19 Agustus 2010
Menggapai Kemenangan di Alam Jiwa
Prestasi dan kemenangan besar yang diraih kaum muslimin, tidak berdiri sendiri. Kemenangan kemenangan di medan pertempuran Badar, tabuk, penaklukan kota Andalusia dan perang Zallaqah disangga oleh do'a para pemimpin dan orang-orang yang menyertainya.
Do'a yang dilantunkan dari jiwa-jiwa yang bersih, jiwa-jiwa yang telah memperoleh kemenangannya. Jiwa yang telah melanglang buana dilangit kenikmatan dan kelezatan iman dan tawakal kepada Rabbnya.
Perjalanan panjang sejarah membuktikan. Bahwa para pemimpin besar yang lahir dari rahim Islam adalah orang-orang yang terlebih dahulu telah menggapai kemenangan dialam jiwa, sebelum kemenangan dan prestasi besar lainnya berujud nyata.
Sebutlah Abu Bakar Shiddiq radhiallahu 'anhu dan kenikmatannya hidup bersama Al-Qur'an, airmatanya berurai penuh harap dan takut kepada Allah, sampai dikedua pipinya tergurat garis aliran airmata.
Ungkapan Sa'd bin Mu'azd pada Rasulullah SAW menjelang detik-detik perang badar :"Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun kedalam lautan itu, kamipun akan terjun bersama engkau. Tak satupun diantara kami yang akan mundur…", menyiratkan kerinduan jiwanya untuk membela kekasihnya.
Itulah goresan tinta emas sejarah. Dibalik semua itu menyisakan sebuah tanda tanya,
bagaimana para "khairu ummah" tersebut menggapai kemenangan dialam jiwanya?.
Prestasi dan kemenangan-kemenangan besar diatas terjadi dibulan ramadhan, disaat kaum muslimin berpuasa. Perang badar kubro terjadi pada tanggal 17 ramadhan tahun kedua hijriyah. Shalahuddin al-ayyubi mengusir pasukan salib dari tanah Palestina dalam perang Hittin juga terjadi pada bulan Ramadhan. Muhammad Al-Fatih Murad melakukan puasa sunnah tiga hari berturut-turut sebelum merebut konstantinopel.
Rahasianya: mereka adalah para alumni teladan dari madrasah Ramadhan. Bulan Ramadhan telah menjadi kamp pelatihan dan penempaan jiwa-jiwa mereka, dengan keimanan yang tanpa batas kepada Allah, tekad baja yang tak terkalahkan dalam menegakkan kebenaran. Puasa melahirkan manusia-manusia pilihan.
Saatnya kita mengaca diri didepan cermin bening mentauladani mereka, menengok kembali amaliyah mereka dalam bulan mulia. Sebagai benteng untuk bulan-bulan berikutnya.
Banyak hal yang dapat kita tauladani, diantaranya adalah:
1. Kedermawanan
Dalam shahih Bukhari, Ibnu 'Abbas meriwayatkan bahwa bahwa Rasulullah adalah orang yang paling dermawan, terlebih pada bulan Ramadhan.
Dalam Lathaif Al-Ma'arif halaman 315 disebutkan bahwa Ibnu Umar, selalu berbuka bersama orang-orang miskin. Bila ia terhalang melakukannya, ia tidak mau makan malam itu, sampai datang pengemis dan memberikan jatah makannya pada pengemis itu, sehingga seringkali ia puasa tanpa makan apa-apa malam harinya.
2. Menyedikitkan makan.
Muhammad bin'Amru Al-Ghazzy merasa cukup makan dua suap, sebagaimana disebutkan dalam siyar 'Alam Nubala' 11/464.
3. Menjaga lidah, sedikit bicara dan menjauhi dusta.
Rasulullah sabdakan: "man lam yada'qaulaz zuury wal 'amala bihi falaisa lillahi hajatun fi an yada' ta'aamahu wa syarabahu"
"Orang puasa yang tidak meninggalkan pembicaraan buruk, berkata-kata kotor, akan menjadikan puasanya sia-sia.
Inilah sebagian cuplikan amaliyah generasi pilihan yang menempa jiwa-jiwa mereka menggapai kemenangan hakiki. Karena perang sesungguhnya adalah perang melawan diri, hawa nafsu. Puasa adalah benteng utamanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
-
Di rumah H.O.S. Tjokroaminoto, tiga pemuda pernah belajar di bawah atap yang sama. Mereka menyerap pelajaran tentang perlawanan terhadap p...
-
Oleh : Pepen Irpan Fauzan _Borosngora Persatuan Islam_ Koran _Sipatahoenan_ pada 27 Djanoeari 1933 memberitakan pujian-apresiatif para tok...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar