
JAKARTA -- Pengamat politik dari Indo Barometer, M Qodari, mengatakan seberapa jauh isu jilbab ini mempengaruhi perubahan pilihan politik masyarakat tergantung dari dua aspek. Aspek pertama adalah jika isu ini dibiarkan saja menyebar secara alamiah.
Qodari menyatakan, jika dibiarkan menyebar secara alamiah maka isu ini bisa berdampak pada perubahan pilihan politik konstituen kalangan tertentu.
"Misalnya konstituen PKS, mereka bisa jadi akan mengubah pilihan politiknya ketika melihat calon yang istrinya menunjukkan keterikatan ideologis seperti itu (jilbab)," ujarnya kepada Republika, Rabu (27/5).
Akan tetapi barangkali isu ini secara alamiah tidak akan terlalu berefek pada partai yang lain, misalnya pada konstituen PAN atau PKB.
Namun, bisa jadi efeknya semakin luas jika ada aspek yang kedua, yakni pengangkatan isu ini oleh pasangan JK-Wiranto pada saat kampanye nanti.
"Jika pasangan JK-Wiranto memakai isu ini sebagai strategi kampanye mereka, barangkali efeknya akan lebih luas dibandingkan jika menyebar secara alamiah," kata Qodari. Bisa jadi, konstituen partai-partai Islam seperti PPP, PAN, dan PKB bisa terpengaruh.
Dampaknya, kata dia, suara dari partai-partai koalisi Partai Demokrat itu bisa jadi tertarik ke pasangan JK-Wiranto. Tentunya, kata dia, ini bisa merugikan pasangan SBY-Boediono.
"Mungkin tidak akan sampai memecah koalisi, akan tetapi suara partai-partai pendukung tersebut bisa tidak bermuara ke satu tujuan," katanya.
Namun sekali lagi, kata dia, akan sangat tergantung dari apakah tim sukses pasangan JK-Wiranto menanggapi isu ini secara sistematis atau tidak. - nan/ahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar