16 Februari 2014

DEMOKRASI GATOT (GAgal TOTal)


oleh : Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag
Mendengar kata demokrasi, pikiran kita langsung tertuju pada kancah pertarungan politik bangsa Indonesia di tahun 2018 - 2019 ini,  dimana masyarakat bangsa ini menyebutnya sebagai “Tahun Politik”. Suasana politik bangsa sangat kental terasa, semua kekuatan politik  meneriakkan propaganda politiknya, sehingga keseharian bangsa ini  semua memperbincangkan perihal politik bangsa, mampu membius setiap pikiran anak bangsa bak seperti politisi beneran, mereka teriak tentang kebangsaan, kesejahteraan dan masa depan Indonesia, di sisi lain mereka tetap bergelimang dengan ketidak adilan tanpa kepastian hukum. Karakter ini menjadi salah-satu ciri khas dari apa yang mereka sebut Demokrasi Indonesia.
Suasana hubungan sosial kemasyarakatan yang tadinya penuh dengan canda dan kasih sayang, berubah menjadi persaingan buta bahkan corak hidup bangsa ini penuh dengan kepura-puraan, dimana masyarakat satu dengan yang lainnya -karena berbeda pilihan dan dukungan mulai saling curiga, suasana lingkungan menjadi penuh intrik dan saling adu strategi. Karena berbeda dukungan, masyarakat satu dengan lainnya saling menjelekkan, saudara yang satu dengan saudara lainnya saling berselisih, tidak saling menyapa, hidup yang tadinya kompak dalam kebersamaan berubah menjadi suasana “perang dingin” karena kepentingan tanpa kasih sayang. Melihat suasana di atas, penulis menyimpulkan :”Pemilu berlangsung hanya beberapa sa’at saja, kenapa harus mengorbankan silaturrahmi dan kebersamaan hidup sebagai sebuah bangsa yang beradab (?)”. “Asup surga can tangtu, dosa enggeus (masuk surga belum tentu, tetapi kita telah berbuat dosa), lebih baik kita kembali pada substansi kehidupan yang sebenarnya, bangun kebersamaan dengan kasih sayang tanpa kepura-puraan”.  
Pertanyaan yang mendasar muncul:”inikah demokrasi itu?”.  Bukankah bangsa ini telah dididik oleh agama dan perjalanan sejarah bangsa?. Inilah yang dinamakan “Demokrasi Gatot” yaitu demokrasi yang gagal total?. Gagalnya sebuah upaya demokrasi (yang cenderung mengarah pada demo-crazy) dilekatkan pada suatu bangsa yang memiliki dasar karakter yang beradab dan berkepribadian luhur didukung oleh nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dan Permusyawaratan Perwakilan, serta menjunjung tinggi Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Berbagai cara dilakukan oleh setiap calon Wali Kota, Bupati, Gubernur, bahkan calon anggota legislatif, dari mulai janji akan meng”umroh”kan pemilih setia bila dirinya terpilih dan dilantik, pemberian uang bensin, pembangunan balai RW, dan uang kadeudeuh bagi kader pemilihnya, tapi ketika dia terpilih dan “jadi” dilantik sebagai anggota dewan “yang terhormat” dan rakyat menagih janji-janji mereka, para calon  Wali Kota, Bupati, Gubernur, bahkan calon anggota legislatif yang terpilih dan dilantik tersebut berujar ;”Apa hak rakyat menagih janji-janji yang telah saya ucapkan dimasa kampanye ?, pemberian uang, pembangunan balai RW dan uang kadeudeuh itulah yang menjadi hak kalian (rakyat. pen) yang telah saya   berikan, tidak ada hak-hak lain yang pantas kalian tagih dari saya. Dulu saya telah “membeli suara” kalian, sekarang jangan ganggu saya sebagai pejabat negara”. Kalau sudah begitu kenyataannya, maka rakyat baru menyadari ; betapa tertipunya mereka, anehnya peristiwa tersebut senantiasa berulang-ulang setiap pesta demokrasi tersebut dilaksanakan, maka inilah yang disebut demokrasi Gatot (Gagal total) !.
Salah-satu pemahaman demokrasi yang melekat pada bangsa ini mengartikan bahwa “Suara Rakyat Suara Tuhan” sehingga masyarakat banyak yang terjebak pada situasi yang lambat laun akan “memangsa” hak-haknya sebagai manusia yang merdeka, bila calon legislatif Wali Kota, Bupati, Gubernur, tersebut dilantik, dia lupa akan tanggung jawabnya sebagai wakil rakyat, dan rakyatpun menagih janji mereka dengan memaksa untuk memberikan sejumlah uang sebagai konsekuensi dari dukungan yang telah mereka berikan. Bukankah keterwakilan itu harus dilaksanakan dengan sejujur-jujurnya tanpa harus melanggar norma-norma hukum yang berlaku (?), tetapi kenapa  "mereka” didorong-dorong untuk melakukan pelanggaran hukum seperti : Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (apapun istilahnya)? . Demokrasi Gatot (Gagal total) !.
Kondisi ini akan menjadi gambaran sekaligus jawaban ; sejauhmana kecerdasan rakyat dipertaruhkan sebagai bukti bahwa Suara Rakyat Suara Tuhan, artinya apa yang dilakukan rakyat yang beradab, bisa dipertanggung jawabkan, bila Tuhan bertanya pada makhluk-Nya (yang beragama Islam) tentang janji-janji yang sering diucapkan di setiap shalatnya : Innash shalatii wa nusukii wa mahyaaya wa maamaati lillahi rabbil ‘alamin (sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya karena Allah Swt) bisa dilaksanakan dengan sepenuh hati ?. Bila demokrasi itu ditafsirkan sebagai Suara Rakyat Suara Tuhan, maka akankah kita pertaruhkan hidup kita dan kecerdasan iman kita terhadap Tuhan hanya sekedar ingin mencapai kekuasaan semata tanpa tanggung jawab ?.
Demokrasi Gatot (Gagal total) bila ummat tetap menganggap bahwa kegiatan tersebut diatas  sebagai “Pesta Demokrasi”, padahal sebenarnya peristiwa tersebut merupakan “pertarungan demokrasi”, dimana terjadi tarik ulur kepentingan antara kekuatan Padahal berapapun kepentingan yang ada, tetap saja substasi pertarungan tertumpu pada 3 (tiga) kekuatan ideologi ; (1) Agama, (2) Nasionalis dan (3)  Komunis. Bila umat Islam (ternyata) lebih cenderung untuk memilih kekuatan di luar ideologi agamanya, maka inilah yang kita sebut dengan Demokrasi Gatot (Gagal Total)!. Ummat telah tergelincir pada jebakan politik yang disiapkan oleh musuh-musuh Islam, bila tidak memilih (Golput) menjadi salah-satu alternatif ummat Islam, maka sama dengan kita memberikan kekuasaan pada kelompok yang ”justeru” akan memberangus Islam dan ummat Islam.  maka inilah yang kita sebut dengan Demokrasi Gatot (Gagal total)!.
Sa'atnya kita bangkit,
Lawan ketidak-adilan dengan kekuatan silaturahim, tanpa kepura-puraan.
Tegakkan NKRI dengan persaudaraan, sehingga bangsa ini mendapat berkah Allah SWT.
Berdo'alah dengan ketulusan, agar bangkitnya kekuatan rakyat ("People Power") dapat segera kita raih demi terwujudnya masyarakat Jawa Barat - Indonesia yang Baldatun toyyibatun wa robbun gofuur. Subhanallah.
Penulis :
Drs. H. Eri Ridwan Latif, M.Ag

1. Ketua *Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)* Kab. Bandung
2. Ketua *MUI* Bid. Hubungan Antar Umat Beragama Kab. Bandung
3. Dewan Pakar *Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)* Organisasi Daerah Kab. Bandung
4. Komandan II *BRIGADE Persatuan Islam* Komando Pusat
5. Ketua *Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI)* Kab. Bandung
6. Ketua bidang pengkajian *Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI)* Kab. Bandung
*#Er7kaJakartakeurBALIK*