14 April 2020

A. Hasan



AHMAD HASSAN;
ULAMA PEJUANG PENEGAK QUR'AN-SUNNAH
Oleh
Dadan Wildan Anas

"Tidak ada kehidupan yang lebih baik daripada hidup dalam batas-batas agama"
(A. Hassan)

1.Riwayat Hidup Ahmad Hassan

Untuk menempatkan Ahmad Hassan dan gerakan tajdidnya  dalam perspektif sejarah, tidaklah  terlalu sulit. Sebagai  sosok  ulama pejuang penegak Qur'an-Sunnah, dengan  integritas  dan pandangan  yang kukuh terhadap hukum-hukum yang diyakininya berdasarkan Al-Qur'an  dan Sunnah, meski telah  menimbulkan kontroversial   pada masanya,  Ahmad Hassan telah memberikan kontribusi yang cukup besar dalam gerakan pembaharuan Islam di Indonesia pada awal abad ke-20.

Selain mengarang buku-buku, menerbitkan majalah-majalah,menyusun tafsir Al-Qur'an pertama di Indonesia, serta mendidik para  santri, ia pun telah banyak melahirkan tokoh-tokoh ulama besar hasil didikannya antara lain Mohammad Natsir, K.H.M. Isa Anshary, K.H.E. Abdurrahman, dan K.H.Rusyad Nurdin, di samping telah memberikan andil besar terhadap pemikiran keislaman Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. Kepada Ahmad Hassanlah Bung Karno dalam pembuangannya di Endeh Flores meminta buku-buku dan  majalah-majalah hasil karya Ahmad Hassan, sebagai pengisi ruh batiniahnya yang haus akan ke islaman. Dari Ahmad Hassanlah "api Islam" Bung Karno menyala.

Nama Ahmad Hassan dikenal di  seluruh  Indonesia, bahkan sampai semenanjung  Malaysia dan  Singapura, sebagai  seorang ulama yang militan, berpendirian kuat,dan memiliki kecakapan luar biasa. Di bidang ilmu pengetahuan agama, ia dikenal lautan ilmu dan menghayati secara  serius; seorang ahli tafsir, ahli  hadits, dan ahli  berbagai  ilmu  pengetahuan  lainnya, di samping seorang ulama yang piawai dalam setiap perdebatan dan berpendirian kukuh sebagai pemegang teguh Al-Qur'an  dan Sunnah. Ahmad Hassan---nama sebenarnya Hassan bin  Ahmad, tetapi berdasarkan kelaziman penulisan nama orang  keturunan India di Singapura, yang menuliskan nama orang tua (ayah) di depan, maka Hassan bin Ahmad dikenal  dengan panggilan  Ahmad  Hassan---untuk selanjutnya   disebut dengan  A. Hassan---lahir di Singapura pada tahun 1887 berasal  dari  keluarga campuran  Indonesia  dan  India.

Ayahnya bernama Ahmad, juga bernama Sinna Vappu Maricar, seorang penulis yang ahli dalam agama Islam dan kesusastraan  Tamil. Ahmad pernah menjadi redaktur majalah Nur al-Islam  (sebuah majalah dan sastra Tamil), di  samping sebagai  penulis beberapa buah kitab dalam bahasa  Tamil dan  beberapa terjemahan dari bahasa Arab.

Ahmad  sering pula  berdebat dalam bahasa dan agama  serta  mengadakan ruang tanya jawab dalam surat kabarnya. Sedangkan ibunya bernama Muznah yang berasal dari Palekat Madras,  tetapi lahir di Surabaya. Ahmad dan Muznah menikah di Surabaya ketika  Ahmad berdagang ke kota Surabaya, dan kemudian mereka menetap di Singapura (Noer, 1985:97-98  Masa  kecil A. Hassan dilewatinya  di  Singapura. Pendidikan  yang dialaminya dimulai dari sekolah  dasar, akan tetapi tidak pernah diselesaikan-nya. Kemudian ia masuk sekolah Melayu dan menyelesaikannya hingga kelas empat serta  memasuki sebuah sekolah dasar pemerintah Inggris sampai pada tingkat yang sama di samping belajar bahasa  Tamil dari ayahnya.

Di sekolah Melayu itulah ia belajar bahasa Arab, Melayu, Tamil, dan bahasa Inggris Sekitar usia tujuh tahun ia pun, sebagaimana  anak-anak pada  umumnya, belajar Al-Qur'an dan  memperdalam  agama Islam.

Ahmad Hassan mulai bekerja mencari nafkah pada  usia 12  tahun  sambil berusaha belajar privat  dan  berusaha untuk  menguasai  bahasa Arab dengan maksud  agar  dapat memperdalam  pengetahuannya  tentang  Islam.A.Hassan  bekerja  pada sebuah toko kepunyaan  iparnya, Sulaiman,sambil belajar mengaji pada Haji Ahmad di Bukittiung dan pada Muhammad Thaib seorang guru yang terkenal di  Minto Road.

Pelajaran yang diterima A. Hassan pada  saat  itu sama saja dengan apa yang diterima oleh anak-anak  lain, seperti  tata cara shalat, wudlu, shaum,  dan  lain-lain (Mughni, 1980:12). A. Hassan lebih banyak mempelajari ilmu nahwu  dan shorof  pada  Muhammad Thaib. Sebagai orang yang keras kemauannya dalam belajar nahwu dan shorof, ia pun  tidak keberatan  jika  harus datang  dinihari sebelum  shalat subuh.

Setelah kira-kira empat bulan belajar nahwu dan shorof,  ia merasakan bahwa pelajarannya tidak mendapat kemajuan,  karena  apa yang diperintahkan oleh  gurunya hanyalah untuk dihafal dan dikerjakan tanpa  dapat  dimengerti, sehingga akhirnya semangat  belajarnya  mulai menurun. Dalam keadaan demikian, pada saat gurunya pergi menunaikan ibadah haji, ia beralih  mempelajari  bahasa Arab pada Said Abdullah Al-Musawi selama tiga tahun.  Di samping itu, ia pun belajar pada pamannya, Abdul  Lathif seorang  ulama  yang terkenal di Malaka  dan Singapura, serta belajar pula pada Syekh Hassan seorang ulama  yang berasal dari Malabar, dan Syekh Ibrahim  seorang   yang berasal dari India. Dalam mempelajari dan memperdalam agama Islam dari beberapa orang guru tersebut kesemuanya ditempuh sampai kira-kira tahun 1910,  menjelang ia berusia 23 tahun (Mughni, 1980:12).

Disamping belajar memperdalam agama Islam,  dari tahun 1910 hingga tahun 1921, A. Hassan melakukan berbagai  macam pekerjaan di Singapura. Sejak tahun  1910  ia telah menjadi guru tidak tetap di madrasah  orang-orang India  di Arab Street dan Baghdad Street  serta  Geylang Singapura hingga tahun 1913. Kemudian menjadi guru tetap menggantikan Fadlullah Suhaimi pada Madrasah Assegaf  diJalan Sulthan. Sekitar tahun 1912-1913, A. Hassan menjadi anggota redaksi surat kabar Utusan Melayu yang diterbitkan  oleh Singapore Press di  bawah  pimpinan  Inche Hamid  dan Sa'dullah Khan. Ia banyak menulis  artikel tentang  agama  Islam  yang  bersifat  nasihat,  anjuran berbuat baik dan mencegah kejahatan yang  sering  diketengahkannya  dalam bentuk  syair.  Tulisan-tulisan  A. Hassan banyak pula  menyoroti masalah aqidah dan ibadah, dan kadang-kadang tulisannya bersifat mengkritik hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran agama, misalnya   ia mengecam qadli dalam memeriksa suatu perkara dengan cara  mengumpulkan  tempat duduk pria dan wanita  dalam satu ruangan (Mughni, 1980:12; Anshary, 1984:18).

Di samping itu, pidato-pidatonya pun kadang-kadang bersifat  kritis, seperti halnya dalam sebuah pidato ia mengecam  kemunduran  ummat Islam, sehingga  oleh pihak pemerintah  ia dianggap berpolitik dalam pidatonya  itu, akibatnya ia tidak diperkenankan lagi berpidato di muka umum. Setelah berhenti beberapa saat, sejak tahun  1915-1916,ia kembali  aktif membantu  surat kabar Utusan Melayu dengan bentuk dan sifat tulisan yang sama.  Dalam karirnya sebagai  pengarang di Singapura,  ia  pernah membuat  cerita humor yang berjudul "Tertawa" sebanyak empat jilid. Selain itu, ia pun tidak segan-segan bekerja  menjadi buruh  toko, berdagang  tekstil, permata, minyak wangi, menjadi agen distribusi es, agen vulkanisir ban mobil, pernah pula menjadi juru tulis di kantor jemaah  haji di Jeddah Pilgrrims Office Singapura  serta menjadi guru bahasa Melayu dan bahasa Inggris di Pontian Kecil, Sanglang,  Benut, dan Johor (Mughni, 1980:14; Anshary, 1985:18)

Pada tahun 1921, A. Hassan hijrah dari  Singapura ke Surabaya dengan maksud untuk mengambilalih  pimpinan toko  tekstil  yang menjadi milik pamannya,  Haji Abdul Lathif. Pada masa itu Surabaya menjadi tempat pertikaian antara "kaum muda" dengan "kaum tua". Kaum muda  dipelopori  oleh Faqih Hasyim, seorang pendatang yang  menaruh perhatian  dalam masalah-masalah keagamaan. Ia  memimpin kaum  muda  dalam upaya  melakukan gerakan  pembaharuan pemikiran  Islam di Surabaya dengan cara tukar  pikiran, tabligh, dan  diskusi-diskusi keagamaan. Kaum muda  di Surabaya  ini mendapat pengaruh pembaharuan Islam  dari karangan-karangan Abdullah Ahmad, Abdul Karim  Amrullah, dan  Zainuddin Labay dari Sumatera serta Ahmad Soorkati dari Jawa. Haji Abdul Lathif, paman A. Hassan yang  juga urunya pada masa A. Hassan masih kecil, mengingatkan A. Hassan agar tidak melakukan hubungan dengan Faqih Hasyim yang   dikatakannya telah   membawa    masalah-masalah pertikaian  agama  di Surabaya, dan dianggap  pula  oleh pamannya sebagai orang  Wahabi (Mughni, 1980:16; Noer,1985:98).

Tetapi  lain halnya dengan A. Hassan, dalam suatu kunjungannya kepada  Kiyai Haji Abdul Wahab, yang  kemudian menjadi seorang tokoh Nahdlatul Ulama, A. Hassan lebih  banyak mendengar tentang pertikaian  antara  kaum muda  dengan kaum tua. Dalam percakapannya dengan Kiyai Wahab ini, Kiyai Wahab mengambil salah satu contoh pertentangan dalam  masalah ushalli (pembacaan  niyat sebelum shalat) yang dipraktikkan oleh kaum tua sebelum melakukan ibadat shalat dengan bersuara, tetapi kaum muda menolak praktik ushalli ini karena tidak ada dasarnya dari Al-Qur'an maupun Hadits Nabi. Kaum muda berpendapat bahwa agama, agar dapat dikatakan agama, hendaklah didasarkan atas dasar Al-Qur'an dan Hadits shahih. Oleh karena ushalli merupakan suatu hal baru yang diintrodusir oleh ulama yang datang kemudian dan tidak terdapat dalam kedua sumber hukum tersebut, maka kaum muda menolaknya dan dianggap tidak tepat dibacakan  pada saat sebelum shalat. Masalah yang ditemukan A. Hassan dalam pembicaraannya dengan Kiyai Wahab, menyebabkan ia berfikir lebih jauh tentang masalah tersebut, dan lambat laun ia sampai kepada kesimpulan berdasarkan pada penelitiannya terhadap Al-Qur'an dan Hadits  Shahih  bahwa kaum mudalah yang benar, ia tidak menemukan suatu dalil  pun yang mendukung terhadap praktik ushalli kaum tua tersebut (Noer, 1985:98-99).

Melihat persoalan yang muncul ke permukaan,  terutama masalah gerakan pembaharuan Islam yang sedang ramai dan  pertentangan antara kaum tua dengan kaum muda yang terus berlanjut  di Surabaya, A. Hassan  lebih banyak lagi  mencurahkan perhatiannya untuk  memperdalam agama Islam. Maksud sebenarnya datang ke Surabaya untuk berdagang tidak dapat dipertahankan, bahkan kemudian ia lebih banyak bergaul dengan Faqih Hasyim dan kaum mudanya. Dalam kesempatan lain ia pun banyak bergaul dengan tokoh-tokoh Syarekat Islam seperti H.O.S.Tjokroaminoto, A.M.Sangadji, Bakri Suroatmodjo, Wondoamiseno, dan lain-lain (Djaja, 1980:20).

Usaha dagangnya di Surabaya pada akhirnya mengalami kemunduran dan toko yang diurusnya diserahkan kembali kepada  pamannya. Ia memulai usaha lain  dengan  membuka perusahaan tambal ban mobil, tetapi tidak lama kemudian tutup  kembali. Melihat usaha A. Hassan tidak mengalami kemajuan yang berarti, dua orang sahabatnya Bibi  Wantee dan  Muallimin,  mengirim A. Hassan  untuk mempelajari pertenunan  di  Kediri  karena ketika  itu  di Surabaya banyak para pedagang yang akan membuka perusahaan tenun. Selesai belajar pertenunan di Kediri, A. Hassan kemudian melanjutkan belajarnya ke sekolah pertenunan pemerintah yang ada di Bandung.Di Bandung inilah A. Hassan tinggal pada  keluarga Muhammad Yunus, salah seorang pendiri organisasi Persis.  Dengan demikian tanpa sengaja A. Hassan telah  mendekatkan dirinya pada pusat  kegiatan penelaahan dan pengkajian Islam dalam organisasi Persis sebagaimana pula ia sangat tertarik dalam masalah-masa lah keagamaan, dan tidak ingin ditinggalkannya. Pada akhirnya ia pun tidak lagi berminat mendirikan perusahaan tenunnya di Surabaya, tetapi di Bandung, yang rupanya disetujui oleh kawan-kawannya di Surabaya. Akan tetapi perusahaan tenun yang didirikannya gagal sehingga terpaksa  ditutup. Sejak itulah minatnya untuk berusaha tidak ada lagi, malahan kemudian ia mengabdikan  dirinya dalam penelaahan  dan pengkajian Islam  dan berkiprah dalam jam'iyyah Persis.

Pada tahun 1956 A. Hassan berkesempatan menunaikan ibadah  haji bersama-sama dengan K.H.M. Isa  Anshary, E. Abdurrahman, Tamar Djaja, Tamim, Emzita, dan  lain-lain. Satu hal yang paling menarik adalah kejujurannya mengakui  bahwa hajinya tidak sah, dan ia mengeluarkan surat pernyataan bagi jemaah Persis yang menyatakan  kegagalan hajinya; suatu pengakuan yang jarang dilakukan olehjemaah haji lain. Padahal Ustadz E. Abdurrahman menyatakaan bahwa haji A. Hassan tetap sah, sebab telah melakukan wukuf di Arafah. Akan tetapi A. Hassan menganggap tidak sah karena tidak sampai melakukan melempar  jumrah di  Mina karena ia dirawat di  rumah sakit, dan ia menganggap hajinya  gagal (tidak  sah). Karenanya,  ia tidak pernah menyebut dirinya Haji A. Hassan (lihat Djaja, 1980:44-53).

Dalam  kehidupan sehari-harinya, meskipun ia seorang  muslim keturunan India, ia selalu berpakaian  ala Indonesia;  memakai sarung dari kain  palekat  (madras) dan jas putih tutup leher dengan sepasang sepatu di bawahnya dan peci hitam di kepala. Ia tidak pernah menukar cara berpakaian seperti itu sampai akhir  hayatnya.  Dalam shalat, bepergian kemanapun, menghadiri pertemuan-pertemuan besar, menghadapi lawan dalam perdebatan, ia berpakaian seperti itu; sebuah peci hitam di atas kepalanya, baju putih tutup leher,  sarung palekat, dan sepasang sepatu. Demikian pula  kebiasaannya setiap hari dalam memanggil  orang, ia senang memanggil dengan perkataan "Tuan"; ia senang dengan ucapan itu terhadap lawannya bicara  apakah umurnya sudah tua ataupun masih muda. A. Hassan  selalu akan memanggilnya dengan kata "Tuan" Dan ia pun senang pula kalau dirinya dipanggil "Tuan" daripada disebut "Bapak", sehingga ia terkenal dengan  panggilan "Tuan Hassan" (Djaja, 1980:98).

2. A. Hassan Guru Utama Persis

Untuk  menelusuri perubahan sikap A. Hassan  dalam agama,  menurut Noer (1985:99) sukarlah untuk  disimpulkan; apakah terjadinya perubahan itu di Surabaya atau di Bandung. Namun, nampaknya perubahan ini datang lambat laun. Untuk mendekati masalah ini, perlu ditelusuri hal-hal yang mempengaruhi sikap A. Hassan terhadap agama, antara  lain  pengaruh keluarga, pengaruh bacaan, dan pengaruh pergaulan. Ketika  A. Hassan masih di Singapura, ia mengenal empat orang India yang bersimpati pada  ajaran  Wahabi, termasuk ayahnya sendiri, tetapi mereka tidak  berusaha menyebarkan  faham-faham wahabi. Ayahnya seorang  yang menolak faham-faham tradisional, tetapi tidak secara langsung. Salah satu contoh penolakan ayahnya  terhadap praktik  kebiasaan tradisional yang masih melekat  dalam ingatan A. Hassan adalah dalam sikapnya terhadap masalah talqin yang dicap oleh kaum muda sebagai praktik bid'ah. Ayah A. Hassan sengaja meninggalkan upacara pemakaman bila talqin dibacakan.

Selain itu di Singapura, ia pun telah  mulai mengenal publikasi dari golongan pembaharu antara lain Al-Manar dari Kairo, Al-Imam  dari Singapura, dan Al-Munir dari Padang. Ia telah  pula  mendengar bahwa Thahir Djalaluddin seorang tokoh gerakan kaum muda tidak  disukai oleh golongan kaum  muslimin tradisional dan sultan-sultan di Malaya. A.Hassan  banyak  pula  melakukan  kritik-kritik terhadap praktik yang tidak berdasarkan Al-Qur'an  dan Sunnah,  meskipun belum sekeras ketika ia berada  di Bandung dalam naungan jam'iyyah Persis. Kritik A. Hassan banyak  dimuat  dalam  surat kabar  Utusan Melayu yang terbit  di Singapura. Salah satu kritiknya  antara  lain mengungkapkan masalah taqbil atas pengalamannya sendiri.

Ketika itu A.Hassan mengajar di sekolah Assegaf, ia harus mencium tangan (taqbil) seorang Nazhir  (kepala sekolah) yang  menganggap dirinya termasuk golongan sayyid (keturunan nabi). Seorang teman A. Hassan mentertawakannya,  kemudian mengemukakan bahwa  Nabi  sendiri tidak pernah dihormati secara taqbil,  kecuali hanya pernah  dua kali dalam hidupnya (lihat  Noer,  1985:99). Atas pengalamannya itu, ia menulis  kritiknya  terhadap praktik taqbil  ini.  Kritiknya  telah   menggoncangkan masyarakat  Singapura, sehingga  ia  diberi  peringatan keras oleh pejabat pemerintah untuk tidak merusak ketentraman yang telah terwujud di kota tersebut. Sekitar  tahun 1917 A.  Hassan  telah   berhasrat  untuk menulis sebuah buku  tentang  Islam  yang didasarkan  atas  Al-Qur'an dan  Hadits  shahih,  tetapi ditinggalkannya  maksud tersebut ketika  ia  mengetahui beberapa  ajaran  Syafi'i  berlawanan  dengan studinya tentang Al-Qur'an dan Sunnah. Selain itu, pada waktu itu ia belum berani untuk meninggalkan atau menolak  ajaran-ajaran madzhab Syafi'i ini. Di samping itu, bacaan yang  dibacanya pun  turut  mempengaruhi  jalan fikiran A. Hassan.

Kira-kira  tahun 1906-1907, Abdul Ghani, ipar A. Hassan telah berlangganan majalah Al-Manar yang terbit di Mesir. A. Hassan pun turut membacanya, meskipun tidak menguasai isinya secara penuh.  Selain itu majalah Al-Imam salah  satu  majalah yang  membawa  faham baru yang dipimpin oleh Al-Hadi, Jalaluddin, dan Abbas yang merupakan  tokoh-tokoh pembaharu selalu ia baca. Sekitar tahun 1914-1915 A. Hassan memperoleh buku “Kafa'ah” yang ditulis oleh Ahmad Soorkati, yang  mengeluarkan  fatwa bahwa muslim dan muslimah  boleh  menikah tanpa memandang  golongan dan derajat. Buku  lain  yang mempengaruhinya adalah Bidayatul Mujtahid karangan Ibnu Rusyd  yang membuat perbandingan keempat madzhab  fiqih. Demikian pula ketika di Bandung ia banyak membaca buku karangan  Ibnul Qayyim Al-Jauziah seperti “Zadul  Ma'ad” buku  karangan As-Syaukani yang berjudul “Nailul  Authar serta  terus mengikuti tulisan-tulisan  yang  diturunkan dalam majalah Al-Manar (Mughni, 1980:20).

Pergaulan,  juga turut mempengaruhi jalan  pikiran A.  Hassan.  Pada waktu di Singapura,  selain  mengikuti praktik keagamaan ayahnya, ia juga bergaul dengan  salah  seorang  guru dari Mesir yang berfaham Wahabi dan sama-sama  mengajar di sekolah Assegaf. Pada waktu  di Surabaya, ia bergaul akrab dengan Faqih Hasyim seorang tokoh kaum  muda Surabaya, serta banyak mengikuti pertemuan-pertemuan  Al-Irsyad di bawah bimbingan Ahmad  Soorkati. Ketika di Bandung, ia bergaul  akrab  dengan  Muhammad Yunus  dan Zamzam  dua orang pendiri Persis. Dari  keluarga, bacaan yang dibaca serta pergaulannya sedikit banyak telah mempengaruhi arah pemikiran  A. Hassan. Arah pemikirannya mulai kentara dengan jelas setelah ia tinggal di Bandung dan  berkiprah dalam aktivitas jam'iyyah Persis.

Selama  di  Bandung,  A. Hassan  banyak  mengikuti pengajian-pengajian dalam lingkungan Persis, dan  akhirnya  A. Hassan memasuki organisasi ini pada tahun  1926, tiga  tahun setelah organisasi itu berdiri (Persis  berdiri  pada tanggal 12 September 1923). A.  Hassan  masuk Persis  sebenarnya  bukan karena  tertarik  pada faham-fahamnya,  karena  ternyata  justru  A.  Hassanlah  yang membawa  Persis untuk menjadi gerakan ishlah. A. Hassan sadar  bahwa pemikirannya harus dituangkan dalam  sebuah gerakan  agar bisa berkembang secara efektif.  Dan  pada gilirannya, tampak gabungan antara watak  A. Hassan yang tajam dalam cara berfikir dengan ciri Persis yang  keras hingga  menghasilkan  sebuah gerakan tajdid  yang  cepat  meluas. A. Hassan telah membawa Persis menjadi organisasi pembaharu  yang  terkenal  tegas  dalam masalah-masalah fiqiyyah.

Di  tangan A. Hassan,  Persis  tampil  dengan membawa  corak dan warna baru dalam gerakan pembaharuan pemikiran Islam di Indonesia. Kiprah A. Hassan di Persis sejalan dengan "program jihad" jam'iyyah  Persis yang ditujukan  terutama  pada penyebaran cita-cita dan pemikirannya; yakni menegakkan Al-Qur'an dan Sunnah. Hal ini ia lakukan dengan berbagai aktivitas antara lain dengan mengadakan tabligh-tabligh, menyelenggarakan  kursus pendidikan Islam bagi  generasi muda, mendirikan pesantren,  menerbitkan berbagai  buku, majalah, dan selebaran-selebaran lainnya. Dalam  bidang pendidikan, misalnya, kemudian berkembang  cepat dengan masuknya A. Hassan pada tahun 1926. Demikian pula dalam  bidang penerbitan/publikasi banyak  diterbitkan buku-buku  dan  majalah-majalah terutama  yang memuat karangan-karangan  A. Hassan. Penerbitan  buku-buku dan majalah-majalah  ini lebih banyak  atas usaha A.  Hassan sendiri;  sejak menulis, mencetak,  dan memasarkannya. Penerbitan inilah yang menyebabkan luasnya daerah penyebaran pemikiran A. Hassan yang identik dengan pemikiran Persis,  lagi  pula penerbitan  buku-buku  dan  majalah-majalah  ini  hasilnya sering dijadikan  referensi  oleh para  muballigh Persis dan  muballigh  dari organisasi lain.

Demikian pula kegiatan tabligh dan dakwah  menjadi ujung tombak penyebaran faham Qur'an Sunnah yang  dilaksanakan di berbagai tempat. Dalam aktivitas tabligh ini A. Hassan lebih senang melakukannya dengan metode  debat sehingga  sering kali digelar perdebatan sengit  tentang berbagai masalah keagamaan. Dalam hal ini seolah-olah A. Hassan sangat senang menggelar perdebatan tentang berbagai  persoalan, terutama persoalan-persoalan agama  yang tidak ada dasarnya dari Al-Qur'an dan Sunnah yang menjadi  persoalan  yang hangat pada  masa  itu,  diantaranya masalah talqin, tahlil, talafudzh niyyat, bid'ah,khurafat,  taqlid,  dll.  Persis  benar-benar mendapat tenaga yang luar biasa dengan keberanian A. Hassan dalam setiap perdebatan, meskipun  kadang-kadang berlangsung sangat  keras,  namun  hal ini  menyebabkan  terbukanya pemikiran kritis dalam menghancurkan taqlid dan kejumudan di kalangan umat Islam. Masa-masa  berikutnya  boleh dikatakan pemikiran Peris identik dengan pemikiran A. Hassan, dan dalam waktu yang bersamaan telah menempatkan Persis dalam barisan "muslim modernis" di Indonesia.  A. Hassan dengan Persisnya atau Persis dengan A. Hassannya banyak  terlibat  dalam  berbagai  pertukaran   pikiran, dialog  terbuka, perdebatan, maupun polemik di  berbagai media massa. Sebagai salah seorang yang mempunyai peranan besar dalam Persatuan Islam, A. Hassan mengemukakan  pendapat-pendapatnya  tentang  beberapa  masalah  yang berkenaan dengan  agama  antara lain tentang sumber  hukum  Islam; ijtihad, itttiba', taqlid, bid'ah, dan faham kebangsaan.

Dalam masalah sumber hukum Islam, A. Hassan tidak pernah membatasi  secara tegas jumlah sumber hukum itu,  tetapi yang  dipandang  pokok menurutnya adalah  Al-Qur'an  dan Sunnah atau Hadits. Sedang Ijma dan Qiyas sesungguhnya tidak  berdiri sendiri. Menurut A. Hassan  (An-Nubuwwah, 1977:159),  Al-Qur'an  merupakan kitab suci  Umat  Islam yang kalimat, rangkaian, dan susunannya, isi dan  maknanya  dari  Allah. Sedangkan  Al-Hadits,  menurut  bahasa berarti perkataan, pembicaraan, percakapan, sesuatu yang baru,  atau khabaran. Menurut istilah, Al-Hadits adalah perkataan, perbuatan, dan hal-hal Rasul serta  taqrirnya yakni  perbuatan atau percakapan sahabat yang  diketahui Rasul,  tetapi dibiarkannya. Sedangkan Ijma yang diakui A. Hassan (Ringkasan Islam, 1972:22) adalah ijma sahabat Nabi.  Ijma  ini diterima sebagai  sumber  hukum  Islam, karena  kita  percaya  bahwa mereka  tidak akan   bersepakat  menentukan  sesuatu hukum  kalau  tidak  ada landasan yang datang dari Nabi. Sekaligus  ini  berarti bahwa  pada  hakikatnya Ijma sahabat itu  tidak  berdiri sendiri, dan oleh sebab itu tidak perlu dijadikan sumber hukum Islam yang pokok seperti Al-Qur'an dan Hadits.

Menjelang  pendudukan Jepang, pada tahun 1941,  A. Hassan terpanggil untuk kembali ke Surabaya. Kepindahannya ke Surabaya diikuti pula oleh sebagian para  santrinya dari Pesantren Persis Bandung. Di Bangil, kota kecil dekat Surabaya, ia mendirikan pesantren Persis  seperti yang pernah dilakukannya di Bandung untuk mendidik para santrinya. Di Bangil inilah, di samping kegiatan sehari-harinya sebagai pendidik, perhatian A. Hassan ditumpahkan  pada  penelitian agama Islam langsung  dari  sumber pokoknya  Al-Qur'an  dan Sunnah. Puncaknya,  A.  Hassan telah berhasil  menyusun tafsir Al-Qur'an  yang  diberi judul “Al-Furqon” yang merupakan tafsir Al-Qur'an pertama di  Indonesia  yang diterbitkan secara  lengkap  pertama kali tahun 1956---meskipun sebelumnya pernah diterbitkan dalam  beberapa bagian sejak tahun1930-an. Selain  itu, A. Hassan masih aktif menyampaikan pandangan dan pendiriannya tentang agama Islam dalam berbagai penerbitan, di  samping membalas surat-surat dari berbagai  pelosok mengenai masalah-masalah agama. Menurut Mohammad Natsir, dalam  kata  sambutannya terhadap buku Tamar Djaja (1980) A. Hassan adalah  ulama besar,  gudang  ilmu pengetahuan, dan  sumber  kekuatan batin dalam menegakkan pendirian dan  keimanan.

Natsir lebih  jauh mengungkapkan: Beliau  memiliki sifat-sifat utama  yang  jarang dimiliki  oleh  ulama-ulama rekan beliu yang lain. seorang ulama  yang mengajar  dan  mendidik  pemuda pemuda hidup dan berdiri di atas kaki sendiri. Beliau tidak kaya, tapi tak pernah kekurangan. Hidup  dalam  agama, dan senantiasa menegakkan agama, adalah filsafat  hidupnya.  Pendiriannya  teguh, jiwanya   kuat, pantang  mundur  dalam  menegakkan  kebenaran  agama. Beliau berda'wah dengan segala jalan yang ditempuhnya.  Dengan perkataan, pidato atau  ceramah  sebagai kebiasaan  kaum  muballigh, dan lebih banyak  dengan tulisan.  Beliau seorang penulis karangan  yang  enak dibaca,  baik  dalam majalah  yang beliau  terbitkan sendiri, maupun dalam buku-buku yang sengaja ditulisnya.  Di samping itu, beliau gemar sekali  berdebat, demi untuk membela agama dan menegakkan keyakinannya. Beliau  telah berdebat dengan orang Keristen,  dengan golongan  Ahmadiyah, dengan kaum Komunis,  dan  entah dengan  siapa  lagi. Untuk keperluan  debat  tersebut beliau  tak  keberatan dimana  pun  saja  tempatnya, bahkan  kalau  perlu semua biaya  atas tanggungannya sendiri.

Pada hari Senin, tanggal 10 Nopember 1958 di Rumah Sakit Karangmenjangan (Rumah Sakit Dr. Soetomo)  Surabaya,  A. Hassan berpulang ke rahmatullah dalam usia  71 tahun. Ulama besar yang dikenal dengan A. Hassan Bandung (ketika  masih di Bandung) atau A. Hassan Bangil  (sejak bermukim di Bangil) telah menorehkan sejarah baru  dalam gerakan  pemurnian ajaran  Islam  di  Indonesia  dengan ketegasan, keberanian, dan kegigihannya dalam menegakkan Al-Qur'an dan Sunnah meski kadang disampaikannya dengan pemikiran  yang "radikal", sehingga tepatlah  Syafiq  A. Mughni (1980) menyebutnya dengan Hassan Bandung; Pemikir Islam Radikal

3. Pengkaderan Gaya A. Hassan

Ahmad Hassan  adalah sosok ulama  yang  aktif  dalam mengkaji Islam dan aktif pula dalam berdakwah. Dalam hal ini  A.  Hassan sangat menaruh perhatian  terhadap  para pemuda Islam yang sedang bersekolah di  sekolah-sekolah milik pemerintah  kolonial Belanda yang  sangat  kurang memberikan  pelajaran agama Islam. A.  Hassan  menyadari bahwa  anak-anak  muda  yang tengah menuntut ilmu  itu adalah calon pemimpin di masa datang yang perlu dibekali dengan  pengetahuan agama yang memadai. Tekad A.  Hassan untuk  menarik para  pemuda pelajar  itu sangat  kuat, bagaimanapun sibuknya, ia senantiasa menyempatkan  diri untuk berbicara dengan para pemuda pelajar itu. Ditundanya pekerjaan  yang sedang dikerjakannya,  baik  sedang mengoreksi  buku atau sedang menyusun tafsir, bercakap-cakap dengan para pemuda calon pemimpin ummat itu dianggapnya lebih penting (Rosidi, 990:36).

Mohammad Natsir adalah salah seorang yang terlibat dalam  proses kaderisasi di bawah bimbingan  A.  Hassan. Dalam  proses  kaderisasi  itu, kepribadian  A.  Hassan menampilkan kesan tersendiri bagi murid-muridnya, dalam sebuah  tulisannya yang berjudul Membina Kader  Bertanggung jawab” Natsir menulis; Suatu keistimewaan dalam diri A.  Hassan,  ialah setiap  orang  yang berkenalan dengan beliau segera tertarik kepada pribadinya. Seorang ulama yang ramah, suka berkelakar, dan juga memikat hati anak-anak muda sekelilingnya.  Kepada semua orang, beliau  selamanya memanggil "Tuan" baik yang baru dikenal, maupun yang sudah lama dikenal, bahkan kepada kader-kadernya sekalipun. Kalimat "Tuan" rupanya telah   berurat berakar  dalam kamus bahasanya, sehingga  tak  pernah kedengaran  ia  menyebut seseorang  dengan  perkataan Tengkau, saudara  atau kata lainnya, kecuali terhadap anak-anaknya  sendiri atau keluarga di  rumah.  Kami, beberapa  orang  pemuda Islam yang berada  di  sekelilingnya,  biasanya setiap  sore  datang  ke  rumah beliau. Beliau  selalu  menyambut kedatangan   kami dengan hati terbuka dan serius. Ketika itulah  beliau memberikan tuntunan yang berguna, pelajaran  akhlak menurut  yang  dicontohkan  Rasulullah  Saw. Beliau memperlihatkan  rasa dekatnya kepada kami, dan  tidak ada penilaian atau penghargaan (Djaja, 1980:54).

Natsir  selanjutnya mengisahkan salah satu  contoh dalam proses kaderisasi yang dilakukan A. Hassan, yaitu dalam  hal melatih memberikan reaksi terhadap  tantangan yang  dilancarkan  oleh kelompok non-Islam.  Pada   suatu hari,  surat  kabar berbahasa Belanda  Algemeen  Indischagblad  (AID)  di Bandung menurunkan  tulisan  khotbah seorang  pendeta bernama Christoffles,  yang isinya  menghina Nabi  Muhammad Saw. Natsir meminta pandangan  A. Hassan tentang  perlunya menangkis penghinaan itu,  dan  bahkan mengharapkannya untuk melakukannya. A. Hassan menyatakan keharusan  itu, tetapi mengusulkan agar Natsir   yang  menulisnya.  Setelah selesai,  tulisan  itu tidak dibawa  lagi ke A. Hassan, karena Natsir sudah menduga akan dikembalikan  lagi dengan alasan bahwa  A.  Hassan tidak  mengerti  bahasa Belanda. Setelah  tulisan  itu dimuat  dalam surat kabar AID, A. Hassan tersenyum  dan menyatakan terima kasihnya. Tulisan itu kemudian  terbit  dalam  bentuk  risalah  berjudul  Muhammad  als  Profeet (Mughni, 1988:174).

Dalam pengalaman seperti ini Natsir menyatakan kesannya sebagai berikut :  Beliau  tidak  mau  menyuapkan  sesuatu  ibarat makanan  kepada kader-kadernya, tetapi haruslah  berbuat sendiri dengan penuh tanggung  jawab. Semboyan bila  seorang  bayi selalu dipangku saja,  dia  tidak akan pandai berjalan. Kalau beliau sudah  menyetujui sesuatu, maka hendaklah kita pandai sendiri menyelesaikannya.  Beliau mendidik kadernya berani  bertanggungjawab dan sanggup berjuang menghadapi  masalah-masalah,  walaupun  bagaimana rumitnya.  Inilah  yang dinilainya  baik  bagi angkatan pemuda  Islam.  Kami, pemuda-pemuda  yang  berada di  dekat  beliau  selalu diteliti  dengan kuat, disiplin  dengan  ketat,  dan diberi tanggung jawab masing-masing. Jika kami memajukan  suatu masalah agama, beliau tidak  menjawabnya langsung, tetapi disuruhnya mencari dalam kitab-kitab yang ada  dalam berbagai bahasa, terutama  Arab  dan Inggris.  Saya diberi tugas tertentu,  demikian  juga Fakhruddin al-Kahiri, Abdurrahman, Qamaruddin  Saleh, Isa Anshary, dan lainnya (Tamar Djaja, 1980:55-56).

Selain  Mohammad  Natsir,  tokoh-tokoh  ulama  dan politikus  yang  pernah  menjadi  muridnya  antara  lain adalah K.H.M.Isa Anshary yang pernah menjadi Ketua  Umum Pusat  Pimpinan Persis (1948-1960); Ketua Umum Masyumi Jawa Barat, dan anggota DPP Masyumi. Mohammad Natsir dan Isa Anshary dalam pandangan politiknya merupakan  lawan dari Soekarno, yang juga pernah berguru kepada A. Hassan dalam berbagai persoalan keagamaan. Demikian pula ustadz K.H.E.Abdurrahman, pemimpin pesantren Persis Bandung dan Ketua  Umum Pusat Pimpinan Persis (1962-1983) yang  juga pengasuh majalah At-Taqwa dan majalah  Risalah  adalah murid  A.  Hassan yang melanjutkan  mengelola  pesantren Persis  di Bandung sejak ditinggalkan  pindah  oleh  A. Hassan ke Bangil pada tahun 1941. Di  antara murid-muridnya yang lain yang  kemudian menjadi  ulama  besar dan  memimpin  pesantren-pesantren besar,  antara  lain Ustadz Abdul Qadir  Hassan,  putera tertua A. Hassan, yang menjadi pemimpin pesantren Persis Bangil dan pengasuh majalah Al-Muslimun  serta  pernah menjadi  ketua Majelis  Ulama  Persis  (sekarang Dewan Hisbah);  K.H.O.Qomaruddin Shaleh, pensyarah dan  pernah menjadi Wakil Ketua Pusat Pimpinan Persis; K.H.M.Rusyad Nurdin,  pensyarah di beberapa perguruan  tinggi,  ulama terkenal, dan pernah menjadi Wakil Ketua Pusat  Pimpinan Persis dan Ketua DDII perwakilan Jawa Barat; Fakhroeddin Al-Khahiri, seorang  cendekiawan  muslim  teman  seperjuangan  Mohammad Natsir pada saat berguru pada A.Hassan;  dan masih banyak lagi para cendikiawan dan  ulama-ulama di daerah yang menjadi guru, ulama, mubaligh, dan aktivis  dalam berbagai organisasi  keislaman,  terutama para  santri pesantren  Persis angkatan  pertama  yang menjadi pelopor dan penggerak tegaknya Qur'an-Sunnah  di berbagai daerah tempat asal mereka.

Di  samping  itu dapat pula  dikemukakan  beberapa kawan seperjuangan A. Hassan dalam menegakkan Al-Qur'an dan Sunnah, di samping menjadi teman berdialog A. Hassan yang  banyak menerima berbagai pemikiran dan faham  yang dikemukakan  A.  Hassan,  antara  lain  Ustadz  Moenawar Chalil (Semarang), Ustadz K.H.Imam  Ghazali  (Jamsaren Solo), Prof. Dr. T. M. Hasbi Ash-Shiddieqy  (Yogyakarta), K.H.M.Ma'shum   (Yogyakarta),  Ustadz   Abdullah Ahmad (Jakarta), Ustadz M. Ali Hamidy (Jakarta), Ustadz  AbdulHakim dan Ustadz H. Zainuddin Hamidy (Minangkabau).

Kedekatannya dengan Bung Karno, Menurut  Djaja (1980:24-25) dimulai dari perkenalan  A.  Hassan dengan  Bung Karno ketika  keduanya  sama-sama bertemu di percetakan Drukerij Economy milik orang Cina di Bandung. Pada waktu  itu Soekarno sedang  mencetak  surat  kabar propaganda politiknya Fikiran  Rakjat, sementara   A. Hassan  mencetak majalah-majalah dan buku-buku  yang  ia terbitkan. Dalam  setiap pertemuannya  di  percetakan itu, antara keduanya sering terjadi dialog berbagai  masalah. Rupanya sejak bergaul dengan A. Hassan,  Soekarno  yang tadinya  kurang  memahami betul tentang  Islam,  sedikit demi sedikit  terbuka  hatinya.  Demikianlah,  Soekarno mulai banyak belajar agama Islam kepada A. Hassan meski pada  tahap permulaan hanya melalui obrolan di  percetakan.

Lambat laun Soekarno belajar lebih aktif  melalui buku-buku dan majalah majalah karangan A. Hassan. Terlebih  lagi ketika Soekarno menjalani hukuman  oleh  pemerintah  kolonial  Belanda  bagi  para  aktivis politik  di Endeh Flores. Dalam kesepiannya Bung  Karno merasa  terhibur dengan datangnya kiriman buku-buku  dan majalah-majalah dari A. Hassan. Setiap kapal yang  merapat di Endeh, selalu membawa kiriman dari Bandung;  dari Tuan Hassan, tidak hanya buku dan majalah  tetapi  juga makanan kegemaran Bung Karno, biji jambu mede. Sejak  di Endeh Flores itulah, Soekarno mengakui A. Hassan sebagai gurunya  dalam hal agama. Lihatlah beberapa  surat  yang dikirimkannya kepada A. Hassan yang terdapat dalam  buku karangan  Soekarno Dibawah Bendera Revolusi”  (1964:325-344)  dalam   satu  bab khusus  Surat-Surat  Islam  Dari Endeh;  Dari Ir. Soekarno Kepada Tuan A.  Hassan,  Guru "Persatuan Islam".

Berikut ini beberapa surat Soekarno yang dikirimkan kepada A. Hassan dalam pembuangannya  di Endeh (dikutip kata-kata pembukaannya saja dengan ejaan baru).

Endeh, 1 Desember 1934 :
Assalamu'alaikum,
Jikalau  saudara  memperkenankan,  saya  minta   saudara mengasih  hadiah kepada saya buku-buku yang tersebut  di bawah ini; Pengajaran Shalat, Utusan Wahabi, Al-Muchtar, Debat Talqin, Al-Burhan, Al-Jawahir.
Kemudian  dari  pada itu, jika saudara ada  sedia,  saya minta sebuah risalah yang membicarakan soal "sayid"... dst.

Endeh, 25 Januari 1935 :
Assalamu'alaikum,
Kiriman  buku-buku gratis beserta kartu pos  telah  saya terima  dengan girang hati dan terima kasih  yang tiada hingga.  Saya menjadi termenung sebentar, karena  merasa tak selayaknya dilimpahi kebaikan hati saudara sedemikian itu. Ya Allah Yang Maha Murah.

Pada  ini  hari semua buku dari anggitan yang  ada  pada saya  sudah habis saya baca. Saya ingin  sekali membaca lain-lain  buah  pena saudara. Dan ingin  pula  membaca "Buchari" dan "Muslim" yang sudah tersalin dalam  bahasa Indonesia  atau Inggris? Saya perlu kepada Buchari  atau Muslim  itu, karena disitulah dihimpunkan  hadits-hadits yang dinamakan shahih... dst.

Endeh, 26 Maret 1935
Assalamu'alaikum,
Tuan  punya kiriman pos paket telah tiba ditangan  saya seminggu yang lalu. Karena terpaksa menunggu kapal, baru ini  harilah saya bisa menyampaikan kepada  tuan  terima kasih  kami  laki  isteri serta anak.  Biji jambu  mede menjadi  "gayeman" seisi rumah; di Endeh ada juga  jambu mede, tapi varieteit "liar", rasanya tak nyaman. Maklum, belum ada orang menanam varieteit yang baik. Oleh karena itu,  maka jambu mede itu menjadikan pesta. Saya  punya mulut sendiri tak berhenti-henti mengunyah!

Buku-buku  yang  tuan  kirimkan itu  segera  saya  baca, terutama  "Soal-Jawab"  adalah suatu  kumpulan jawahir jawahir.  Banyak yang tadinya kurang terang, kini  lebih terang. Alhamdulillah!.. dst.

Endeh, 17 Juli 1935
Alhamdulillah,  antara kawan-kawan saya di Endeh,  sudah banyak  yang  mulai luntur kekolotan  dan kejumudannya. Kini mereka sudah mulai sehaluan dengan kita dan tak mau mengambing saja lagi kepada kekolotannya, ketakhayulannya,   kejumudannya,   kehadramautannya,   kemesumannya, kemusyrikannya (karena  percaya  kepada  azimat-azimat, tangkal-tangkal,  dan keramat-keramat) kaum  kuno,  dan mulailah terbuka hatinya buat "agama yang hidup". Mereka ingin baca buku-buku PERSATUAN ISLAM, tapi karena malaise, mereka minta pada saya mendatangkan  buku-buku itu dengan separoh harga.. dst.   

Endeh, 15 September 1935.
Assalamu'alaikum,
Paket  pos  telah kami ambil dari kantor  pos,  kami  di Endeh membilang banyak terima kasih atas potongan  harga 50 % yang tuan izinkan itu. Kawan-kawan semua bergirang,dan  mereka ada maksud lain kali akan memesan  buku-buku lagi, insya Allah.

Saya  sendiri  pun tak  kurang-kurang  berterima  kasih, mendapat  hadiah  lagi beberapa brosur.  Isinya kongres Palestina  itu,  tak  mampu menangkap  "centre  need  of Islam"... dst.

Endeh, 22 April 1936
Chabar tentang berdirinya pesantren (Pesantren Persatuan Islam  tanggal  4 Maret  1936---penulis)  sangat sekali menggembirakan  hati  saya. Kalau saya  boleh  mengajukan sedikit  usul; hendaklah ditambah banyaknya  pengetahuan barat  yang hendak dikasihkan kepada murid-murid  pesantren  itu.  Umumnya adalah sangat saya  sesalkan,  bahwa kita  punya  Islam Scholars masih sangat sekali  kurang pengetahuan modern science ...... dst.

Di bawah ini surat yang sangat pendek yang dikutip lengkap; mengabarkan tentang meninggalnya mertua Soekarno di Endeh.

Endeh, 25 Oktober 1935.
Assalamu'alaikum,
Sedikit khabar yang perlu saudara ketahui: hari  Jum'at, malam  Sabtu 11/12 Obtober ybl. saya punya  ibu mertua yang mengikut saya ke tanah interniran, telah pulang  ke rahmatullah.  Suatu percobaan yang berat bagi  saya  dan saya  punya  isteri,  yang---alhamdulillah,  kami  pikul dengan  tenang  dan tawakal dan ikhlas  kepada  Ilahi. Berkat  bantuan Tuhan, Inggit tidak meneteskan air  mata setetespun  juga,  begitu juga saya  punya  anak  Ratna Djuami.  Yah moga-moga Allah senantiasa mengeraskan  apa yang  masih lembek pada kami orang bertiga.  Yang  timah menjadi  besi, yang besi menjadi baja,  amin!  Kesakitan Ibu mertua dan wafatnya, adalah menyebabkan saya belum bisa tulis surat yang panjang, maafkanlah! Sakitnya  ibu mertua hanya empat hari.
Wassalam,
SOEKARNO

Berikut  ini Surat Soekarno yang  berisi  sikapnya untuk  tidak  melaksanakan  tahlilan  ketika   mertuanya meninggal dunia sebagai salah satu bukti masuknya pengaruh Qur'an-Sunnah yang diajarkan A. Hassan melalui buku-bukunya kepada Soekarno

Endeh, 14 Desember 1935
Kaum  kolot  di Endeh---dibawah anjuran  beberapa  orang Hadramaut---belum tentram juga membicarakan halnya  saya tidak  bikin  "selamatan  tahlil" buat  saya  punya  ibu mertua  yang baru wafat itu, mereka berkata, bahwa  saya tidak ada kasihan dan cinta pada ibu mertua itu.

Biarlah!  Mereka  tak tahu menahu, bahwa saya  dan  saya punya isteri, sedikitnya lima kali satu hari, memohonkan ampun  bagi ibu mertua itu kepada Allah.  Moga-moga  ibu mertua  diampuni  dosanya dan diterima  iman  Islamnya. Moga-moga  Allah melimpahkan rahmat-Nya dan  berkat-Nya, yang  ia, meski sudah begitu tua, toh mengikut  saja  kedalam kesunyian dunia interniran!
Amien!

Surat-surat Islam dari Endeh dari Soekarno  kepada Hassan dapat menjadi saksi begitu dekatnya Soekarno dengan  A. Hassan, meskipun sebelumnya  terjadi  polemik yang  berkepanjangan antara Soekarno dan A. Hassan  tentang Islam dan faham kebangsaan. A. Hassan selalu  menghantam kaum nasionalis netral agama di  bawah  pimpinan Soekarno  dalam  tulisan-tulisannya di  majalah Pembela Islam.  Namun,  A. Hassan tidak  pernah  dendam  kepada Soekarno  dan  kawan-kawannya. Hal ini  terbukti  ketika Soekarno berada di dalam penjara Sukamiskin, A.  Hassan dan  kaum  Pembela Islam yang  rajin  menjenguknya dan memberikan  buku-buku bacaan dalam penjara  itu.  Inilah suatu  hal  yang istimewa dalam diri A.  Hassan. Beliau menganggap  Soekarno  adalah lawannya,  dan  tak  pernah mendapat  pujian daripadanya tentang gerakan  dan  cita-cita  nasionalismenya.  Hanyalah  kritik dan   hantaman tajam.

 Tetapi  ketika  Soekarno  berada baik  dalam penjara maupun pembuangannya di Endeh,  A. Hassan  memperlihatkan kebersihan hati dan jiwanya; A. Hassan beranggapan bahwa Soekarno  adalah  seorang "muallaf"  yang  perlu  diberi bimbingan ruh batiniahnya dengan keislaman. Ia menganggap  Soekarno adalah kawannya yang selalu ditentangnya, kawan yang selalu  menjadi lawan  polemik  dan  kritik (Djaya,  1980:42-43).  Dalam hal ini tepatlah  jika A. Hassan  disebut "Singa dalam tulisan, tapi  domba  dalam pergaulan" Sedemikian  dekatnya A. Hassan dan Bung  Karno, hingga  pada suatu ketika, menurut Manshur Hassan  salah seorang putera A. Hassan, pada pertengahan tahun 1953 A.Hassan jatuh sakit, menurut dokter terserang  paru-paru, dan dirawat di Rumah Sakit Malang. Tidak diketahui siapa yang memberitahu A. Hassan sakit, tiba-tiba  A. Hassan  mendapat kiriman uang sebesar Rp. 12.500 (pada saat  itu cukup besar) lewat pos wesel dari Ir. Soekarno, Presiden Republik Indonesia.

Hal yang menarik, setelah  diketahui A. Hassan mendapat kiriman uang dari Presiden  Soekarno, para juru rawat dan dokter yang memeriksanya yang semula kurang  memperhatikan A. Hassan, berubah menjadi  sangat baik dan sangat memperhatikan kesehatan A. Hassan.  Demikian pula, menurut keterangan Manshur  Hassan,  pada  kira-kira  tahun 1956,  Presiden  Soekarno pernah mengirim  surat  kepada A. Hassan yang  isinya  Soekarno menyatakan terima  kasih atas  pengetahuan agama  yang didapatkannya dari A. Hassan dan surat tersebut diakhiri dengan kata-kata: "hutang emas dibayar emas, hutang budi dibawa mati". Surat dari Presiden Soekarno tersebut pada tahun  1967 dibawa oleh Ir. Abdul  Kadir  (alm.)   dari Garut, salah seorang pengikut A., Hassan yang  setia.

5. Buku-Buku Karangan A. Hassan

Berikut  ini adalah beberapa buku karangan  A.  Hassan   yang  dikutip  dari  Djaja  (1980:166-168);  lihat  pula Fiederspiel (1970); Mughni (1980); Anshary (1985).
1. Pengajaran Shalat, 1930 terbit 45.000 ex.
2. Pengajaran Shalat (huruf Arab), 1930 terbit  5.000 ex.
3. Kitab Talqin, 1931 terbit  5.000 ex.
4. Risalah Jum'at, 1931 terbit  4.000 ex.
5. Debat Riba, 1931 terbit  2.000 ex.
6. Al-Mukhtar, 1931 terbit  8.000 ex.
7. Soal Jawab, 1931 terbit  7.000 ex.
8. Debat Talqin, 1932 terbit  7.000 ex.
9. Kitab Riba, 1932 terbit  2.000 ex.
10. Risalah Ahmadiyah, 1932 terbit  3.000 ex.
11. Pepatah, 1934 terbit  2.000 ex.
12. Debat Luar Biasa, 1934 terbit  3.000 ex.
13. Debat Taqlid, 1935 terbit  6.000 ex.
14. Debat taqlid, 1936 terbit 10.000 ex.
15. Surat-Surat Islam dari Endeh, 1937 terbit 10.000 ex.
16. Al-Hidayah, 1937 terbit  2.000 ex.
17. Ketuhanan Yesus Menurut Bibel, 1939 terbit  4.000 ex.
18. Bacaan Sembahyang, 1939 terbit 15.000 ex.
19. Kesopanan Tinggi, 1939 terbit 15.000 ex.
20. Kesopanan Islam, 1939 terbit  2.000 ex
21. Hafalan, 1940 terbit  5.000 ex.
22. Qaidah Ibtidaiyah, 1940 terbit  8.000 ex.
23. Hai Cucuku, 1941 terbit  4.000 ex.
24. Risalah Kerudung, 1941 terbit  7.000 ex.
25. Al-Burhan, 1931 terbit  2.000 ex.
26. Al-Furqan, 1931 terbit  2.000 ex.
27. Islam dan Kebangsaan, 1941 terbit  6.000 ex.
28. An-Nubuwah, 1941 terbit  8.000 ex.
29. Perempuan Islam, 1941 terbit  7.000 ex.
30. Debat Kebangsaan, 1941 terbit  3.000 ex.
31. Tertawa, 1947 terbit  3.000 ex.
32. Pemerintahan cara Islam, 1947 terbit  5.000 ex.
33. Kamus Rampaian, 1947 terbit  4.000 ex.
34. A.B.C.Politik, 1947 terbit  6.000 ex.
35. Merebut kekuasaan, 1947 terbit  4.000 ex.
36. Al-Manasik, 1948 terbit  2.000 ex.
37. Kamus Persamaan, 1948 terbit  4.000 ex.
38. Al-Hikam, 1948 terbit  4.000 ex.
39. First Step, 1948 terbit  2.000 ex.
40. Al-Faraidh,  1949 terbit 10.000 ex.
41. Belajar Membaca Huruf Arab, 1949 terbit  3.000 ex.
42. Special Edition, 1949 terbit  2.000 ex.
43. Al-Hidayah, 1949 terbit  6.000 ex.
44. Sejarah Isra Mi'raj, 1949 terbit  6.000 ex.
45. Al-Jawahir, 1950 terbit  5.000 ex.
46. Matan Ajrumiyah, 1950 terbit  2.000 ex.
47. Kitab Tajwid, 1950 terbit  8.000 ex.
48. Surat Yasin, 1951 terbit  2.000 ex.
49. Is Muhammad a Prophet, 1951 terbit  5.000 ex.
50. Muhammad Rasul ?   1951 terbit  5.000 ex.
51. Apa Dia Islam, 1951 terbit  5.000 ex.
52. What is Islam ?, 1951 terbit  3.000 ex.
53. Tashauf, 1951 terbit 30.000 ex.
54. Al-Fatihah, 1951 terbit  5.000 ex.
55. At-Tahajji,  1951 terbit  5.000 ex.
56. Pedoman Tahajji, 1951 terbit  5.000 ex.
57. Syair, 1953 terbit  2.000 ex.
58. Risalah Hajji,  1954 terbit  2.000 ex.
59. Wajibkah Zakat ?, 1955 terbit  3.000 ex.
60. Wajibkah Perempuan Berjum'at?, 1955 terbit  4.000 ex.
61. Topeng Dajjal, 1955 terbit  3.000 ex.
62. Halalkah Bermadzhab, 1956 terbit  7.000 ex.
63. Al-Madzhab, 1956 terbit  7.000 ex.
64. Al-Furqan (Tafsir Qur'an), 1956 terbit 85.000 ex.
65. Bybel-Bybel,1958 terbit  5.000 ex.
66. Isa Disalib, 1958 terbit  5.000 ex.
67. Isa dan Agamanya, 1958 terbit  5.000 ex.
68. Bulughul Maram, 1959 terbit 20.000 ex.
69. At-Tauhid, 1959 terbit 15.000 ex.
70. Adakah Tuhan?, 1962 terbit 12.000 ex.
71. Pengajaran Shalat, 1966 terbit  3.000 ex.
72. Dosa-Dosa Yesus, 1966 terbit  3.000 ex.
73. Bulughul Maram II
74. Hai Puteriku
75. Nahwu
76. Al-Iman
77. Aqaid
78. Hai Puteriku II
79. Ringkasan Islam
80. Munazarah   

Selain  buku-buku  tersebut di  atas,  A.  Hassan banyak pula menulis dalam majalah-majalah dan selebaran-selebaran  yang cukup luas penyebarannya.
Buku-buku  A. Hassan dalam perkembangannya seringkali dicetak  ulang dan  dijadikan referensi bagi para ulama maupun  santri yang sedang menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan Islam, tidak hanya ulama dan santri Persis, tetapi  juga para ulama dan santri di luar jamaah Persis.

Wallahualam.

Dadan Wildan Anas adalah Sekretaris Majelis Penasehat PP. Persis 2015-2020. Sebelumnya Ketua Dewan Tafkir PP. Persis (2005-2010); (2010-2015) dan mantan Sekretaris Umum PP. Persis (2000-2005). Sekarang bertugas sebagai Deputi Menteri Sekretaris Negara RI.

Pernah menulis empat buku tentang Persis, yaitu; (1) Sejarah dan Perjuangan Persatuan Islam (1923-1983); (2) Yang Dai Yang Politikus; Hayat dan Perjuangan Lima Tokoh Persis: (3) Pasang Surut Gerakan Pembaharuan Islam; Potret Perjalanan Sejarah Organisasi Persatuan Islam; (4) Gerakan Dakwah Persatuan Islam,(2015)

Tidak ada komentar: