18 November 2008

MESIN PENGHASIL AMAL SHALEH



Pada suatu hari Umar bin Khattab pergi ke sebuah kebun miliknya. Sejuknya suasana kebun yang berada di tengah panas udara negeri Arab menggodanya untuk sejenak bersandar di bawah salah satu pohon yang berada di tengah kebun itu. tanpa terasa tiupan angin membuatnya tertidur, hingga kemudian ia terbangun ketika waktu Ashar telah lewat beberapa saat. Ketika ia pergi ke mesjid ternyata jama’ah telah selesai shalat dan mereka telah kembali kepada kesibukan masing-masing.

Umar merasa sangat menyesal, karena ia masih terlalaikandari shalat berjama’ah. Maka pada saat itu pula Umar mewakafkan kebunnya dengan alasan karena kebun itu telah membuatnya lalai dari shalat berjama’ah. Umar rela kehilangan hartanya sebagai bukti bahwa niatnya telah bulat untuk menjadi Umar yang lebih baik.

Hidup adalah usaha untuk menjadi lebih baik. Allah swt telah memberikan kita modalyang cukup, bahkan lebih, bagi kelangsungan hidup kita di dunia ini. Kita diberi dua bola mata untuk melihat, dua telinga untuk mendengar, mulut untuk berbicara, serta anggota tubuh lainnya. Semua modal itu Allah berikan agar hidup kita semakin baik dari hari ke hari. Allah pun memberikan memori kepada kita untuk merekam seluruh kejadian yang terjadi dalam hidup. Yang kemudian kumpulan peristiwa itu diseleksi oleh akal serta dijadikan pelajaran.

Tentunya setiap kita ingin memiliki keuntungan lebih dari modal yang kita miliki. Tak ada satu pun orang yang ingin mendapat rugi. Dan seperti itulah sebenarnya hidup kita. Hidup yang Allah berikan ini adalah modal yang harus kita usahakan agar dari hari ke hari kualitasnya menjadi semakin baik. Jka dari modal ini produk amal shaleh yang dihasilkan semakin berkembang dan semakin baik kualitasnya, maka Allah akan membelinya dengan surga. Namun sebaliknya jika modal itu disia-siakan dan kualitas produk amal shaleh yang dihasilkan semakin berkurang atau bertambah buruk, maka Allah akan menukarnya dengan neraka.

Pada kisah di atas, Umar telah diberi modal lebih oleh Allah berupa sebuah kebun yang bisa membuatnya lama berbetah-betah di sana. Namun ternyata modal kebun itu tak mampu membuat diri Umar lebih baik, kebun itu tak mampu menambah produk kebaikan yang dihasilkan. Maka Umar memutuskan untuk mengembalikan modalnya kepada Allah dengan harapan dirinya akan lebih baik tanpa modal yang berlebihan. Ia berharap modal yang pas-pasan akan membuat dirinya mampu lebih produktif menghasilkan kebaikan.

Pertanyaannya adalah, sudah berapa banyak modal hidup kita menghasilkan produk amal shaleh?

Sudah seharusnya semua modal yang kita miliki berbuah kebaikan. Harta kita mesti menjadi tenaga kehidupan bagi orang lain dan bukan menjadi sumber iri dengki mereka. Tenaga kita sepantasnya menjadi mesin penggerak kemajuan Islam dan bukan menjadi mesin butut penghambat cita-cita masa depan. Otak dan pikiran kita harus menjadi wadah kepedulian bagi Islam dan umat Islam, bukan menjadi wadah ketundukan kepada musuh-musuh Islam. sikap dan perilaku kita mesti menjadi terjemahan bagi Al-Qur'an dan Sunah bukan menjadi antitesis dari Al-Qur'an dan sunah itu sendiri.

Pertanyaan selanjutnya, sudahkah diri kita menjadi mesin penghasil amal shaleh? Sudahkah harta kita membuat diri kita lebih rendah hati? Jika belum, siapkah kita jika Allah menagih kembali modal hidup yang Dia berikan saat ini juga untuk kemudian Dia beri ganti berupa siksa dan neraka nanti?

Mungkin saja masih banyak modal kita yang malah menghasilkan produk keburukan. Mungkin saja televisi milik kita malah menjadi pengalih perhatian dari shalat berjama’ah sebagaimana kebun milik Umar di atas. Mungkin saja rumah milik kita lebih kita cintai dari rumah Allah hingga kebersihannya pun sangat jauh berbeda. Mungkin saja pakaian yang kita kenakan malah menjadi sumber kesombongan. Mungkin saja mata kita lebih betah memelototi televisi dibanding sedikit saja melirik kepada Al-Qur'an kucel di pojok lemari. Mungkin saja sudut-sudut otak kita lebih merasa nyaman diisi khayalan-khayalan hampa dibanding diisi dengan kepedulian terhadap penderitaan saudara-saudara kita di Palestian. Dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan lainnya.

Namun yang pasti, sejelek apa pun produk amal milik kita, kita masih berharap Allah mau memberlinya dengan surga. Sungguh tak tahu malu…

Mulai sekarang, mari perbaiki mesin produk amal milik kita. Mari perbaiki dan tingkatkan kualitas kebaikannya. Mari kita kembalikan barang-barang yang malah membuat kita lupa akan keuntungan hakiki dari Allah. Mari kita jadikan diri kita mesin penghasil kebaikan paling canggih dan produktif. Mudah-mudahan saj Allah mau membelinya dengan harga mahal surga serta keridloan-Nya, Amien …! (Insan Muhamadi)

Tidak ada komentar: