13 Juni 2021

"18 JAM YANG MENCEKAM"

 


(Catatan ini ditulis dari perjalan sejarah hidup nyata, yang penulisnya ada pada redaksi, semoga menjadi "ibrah" bagi kita semua)

Senin 14 juni 2021

Berita duka datang bertubi-tubi, yang sakit yg meninggal dan kita tak bisa menjenguk ta'jiyyah, rasa bersalah... bingung.. kita jadi sensitif.

Selasa 15 juni 2021

Sepulang dari ta'jiyyah hati msh diliputi duka mendalam.. kami rebahan sambil menunggu adzan dzuhur.
"Bu... ke Bandung ya.. sekarang.. , tolong ambilin barang yang ketinggalan"
"Ok" sahutku sambil menahan kantuk. 30 menit berikutnya, eh... katanya mau ambil barang.. sekarang cepetan bangun...",
nadanya agak tinggi.

Selesai shalat dzuhur, kami bersiap untuk berangkat ke Bandung, masker, hp, hand sanitaizer sudah aman di tas.
Selang beberapa menit "hpku" masih tergeletak di kursi tamu... hmm untung masih belum berangkat pikirku. Ketika hampir sampai ditempat yg dituju teleponku berdering, kudengar suamiku teriak;"Buu.. hp aku dibawa ku ibu?".. aku kaget, ketika kuperiksa, ternyata ditasku ada 2 hp yg mirip; "Balik deui wèh bapa perlu ayeuna pisan, teriaknya mengalahkan deru kendaraan dilampu merah tegallega.... "tanggung pah.. sebntar lagi nyampe"..... "Ah....teu nurut ka salaki".. kalimat itu terdengar samar.. diantara puluhan knalpot di lampu merah.
Segera kubereskan urusanku dan segera pulang ,rasa bersalah menggunung dihatiku, sampai di rumah kudapati rumah masih terkunci.. shalat asharku sudah lebih dari jam 16.00 sore hmmm.... suamiku belum pulang juga... adzan magrib.... shalat magrib, isya berjama'ah terlewatkan karena imamku belum pulang... kutatap kedua hp dan berharap ada kabar ttg keberadaannya.. lewat tengah malam belum ada kabar juga, kegelisahan memuncak.. rasa penyesalan karena tidak ta'at ke suami semakin menggunung. Tumpah pecah dala. sajadah... semua panik.... berbagai kemungkinan terucap dari saudara saudaraku... ketakutan kami semakin memuncak...; "ada yg bilang dibajak geng motor".... atau "jatuh dari motor karena hipertensi". Jam 02.00 dini hari kami sepakat untuk menyusuri setiap UGD di rumah sakit, hasilnya ...nihil... Tangisku tak ada yg bisa menghentikan" ini semakin membuat panik seluruh keluarga besarku.... akhirnya melalui berbagai media.. secara berantai .. semua berniat baik.. menolong.. membantu mencari, membantu berdoa untuk suamiku.
Kedatangan putra ke tigaku.. membuatku bisa sejenak merebahkan diri.. selepas shalat shubuh.

Cerita suamiku...
Jam 14.00 wib baru sadar kalau hp-nya tidak ada, dicari disekitar rumah tidak ada.. padahal ada data yg harus segera di update.. kekecewaan semakin memuncak ketika diujung telpon, aku menolak untuk segera pulang... hmmm.. harus diajarkan lagi untuk ta'at kepada suami.. pikirnya sambil menjalankan motornya.. dalam keadaan badan yg tidak fit.. kepala keleyengan.. takut jatuh, akhirnya singgah di sebuah penginapan.. makan obat.. dan bisa istirahat "tertidur" tengah malam terbangun.. mencoba u pulang.. tapi badan masih lemes... 
Akhirnya istirahat kembali.. pagi-pagi setelah minum dan sarapan.. bersiap untuk pulang karena ada rapat di pesantren. Kepala masih agak berat.
Sampai dipesantren.. disambut dengan pelukan dan tangisan dan berbagai pertanyaan.. semakin membuat badan limbung.. dan bingung...

Alhamdulillah suamiku pulang, kuterima wajah marahnya.. kupeluk, kucium pipinya ku mohon ampun dan ma'af atas segala kesalahanku.
Baru sadar kalau berita hilangnya suamiku tersebar seantero jagat maya, karena disebar melalui seluruhfasilitas sosial media.

Ya Allah... 
ternyata sangat banyak yg menyayangi suamiku... ku mohon ampun pada-Mu.
Ya Robbii. jadikan aku istri yg shalehah.. 
jadikan aku penyejuk disa'at suamiku butuh perhatianku..
jadikan aku istri yg selalu taat dan patuh pada suamiku.

Jazaakumullohu khoeron kepada saudara-saudaraku semua kasih sayang, perhatian kalian sangat berarti bagi kami
Mohon maaf telah membuat "kegaduhan".

Semoga bisa kita ambil hikmahnya....

Semoga covid19 segera berlalu.

Tidak ada komentar: