15 November 2024

WAJAH SUNAN GUNUNG DJATI



Beredar di internet, inilah lukisan wajah Syekh Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Djati, salah seorang Walisongo, pendiri kesultanan Islam Cirebon dan penyebar Islam di Jawa Barat, yang tersimpan di Tropen Museum Amsterdam Belanda. Dilukis oleh cucunya, Pangeran Losari Angkawijaya, 2 tahun sebelum wafatnya tahun 1568.


Karena dilukis 2 tahun sebelum meninggalnya, ketika beliau masih ada, artinya inilah wajah beliau yang paling mendekati aslinya dari semua wajahnya yang selama ini banyak beredar yang itu hasil imajinasi ruhani para pelukisnya. Itu juga konon, rada-rada mendekati tapi tentu saja ini yang paling representatif.


Bila itu benar lukisan tahun 1566, abad ke-16, 2 tahun sblm beliau wafat, dan bila itu benar wajahnya yang paling mendekati, lukisan itu sangat berharga yg mahal sekali nilainya. Masya Allah. 


Alhamdulillah pernah shalat di mihrabnya di Masjid Agung Ciptarasa, Cirebon, yang auranya terasa sejuk dan damai. 

11 November 2024

TOHA DAN RAMDAN, PAHLAWAN BANDUNG SELATAN YANG TERLUPAKAN

 


Oleh : Dadan Wildan - YC1CDN*

(Ketua Yayasan Pendidikan Prima Cendekia Islami)


1. Pendahuluan


Hingga saat ini, kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, dua pahlawan muda dari Bandung Selatan, belum mendapatkan tempat yang layak dalam sejarah, baik dalam sejarah lokal kota dan Kabupaten Bandung, maupun dalam sejarah Nasional. Informasi tentang kedua pahlawan ini, masih sangat terbatas. Apalagi, berbagai penafsiran muncul terhadap perjuangan kesyahidan Toha dan Ramdan dalam mengancurkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot pada tanggal 11 Juli 1946. Padahal, penghancuran gudang mesiu ini telah melemahkan kekuatan tentara Belanda yang akan kembali menjajah bangsa Indonesia.


Sebagai upaya menghargai jasa kedua pahlawan ini, seyogianya kita menghilangkan penafsiran-penafsiran yang tidak didasarkan pada fakta-fakta keras (hard fact) sejarah. Penafsiran yang terlalu jauh, seperti peledakan bom itu sebagai bentuk prustasi Mohammad Toha akibat putus cinta, atau dibelokkan oleh kepentingan Belanda yang tidak mau mengakui kehancuran gudang mesiu itu akibat dari perjuangan kedua anak muda kusumah bangsa ini. 


Belanda bahkan menyatakan, kehancuran gudang mesiu di dayeuhkolot hanyalah kecelakaan akibat puntung rokok yang dibuang sembarangan. Bahkan, secara politis, perlakuan kepada kedua pahlawan yang gugur itu, malah berbeda. Hanya karena perbedaan lasykar perjuangan. Mohammad Toha dari Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), sementara Mohammad Ramdan dari Lasykar Hizbullah. Marilah kita diskusikan secara jernih, untuk bersama-sama menghargai jasa keduanya secara layak dan proporsional.


2. Siapakah Mohamad Ramdan?


Sejak lahir hingga masa-masa kuliah,  saya hidup di Kampung Leles, Desa Magung (sekarang Desa Mekarsari), Kecamatan Ciparay Kabupaten Bandung. Tempat lahir hingga masa remaja Mohammad Ramdan. 


Sejak kecil, saya telah mendengar kepahlawanan Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan. Ketertarikan saya kepada kedua pahlawan ini, baru muncul pada tahun 1988, ketika saya kuliah di jurusan Sejarah IKIP Bandung. Beberapa sepuh, saya wawancarai. Karena, saya tidak menemukan informasi yang cukup dan referensi yang memadai tentang keduanya.


Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan, mengemukakan masa kecil Mohammad Ramdan:

Mohammad Ramdan dilahirkan pada tahun 1928, di Kampung Leles, Desa Magung, Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung. Ramdan, adalah anak kedua dari keluarga Hassan, seorang petani di desa itu. Ibunya bernama Warsih. Hassan kemudian bercerai dengan Warsih. Warsih kemudian menikah dengan Ahmudi, seorang pedagang beras di pasar Ciparay. Sejak usia satu tahun, Ramdan diasuh oleh ayah tirinya, Ahmudi.


Dalam usia tujuh tahun, pada tahun 1935, Ramdan---yang biasa dipanggil dengan nama kecil Endang---sekolah di Sekolah Rakyat (Volkschool) di Kampung Leles. Kemudian pada tahun 1938 melanjutkan sekolah ke sekolah sambungan (Vervolgschool) di Kecamatan Ciparay. Sebagaimana anak-anak lainnya, selain sekolah ia pun rajin mengaji di Surau dan pesantren. Ramdan termasuk anak yang rajin. Waktu senggangnya diisi dengan membuat berbagai kerajinan tangan, seperti ayakan, korang, hihid, aseupan, dan kekesed.


Menurut teman sepermainannya, Endin, pensiunan Kepala SDN Magung I, sejak kecil Ramdan telah menunjukkan sikap pemberani. Ramdan gemar bermain perang-perangan atau perang gobang (pedang-pedangan yang terbuat dari kayu). Tahun 1942, Ramdan telah menyelesaikan sekolah di Vervolgschool. Pada masa pendudukan Jepang, Ramdan kembali bersekolah di Vervolgscholl selama satu tahun, untuk mempelajari bahasa Jepang.


Tanggal 8 Maret 1942, Belanda menyerah kepada Jepang tanpa syarat. Maka mulailah zaman baru bagi rakyat Indonesia yang ditandai dengan berbagai penderitaan. Pada awal pendudukan Jepang, Pemerintah Jepang memberikan latihan-latihan kemiliteran bagi para pemuda di tanah air untuk memupuk tenaga guna kepentingan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya. Bagi para pemuda kita, latihan militer ini dimanfaatkan sebaik-baiknya guna mempersiapkan diri untuk menyongsong kemerdekaan. 


Para pemuda banyak yang menggabungkan diri antara lain dalam tentara PETA (Pembela Tanah Air), Heiho, Keibodan, dan Seinendan. Mohammad Ramdan, juga tertarik menggabungkan diri dalam latihan-latihan kemiliteran yang diselenggarakan oleh tentara Jepang. Latihan ini, dijadikan sarana yang baik untuk melatih kepercayaan pada diri sendiri, ketabahan, serta perjuangan tanpa kenal menyerah.


3. Siapakah Mohammad Toha?


Informasi yang saya terima menyebutkan bahwa Toha, lahir di Jalan Suniaraja Bandung pada tahun 1927. Dalam usia satu tahun, ia telah yatim, karena ayahnya, Ganda, seorang pegawai UNIE meninggal dunia. 


Masa kecilnya dihabiskan di kota Bandung. Toha menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Babakan Bandung hingga lulus tahun 1940.  Masa remajanya, ia habiskan untuk bekerja di bengkel motor Cikudapateuh dari tahun 1943 - 1945.


4. Peledakkan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot


Masa pendudukan Jepang di Indonesia tidak berlangsung lama. Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jepang menyerah kepada Sekutu setelah kota Hiroshima dan Nagasaki dijatuhi bom atom. Menyerahnya Jepang kepada Sekutu, menyebabkan kekosongan kekuasaan di Indonesia.


Kesempatan ini, digunakan oleh Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itu, para pemuda dan rakyat Indonesia bergerak melakukan tindakan pengambilahan kekuasaan dari tangan Jepang. Para pemuda, kemudian menggabungkan diri dalam berbagai lasykar perjuangan, seperti Hizbullah, Sabilillah, Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI), Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia, dan berbagai lasykar perjuangan lainnya. 


Mohammad Ramdan, bergabung dengan Lasykar Hizbullah. Sementara Mohammad Toha bergabung dengan Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia.


Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat kondisi awal kota Bandung menjelang peristiwa peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot sebagai berikut:


Pada bulan September-Oktober 1945 terjadi bentrokan fisik antara pemuda, Tentara Keamanan Rakyat (TKR), dan rakyat Bandung dengan tentara Jepang dalam usaha pemindahan markas Jepang. Bentrokan itu terjadi antara lain di Gedung PTT, pabrik senjata dan mesiu di Kiaracondong, dan puncaknya terjadi di Heetjanweg, Tegalega. Pada tanggal 9 Oktober 1945, bentrokan fisik dengan pihak Jepang dapat diselesaikan dengan damai. 


Pemuda, TKR, dan rakyat Bandung berhasil mendapatkan senjata mereka dan kemenangan ada di pihak rakyat Bandung. Namun bersamaan dengan itu, pada tanggal 21 Oktober 1945 satu brigade tentara Sekutu di bawah pimpinan Mc. Donald dari Divisi India ke 23 memasuki kota Bandung.  Peranan Sekutu sebagai wakil kolonial Belanda segera menimbulkan ketegangan dan bentrokan dengan rakyat Bandung. Insiden-insiden kecil yang menjurus pada pertempuran sudah tidak dapat dihindari lagi.


Pada tanggal 24 November 1945, TKR, pemuda, dan rakyat yang dipimpin oleh Arudji Kartasasmita sebagai komandan TKR Bandung memutuskan aliran listrik dengan maksud mengadakan serangan malam terhadap kedudukan Sekutu. Seluruh kota Bandung gelap gulita. Sejak saat itu, pertempuran terus berkecamuk di Bandung. Karena merasa terdesak, pada tanggal 27 November 1945 Sekutu memberikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat Sutarjo yang ditujukan kepada seluruh rakyat Bandung agar paling lambat tanggal 29 November 1945 pukul 12.00 seluruh unsur bersenjata RI meninggalkan Bandung Utara dengan jalan kereta api sebagai garis batas dermakasinya. 


Tetapi sampai batas waktu yang ditentukan, rakyat Bandung tidak mematuhinya. Sejak saat itu, Sekutu---secara sepihak---menganggap bahwa kota Bandung telah terbagi menjadi dua bagian; dengan jalan kereta api sebagai garis batasnya. Bandung bagian utara dianggap milik Inggris, sedangkan Bandung Selatan milik Republik.

Mulailah tentara Sekutu yang terdiri dari tentara Inggris, Gurkha, dan NICA meneror penduduk di bagian Utara jalan kereta api. Mereka menghujani tembakan ke kampung-kampung dengan membabi buta. Kekalahan Republik dalam mempertahankan Gedung Sate/PTT membawa korban 7 orang meninggal dunia sebagai pahlawan.


Pertempuran di UNPAD pada tanggal 1 Desember, Balai Besar K.A., dan Stasiun Viaduct pada 3 Desember menjadi saksi atas semangat juang rakyat Bandung. Sepanjang bulan Desember 1945 sampai Januari 1946, pertempuran masih berlangsung dengan jalan kereta api sebagai garis demarkasinya. Titik utamanya: Waringin, Stasiun Viaduct, dan Cicadas. Demikian pula pertempuran di Fokkerweg berlangsung selama tiga  hari tiga malam. 


Pada tanggal 2 Januari 1946, konvoi Inggris dari Jakarta yang terdiri dari 100 truk tiba di Bandung. Bantuan dari Jakarta terus   mengalir untuk membantu pertahanan Sekutu yang ada di Bandung, sementara di pihak Republik bantuan pun tak kunjung henti dari berbagai daerah. Sekutu merasa tidak aman karena selalu mendapat serangan dari TKR, pemuda, dan rakyat Bandung.


Pada tanggal 24 Maret 1946, Sekutu mengeluarkan ultimatum lagi kepada rakyat Bandung yang masih mempunyai atau menyimpan senjata, bahwa pada malam minggu harus sudah meninggalkan seluruh kota Bandung. Dengan demikian, garis demarkasi yang telah dibuat itu tidak digunakan lagi. Ultimatum itu berakhir sampai tengah malam Senin 24-25 Maret 1946. 


Secara lisan, pihak Sekutu meminta untuk mengawasi daerah dengan radius 11 km sekitar Bandung. TKR dan pasukan lainnya meminta waktu 10 hari karena penarikan TKR dalam waktu singkat tidak mungkin, namun tuntutan itu tidak disetujui. Dengan demikian, pertempuran sulit untuk dihindarkan. Ribuan orang, berduyun-duyun mulai meninggalkan kota Bandung. Bulan Februari sampai Maret 1946, Bandung telah berubah menjadi arena pertempuran. Kantor Berita ANTARA memberitakan sebagai berikut:


Berita yang diterima siang hari ini menyatakan sebagai berikut: Bandung menjadi lautan api. Gedung-gedung dari jawatan-jawatan besar hancur, di antaranya kantor telpon, kantor pos, jawatan listrik. Sepanjang jalan Pangeran Sumedang, Cibadak, Kopo, puluhan rumah serta pabrik gas terbakar. Semua listrik, penerangan di daerah Bandung putus, yakni Banjaran, Ciperu, dan Cicalengka. Yang masih berjalan hanya listrik penerangan daerah Pangalengan. Lebih lanjut dikabarkan, bahwa Inggris mulai menyerang pada tanggal 25 Maret pagi, sehingga terjadi pertempuran sengit yang masih berjalan sampai saat dibikinnya berita ini (Sumber: Berita ANTARA, 26 Maret 1946).


Bandung sengaja dibakar oleh tentara Republik, menjadi Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946. Hal ini dimaksudkan agar Sekutu tidak dapat menggunakannya kota ini sebagai basis pertahanannya. Di sana sini asap hitam mengepul membumbung tinggi di udara. Semua listrik mati. Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi.

Pada tahun 1946, daerah Bandung Selatan diserahkan oleh pihak Sekutu kepada tentara Belanda dari Brigade V yang dipimpin oleh Kolonel Meier yang bermarkas di Kampung Dengki Dayeuhkolot.


Watra, saksi seperjuangan dengan Mohammad Ramdan yang saya temui sekitar pada tahun 1988 mengemukakan:

Pihak lasykar perjuangan Bandung Selatan, kemudian mendirikan Majelis Persatuan Perjuangan Priangan (MPPP) di Baleendah. Sekarang dibangun tugu kujang. Baleendah, menjadi front paling depan yang berhadapan langsung dengan markas tentara Belanda di Dayeuhkolot. 


Batas yang memisahkan kedua pos pertahanan yang saling bermusuhan itu, adalah sungai Citarum. Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, markas MPPP selalu dijaga secara bergantian oleh lasykar-lasykar perjuangan yang tergabung di dalamnya.  


Mohammad Ramdan yang juga bergabung dalam MPPP dari lasykar Hizbullah yang bermarkas di Majalaya, juga secara bergantian mendapat tugas jaga di pos MPPP.


Menjelang peledakan Gudang Mesiu di Dayeuhkolot, Ibu Gandasih, kakak kandung Mohammad Ramdan yang saya wawancarai mengemukakan:

Hari Kamis, pukul 10.00 pagi tanggal 10 Juni 1946,


Pertempuran yang paling seru terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang mesiu yang besar milik Sekutu. TKR bermaksud menghancurkan gudang mesiu tersebut. Untuk itu diutuslah pemuda Muhammad Toha dan Ramdan. Kedua pemuda itu berhasil meledakkan gudang tersebut dengan granat tangan. 


Gudang besar itu meledak dan terbakar, tetapi kedua pemuda itu pun ikut terbakar di dalamnya. Staf pemerintahan kota Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan maka pada jam 21.00 itu juga ikut keluar kota. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah kosong dari penduduk dan kosong dari tentara. Tetapi api masih membumbung masih membakar Bandung. Kini Bandung berubah menjadi lautan api. 


Rakyat berduyun-duyun meninggalkan Bandung Selatan untuk mengungsi ke desa-desa. Sekutu tetap melancarkan serangan-serangan tapi jauh di utara ditujukan ke selatan. Sampai saat itu, hanya 16.000 orang pribumi yang tinggal di Bandung Utara, padahal sebelumnya daerah itu berpenduduk 100.000 jiwa.


Tentang hancurnya gudang mesiu di Dayeuhkolot, Watra menuturkan seperti ini. Ketika itu, dua hari sebelum dilakukan infiltrasi, terjadi silang pendapat di antara lasykar-lasykar perjuangan di markas MPPP tentang strategi yang tepat untuk menghancurkan gudang mesiu? Siapa yang akan melakukannya, bagaimana caranya, dan kapan akan dilaksanakan? 


Pada akhirnya, komandan MPPP memberi tugas kepada lasykar-lasykar perjuangan untuk melakukan penyerangan terhadap markas  pertahanan Belanda sekaligus menghancurkan gudang persenjataannya, karena dengan melumpuhkan markas Belanda di Dayeuhkolot, apalagi menghancurkan gudang persenjataannya, akan melumpuhkan kekuatan Belanda di sektor selatan.

Engkos, seorang pensiunan perintis kemerdekaan, mengungkapkan bahwa keputusan penyerangan ke markas Belanda di Dayeuhkolot diambil pada malam Jumat, dan dilakukan pada malam itu juga.  


Menurut penuturan Engkos dan Watra, Kira-kira pukul 21.45 malam Jumat tanggal 10 Juli 1946, ternyata anggota lasykar perjuangan yang siap melaksanakan tugas menghancurkan gudang mesiu itu hanya dua lasykar, yakni Lasykar Hizbullah dengan anggotanya antara lain Mohammad Ramdan, Watra, dan Idas serta Lasykar Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) dengan anggotanya, antara lain; Mohamad Toha, Juju, Muin, dan Jojo. 


Mereka akan melakukan penyusupan dengan cara menyeberangi sungai Citarum dan masuk melalui gorong-gorong.

Menurut kesaksian Watra, malam Jumat itu, beberapa orang yang siap melakukan infiltrasi mulai menyusuri pematang sawah, menyeberangi sungai Citarum, dan mendekati terowongan air. Tetapi sebelum masuk terowongan air, mereka diketahui oleh petugas jaga tentara Belanda. Akhirnya terjadilah pertempuran, Watra terluka dengan sembilan luka tembak di sekujur tubuhnya dan ia menimbun diri di sungai untuk menyelamatkan diri, sementara Ramdan dan Toha berhasil masuk terowongan air dengan berbekal dua buah geranat tangan dan sepucuk pistol.


Keesokan harinya, hari Jumat, pukul 12.10 tanggal 11 Juli 1946, terdengar bunyi ledakan dahsyat dari Dayeuhkolot. Gudang Mesiu telah hancur bersama pelaku penghancurannya, Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, keduanya hancur luluh bersama ribuan ton bahan peledak dan amunisi dari berbagai jenis. Keduanya telah melaksanakan tugasnya dengan baik, meski tubuh mereka hancur luluh.


Tanggal 14 Juli 1946, kawan-kawan Mohammad Ramdan dan Mohammad Toha datang menyatakan bela sungkawa. Menteri Pertahanan Mr. Amir Syarifuddin, memberikan penghargaan berupa piagam dan pedang samurai bagi keluarga Toha dan Ramdan.


Toha gugur dalam usia 19 tahun, dan Ramdan gugur dalam usia 18 tahun. Mereka gugur dalam usia remaja, bukan anak-anak yang baru berusia 14 tahun. Jadi, kalau Mohammad Toha dianggap fiktif, mengapa Mr. Amir Syarifuddin memberikan penghargaan kepada keduanya? Mengapa pula, Arsip Nasional mencatatnya sebagai sebuah dokumen sejarah? Mohammad Toha dan Mohammad Ramdan, bukanlah tokoh sangkuriang. Keluarganya, dapat memberikan kesaksian riwayat hidup keduanya.


Bukti perjuangan keduanya, sebuah tugu dibangun disamping kolam bekas ledakang gudang mesiu itu. Di samping  bekas Markas YON ZIPUR III Dayeuhkolot.


Hari ini saya hanya bisa menyanyi sedih, sebab tidak banyak  orang yang mengetahui dan dapat menghargai perjuangan kedua pahlawan muda ini :


Getih suci nyiram bumi

Tulang setra mulang lemah

Babakti nyungkem pertiwi

Cikal bugang putra bangsa

Nyatana Pahlawan Toha

Pahlawan Bandung Selatan...


Patriot ti Dayeuhkolot

Tugu ngawangun ngajadi ciri

Tarate nu mangkak ligar di empang

Jadi bukti gugurna pahlawan bangsa


*Ketua DPP ORARI Lokal Kabupaten Bandung

4 September 2024

MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA

 

TOLAK PEMBERANGUSAN SYI'AR ADZAN, MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA


_1. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. 4. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”_

*[QS: Al Kafirun]*


Sehubungan dengan akan diselenggarakannya acara misa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus pada hari Kamis, tanggal 5 September 2024, dimulai pukul17.00 s/d pkl.19.00, yang disiarkan secara langsung dan tidak terputus diseluruh televisi nasional, mengingat pula adanya Surat dari Kemenkoinfo agar Syi'ar Adzan Maghrib yang biasa disiarkan melalui televisi nasional ditiadakan dan cukup diganti dengan Running Text, maka kami TPUA bersama segenap Tokoh, Advokat, Aktivis, Ulama dan elemen pergerakan Islam, menyatakan:

*Pertama,* gelaran Misa Kudus bersama Paus Fransiskus, merupakan kegiatan ritual keagamaan yang memiliki dimensi syi'ar, karena dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, terlebih lagi akan disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun TV nasional. Tindakan ini, termasuk dan terkategori tindakan intoleran, tidak menghormati _local wisdom (Kearifan Lokal)_, karena dilakukan diruang publik, disyiarkan secara terbuka di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Acara semacam ini, dalam pandangan Islam adalah termasuk dan terkategori pendangkalan akidah Islam, karena tentunya berpotensi besar akan diakses dan ditonton oleh umat Islam. Padahal, dalam doktrin agama Islam yang berkaitan dengan akidah dan ibadah non muslim, berlaku kaidah *"BAGIMU AGAMAMU, BAGIKU AGAMAKU".*

*Kedua,* misi perdamaian yang diusung Paus Franciscus, justru kontradiktif dengan Misa yang dilakukan secara intoleran dan arogan, karena dilakukan diruang publik secara terbuka dan diglorifikasi melalui siaran media, di tengah negeri yang mayoritas penduduknya muslim. 

Semestinya, acara seperti ini cukup dilakukan di gereja dan tidak disiarkan secara terbuka. Karena acara semacam ini, menggores luka ruang keberagaman dan keberagamaan umat  Islam, sekaligus menjadi simbol tirani minoritas terhadap mayoritas.

*Ketiga,* tindakan Kemenkoinfo yang meminta Syi'ar Adzan ditiadakan dan hanya diganti running Text saat berlangsungnya siaran langsung Misa Paus, adalah tindakan pemberangusan Syi'ar adzan, sekaligus melecehkan ajaran Islam. Syi'ar adzan adalah Syi'ar rutin berkala, yang tidak bisa diganggu dan dibatalkan oleh agenda insidental. Semestinya, kegiatan Misa yang menyesuaikan dengan Syi'ar adzan.

*Keempat,* kejadian seperti ini hanya terjadi di era rezim Jokowi. Rezim yang banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam, rezim yang tendensi negatif terhadap Islam, sekaligus rezim yang paling sering mendeskreditkan Syi'ar & ajaran Islam.

Karena itu, *kami menuntut agar Misa Paus Franciscus tidak disiarkan secara langsung dan Syi'ar Adzan tetap dikumandangkan seperti biasa.* Jangan sampai, ketegangan antar umat beragama justru terpantik oleh Ibadah Misa Paus yang memiliki misi menjaga perdamaian dunia.


Demikian pernyataan sikap disampaikan.

Jakarta, 4 September 2024.


TTD 


Prof Dr Eggi Sudjana, SH, Msi
Ketua Umum TPUA


Azam Khan, S.H.
Sekertaris Jenderal TPUA 


Ahmad Khozinudin, S.H.
Koordinator Agenda




3 September 2024

Kawal Kunjungan Paus Fransiscus, Hima Persis Jakarta Siap Bersinergi dengan Polda Metro Jaya



Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PW Hima Persis) Daerah Khusus Jakarta menyampaikan pernyataan dukungan atas rencana kunjungan Paus Fransiscus ke Jakarta yang dijadwalkan pada tanggal 3 hingga 6 September 2024.

“Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan, kami memandang kunjungan ini sebagai momentum signifikan dalam konteks penguatan hubungan antar umat beragama dan konsolidasi toleransi di negara yang bercirikan Keberagaman Agama ini” kata Ihsan, ketua Hima Persis Jakarta, Selasa (3/9/2024).

Ihsan Ketua Hima Persis Jakarta Menyatakan, pihaknya juga siap untuk berkolaborasi dengan Polda Metro Jaya dalam upaya menjamin keamanan selama berlangsungnya kunjungan di Indonesia Khususnya di Jakarta.

Dilansir oleh Nusantara TV, Polda Metro Jaya telah menyiapkan 4.730 personel gabungan untuk mengamankan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Selain berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Siber dan Sandi Negara, serta TNI, pihak kepolisian juga menempatkan penembak jitu di beberapa titik strategis.

Pada kunjungan Asia Pasifik kali ini, Indonesia dipilih menjadi negara pertama yang akan dikunjungi Paus Fransiskus. Sebelumnya, ketika masa kepemimpinan Paus Paulus VI pada 1970 pernah mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya.

Kemudian, kunjungan yang kedua pada 1989 ketika Gereja Katolik Roma dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II. Lalu untuk yang ketiga kalinya akan dilakukan oleh Paus Fransiskus, sekaligus akan tercatat menjadi perjalanan Apostolik yang ke-45 dalam masa kepausannya.

“Kunjungan Pemimpin Gereja Katolik Dunia ke Indonesia ini menjadi peristiwa bersejarah dan penting dalam memperkuat hubungan diplomasi dua negara, meningkatkan toleransi antar umat beragama, sekaligus menekankan nilai perdamaian dan kemanusiaan” terang Ihsan.

Dalam perspektif kemanusiaan dan kebangsaan, kunjungan Paus Fransiscus dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi Kebebasan beragama yang diatur dalam Konsitusi Pasal 29 UUD 1945 Ayat 2 “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”

“Dukungan kami terhadap kunjungan ini dilandasi oleh pemahaman theologis yang bersumber dari Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang menyatakan: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ungkapnya.

“Interpretasi kontemporer terhadap ayat ini, sebagaimana diuraikan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya Al-Misbah, menekankan pentingnya membangun relasi positif dengan non-Muslim dalam konteks kenegaraan dan kemanusiaan, selama tidak mengancam akidah dan kedaulatan negara, tegas Ihsan” pungkas Ihsan.

Surat Terbuka PP PERSIS atas Kunjungan Paus Fransiskus



Sehubungan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, PP. PERSIS menyambut gembira dengan semangat ukhuwah insaniyah-basyariyah sebagaimana diajarkan oleh Islam. PP Persis menyerukan dan menyatakan sikap sebagai berikut :


Pertama, Kami berharap kehadiran pemimpin tertinggi umat Katolik di Indonesia dan beberapa negara Asean, dapat memberi pesan yang memperkuat semangat persaudaraan antar iman dan toleransi antar umat beragama.

Kedua, kedatangan Paus dapat membawa kabar yang memberikan harapan kebahagiaan dan pesan perdamaian bagi dunia yang sedang dilanda ketegangan dan perang seperti yang terjadi antara Ukraina dan Rusia.

Ketiga, Harapan kami yang terbesar atas kujungan Paus ke Indonesia dan beberapa negara kali ini dapat menjadi momentum untuk menyerukan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan Negara Palestina

Keempat, kami berharap Paus menyerukan masyarakat dunia  untuk bersama-sama menghentikan kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kelima, Dengan pesan-pesan dan seruan Paus untuk memperkuat kerukunan antar iman, mewujudkan toleransi antar umat beragama dan menghentikan islamophobia.

Demikian seruan dan pernyataan kami sampaikan, Insya Allah kunjungan Paus akan sangat bermakna dan dikenang oleh masyarakat muslim di Indonesia dan dunia.

19 Agustus 2024

NATSIR: PENYEBAB NU KELUAR DARI MASYUMI?



MOH. NATSIR (1908-1993) menjadi politisi yang paling mentereng karirnya pada awal dekade 1950-an. Bagaimana tidak? Setelah terpilih menjadi Ketua Umum Masyumi dalam Muktamar Masyumi ke-IV di Yogyakarta pada 15-19 Desember 1949, setahun berikutnya, Natsir menorehkan sebuah gagasan monumental yakni "Mosi Integral" yang mengantarkannya pula menduduki kursi Perdana Menteri RI.


Natsir menghadapi dinamika kepemimpinan yang luar biasa, baik selama sedang menjadi Perdana Menteri maupun Ketua Umum Masyumi. Tatkala memimpin kabinet, Natsir sering dikritik habis oleh oposisi; PNI & PKI. Sementara itu, di bawah kepemimpinan Natsir, NU keluar dari keanggotaan istimewa Masyumi pada 1952. Sebagian penulis menuding Natsir menjadi penyebab keluarnya NU dari keanggotaan Masyumi. Apakah benar demikian?


14 Agustus 2024

PASKIBRAKA Dilarang Menggunakan Jilbab, Perlukah BPIP Dibubarkan (?))




Kita pakai logika terbalik ; Bila Hijab (jilbab) dikategorikan, "model berpakaian" ; kenapa dilarang, bukankah itu Hak Asasi Manusia (?!).

Bila penggunaan Hijab (Jilbab) dari pandangan syari'ah, juga kalian larang, bukankah kebebasan beragama itu dilindungi undang-undang (?!).


Sebenarnya kalian terbuat dari apa (?!), koq kedunguanmu juga tidak termasuk pada kategori bodoh (?!)

A. Hassan, Jilbab dan Polemik dengan Majalah Aliran Baroe

 



JIKA sekarang, di Indonesia, sudah sangat semarak dan ramai pemakaian jilbab, maka sudah seyogianya tidak melupakan jasa-jasa pejuang jilbab di Indonesia. Di antara para pejuang itu, nama A. Hassan sangat layak untuk diangkat.


 Pada tahun 30-an (A. Hassan, Jilbab, 1984: V) dikisahkan betapa besar tantangan untuk menerapkan jilbab untuk wanita muslimah. Rumah-tumah wanita berjilbab anggota Persatuan Islam Bandung sampai dilempari batu. Bahkan, sekolah yang didirikan Persis di Pameungpeuk sampai ditutup penguasa. 


Sampai akhirnya A. Hassan turun tangan untuk berdialog dengan pihak Bupati setempat. Bahkan, kalau dibaca dalam sejara Indonesia, hingga tahun 1980-an pemakaian jilbab masih dianggap kontroversial dan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Namun, al-hamdulillah, sekarang semua sudah bisa menikmati kebebasan mengenakan jilbab.


Tantangan yang dihadapi oleh A. Hassan, Persatuan Islam dan yang sepaham pada waktu itu bukan saja dari penguasa, tapi muncul juga dari kalangan internal umat Islam sendiri yang menganggap jilbab tidak wajib, bahkan dianggap urusan khilafiyah biasa.

Sebagai contoh, polemik A. Hassan dan majalah Al-Lisan-nya dengan majalah Aliran Baroe yang dipimpin Hoesin Bafagih. Dalam buku A. Hassan “Risalah Kudung: Dua Bahagian Tammat” (1954) diterangkan bagaimana polemik ini berjalan. 


 Risalah yang disusun A. Hassan ini sebagai respon terhadap artikel-artikel yang diterbikan majalah Aliran Baroe pada edisi 17-36 yang pada intinya menganggap kudung tidak wajib. Kumpulan artikel itu kemudian diterbitkan pada bulan Oktober 1941. Sayangnya, artikel masalah kerudung pada nomer 17, 18 dan 21 –yang dinilai kontroversial oleh A. Hassan—tidak dimuat di dalamnya.


 Bukan saja menerbitkan risalah bantan melalui Al-Lisan, A. Hassan pada akhirnya juga menerbitkan buku berjudul “Risalah Kudung”. Bahkan, beliau tak segan-segan untuk menyampaikan kesidaan berdebat dengan Tuan Husain Bakri yang kabarnya pernah mengajak A. Hassan berdebat. 


 Dalam penutupan buku A. Hassan menulis, “Kalau betul merasa ada di fihak kebenaran, djanganlah takut bertemu muka disatu madjlis jang teratur dengan pakai djuri dan anggautanja.”


 Sebelum menyebutkan secara singkat kritikan-kritikan A. Hassan yang dimuat dalam Al-Lisan, tentunya penulis berusaha mencari sumber-sumber asli majalah Aliran Baroe. Al-hamdulillah, ada tiga majalah Aliran Baroe yang saya koleksi, yaitu: edisi nomer 19, 20 dan 23.


 Dari majalah itu, sedikit terkonfirmasi bahwa memang ada serial masalah kerudung dibahas dalam majalah besutan tokoh peranakan Arab yang dekat dengan P.A.I. ini.  Di rubrik yang disebut “Timbangan” ada tajuk khusus yang berjudul “Mas’alah Koedoeng”. Bahkan dalam edisi ke-23 (hal. 6 dan 7) ada kritikan kepada A. Hassan dan Al-Lisannya dengan judul “Toean Hasan Bandoeng. Tjaranja bertoekar pikiran.” Juga pada halaman 11, yang berjudul “Al-Lisan Contra Aliran Baroe! Menggunakan ,,Alat Koeno” dalam peperangan sekaran. Menghantjoerkan balatentara sendiri!”


 Pada edisi tersebut A. Hassan disebut marah atas tindakan P.A.I tidak turut campur pada masala furu’ padahal dalam acara undangan pengantin, para istri kalangan P.A.I. melenyapan tradisi “telor-teloran.” Perbedaan pendapat ini sudah bertahun-tahun. Maka P.A.I tidak mau ikut “bertjakar-tjakar”.


 A. Hassan digambarkan sebagai sosok yang marah jika pendapatnya tak diikuti. Bertindak seperto badut-badutan; mengeluarkan banyolan mesum; disebut akal keling (istilah yang terkenal di Surabaya yang berarti tidak ksatria); kalau tulisan dikritik suka ngeles  bahwa itu tulisan inisial M.S., S.A. dan seterusnya; tergesah-gersah dan lain-lainnya.


 Sedangkan dalam artikel berikutnya, diebutkan polemik antara Al-Lisan dan P.A.I. Aliran Baru tak terima ketika majalahnya dinamai “Qaliloel-Iman”. Mereka merasa digempur A. Hassan, merasa dinisti, bahwa pembesar P.A.I. A.R. Baswedan pun tidak luput dari serangan A. Hassan. Tapi, semua itu dihadapi mereka dengan cara yang santun, tidak seperti A. Hassan (menurut majalah Aliran Baroe).


 Tuduhan-tuduhan tersebut, ketika dibaca langsung dalam buku A. Hassan  “Risalah Kudung” (1954) memang disebutkan oleh beliau. Beliau dituduh sebagai ulama yang suka cakar-cakaran, dicap sebagai pemecah, terlalu perhatian masalah furu’ dan lain sebagainya. Tapi, kata A. Hassan mereka tidak adil dalam menilai. Ketika orang lain membahas masalah furu’, justru dianggap sebagai sebagai bahan untuk berpikir dan lain sebagainya.


 Secara jujur kalau saya bandingkan setelah membaca langsung di majalah Aliaran baroe dan buku A. Hassan, ada ketimpangan. Di Aliran Baroe malah banyak cercaan dan celaan kepada A. Hassan, sedangkan bantahan yang bersifat ilmiah sangat minim dikeluarkan.


 Sedangkan A. Hassan, dengan sangat tangkas menunjukkan poin-poin kekeliruan dan kesalahan majalah Aliran Baroe sejak nomer 17, berikut kritik dan jawabannya. Menurut catatan beliau, dalam tulisan Aliran Baroe ada kesalahan referensi, ketidak jujuran, kedustaan, lemahnya pemahaman bahasa, salah mengartikan kata Arab dan seterusnya. Lebih lengkapnya bisa dibaca dalam buku A. Hassan ini. Kesan yang timbul, mereka terlihat lemah dalam dasar-dasar keagamaan.


 Untuk mempertahankan pendapatnya, A. Hassan siap debat kapan saja, bahkan silakan dengan cara yang dibuat mereka sekali pun. Maka tak mengherankan jika A. Hassan menulis, “Oleh sebab mas-alah ini penting dan masih ada lagi alasan-alasan jang boleh dikemukakan dari sana dan sini, maka kami harap supaja golongan ,,Aliran Baroe” dan Sjaichul-Islam serta Muftinja sampai kepada ekor-ekornjam incluisief tuan Husain Bakri, Pekalongan, suka bertemu dengan kami dalam satu pertemuan jang sjarat-sjaratnja boleh fihak ,,Aliran Baroe” atur sendiri dengan pantas buat dua-dia fihak.” (1954: 70)

(Mahmud Budi Setiawan. Penggilingan, 17 Januari 2021)


#PusakaPeradaban

#AHassan

#AlLisan

#AliranBaroe

#PolemikAhassanDenganAliranBaroePAI

9 Juli 2024

28 Juni 2024

Penyebab matinya hati

 



“Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu lurus, beres maka akan beres seluruh anggota tubuh. Dan apabila segumpal daging itu rusak, maka akan rusak seluruh jasadnya. Ingatlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Saudaraku,

Kita semua sudah mengenal hadits Rasulullah di atas. Bahwa kelurusan hati akan menjamin lurus dan beresnya seluruh amal perbuatan dalam hidup kita. Dan kerusakan hati akan menjamin rusaknya seluruh amal dalam hidup. Kerusakan hatilah yang membuat seluruh amal tidak akan diterima. Tidak hanya amal bahkan sepotong doa kepada Allah pun tidak akan diterima.

Alangkah ngeri menjadi orang-orang yang rusak hati. Orang-orang yang hatinya mengeras seperti batu, sehingga hatinya mati rasa tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara kebenaran dan kesalahan, antara amal shalih dan amal salah.

Ada sebuah fragmen menarik dikisahkan oleh Imam Al-Ghazali. Dialog antara Ibrahim bin Adham dengan beberapa orang muridnya.

Saat itu Ibrahim bin Adham ditanya,

“Kami selalu berdoa kepada Allah. Begitu banyak doa yang kami pinta tetapi tidak dikabulkan. Kami pernah mendengar sebuah ayat yang berbunyi ‘Berdo’alah kalian kepadaku, pasti aku akan kabulkan.” Bukankah setiap doa akan didengar dan dikabulkan? Lalu mengapa doa-doa kami itu tidak Allah kabulkan, apakah janji Allah dalam Al-Quran itu dusta?

Ibrahim bin Adham menjawab, “Salah satu penyebab terhalangnya pengabulan doa adalah karena matinya hati.”

Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkan matinya hati?”

Ada delapan yang menjadi sebab

1.       Kalian tahu hak Allah, tapi tidak kalian tunaikan

Dalam sebuah hadits Rasulullah menyatakan bahwa hak Allah dari hamba-hamba-Nya adalah untuk disembah dengan semurni-murninya penghambaan. Penghambaan atau ibadah yang tidak disertai dengan benalu-benalu kemusyrikan, takhayul, khurafat dan bid’ah. Serta ibadah dari hamba yang tidak dibarengi motivasi ingin dilihat, dipuji orang-orang serta berorientasi keduniaan semata.

Kemusyrikan adalah kesesatan yang sangat jauh. (Q.S. An-Nisa 116)

Kemusyrikan akan mengharamkan seseorang masuk surga. (Q.S. Al-Maidah 71)

Kemusyrikan adalah dosa yang sangat besar. (Q.S. An-Nisa 48)

Meski, seluruh dosa memiliki kemungkinan untuk Allah ampuni, tetapi kemusyrikan adalah dosa yang tidak pernah akan Allah ampuni. (Q.S. An-Nisa 48)

Maka sebaik apa pun ibadah jika dibarengi ketidakikhlasan, amal itu tidak akan diterima,

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya ada perbuatan syirik kepadaku, maka Aku akan meninggalkan amal itu bersama kemusyrikannya.” (H.R. Muslim)

Alangkah jelek orang-orang yang beribadah disertai kemusyrikan. Dan alangkah jelek pula orang-orang yang meninggalkan ibadah kepada-Nya.

Orang-orang yang sibuk mengejar keduniaan serta melupakan ibadah kepada Allah.

Orang-orang yang terombang-ambing dalam arus hedonisme (pencarian kesenangan sementara) dan lupa kesenangan abadi.

2.       Kalian membaca al-Quran, tapi tidak kalian amalkan ajaran-ajarannya.

Membaca Quran bukanlah melafalkan huruf-hurufnya saja. Tetapi mencoba mewujudkannya dalam keseharian dan kehidupan, dalam ucapan dan perbuatan. Seperti jawaban Aisyah r.a. saat ditanya tentang akhlak Rasul. Jawaban beliau, akhlak Rasul itu adalah Al-Quran.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa orang-orang yang meninggalkan Al-Quran (Q.S. Fathir 30-31) bisa bermacam-macam jenis, diantaranya

-          Orang yang tidak mau mendengar lafadz-lafadznya.

-          Orang yang tidak mau membaca dan memahaminya.

-          Orang yang tidak mau mengamalkannya.

-          Orang yang tidak mau menjadikannya hukum dalam kehidupan.

-          Orang yang tidak mau menjadikannya obat bagi penyakit-penyakit hati.

3.       Kalian katakan cinta rasul, tapi tidak amalkan sunahnya.

Mengikuti Rasulullah adalah sebuah kewajiban. Sebab seluruh sisi kehidupan beliau adalah uswah hasanah (teladan yang baik) untuk diikuti. Bahkan kesesuaian ibadah dengan contoh Rasulullah adalah syarat kedua bagi diterimanya amal shalih sesudah ikhlas.

Bukti kecintaan seorang mukmin kepada Allah adalah mengikuti utusan-Nya. (Q.S. Ali Imran 31) Tidak akan diterima kecintaan hamba kepada Allah, jika tidak mengikuti Rasulullah saw.

Banyak di antara kita terlibat dalam upacara-upacara yang tidak dicontohkan Rasulullah dengan dalih kecintaan kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya.

Banyak di antara kita yang terlibat dalam perdebatan tentang sunah atau bid’ahnya suatu amalan, tetapi sedikit sekali yang terlibat dalam amalan-amalan yang sudah jelas sunnah. Seakan sunnah Rasul hanyalah materi diskusi dan bukan afiliasi dalam amal jama’i (beramal bersama-sama).

4.       Kalian katakan takut mati, tapi kalian tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.

Kematian adalah sebuah kemestian. Sebab kehidupan dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi ada di akhirat nanti. Ada sebuah pintu yang memisahkan kehidupan dunia dan akhirat, pintu adalah mati.

Merasa takut terhadap kematian adalah sesuatu yang wajar. Tetapi hanya mengingat dan tidak bersiap-siap untuk menghadapinya adalah sebuah perbuatan bodoh. Ibarat orang yang hendak bepergian ke tempat yang jauh tetapi tidak mempersiapkan bekal apa pun untuk hidup di sana.

Kehidupan yang hakiki di akhirat nanti adalah hasil dari apa yang ditanam di dunia ini. Apa yang dilakukan di dunia akan menjadi hasil panen yang didapatkan nanti di akhirat.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr 18)

5.       Kalian katakan musuh kepada setan, tapi kalian berkelompok dengan mereka.

Allah memerintahkan kita untuk menjadikan setan sebagai musuh.

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak hizib-nya (partainya/golongannya) agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Fathir 6)

Banyak di antara kita yang yakin bahwa setan adalah musuh, tetapi banyak pula yang memperlakukannya sebagai teman keseharian.

Saat asupan makanan kita tidak dibatasi, maka setan ada di sana.

Saat doa-doa pengiring amal kita lupakan dari perbuatan keseharian, maka setan ada di sana bahkan kita telah memperkuat mereka.

Saat kita gunakan bagian kiri tubuh kita dalam cara kita makan, minum, berpakaian, beralas kaki dan lain lain, maka setan ada di sana.

Saat kita tutup hati kita dari kebenaran, hanya karena kebenaran itu datang dari orang yang lebih rendah derajatnya dari kita, maka setan ada di sana.

Setan selalu memperkuat sisi hawa nafsu kita dibandingkan nurani. Maka perbanyaklah asupan makanan nurani daripada makanan jasmani. Biarkanlah tubuh kita lelah dalam beribadah dan berjihad. Jangan biarkan tubuh kita lelah dan malas karena makanan yang terlalu banyak kita masukan ke dalam perut kita.

Hanya ada dua partai di dunia ini, partai Allah dan partai setan. Maka di manakah kita tergabung? Partai yang diridloi Allah ataukah partai setan yang dimurkai-Nya?

6.       Kalian katakan takut neraka, tapi kalian aniaya badan kalian di dalamnya.

Setiap kita tidak mau masuk neraka. Sebuah tempat yang sangat mengerikan, yang siksa paling ringannya adalah memakai sandal yang mampu membuat otak hancur bergolak karena panasnya.

Namun, banyak di antara kita yang sejak di dunia sudah menyiksa diri dalam siksaannya. Kita menciptakan neraka kita sendiri melalui dosa-dosa yang kita lakukan. Kita zalimi diri kita sendiri dengan merusak alam yang Allah ciptakan untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya. Dan akibatnya kita rasakan sendiri.

Sungguh celaka orang-orang yang mencipta nerakanya di dunia. Tidak hanya di dunia, ia akan mendapatkan neraka yang sebenarnya nanti di akhirat.

Maka, jauhilah dosa-dosa dan perusakan diri serta alam dunia.

7.       Kalian katakan cinta surga, tapi kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.

Dunia adalah tempat beramal shalih. Dan surga adalah hasil yang akan didapatkan dari amal shalih itu. Mencapai surga tidak bisa dilakukan bersantai dan berleha-leha. Menuju surga adalah perlombaan untuk memacu diri mengoptimalkan seluruh potensi dalam bentuk amal kebaikan.

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Ali Imran 133-134)

8.       Apabila kalian bangun tidur, kalian lemparkan aib kalian sendiri ke belakang punggung kalian dan kalian bentangkan aib orang lain di hadapan kalian. Lantas kalian membuat kemurkaan Allah.

Seringkali mata kita begitu terbuka terhadap kesalahan-kesalahan orang lain. Bahkan sekecil apapun kata yang salah tergelincir dari lisan saudara kita, telinga kita begitu peka terhadapnya. Padahal begitu banyak aib-aib kita yang Allah tutupi. Cara tidur kita, tidakkah di sana ada aib? Cara berjalan kita tidakkah di sana ada aib? Cara bicara kita, tidakkah di sana ada aib? Cara makan kita, tidakkah di sana ada aib? Dalam sikap hidup kita sehari-hari, tidakkah ada aib yang kita miliki?

Sungguh jika semua itu orang lain ketahui, betapa besar rasa malu yang harus kita tanggung.

 

Saudaraku,

Banyak doa yang sudah kita panjatkan. Untuk kesejahteraan diri dan keluarga kita sendiri. Untuk perbaikan bangsa dan negara kita. Sampai saat ini, doa-doa itu sepertinya belum terkabulkan. Maka pertanyaan Ibrahim bin Adham di akhir cerita ini, mudah-mudahan bisa menggugah kesadaran kita.

“Jika salah satu dari delapan hal di atas ada pada diri kalian, bagaimana mungkin Allah kabulkan doa kalian?”