*Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag
Mendengar kata demokrasi, pikiran kita langsung tertuju pada kancah pertarungan politik yang sedang berlangsung di tingkat kabupaten/kota, propinsi, maupun tingkat nasional, dimana masyarakat bangsa ini menyebutnya sebagai “Tahun Politik”. Suasana politik masyarakat sangat kental terasa, semua kekuatan politik meneriakkan propaganda politiknya, sehingga keseharian masyarakat memperbincangkan perihal politik daerah dan negaranya, mampu membius setiap pikiran masyarakat bak seperti politisi beneran, mereka teriak tentang kebangsaan, kesejahteraan dan masa depan negara, di sisi lain mereka sendiri masih belum faham apa makna keberhasilan dalam pelaksanaan pembangunan..
Karakter ini menjadi salah-satu ciri khas dari apa yang mereka sebut Demokrasi Rakyat.
Suasana hubungan sosial kemasyarakatan yang tadinya penuh dengan canda dan kasih sayang, berubah menjadi persaingan buta bahkan corak hidup masyarakat penuh dengan kepura-puraan, dimana antara satu dengan yang lainnya -karena berbeda pilihan dan dukungan - mulai saling curiga, suasana lingkungan menjadi penuh intrik dan saling adu strategi. Karena berbeda dukungan, masyarakat satu dengan lainnya saling menjelekkan, saudara yang satu dengan saudara lainnya saling berselisih, tidak saling menyapa, hidup yang tadinya kompak dalam kebersamaan berubah menjadi suasana “perang dingin” karena kepentingan tanpa kasih sayang, bahkan penyelenggaraan sepak bola sekalipun tidak luput dari upaya politisasi. Melihat suasana di atas, penulis menyimpulkan :”Pemilu legislatif, pemilukada, pemilihan presiden dan wakil presiden berlangsung hanya beberapa sa’at saja, kenapa harus mengorbankan silaturrahmi dan kebersamaan hidup sebagai sebuah bangsa yang beradab (?)”. “Asup surga can tangtu, dosa enggeus (masuk surga belum tentu, tetapi kita telah berbuat dosa), lebih baik kita kembali pada substansi kehidupan yang sebenarnya, bangun kebersamaan dengan kasih sayang tanpa kepura-puraan”.
Pertanyaan yang mendasar muncul:”inikah demokrasi itu?”. Bukankah masyarakat kita ini telah dididik oleh agama dan perjalanan sejarah hidup bangsa?. Inilah yang dinamakan “Demokrasi Gatot” yaitu demokrasi yang gagal total?. Gagalnya sebuah upaya demokrasi (yang cenderung mengarah pada demo-crazy) dilekatkan pada suatu masyarakat yang memiliki dasar karakter yang beradab dan berkepribadian luhur didukung oleh nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan Perwakilan, serta menjunjung tinggi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Berbagai cara dilakukan oleh para bakal calon anggota legislatif, Bupati dan Wakil Bupati, gubernur dan wakil gubernur, dan bakal calon presiden dan wakil presiden misalnya, mulai dari jargon "Sa'atnya rebut kekuasaan, sampai pada janji-janji kepada pemilih setia, bila dirinya terpilih dan dilantik, pemberian uang bensin, pembangunan balai RW, dan uang jalan bagi kader pemilihnya, tapi ketika dia terpilih dan “jadi” dilantik sebagai pejabat dan rakyat menagih janji-janji mereka, suatu ketika para kontestan yang terpilih dan dilantik tersebut berujar ;”Apa hak rakyat menagih janji-janji yang telah saya ucapkan dimasa kampanye ?, pemberian uang, pembangunan balai RW dan uang jalan itulah yang menjadi hak kalian (rakyat. pen) yang telah saya berikan, tidak ada hak-hak lain yang pantas kalian tagih dari saya. Dulu saya telah “membeli suara” kalian, sekarang jangan ganggu saya sebagai pejabat negara”. Kalau sudah begitu kenyataannya, maka rakyat baru menyadari ; betapa tertipunya mereka, anehnya peristiwa tersebut senantiasa berulang-ulang setiap pesta demokrasi tersebut dilaksanakan, maka inilah yang disebut demokrasi Gatot (Gagal total) !.
Salah-satu pemahaman demokrasi yang melekat pada bangsa ini mengartikan bahwa “Suara Rakyat Suara Tuhan” sehingga masyarakat banyak yang terjebak pada situasi yang lambat laun akan “memangsa” hak-haknya sebagai manusia yang merdeka, bila calon kontestan tersebut dilantik, dia lupa akan tanggung jawabnya sebagai pelindung rakyat, dan rakyatpun menagih janji mereka dengan memaksa untuk memberikan sejumlah uang sebagai konsekuensi dari dukungan yang telah mereka berikan. Bukankah pejabat negara itu harus dilaksanakan dengan sejujur-jujurnya tanpa harus melanggar norma-norma hukum yang berlaku (?), tetapi kenapa "mereka” didorong-dorong untuk melakukan pelanggaran hukum seperti : Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (apapun istilahnya)? . Demokrasi Gatot (Gagal total) !.
Kondisi ini akan menjadi gambaran sekaligus jawaban ; sejauhmana kecerdasan rakyat dipertaruhkan sebagai bukti bahwa Suara Rakyat Suara Tuhan, artinya apa yang dilakukan rakyat yang beradab, bisa dipertanggung jawabkan, bila Tuhan bertanya pada makhluk-Nya (yang beragama Islam) tentang janji-janji yang sering diucapkan di setiap shalatnya : Innash shalatii wa nusukii wa mahyaaya wa maamaati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah Swt) bisa dilaksanakan dengan sepenuh hati ?. Bila demokrasi itu ditafsirkan sebagai Suara Rakyat Suara Tuhan, maka akankah kita pertaruhkan hidup kita dan kecerdasan iman kita terhadap Tuhan hanya sekedar ingin mencapai kekuasaan semata tanpa tanggung jawab ?.
Demokrasi Gatot (Gagal total) bila ummat tetap menganggap bahwa kegiatan tersebut diatas sebagai “Pesta Demokrasi”, padahal sebenarnya peristiwa tersebut merupakan “pertarungan demokrasi”, dimana terjadi tarik ulur kepentingan antara kekuatan Padahal berapapun kepentingan yang ada, tetap saja substasi pertarungan tertumpu pada 3 (tiga) kekuatan ideologi ; (1) Agama, (2) Nasionalis dan (3) Komunis. Bila umat Islam (ternyata) lebih cenderung untuk memilih kekuatan di luar ideologi agamanya, atau dia menggunakan dalil-dalil agama untuk memojokkan lawan politiknya, padahal calon yg dia dukung jelas-jelas melanggar syari'ah, maka inilah yang kita sebut dengan Demokrasi Gatot (Gagal Total)!. Ummat telah tergelincir pada jebakan politik yang disiapkan oleh musuh-musuh Islam, bila tidak memilih (Golput) menjadi salah-SATU alternatif ummat Islam, maka sama dengan kita memberikan kekuasaan pada kelompok yang ”justeru” akan memberangus Islam dan ummat Islam, juga masyarakat bangsa ini pada umumnya. maka inilah yang kita sebut dengan Demokrasi Gatot (Gagal total)!.
Sa'atnya kita bangkit,
Lawan ketidak-adilan dengan kekuatan silaturahim, tanpa kepura-puraan. Jadikan Bai'at kita dihadapan Allah sebagai landasan ruhul ibadah yang tidak terpengaruh oleh situasi politik daerah.
Tegakkan keberadaban dengan persaudaraan, sehingga masyarakat ini mendapatkan berkah Allah SWT.
Berdo'alah dengan ketulusan, agar bangkitnya kekuatan rakyat ("People Power") dapat segera kita raih demi terwujudnya masyarakat Indonesia yang Baldatun toyyibatun wa robbun gofuur. Subhanallah..
