"Saudara-saudara
sekalian...!
Saya
telah minta saudara hadir di sini untuk menyaksikan suatu peristiwa maha
penting dalam sejarah kita.
Berpuluh-puluh
tahun kita bangsa Indonesia telah berjuang untuk kemerdekaan tanah air kita.
Bahkan telah beratus-ratus tahun.
Gelombangnya
aksi kita untuk mencapai kemerdekaan kita itu ada naiknya ada turunnya, tetapi
jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita.
Juga di
dalam jaman Jepang, usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak
berhenti. Di dalam jaman Jepang ini tampaknya saja kita menyandarkan diri
kepada mereka. Tetapi pada hakekatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri,
tetap kita percaya pada kekuatan sendiri.
Sekarang
tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air
kita di dalam tangan kita sendiri.
Hanya
bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri, akan dapat berdiri
dengan kuatnya.
Maka
kami, tadi malam telah mengadakan musyawarah dengan pemuka-pemuka rakyat
Indonesia dari seluruh Indonesia, permusyawaratan itu seia-sekata berpendapat,
bahwa sekaranglah datang saatnya untuk menyatakan kemerdekaan kita.
Saudara-saudara...!
Dengan
ini kami menyatakan kebulatan tekad itu.
Dengarkanlah
Proklamasi kami: Proklamasi...
Kami
bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal
yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara
seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Jakarta,
17 Agustus 1945.
Atas
nama bangsa Indonesia
Soekarno
/ Hatta.
Demikianlah
saudara-saudara!
Kita
sekarang telah merdeka.
Tidak
ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita!
Mulai
saat ini kita menyusun Negara kita!
Negara
Merdeka,
Negara
Republik Indonesia merdeka, kekal, dan abadi.
Insya'
Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu...
(Koesnodiprojo,
1951).
