
Rahmat (cinta dan kasih sayang Allah SWT) bagi setiap orang yang beriman merupakan suatu kebutuhan yang bersifat mutlak.
Sebab, hanya dengan rahmat dan pertolongan-Nya, selain usaha dan kerja keras, kita akan bisa menyelesaikan bermacam masalah dalam kehidupan ini, sekaligus mampu menghadapi berbagai tantangan dan godaan.
Raudhah terasa seakan Rosulullah berada disana terlontar do’a yang singkat : ''Salamun 'alaika ya Rasulullah.''. pertanda seorang umat Muhammad mencintai Nabi dan ajarannya, juga bentuk penghormatan kepada Nabi,
adalah perintah kepada orang beriman, karena Allah dan para malaikat-Nya senantiasa bersalawat untuk Nabi,
Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya (QS 33 A-Ahzab:56).
Bershalawat artinya: kalau dari Allah berarti memberi rahmat : dari Malaikat berarti memintakan ampunan dan kalau dari orang-orang mukmin berarti berdoa supaya diberi rahmat seperti dengan perkataan : Allahuma shalli ala Muhammad.
Dengan mengucapkan Perkataan seperti : Assalamu'alaika ayyuhan Nabi artinya : semoga keselamatan tercurah kepadamu Hai Nabi.
mengenai Ka'bah, Allah melukiskannya sebagai al-Bayt al- 'Atiq, yaitu rumah ibadat yang antik dan agung.
Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Akhlak Seorang Muslim (1983: 5-6) menyatakan bahwa meskipun ibadah-ibadah yang diperintahkan ajaran Islam sangat bervariasi cara dan bentuknya, seperti misalnya shalat yang menekankan pada aspek ucapan dan perbuatan; ibadah zakat tekanannya pada pengeluaran sebagian harta yang dimiliki; ibadah shaum (puasa) pada upaya untuk menahan diri (imsak) dari makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan yang tercela sejak terbit fajar sampai terbenamnya matahari selama satu bulan penuh; ibadah umrah dan haji tekanannya pada kekuatan fisik dan kekuatan harta (isthitha'ah), namun ibadah-ibadah tersebut memiliki ruh dan napas yang sama.
Yakni, terbentuknya akhlak yang mulia dalam kehidupan seorang Muslim. Akhlak mulia itu tercermin terutama setelah yang bersangkutan melakukan kegiatan-kegiatan ibadah tersebut.
Allah SWT berfirman tentang sifat-sifat orang mukmin yang akan mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan:
Dan sesungguhnya pada harta mereka terdapat bagian tertentu bagi orang yang meminta ataupun yang tidak meminta.'' (QS 70: 24-25).
Ibadah haji dan umrah, akan menumbuhkan ruh dan nafas pengorbanan yang tinggi, persamaan, ukhuwah, dan persaudaraan antara sesama Muslim, dan mujahadah (kesungguhan) dalam melakukan berbagai tugas pengabdian kepada Allah SWT dan kepada sesama manusia.
Allah menguji manusia dengan menurunkan musibah adalah menguji ketajaman iman kita
“Al-halaalu bayyinun” : Yang halal sudah jelas dan
“Al-haromu bayyinun” : Yang haram juga sudah jelas
Kedudukan hukum Allah bukan untuk diperbincangkan, tapi untuk dilaksanakan
Rahmat Allah bisa didapat dengan lima cara :
Pertama, orang yang beriman selalu berusaha bersinergi dengan sesamanya.
Kedua, aktif melakukan kegiatan amar makruf nahyi mungkar
Ketiga, mendirikan shalat
''Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya''. (QS Al-Fath [48] ayat 29),
Keempat, mengeluarkan sebagian dari hartanya,
Kelima, taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam segala hal.
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya (QS. An-Nisaa : 59) Ayat ini ayat yang paling suka disalahgunakan oleh para pemimpin yang sesungguhnya jauh dari Allah dan Rasulnya, padahal hanya ingin dita’ati umatnya
Said Hawwa : Keta’atan kepada Allah dan Rosulnya ada kata “Ta’atilah” menggambarkan Keta’atan mutlaq, tidak perlu dipertanyakan lagi harus “bilaasy-syakkin wa laa roibin” tanpa keraguan dan kebimbangan, sedang keta’atan terhadap pemimpin adalah keta’atan yang bersyarat ; dikuatkan dengan kalimah sesudahnya “jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya)”
Tidak ada yang layak untuk disebut pemimpin, karena (ketika) mereka menghadapi masalah, mereka enggan mengembalikan persoalan itu pada Al-Qur’an dan as-Sunnah
dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "Seandainya Kami dapat kembali (ke dunia), pasti Kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami."
Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka(QS.Al-Baqarah : 167)
Allah SWT menegaskan bahwa semesta alam adalah 'ayat-ayat-Nya' yang diperlihatkan kepada manusia.
Dia ingin menunjukkan eksistensinya pada manusia lewat sebuah 'tanda', sebagai petunjuk atas adanya 'Yang Menandai'.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan (QS. al-Baqarah ayat 164)
Ibnu Arabi menyebut bahwa alam adalah 'cermin' sekaligus 'bayangan' Tuhan. Lewat alam ini, Tuhan sebetulnya ingin memperlihatkan, mengenalkan, sekaligus melihat dirinya sendiri lewat pantulan dalam 'cermin'.
Dalam terminologi tasawuf dikatakan Allah SWT ber-tajalli lewat alam.
Sebaliknya, tanpa rahmat dan pertolongan-Nya, tidak mungkin kita bisa menuntaskan persoalan-persoalan yang kita hadapi.
Apakah itu persoalan pribadi, keluarga, terlebih lagi persoalan masyarakat dan bangsa. Rahmat dan pertolongan Allah pasti akan diberikan kepada setiap orang yang beriman, yang memiliki perilaku dan amaliah, seperti tergambar dalam QS At-Taubah [9] ayat 71, yaitu:
dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.( QS At-Taubah [9] ayat 71)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar