apapun selalu dibahas bersama, sehingga terasa enak oleh semuanya. Beliau adalah orang yang dituakan di keluarga, sehingga kalau pulang ke rumah sangat bisa dirasakan kehadirannya. Kalau Ust. Usman sudah masalah definisi harus seperti apa, maka beres sudah tersebut. Beliau betul-betul figur buat kami.


Sikapnya sangat sederhana, semangat dalam membaca kuat, dan perhatian sekali kepada kami. Kami semua mendukung untuk semangat membaca, cinta akan ilmu dan tidak berhenti belajar, baik dilembaga pendidikan yang formal maupun non formal.


Beliau selalu menuntut kami untuk terus meningkatkan keilmuan kami. Pernah satu waktu saya mengisi pengajian di Cimahi, memberikan pengajian beliau dengan kata-kata khasnya mengatakan, “suaranya kedengaran sampai sini, tapi hati-hati, awas tidak ada isinya”. Pernah juga saya dan Ust. Ua Saepudin mengisi pengajian di Cipatat, terus jamaah Cipatat mengatakan Alhamdulillah yang mengisi pengajian bagus-bagus. Ust. Usman Cuma berkomentar “Lilin juga terang kalau di tempat gelap”. Saya memahami komentar yang ditujukan kepada saya, omong kosong saya terus meningkatkan keilmuan. Setiap kali beliau berkunjung ke rumah, pasti beliau ngomong “ dapat nambah kitab teh”(Belum bertambah lagi kitabnya). Jadi beliau selalu mengadili kami kitab dan buku yang baru, punya banyak membaca. Maka, ketika beliau wafat kami sangat kehilangan.


Pesan yang saya ingat adalah ketika saya berdua di Maleer, kemudian ada kuli Batako lewat, beliau nanya, mau bawa pake tenaga atau pake ilmu ?. Artinya jangan jadi orang yang cape-cape kesana kemari bawa ijazah untuk mencari pekerjaan, tapi wujudkan diri menjadi pribadi yang bermanfaat dan dibutuhkan oleh orang lain, punya apa kita, sehingga orang lain datang kepada kita.


Seperti A Hassan saja, walau tempatnya jauh, tapi banyak jamaah yang selalu berdatangan ke tempat beliau untuk belajar, karena pada diri A Hassan ada sesuatu yang diperlukan jamaah, maka mereka datang sekalipun harus menempuh jarak yang jauh. Kami berharap, ada yang memulai perjuangan dan bersemangat, saya pihak keluarga yang berusaha menyelesaikan jejak langkah beliau menjadi jariyah buat semuanya.


Ust. Usman sudah aktif di Jam'iyyah sejak masih muda, kecintaannya terhadap Persis tidak lepas dari peran bapak Uya yang sebelumnya sering mengikuti kegiatan A Hassan, sehingga ketertarikannya kepada A Hassan membuat bapak Uya menyekolahkan anak-anaknya ke Pesantren Pajagalan. Mulai dari Pesantrenlah Ust. Usman mengenal tokoh-tokoh Persis seperti KH. E. Abdurrahman, dan dari beliaulah kakak saya mendapatkan ilmu, dan ilmunya semakin terasah sewaktu beliau menjadi asisten Ust. HE Abdurrahman.


Sepengetahuan saya, beliau hanya belajar kepada Ust. Abdurrahman saja, sehingga ilmu dan karakternya melekat pada diri Ust. Usman. Keberhasilan beliau menjadi seorang ustadz adalah bentuk dari terlaksananya cita-cita orangtuanya. Beliau adalah anak yang pertama yang mewujudkan keinginan bapak dan ibu, yang ingin mempunyai anak seorang ustadz.


Ust. Usman mengawali kiprah di Jam'iyyah setelah aktif di Pemuda Persis pada usia 17 tahun. Setelah itu sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah lepas dari Persis. Beliau pernah berpesan, “ tong kabita ku imah batur najan alus ” (jangan tertarik dengan rumah orang lain, meskipun bagus), meskipun ada bagian rumah yang bocor, perbaiki karena itu rumah kita dan tidak perlu membangun rumah yang baru lagi. Cukup yang ada saja, tinggal di urus dengan baik, sebab belum tentu yang baru juga bagus.


Dalam pandangannya, Jam'iyyah Persis memiliki ciri khas unik, sehingga menarik perhatian orang lain. Karena kita menggarap sesuatu yang tidak digarap oleh orang lain, kalau garapan kita sama dengan yang lain maka orang tidak akan mau bergabung dengan Persis. Tapi, kadang-kadang kritkannya terhadap jam'i krityyah, itu bukan hal yang aneh, karena memang karakternya seperti itu. Kritikan yang keras merupakan rasa sayang beliau kepada Jam'iyyah, makanya sampai akhir hayatnya tidak pernah lepas dari Persis.


Sumber: Majalah Risalah no.9 th.52 Shafar 1436 / Desember 2014 hlm.16-18 Rubrik Kajian Utama.

4 Mei 2021

KRITERIA MUSTAHIQ ZAKAT DAN PENGERTIAN 5 WASAQ


 


1. Pengertian Mustahiq Zakat sebagai berikut:
1.1. Faqir Miskin:
a. Faqir: orang yang tidak bisa memenuhi primer sehari-harinya karena tidak bisa kasab.
b. Miskin: Orang yang bisa kasab tapi hasilnya tidak bisa memenuhi kebutuhan primer sehari-harinya.
c. Faqir dan miskin mempunyai kesamaan dari segi sama-sama membutuhkan bantuan, jika disebut salah satunya menyangkut pengertian dua-duanya, jika disebut dua-duanya menunjukkan diantara keduanya ada perbedaan.
1.2. Amilin:
Ialah orang-orang yang diangkat oleh imam atau naibnya untuk menggarap tugas-tugas pemungutan, pengumpulan, pemeliharaan, pencatatan dan pembagian zakat, infaq dan shadaqah.
Syarat-syaratnya:
a. Muslim yang tha'at
b. Mukallaf
c. Amanah (jujur)
d. Memahami hukum zakat, infaq dan shadaqah
e. profesional/terampil.
1.3. Muallaf:
Orang-orang yang dijinakkan (didomestiasi) hatinya untuk kepentingan Islam dan muslimin.
Yang termasuk katagori muallaf, antara lain
a. Mereka yang diharapkan masuk Islam
b. Mereka yang dikhawatirkan gangguannya terhadap Islam dan Muslimin.
c. Mereka yang baru masuk Islam untuk memperkuat keislamannya.
d. Tokoh-tokoh masyarakat yang beragama Islam tapi lemah imannya yang disegani di masyarakatnya.
e. Mereka yang telah lama menjadi muslim tapi ada di front (perbatasan) dengan musuh.
f. Mereka yang termasuk tokoh muslim yang mempunyai kawan dari kalangan orang kafir yang diharapan keislamannya.
1.4. Riqab: hamba sahaya (untuk menebus atau memerdekakan dirinya)
1.5. Gharimin:
Mereka yang tenggelam dalam utang dan tidak mampu membayar, yang utangnya itu bukan karena ma'shiyat, penghamburan atau safahah (bodoh atau belum dewasa)
1.6. Sabilillah:
Kemaslahatan umum kaum muslimin (bukan untuk kepentingan pribadi) yang dengannya (Zakat, infaq dan shadaqah itu) berdiri Islam dan daulahnya.
1.7. Ibnu Sabil :
Mereka yang kehabisan ongkos di perjalanan.

2. Pengertian 5 (lima) wasaq:
1 wasaq = 60 sha' jadi 5 wasaq = 300 sha'
1 sha' = 2,176 kg jadi 300 sha' = 652,8 kg
Jadi 5 wasaq jika dibulatkan menjadi 653 kg.

15 April 2021

Umrah dan Haji Tertolak, Ini Sebabnya

 




oleh M Rizal Fadillah, pemerhati politik dan keagamaan.


Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas menyebut Pemerintah Saudi belum setuju vaksin Sinovac sebagai syarat masuk ke negaranya karena tak bersertikat WHO. Ini kabar buruk lagi warga bagi jamaah Indonesia yang gagal melaksanakan umrah dan haji meski sudah disuntik vaksin. Sebab mereka disuntk vaksin Sinovac. Betapa buruk nasib bangsa ini.


Coba direnungkan lebih dalam benarkah tingkat kesulitan melaksanakan ibadah umrah dan haji ini hanya disebabkan faktor vaksin? Sepertinya banyak faktor sehingga Pemerintah Saudi cenderung mempersulit walau tentu tak akan terungkap secara eksplisit.


Pertama, Indonesia di masa pemerintahan Jokowi ini kebijakan politiknya cenderung anti Arab. Lewat Islam Nusantara memusuhi hal berbau Arab. Para buzzer istana terus memojokkan dengan istilah Kadrun persis masa PKI.


Kedua, Menteri Agama Yaqut Cholil bukan prototipe seorang memahami agama secara mendalam, apalagi ulama. Anti Wahabi dan Salafi yang tentu menyakitkan Saudi. Koboi sinkretisme dari paham keagamaan. Dari jaga gereja hingga doa campur-campur.


Ketiga, Pemerintah Indonesia menyakiti ulama. Kasus HRS tidak lepas dari pemantauan Saudi. HRS yang dihormati di Saudi ternyata dinistakan di Indonesia. Bahkan enam pengawalnya dibunuh sadis oleh aparat negara.


Tokoh Anti Umrah


Keempat, gonjang-ganjing calon Dubes Saudi yang ditunjuk Jokowi adalah Zuhairi Misrawi, tokoh yang mengecam Saudi atas ’pemerasan’ devisa. Tokoh anti umrah dan menganjurkan pilihan ziarah kubur daripada umrah ke Saudi Arabia.


Kelima, dalam konteks global Saudi Arabia lebih dekat dan bersahabat dengan Amerika ketimbang Cina. Sedangkan Indonesia sedang akrab dan bermain-main dengan Cina. Vaksin pun dari Cina, Sinovac yang dianggap masih rentan bagi penularan Covid-19. Kualitas Sinovac yang diragukan dan bermutu rendah.


Keenam, di samping HRS dan pimpinan FPI keturunan Arab yang dihabisi secara politik, Gubernur DKI Anies Baswedan pun terus menerus dimusuhi dan ditekan oleh pemerintah Jokowi. Potensi untuk maju pada Pilpres ke depan dihalangi secara masif.


Semestinya Indonesia mengerti bahwa jamaah umrah telah  menjadi korban. Sejak awal lobi Indonesia terhadap Saudi selalu lemah. Apalagi kini di era Covid-19 yang terasa semakin babak belur. Harus ada perubahan kebijakan politik jika hendak membantu umat Islam agar dapat melaksanakan ibadah umrah dan haji ke Saudi Arabia. (*)


Bandung, 13 April 2021

https://pwmu.co/186779/04/13/umrah-dan-haji-tertolak-ini-sebabnya/

14 April 2021

Hadits ''Berpuasalah, Kamu Akan Sehat'' Dhaif (?)

 



Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Masyhur hadits tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan, “berpuasalah kamu akan sehat”. Bagaimana statusnya sanadnya?

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhum.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu secara marfu’,

اغْزُوا تَغْنَمُوا، وَصُومُوا تَصِحُّوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا

Berperanglah niscaya kalian akan mendapatkan harta rampasan, berpuasalah maka kalian akan sehat, dan bersafarlah maka kalian akan kaya.” (HR. Al-‘Uqailiy dalam al-Dhu’afa’ alKabiir (2/92), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (8/174))

Di dalam sanadnya terdapat Zuhair bin Muhammad yang meriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih secara sendirian.

Imam Al-Thabrani berkata: hadits ni tidak diriwaytakan dari Suhail dengan lafadz ini kecuali oleh Zuhari bin Muhammad.

Hadits ini dikeluarkan juga oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil (2/357) dari jalur Abi bin Abi Thalib dengan isnad yang batil, karena di dalamnya terdapat Husain bin Abdillah bin Dhamirah yang tertuduh sebagai pendusta. Karenanya, Ibnu Adi memasukkan hadits ini ke dalam Munkaraat (hadits-hadits yang diingkarinya).

Ibnu Adi juga meriwayatkan lafadz ini dalam al-Kaamil (7/57) dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma dengan isnad yang batil juga. Di dalamnya terdapat Nahsyal bin Sa’id yang tertuduh sebagi pendusta.

Jelaslah bahwa hadits ini dari sisi sanad tidak shahih dari segala jalurnya. Sebagian ulama menggolongkannya ke dalam hadits munkar. Sejumlah ulama lain, seperti Imam Al-‘Uqaily, Imam al-‘Iraqy, dan Syaikh al-Albani telah mendhaifkannya. Sebagian yang lain, bahkan, ada yang menghukuminya sebagai hadits maudhu’, seperti Imam al-Shaghani rahimahullah (Al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah: 90)

Syaikh al-Muhaddits Abdullah al-Sa’ad berkata, “aku tidak menemukan ada seorang pun dari ulama hadits yang telah menyahihkannya.”

Apakah Maknanya Tertolak

Dari sisi sanad, hadits ini dihukumi dhaif. Namun sejumlah ulama menyatakan bahwa maknanya adalah benar. Puasa memiliki faidah kesehatan yang sangat banyak. Ini diakui oleh banyak ahli kesehatan; fisik maupun kejiwaan. Jika seseorang berpuasa dengan cara yang benar dan dia tidak memiliki homorbit (penyakit bawaan) yang berat dan kondisi yang berbahaya ketika puasa maka ia akan mendapatkan manfaat kesehatan yang luar biasa.

Shiyam memiliki dampak luar biasa untuk dien seseorang sehingga membentuk ketakwaan dalam diri. Ini disebutkan langsung dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183). Namun perlu juga ditambahkan, bahwa puasa juga memiliki manfaat duniawi seperti ekonomi masyarakat muslim, kehidupan sosial, dan kesehatan mereka.  

Keumuman faidah duniawi ditunjukkan oleh keumuman makna “khairiyah” (kebaikan) dalam shiyam. Tidak terbatas kepada manfaat ukhrawi saja.

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika kamu berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu juga menguatkan hal ini. Saat itu Abu Umamah datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Beliau menjawab,

عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له

Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.

Abu Umamah berkata lagi, “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Beliau menjawab,

عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له

Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.” (HR. Al-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

Dalam riwayat al-Nasa’i, “perintahkan kepadaku mengerjakan amal yang dengannya Allah akan memberi manfaat besar untukku.” Beliau menjawab,

عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له

Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.

Manfaat ini bukan saja mencakup kemanfaatan ukhrawi, tapi juga manfaat duniawi, seperti kesehatan. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]