๐๐๐ก๐ข๐ ๐ฆ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐ข ๐๐๐๐ ๐๐๐ ๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ โ๐๐ฆ๐๐ก, ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ ๐โ๐ ๐ ๐๐๐๐๐ ๐๐โ๐๐, ๐๐๐ ๐๐๐๐ ๐๐๐-๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐๐๐ ๐๐ โ๐๐๐๐๐๐๐-๐๐ฆ๐..
๐๐ฎ๐ซ๐ง๐๐ฆ๐ ๐๐๐ซ๐ ๐๐ง๐ญ๐ข ๐๐ข๐ง๐ญ๐๐ง๐
Oleh : Indra Fajar Nurdin
Dibawa takdir aku menepi sampai ke tebing air mata
berjatuhan membuat suara gaduh menderu
bila tak ada penyangga, aku bisa jatuh terhempas
tak bisa pulang
Wajah-wajah basah mendekapku tanpa suara
tapi gemuruh air terdengar terus menerus beradu
dibiarkan tak diusik orang-orang yang datang
telaga pun akhirnya penuh berkubang duka
air mata
bukankah engkau memiliki mata air berlimpah?
biarkan isakmu mengalir
sepanjang pusara yang bertambah menjadi dua
banyak yang ingin kukatakan tak tersampaikan
sekian banyak kalimat tak mampu keluar
biarlah kini diambil alih air mata
kulihat langit tertutup kabut bergulung-gulung
membuat mendung tak kuasa menahan hujan
redup memekat terbawa ke ujung malam
tak butuh satu purnama
matahari dan bulan tersenyum pergi
tinggalkan sisa cahaya
malam pun senyap dalam semesta fana
tinggallah mimpi mendekap nama
menunggu bintang menggantikan purnama
(Bandung 10 Juli 2021, written by KN)
๐๐ ๐๐ฆ๐ฆ๐๐ก๐ขโ๐๐๐๐๐๐ ๐ข๐ ๐๐ข๐กโ๐๐๐๐๐๐โ
๐๐๐๐'๐๐ฆ ๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐๐ก๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐ฆ๐ฆ๐โ
๐น๐๐๐โ๐ข๐๐๐ ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ฆ
๐๐๐๐โ๐ข๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐ก๐๐..

Tidak ada komentar:
Posting Komentar