6 Agustus 2011

Ramadhan Momentum Tepat untuk Taubat

 Selain dikenal sebagai syahrul shiyam, syahrul shabr, syahrut tarbiyah, dan syahrul jihad, Ramadhan juga dikenal sebagaisyahrut taubah. Disebut sebagai syahrut taubah karena Ramadhan memang saat yang tepat untuk bertaubat. Dan sebaik-baik taubat adalah taubat yang segera, tanpa menunggu dan menunda-nunda. Dengan demikian, terkumpullah dua keutamaan jika kita bertaubat saat ini: keutamaan karena Ramadhannya, dan keutamaan karena menyegerakan taubat.


وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ

Dan bersegeralah menuju ampunan Tuhanmu (QS. Ali Imran : 133)

Allah Menyambut Gembira Hamba-Nya yang Bertaubat

Allah SWT menyeru kita dengan ayat di atas untuk menyegerakan taubat. Juga dalam ayat yang lainnya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

Wahai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha (QS. At-Tahrim : 8)

Sebab Allah menghendaki hamba-Nya memperoleh ampunan dan surga. Subhaanallah! Sungguh Dia maha penyayang kepada hamba-hamba yang beriman kepada-Nya.

وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَى الْجَنَّةِ وَالْمَغْفِرَةِ بِإِذْنِهِ
Dan Allah menyeru kalian kepada surga dan ampunan dengan izin-Nya (QS. Al-Baqarah : 221)

Maka tidakkah kita bergegas menuju ampunan-Nya dengan bertaubat di bulan Ramadhan ini. Jika kita penuhi seruan Allah, seruan kasih sayang agar kita bertaubat pada-Nya, sungguh, bukan saja kita akan bergembira dengan ampunan dan surga-Nya kelak, namun Allah juga gembira ketika kita mau bertaubat. Kegembiraan Allah bahkan lebih besar daripada seorang musafir yang menemukan kembali untanya setelah hilang di gurun sahara berikut segala perbekalan yang ada padanya.

Rasulullah SAW bersabda:

لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ.
أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada (kegembiraan) seseorang yang menunggang untanya di tengah gurun sahara yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya. Ia putus harapan untuk mendapatkannya kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapannya. Lalu segera ia menarik tali kekang unta itu sambil berucap dalam keadaan sangat gembira: Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu." Dia salah mengucapkan karena sangat gembira. (HR. Muslim)

Apapun Dosa Kita, Bertaubatlah
Ada dua titik ekstrim bagi orang yang berdosa. Ekstrim pertama adalah mereka yang merasa dosanya terlalu besar hingga putus asa dari ampunan Allah. Maka, ia pun tidak kunjung bertaubat karena kekhawatiran taubatnya tidak diterima. Ekstrim kedua adalah mereka yang merasa dosa-dosanya mudah terhapus, hanya dosa-dosa kecil, sehingga membuatnya berlarut-larut dalam dosa demi dosa. Kalaupun bertaubat, ia hanya melakukan taubat sambal. Sekarang berhenti, nanti atau besok kembali mengulangi. Tidak pernah sungguh-sungguh melakukan taubat nasuha.

Untuk ekstrim pertama, lihatlah bagaimana seorang yang telah membunuh 99 nyawa. Saat ia bertanya kepada ahli agama apakah ada kesempatan bertaubat, ternyata dijawab tidak bisa. Lalu ia pun dibunuh sebagai orang ke-100 yang mati di tangannya. Niatnya bertaubat tidak berhenti. Ketika bertemu seorang alim, ia pun mengajukan pertanyaan yang sama. Oleh sang alim ini dijawab kalau dosanya bisa diampuni. Dan sebagai upaya taubat nasuha, ia dianjurkan hijrah ke suatu daerah yang kondusif bagi taubatnya. Di tengah jalan, ia meninggal. Hingga berdebatlah malaikat rahmat dan malaikat azab, orang ini menjadi urusan siapa. Keduanya lalu mengadukan perselisihan ini kepada Allah yang berkahir dengan ampunan bagi pembunuh yang benar-benar berniat bertaubat ini. Subhaanallah!

Contoh lain dialami oleh seorang wanita dari Juhanah. Ia yang tengah hamil datang kepada Rasulullah SAW. Ia mengaku telah berzina dan kini ia hamil. Wanita itu bertaubat dan meminta ditegakkan hudud (rajam) atasnya. Rasulullah menyuruh wanita itu kembali untuk menjaga kandungannya sampai bayinya lahir. Setelah berselang beberapa lama dan bayinya telah lahir, wanita itu datang lagi meminta dirajam. Akhirnya ia dirajam. Rasulullah menshalatkan jenazahnya. "Ya Rasulullah, engkau menshalatinya padahal ia telah berbuat zina?" tanya Umar bin Khatab meminta penjelasan. Maka Rasulullah SAW bersabda:

لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى

Sungguh dia telah bertaubat. Seandainya taubatnya dibagikan kepada 70 penduduk Madinah, taubat itu pasti mencukupinya. Apakah kamu menjumpai seseorang yang lebih utama daripada seorang yang mengorbankan dirinya untuk Allah Ta'ala? (HR. Muslim)

Pembagian Dosa

Imam Al-Ghazali di dalam Ihya' Ulumuddin menyebutkan sifat-sifat pembangkit dosa yang kemudian diringkas oleh Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin. Menurut beliau, sifat pembangkit dosa dibagi menjadi empat:
1. Sifat rububiyah (ketuhanan). Dari sini muncul takabur, membanggakan diri, mencintai pujian dan sanjungan, mencari popularitas, dan lain sebagainya. Ini termasuk dosa-dosa yang merusak, sekalipun banyak orang yang melalaikannya dan menganggap bukan dosa
2. Sifat syaithaniyah (kesetanan). Dari sini muncul kedengkian, kesewenang-wenangan, mnipu, berdusta, makar, kemunafikan, menyuruh pada kerusakan, dan lain-lain.
3. Sifat-sifat bahamiyah (kebinatangan). Dari sini muncul kejahatan, memenuhi nafsu perut dan syahwat kemaluan, zina, homoseks, mencuri, dan lain-lain
4. Sifat sabu'iyah (kebuasan). Dari sini muncul amarah, dengki, menyerang orang lain, membunuh, merampas harta, dan lain-lain.

Diantara empat sifat itu, penjenjangannya bermula dari bahamiyahBahamiyah yang dominan lalu diikuti oleh sabu'iyah, kemudian syaithaniyah dan rububiyah.

Dari keempat jenis itu, menurut sasarannya, dosa dibagi menjadi dua, yakni dosa yang berkaitan dengan hak Allah dan dosa yang berkaitan dengan hak sesama manusia. Dosa yang berkaitan dengan hak Allah SWT ada yang diampuni dan ada yang tidak diampuni. Yang tidak diampuni adalah dosa syirik, sementara dosa yang lain akan diampuni oleh Allah SWT, jika Dia Menghendaki. Sedangkan dosa kepada sesama manusia akan diampuni oleh Allah jika hak itu telah dihalalkan atau ditegakkan qishah atasnya di akhirat nanti.

Rasulullah SAW bersabda:

الظلم ثلاثة فظلم لا يتركه الله وظلم يغفر وظلم لا يغفر فأما الظلم الذي لا يغفر فالشرك لا يغفره الله وأما الظلم الذي يغفر فظلم العبد فيما بينه وبين ربه وأما الظلم الذي لا يترك فظلم العباد فيقتص الله بعضهم من بعض

Kezaliman itu ada tiga: kezaliman yang Allah tidak meninggalkannya, kezaliman yang mendapat ampunan, dan kezaliman yang tidak mendapat ampunan. Kezaliman yang tidak mendapat ampunan adalah syirik, maka Allah takkan mengampuninya. Kezaliman yang mendapat ampunan adalah kezaliman antara hamba kepada Rabb-nya. Sedangkan kezaliman yang tidak akan ditinggalkan/dibiarkan Allah adalah kezaliman antar manusia, maka Allah akan memberi qashah sebagian atas sebagian lainnya. (HR. Thayalisi, dihasankan Al-Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah)

Yang paling umum, biasanya dosa dibagi menjadi dua: dosa besar dan dosa kecil. Jika kita telusuri hadits, dosa besar yang biasa disebutkan adalah syirik, sihir, riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, dan menuduh wanita mukminah yang baik sebagai pezina. Tujuh jenis dosa besar ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim. Sedangkan dalam riwayat Imam Bukhari yang lain disebutkan durhaka kepada orang tua termasuk dosa besar, sedangkan dalam riwayat Imam Muslim yang lain disebutkan pula perkataan atau kesaksian palsu.

Ibnu Qudamah dalam Mukhtashar Minhajul Qashidin menyebutkan pendapat Abu Thalib Al-Makki yang merinci dosa besar menjadi 17 jenis. 4 jenis di hati: syirik, fasiq, putus asa dari rahmat Allah, dan merasa aman dari tipudaya-Nya. 4 jenis di lidah: kesaksian palsu, menuduh wanita mukminah, sumpah palsu, dan sihir. 3 di perut: minum khamr, memakan harta yatim, dan riba. 2 di kemaluan: zina dan homoseks. 1 di kaki: lari dari medan perang. Dan 1 di seluruh badan: durhaka pada orang tua.

Jangan Remehkan Dosa Kecil

Seringkali kita terjebak pada sikap meremehkan dosa kecil. Saat kita ghibah, bercanda yang sudah masuk kategori rafats (porno), bahkan bergaul dengan lawan jenis yang tidak islami, kita beralasan "itu kan dosa kecil, tidak apa-apa". Padahal orang yang meremehkan dosa ia tidak sadar sedang berhadapan dengan siapa. Siapakah yang ia maksiati? Allah SWT yang Maha Besar dan Maha Keras adzab-Nya. Juga, tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus.

لا صغيرة مع الإصرار

Tidak ada dosa kecil selagi terus dikerjakan, (HR. Dailami)

Ibarat sebuah bintik noda, dosa kecil pun akan mengotori hati. Semakin banyak dosa semakin banyak pula noda di hati.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ

Sesungguhnya, apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka muncul bintik hitam dalam kalbunya. Kemudian jika ia bertaubat, meninggalkan dosa dan memohon ampun, maka hatinya bersih. Dan jika dosa-dosanya bertambah, bintik hitam itupun bertambah (HR. Ibnu Majah dan Ahmad, "hasan")

Marilah Bertaubat Sebelum terlambat

Marilah kita sambut seruan Allah untuk bertaubat sebelum kita terlambat. Kini Allah menganugerahkan momentum yang luar biasa kepada kita untuk menjalani taubatan nasuha. Ramadhan yang sangat kondusif dengan amal shalih dan minim pengaruh negatif dibandingkan bulan lainnya, adalah kesempatan berharga yang belum tentu datang lagi kepada kita. Bukankah kita tidak pernah bisa menjamin bahwa kita akan tetap hidup sampai Ramadhan berikutnya jika kita menunda taubat saat ini? Dan bukankah pintu taubat akan ditutup saat kita mengalami sakaratul maut?

إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ الْعَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selagi ia belum sekarat (HR. Tirmidzi, Ahmad, Thabrani, Ibnu Hibban, dan Abu Ya'la)

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Allah membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat maksiat di siang hari bertaubat, dan Allah membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat maksiat di malam hari bertaubat. (Demikian itu tetap terjadi) sampai matahari terbit dari barat. (HR. Muslim)

Terlalu banyak pengalaman yang menunjukkan kepada kita bahwa kematian datang tanpa memandang apakah seseorang masih muda atau sudah tua, miskin atau kaya, juga dalam kondisi sehat atau sakit-sakitan? Bukankah jalan kematian bukan hanya lewat sakit di usia tua? Kematian bisa datang lewat kecelakaan kerja, kecelakaan di jalan raya, sakit mendadak, dan juga bencana serta berjuta cara yang tidak pernah bisa kita tebak dengan cara apa ia datang kepada kita.

Syarat Bertaubat
Imam An-Nawawi di dalam Riyadhus Shalihin menyampaikan syarat bertaubat secara singkat dalam tiga langkah. Pertama, berhenti dari dosa yang dilakukan. Kedua, menyesali dosa yang telah dilakukan. Dan ketiga, bertekad untuk tidak mengulangi dosa itu. Itu jika bertaubat terhadap dosa yang berkaitan dengan hak Allah.

Sedangkan jika dosa berkaitan dengan hak manusia, maka syarat taubat ditambah satu lagi, yaitu membebaskan diri dari hak manusia tersebut. Pembebasan ini tentu dengan penghalalan dari yang terzalimi atau mendapat keikhlasan darinya.

Maka orang yang minum khamr dalam kesendirian misalnya, untuk bertaubat cukup ia berhenti minum khamr, menyesalinya, dan tidak mengulanginya. Namun jika seseorang mencuri harta orang lain, selain tiga langkah tersebut ia harus mendapat maaf dari orang yang dicuri dengan mengembalikan hartanya atau mendapatkan kehalalan darinya.

Semoga Ramadhan yang juga disebut syahrut taubah ini kita manfaatkan bersama sebagai momentum taubatan nasuha. Dan karenanya Allah menganugerahkan ampunan dan surga-Nya kepada kita. Allaahumma aamiin. Wallaahu a'lam bish shawab.

21 Juli 2011

Tentang Sejarah Islam


Jika disebut sejarah, yang sering terlintas dalam benak kita adalah tentang catatan-catatan tahun terjadinya berbagai peristiwa, yang harus dihapal, terutama pada saat ujian tiba. Bagi sebagian orang, ini amat membosankan.
Dalam bahasa Arab, untuk menunjukkan sejarah, sering digunakan terma tarikh dan qishah dan untuk biografi sering dengan mengunakan terma sirah. Al Quran lebih banyak menggunakan terma qishah untuk menunjukkan sejarah, dengan pengertian sebagai ekplanasi terhadap peristiwa sejarah yang dihadapi oleh para Rasul(1). Dalam bahasa Indonesia, sejarah sebagai istilah diangkat dari terma bahasa Arab 'syajaratun' yang berarti pohon. Kata ini memberikan gambaran pendekatan ilmu sejarah yang lebih analogis; karena memberikan gambaran pertumbuhan peradaban manusia dengan "pohon", yang tumbuh dari biji yang kecil menjadi pohon yang rindang dan berkesinambungan(2). Dalam ayat-ayat Al Quran: 2:35; 7:10,22; 14: 24,26; 17:60; 20: 120; 23: 20; 24: 35; 28: 30; 31:27; 37: 62,64,146; 44: 43 dapat ditarik kesimpulan, pengertian syajarah berkaitan erat dengan "perubahan" (change). Perubahan yang bermakna "gerak" (movement) menuju bumi untuk menerima dan menjalankan fungsinya sebagai khalifah (QS. 2:35; 7:19, 22). Juga merupakan gambaran keberhasilan yang dicapai oleh Musa a.s., yang digambarkan dengan pohon yang tinggi dan tumbuh di tempat yang tinggi (QS. 28: 30). Sebaliknya, ia juga memberikan gambaran kegagalan Nabi Yunus a.s. yang dilukiskan sebagai "pohon labu" yang rendah dan lemah (QS. 37: 146). Bagi yang mencoba menciptakan sejarah dengan menjauhkan dirinya dari petunjuk Allah, hasilnya menumbuhkan "pohon pahit" (syajaratuz zaqqum) (QS. 37:62, 64 dan 44: 43). Petunjuk Allah pun diibaratkan pula sebagai "pelita kaca yang bercahaya seperti mutiara" dan dinyalakan dengan bahan bakar min syajaratin mubarakah (QS. 24: 35). (3)
Setiap pelaku sejarah hakikatnya tidak mengetahui hasil perubahan yang direncanakannya (4). Maka setiap orang tidak dapat memastikan "masa depannya". Masa depan adalah gudang ketidakpastian. Hanya fakta-fakta sejarah yang dapat diketahui; dan kita hanya dapat mempunyai pengetahuan positif tentang masa lampau. Sedangkan masa depan adalah ladang ketidakpastian, juga merupakan bagian atas mana kita mempunyai sedikit kekuasaan.
Kemampuan untuk membentuk masa depan sendiri dimiliki oleh semua individu dan masyarakat. Ketidakmampuan kita untuk mengetahui fakta-fakta masa depan atau masa-depan-masa-depan diimbangi oleh kemampuan kita memberi masukan bagi pembentukan fakta-fakta ini (5).
Oleh karena itu, Al Quran memerintahkan manusia untuk menyiapkan masa depannya dengan mempelajari sejarah yang telah dilaluinya (6). Dalam penuturan kembali kisah umat-umat terdahulu, Al Quran berkali-kali mengingatkan bahwa dalam kisah-kisah tersebut terkandung ibrah--pelajaran yang dapat dipetik oleh umat Islam (7). Pelajaran atau mau'izhah yang terdapat dalam Al Quran adalah "hukum sejarah" yang terpolakan dalam 25 peristiwa kerasulan. Dari peristiwa kerasulaan tersebut disimpulkan lagi menjadi 5 persitiwa sejarah kerasulan. Kelima peristiwa sejarah ini dialami oleh Nabi Nuh a.s., Nabi Ibrahim a.s., Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s, dan terakhir adalah Nabi Muhammad Saw. Umat Islam dituntut untuk "menangkap pesan-pesan sejarah yang terumuskan dalam peristiwa Ulul Azmi tersebut", sehingga umat Islam tidak saja mengetahui "guna sejarah" tetapi sekaligus "akan mampu memanfaatkannya" sesuai dengan fungsinya masing-masing. (8)
Ketika ada seseorang yang berkata history is bunk--sejarah adalah omong kosong, Soekarno segera berkomentar: "Seorang penulis berkata, "mempelajari sejarah adalah omong kosong". "History is bunk", katanya. Penulis ini tidak benar. Sejarah adalah berguna sekali. Dari mempelajari sejarah orang bisa menemukan hukum-hukum yang menguasai kehidupan manusia. Salah satu hukum itu ialah: Bahwa tidak ada bangsa bisa menjadi besar 'zonder' kerja. Terbukti dalam sejarah segala zaman, bahwa kebesaran bangsa-bangsa dan kemakmuran tidak pernah jatuh gratis dari langit. Kebesaran-bangsa dan kemakmuran selalu "kristalisasi" keringat. Ini adalah hukum, yang kita temukan dari mempelajari sejarah. Bangsa Indonesia, tariklah moral dari hukum ini!" (9).
Esensi sejarah adalah perubahan. Dan tugas hidup manusia di bumi adalah "menciptakan perubahan sejarah" (khalifah). Perubahan sejarah yang akan terjadi merupakan pengulangan dari peristiwa yang telah terumuskan dalam Al Quran, yang terpolakan dalam 25 peristiwa sejarah kerasulan. Peristiwa yang pernah terjadi bukanlah merupakan masa lalu yang mati, melainkan sebagai peristiwa yang tetap hidup di masa kini (10).
Dari uraian di atas, kita dapat menangkap dengan jelas urgensi sejarah bagi pembangunan kembali peradaban umat Islam. Namun, problem yang dihadapi kemudian adalah, ketika umat Islam menatap kembali sejarahnya yang telah lalu, ada beberapa kendala yang menghalangi pandangan tersebut. Sehingga tidak dihasilkan suatu pandangan yang benar-benar jernih. Oleh karena itu, Muhammad Quthb menyarankan untuk menulis ulang sejarah umat Islam. Ada beberapa hal, menurut Muhammad Quthb, yang mengharuskan umat Islam untuk menyusun kembali sejarahnya.
Antara lain adalah:
a. Kitab-kitab sejarah umat Islam, yang ditulis oleh ulama-ulama terdahulu, merupakan sebuah kompilasi sejarah yang demikian besar. Namun, ia hanya cocok untuk para periset, tidak untuk orang awam, yang ingin mendapatkan kesimpulan yang cepat. Sehingga kitab-kitab tersebut tidak menarik untuk dibaca oleh khalayak ramai. Hal itu terjadi karena para ulama tersebut amat memegang amanah ilmiah. Sehingga mereka menulis semua yang mereka ketahui dan mereka dengar dalam kitab sejarah mereka. Meskipun isinya adalah pengulangan atau saling bertentangan satu sama lain, atau malah sesuatu yang jauh kemungkinan terjadi. Bagi mereka, amanah ilmiah adalah dengan menulis semua yang mereka tahu dan mereka dengar (11). Dalam mukaddimah kitab tarikhnya, Thabari berkata: "Jika ada suatu catatan sejarah yang tertulis dalam kitab kami ini, yang dipungkiri oleh pembaca atau tidak sedap didengar, karena jauh sekali dari kebenaran dan tidak bermakna sama sekali, maka perlu diketahui, itu semua bukan karena kesengajaan kami, namun datang dari orang-orang yang menyampaikan berita itu kepada kami. Sedangkan kami hanya menyampaikannya sesuai dengan apa yang kami terima" (12).
b. Jika kita membaca buku-buku sejarah yang ditulis pada masa modern ini, baik oleh orientalis maupun murid atau orang-orang yang terpengaruh oleh mereka, kita dapati bentuk maupun penyajian buku tersebut menarik. Enak dibaca dan dapat memberikan pemahaman yang cepat kepada pembacanya. Namun, banyak dari buku-buku tersebut ditulis tidak dengan semangat amanah ilmiah, atau memang ditujukan untuk suatu tujuan tertentu. Sehingga banyak terjadi pemutar balikkan fakta atau penarikan kesimpulan yang gegabah. Contohnya adalah: Will Durant, ketika mendapati suatu catatan sejarah yang mengatakan: "Zubair mempunyai seribu orang hamba sahaya yang membayarkan kharaj mereka kepadanya setiap hari, namun semua uang itu tidak satu dirhampun yang masuk ke rumahnya, karena semuanya habis ia sedekahkan". Ia merubahnya menjadi: "Zubair mempunyai rumah di berbagai kota, ia juga mempunyai seribu ekor kuda dan sepuluh ribuh hamba sahaya". Di sini, sosok Zubair yang zuhud diubah oleh penulis menjadi sebuah sosok yang glamour dan penuh kemewahan (13). Dan banyak contoh-contoh lainnya, sehingga bagi pembaca yang tidak teliti, akan terperangkap oleh sikap membenci atau mencela umat Islam terdahulu.
c. Penulisan sejarah dewasa ini, banyak didominasi oleh penekanan pada sisi politik. Dan mengesampingkan sisi lainnya yang demikian banyak. Seperti akidah, pemikiran, peradaban, ilmiah, sosial dan seterusnya. Padahal, sejarah politik Islam, adalah sisi yang paling buruk dari sisi lainnya. Yang dituntut dari para sejarahwan Islam adalah, tidak hanya memusatkan diri pada sejarah pergulatan politik umat Islam, juga hendaknya menampilkan sisi lain yang demikian banyak. Sehingga tercipta sejarah yang seimbang. Pengajaran sejarah Islam dengan tekanan pada sisi politik beserta segala tipu muslihatnya, seperti pembunuhan, penipuan, meracun musuh, pembasmian musuh-musuh politik dan tindakan-tindakan kotor lainnya, adalah sebuah konsep yang diterapkan oleh Dunlop, yang ditunjuk oleh Lord Cromer sebagai konsultan ahli kementerian pendidikan Mesir. Setelah memberikan pengajaran seperti itu tentang sejarah Islam, kepada anak didik, mereka melanjutkan dengan mengajarkan sejarah Eropa yang digambarkan dengan berkilauan, berperadaban, maju dan seterusnya. Sehingga tertanamkan dalam jiwa anak didik, bahwa Islam yang hakiki telah lenyap setelah masa Khulafa Rasyidin yang empat, setelah itu, yang terjadi adalah kekotoran dan kekejian yang harus dihindari, dan tidak ada sesuatupun yang pantas untuk dibanggakan atau diketengahkan kepada umat manusia. Kemudian tertanamkan pula bahwa sejarah yang pantas untuk dikagumi dan cintai dengan sungguh-sungguh adalah sejarah Eropa! (14).
d. Dalam mengkaji sejarah Islam, kita sering mengembalikan segala sesuatu kepada faktor-faktor politik, peperangan, ekonomi dan sebagainya. Sehingga, seakan-akan agama ini hanyalah sebuah budaya yang sama dengan budaya yang lain. Tidak mempunyai kaitan dengan hukum-hukum (sunnah-sunnah) Allah Swt. Ini pula yang tampak dalam tulisan Michel H.Hart ketika meletakkan Nabi Muhammad Saw. di urutan teratas dari seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah. Betul ia meletakkan Nabi Muhammad Saw. di urutan teratas, namun dalam penulisan dan alasan-alasan penempatannya, ia tidak mengkaitkan pribadi Nabi Muhammad Saw. dengan kedudukannya sebagai seorang utusan Allah Swt.
e. Dalam mengkaji sejarah umat Islam, kita sering melupakaan hubungan antara karakteristik umat ini, yang telah dianugerahkan Allah Swt. dengan kondisi kemanusiaan dengan segala aspeknya. Umat Islam, bukanlah hanya sekedar sebuah fenomena sejarah yang kebetulan timbul ke permukaan. Namun, ia adalah umat tauhid yang besar, yang dipilih Allah Swt. Sebagai saksi atas seluruh manusia. Allah Swt. befirman: "Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al Baqarah: 143). Demikian juga, kita sering melupakan pengaruh yang dihasilkan oleh umat Islam terhadap kemanusiaan sepanjang sejarah (15).
Padahal, seperti diakui oleh banyak ilmuan Barat yang fair, ilmuan Islamlah yang telah mengantarkan bangsa Barat menuju kemodernannya saat ini. Tentang Roger Bacon, bapak kebangkitan ilmu pengetahuan (renaissance) Barat, Robert Briffault berkata: "Roger Bacon belajar bahasa Arab dan ilmu Arab dan ilmu-ilmu kearaban di Universitas Oxford dari bekas dosen-dosen Arab di Andalusia. Roger Bacon dan siapapun orang yang datang setelahnya tidak mempunyai hak untuk mengaku sebagai orang yang menemukan metode eksprimentalisme. Roger bacon hanyalah seorang duta dari duta-duta ilmu pengetahuan dan metodologi umat Islam kepada orang-orang Kristen Eropa" (16).
Dari konsideran-konsideran di atas, dapat dikatakan, usaha untuk menatap sejarah Islam dengan penekanan pada sisi peradaban dan ilmu pengetahuan adalah amat terpuji. Dan usaha seperti itu harus terus digalakkan dalam skala yang lebih luas dan dengan perhatiannya yang lebih intens. Karena dari sanalah, nantinya, diharapkan umat Islam menemukan kembali --seperti dikatakan oleh Syed Ameer Ali (17) dan sering dikutip oleh Soekarno-- api Islam yang sebenarnya.

19 Juli 2011

Hobby "NGIBUL"


(Ce' = Cewek, Co' = Cowok)
Ce': Mas krj dimn?
Co': Sy cuma usaha bbrp hotel bintang 4+5 di Jkt n Bali

Ce': (Wow... konglomerat nih!)... Mas tinggal dimn?
Co': Pondok indah Bukit Golf ...

Ce': (Wow kereen, rumah org2 "the haves") Pasti gede rmhnya ya?
Co': Ga ah, cuma 3000 m2..

Ce': (Buset!) Pasti mobilnya bnyk ya?
Co': Dikit. Cuma audi, bmw, porsche,Mercedes, maserati,alphard,Lexus.

Ce': (ini cowok idamanku!!) Mas punya istri?
Co': Belum, hehe

Ce': (Enak jg klo jd bininya) Mas merokok?
Co': Tidak.
Ce': (Wah sehat nih) Mas suka minum2an keras?
Co': Tidak dong...
Ce': (Cool abiiizz) Mas suka judi?
Co': Tidak.
Ce': (Oooh, so sweet) Mas suka dugem gitu?
Co': Tidak
Ce': (iih sholeh buuanget!!) Mas udah hj ?
Co': Yah baru 3X & umroh paling 6X...
Ce': (Subhnllh, calon surgawi..) Hobbinya mas apa sih?
Co': NGIBUL..

22 April 2011

DIBUANG SAYANG ...... Untuk Sannandika

Suatu saat ketika aku rindu
aku masih tak berani panggil namamu
walau kita seakan tak berjarak
tapi masih saja ku aku sisakan ruang..
untuk aku mengatur degup jantungku..desiran darah di nadiku..
lagu rindu itu seolah lenyap ditelan sunyi
dan berlabuh di ujung waktu..
tiap detik waktu bersamamu ...
itu satu tablet obat yang akan menyembuhkan buncahan rindu itu...
Candumu buatku lemah tak berdaya...
Di buang sayang..

Seandainya matahari kau beritahu indahnya malam..
apakah ia akan datang kemari ?
Tak ada tempat yg aman tuk sembunyikan senyum manismu..pada bunga...  kupu-kupu.... gerimis...pada mentari ? ah kadang mentari mengubahnya jadi pelangi..dan semakin nampak betapa indahnya engkau tersenyum
Sayang..bantu aku untuk menulis..syair rindu..sunyiku pada pena..meja coklat ini kini berdebu..
Seakan lautan kata itu kini membeku
pena itu menggigil goreskan kegelisahan
kini aku tulis pada selembar kertas abu
tdk aku lipat..
kubentuk sebuah perahu..bertuliskan namamu..
kemudian aku layangkan menuju padamu
ternyata kamu jauh..dan perahu itu kembali padaku..
kubuka kembali lipatan itu..namamu masih utuh di situ..
Ada rasa gelisah ketika aku ingin melukis pelangi di matamu
Aku hanya mampu membuat hati ini bahagia diambang kebahagiaan itu
sementara membiarkan kebahagiaan itu menjadi milikmu saja..
Saat ini aku sedang igin menulis dan biarkan pena ini asyik menari dari sudut ke sudut
hingga penuh kertas lembar demi lembar..

"When one door of happiness closes..another opens..but often we stare so long at the closed door that..we'll soon realize that the open door..for however long it was opened..is now closed too..."

Air matamu menetes membasahi kertas syairku..membasuh setiap aksara..menggenangi setiap huruf..
lalu tersisa butiran air matamu dan menetes di akhir paragraf..dan.. aku selalu hanyut dalam rindu.
Sist..jika kamu tak memebisikkannya untukku..mungkin tak ada puisi di senja ini..
sist..lihatlah huruf rindu beterbangan menjelma bintang-bintang..kemudian menysun cerita di cakrawala.
sist sayang..bulu matamu yang lepas biar kujadikan kuas..tuk melukis..biar indah seindah rinduku padamu...
menggoreskan kata selembut senyummu..selembut ucapmu...
Torehan warna membias jadi abu dan ungu...
dan aku tak mampu tuk dapat memeluk wangi tubuhmu...
membungkam lingkar bibirmu..
Saat ini aku sedang memandangmu..
aku hanya bersyukur bisa memandangmu
aku hanya mampu memeluk bayangmu
aku tak bisa sentuh bibirmu
aku tak mampu bisikkan kata merayu
hanya jutaan kata menumpuk membentuk bulir rindu..
peluk aku sayang...
Sudah ga ada bulu mata yang lepas
sudah ga ada butiran crystal air matamu yg membentuk tanda seru di pipi merahmu..

20 April 2011

PBB Yakin Bom Cirebon untuk Adu Domba Umat Islam


  

RMOL. Partai Bulan Bintang (PBB) mengecam aksi bom bunuh diri yang dilakukan di Masjid Mapolresta Cirebon, Jawa Barat. Perbuatan tersebut adalah perbuatan biadab dan sangat tendensius.

“Kami mengecam, dan meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas, dan ini tidak ada kaitannya dengan umat Islam dan jihad, ini jelas-jelas memfitnah Islam dan mencederai umat Islam. Hal itu jauh dari kaidah-kaidah perjuangan umat Islam,” kata
Ketua Umum PBB, MS Kaban saat dihubungi, beberapa saat lalu (Jumat, 15/4).

PBB meminta pihak kepolisian agar serius menangani ini, dan mengusut sampai ke akar-akarnya.

“Anggaran polisi kan besar, berpuluh-puluh triliun, tidak ada alasan untuk tidak bisa mengungkap kasus tersebut,” tegas mantan Menteri Kehutanan ini.

Seluruh biaya pengobatan, menurut Kaban, harus ditanggung oleh pemerintah. Jika perlu anak-anak yang orangtuanya terkena ledakan bom itu harus dibiayai. Kaban yakin bom bunuh diri ini bentuk adu domba bagi umat Islam. Sebab, lanjut dia, tidak ada sejarah bom bunuh diri dilakukan di Mesjid.

“Ini kegiatan provokasi umat Islam dan penghinaan terhadap umat Islam. Ini harus dilawan,” pungkasnya. [wid]

2 April 2011

Kuharap dia senang bersamaku..

Bidadari kecilku pulas..
Kujelajahi raut wajahnya..
Kurrata A'ayunku..
Hmmm...pantas saja tiap orang gemas..
Tiap celotehannya selalu saja mengundang gelak tawa..

Seharian ini dia ikut aku ke tokoku..
Hari ini dia mainin baut2 sepeda..ikutan merakit sepeda2 untuk dijual..
Sesekali bawa pompa..
Bu..sepedanya mau dikasih bensin..

satu jam kemudian pandangannya tertuju pada terminal2 listrik yg ada di etalase..
Bu..ayo main kereta api..
Terminal yg 2 lubang..3 lubang..disusun rapi.
Dengan steker sbg kepalanya..
Nyanyian naik kereta apipun terdengar..

Eiits..belom nelpon bapa buu...
tit tut tit tut...
Halo pa..dd mau mainan untuk masak2an..
yang di rumah sudah kotor..
Lho..kan bisa dicuci..aku menimpali..
Ayo kita main blender aja de..
Lalu kukeluarkan blender dari dusnya..sdh lama barang itu tdk laku..biarinlah..yg penting dd happy..
Seeennggg...dede kegirangan..bu kabelnya dicolokin bu..!
Jangaaan...nanti aja ya yg di rumah kalo mau bikin juice..

Dede hari ini keliatan seneng banget..
Makannya lahap..minum susunya juga..
Baru kubelikan dot baru..

Ya Allah..andaikan bisa..tiap hari terus mendampingi putriku..betapa senangnya..
Sahabatku mengingatkan..jadi One minute mom...tapi berkwalitas..
Lebih baik daripada mendampingi setiap waktu tapi tanpa makna..

30 Maret 2011

Perbincangan Aliran-Aliran Theologi Tentang Anthropomorphisme (Sifat Jasmani Pada Tuhan, Melihat Tuhan dan Sabda Tuhan)

PENDAHULUAN
Sejarah menginformasikan, bahwa peristiwa wafat Nabi Saw. adalah merupakan titik awal munculnya perbedaan pendapat yang cukup tajam di kalangan umat Islam. Sehingga membawa pengaruh terhadap corak pemikiran umat Islam pada fase-fase sejarah berikutnya. Timbulnya silang pendapat tersebut bermula dari munculnya persoalan baru di sekitar masalah siapa yang bakal menggantikan Nabi saw., sebagai pemimpin kaum muslimin (Khalifah). Dari peristiwa ini  timbullah perdebatan yang bernuansa politik, yang oleh Harun Nasution menggambarkan bahwa sesungguhnya persoalan yang pertama-tama timbul di kalangan umat Islam bukanlah persoalan keyakinan melainkan persoalan politik. Dari persoalan politik ini kemudian berkembang menjadi isu akidah yang cukup serius yang berekses kepada terpilah-pilahnya umat Islam kedalam beberapa aliran teologi.
Dengan berlalunya masa, munculah peristiwa dalam sejarah apa yang di sebut dengan “peristiwa Ali ra. Kontra Utsman ra. “ dimana timbul perdebatan sengit diantara umat Islam untuk mengetahui siapa yang benar dan siapa yang salah. Persoalan pertama yang di perselisihkan adalah tentang  “Imamah “. Golongan Syiah memonopoli bahwa, soal imamah  harus di serahkan kepada Ali ra. Dan para keturunannya. Sedangkan kaum Khawarij dan Mu’tazilah menganggap bahwa orang yang berhak memangku jabatan imamah ialah orang yang terbaik dan paling cakap, meskipun ia seorang budak belian atau bukan orang Arab ( Quraisy ).
Terjadinya peristiwa terbunuhnya Utsman ra. (l7 Juni 656 M) oleh pemberontak dari Mesir , adalah merupakan titik kedua munculnya persoalan baru yang semakin melebar. Dari persoalan siapa benar dan siapa salah, kemudian berkembang menjadi persoalan tentang “dosa besar“,dari persoalan dosa besar akhirnya meningkat menjadi perselisihan soal “iman “, yakni siapa kafir, siapan mukmin, dan siapa fasik serta dimana kedudukan mereka nanti di akhirat kelak dan sebagainya.
Bermula dari persoalan “iman” inilah yang melatar belakangi lakhirnya beberapa aliran besar dalam teologi Islam : yakni disamping Syi’ah, Khawarij dan Mu’tazilah, muncul kemudian al-Asy’ariyah, al-Maturidiyah, Ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah, Qadariyah, Jabariyah, Murjiah, Salaf, Wahabiyah dan lain sebagainya.
Sesungguhnya corak perbedaan pendapat dikalangan aliran teologi dalam Islam adalah lebih dikarenakan adanya empat pokok persoalan besar, diantaranya : Perdebatan tentang adanya sifat-sifat Tuhan, Qadar dan Keadilan Tuhan, janji dan ancaman Tuhan, serta soal sama’ dan akal (apakah kebaikan dan keburukan itu hanya  bisa diterima dari syara’ atau dapat ditemukan oleh akal pikiran ).
Dari latar belakang corak perbedaan pendapat tersebut di atas, yang akan dijadikan obyek pembahasan dalam makalah ini hanyalah disekitar perbincangan atau perdebatan persoalan  “Anthropomorphisme“ atau faham tentang sifat-sifat jasmani yang ada pada Tuhan.
PERBINCANGAN ALIRAN–ALIRAN TEOLOGI ISLAM TENTANG ANTHROPOMORPISME
Penjelasan Istilah Teologi Islam dan Anthropomorphisme
Pengertian Teologi Islam
Secara etimologi “Theologi “ terdiri dari kata “Theos“ artinya Tuhan, dan “Logos“  artinya Ilmu (science, study, discourse), sehingga dapat diartikan bahwa theologi adalah ilmu tentang Tuhan atau ilmu Ketuhanan
Sedangkan arti secara terminologi, kata “Theologi“ menurut Collins dalam  “New English Dictionary” adalah : “The Science which treats of the facts an phenomena of religion, and the relations between God and man” ( ilmu yang membahas tentang fakta-fakta dan gejala-gejala agama dan hubungan-hubungan antara Tuhan dan manusia ).
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa  “Theologi” ialah ilmu yang membicarakan tentang Tuhan dan pertaliannya dengan manusia, baik yang berdasarkan atas kebenaran wahyu ataupun berdasarkan penyelidikan akal murni manusia.
Adapun pemakaian istilah “Theologi Islam”, yang dimaksud adalah : Ilmu Kalam, ilmu tauhid, ilmu ushuluddin atau ilmu aqaid . Syech Muhammad Abduh mendefinisikan bahwa “Ilmu Kalam atau Ilmu Tauhid” ialah, ilmu yang membicarakan tentang wujud Tuhan, sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh ada pada-Nya dan sifat-sifat yang tidak mungkin ada pada-Nya.
Menurut A. Hanafi, sebab utama dinamakan “Ilmu Kalam” adalah karena dasar dalil yang digunakan semata-mata dalil akal pikiran, dan dalil naqal (al-qur’an dan hadis) baru dipakai sesudah mereka menetapkan kebenaran persoalan dari segi akal pikiran .
Ilmu kalam sebagai ilmu yang berdiri sendiri, pertama kali dipakai pada masa khalifah al-Makmun  (bani Abbasiyah) yang wafat tahun 2l8 H. yakni setelah ulama-ulama Mu’tazilah mempelajari kitab-kitab filsafat yang telah memadukannya dengan metode ilmu kalam .
Sehingga dapat disimpulkan disini bahwa, theologi Islam  (ilmu kalam) yang dimaksud adalah, ilmu yang membicarakan di sekitar kepercayaan tentang Tuhan, baik yang berhubungan dengan soal wujud, kalam, keesaan maupun sifat-sifat Tuhan yang didasarkan di atas prinsip-prinsip ajaran Islam.
Pengertian Anthropomorphisme
Anthropomorphisme dalam teologi Islam dikenal dengan “Tasybih, Musyabihah, Tajsim, Mujasimah ataupun aliran Shifatiyah” .
A. Hanafi mendefinisikan, bahwa anthropomorphisme (musyabihah) ialah golongan Islam yang menggambarkan bahwa Tuhan sebagai zat yang beranggota badan dan mempunyai sifat-sifat manusia.
Adapun secara umum, anthropomorphisme dapat berarti memberikan atribut dengan kualitas kemanusiaan terhadap bidang atau alam yang tidak bersifat manusiawi, atau dengan kata lain : Memberikan gambaran tentang Tuhan bersifat atau berbentuk seperti pribadi manusia .
Dari beberapa pengertian tersebut diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa, anthropomorphisme ialah suatu faham atau aliran yang mengakui bahwa Tuhan mempunyai jisim atau sifat  yang sama seperti sifat jasmani yang ada pada manusia.
Beberapa Pendapat Aliran Teologi Islam Tentang  Anthropomorphisme
Pendapat Golongan Syi’ah
Syi’ah yang berarti, pengikut partai, kelompok, perkumpulan, partisipan atau pendukung , yang dimaksud adalah suatu golongan atau pengikut setia yang fanatik kepada Ali dan keturunannya. Yang mana dalam sejarahnya, golongan ini pecah menjadi tiga golongan besar, yakni : Syi’ah Zaidiyah, Syi’ah Imamiah atau Istna ‘Asyriyah dan Syi’ah Ismailiyah. Dari ketiga golongan ini yang berpendapat lebih moderat ialah Golongan Syi’ah Zaidiyah. Ia tidaklah membenarkan tentang pengakuan adanya sifat yang berlebihan yang diberikan kepada Ali ra., sebagaimana pendapat Syi’ah Ismailiyah yang mengatakan bahwa Ali hingga kini masih hidup, bukan terbunuh. Sebab Ali telah dikaruniai sifat-sifat ke-Tuhanan yang tak akan pernah mati, bahkan dianggapnya sebagai Tuhan . Anggapan  Syi’ah lainnya mengatakan bahwa roh itu dapat berpindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain. Dan Allah itu berjisim serta dapat menjelma kedalam tubuh manusia . Dari pendapat ini nampaknya Syi’ah dalam hal anthropomorphisme sangat dekat dengan pengaruh Hindhu, sedangkan mensifatkan Ali dengan sifat ke-Tuhanan sangatlah dekat dengan faham agama Masehi.
Pendapat Aliran Jabariyah
Aliran Jabariyah yang disebut juga sebagai aliran Jahamiyah, karena dibangun oleh Jaham bin Sofwan, memiliki ajaran pokok bahwa, manusia dalam melakukan perbuatannya adalah dalam keadaan terpaksa, artinya mereka tidak mempunyai kebebasan menentukan kehendak, sebab yang ada hanyalah kehendak mutlak Tuhan . Dari faham yang demikian ini menjadikan faham Jabariyah sering dilawankan dengan faham Qadariyah.
Adapun faham anthropomorphismenya terutama yang berhubungan dengan sifat Tuhan, aliran Jabariyah berpendapat bahwa, Tuhan tidaklah mempunyai sifat, tetapi hanya mempunyai Zat. Tuhan tidak layak disifati dengan sifat mahluk-Nya, sebab yang demikian berarti mentasybihkan (menyerupakan) Tuhan dengan mahluk-Nya . Fahamnya mengenai kalam Tuhan (al-Qur’an), Jaham berpendapat bahwa, al-Qur’an adalah mahluk yang dibuat sebagai suatu yang baru (hadis). Adapun fahamnya tentang melihat Tuhan, Jaham berpendapat bahwa, Tuhan sekali-kali tidak mungkin dapat dilihat oleh manusia di akhirat kelak. Dan tentang keberadaan syurga-neraka, setelah manusia mendapatkan balasan di dalamnya, akhirnya lenyaplah syurga dan neraka itu . Dari pandangan ini nampaknya Jaham dengan tegas mengatakan bahwa, syurga dan neraka adalah suatu tempat yang tidak kekal.
Pendapat Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu’tazilah dibentuk oleh Washil bin ‘Atha’ (80-131H/ 699-748 M). Dinamakan Mu’tazilah karena Washil bin ‘Atha’ telah memisahkan diri dari kelompok gurunya yakni Hasan al-Basri. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Hasan al-Basri sendiri : ”I’tazala ‘Anna Washil”, (Washil telah memisahkan diri). Sehingga secara etimologi Mu’tazilah dapat diartikan sebagai golongan yang memisahkan diri dari gurunya, karena perbedaan faham dalam sesuatu hal . Kecuali Washil bin ‘Atha’, tokoh Mu’tazilah terkenal lainnya ialah ; Al’Alaf, An-Nazzham, Al-Jubbai, Bisyr bin Al-Mu’tamir, Al-Chayyat, Al-Qadhi Abdul abbar dan Az-Zamaikhsyari. Mereka hampir sama dalam  menyandarkan pendapatnya, yakni menggunakan pemikiran bercorak rasional. Ajaran pokok Mu’tazilah berkisar pada lima prinsip, diantaranya : Tentang keesaan Tuhan (al-Tauhid ), keadilan (al- ‘Adlu), janji dan ancaman (al-Wa’du wa al-wa’idu), tempat diantara dua tempat (al-Manzilatu baina  al-manzilataini) dan amar ma’ruf nahi munkar .
Adapun pandangan Mu’tazilah terhadap faham Mujassimah (anthropomorphisme), mereka menolak dengan keras.  Mengenai ayat-ayat al-Qur’an  yang mensifati Tuhan dengan sifat-sifat manusia, seperti : Yadullah (tangan Allah), Kalamullah (perkataan Allah), dan sebagainya, haruslah ditakwilkan secara majazi (metafora atau kiasan). Mu’tazilah juga menolak konsep dualisme dan trinitas tentang Tuhan sebagaimana kepercayaan yang dianut oleh orang-orang Masehi, bahwa al-Masih anak Tuhan yang dilakhirkan dari Tuhan sebagai bapak sebelum masa dan jauharnya juga sama . Selanjutnya Mu’tazilah berpendapat, bahwa al-Qur’an yang disebut dalam kalam atau sabda Tuhan yang tersusun dari huruf dan suara adalah makhluk yang dijadikan oleh Tuhan. Kalamullah tersebut tidak ada pada Zat Tuhan, melainkan berada di luar diri-Nya. Mu’tazilah tidak mengakui adanya sifat-sifat Tuhan sebagi suatu yang qadim, juga mengingkari adanya faham bahwa, Tuhan nanti dapat dilihat oleh manusia dengan mata kepala di akhirat kelak ..  Alasan Mu’tazilah  dalam masalah melihat Tuhan ini nampaknya cukuplah rasional, dimana Tuhan adalah bersifat Immateri, sedang mata kepala adalah bersifat materi. Sehingga tidaklah mungkin suatu  yang immateri dapat dilihat dengan suatu yang materi.
Pendapat Aliran Al-Asy’ariyah
Pembangun aliran al-Asyi’aryah adalah, Abu al-Hasan ‘Ali bin Ismail al-Asyi’ary, yang lakhir di Basrah (Iraq) tahun 260 H/ 873 M, dan wafat tahun 324 H/935 M . Sewaktu kecil hingga berumur 40- tahun, al-Asyi’ary sempat berguru pada seorang tokoh Mu’tazilah terkenal yaitu Abu Ali al-Jubbai Muhammad ibn Abdul Wahhab, bahkan  sebagai penganut faham Mu’tazilah yang  berpendapat bahwa al-Qur’an adalah mahluk, Tuhan tidak dapat dilihat dengan mata kepala, manusia itu sendiri yang menciptakan pekerjaan dan keburukan dan lain-lain. Namun pada akhirnya al-Asyi’ary keluar dan tidak puas terhadap faham Mu’tazilah yang dianut oleh gurunya tersebut. Kemudian mendirikan aliran tersendiri yang dikenal dengan aliran “al-Asyi’aryah“, yang menurut Ali ibn Iwaji memasukkannya ke dalam kelompok  “Ahlu al Sunnah  wa al-Jamaah“, hal itu didasarkan pada catatan yang ada dalam kitab al-Asyi’ary yaitu dalam “Al-Ibanat an ‘Ushul al Diyanah“ . Kitab tersebut berisi tentang penjelasan soal-soal pokok agama yakni tentang kepercayaan (akidah) ahlu al-sunnah wa al-jamaah, dan berisi kritik atau penyerangan terhadap aliran Mu’tazilah .
Dimasukkannya al-Asyi’ary ke dalam faham Ahlu al-Sunnah Wa al-Jamaah, karena memiliki konsep jalan tengah sebagai seorang pendamai terhadap dua pandangan ekstrim (antara ahlu al-Hadis dengan ahlu al-Ra’yi) yang berkembang dalam masyarakat muslim waktu itu .
Adapun pandangan Al-Asyi’aruyah dalam hal Anthropomorphisme diantaranya meliputi :
Tentang Melihat Tuhan ( Ru’yah Allah )
Dalam masalah melihat Allah, al-Asyi’ary berpendapat bahwa Allah Swt. Dapat dilihat oleh hamba-hamba-Nya yang beriman di akhirat kelak seperti halnya mereka melihat bulan purnama . al-Asyi’ary berpendapat bahwa segala sesuatu yang ada (maujud) memungkinkan untuk dapat dilihat, karena Allah adalah sesuatu yang maujud maka sah untuk dilihat (sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an Surat al-Qiyamah (75) : 22).
Tentang Sifat-Sifdat Tuhan
Pendapat al-Asyi’ary dalam masalah sifat Tuhan  adalah terletak ditengah-tengah antara aliran Mu’tazilah dan Mujassimah. Dimana Mu’tazilah tidak mengakui adanya sifat-sifat Tuhan, seperti wujud, qidam, baqa’, wahdaniyah, dan sifat Zat yang lain seperti : sama’, bashar dan yang lainnya, kesemuanya itu tidak lain hanya Zat Tuhan sendiri. Sedangkan aliran Mujassimah mempersamakan sifat-sifat Tuhan tersebut dengan sifat yang ada pada mahluk-Nya. Al-Asyi’ary dalam hal ini mengakui adanya sifat-sifat Tuhan tersebut yang sesuai dengan Zat Tuhan itu sendiri dan sama sekali tidak menyerupai sifat-sifat mahluk-Nya, seperti Tuhan mendengar, tetapi tidak seperti kita mendengar dan seterusnya .
Jadi mengenai sifat-sifat Tuhan, al-Asyi’ary secara garis besar berpendapat bahwa, sifat-sifat itu adalah qadim sebagaimana Zat yang disifatkan. Maka Allah berkata itupun dengan kalam-Nya yang qadim, berkehendak dengan iradah-Nya juga yang qadim pula dan seterusnya.
Tentang Tasybih dan Tajsim ( Penyerupaan dan Personifikasi )
Al-Asyi’ary sangatlah hati-hati terhadap masalah tasybih (penyerupaan dengan mahluk), hal ini dapat dilihat pernyataan al-Asyi’ari dalam kitab “al- Luma’ “ sebagaimana dikutip oleh H.M. Laily Mansur : “Ketika engkau menyatakan bahwa Tuhan tidak menyerupai seluruh mahluk, maka katakanlah  bahwa sekiranya Tuhan menyerupai nmya, tentulah hukumnya sama dengan hukum hadis (yang baru), jika diserupakan, maka tidak terlepas dari keseluruhan atau sebagiannya. Jika keseluruhan, maka keadaannya sama dengan hadis keseluruhan, dan jika sebagian, maka keadaannya serupa untuk sebagian dengan yang hadis (baharu), yang demikian itu semuanya mustahil bagi Zat yang Qadim . Dengan demikian al-Asyi’ary dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan adalah tanpa melalui ta’wil maupun tasybih.
Tentang al-Qur’an Bukan Mahluk
Telah dikemukakan di atas, al-Asyi’ary pernah berpendapat bahwa al-Qur’an adalah mahluk, kemudian ia mencabut pendapatnya itu dengan penuh penyesalan, akhirnya ia menyatakan bahwa kalam Allah itu adalah bukan mahluk . Menurutnya kalam Allah itu Esa dan Qadim, adapun mengenai perintah dan larangan, wa’id dan sebagainya merupakan i’tibar-i’tibar dalam kalam-Nya dan bukan merupakan jumlah berbilang di dalam kalam itu sendiri .
Dari keterangan ini al-Asyi’ary melihat bahwa, kalam Allah itu ada dua bentuk, yaitu : sesuatu yang merupakan sifat Tuhan dan itulah yang qadim. Dan yang kedua adalah lafadz yang menunjuk atas kalam yang qadim tersebut, dan itulah yang hadis dan bersifat mahluk.
Pendapat Aliran al-Maturidiyah
Aliran al-Maturidiyah adalah salah satu aliran dalam teologi Islam yang tergolong kelompok ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah. Aliran ini muncul pada awal abad IV H . Aliran al-Maturidiyah disandarkan pada nama pendirinya, yaitu Abu Mansur Muhammad ibn Muhammad ibn Muhammad al-Maturidy, yang lakhir di Maturid, yakni sebuah kota kecil di Samarkand Uzbekistan, dan tahun kelakhirannya tidak banyak diketahui. Al-Maturidy wafat sekitar tahun 332 / 333 H.
Aliran al-Maturidiyah juga bernaung di bawah faham ahlu al-Sunnah wa al-Jamaah bersama dengan aliran al-Asyi’ariyah. Kedua aliran ini hadir kemedan percaturan teologi, karena reaksinya terhadap aliran Mu’tazilah .  Dan dalam perkembangannya aliran al-Maturidiyah pecah menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Samarkand di bawah pimpinan Abu Mansur al-Maturidy sedang kelompok Bukhara di bawah pimpinan al-Bazdawy.
Perbedaan prinsip tentang masalah teologi, kelompok al-Maturiduyah Samarkand agak lebih rasional dan lebih dekat kepada al-Asyi’ariyah, dibandingkan dengan kelompok al-Maturidiyah Bukhara .
Adapun pokok-pokok ajaran al-Maturidiyah, khususnya dalam hal anthropomorphisme meliputi hal sebagai berikut :
Tentang Sifat – Sifat Tuhan
Dalam masalah sifat-sifat Tuhan al-Maturidy sependapat dengan al-Asyi’ariy, bahwa Tuhan mempunyai sifat, namun bukan sebagai Zat Tuhan, tetapi juga tidak lain dari Tuhan. Sebagai misal, jika dikatakan Tuhan maha mengetahui, maka buykanlah dengan Zat-Nya, akan tetapi mengetahui dengan pengetahuan-Nya .
Dengan demikian , semua sifat-sifat Tuhan seperti sama’, bashar, ilmu dan seterusnya memang terdapat pada Tuhan , akan tetapi bukanlah sifat-sifat itu berdiri sendiri, sebab sifat dan Zat Tuhan adalah suatu hal yang terpisah.
Tentang Melihat Tuhan
Al-Maturidy sependapat dengan al-Asyi’ary, bahwa Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di aherat kelak. Bagi al-Maturidy yang tidak dapat dilihat hanyalah yang tidak mempunyai wujud, yang mempunyai wujud mesti dapat dilihat. Tuhan adalah berwujud, oleh karena itu dapat dilihat .
Pandangan ini didasarkan pada al-Qur’an surat : al-Qiyamah ( 75 ) ayat : 22-23 yang berbunyi :
Artinya : “ Wajah-wajah ( orang –orang mukmin ) pada hari itu berseri-seri . Kepada Tuhanyalah mereka melihat”.
Tentang Keyakinan Mengetahui Tuhan
Al-Maturidy berpendapat bahwa iman mesti lebih dari sekedar tasdiq, karena baginya akal dapat sampai kepada kewajiban mengetahui Tuhan. Al-Maturidy juga berpendapat bahwa mengetahi Tuhan tidak harus dengan bertanya, bagaimana bentuknya. Ma’rifah adalah mengetahui Tuhan dengan sifat-Nya, dan tauhid adalah mengenal Tuhan dengan ke-Esaan-Nya.
Jadi al-Maturidy dalam hal mengetahui Tuhan, dapatlah dicapai melalui pengetauan akal dengan cara  mengetahui sifat-sifat yang ada pada Tuhan.
Tentang Kejisiman Tuhan (Anthropomorphisme)
Tentang  kejisiman Tuhan ini, al-Maturidy tidaklah sependapat dengan al-Asyi’ary, yang mengatakan bahwa ayat-ayat al-Qur’an yang menggambarkan Tuhan itu mempunyai bentuk jasmani tidak dapat diberi interpretasi atau takwil, sebagaimana pendapat Mu’tazilah. Namun al-Maturidy berpendapat bahwa Tuhan  sama sekali tidak mempunyai badan dan jasmani . al-Maturidy menambahkan bahwa, tenaga, wajah, dan sebagainya mesti di beri arti majazi atau kiasan , seperti tangan Tuhan harus ditakwilkan dengan kekuasaan Tuhan .
Dari pandangan ini terlihat bahwa dalam aspek  pemikiran tertentu al-Maturidy sependapat dengan Mu’tazilah, terutama pada masalah-masalah yang banyak menggunakan rasio.
Pendapat Aliran Salaf
Aliran Salaf muncul sekitar abad ke-IV Hijriyah, dimana para pengikutnya selalu mempertalikan diri dengan pendapat Imam Ahmad ibn Hambal, sehingga aliran salaf ini sering disebut sebagai golongan “Hanabilah“.
Pada abad ke- VII Hijriyah, aliran salaf mendapatkan kekuatan baru atas masuknya Ibnu Taimiyah (Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Halim ibn Taimiyah) lakhir di Harran (Iraq) tahun 661 H. dan wafat sekitar tahun 728 H. di Damsyik (Syiria). Faham salaf berkembang dengan pesat pada abad ke XII H. setelah masuknya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab yang mendapat dukungan penuh dari raja Saudi Arabia ketika itu, yakni Muhammad ibn Sa’ud, yang akhirnya aliran tersebut terkenal dengan nama “aliran Wahabiyah”.  Sesungguhnya aliran Wahabiyah adalah merupakan kelanjutan dari aliran Salaf yang telah dibangun oleh Ibn Taimiyah beserta pengikut-pengikutnya yang sangat berpegang teguh pada pendapat Imam Ahmad ibn Hambal, baik dalam lapangan fiqih, maupun dalam lapangan teologi. Mereka juga menamakan diri  sebagai “muhjis sunnah“ (pembangun atau penghidup sunnah). Sistem pemikiran yang digunakan adalah tidak percaya kepada metode logika rasional yang dianggap asing bagi Islam, karena metode ini tidak pernah terdapat pada masa sahabat maupun pada masa tabi’in. Jadi jalan untuk mengetahui akidah dengan dalil-dalil pembuktiannya, haruslah dikembalikan  kepada sumber murninya, yakni al-Qur’an dan al-Sunnah, tanpa embel-embel interpretasi apapun dengan memegangi arti  lakhir atau dengan tafsiran indrawi (sensible interpretation) secara leterlek .
Adapun aliran Wahabiyah dalam mendukung penyiaran faham ini adalah dengan jalan kekerasan dan memandang orang yang tidak mengikuti ajaran-ajarannya dianggap sebagai orang “bid’ah” yang harus diperangi sesuai dengan prinsip “amar ma’ruf nahi munkar” .
Adapun pendapat aliran salaf tentang persoalan sifat-sifat Tuhan, kemahlukan al-Qur’an, penyerupaan (tasybih) Tuhan dengan manusia, kesemua ini digolongkan hanya menjadi satu persoalan, yakni tentang “Ketauhidan” (keesaan) yang mencakup tiga segi, diantaranya :
Tentang Keesaan Zat Tuhan
Aliran Salaf telah memandang sesat terhadap golongan filosof, aliran Mu’tazilah dan golongan tasawuf, karena mereka mempercayai adanya persatuan diri dengan Tuhan ( ittihad ) atau peleburan diri pada Zat Tuhan ( fana’).51
Tentang Keesaan Sifat Tuhan
Aliran Salaf dalam menetapkan sifat-sifat Tuhan, nama-nama atau perbuatan Tuhan yang termuat dalam al-Qur’an dan al-Hadis, seperti : al-Hayyu (yang hidup), al-Qayyum (yang tidak membutuhkan yang lain), al-Shamadu (yang dibutuhkan oleh yang lain), Zul ‘Arsy al-Majid (yang mempunyai arsy yang megah), Tuhan turun kepada manusia dalam gumpalan awan (baca al-Baqarah : 210), Tuhan bertempat di langit (baca QS. Fushilat : 11), Tuhan mempunyai muka (baca QS. Al-Baqarah : 115), Tuhan mempunyai tangan (baca QS. Ali Imran : 73) dan seterusnya. Sifat-sifat tersebut dipercaya oleh aliran Salaf dengan memegangi arti lakhir semata, meskipun dengan pengertian bahwa sifat-sifat tersebut  hakekatnya tidak sama dengan sifat-sifat mahluk . Seperti mereka mengatakan bahwa tangan Tuhan, adalah tidak dimaksudkan sebagaimana  tangan yang ada pada manusia, begitu seterusnya.
Jadi dengan perkataan lain,  bahwa aliran Salaf sesungguhnya dalam masalah faham anthropomorphisme, adalah berada diantara “ta’thil” (peniadaan sifat Tuhan sama sekali) dengan “tasybih” (penyerupaan Tuhan dengan mahluk-Nya).
PENUTUP
Dengan selesainya pembahasan sebagaimana tersebut diatas, dapatlah di simpulkan disini beberapa hal penting , diantaranya :
  • Yang dimaksud “Anthropomorphisme” yang dalam teologi dikenal dengan istilah : Tasybih, musyabihat, tajsim, mujasimah atau aliran shifatiyah, ialah suatu faham atau aliran yang mengakui bahwa, Tuhan mempunyai jisim atau sifat yang sama dengan sifat jasmani pada manusia (mahluk-Nya). Dari faham yang demikian, akhirnya melibatkan perbincangan yang cukup serius di kalangan aliran-aliran besar dalam teologi Islam, seperti : Golongan Syi’ah, Jabariyah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, Maturidiyah, aliran Salaf dan lain sebagainya.
  • Terjadinya corak perbedaan pendapat di kalangan  aliran-aliran dalam teologi Islam tentang “Anthropomorphisme” adalah lebih di sebabkan adanya perbedaan cara pandang dalam memahami nash-nash al-Qur’an maupun al-Hadis terutama yang berhubungan dengan masalah “Anthropomorphisme” . Dimana satu sisi dengan memegangi arti lakhir nash secara leterlak tanpa menggunakan adanya bentuk interpretasi apapun. Sedangkan disisi lain  tetap berpegang pada dalil-dalil nash yang harus diberi arti majazi dengan takwil dan interpretasi .
  • Akibat poin kedua  sebagaimana tersebut diatas menyebabkan beberapa aliran seperti : Jabariyah meniadakan sama sekali sifat-sifat yang ada pada Tuhan, karena bisa menjerumuskan kedalam faham tajasum atau tasybih (menyerupakan) Tuhan dengan mahluk-Nya. Mu’tazilah tetap mengakui adanya sifat-sifat Tuhan yang harus di takwilkan atau diberi interpretasi, sehingga tidak terjerumus pada faham tajasum. Senada dengan Mu’tazilah, Asyi’ariyah dan Maturidiyah juga menggunakan takwil dan interpretasi dalam memahami nash-nash al-Qur’an maupun al-Hadis terutama yang berkaiatan dengan sifat-sifat jasmaniah pada Tuhan, namun mereka lebih hati-hati dan mengambil jalan tengah dalam menentukan sikap pendapatnya. Demikian pula yang difahami oleh aliran Salaf dan Wahabiyah, yang  dalam menetapkan sifat-sifat tajasum pada Tuhan dengan  berpegang teguh pada arti dhakhir ayat, sehingga mereka mempunyai dua keyakinan yakni, secara  Ta’thil (peniadaan sifat Tuhan) sama sekali, dan dengan Tasybih (menyerupakan Tuhan dengan mahluk-Nya).

24 Maret 2011

"Sebuah Kesaksian"

Aku salah langkah...ampun Gusti..
Ampuni aku ya Rabb..
Bila ini ujian dari-Mu..kami ingin lulus sempurna..

Aku sayang..aku cinta dia..
Aku sadar aku bodoh...langkah2ku norak..
Dan aku biarkan aku larut dlm komunikasi yg diharamkan..

Ya Allah..aku benar2 salah langkah..
Astaghfirullaahaladziim..
Kuserahkan semua urusan ini pada Mu..

Ya Allah...aku terlalu mencintainya.
Aku sungguh bahagia hidup bersamanya.
Tak ada hal yang kurang...
Semua sudah kudapatkan.
Cinta dan kasih sayang...serta perhatian yang berlebih .

Kami saling membutuhkan.
Kami satu jiwa...satu raga...tak mungkin terpisahkan.

Ya Allah bila ini adalah ujian kenikmatan dari Mu...
Beri kami kemampuan untuk selalu bersyukur.

Ya Allah...bila ada ujian lain dalam kehidupan kami...
kami terima, dan berharap lulus sempurna.

Bila aku berbuat khilaf atas kebodohanku..
aku mohon ampun Ya Rabb..Yang Maha Pengasih dan Penyayang.

Jauhkan aku dari jalan yang bisa membawaku ke jurang kemaksiatan.
Kami terlalu yakin adanya Yaumul hisab.
Aku malu pada diriku ketika menghadap-Mu nanti.

Nafasku mungkin hanya bisa dihitung dengan jari...
hari pertemuan dengan Mu mungkin semakin dekat.

Ya Allah...Rabbussamaawaati walardl...
Tetap bimbing kami menapaki jalan menuju Ridlo Mu.

23 Maret 2011

Bocoran WikiLeaks dan Teori Konspirasi

 
Oleh Sabar Sitanggang


BEBERAPA pekan terakhir, bahkan mungkin beberapa pekan kedepan, wacana pemberitaan yang dirilis oleh dua media Australia pemberitaan tentang perilaku rezim SBY yang memata-matai rival politiknya dan 'Abused Power'-nya akan terus mendapat perhatian berbagai pihak. Coba kita renungkan beberapa peristiwa berikut.

Bocoran kawat diplomatik Kedubes Amerika Serikat di Indonesia tentang perilaku rezim permintahan SBY yang berhasil diperoleh WikiLeaks dimuat oleh dua surat kabar di Australia telah membuat Istana, Presiden dan para pendukungnya panik; Gempa berkekuatan 9 skala Richter yang menyebabkan terjadinya Tsunami mendapat perhatian serius para ahli nuklir di Indonesia karena meledaknya beberapa reaktor nuklir. Bahkan, begitu pentingnya, sebuah stasiun televisi swasta memandang perlu menghadirkan Staf Khusus Presiden bidang penanggulangan bencana, Andi Arif; Sebuah paket berisi buku yang dikirim oleh seseorang yang beralamat di Ciomas kepada aktifis Jaringan Islam Liberal ternyata juga berisi bom dan meledak yang mencederai beberapa orang termasuk aparat kepolisian; Selang beberapa jam setelah paket bom di Utan Kayu, paket sejenis dikirimkan ke kantor BNN, meski tak sempat meledak dan menelan korban.

Rentetan peristiwa di atas tampaknya wajar. Namun, melihat dekatnya jarak terjadinya dan respons atas peristiwa itu oleh Negara dan aparaturnya, patut menimbulkan tanda tanya. Tulisan ini berupaya memang dari sudut yang berbeda.

Teori Konspirasi
Salah satu teori yang sejak kelahirannya hingga hari ini belum selesai adalah Teori Konspirasi atau sering pula disebut sebagai Teori Persekong kolan. Pada dasarnya, Teori Konspirasi meyakini bahwa suatu peristiwa ganjil pasti dilatarbelakangi oleh persengkongkolan kuat di belakangnya.

Menurut Wikipedia, Teori Konspirasi (conspiracy theory), adalah teori-teori yang berusaha menjelaskan bahwa penyebab tertinggi dari satu atau serangkaian peristiwa (pada umumnya peristiwa politik, sosial, atau sejarah) adalah suatu rahasia, dan seringkali memperdaya, direncanakan diam-diam oleh sekelompok rahasia orang-orang atau organisasi yang sangat berkuasa atau berpengaruh.

Banyak teori konspirasi yang mengklaim bahwa peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah telah didominasi oleh para konspirator belakang layar yang memanipulasi kejadian-kejadian politik. Dari kacamata Teori Konspirasi ini pula kita akan mencoba menelaah beberapa peristiwa di atas yang terjadi seolah-oleh bersinambung.

Berita Utama halaman depan The Age dan Sydney Morning Herald, yang menurunkan berita yang bersumber dari WikiLeaks berupa bocoran kawat diplomatik Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia bertitel Yudhoyono Abused Power, memang me nggemparkan publik dalam negeri. Sumber itu antara lain mengatakan bahwa Presiden SBY menggunakan intelijen Indonesia untuk memata-matai para pesaing politiknya, setidaknya satu kali, yakni seorang menteri sangat senior (most senior cabinet) di dalam pemerintahannya.

Istana berekasi. Didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi membantah semua informasi yang dibocorkan Wikileaks terkait Presiden Yudhoyono dan menjadi berita utama di dua harian Australia "The Age" dan "The Sydney Morning Herald".

Menteri Sekretaris Negara, Sudi Silalahi, berkomentar dengan mengatakan bahwa secara pribadi, SBY shock disebut telah melakukan penyalahgunaan kekuasaan. Presiden mengurut dada, sementara Ibu negara menangis karena sangat terpukul.

Ketua Umum Partai Demokrat -Partai di mana SBY sebagai Ketua Dewan Pembinanya, Anas Urbaningrum, merasa perlu berkomentar keras.

Meski komentar yang disampaikan Anas, bila telisik dari sisi hubungan antar dua negara dan substansi persoalan jauh dari kesepadanan dalam tata pergaulan diplomatik. Yang pasti, Partai Demokrat panik.

Kepanikan juga terjadi pada Kementerian Luar Negeri. Marty Natalegawa, merasa perlu mengundang Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia dan menggelar konferensi pers. Meski lagi-lagi, tata-pergaulan diplomatik -yang semestinya dijunjung tinggi oleh sekretariatnya Marty, tampak dilanggar.

Meski tampak berada di sebelah Marty, Duta Besar Amerika Serikat -yang tentunya tahu posisinya, enggan berkomentar. Meski akhirnya beliau berkomentar ketika wartawan mencegatnya sambil berjalan. Lagi, Departemen Luar negeri juga panik.

Wajar saja Istana dan pejabat serta orang-orang SBY panik. Hal ini setidaknya karena batalnya rencana telepon Obama kepada SBY. Direncanakan bahwa Obama seharusnya menelepon SBY pada hari Jumat untuk membicarakan dan membahas KTT Asia Timur yang akan datang, yang akan diselenggarakan di Indonesia. Tetapi, 'ketika kasus WikiLeaks tersebut mencuat, pembicaraan itu pun tidak terjadi'. Meski hal ini mendapat konfirmasi dari Juru Bicara Presiden Teuku Faizasyah yang memastikan tidak adanya telepon itu, tetapi Teuku mengecilkan maknanya dengan mengatakan "penjadwalan untuk telepon-telepon semacam itu selalu cair".

Sekali lagi rentetan peristiwa di atas, akan sangat menarik bila ditinjau dari sisi Teori Konspirasi. Setelah kewalahan dengan gencarnya pemberitaan tentang perilaku rezim SBY terhadap lawan-lawan politik dan hal lainnya, tampaknya "perlu pengalihan isu pemberitaan WikiLeaks". Memang, dari sisi teori komunikasi propaganda, pemberitaan dan dampak dari suatu informasi hanya mungkin tertutupi atau dialihkan oleh munculnya pemberitaan dan informasi yang lebih besar dampak dan kualitasnya.

Melemahnya dukungan AS?
Kembali ke persoalan WikiLeaks, sesungguhnya hal itu tidak berhubungan dengan content atau isi berita yang disampaikannya, karena mereka hanya menyadap kawat rahasia yang disampaikan oleh Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan kemudian mereka bocorkan. Baik Menlu AS Hillary Clinton maupun Dubes AS di Jakarta tidaklah membantah maupun membenarkan isi kawat yang disadap dan kemudian disebarkan itu.

Mereka hanya mengecam penyadapan itu. Isi kawat rahasia yang disebarkan itu, menurut mereka belumlah merupakan kebijakan Pemerintah AS. Tentu saja setiap laporan dari kedubes negara manapun di dunia ini, semuanya akan menjadi bahan untuk diverifikasi dan didalami lebih lanjut.

Namun apa sikap Pemerintah Pusat mereka tentang laporan itu, sangat tergantung, apakah akan didiamkan saja sebagai informasi atau akan dijadikan bahan untuk mewaspadai, atau akan ada reaksi, semuanya tergantung pada Pemerintahnya sendiri. (Penulis adalah Mahasiswa Program Doktor Departemen Sosiologi FISIP UI)

28 Februari 2011

Sekelumit Piagam Jakarta

oleh  Sabar Sitanggang
Bila disebutkan rangkaian kata Piagam Jakarta, tidak sedikit diantara yang mendengarnya langsung memunyai penilaian negatif terhadap makan yang dikandungnya. Meski, pendengar itu belum tentu pernah membaca sejarah lahirnya kedua kata itu. Bahkan bagi sebagai kalangan, 2 kata itu begitu menakutkan. Tidak jarang ia dihubung-hubungkan dengan istilah negara agama, bahkan negara Islam. Dan pada gilirannya, diberi pemaknaan yang jauh dari nilai-nilai sejarah dan kebenarannya. Tulisan ini berupaya mengungkap sekelumit tentang kesimpang-siuran Piagam Jakarta.
Piagam Jakarta adalah naskah Mukaddimah (Preambule/Pembukaan) UUD 1945  yang telah disepakati dan disahkan oleh Panitia 9, yang merupakan panitia ad hoc yang dientuk oleh Panitia Persiapan Kererdekaan Indonesia (PPKI),  pada tanggal 22 Juni 1945. Kontroversi tentang Piagam Jakarta muncul berawal dari kisah yang diceritakan oleh Moehammad Hatta tentang pertemuannya dengan 4 tokoh, yaitu: Ki Bagoes Hadikoesoemo, K.H.A. Wachid Hasjim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Teuku Mohammad Hasan, sebagai tindak lanjut atas telepon dari Tuan Nisjidjima, pembantu Admiral Mayeda yang mengutus opsir utusan dan memberitahukan dengan sungguh-sungguh, bahwa wakil-wakil Protestan dan Katolik dalam daerah yang dikuasai oleh angkatan laut Jepang, berkeberatan sangat terhadap bagian kalimat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar, yang berbunyi: “Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‘at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Pertemuan yang menghasilkan rumusan pencoretan tujuh kata itu begitu fenomenal. Hatta menceritakan: “Karena begitu serius rupanya, esok paginya tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, Saya ajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasjim, Mr. Kasman Singodimedjo, dan Mr. Teuku Hassan dari Sumatera mengadakan suatu rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu. Supaya kita jangan pecah sebagai bangsa, kami mufakat untuk menghilangkan bagian kalimat yang menusuk hati kaum Kristen itu dan menggantinya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Apabila suatu masalah yang serius dan bisa membahayakan keutuhan negara dapat diatasi dalam sidang kecil yang lamanya kurang dari 15 menit, itu adalah suatu pertanda bahwa pemimpin-pemimpin tersebut di waktu itu benar-benar mementingkan nasib dan persatuan negara. Pada waktu itu kami dapat menginsyafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan “Ke-Tuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‘at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dengan menggantinya dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa”. (Hatta, 1970)
Penghilangan tujuh kata ini telah menimbulkan beragam pandangan. Bagi sebagian tokoh Islam dari NU, Saifuddin Zuhri misalnya, penghapusan tujuh kata merupakan lebih demi memelihara persatuan dan demi ketahanan perjuangan dalam revolusi Bangsa Indonesia yang hanya mengharapkan prospek-prospek di masa depan dan akan menjadi hikmah.
Zuhri menulis, “sebenarnya nilai 7 kata-kata itu bersifat konstitusional dan tidak seolah-olah menganak-emaskan ummat Islam. Ummat Islam adalah golongan mayoritas. Mereka telah dijamin hak-haknya dalam melaksanakan 7 kata-kata dalam tersebut di atas itu oleh pasal 29 UUD 1945 ayat 1 dan 2. Tanpa 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta itu hak-hak Ummat Islam melaksanakan kewajiban syari‘at Islam mereka tetap dijamin (pasal 29 ayat 2). Dihapuskannya 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta itu boleh dibilang tidak “diributkan” oleh Ummat Islam, demi memelihara persatuan dan demi ketahanan perjuangan dalam revolusi Bangsa Indonesia, althans untuk menjaga kekompakan seluruh potensi nasional mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang berusia 1 hari. Apakah ini bukan suatu toleransi terbesar dari Ummat Islam Indonesia? Jika pada tanggal 18 Agustus yaitu tatkala UUD 1945 disahkan Ummat Islam “ngotot” mempertahankan 7 kata-kata dalam Piagam Jakarta, barangkali sejarah akan menjadi lain. Tetapi segala telah terjadi. Ummat Islam hanya mengharapkan prospek-prospek di masa depan semoga segala akan menjadi hikmah. (Zuhri, 1982)
Sementara bagi Anwar Harjono, tokoh Islam dari Partai Masyumi, melihat dari sisi yuridis-konstitusional, menyebutkan bahwa sebenarnya umat Islam dapat menjadikan Pasal 29 UUD 1945 sebagai sumber hukum formal untuk menyalurkan aspirasi-aspirasi politik dan kemasyarakatannya yang bersumberkan kepada ajaran agama Islam dan perundang-undangan negara. Dan apa yang dirumuskan dalam Piagam Jakarta, sungguh-sungguh sangat mendalam, berurat-berakar, mendarah-daging, dan bahkan menjiwai setiap pejuang muslim. Oleh karena itu, memperjuangkan agar setiap muslim melaksanakan syari‘at Islam, merupakan panggilan hidup. (Harjono, 1997).
Sejarawan Belanda, B.J. Boland mengajukan beberapa pertanyaan mendasar sebagai konsekuensi tujuh kata dari Piagam Jakarta. Ia menyebutkan beberapa di antara persoalan yang muncul kemudian dan menjadi penting dalam perdebatan tentang kedudukan Islam dalam Indonesia baru. Katanya, “kalimat yang paling penting dalam Piagam Jakarta, sudah tentu adalah ketentuan bahwa negara didasarkan kepada ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syari‘at Islam bagi pemeluk-pemeluknya. Di Indonesia masa kini kalimat ini disebut sebagai “tujuh kata”. Apakah rumusan itu kurang lebih berarti suatu negara Islam? Apakah kalimat itu mempunyai akibat hukum, sehingga pemerintah harus bekerja keras untuk dan mengawasi pelaksanaan hukum Islam? Haruskah pemerintah mengundangkan hukum yang terpisah untuk kaum Muslimin (misalnya yang berhubungan dengan perkawinan). Atau bahkan harus mengawasi terlaksananya ibadat keagamaan dalam artinya yang sempit? Ataukah rumusan itu hanya mempunyai arti sebagai suatu dorongan kesalehan bagi kaum Muslimin? Tetapi jika demikian, mengapa kalimat itu muncul dalam rancangan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945? Atau dengan perkataan lain, apakah hubungannya dengan negara? Ataukah kalimat itu hanyalah merupakan kerangka kosong sebagai hiburan bagi kaum ortodoks tradisional? Ringkasnya, apakah rumusan itu suatu titik tolak usaha rnenuju ke arah suatu Negara Islam, ataukah ia merupakan sisa-sisa terakhir dari perjuangan mendirikan suatu Negara Islam yang telah gagal?” (Boland, 1985)
Sebagai realitas yang harus diterima, pencoretan tujuh kata dalam Piagam Jakarta masih menyisakan peluang-peluang perubahan. Tokoh-tokoh golongan Islam menerima pencoretan itu, menurut Yusril Ihza Mahendra, agaknya berdasarkan dua pertimbangan utama. Pertama, karena keadaan yang mendesak pada hari-hari pertama kemerdekaan, ketika rasa persatuan harus lebih diutamakan untuk mempertahankan proklamasi kemerdekaan dan ancaman Jepang, yang meskipun sudah kalah perang, masih memiliki persenjataan yang lengkap. Ancaman juga datang dan pihak Belanda, yang telah bersiap-siap mengambil alih lagi wilayah Indonesia yang selama tiga setengah tahun berada di bawah kekuasaan Jepang. Dan kedua, tokoh-tokoh Islam menyadari bahwa UUD yang disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 adalah UUD Sementara. Soekarno sendiri, sebagai Ketua PPKI, mengingatkan semua anggota PPKI bahwa UUD yang disahkan itu adalah “Undang-Undang Dasar Kilat”, suatu revolutie grondwet. (Mahendra, 1996).

21 Februari 2011

Demokratisasi ala Mesir : Membaca Ulang Ibnu Khaldun

 
oleh: Sabar Sitanggang,Mahasiswa Program Doktor Departemen Sosiologi FISIP UI 
     
Permulaan tahun 2011 dapat disebut awal yang berat bagi Negara-negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika. Perhatian jutaan pasang mata di se-antero jagad hari ini, tertuju pada kawasan Timur Tengah dan Afrika. Tunisia, Mesir, Yaman, Libya dan mungkin beberapa negara lainnya tengah dilanda angin perubahan. Gelombang  demokratisasi tengah berlangsung di beberapa Negara belahan benua Afrika dan Timur Tengah itu. Apa yang menyatukan semangat itu, banyak spekulasi berkembang, meski sebagain besar pengamat setju bahwa isu utamanya adalah 'dilanggarnya' asas keadilan yang dirasakan oleh masyarakat kedua negara.
      Bila kita mau melihat lebih jauh, sesungguhnya ada catatan sejarah yang dapat merekatkan kesamaan Negara-negara dengan basis berbahasa Arab itu, , hal itu tersimpul pada himpunan ddari beberapa kata, Abdul-Rahman-bin-Khaldun. Seorang Muslim Jenius yang lahir di Tunisia (1332 M) dan meninggal serta dikuburkan di Kairo (1406 M). Apa kaitan Ibnu Khaldun dengan krisis politik yang terjadi di kedua negara itu?
Biografi dan Karya Khaldun
      Catatan berikut, yang dihimpun dari beberapa sumber tentang Ibnu Khaldun mungkin bisa memberi sekadar inspirasi. Al-'Allama, yang diindonesiakan kira-kira berarti Sang Maha Guru, adalah judul novel yang ditulis oleh Dr. Benslem Himmish, pemikir, sastrawan, Doktor jebolan Universite de Paris, dan kini menjabat Menteri Kebudayaan Maroko, tentang Ibnu Khaldun. Novel yang diangkat dari perjalanan hidup Ibnu Khaldun itu pun diganjar anugerah Naquib Mahfouz Award dari Pemerintah Mesir  tahun 2002. Novel ini menceritakan tentang aktifitas Ibnu Khaldun yang memutuskan bertempat tinggal di pinggiran Sungai Nil, ditemani Sya'ban, Pembantu setianya, dan kisah tentang cinta kedua-nya, juga keterlibatannya dalam pemerintahan Dinasti Mamluk serta pertemuannya dengan Timur Lang yang, Jenderal Penakluk dari Tartar, yang fenomenal.
      Berikutnya buku An Arab Philosophy of History: Selection from the Prolegomena of Ibn Khaldun of Tunis, yang dikarang oleh Charles Issawi, mantan Adjunct Professor of Political Science, American University di Beirut. 'Meskipun' hanya merupakan ringkasan dan sekadar ulusan atas karya besar (Magnum Opus) dari Ibnu Khaldun, buku ini memuat kesaksian sejarawan Arnold J. Toynbee, penulis A Study of History, dan Filosof George Sarton,  penulis Introduction to the History of Science. Kedua orang itu itu sudah lebih dari cukup.
      George Ritzer dan Douglas J. Goodman, merasa perlu menyisipkan sketsa biografi singkat Ibnu Khaldun dalam buku ajar sosiologi -yang diperpegangi oleh hampir semua universitas di seluruh dunia yang menawarkan jurusan sosiologi, Modern Sociological Sociology, 6th Edition (McGill), dan menyisipkan kalimat, “Tak seorang pun pemikir Abad 17 itu yang menganggap diri mereka sebagai sosiolog, dan sedikit sekali di antara mereka yang kini dianggap sebagai sosiolog. Untuk diskusi perkecualian, lihat bografi Ibnu Khaldun”. Sebuah ungkapan yang jujur. Secara ringkas, inilah Ibnu Khaldun!
      Dilahirkan pada 27 Mei 1332 M/732 H di Tunisia dari keluarga Bani Khaldun yang banyak berkarer di bidang politik dan akademik. Nama lengkapnya adalah Abu Zaid Abdur Rahman bin Muhammad bin Khaldun as-Hadrami. Sering dipanggil juga dengan Waliyudin. Perjalanan hidup Ahli hokum (mazhab Maliki), sejarawan, filsuf, negarawan, sosiolog dan pelopor ilmu ekonomi ini penuh petualangan. Sebentar mendekam di penjara, tiba-tiba dibebaskan dan diberi kedudukan tinggi, namun tak lama kemudian harus hidup dalam pengasingan.
      Kepeloporannya dalam filsafat sejarah tak tertandingi, termasuk oleh Plato, Aristoteles dan Agustinus sekali pun (Robert Flint, History of the Philosophy of History, Blackwood & Son Ltd). Toynbee, menyebut Muqaddimah Ibnu Khaldun, sebagai karya terbesar dalam filsafat sejarah yang pernah dihasilkan oleh kecerdasan manusia di setiap waktu dan tempat. Banyak karya Toynbee yang diilhami oleh Ibnu Khaldun.
      Dalam ekonomi, teori-teorinya juga yang jauh mendahului Adam Smith dan Ricardo. Laffer, penasihat ekonomi Presiden Ronald Reagen, yang menemukan Teori Laffer Curve, dengan terus terang mengaku telah mengambil konsepIbnu Khaldun. Ibnu Khaldun mengajukan obat resesi ekonomi, yaitu memperkecil pajak dan meningkatkan ekspor pemerintah. Dengan segala predikat dan kejeniusan yang melekat pada diri Ibnu Khaldun, pertanyaannya apakah kaitannya dengan krisis dan gelombang demokratisasi yang tengah terjadi di Timur Tengah dan Afrika hari ini?
      Sebagai sebuah sistem yang fundamental, ekonomi -menurut Ibn Khaldun, adalah centrum bagi sebuah bangsa. Bila ekonomi suatu negara goyah akan goyah pula semua sendi peri-kehidupan bangsa itu. Pada bagian lain, Khaldun menyebutkan, “…karena itu apabila orang mundur dalam kegiatan ekonominya, maka pasar akan lesu dan keadaan masyarakat pun akan menjadi buruk. Dan memburuknya keadaan dalam masyarakat itu akan diikuti oleh kelemahan Negara, karena Negara itu adalah sebagai 'Bentuk' yang keadaannya mengikuti 'Benda'-nya, yaitu Masyarakat. Hancurnya masyarakat itu membawa lemah dan hancurnya Negara”.
      Teori Khaldun, setidaknya terbukti dan telah terjadi di Indonesia. Krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter telah pada tahun 1997 telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian Indonesia, pada gilirannya merambah pada timbulnya gejolak sosial 1998 yang melahirkan Reformasi. Bagaimana dengan Tunisia dan Mesir? Sama saja. Persoalan ekonomi yang melilit kedua Negara telah menimbulkan keresahan masyarakat. Daerah-daerah yang jauh dari pusat kota (desa dalam bahasa Ibnu Khaldun) mengalami ketegangan -bahkan sampai tingkat krisis, ekonomi. Padahal -masih menurut Ibnu Khaldun, kehidupan desa adalah lebih tua daripada kehidupan kota, karena kehidupan desa adalah asal dari kehidupan kota yang beradab dan sumber yang terus menerus daripada persediaan manusia untuk kota-kota. Sementara pada bagian lain, tegas-tegas disebutkan oleh Ibnu Khaldun bahwa terbentuknya suatu Negara (kerajaan, dinasti atau apapun namanya), di atas solidaritas rakyat banyak, “kerajaan dan dinasti hanya bisa ditegakkan atas bantuan dan solidaritas rakyat banyak”. Dan solidaritas terbesar dan kuat ada di desa. Reformasi Mei 1998 Indonesia, dan Tragedi Januari Tunisia dan Mesir telah mencabaik-cabik solidaritas rakyat yang seharusnya tetap dijaga dan dipertahankanoleh penguasa. Maka berakhirnya rezim Orde Baru Soeharto dan Tunisia adalah hal yang wajar.
Nasehat Khaldun
      Seperti disebutkan oleh Rasullullah shallallahu 'alaihi [wa alihi] wasallam, setelah utusan ke Penguasa Iskandariyah, Muqauqis, Hathib ibn Abi Balta'ah kembali ke Madinah, Mesir akhirnya benar-benar ditaklukkan oleh Islam. Peristiwa penaklukan Mesir oleh tentara Islam terjadi pada masa Khulafa' Rasyidin, tepatnya pada tahun 20 H/640, masa pemerintahan  'Umar ibn al-Khattab (13 H/634-23 H/644). Panglima dalam penaklukan tersebut adalah 'Amr ibn al-Ash. (al-Buthy, 2010).
      Mesir memang lekat dengan pergantian rezim melalui revolusi. Mesir modern dimulai dengan pemerintahan Muhammad 'Ali (1805-1848). Inggris menduduki Mesir pada 1882. Sejak itu, Mesir kehilangan kemerdekaannya. Selanjutnya, antara 1914 - 1922 Mesir menjadi Protektorat Inggris dan baru merdeka pada tanggal 28 Pebruari 1922 dan mengambil bentuk Monarki Konstitusional di bawah Faruq. Pada tanggal 23 Juli 1952 terjadi Revolusi yang dipimpin oleh Muhammad Najib. Mesir kemudian menjadi Republik pada 18 Juni 1953 dengan Najib sebagai Presiden dan Perdana Menteri. Selanjutnya Gamal Abdul Nasser menyingkirkan Najib pada 1954 dan terpilih sebagai Presiden pada 1958. Nasser meninggal pada 1970 dan digantikan oleh wakilnya Anwar al-Sadat. Presiden Sadat terbunuh pada 6 Oktober 1981 dan selanjutnya digantikan oleh wakilnya Hosni Mubarak. (Mulia, 2000). Sejak saat itu Mubarak memimpin Mesir sendirian. Setelah 30 tahun memerintah, di tengah desakan mundur dari jutaan warga Mesir, Mubarak menunjuk Sulaeman sebagai Wakil Presiden.
      Mesir merupakan contoh terbaik dari berbagai pengaruh kompleks Islam pada perkembangan sosial politik. Sejak beberapa dasawarsa, Islam merupakan bagian dari arena politik, yang dipergunakan baik oleh pemerintah maupun oposisi. Mesir merupakan tempat lahirnya nasionalisme Arab. (Esposito, 1992). Bahkan, prinsip-prinsip syariat dalam artian kaidah-kaidah fikih, telah diakomodasi dalam perundang-undangan, khususnya bagian-bagian yang sesuai dengan semangat zaman. Sistem adopsi atas prinsip-prinsip dan opini mazhab fikih itu, dilakukan oleh para pembuat undang-undang atas pertimbangan yang paling mendekati semangat kekinian dan paling sesuai untuk kondisi sosial rakyat Mesir. (Asymawy, 2003).
      Bila demokrasi sudah dipraktikkan, prinsip-prinsip syariat pun telah diundangkan, mengapa jutaan rakyat masih bergolak? Kita perlu penjelasan. Mungkin perlu menelaah kembali catatan kuna yang pernah dibuat oleh seorang mantan hakim di negeri seribu masjid ini, sekitar 700 tahun lalu, Muqaddimah karya Abdul Rahman bin Khaldun.
Pemusatan Kekuasaan
      Pada Jilid I Muqaddimah terdapat bab tentang Masyarakat dan Negara. Ada beberapa teori yang dikemukakan oleh Khaldun tentang hubungan masyarakat dengan timbul, tumbuh dan matinya suatu negara. Menurut Khaldun, adalah termasuk pembawaan negara-negara bahwa kekuasaan akhirnya menjadi terpusat kepada satu orang. Dan sudah menjadi watak negara menimbulkan kemewahan, yang meskipun pada mulanya kemewahan itu menambah kekuatan negara, pada akhirnya kemewahan itu pula merusak moral dengan menarik kejahatan dan kebiasaan-kebiasaan yang rendah. Namun Khaldun juga mengingatkan bahwa sekali usaha pemusatan kekuasaan dalam tangan seseorang tercapai, dan kemewahan serta sifat malas telah merata, maka negara telah mendekati kehancurannya.
      Nasser yang merebut kekuasaan dari Najib masih menyediakan kursi wakil bagi al-Sadat. Nasser jatuh, al-Sadat masih membagi kekuasaannya pada wakilnya Mubarak. Tapi, setelah Muabarak berkuasa, ia memegang sendiri kendali kekuasaan. Saat terjepit ia mengangkat Sulaeman sebagai wakilnya. Boleh disebutkan bahwa Mubarak terkena teori pertama, kekuasaan terpusat kepada satu orang, dirinya sendiri. Soal kemewahan?
      Modernisasi dan kemajuan Mesir membuat kemajuan yang sangat berarti. Menurut informasi yang dilansir media, bahwa kekayaan Mubarak selama 30 tahun berkuasa melalui kerajaan bisnis yang dijalankan oleh putranya Jamal diperkirakan tidak kurang dari 30 Milyar Dollar Amerika! Di sisi lain, terjadi himpitan ekonomi yang dirasakan oleh sebagian besar rakyat Mesir. Ketimpangan ekonomi dan terhempasnya perasaan keadilan akhirnya bertemu dalam sebuah aksi solidaritas menuntut mundur Presiden. Mubarak terkena hukum kedua, sudah menjadi watak negara menimbulkan kemewahan, di mana negara termanifestasi dalam kekuasaan tunggal Mubarak dan bisnis Putra Mahkota dan hari ini kemewahan itu pula merusak moral dengan menarik kejahatan dan kebiasaan-kebiasaan yang rendah. Rakyat menyaksikan ketimpangan dan ketidak-adilan dibalut oleh himpitan ekonomi. Pada gilirannya solidaritas murni meski primitif muncul dalam bentuk gelombang protes jutaan rakyat. Meskipun masih ada sebagian rakyat pendemo yang mengatasnamakan pendukung Mubarak.
      Tampaknya teori ketiga Khaldun sedang berjalan, bahwa sekali usaha pemusatan kekuasaan dalam tangan seseorang tercapai, dan kemewahan serta sifat malas telah merata, maka negara telah mendekati kehancurannya. Hal ini sangat tergantung dengan eskalasi demonstrasi dan konsolidasi tokoh-tokoh oposisi dalam menyikapi perubahan yang cepat di Mesir.
Khatimah: Pemerintahan yang baik
      Belajar dari demokratisasi di beberapa negara, konsolidasi semua kekuatan pro-demokrasi -dan Islam khususnya bagi Mesir, menjadi conditio sine qua non. Bila hal ini gagal, momentum tidak akan datang dua kali. Agenda berikutnya adalah membangun kekuatan melalui pemerintahan yang baik. Untuk hal terakhir, ada baiknya mengikuti saran Khaldun. Ia sesungguhnya telah menyisipkan nasehat yang sangat berharga dengan mengatakan, ”kemudian ketahuilah, bahwa faedah orang yang memerintah bagi rakyatnya terletak bukan pada orangnya, potongannya yang tampan dan rupanya yang elok, pengetahuannya yang luas kecakapannya mengarang yang luar biasa atau otaknya yang tajam, melainkan semata-mata pada hubungannya dengan rakyat”. Demikian Khaldun.
      Khaldun tidak berhenti di situ. Ia juga memerikan bagaimana pemerintahan yang baik itu seharusnya. Katanya, ”adapun akan syarat-syarat pemerintahan yang baik, hendaknya orang yang memerintah itu membela rakyatnya dan berhati murah terhadap mereka. Pembelaan adalah sebenarnya raison d'etre daripada pemerintahan, sedang murah hati adalah satu segi dari sifat santun dan lemah lembut orang yang memerintah terhadap rakyatnya dan suatu jalan untuk dapat menambah kesejahteraan rakyat; juga itu adalah salah satu jalan yang utama untuk merebut kecintaan rakyat”.
      Memang relevan membaca ulang Ibnu Khaldun di era di mana angin demokratisasi telah merambah di hampir seluruh negeri-negeri Muslim.