1 September 2010

ISLAM SIMBOLIK

Di beberapa jalan besar di kota Cairo, terpampang sebuah papan iklan raksasa dengan seorang model superstar Mesir bernama Amr Diab. Dengan mengenakan kaos "singlet" putih yang memperjelas body atletisnya, Amr Diab juga terkesan memamerkan ukiran tato di lengan kekarnya itu. Dan sebenarnya, tato itulah objek utama yang ingin ia tonjolkan jika dilihat dari kostum yang dikenakan berikut pose photo yang diambil dari sebelah pinggir badannya.
Sebenarnya, tato sendiri bukan sesuatu yang "bertentangan" menurut keyakinan para selebritis maupun artis. Karena tato bagi seorang seleb selain untuk alasan trend terkadang juga menunjukkan kepada sebuah idealisme yang ia miliki. Bahkan tak jarang demi sebuah jati diri, seorang seleb akan gonta-ganti tato sesuai kebutuhan "zaman"nya.
Tapi yang menarik dari Amr Diab adalah tato-nya yang bertuliskan lafadz Arab (عبد الله) berbunyi "Abdullah" yang berarti "Hamba Allah". Sebuah slogan khusus yang hanya dimiliki oleh umat Islam. Dengan kata lain, Amr Diab seolah ingin mengatakan kepada publik bahwa dirinya adalah seorang muslim sejati, terbukti dari tatonya yang mengindikasikan bahwa dia adalah seorang "Hamba Allah tulen".
Namun jika diperhatikan, apa yang dilakukan oleh Amr Diab sebenarnya cuman plagiasi mutlak dari gaya selebritis barat. Sama persis dengan apa yang dilakukan Justin Timberlake yang men-tato lengannya dengan simbol salib, atau David Beckham yang juga mengukir lehernya dengan tato salib. Kedua-duanya ingin mengatakan bahwa mereka adalah pemeluk agama salib ini. Karena simbol itu khusus dimiliki oleh pemeluk agama tersebut.
Belakangan, apa yang dilakukan oleh para seleb luar negeri ini turut dicaplok mentah-mentah oleh seleb dalam negeri. Selain latah, terkadang seleb dalam negeri jauh lebih variatif lagi, karena mereka tidak hanya berkutat dengan simbol tato saja. Mereka lebih cerdas untuk menemukan inovasi baru dalam simbolisme agama yang menunjukkan bahwa mereka adalah seorang "muslim sejati."
Simbol-simbol tersebut dapat ditemukan secara mudah di layar televisi ketika bulan Ramadhan tiba. Dan mari perhatikan, pakaian apa saja yang digunakan oleh para artis saat bulan Ramadhan, kemudian kostum apa yang mereka gunakan sebelum dan sesudahnya. Jika diamati, maka kostum yang dipakai para seleb tersebut akan berbeda antara "musim puasa" dengan "musim non-puasa".
Saat "musim puasa," para seleb lelaki lebih sering menggunakan baju koko, sorban melilit di leher sebagai pengganti syal dan terkadang berpeci segala. Sedangkan seleb wanita akan lebih cenderung mengenakan kerudung ala kadarnya yang sekedar menempel di kepala dengan tetap memperlihatkan jambul depannya, ditambah pakaian yang lumayan panjang meskipun terkadang masih eksplisit untuk menerjemahkan "bahasa tubuh".
Itu jika dilihat dari segi pakaian. Lalu silahkan lihat dari segi "profesi" yang mereka geluti, dan perhatikan apa yang mereka kerjakan saat Ramadhan maupun sebelum dan sesudahnya. Jika mereka adalah seorang penyanyi, maka di bulan Ramadhan mereka akan mendendangkan tembang-tembang relijius penuh hikmah dan pujian. Sedangakan di luar Ramadhan mereka akan menyanyikan lagu-lagu cinta monyet.
Atau jika mereka adalah grup band, maka Ramadhan adalah saat mereka mendendangkan "Allahu Akbar Maha Besar… Memujamu begitu indaahh... selalu Kau berikan semua kebesaran-Mu Tuhan…" namun kontan sesaat Ramadhan telah usai mereka akan menyanyikan "Putuskanlah saja pacarmu, lalu bilang I love you… padaku…"
Berbeda lagi jika mereka adalah pemain sinetron, dimana Ramadhan adalah saat bagi mereka berperan sebagai ibu rumah tangga yang baik, istri yang patuh kepada suaminya, suami yang setia, dan seterusnya. Namun dalam dunia nyata, keluarga mereka sendiri sering dilanda fitnah, kawin-cerai seenaknya, selingkuh juga sudah biasa, sungguh sebuah "sandiwara" yang nyata.
Belum lagi jika diikuti acara Ghibah-tainment yang secara intens menyimak perkembangan para seleb itu. Dimana saat Ramadhan tiba mereka akan diliput mulai dari sahur hingga buka puasa, sampai tentang apa makanan favorit mereka dan bagaimana cara menjaga stamina tubuh saat syuting, serta ke mana mereka akan mudik dan dengan siapa, sungguh merupakan suguhan yang kurang bermutu untuk dikonsumsi di bulan yang suci.
Namun ketika Ramadhan telah usai, para seleb itu akan dikabarkan tentang perselingkuhan mereka, perceraian, keterlibatan narkoba, kasus kekerasan keluarga, dan beragam permasalahan lainnya yang terkadang sang presenter pembawa acaranya sendiri tak lebih baik dari orang-orang yang telah ia buka aibnya itu. Terkadang sang presenter yang gemar menggosip itu terkena batunya sendiri dan terlibat kasus yang sama sehingga ia pun menjadi bahan gosipan oleh orang se-Indonesia.
Begitulah para seleb menunjukkan dualisme individu mereka, dimana Ramadhan adalah saat untuk menunjukkan simbol-simbol keagamaan yang seringkali tidak diiringi oleh penghayatan aplikatif, hingga setelah Ramadhan usai baru mereka akan membuka kedok aslinya seraya bernyanyi; "terbukalah toopengku…"
Tapi lain selebritis, lain pula aparat keamanan. Mereka juga tak mau kalah dengan para seleb itu untuk turut "bersandiwara" di bulan Ramadhan ini dan menunjukkan simbolisme agama menurut cara mereka sendiri. Maka dapat ditemukan dalam tayangan berita setiap bulan suci tiba, bahwa mereka akan mengadakan razia minuman keras di beberapa toko penyalur barang haram tersebut, lantas menghancurkannya di hadapan publik dengan melindasnya memakai silinder.
Sebenarnya aparat sangat paham mengenai hal itu, yaitu jika memang mereka "serius" untuk memusnahkan minuman haram tersebut, mereka akan menyegel pabriknya langsung, dan bukan malah menuju warung dan toko distributornya. Karena membakar kedai-kedai arak dengan tetap membiarkan pabriknya terus memproduksi, sama halnya dengan mengepel lantai namun membiarkan atap rumah tetap bocor terkena air hujan. Terlalu sia-sia dan buang-buang tenaga.
Tapi berhubung operasi minuman keras memang sedari awal tidak diniatkan untuk memberantas ke akar-akarnya, maka pembekuan pabrik minuman keras pun tak akan mereka lakukan. Sebaliknya, operasi minuman keras tersebut akan tetap dilacarkan setiap bulan puasa saja karena merupakan momentum yang tepat untuk "cari muka" dan meraup simpati masyarakat guna mengangkat prestige mereka. Dengan demikian, akan lahir opini publik yang mengangkat citra aparat bahwa mereka "berwibawa dan tegas" dalam memberantas kemunkaran.
Sama halnya dengan penonaktifan tempat-tempat lokalisasi yang juga menjadi agenda tahunan aparat keamanan yang selalu digalakkan ketika bulan Ramadhan tiba, menandakan bahwa aparat seolah begitu "perhatian" dengan masyarakat muslim dan sangat menghormati bulan Ramadhan ini. Padahal, saat Ramadhan usai tempat lokalisasi tersebut akan kembali aktif seperti semula.
Jadi terdapat beberapa tempat lokalisasi yang setiap tahunnya, setiap Ramadhan tiba akan "diblokir" oleh pemerintah, namun pada tahun berikutnya dan tahun-tahun mendatang tempat tersebut akan kembali berulang kali ditutup oleh pemerintah. Sampai masyarakat pun hafal akan berita tahunan yang mengabarkan bahwa "Setiap Ramadhan tiba aparat keamanan akan menutup tempat lokalisasi yang terletak di jalan itu."
Tempat lokalisasi seperti ini tentu saja akan tetap dibiarkan beroperasi karena merupakan salah satu "aset" yang telah membayar "uang keamanan" bagi para "pengayom masyarakat" tersebut. Sama halnya dengan pabrik minuman keras dan klub-klub malam yang tidak mungkin disegel karena telah membayar "pajak" untuk pemerintah yang menjadikan para pemegang kekuasaan tersebut kecipratan dananya.
Dengan kata lain, razia minuman keras dan operasi rumah bordil hanyalah "sandiwara" bulan Ramadhan yang dilakukan oleh beberapa pemegang otoritas negara untuk mengelabui masyarakat dan melahirkan opini publik bahwa mereka adalah "pengayom masyarakat" dan "pelindung umat". Namun sejatinya mereka telah menusuk masyarakat dari belakang karena turut menyuburkan penyakit sosial tersebut dengan melegalisasi tempat-tempat haram itu untuk tetap eksis menjalankan "kegiatan" mereka di tengah kehidupan umat.
Begitulah dualisme pemerintah dalam "menegakkan hukum" di negeri ini. Hal tersebut bahkan dapat terlihat jelas dari barang yang remeh sekalipun; yaitu bungkus rokok yang tercantum di dalamnya; "Peringatan pemerintah bahwa merokok dapat menyebabkan kanker… bla bla bla…" namun dalam bungkus yang sama terdapat logo burung garuda dengan label hologram menunjukkan persenan PPN yang juga harus dibayar setiap perokok kepada pemerintah.
Jadi istilah kasarnya, pemerintah di satu sisi menginginkan rakyatnya sehat dan hemat dengan tidak merokok, namun di sisi lain pemerintah juga ingin "kecipratan rejeki" dengan mengambil pajak dari setiap bungkus rokok yang telah ia larang itu. Tentu saja ini adalah sebuah bentuk premanisme yang terlembagakan karena memiliki unsur memaksa rakyat lemah dengan kekuasaan yang dimiliki. Seolah pemerintah berkata, "Kalau kamu mau merokok, bayar ke aku!"
Demikianlah simbol-simbol tersebut disalahgunakan. Mulai dari simbol baju takwa, kerudung, sorban, peci, jubah, hingga simbol burung garuda sekalipun. Maka dapat dipahami bahwa tingkat kesalehan seseorang tidak dapat diukur dari atribut formalitas yang sifatnya eksternal saja. Keislaman seseorang juga tidak dapat ditimbang melalui KTP maupun tato semata. Bukan berarti kalau orang sudah memakai kostum full-dress ala ulama berarti dia seorang alim. Lha wong Mirza Ghulam Ahmad si nabi palsu itu juga berjenggot, memakai ikat sorban, dan selalu membawa tasbih kok. Namun dengan demikian tetap saja dia ingkar Nabi.
Belakangan, simbol-simbol agama telah menjadi barang profit yang dapat menghasilkan banyak pemasukan. Karena logo-logo agama tersebut dapat dijadikan komoditi jual-beli sesuai kebutuhan si empunya. Jika masa-masa pemilu atau pilkada, banyak ditemukan muslim simbolik seperti ini yang memanfaatkan gelar Haji-nya untuk sekedar meraup simpati rakyat. Atau ketika Ramadhan tiba banyak acara televisi yang selalu mengangkat tema-tema agama yang dipenuhi simbol-simbol tersebut namun tak jarang itu hanyalah pragmatisme belaka.
Penulis jadi teringat seorang pentolan grup band yang dalam salah satu konsernya ia mengenakan kalung heksagram (bintang daud) yang merupakan lambang resmi orang Israel itu. Namun ketika ditanya ia menegaskan bahwa simbol ini adalah bukti cintanya kepada Nabi Daud 'alaihissalam. Sungguh mengherankan cara berpikir artis tersebut, jika memang ia cinta Nabi Daud kenapa tidak mengikuti ajarannya saja dengan cara berpuasa Daud yaitu sehari puasa dan sehari tidak. Kenapa ia lebih memilih untuk memakai logo yang kini menjadi simbol penjajah dunia itu?
Bisa jadi nanti akan ada artis lain yang konser menggunakan kalung "Palu-Celurit" di lehernya dan ketika ditanya ia menjawab, "Ini adalah bukti tanda cinta saya kepada Nabi Daud, karena dulu beliau adalah seorang pandai besi yang sering menggunakan Palu untuk membuat pedang dan Celurit".
Tapi masyarakat tentu sangat paham bahwa itu sebenarnya merupakan simbol PKI, dengan demikian tiada gunanya menutup kedok asli dengan beragam aksesoris retorika. Jangankan manusia yang berakal, bahkan seekor semut saja takkan terkecoh dengan garam yang diletakkan dalam sebuah kaleng bertuliskan; "Ini Tempat Gula".
Wallahu a'lam.

Bagaimana Berpuasa di Masa Kedatangan Dajjal?


Secara garis besar, Mukjizat yang dimiliki oleh Rasulullah saw. ditinjau dari "masa terjadinya" terbagi menjadi empat macam. Pertama adalah mukjizat yang hanya terjadi pada masa kerasulan beliau, seperti terpancarnya air di antara jari-jemari Rasulullah pada hari Hudaibiyah, terbelahnya bulan, Isra'-Mi'raj, batu yang mengucapkan salam kepada beliau dan masih banyak mukjizat lainnya yang hanya terjadi pada masa kenabian dan tidak terjadi sebelum atau sesudahnya.
Kedua adalah mukjizat yang telah terjadi pada masa Rasulullah, dan akan terus berlaku hingga akhir zaman nanti. Inilah kitab suci Al-Qur'an itu, sebuah mukjizat yang mengandung ilmu dan hikmah dimana ruang dan waktu tidak akan mampu mengikisnya.
Ia akan tetap kekal hingga akhir zaman nanti tanpa ada sebuah makhluk pun yang dapat memalsukannya, menandinginya, apalagi menghancurkannya. Al-Qur'an juga dapat dibedah melalui sudut pandang disiplin ilmu apapun, dan Al-Qur'an adalah satu-satunya kitab suci yang paling banyak dihafal oleh manusia selama bumi ini diciptakan.
Ketiga adalah mukjizat yang tidak terjadi pada masa Rasulullah, melainkan ia telah terjadi di masa lampau. Maksudnya, mukjizat tersebut berkenaan tentang pemberitaan Rasulullah mengenai perihal umat-umat terdahulu secara detail dan tepat, sehingga orang yang mendengarkannya seolah menyaksikan kejadian tersebut dengan mata-kepala mereka.
Disebabkan oleh hal itu pula, akhirnya banyak rahib, pendeta, maupun rabi yahudi dan nasrani yang langsung beriman kepada Rasulullah karena beliau mampu menceritakan kisah Nabi Musa dan Nabi Isa –'alaihimassalam– persis sebagaimana yang mereka dapatkan dalam Taurat dan Injil. Rasulullah dapat menceritakan kejadian mulai dari penciptaan Nabi Adam, perahu Nabi Nuh, perihal kaum 'Ad, Tsamud, Namrudz dan Fir'aun semuanya dengan "tajam dan terpercaya".
Dan keempat adalah mukjizat yang berhubungan dengan masa depan. Dimana Rasulullah dapat memberitahukan tentang kejadian yang belum terjadi pada saat itu. Sebagaimana beliau mengungkapakan bahwa suatu saat bangsa Romawi –yang kala itu ditaklukkan oleh Persia– akan berbalik mengalahkan Persia dan memenangkan peperangan dalam tempo tidak lebih dari 9 tahun, kemudian hal itu pun benar terjadi dan terekam jelas dalam surat "ar-Ruum" yang dengan kabar itu pula menegaskan bahwa segala yang dikatakan oleh Rasulullah adalah benar adanya.
Tetapi masih banyak hal yang diungkapkan Rasulullah pada masa kerasulan beliau yang menceritakan hal-ihwal umat manusia pada masa yang akan datang dan sebagiannya telah terwujud namun banyak pula yang belum terjadi. Di antara yang telah terwujud adalah berita tentang tanda-tanda kedatangan kiamat. Seperti banyaknya seorang anak yang berbuat durhaka kepada orang tuanya.
Tentu saja tanda tersebut sangat mudah ditemukan saat ini, karena tidak sulit untuk mencari sosok "Malin Kundang" di zaman sekarang, dimana seorang anak tidak lagi patuh kepada orang tuanya dan memperlakukan mereka seperti budaknya. Bahkan tak jarang seorang anak tega membunuh orang tuanya sendiri. Ini adalah salah satu tanda "kecil" dari kiamat yang telah diberitakan Rasulullah 14 abad silam dan telah terbukti saat ini.
Sedangkan tanda-tanda kiamat yang belum terwujud hingga sekarang adalah seluruh tanda "besar" yang menandakan bahwa kiamat telah sangat dekat, seperti kemunculan ya'juj-ma'juj dan dajjal. Sebagaimana tercatat dalam kitab-kitab hadits, bahwa Rasulullah telah mewanti-wanti akan kemunculan dajjal di akhir zaman kelak. Beliau sangat detail dalam mengungkap identitas dajjal beserta ciri-ciri fisiknya, apa pekerjaan dan tujuannya, serta berapa lama dia berada di bumi.
Salah satu ciri fisik yang paling menonjol dalam diri dajjal adalah matanya yang buta sebelah (a'war) dan di jidatnya terdapat tulisan "ka-fa-ra" yang dapat dibaca oleh semua orang mukmin sekalipun yang buta huruf. Pekerjaan dajjal adalah menebar kebohongan dan fitnah (ujian) yang merupakan fitnah paling besar selama bumi diciptakan. Tujuannya adalah "menuhankan" diri, serta mencari "hamba" sebanyak-banyaknya untuk menemaninya di neraka akhirat yang kekal selamanya.
Sedangkan masa keberadaan dajjal di dunia ini adalah 40 hari lamanya. Dimana terdapat satu hari yang lamanya seperti satu tahun, dan terdapat satu hari yang lamanya seperti satu bulan, kemudian satu hari yang lamanya seperti satu minggu, dan hari-hari lainnya (37 hari) seperti hari-hari normal biasanya (24 jam). Dengan demikian akan terjadi sebuah "keajaiban" pada masa itu karena teori peredaran bumi yang berotasi pada porosnya sekali setiap 24 jam tidak akan berlaku.
Perihal keberadaan dajjal selama 40 hari di bumi dengan disertai munculnya "kemacetan" tata-surya tersebut, semuanya telah dikabarkan Rasulullah dalam hadits beliau yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahih-nya melalui riwayat Nawwas ibnu Sam'an.
Hadits yang cukup panjang tersebut secara sistem transmisi periwayatan (sanad) tidak terdapat "gangguan" teknis alias clear, oleh karenanya hadits ini mendapatkan rating sebagai hadits shahih yang dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Bahkan Imam Syafi'i sempat berkata, "Jika sebuah hadits mencapai derajat shahih, maka itulah madzhabku." Salah satu penggalan dari hadits tersebut adalah:
...قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا لَبْثُهُ فِى الأَرْضِ ؟ قَالَ « أَرْبَعُونَ يَوْمًا يَوْمٌ كَسَنَةٍ وَيَوْمٌ كَشَهْرٍ وَيَوْمٌ كَجُمُعَةٍ وَسَائِرُ أَيَّامِهِ كَأَيَّامِكُمْ ».
Kita (para sahabat) bertanya, "Wahai Rasulullah, berapa lamakah ia (dajjal) berada di bumi?" Rasulullah menjawab, "Empat puluh hari, sehari seperti setahun, dan sehari seperti sebulan, lalu sehari seperti sepekan, kemudian sisanya seperti hari-hari kalian pada biasanya"
قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَذَلِكَ الْيَوْمُ الَّذِى كَسَنَةٍ أَتَكْفِينَا فِيهِ صَلاَةُ يَوْمٍ ؟ قَالَ « لاَ اقْدُرُوا لَهُ قَدْرَهُ »...
Kita (para sahabat) bertanya kembali, "Wahai Rasulullah, apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab, "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah shalat sesuai ketentuan waktu tersebut)".
Jadi apa yang kita bicarakan mengenai keberadaan dajjal di bumi selama 40 hari tersebut bukanlah rekaan atau mitos belaka. Melainkan sebuah realita yang akan terjadi kelak. Karena hal tersebut telah dikabarkan langsung oleh Rasulullah, dan segala yang beliau kabarkan adalah wahyu dari Yang Maha Mengetahui.
Para sahabat ketika Rasulullah mengabarkan tentang berita kedatangan dajjal ini mereka tidak pernah bertanya tentang bagaimana bumi tidak beredar selama satu tahun, atau bagaimana rotasi bumi mengalami "slow motion" sedemikian rupa. Para sahabat dengan tingkat keimanan mereka yang tinggi tidak pernah menemui kesulitan dalam "mencerna" setiap permasalahan gaib yang diceritakan Rasulullah seperti ini.
Mereka tidak pernah mengingkari bahwa Rasulullah dapat melakukan perjalanan ke Baitul Maqdis lalu ke Sidratul Muntaha dalam semalam saja ketika Isra'-Mi'raj. Mereka juga bukan seperti Bani Israil yang enggan menyembah Tuhannya Nabi Musa sebelum mereka melihat-Nya dengan kasat mata.
Oleh sebab itu, para sahabat tidak menanyakan tentang hal-hal remeh yang terlalu kecil untuk dapat terjadi atas kehendak Allah seperti "kemacetan" tata-surya pada masa dajjal itu. Yang mereka tanyakan justru tentang amalan ibadah yang mungkin akan terganggu jika bumi tidak bergerak secara normal sekian lamanya.
Mereka lalu bertanya kepada Rasulullah, "Apakah pada hari yang lamanya seperti satu tahun itu cukup bagi kita mengerjakan shalat –lima waktu– sekali saja?" Rasulullah kemudian menjawab, "Tidak, akan tetapi tentukanlah waktu seperti biasanya (dan dirikanlah shalat sesuai ketentuan waktu tersebut)".
"Kemacetan" rotasi bumi pada masa dajjal tersebut tentu menimbulkan problem dalam prosesi ibadah, karena kita ketahui bahwa shalat lima waktu memiliki ketergantungan kepada perputaran bumi dan peredarannya terhadap matahari, dimana shalat Subuh wajib dilaksanakan ketika fajar, shalat Dzuhur yang wajib didirikan ketika matahari tergelincir dari puncak vertikal, shalat Maghrib yang wajib dikerjakan saat matahari tenggelam. Dan juga shalat Jum'at yang wajib dilaksanakan sekali dalam sepekan.
Belum lagi dengan peribadatan lainnya seperti kapan bulan Dzulhijjah datang sehingga orang dapat melaksanakan ibadah Haji, kapan orang wajib mengeluarkan Zakat yang telah mencapai nishab dan haul, kapan Idul Fitri, Idul Adha dan beragam ibadah lainnya yang susah untuk diterapkan pada masa kedatangan dajjal ini.
Lebih pelik lagi adalah; bagaimana cara kita berpuasa? Misalkan saja dajjal datang pada bulan Ramadhan, dan kebetulan hari itu merupakan hari yang memiliki durasi selama satu tahun, itu artinya hari tersebut akan mengalami waktu siang selama enam bulan dan akan diselimuti malam selama enam bulan juga.
Tentu ini menimbulkan hambatan serius dalam berpuasa, karena puasa adalah menahan lapar-dahaga dan segala sesuatu yang dapat membatalkannya dari Subuh hingga Maghrib. Lalu apakah pada masa itu umat Islam diwajibkan berpuasa dan menahan makan-minum dari pagi hingga petang yang tenggang waktunya adalah enam bulan? Jangankan menahan makan-minum selama enam bulan, untuk menahan selama 14 jam saja masih banyak yang tidak kuat. Apa lah puasa selama setengah tahun, untuk puasa sehari saja masih banyak yang bolong-bolong.
Untungnya para sahabat dahulu telah mempertanyakan hal tersebut, sehingga Rasulullah dapat memberikan solusinya dan jawaban Rasulullah inilah yang dijadikan landasan syariat tentang bagaimana tata-cara umat Islam melaksanakan Shalat, Zakat, Puasa dan Haji pada saat "kemacetan" tata-surya tersebut terjadi di masa dajjal nanti.
Banyak ulama yang telah menjelaskan hadits di atas dan menerangkan tata-cara ibadah jika perjalanan waktu "tersendat" sedemikian rupa. Salah satunya adalah apa yang diterangkan Ibnu Taymiyah dalam Majmu' Fatawa-nya (kompilasi fatwa Ibnu Taymiyah) bahwa, "(Ibadah pada masa itu) tidak lagi menggunakan patokan waktu yang berdasar akan terbitnya matahari maupun tenggelamnya…" Karena pada masa itu peredaran matahari tidaklah normal sebagaimana hari-hari biasanya.
Fatwa Ibnu Taymiyah ini kemudian diperjelas oleh syaikh Abdullah ibn Baz dalam fatwanya yang menegaskan bahwa; "Satu hari yang memiliki masa satu tahun tersebut tidak dihitung sebagai satu hari, dengan demikian tidak cukup mengerjakan shalat lima waktu sekali saja dalam tenggang waktu tersebut. Akan tetapi wajib mengerjakan shalat lima waktu setiap 24 jam sekali dengan cara membagi hari tersebut sesuai patokan jam yang digunakan pada negara masing-masing yang berlaku pada hari-hari biasa…"
Kemudian syaikh Ibn Baz melanjutkan "…demikan halnya wajib –bagi para muslimin– untuk mengerjakan puasa Ramadhan dan menentukan kapan permulaan Ramadhan dan kapan berakhirnya, serta kapan permulaan fajar dan kapan berakhirnya…" Maka dapat dikiaskan juga atas hadits ini tentang ibadah lainnya seperti Zakat dan Haji.
Sehingga wajib mengeluarkan zakat maal ketika sudah mencapai nishab (standar minimum) dan telah berlalu selama haul (setahun). Sama halnya dengan ibadah Haji yang harus ditentukan kapan bulan Dzulhijah yang dengan itu dapat diketahui pula kapan hari Tarwiyah, hari Arafah, Idul Adha dan hari-hari Tasyriq tiba.
Dari sini dapat kita bayangkan, betapa sulitnya tantangan yang akan dihadapi umat Islam pada era dajjal kala itu. Oleh karenanya, saat itu harus ada integrasi antara pemimpin umat dan para ulama untuk bisa membagi waktu menjadi "pecahan" 24 jam. Mereka juga dituntut untuk mempublikasikan hal tersebut kepada segenap umat Islam di seluruh pelosok dunia.
Dengan kata lain, mereka lazim menciptakan sebuah sistem "Kalender Darurat" bersifat temporal yang khusus digunakan pada masa "kemacetan" tata-surya ini terjadi. Tanpa itu, umat Islam akan kebingungan mengenali kapan datangnya Dzuhur maupun Maghrib, karena Dzuhur yang biasanya ditandai dengan waktu siang dan Maghrib yang ditandai oleh terbenamnya matahari, kala itu kedua-duanya akan dilaksanakan pada waktu siang hari atau malam hari tanpa ada pembeda.
Dengan demikian, hadits di atas merupakan rujukan utama untuk umat Islam dalam melaksanakan ritual ibadah di akhir zaman kelak. Pun demikian, untuk mengamalkan hadits shahih ini tidak pula harus menunggu hingga datangnya dajjal nanti, karena hadits tersebut dapat diterapkan juga pada zaman sekarang oleh para penduduk bumi bagian utara maupun selatan yang terkadang matahari tidak muncul sampai beberapa bulan lamanya.
Seperti penduduk Eskimo misalkan, jika terdapat penduduk muslim di sana yang menemui kesulitan dalam beribadah hingga tidak mengetahui kapan bulan Ramadhan tiba, lalu fajar terbit dan terbenam secara tidak normal, maka mereka dapat menggunakan patokan waktu 24 jam ini atau menggunakan waktu yang berlaku di negara terdekat dari wilayah mereka.
Beginilah hebatnya sebuah mukjizat Rasul. Dapat menjelaskan mengenai perkara yang "kira-kira" akan dibutuhkan oleh umat Islam di masa mendatang, mampu menerangkan secara exact tentang perkara gaib yang belum terjadi. Karena seluruh berita yang dikabarkan Rasulullah tentang masa depan bukanlah berdasarkan prophecies (ramalan) yang bersifat prediktif-spekulatif. Sehingga tingkat akurasinya mencapai titik seratus persen dan pasti akan terjadi.
Berbeda halnya dengan para jin yang "mencuri informasi" dari kabar lagit lalu menbocorkannya kepada tukang sihir dan para dukun sehingga menjadikan ramalan mereka sering kali tidak benar. Toh walaupun benar, itu hanyalah kebetulan saja.
Allah telah menegaskan bahwa bangsa Jin tidaklah mengetahui tentang perkara gaib sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an, "Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang gaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan." (QS. Saba' [34]: 14).
Namun kini terkadang manusia bukan hanya percaya kepada jin maupun dukun saja. Melainkan percaya juga kepada Paul si Gurita yang jelas-jelas makhluk tak berakal itu. Sungguh ini merupakan dekadensi iman yang telah menghujam jauh ke titik nadir. Bagaimana mungkin seorang manusia sempurna yang diberi nalar sehat meyakini terjadinya masa depan dari seekor "cumi-cumi?".
Lantas apa bedanya antara menyembah seekor lembu dengan mempercayai berita masa depan dari seekor gurita? Keduanya sama-sama memiliki unsur "menggantungkan diri" terhadap makhluk tak berakal yang terlalu sulit untuk diterima akal.
Jika ini tetap dipertahankan, bagaimana mungkin kita dapat menghadapi fitnah dajjal yang –dengan istidraj– dapat "menghidupkan" dan "mematikan"? Bagaimana kita dapat memungkiri "ketuhanan" dajjal yang palsu itu? Bagaimana kita dapat mengelak dari tawaran dajjal yang mampu memberikan surga dunia, sedangkan tawaran sekardus mie instant dari seorang misionaris saja kita terima meskipun harus menjual akidah?
Bagaimana mungkin kita akan menolak tipu-muslihat si "mata satu" itu jika tawaran sepeser dolar dari kaum orientalis saja kita santap meskipun harus menukar agama dengan nilai-nilai liberal?
Layaknya kita perlu "mencontek" para sahabat Nabi yang tidak terlalu care dengan permasalahan sepele yang kurang berbobot. Mereka hanya peduli tentang bagaimana cara meningkatkan ibadah, bagaimana memaksimalkan puasa dan mengoptimalkan bulan Ramadhan. Mereka tahu bahwa agama itu bukan hanya dilandaskan kepercayaan saja, melainkan amal perbuatan riil yang juga diperankan oleh segenap raga. Wallahu a'lam.

Para Pemimpin Yang Sebaiknya Ditolak


Di antara Nubuwwah (prediksi Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam) ialah persoalan para pemimpin yang sebaiknya ditolak. Dalam hadits tersebut digambarkan bahwa suatu ketika di masa yang akan datang bakal muncul para pemimpin yang dikenal di tengah masyarakat namun tidak disetujui karena sikap dan perilakunya yang zalim dan fasiq. Kemudian Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memberi tahu kita bagaimana sikap yang semestinya ditegakkan bila para pemimpin seperti itu muncul. Untuk lebih jelasnya inilah tex hadits itu secara lengkap:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ
فَتَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ عَرَفَ بَرِئَ وَمَنْ أَنْكَرَ سَلِمَ
وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ قَالُوا أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ قَالَ لَا مَا صَلَّوْا
Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Akan muncul pemimpin-pemimpin yang kalian kenal, tetapi kalian tidak menyetujuinya. Orang yang membencinya akan terbebaskan (dari tanggungan dosa). Orang yang tidak menyetujuinya akan selamat. Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa).” Mereka bertanya: ”Apakah kami perangi mereka?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Tidak, selagi mereka masih sholat.” (HR Muslim 3445)
Dengan jelas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyatakan bahwa orang yang membenci para pemimpin yang zalim dan fasiq itu akan terbebaskan dari tanggungan dosa. Orang yang tidak menyetujui mereka akan selamat. Berarti hadits ini menegaskan sikap yang semestinya dimiliki seorang mukmin ketika berhadapan dengan pemimpin yang memiliki penyimpangan akhlak. Berbeda sekali dengan anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa di dalam ajaran Islam bagaimanapun perilaku seorang pemimpin ummat harus tetap mematuhinya dan menganggapnya sebagai ulil amri minkum (pemegang urusan di kalangan orang-orang beriman). Hadits ini jelas membantah anggapan naif tersebut.
Lalu dengan tegas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan mereka yang rela dan mematuhi para pemimpin zalim dan fasiq itu. Beliau mengatakan bahwa ”Orang yang rela dan mematuhinya tidak terbebaskan(dari tanggungan dosa).” Di sinilah ajaran Islam memandang bahwa urusan menyerahkan loyalitas dan kepatuhan bukanlah perkara ringan. Sebab tidak saja si pemimpin berdosa karena kezaliman dan kefasikannya. Tetapi rakyat ikut menanggung dosa juga bila mereka tetap rela atas kezaliman dan kefasikan pemimpin tersebut, apalagi kemudian mematuhinya. Sehingga Allah melarang seorang beriman untuk mentaati siapapun dan apapun tanpa ilmu dan kesadaran akan mana yang benar dan mana yang batil.
وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ
وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا
”Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al-Israa 36)
Namun suatu hal yang memang Nabi shollallahu ’alaih wa sallam juga anjurkan ialah agar ummat jangan berfikiran untuk memeranginya selagi si pemimpin tersebut masih sholat. Menarik untuk diperhatikan ialah pandangan Imam Nawawi mengomentari potongan hadits ini ”Apakah kami perangi mereka?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Tidak, selagi mereka masih sholat.” Beliau menulis sebagai berikut:
وَأَمَّا قَوْله : ( أَفَلَا نُقَاتِلهُمْ ؟ قَالَ : لَا ، مَا صَلَّوْا )
فَفِيهِ مَعْنَى مَا سَبَقَ أَنَّهُ لَا يَجُوز الْخُرُوج عَلَى الْخُلَفَاء
بِمُجَرَّدِ الظُّلْم أَوْ الْفِسْق مَا لَمْ يُغَيِّرُوا شَيْئًا مِنْ قَوَاعِد الْإِسْلَام .
Maknanya ialah tidak dibenarkan keluar dari kepemimpinan khilafah hanya semata berdasarkan kezaliman dan kefasiqan selama para pemimpin itu tidak merubah sesauatupun dari kaedah-kaedah Al-Islam.
Ulama salaf ini dengan jelas sekali menggaris-bawahi bahwa selagi pemimpin masih menegakkan secara formal sistem kekhalifahan dan tidak merubah sesuatupun dari kaedah kaedah ajaran Al-Islam, maka tidak dibenarkan bagi seorang mukmin meninggalkan atau keluar dari kepemimpinan tersebut, walaupun akhlaq pemimpinnya zalim dan fasiq.

Saudaraku, permasalahan kita ummat Islam dewasa ini adalah bahwa bukan saja negeri-negeri Islam dipimpin oleh sebagian besar pemimpin yang berkepribadian zalim dan fasiq, tetapi sudah jelas mereka tidak menegakkan sistem kekhalifahan dan bahkan nyata benar bahwa kaedah-kaedah Islam telah banyak yang dirubah, baik oleh sang pemimpin tertinggi maupun oleh kepemimpinan kolektif kolaborasi lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Untuk membuktikan kebenaran sinyalemen di atas tidaklah sulit. Karena dalam realitas keseharian terlalu banyak contoh kasus yang membenarkannya daripada membantahnya. Sungguh benarlah kita dewasa ini sedang menjalani masa fitnah sebagaimana telah disinyalir Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam.
بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي
كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki diwaktu pagi masih mukmin dan diwaktu sore telah kafir, dan diwaktu sore masih beriman dan paginya sudah menjadi kafir, ia menjual agamanya demi kesenangan dunia.“(HR Ahmad 8493)
رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا
وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
"Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir". (QS Al-Baqarah 250)

Sombong karena Ilmu: Juhala’ Mengaku Fuqaha’

Rabu, 01/09/2010 09:27 WIB 
Di dalam kitab-kitab salaf, terutama dalam studi hadits dan akhlaq, bab yang pertama kali diulas adalah bab ilmu. Ini mengindikasikan urgensi (fadhilah) ilmu dalam Islam. Islam dan segala aspeknya dibangun atas dasar ilmu. Oleh sebab itu, para penganutnya didorong untuk selalu belajar dan mengambil pelajaran. Allah sendiri menegaskan: “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Membangun pribadi dalam Islam adalah membangun semangat keilmuan. Namun seorang penuntut ilmu wajib mempelajari adab dan akhlak telebih dahulu. Tujuannya agar jiwanya ditanamkan etika kepantasan dan batinnya terjaga dari penyakit hati. Bila penuntut ilmu langsung terjun menggeluti halal-haram misalnya tanpa mendalami akhlak, perangainya cenderung keras tak beretika. Itulah sebabnya kenapa para salaf menganjurkan belajar adab dan akhlak sebelum menuntut ilmu tertentu. Begitulah seharusnya. Isilah hati dengan adab, baru mengisi otak dengan ilmu.
Orang yang berilmu rentan dihinggapi penyakit sombong apalagi dengki. Dia sombong memandang rendah kemampuan orang lain. Yang bertitel Doktor meremehkan lulusan S2 dan S1. Pejabat Rektor menganggap para dekan dan dosen berkualitas di bawahnya. Bila sudah sombong sudah pasti dengki. Setiap orang pintar dianggap saingan. Bila salah satu rekan mengeluarkan buku baru, dia kaget bagai tersengat listrik. Tak lama kemudian bukunya pun terbit. Alasannya supaya dianggap tidak kalah produktif menulis.
Kini prilaku sombong tidak saja menjangkiti para dosen atau guru besar, tetapi juga para mahasiswa. Termasuk sebagian mahasiswa studi Islam. Akibat salah ajaran dan salah baca, mereka jadi sok pinter. Mereka yang ilmunya masih sedikit sudah besar kepala. Membaca Arab gundul saja belum becus sudah merasa master dalam bahasa Arab. Hobbi mereka berdebat tanpa ilmu. Semua hal diperdebatkan dan dikritisi. Masih juhala’ mengaku sudah fuqaha’. Masih payah berlagak ’allamah. Sungguh sayang bila ilmu tidak diimbangi dengan pembersihan jiwa. Ilmu malah jadi benalu, alat kesombongan. Jangan heran, bila mahasiswa sekarang dengan fasih mengeritik Imam Syafi’i atau Imam Al-Ghazali. Tepat sekali apa yang disampaikan Oleh Syaikh Zainuddin Abdul Madjid dalam wasiatnya,
Aduh sayang,
Pemuda sekarang berlenggak lenggok
Berasa diri gagah dan elok
Ulama Aulia diolok-olok
”Belum bertaji sudah berkokok”
Para mahasiswa itu tidak takut mengucap kata-kata kasar terhadap para ulama salaf. Para sahabat pun tidak jarang dilecehkan kehormatannya. Contoh kasus, mereka mengekor para Orientalis yang meragukan orisionalitas Al-Qur’an dan Al-Hadits. Oleh karena itu mereka sangat mendukung ide ”Dekonstruksi Al-Qur’an” atau ide pembacaan dan penafsiran ulang kitab-kitab klasik. Mereka membeo para orientalis yang menentang segala hal yang absolut. Betapa sangat lucu, mereka mengapresiai kaum Kuffar dengan menghina ulama-ulama Islam. Padahal kaum orientalis itu berusaha keras untuk meruntuhkan keyakinan kaum Muslim, bahwa al-Quran adalah Kalamullah, bahwa al-Quran adalah satu-satunya Kitab Suci yang suci, yang bebas dari kesalahan.
Aduh sayang,
Baru saja mendapat ijazah
Menyangka diri sudah ’allamah
Tidak menghirau guru dan ayah
”Mencabik mudah menjahit susah”
DR. Adian Husaini, MA merasa miris melihat fenomena ini. ”Semestinya, sebagai orang yang mengaku Muslim, tentu ayat-ayat al-Quran itu menjadi pegangan hidup dan pedoman berpikirnya. Sebab, al-Quran adalah landasan utama keimanan seorang Muslim. Jika tidak mau mengakui kebenaran al-Quran, untuk apa mengaku Muslim! Konsistensi berpikir semacam ini sangat penting, sehingga tidak memunculkan kerancuan dan ketidakjujuran dalam beragama. Bagi kaum Kristen yang percaya Injil, tentu akan menolak al-Quran. Itu sudah normal dan wajar. Aneh, kalau seorang tetap mengaku Kristen, tetapi pada saat yang sama juga mengaku percaya kepada kenabian Muhammad saw dan kebenaran al-Quran.” rilisnya dalam sebuah artikel beliau di Hidayatullah.com
Ilmu itu menurut Wahb bin Munabbih bagai air hujan. Ia turun dari langit manis dan suci. Lalu ia dihisap oleh akar-akar banyak pohon hingga berubah sesuai dengan rasa buahnya. Bila pahit, maka akan bertambah pahit. Bila manis, akan semakin manis. Demikian juga ilmu, tergantung motivasi dan perangai orang yang menuntutnya. Orang yang sombong bertambah sombong. Yang tawadhu’ semakin tawadhu’. Ini karena orang yang dulunya bodoh lalu termotivasi oleh kesombongan, ketika memperoleh ilmu, dan ternyata dapat diandalkan sebagai prestisenya, semakin sombonglah ia. Adapun yang berhati-hati dengan ilmunya, ketika ilmunya bertambah dan ia sadar hajatnya pada ilmu telah terpenuhi, ia makin berhati-hati. Mau’izhatul Mukminin 175
Ilmu yang hakiki adalah ilmu yang sejauh mana ia diraih, semakin mendekatkan kepada Allah, bukan malah menjauh. Semakin dalam diteliti, makin dalam pula cintanya pada-Nya. Semakin berhasil mengidentifikasi hal-hal yang baru, semakin besar kekaguman pada-Nya. Goresan tangannya mengajak mengenal Allah. Uraian kata-katanya menggambarkan ketawadhuan.
Ilmu yang hakiki merupakan kendaraan pribadi menuju taqwa. Ia seolah payung pelindung dari derasnya godaan dunia yang fana. Ia melahirkan keberanian terhadap kebatilan penguasa namun melahirkan ketakutan kepada Sang penguasa sejati. ” Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fatir: 28)