16 Oktober 2013

Propaganda asatunews.com




Saya ingin membantah berita yang tersiar di laman asatunews.com
http://www.asatunews.com/berita-9769-ahai-yusril-sewot-menuding-pks-oportunistis.html#.Ul54m6ntv2o.twitter, yang pada intinya menyebut mengapa saya saya sewot, dan apa hubungannya dengan dukungan saya terhadap Perpu yang akan dikeluarkan SBY.

Saya tidak merasa sewot apapun, dan tidak pernah menuding PKS oportunis seperti berita yang ditulis oleh asatunews.com itu. Saya membahas sistem pemerintahan presidensial dan parlementer dalam kaitannya dengan partai oposisi saat menajdi narasumber pada suatu acar di kampus UI Salemba, Senin kemarin.

Saya katakan bahwa dalam sistem Presidensial tidak lazim ada koalisi. Koalisi ada dalam sistem parlementer. Namun karena kita memilih DPR terlebih dahulu baru memilih Presiden, dan ada ketentuan 20 persen, maka terbentuk semacam koalisi. Hal itu tidak lazim.

Kalau dalam sistem Parlementer, maka partai Pemerintah dan Oposisi saling berhadapan di parlemen. Kursi mereka saja disusun berseberangan. Dalam sistem parlementer jelas perbedaan mana partai pemerintah dan mana partai oposisi. Yang satu mendukung, yang satu oposisi.

Sistem kita ini tidak jelas. Ambil contoh PKS, mislanya. Kalau mengunakan parameter parlementer, PKS adalah partai pemerintah/koalisi. Namun dalam praktiek, PKS kadang-kadang berseberangan dengan Pemerintah, walau mereka adalah bagian dari koalisi. Ketika saya tanya beberapa rekan PKS, mereka jawab bahwa mereka melaksanakan sistem amar ma'ruf nahi munkar: “kalau benar mereka dukung, kalau salah mereka akan menentangnya.”

Saya katakan, dalam praktik ini memang terjadi. Walau saya yang belajar politik Islam belum pernah mendengar ada sistem amar ma'ruf nahi munkar.
Karenanya, tidak benar saya sewot dan menuding PKS oportunis dan seterusnya seperti ditulis dalam berita asatunews.com itu.

Hemat saya, cara penyajian berita asatunews.com itu campur aduk antara fakta, penilaian dan opini penulis beritanya. Penulisan berita sepert itu bukan lagi berita (news), melainkan sudah berubah menjadi propaganda.

Saya mohon maaf kalau rekan-rekan PKS ada yang tersinggung membaca berita asatunews.com tersebut. Saya anggap hal itu wajar karena bias pemberitaan. Dengan adanya bantahan dan klatifikasi dari saya ini, saya berharap semua kesalahpahaman dapat dihindari.

Terima kasih.
 

Tidak ada komentar: