4 September 2024

MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA

 

TOLAK PEMBERANGUSAN SYI'AR ADZAN, MISA PAUS HARUS HORMATI KEYAKINAN & AKIDAH UMAT ISLAM INDONESIA


_1. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir, 2. aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. 3. Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. 4. Aku juga tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. 5. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. 6. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”_

*[QS: Al Kafirun]*


Sehubungan dengan akan diselenggarakannya acara misa yang dipimpin oleh Paus Fransiskus pada hari Kamis, tanggal 5 September 2024, dimulai pukul17.00 s/d pkl.19.00, yang disiarkan secara langsung dan tidak terputus diseluruh televisi nasional, mengingat pula adanya Surat dari Kemenkoinfo agar Syi'ar Adzan Maghrib yang biasa disiarkan melalui televisi nasional ditiadakan dan cukup diganti dengan Running Text, maka kami TPUA bersama segenap Tokoh, Advokat, Aktivis, Ulama dan elemen pergerakan Islam, menyatakan:

*Pertama,* gelaran Misa Kudus bersama Paus Fransiskus, merupakan kegiatan ritual keagamaan yang memiliki dimensi syi'ar, karena dilaksanakan di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, terlebih lagi akan disiarkan secara langsung oleh seluruh stasiun TV nasional. Tindakan ini, termasuk dan terkategori tindakan intoleran, tidak menghormati _local wisdom (Kearifan Lokal)_, karena dilakukan diruang publik, disyiarkan secara terbuka di negeri yang mayoritas penduduknya muslim.

Acara semacam ini, dalam pandangan Islam adalah termasuk dan terkategori pendangkalan akidah Islam, karena tentunya berpotensi besar akan diakses dan ditonton oleh umat Islam. Padahal, dalam doktrin agama Islam yang berkaitan dengan akidah dan ibadah non muslim, berlaku kaidah *"BAGIMU AGAMAMU, BAGIKU AGAMAKU".*

*Kedua,* misi perdamaian yang diusung Paus Franciscus, justru kontradiktif dengan Misa yang dilakukan secara intoleran dan arogan, karena dilakukan diruang publik secara terbuka dan diglorifikasi melalui siaran media, di tengah negeri yang mayoritas penduduknya muslim. 

Semestinya, acara seperti ini cukup dilakukan di gereja dan tidak disiarkan secara terbuka. Karena acara semacam ini, menggores luka ruang keberagaman dan keberagamaan umat  Islam, sekaligus menjadi simbol tirani minoritas terhadap mayoritas.

*Ketiga,* tindakan Kemenkoinfo yang meminta Syi'ar Adzan ditiadakan dan hanya diganti running Text saat berlangsungnya siaran langsung Misa Paus, adalah tindakan pemberangusan Syi'ar adzan, sekaligus melecehkan ajaran Islam. Syi'ar adzan adalah Syi'ar rutin berkala, yang tidak bisa diganggu dan dibatalkan oleh agenda insidental. Semestinya, kegiatan Misa yang menyesuaikan dengan Syi'ar adzan.

*Keempat,* kejadian seperti ini hanya terjadi di era rezim Jokowi. Rezim yang banyak mengeluarkan kebijakan anti Islam, rezim yang tendensi negatif terhadap Islam, sekaligus rezim yang paling sering mendeskreditkan Syi'ar & ajaran Islam.

Karena itu, *kami menuntut agar Misa Paus Franciscus tidak disiarkan secara langsung dan Syi'ar Adzan tetap dikumandangkan seperti biasa.* Jangan sampai, ketegangan antar umat beragama justru terpantik oleh Ibadah Misa Paus yang memiliki misi menjaga perdamaian dunia.


Demikian pernyataan sikap disampaikan.

Jakarta, 4 September 2024.


TTD 


Prof Dr Eggi Sudjana, SH, Msi
Ketua Umum TPUA


Azam Khan, S.H.
Sekertaris Jenderal TPUA 


Ahmad Khozinudin, S.H.
Koordinator Agenda




3 September 2024

Kawal Kunjungan Paus Fransiscus, Hima Persis Jakarta Siap Bersinergi dengan Polda Metro Jaya



Pimpinan Wilayah Himpunan Mahasiswa Persatuan Islam (PW Hima Persis) Daerah Khusus Jakarta menyampaikan pernyataan dukungan atas rencana kunjungan Paus Fransiscus ke Jakarta yang dijadwalkan pada tanggal 3 hingga 6 September 2024.

“Sebagai organisasi kemahasiswaan yang berpegang teguh pada nilai-nilai Islam dan kebangsaan, kami memandang kunjungan ini sebagai momentum signifikan dalam konteks penguatan hubungan antar umat beragama dan konsolidasi toleransi di negara yang bercirikan Keberagaman Agama ini” kata Ihsan, ketua Hima Persis Jakarta, Selasa (3/9/2024).

Ihsan Ketua Hima Persis Jakarta Menyatakan, pihaknya juga siap untuk berkolaborasi dengan Polda Metro Jaya dalam upaya menjamin keamanan selama berlangsungnya kunjungan di Indonesia Khususnya di Jakarta.

Dilansir oleh Nusantara TV, Polda Metro Jaya telah menyiapkan 4.730 personel gabungan untuk mengamankan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia. Selain berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Badan Siber dan Sandi Negara, serta TNI, pihak kepolisian juga menempatkan penembak jitu di beberapa titik strategis.

Pada kunjungan Asia Pasifik kali ini, Indonesia dipilih menjadi negara pertama yang akan dikunjungi Paus Fransiskus. Sebelumnya, ketika masa kepemimpinan Paus Paulus VI pada 1970 pernah mengunjungi Indonesia untuk pertama kalinya.

Kemudian, kunjungan yang kedua pada 1989 ketika Gereja Katolik Roma dipimpin oleh Paus Yohanes Paulus II. Lalu untuk yang ketiga kalinya akan dilakukan oleh Paus Fransiskus, sekaligus akan tercatat menjadi perjalanan Apostolik yang ke-45 dalam masa kepausannya.

“Kunjungan Pemimpin Gereja Katolik Dunia ke Indonesia ini menjadi peristiwa bersejarah dan penting dalam memperkuat hubungan diplomasi dua negara, meningkatkan toleransi antar umat beragama, sekaligus menekankan nilai perdamaian dan kemanusiaan” terang Ihsan.

Dalam perspektif kemanusiaan dan kebangsaan, kunjungan Paus Fransiscus dapat diinterpretasikan sebagai manifestasi Kebebasan beragama yang diatur dalam Konsitusi Pasal 29 UUD 1945 Ayat 2 “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya”

“Dukungan kami terhadap kunjungan ini dilandasi oleh pemahaman theologis yang bersumber dari Al-Qur’an, khususnya Surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang menyatakan: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” ungkapnya.

“Interpretasi kontemporer terhadap ayat ini, sebagaimana diuraikan oleh M. Quraish Shihab dalam Tafsirnya Al-Misbah, menekankan pentingnya membangun relasi positif dengan non-Muslim dalam konteks kenegaraan dan kemanusiaan, selama tidak mengancam akidah dan kedaulatan negara, tegas Ihsan” pungkas Ihsan.

Surat Terbuka PP PERSIS atas Kunjungan Paus Fransiskus



Sehubungan dengan kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia, PP. PERSIS menyambut gembira dengan semangat ukhuwah insaniyah-basyariyah sebagaimana diajarkan oleh Islam. PP Persis menyerukan dan menyatakan sikap sebagai berikut :


Pertama, Kami berharap kehadiran pemimpin tertinggi umat Katolik di Indonesia dan beberapa negara Asean, dapat memberi pesan yang memperkuat semangat persaudaraan antar iman dan toleransi antar umat beragama.

Kedua, kedatangan Paus dapat membawa kabar yang memberikan harapan kebahagiaan dan pesan perdamaian bagi dunia yang sedang dilanda ketegangan dan perang seperti yang terjadi antara Ukraina dan Rusia.

Ketiga, Harapan kami yang terbesar atas kujungan Paus ke Indonesia dan beberapa negara kali ini dapat menjadi momentum untuk menyerukan pengakuan atas kemerdekaan dan kedaulatan Negara Palestina

Keempat, kami berharap Paus menyerukan masyarakat dunia  untuk bersama-sama menghentikan kejahatan Israel terhadap rakyat Palestina.

Kelima, Dengan pesan-pesan dan seruan Paus untuk memperkuat kerukunan antar iman, mewujudkan toleransi antar umat beragama dan menghentikan islamophobia.

Demikian seruan dan pernyataan kami sampaikan, Insya Allah kunjungan Paus akan sangat bermakna dan dikenang oleh masyarakat muslim di Indonesia dan dunia.

19 Agustus 2024

NATSIR: PENYEBAB NU KELUAR DARI MASYUMI?



MOH. NATSIR (1908-1993) menjadi politisi yang paling mentereng karirnya pada awal dekade 1950-an. Bagaimana tidak? Setelah terpilih menjadi Ketua Umum Masyumi dalam Muktamar Masyumi ke-IV di Yogyakarta pada 15-19 Desember 1949, setahun berikutnya, Natsir menorehkan sebuah gagasan monumental yakni "Mosi Integral" yang mengantarkannya pula menduduki kursi Perdana Menteri RI.


Natsir menghadapi dinamika kepemimpinan yang luar biasa, baik selama sedang menjadi Perdana Menteri maupun Ketua Umum Masyumi. Tatkala memimpin kabinet, Natsir sering dikritik habis oleh oposisi; PNI & PKI. Sementara itu, di bawah kepemimpinan Natsir, NU keluar dari keanggotaan istimewa Masyumi pada 1952. Sebagian penulis menuding Natsir menjadi penyebab keluarnya NU dari keanggotaan Masyumi. Apakah benar demikian?


14 Agustus 2024

PASKIBRAKA Dilarang Menggunakan Jilbab, Perlukah BPIP Dibubarkan (?))




Kita pakai logika terbalik ; Bila Hijab (jilbab) dikategorikan, "model berpakaian" ; kenapa dilarang, bukankah itu Hak Asasi Manusia (?!).

Bila penggunaan Hijab (Jilbab) dari pandangan syari'ah, juga kalian larang, bukankah kebebasan beragama itu dilindungi undang-undang (?!).


Sebenarnya kalian terbuat dari apa (?!), koq kedunguanmu juga tidak termasuk pada kategori bodoh (?!)

A. Hassan, Jilbab dan Polemik dengan Majalah Aliran Baroe

 



JIKA sekarang, di Indonesia, sudah sangat semarak dan ramai pemakaian jilbab, maka sudah seyogianya tidak melupakan jasa-jasa pejuang jilbab di Indonesia. Di antara para pejuang itu, nama A. Hassan sangat layak untuk diangkat.


 Pada tahun 30-an (A. Hassan, Jilbab, 1984: V) dikisahkan betapa besar tantangan untuk menerapkan jilbab untuk wanita muslimah. Rumah-tumah wanita berjilbab anggota Persatuan Islam Bandung sampai dilempari batu. Bahkan, sekolah yang didirikan Persis di Pameungpeuk sampai ditutup penguasa. 


Sampai akhirnya A. Hassan turun tangan untuk berdialog dengan pihak Bupati setempat. Bahkan, kalau dibaca dalam sejara Indonesia, hingga tahun 1980-an pemakaian jilbab masih dianggap kontroversial dan mendapatkan perlakuan yang diskriminatif. Namun, al-hamdulillah, sekarang semua sudah bisa menikmati kebebasan mengenakan jilbab.


Tantangan yang dihadapi oleh A. Hassan, Persatuan Islam dan yang sepaham pada waktu itu bukan saja dari penguasa, tapi muncul juga dari kalangan internal umat Islam sendiri yang menganggap jilbab tidak wajib, bahkan dianggap urusan khilafiyah biasa.

Sebagai contoh, polemik A. Hassan dan majalah Al-Lisan-nya dengan majalah Aliran Baroe yang dipimpin Hoesin Bafagih. Dalam buku A. Hassan “Risalah Kudung: Dua Bahagian Tammat” (1954) diterangkan bagaimana polemik ini berjalan. 


 Risalah yang disusun A. Hassan ini sebagai respon terhadap artikel-artikel yang diterbikan majalah Aliran Baroe pada edisi 17-36 yang pada intinya menganggap kudung tidak wajib. Kumpulan artikel itu kemudian diterbitkan pada bulan Oktober 1941. Sayangnya, artikel masalah kerudung pada nomer 17, 18 dan 21 –yang dinilai kontroversial oleh A. Hassan—tidak dimuat di dalamnya.


 Bukan saja menerbitkan risalah bantan melalui Al-Lisan, A. Hassan pada akhirnya juga menerbitkan buku berjudul “Risalah Kudung”. Bahkan, beliau tak segan-segan untuk menyampaikan kesidaan berdebat dengan Tuan Husain Bakri yang kabarnya pernah mengajak A. Hassan berdebat. 


 Dalam penutupan buku A. Hassan menulis, “Kalau betul merasa ada di fihak kebenaran, djanganlah takut bertemu muka disatu madjlis jang teratur dengan pakai djuri dan anggautanja.”


 Sebelum menyebutkan secara singkat kritikan-kritikan A. Hassan yang dimuat dalam Al-Lisan, tentunya penulis berusaha mencari sumber-sumber asli majalah Aliran Baroe. Al-hamdulillah, ada tiga majalah Aliran Baroe yang saya koleksi, yaitu: edisi nomer 19, 20 dan 23.


 Dari majalah itu, sedikit terkonfirmasi bahwa memang ada serial masalah kerudung dibahas dalam majalah besutan tokoh peranakan Arab yang dekat dengan P.A.I. ini.  Di rubrik yang disebut “Timbangan” ada tajuk khusus yang berjudul “Mas’alah Koedoeng”. Bahkan dalam edisi ke-23 (hal. 6 dan 7) ada kritikan kepada A. Hassan dan Al-Lisannya dengan judul “Toean Hasan Bandoeng. Tjaranja bertoekar pikiran.” Juga pada halaman 11, yang berjudul “Al-Lisan Contra Aliran Baroe! Menggunakan ,,Alat Koeno” dalam peperangan sekaran. Menghantjoerkan balatentara sendiri!”


 Pada edisi tersebut A. Hassan disebut marah atas tindakan P.A.I tidak turut campur pada masala furu’ padahal dalam acara undangan pengantin, para istri kalangan P.A.I. melenyapan tradisi “telor-teloran.” Perbedaan pendapat ini sudah bertahun-tahun. Maka P.A.I tidak mau ikut “bertjakar-tjakar”.


 A. Hassan digambarkan sebagai sosok yang marah jika pendapatnya tak diikuti. Bertindak seperto badut-badutan; mengeluarkan banyolan mesum; disebut akal keling (istilah yang terkenal di Surabaya yang berarti tidak ksatria); kalau tulisan dikritik suka ngeles  bahwa itu tulisan inisial M.S., S.A. dan seterusnya; tergesah-gersah dan lain-lainnya.


 Sedangkan dalam artikel berikutnya, diebutkan polemik antara Al-Lisan dan P.A.I. Aliran Baru tak terima ketika majalahnya dinamai “Qaliloel-Iman”. Mereka merasa digempur A. Hassan, merasa dinisti, bahwa pembesar P.A.I. A.R. Baswedan pun tidak luput dari serangan A. Hassan. Tapi, semua itu dihadapi mereka dengan cara yang santun, tidak seperti A. Hassan (menurut majalah Aliran Baroe).


 Tuduhan-tuduhan tersebut, ketika dibaca langsung dalam buku A. Hassan  “Risalah Kudung” (1954) memang disebutkan oleh beliau. Beliau dituduh sebagai ulama yang suka cakar-cakaran, dicap sebagai pemecah, terlalu perhatian masalah furu’ dan lain sebagainya. Tapi, kata A. Hassan mereka tidak adil dalam menilai. Ketika orang lain membahas masalah furu’, justru dianggap sebagai sebagai bahan untuk berpikir dan lain sebagainya.


 Secara jujur kalau saya bandingkan setelah membaca langsung di majalah Aliaran baroe dan buku A. Hassan, ada ketimpangan. Di Aliran Baroe malah banyak cercaan dan celaan kepada A. Hassan, sedangkan bantahan yang bersifat ilmiah sangat minim dikeluarkan.


 Sedangkan A. Hassan, dengan sangat tangkas menunjukkan poin-poin kekeliruan dan kesalahan majalah Aliran Baroe sejak nomer 17, berikut kritik dan jawabannya. Menurut catatan beliau, dalam tulisan Aliran Baroe ada kesalahan referensi, ketidak jujuran, kedustaan, lemahnya pemahaman bahasa, salah mengartikan kata Arab dan seterusnya. Lebih lengkapnya bisa dibaca dalam buku A. Hassan ini. Kesan yang timbul, mereka terlihat lemah dalam dasar-dasar keagamaan.


 Untuk mempertahankan pendapatnya, A. Hassan siap debat kapan saja, bahkan silakan dengan cara yang dibuat mereka sekali pun. Maka tak mengherankan jika A. Hassan menulis, “Oleh sebab mas-alah ini penting dan masih ada lagi alasan-alasan jang boleh dikemukakan dari sana dan sini, maka kami harap supaja golongan ,,Aliran Baroe” dan Sjaichul-Islam serta Muftinja sampai kepada ekor-ekornjam incluisief tuan Husain Bakri, Pekalongan, suka bertemu dengan kami dalam satu pertemuan jang sjarat-sjaratnja boleh fihak ,,Aliran Baroe” atur sendiri dengan pantas buat dua-dia fihak.” (1954: 70)

(Mahmud Budi Setiawan. Penggilingan, 17 Januari 2021)


#PusakaPeradaban

#AHassan

#AlLisan

#AliranBaroe

#PolemikAhassanDenganAliranBaroePAI

9 Juli 2024

28 Juni 2024

Penyebab matinya hati

 



“Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu lurus, beres maka akan beres seluruh anggota tubuh. Dan apabila segumpal daging itu rusak, maka akan rusak seluruh jasadnya. Ingatlah, bahwa segumpal daging itu adalah hati.”

Saudaraku,

Kita semua sudah mengenal hadits Rasulullah di atas. Bahwa kelurusan hati akan menjamin lurus dan beresnya seluruh amal perbuatan dalam hidup kita. Dan kerusakan hati akan menjamin rusaknya seluruh amal dalam hidup. Kerusakan hatilah yang membuat seluruh amal tidak akan diterima. Tidak hanya amal bahkan sepotong doa kepada Allah pun tidak akan diterima.

Alangkah ngeri menjadi orang-orang yang rusak hati. Orang-orang yang hatinya mengeras seperti batu, sehingga hatinya mati rasa tidak mampu membedakan antara kebaikan dan keburukan, antara kebenaran dan kesalahan, antara amal shalih dan amal salah.

Ada sebuah fragmen menarik dikisahkan oleh Imam Al-Ghazali. Dialog antara Ibrahim bin Adham dengan beberapa orang muridnya.

Saat itu Ibrahim bin Adham ditanya,

“Kami selalu berdoa kepada Allah. Begitu banyak doa yang kami pinta tetapi tidak dikabulkan. Kami pernah mendengar sebuah ayat yang berbunyi ‘Berdo’alah kalian kepadaku, pasti aku akan kabulkan.” Bukankah setiap doa akan didengar dan dikabulkan? Lalu mengapa doa-doa kami itu tidak Allah kabulkan, apakah janji Allah dalam Al-Quran itu dusta?

Ibrahim bin Adham menjawab, “Salah satu penyebab terhalangnya pengabulan doa adalah karena matinya hati.”

Mereka bertanya, “Apa yang menyebabkan matinya hati?”

Ada delapan yang menjadi sebab

1.       Kalian tahu hak Allah, tapi tidak kalian tunaikan

Dalam sebuah hadits Rasulullah menyatakan bahwa hak Allah dari hamba-hamba-Nya adalah untuk disembah dengan semurni-murninya penghambaan. Penghambaan atau ibadah yang tidak disertai dengan benalu-benalu kemusyrikan, takhayul, khurafat dan bid’ah. Serta ibadah dari hamba yang tidak dibarengi motivasi ingin dilihat, dipuji orang-orang serta berorientasi keduniaan semata.

Kemusyrikan adalah kesesatan yang sangat jauh. (Q.S. An-Nisa 116)

Kemusyrikan akan mengharamkan seseorang masuk surga. (Q.S. Al-Maidah 71)

Kemusyrikan adalah dosa yang sangat besar. (Q.S. An-Nisa 48)

Meski, seluruh dosa memiliki kemungkinan untuk Allah ampuni, tetapi kemusyrikan adalah dosa yang tidak pernah akan Allah ampuni. (Q.S. An-Nisa 48)

Maka sebaik apa pun ibadah jika dibarengi ketidakikhlasan, amal itu tidak akan diterima,

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya ada perbuatan syirik kepadaku, maka Aku akan meninggalkan amal itu bersama kemusyrikannya.” (H.R. Muslim)

Alangkah jelek orang-orang yang beribadah disertai kemusyrikan. Dan alangkah jelek pula orang-orang yang meninggalkan ibadah kepada-Nya.

Orang-orang yang sibuk mengejar keduniaan serta melupakan ibadah kepada Allah.

Orang-orang yang terombang-ambing dalam arus hedonisme (pencarian kesenangan sementara) dan lupa kesenangan abadi.

2.       Kalian membaca al-Quran, tapi tidak kalian amalkan ajaran-ajarannya.

Membaca Quran bukanlah melafalkan huruf-hurufnya saja. Tetapi mencoba mewujudkannya dalam keseharian dan kehidupan, dalam ucapan dan perbuatan. Seperti jawaban Aisyah r.a. saat ditanya tentang akhlak Rasul. Jawaban beliau, akhlak Rasul itu adalah Al-Quran.

Imam Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa orang-orang yang meninggalkan Al-Quran (Q.S. Fathir 30-31) bisa bermacam-macam jenis, diantaranya

-          Orang yang tidak mau mendengar lafadz-lafadznya.

-          Orang yang tidak mau membaca dan memahaminya.

-          Orang yang tidak mau mengamalkannya.

-          Orang yang tidak mau menjadikannya hukum dalam kehidupan.

-          Orang yang tidak mau menjadikannya obat bagi penyakit-penyakit hati.

3.       Kalian katakan cinta rasul, tapi tidak amalkan sunahnya.

Mengikuti Rasulullah adalah sebuah kewajiban. Sebab seluruh sisi kehidupan beliau adalah uswah hasanah (teladan yang baik) untuk diikuti. Bahkan kesesuaian ibadah dengan contoh Rasulullah adalah syarat kedua bagi diterimanya amal shalih sesudah ikhlas.

Bukti kecintaan seorang mukmin kepada Allah adalah mengikuti utusan-Nya. (Q.S. Ali Imran 31) Tidak akan diterima kecintaan hamba kepada Allah, jika tidak mengikuti Rasulullah saw.

Banyak di antara kita terlibat dalam upacara-upacara yang tidak dicontohkan Rasulullah dengan dalih kecintaan kepada Allah dan berdzikir kepada-Nya.

Banyak di antara kita yang terlibat dalam perdebatan tentang sunah atau bid’ahnya suatu amalan, tetapi sedikit sekali yang terlibat dalam amalan-amalan yang sudah jelas sunnah. Seakan sunnah Rasul hanyalah materi diskusi dan bukan afiliasi dalam amal jama’i (beramal bersama-sama).

4.       Kalian katakan takut mati, tapi kalian tidak bersiap-siap untuk menghadapinya.

Kematian adalah sebuah kemestian. Sebab kehidupan dunia hanyalah sementara, kehidupan yang abadi ada di akhirat nanti. Ada sebuah pintu yang memisahkan kehidupan dunia dan akhirat, pintu adalah mati.

Merasa takut terhadap kematian adalah sesuatu yang wajar. Tetapi hanya mengingat dan tidak bersiap-siap untuk menghadapinya adalah sebuah perbuatan bodoh. Ibarat orang yang hendak bepergian ke tempat yang jauh tetapi tidak mempersiapkan bekal apa pun untuk hidup di sana.

Kehidupan yang hakiki di akhirat nanti adalah hasil dari apa yang ditanam di dunia ini. Apa yang dilakukan di dunia akan menjadi hasil panen yang didapatkan nanti di akhirat.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Hasyr 18)

5.       Kalian katakan musuh kepada setan, tapi kalian berkelompok dengan mereka.

Allah memerintahkan kita untuk menjadikan setan sebagai musuh.

“Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh, karena sesungguhnya setan itu hanya mengajak hizib-nya (partainya/golongannya) agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala.” (Q.S. Fathir 6)

Banyak di antara kita yang yakin bahwa setan adalah musuh, tetapi banyak pula yang memperlakukannya sebagai teman keseharian.

Saat asupan makanan kita tidak dibatasi, maka setan ada di sana.

Saat doa-doa pengiring amal kita lupakan dari perbuatan keseharian, maka setan ada di sana bahkan kita telah memperkuat mereka.

Saat kita gunakan bagian kiri tubuh kita dalam cara kita makan, minum, berpakaian, beralas kaki dan lain lain, maka setan ada di sana.

Saat kita tutup hati kita dari kebenaran, hanya karena kebenaran itu datang dari orang yang lebih rendah derajatnya dari kita, maka setan ada di sana.

Setan selalu memperkuat sisi hawa nafsu kita dibandingkan nurani. Maka perbanyaklah asupan makanan nurani daripada makanan jasmani. Biarkanlah tubuh kita lelah dalam beribadah dan berjihad. Jangan biarkan tubuh kita lelah dan malas karena makanan yang terlalu banyak kita masukan ke dalam perut kita.

Hanya ada dua partai di dunia ini, partai Allah dan partai setan. Maka di manakah kita tergabung? Partai yang diridloi Allah ataukah partai setan yang dimurkai-Nya?

6.       Kalian katakan takut neraka, tapi kalian aniaya badan kalian di dalamnya.

Setiap kita tidak mau masuk neraka. Sebuah tempat yang sangat mengerikan, yang siksa paling ringannya adalah memakai sandal yang mampu membuat otak hancur bergolak karena panasnya.

Namun, banyak di antara kita yang sejak di dunia sudah menyiksa diri dalam siksaannya. Kita menciptakan neraka kita sendiri melalui dosa-dosa yang kita lakukan. Kita zalimi diri kita sendiri dengan merusak alam yang Allah ciptakan untuk kita manfaatkan sebaik-baiknya. Dan akibatnya kita rasakan sendiri.

Sungguh celaka orang-orang yang mencipta nerakanya di dunia. Tidak hanya di dunia, ia akan mendapatkan neraka yang sebenarnya nanti di akhirat.

Maka, jauhilah dosa-dosa dan perusakan diri serta alam dunia.

7.       Kalian katakan cinta surga, tapi kalian tidak beramal untuk mendapatkannya.

Dunia adalah tempat beramal shalih. Dan surga adalah hasil yang akan didapatkan dari amal shalih itu. Mencapai surga tidak bisa dilakukan bersantai dan berleha-leha. Menuju surga adalah perlombaan untuk memacu diri mengoptimalkan seluruh potensi dalam bentuk amal kebaikan.

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya adalah seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Orang-orang yang berinfaq baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang menahan amarahnya, dan yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Ali Imran 133-134)

8.       Apabila kalian bangun tidur, kalian lemparkan aib kalian sendiri ke belakang punggung kalian dan kalian bentangkan aib orang lain di hadapan kalian. Lantas kalian membuat kemurkaan Allah.

Seringkali mata kita begitu terbuka terhadap kesalahan-kesalahan orang lain. Bahkan sekecil apapun kata yang salah tergelincir dari lisan saudara kita, telinga kita begitu peka terhadapnya. Padahal begitu banyak aib-aib kita yang Allah tutupi. Cara tidur kita, tidakkah di sana ada aib? Cara berjalan kita tidakkah di sana ada aib? Cara bicara kita, tidakkah di sana ada aib? Cara makan kita, tidakkah di sana ada aib? Dalam sikap hidup kita sehari-hari, tidakkah ada aib yang kita miliki?

Sungguh jika semua itu orang lain ketahui, betapa besar rasa malu yang harus kita tanggung.

 

Saudaraku,

Banyak doa yang sudah kita panjatkan. Untuk kesejahteraan diri dan keluarga kita sendiri. Untuk perbaikan bangsa dan negara kita. Sampai saat ini, doa-doa itu sepertinya belum terkabulkan. Maka pertanyaan Ibrahim bin Adham di akhir cerita ini, mudah-mudahan bisa menggugah kesadaran kita.

“Jika salah satu dari delapan hal di atas ada pada diri kalian, bagaimana mungkin Allah kabulkan doa kalian?”

11 Januari 2024

KH. IMAN ATQIYYA WAFAT

 


_Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun_


Hatur uninga ka sadaya ikhwatu ieman rehing parantos tilar dunya ngantunkeun urang sadayana *Ustadz Iman Atqiya*  Alumni PPI 1 Pajagalan Bandung nembe pisan kirang langkung tabuh 23.55 WIB.


Mugia almarhum ditampi iman islamna dihapunten sadaya dosana sareng dipernahkeun ku Alloh dina tempat anu mulya surga Mantenna.


Kalih ti eta mugia sadaya kulawargi kalih wargi wargi nu dikantunkeun dipaparin kakiatan tur kasabaran dina nampi sadaya qadar ti Alloh nu maha heman.


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنْ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ


اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الْإِيمَانِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الْإِسْلَامِ اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ وَلَا تُضِلَّنَا بَعْدَهُ


اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبُّهَا وَأَنْتَ خَلَقْتَهَا وَأَنْتَ هَدَيْتَهَا لِلْإِسْلَامِ وَأَنْتَ قَبَضْتَ رُوحَهَا وَأَنْتَ أَعْلَمُ بِسِرِّهَا وَعَلَانِيَتِهَا جِئْنَا شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهَ

6 Januari 2024

Akankah Kisah Ini Terulang Lagi Dimasa Sekarang



Presiden Soekarno pernah 'menyerang' Ulama besar dimasanya...Buya Hamka..."

Bersama Mohammad Yamin, Soekarno melalui headline 

beberapa media cetak asuhan Pramoedya Ananta Toer melakukan pembunuhan karakter atas diri Hamka, namun tak sedikit pun fokus Hamka bergeser dalam menegakkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar... 

Sebab terlalu kuatnya karakter Hamka, di tahun 1964, Soekarno tak sungkan-sungkan menjebloskan Ulama besar asal Minangkabau ini kedalam penjara tanpa melewati Persidangan... 


2 tahun 4 bulan lamanya Hamka 

dipenjara, apakah lantas ia bersedih, mendendam dan mengutuk-ngutuk betapa jahatnya Soekarno padanya...? 

Tidak...! Hamka justru bersyukur bisa masuk penjara... 

Didalam terali besi itu ia punya waktu yang banyak untuk menyelesaikan 30 Juz Tafsir Alqur'an yang dikenal dengan Tafsir Al-Azhar...

Lantas, bagaimana dengan ketiga Tokoh tadi...? Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno...?

Ternyata Allah masih sayang pada mereka, Pramoedya, Mohammad Yamin dan Soekarno... 

Kekejian mereka pada Buya Hamka tidak harus diselesaikan di Akhirat... 

Allah mengizinkan masalah ini diselesaikan di Dunia... Diusia senja, Pramoedya mengakui kesalahannya dimasa lalu. Ia mengirim putrinya, Astuti dengan calon suaminya, Daniel yang mualaf untuk belajar Islam pada Hamka sebelum mereka menjadi suami istri... 

Apakah Hamka menolak...? 

Tidak...!  Justru dengan hati yang sangat lapang Hamka mengajarkan ilmu Agama pada anak dan calon menantu Pramoedya tanpa sedikit pun mengungkit - ungkit kekejaman Pramoedya... 

Astuti, anak perempuan Pramoedya pun menangis haru melihat kebesaran hati Ulama Besar ini... 

Hamka juga yang menjadi saksi atas pernikahan anak Pramoedya.. 

Saat Mohammad Yamin sakit keras, ia meminta orang terdekatnya untuk memanggil Hamka.. 

Dengan segala kerendahan hati dan penyesalannya pada Ulama Besar ini, Mohammad Yamin meminta maaf atas segala kesalahannya... 

Dalam kesempatan nafas terakhirnya, Tokoh Besar Indonesia, Mohammad Yamin pun meninggal dunia dengan ucapan kalimat-kalimat tauhid yang dituntun oleh Hamka...

Begitu juga dengan Soekarno, Hamka justru berterima kasih dengan hadiah penjara yang diberikan padanya karena berhasil menulis buku yang menjadi dasar umat Islam dalam menafsirkan Alqur'an... 

Tak ada marah, tak ada dendam, ia malah merindukan Tokoh Besar Indonesia, Proklamator Bangsa karena telah membuat ujian hidup sang Buya menjadi semakin berliku namun sangat indah... 

Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua... 

Tanggal 16 Juni 1970, seorang ajudan Soekarno datang ke rumah Hamka membawa secarik kertas bertuliskan pendek : 

“Bila aku mati kelak,  aku minta kesediaan Hamka untuk menjadi Imam Shalat Jenazahku...”

Hamka langsung bertanya pada sang ajudan.. Dimana...? 

Dimana beliau sekarang...?  

Dengan pelan dijawab : "Bapak sudah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso..."

Mata sang Buya menjadi sayu dan berkaca-kaca... Rasa rindunya ingin bertemu dengan Tokoh Besar Negeri ini malah berhadapan dengan tubuh yang kaku tanpa bisa berbicara... 

Hanya keikhlasan dan pemberian maaf yang bisa diberikan Hamka pada Soekarno... 

Untaian do'a yang lembut dan tulus dipanjatkannya saat menjadi Imam Shalat Jenazah Presiden Pertama Indonesia...``` 

Terima kasih Buya, atas pembelajaran kehidupan dari cerita hidupmu...

Semoga Allah balas Syurga Firdaus atas semua ilmu dan sikap hidupmu yang sudah diajarkan & dicontohkan untuk kami dan Negara kita tercinta,  Aamiin...