10 Agustus 2022
UJIAN UTK SEMUA MANUSIA YANG DIBERI ILMU, JABATAN, HARTA DAN TAHTA
POLISI SEDANG MEMANEN ISTIDRAJ
Polisi sedang menumpuk dosa. Mereka lagi bergelimang *istidraj*. Tak sadar bahwa tengah dihadiahi azab yg berbentuk kenikmatan oleh Allah. Maka mereka bebas berbuat zalim tapi tetap diagungkan. Semena-mena tapi tetap berkuasa. Leluasa mempertontonkan ketidakadilan kepada si lemah, tanpa sadar bahwa wajah Allah terletak pada orang-orang miskin dan rakyat yang teraniaya.
Polisi juga sedang menabung musuh. Tiap kali ada ulama, pejuang, atau rakyat tak berdosa yang dizalimi, saat itu pulalah bertambah manusia calon penganiaya polisi. Hingga suatu saat akan membludak jumlah manusia yang nekat ingin membalaskan dendamnya. Dengan brutal, sadis, dan kejam. Hingga mata polisi akan terbelalak, tak menyangka bahwa azab neraka jahanam telah hadir lebih cepat di depan mata mereka.
Bayangkan. Ketika polisi mempersekusi Imam Besar, berapa juta rakyat yg dalam sekejapan mata telah dijadikan musuh besar oleh polisi.
Saat membui Syahgandha dkk, berapa ribu aktivis berbagai organisasi yang mengutuk polisi.
Di kala Munarman diseret dan dibutakan matanya dengan tutup kain hitam, berapa rakyat yang heran ternganga dan kemudian marah sembari menyumpahi polisi.
Di malam jahanam ketika 6 Syuhada tewas dibantai, disayat-sayat tubuhnya, dan diberondong peluru sekujur badan mereka, berapa malaikat yg menyaksikan, menangis, dan melaknat perbuatan biadab polisi itu.
Jadi jangan heran kalau kebinasaan polisi nanti akan sangat mengerikan. Tak akan sanggup kita melihatnya, terlebih jika sebagian diantara mereka adalah kerabat dan keluarga kita. Mereka, para polisi baik itu, akan ikut menanggung azab karena diam ketika ketidakadilan merajalela. Lebih takut tak bisa makan ketimbang menegakkan hukum Allah.
Polisi saat ini telah menjadi musuh bersama. Menjelma sebagai PKI, Polisi Komunis Indonesia. Tak heran rakyat sudah menjadikan polisi sebagai common enemy.
Buktinya, hati rakyat tak tenang tiap kali bertemu polisi. Sebisa mungkin tidak berhubungan dengan polisi. Lihat polisi seperti melihat setan. Sampai-sampai seragam coklat polisi diidentikkan dengan isi WC yang berwarna coklat kehitaman. Persis seperti hitam pekatnya mental polisi di bawah rezim dajjal sekarang.
Sambil berpesta pora dan menyebarkan tawa iblis, sesungguhnya polisi sedang menuju kepunahannya. *Istidraj* dari Allah adalah sesuatu yang betul-betul telah melenakan mereka.
Korps berseragam coklat dan hitam itu tak paham bahwa tangan-tangan berpeluru dan kaki-kaki bersepatu lars mereka yang jumawa menginjak hak para pencari keadilan itu, sesungguhnya sedang berbaris menuju jahanam.
Jutaan rakyat tak berdosa dari seluruh penjuru Nusantara saat ini tengah menangis. Tak rela ulama difitnah, kyai ditangkapi, ustad mereka dipersekusi, dan Agama Islam diradikalisasi.
Dari jutaan mulut rakyat yang merasa dizalimi itu, kini menggema doa-doa yang belum pernah mereka panjatkan sebelumnya. Doa yang sebenarnya mereka pun tak tega mengucapkannya.
Dengan hati tersayat, benak menahan kepedihan, wajah berurai air mata, jari jemari tertangkup menengadah, dan bibir yang bergetar menahan amarah, doa maha dashyat pun dilantunkan...
Rakyat meminta agar laknat cepat diturunkan kepada polisi, oligarki, rezim, dan buzzeRp yang menjadi penjahat bagi kaumnya sendiri.
Rakyat memohon agar Allah segerakan azab yang amat sangat pedih kepada mereka!
Karena rakyat tahu *tidak ada hijab diantara doa orang yang teraniaya dengan Allah Azza wa Jalla*. Tiada penghalang antara Allah dengan makhluk-Nya.
Doa-doa umat teraniaya itu akan terbang melesat menembus langit, langsung kepada Sang Pencipta. Tanpa menunggu Malaikat menyampaikannya.
Naudzubillahimindzaliq.
Semoga Allah mengabulkan semua doa rakyat Indonesia.
AAMIIN.
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
Oleh : Pepen Irpan Fauzan _Borosngora Persatuan Islam_ Koran _Sipatahoenan_ pada 27 Djanoeari 1933 memberitakan pujian-apresiatif para tok...

