15 April 2021

Umrah dan Haji Tertolak, Ini Sebabnya

 




oleh M Rizal Fadillah, pemerhati politik dan keagamaan.


Menteri Agama Yaqut Cholil Qaumas menyebut Pemerintah Saudi belum setuju vaksin Sinovac sebagai syarat masuk ke negaranya karena tak bersertikat WHO. Ini kabar buruk lagi warga bagi jamaah Indonesia yang gagal melaksanakan umrah dan haji meski sudah disuntik vaksin. Sebab mereka disuntk vaksin Sinovac. Betapa buruk nasib bangsa ini.


Coba direnungkan lebih dalam benarkah tingkat kesulitan melaksanakan ibadah umrah dan haji ini hanya disebabkan faktor vaksin? Sepertinya banyak faktor sehingga Pemerintah Saudi cenderung mempersulit walau tentu tak akan terungkap secara eksplisit.


Pertama, Indonesia di masa pemerintahan Jokowi ini kebijakan politiknya cenderung anti Arab. Lewat Islam Nusantara memusuhi hal berbau Arab. Para buzzer istana terus memojokkan dengan istilah Kadrun persis masa PKI.


Kedua, Menteri Agama Yaqut Cholil bukan prototipe seorang memahami agama secara mendalam, apalagi ulama. Anti Wahabi dan Salafi yang tentu menyakitkan Saudi. Koboi sinkretisme dari paham keagamaan. Dari jaga gereja hingga doa campur-campur.


Ketiga, Pemerintah Indonesia menyakiti ulama. Kasus HRS tidak lepas dari pemantauan Saudi. HRS yang dihormati di Saudi ternyata dinistakan di Indonesia. Bahkan enam pengawalnya dibunuh sadis oleh aparat negara.


Tokoh Anti Umrah


Keempat, gonjang-ganjing calon Dubes Saudi yang ditunjuk Jokowi adalah Zuhairi Misrawi, tokoh yang mengecam Saudi atas ’pemerasan’ devisa. Tokoh anti umrah dan menganjurkan pilihan ziarah kubur daripada umrah ke Saudi Arabia.


Kelima, dalam konteks global Saudi Arabia lebih dekat dan bersahabat dengan Amerika ketimbang Cina. Sedangkan Indonesia sedang akrab dan bermain-main dengan Cina. Vaksin pun dari Cina, Sinovac yang dianggap masih rentan bagi penularan Covid-19. Kualitas Sinovac yang diragukan dan bermutu rendah.


Keenam, di samping HRS dan pimpinan FPI keturunan Arab yang dihabisi secara politik, Gubernur DKI Anies Baswedan pun terus menerus dimusuhi dan ditekan oleh pemerintah Jokowi. Potensi untuk maju pada Pilpres ke depan dihalangi secara masif.


Semestinya Indonesia mengerti bahwa jamaah umrah telah  menjadi korban. Sejak awal lobi Indonesia terhadap Saudi selalu lemah. Apalagi kini di era Covid-19 yang terasa semakin babak belur. Harus ada perubahan kebijakan politik jika hendak membantu umat Islam agar dapat melaksanakan ibadah umrah dan haji ke Saudi Arabia. (*)


Bandung, 13 April 2021

https://pwmu.co/186779/04/13/umrah-dan-haji-tertolak-ini-sebabnya/

14 April 2021

Hadits ''Berpuasalah, Kamu Akan Sehat'' Dhaif (?)

 



Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam.  Shalawat dan salam atas Rasulillah –Shallallahu 'Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Masyhur hadits tentang pengaruh puasa terhadap kesehatan, “berpuasalah kamu akan sehat”. Bagaimana statusnya sanadnya?

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Abu Hurairah, Ibnu Abbas, dan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhum.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu secara marfu’,

اغْزُوا تَغْنَمُوا، وَصُومُوا تَصِحُّوا، وَسَافِرُوا تَسْتَغْنُوا

Berperanglah niscaya kalian akan mendapatkan harta rampasan, berpuasalah maka kalian akan sehat, dan bersafarlah maka kalian akan kaya.” (HR. Al-‘Uqailiy dalam al-Dhu’afa’ alKabiir (2/92), al-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Ausath (8/174))

Di dalam sanadnya terdapat Zuhair bin Muhammad yang meriwayatkan dari Suhail bin Abi Shalih secara sendirian.

Imam Al-Thabrani berkata: hadits ni tidak diriwaytakan dari Suhail dengan lafadz ini kecuali oleh Zuhari bin Muhammad.

Hadits ini dikeluarkan juga oleh Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil (2/357) dari jalur Abi bin Abi Thalib dengan isnad yang batil, karena di dalamnya terdapat Husain bin Abdillah bin Dhamirah yang tertuduh sebagai pendusta. Karenanya, Ibnu Adi memasukkan hadits ini ke dalam Munkaraat (hadits-hadits yang diingkarinya).

Ibnu Adi juga meriwayatkan lafadz ini dalam al-Kaamil (7/57) dari hadits Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma dengan isnad yang batil juga. Di dalamnya terdapat Nahsyal bin Sa’id yang tertuduh sebagi pendusta.

Jelaslah bahwa hadits ini dari sisi sanad tidak shahih dari segala jalurnya. Sebagian ulama menggolongkannya ke dalam hadits munkar. Sejumlah ulama lain, seperti Imam Al-‘Uqaily, Imam al-‘Iraqy, dan Syaikh al-Albani telah mendhaifkannya. Sebagian yang lain, bahkan, ada yang menghukuminya sebagai hadits maudhu’, seperti Imam al-Shaghani rahimahullah (Al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah: 90)

Syaikh al-Muhaddits Abdullah al-Sa’ad berkata, “aku tidak menemukan ada seorang pun dari ulama hadits yang telah menyahihkannya.”

Apakah Maknanya Tertolak

Dari sisi sanad, hadits ini dihukumi dhaif. Namun sejumlah ulama menyatakan bahwa maknanya adalah benar. Puasa memiliki faidah kesehatan yang sangat banyak. Ini diakui oleh banyak ahli kesehatan; fisik maupun kejiwaan. Jika seseorang berpuasa dengan cara yang benar dan dia tidak memiliki homorbit (penyakit bawaan) yang berat dan kondisi yang berbahaya ketika puasa maka ia akan mendapatkan manfaat kesehatan yang luar biasa.

Shiyam memiliki dampak luar biasa untuk dien seseorang sehingga membentuk ketakwaan dalam diri. Ini disebutkan langsung dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 183). Namun perlu juga ditambahkan, bahwa puasa juga memiliki manfaat duniawi seperti ekonomi masyarakat muslim, kehidupan sosial, dan kesehatan mereka.  

Keumuman faidah duniawi ditunjukkan oleh keumuman makna “khairiyah” (kebaikan) dalam shiyam. Tidak terbatas kepada manfaat ukhrawi saja.

وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan jika kamu berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Hadits Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam kepada Abu Umamah Radhiyallahu 'Anhu juga menguatkan hal ini. Saat itu Abu Umamah datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam dan berkata “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Beliau menjawab,

عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له

Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.

Abu Umamah berkata lagi, “Ya Rasulallah, perintahkan kepadaku untuk beramal. Beliau menjawab,

عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له

Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.” (HR. Al-Nasa’i dan Ibnu Huzaimah)

Dalam riwayat al-Nasa’i, “perintahkan kepadaku mengerjakan amal yang dengannya Allah akan memberi manfaat besar untukku.” Beliau menjawab,

عليك بالصوم؛ فإنه لا عدل له

Hendaknya kamu berpuasa, karena tida ada amal yang bisa menandinginya.

Manfaat ini bukan saja mencakup kemanfaatan ukhrawi, tapi juga manfaat duniawi, seperti kesehatan. Wallahu A’lam. [PurWD/voa-islam.com]

13 April 2021

3 Tujuan Puasa Ramadan dan Manfaatnya yang Perlu Diketahui



Dalam hitungan hari, seluruh umat muslim di dunia akan menyambut bulan penuh berkah, yaitu bulan Ramadan. Nampaknya tahun ini akan berbeda dari bulan Ramadan di tahun sebelumnya. Pasalnya, kini seluruh masyarakat dunia dihadapkan dengan tantangan besar, dan masih terus berjuang untuk menangani penyebaran pandemi virus corona atau Covid-19.


Meski demikian, umat muslim dan seluruh masyarakat dunia harus tetap optimis dan penuh harap bahwa ujian ini akan segera terlewati. Bahkan dengan adanya bulan Ramadan yang sebentar lagi tiba, bisa menjadi kesempatan baik bagi umat muslim untuk memperbaiki diri. Salah satunya dengan menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Puasa memang menjadi ibadah wajib yang harus dijalankan oleh umat muslim saat bulan Ramadan. Bukan tanpa alasan, ibadah mempunyai beberapa tujuan baik yang akan mendatangkan banyak manfaat bagi setiap umat yang menjalankan.

Seperti dilansir dari Antara, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU tahun 2013, HM Cholil Nafis Lc.PhD perah mengatakan bahwa, puasa merupakan ibadah yang istimewa. Sebab puasa menjadi ibadah yang spesial kepada Allah SWT, karena dapat membangun keintiman seorang hamba dengan Penciptanya.

Bukan hanya itu, ibadah puasa juga mempunyai tujuan lain yang tidak kalah penting. Dilansir dari Liputan6.com, berikut kami rangkum beberapa tujuan puasa Ramadan yang perlu diketahui.

Meraih Taqwa

Tujuan puasa Ramadan yang pertama adalah untuk meraih taqwa. Tujuan ini seperti yang tercantum dalam QS. AL Baqarah ayat 183, yang berbunyi sebagai berikut :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa".

Taqwa bisa didapatkan seorang muslim, apabila ibadah puasa dijalankan tidak hanya menahan lapar dan nafsu saja, tetapi juga disertai dengan perilaku yang baik.

Dalam hal ini Rasulullah pernah bersabda dalam Hadist Riwayat Bukhari :

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan keji, maka Allah tidak mempunyai keperluan apa pun kepada hamba-Nya untuk meninggalkan makan dan minumnya".

Menahan Diri

Tujuan puasa Ramadan yang kedua adalah untuk menahan diri. Menahan diri yang dimaksud adalah menahan diri dalam hal apapun. Baik menahan diri dalam perkataan, perbuatan, juga nafsu.

Menahan diri dalam perkataan, bisa berupa menahan lisan dari perkataan buruk yang dapat melukai perasaaan orang lain, sekalipun kita mendapatkan ancaman dan makian dari orang tersebut. Dalam masalah ini, kita bisa tetap menahan diri sambil berkata, "saya sedang menjalankan ibadah puasa.

Begitu pula dengan menahan diri dalam perbuatan. Puasa bisa membantu kita untuk menahan diri dari keinginan perbuatan atau perilaku buruk yang merugikan orang lain. Bukan hanya itu, puasa juga mendukung kita untuk menahan segala nafsu yang ada.

Introspeksi Diri

Tujuan puasa Ramadan berikutnya adalah sebagai upaya introspeksi diri. Dikatakan, ibadah puasa di bulan Ramadan dapat mengajarkan umat muslim untuk introspeksi diri, tenggang rasa juga menahan amarah dan emosi.

Bahkan, menurut Toni Ervianto, alumnus pascasarjana Kajian Strategik Intelijen, Universitas Indonesia, ibadah puasa merupakan perpaduan alat ukur yang sempurna untuk mengetahui seberapa besar "intellectual quotion, emotional quotion dan spiritual quotion" manusia dalam menghadapi hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang plural dengan dinamika perkembangannya yang bergerak cepat.

Dengan beberapa tujuan tersebut, umat muslim akan mendapatkan berbagai kebaikan dan manfaat dari ibadah puasa yang dijalankan saat bulan Ramadan. Berikut beberapa manfaat puasa Ramadan yang bisa didapatkan.

Meninggikan Derajat

Manfaat puasa Ramadan yang pertama adalah dapat meninggikan derajat umat muslim. Dalam hal ini, Rasulullah SAW pernah bersabda :

"Ketika Ramadan tiba, dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan pun dibelenggu." (HR Imam Muslim)

Dari hadis tersebut dapat dipahami bahwa ibadah puasa menjadi salah satu amalan baik yang bisa dilakukan saat bulan Ramadan untuk mendapatkan berkah darinya. Puasa juga menjadi amalan yang membantu manusia mendapatkan pintu surga danridho dari Allah SWT.

Menghapus Dosa

Kedua, manfaat puasa Ramadan adalah untuk menghapus segala dosa dan kesalahan. Hal ini didasarkan dari Hadis Riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, bahwa Rasulullah pernah bersabda :

"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan karena iman dan mengharapkan pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu."

Dari hadis tersebut, dipahami bahwa manusia diperkenankan mengharap pahala dan ampunan yang diberikan Allah SWT di bulan Ramadan. Mengharapkan pahala atau imbalan kepada Allah merupakan bentuk penyerahan diri dan menyatakan bahwa kita hanyalah makhluk Tuhan dengan segala kelemahan dan keterbatasan.

Dengan ibadah puasa juga bisa sebagai usaha untuk mendapatkan pintu maaf yang sebesar-besarnya dari Sang Maha Pencipta.

Memperbanyak Sedekah

Manfaat puasa Ramadan berikutnya adalah memperbanyak sedekah. Dalam pandangan Imam Izzuddin al-Sulami, puasa dapat membuat manusia memperbanyak sedekah. Beliau mengatakan :

"Karena sesungguhnya orang berpuasa ketika dia merasakan lapar, dia mengingat rasa lapar itu. Hal itulah yang memberikan dorongan kepadanya untuk memberi makan pada orang yang lapar."

Dari hal tersebut, sudah jelas terlihat bahwa puasa bisa memberikan kesempatan bagi kita untuk berempati dengan sesama. Rasa lapar yang dilalui saat menjalankan ibadah puasa bisa menjadi pengalaman dan refleksi diri bahwa masih banyak saudara-saudara di luar sana yang terpaksa menahan lapar karena segala keterbatasan yang dimiliki.

Untuk itu, hal ini bisa menjadi dorongan tersendiri untuk melakukan sedekah bagi mereka yang membutuhkan.

Mensyukuri Kenikmatan Tersembunyi

Puasa juga memberikan kesempatan bagi umat muslim untuk mensyukuri kenikmatan yang tersembunyi. Manusia memang sering lalai atas nikmat yang selalu diberikan Tuhan di setiap harinya. Seperti nikmat bernapas, udara yang bersih, kecukupan makan dan minum, juga kebahagiaan.

Menurut Imam Izzuddin al-Sulami, puasa dapat mengembalikan ingatan itu dan membuat mereka mensyukurinya. Beliau berkata:

"Ketika berpuasa, manusia menjadi tahu nikmat Allah kepadanya berupa kenyang dan terpenuhinya rasa haus. Karena itu mereka bersyukur. Sebab, kenikmatan tidak diketahui kadar/nilainya tanpa melalui hilangnya rasa nikmat itu (terlebih dahulu)."

Terhindari dari Maksiat

Terakhir, manfaat puasa bulan Ramadan tentu saja dapat menghindarkan diri dari perbuatan maksiat. Dalam pandangan Imam Izzuddin, orang yang kenyang memiliki kecenderungan lebih untuk bermaksiat. Namun, dalam kondisi lapar dan haus saat berpuasa, fokusnya lebih pada mencari makanan dan minuman, sehingga mengurangi keinginannya berbuat jahat.

Ketika dia hendak melakukan sesuatu, seketika teringat bahwa kita sedang berpuasa, dengan begitu segala tindakan atau perbuatan buruk yang hendak dilakukan akan dipikirkan kembali sebelum dilakukan.

7 April 2021

Mengepung Konstantinopel dari zaman ke zaman

 



Kaum muslim telah melakukan 11 kali pengepungan terhadap benteng Konstantinopel; 7 kali dilakukan pada 2 abad pertama Islam dan 4 kali sisanya dilakukan pada masa kekhilafahan Utsmaniyah. 


Pengepungan pertama

Dilakukan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan pada masa kekhilafahan Utsman bin Affan pada tahun 34 H - 654 M.


Pengepungan kedua 

Dilakukan oleh Yazid bin Muawiyah pada masa kekhilafahan Bani Umayyah pd tahun 47 H/667 M saat ayahnya Muawiyah bin Abi Sufyan menjadi khalifah


Pengepungan ketiga

Di lakukan oleh Sufyan bin Aus pd tahun 52 H/672 M dimasa kekhilafahan Bani Umayyah dibawah khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan.


Pengepungan keempat dan kelima 

Dilakukan oleh Maslamah dimasa pemerintah Umar bin Abdul Aziz tahun 99 H dan dilanjutkan pada masa pemerintahan Hisyam bin Abdul Malik. 


Pengepungan keenam

Pengepungan ini adalah pengepungan yg paling dahsyat dilakukan pada masa Bani Umayyah berkuasa. Saat itu kekhilafahan dipimpin oleh Sulaiman bin Abdul Malik tahun 98 H. 


Pengepungan Ketujuh

Dilakukan pada masa kepemimpinan Harun Ar Rasyid dan Al Mahdi saat Bani Abbasiyah berkuasa. 


Empat pengepungan berikutnya dilakukan oleh para sultan dari kekhilafahan Utsmaniyah. Menguasai bénténg Konstantinopel masih menjadi harapan kaum muslimin. Bahkan menjadi obsesi setiap muslim sepanjang perjalanan sejarah kala itu.


Ada ungkapan yg disampaikan Napoleon Bonaparte terkait Konstantinopel, 


"Jika dunia adalah sebuah kerajaan tunggal, Konstantinopel tempat yg tepat utk menjadi ibukotanya."


Konstantinopel adalah tempat yg dijanjikan Rasulullah, tempat yg hanya dapat ditundukkan oleh panglima dan pasukan pilihan..


Rasulullah bersabda,

 عن النبى صلى الله عليه وسلم قوله "لتفتحن القسطنطينيةولنعمه الامير أميرها  ولنعمه الجيش ذلك jika الجيش

“Sesungguhnya akan dibuka kota Konstantinopel, sebaik-baik pemimpin adalah yang memimpin saat itu, dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan perang saat itu“.


Ahmad 4/235

Bukhori dalam Tarikh Shoghir hal. 139

Thobroni dalam Al Kabir 1/119/2

Hakim 4/4/422

Ibnu Asakir 16/223 dan lainnya.


Imam Al Hakim berkata: “sanadnya shohih dan disepakati oleh Adz Dzahabi”