Latar Belakang & Konteks Perjuangan Nabi
Setelah Perjanjian Hudaibiyah (6 H/628 M), situasi keamanan temporer tercapai antara Muslim Madinah dan Quraisy Mekkah. Nabi SAW melihat momentum untuk memperluas dakwah ke luar Jazirah Arab, dengan strategi diplomatik yang sistematis. Kondisi saat itu:
>>> Secara militer: Muslim masih rentan, jumlah terbatas, dikepung oleh kekuatan Quraisy dan sekutu.
>>> Secara politis: Nabi ingin menunjukkan bahwa Islam bukan gerakan lokal, tetapi risalah universal (rahmatan lil-‘alamin).
>>> Secara syar’i: Dakwah telah masuk fase penyebaran terbuka setelah fase sirriyyah (diam-diam) dan teritori Madinah terkonsolidasi.
Pelaksanaan & Isi Surat
Nabi mengirimkan surat resmi kepada penguasa wilayah sekitar:
1. Heraklius (Kaisar Romawi Timur)
2. Khosrow II (Kaisar Persia)
3. Al-Muqawqis (Penguasa Mesir, di bawah Romawi)
4. Raja Najasyi (Penguasa Habasyah/Ethiopia)
5. Penguasa Bahrain, Oman, Yaman, dll.
Isi surat umumnya:
>>> Kalimat pembuka: “Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad Rasulullah kepada...” (menegaskan identitas kerasulan).
>>> Ajakan masuk Islam dengan kalimat pendek: أَسْلِمْ تَسْلَمْ (masuk Islamlah, engkau akan selamat).
>>> Peringatan tanggung jawab di hadapan Allah jika menolak.
Surat ditulis di perkamen, dibubuhi stempel Nabi (berukir: محمد رسول الله), dan dibawa oleh sahabat pilihan seperti Dihyah al-Kalbi (ke Romawi), Abdullah bin Hudzafah (ke Persia).
Urgensi & Capaian secara Syar’i dan Politis
1. Aspek Syar’i:
>>> Menegaskan universalitas dakwah (Qs. Al-A’raf: 158) bahwa Nabi diutus untuk seluruh manusia, bukan hanya Arab.
>>> Mewajibkan metode dakwah bil-hikmah (bijak) sesuai kondisi objek dakwah (penguasa vs rakyat biasa).
>>> Menunjukkan keberanian (syaja’ah) di jalan dakwah, meski berisiko dibunuh atau ditahan.
2. Aspek Politis:
>>> Menaikkan posisi tawar Muslim di mata Quraisy dan kabilah Arab: Nabi diakui sebagai pemimpin yang setara berdialog dengan kekaisaran superpower.
>>> Memetakan respons dunia luar: Raja Najasyi dan penguasa Oman merespons positif, Mesir mengirim hadiah diplomatik, Romawi menghormati meski tidak masuk Islam. Persia menolak dengan penghinaan (surat disobek).
>>> Membuka jalan futuhat (pembebasan) di masa depan: pengiriman surat menjadi dasar legitimasi hubungan diplomatik dan ekspansi dakwah setelah Nabi wafat.
Capaian Strategis
>>> Dakwah sampai (balagh) secara resmi kepada pemimpin dunia, memenuhi kewajiban tabligh.
>>> Habasyah menjadi sekutu setelah Raja Najasyi masuk Islam, menjadi tempat hijrah pertama dan basis dakwah aman.
>>> Kekaisaran Persia yang merespons kasar justru menjadi target futuhat Islam pertama di luar Arab (pada era Khalifah Umar).
>>> Membentuk diplomasi Islam yang beradab: surat menggunakan bahasa hormat, tidak mengandung ancaman militer, namun tegas secara teologis.
Pelajaran untuk Dakwah Kontemporer
>>> Dakwah harus berani menjangkau pemegang kekuasaan, karena perubahan sistem sering dimulai dari elit.
>>> Strategi multi-track: kombinasi diplomasi, keteguhan prinsip, dan fleksibilitas metodologi.
>>> Membangun relasi dengan kekuatan eksternal untuk mendukung keberlangsungan dakwah.
Nabi SAW menunjukkan bahwa dakwah bukan hanya ceramah, tetapi aksi strategis yang terencana, berwibawa, dan berdampak jangka panjang. Ini adalah sunnah yang sering terlupakan dalam gerakan dakwah yang hanya fokus pada massa rakyat tanpa pendekatan ke pengambil kebijakan.
