Oleh Moeflich Hart
Sikap umum negatif manusia yang tidak terasa adalah keinginan menguasai orang lain. Dalam pergaulan, seseorang ingin menguasai temannya. Dalam hubungan cinta, laki-laki ingin menguasai kekasihnya, sebaliknya sama, cewek ingin menguasai cowoknya. Mau sebutannya ikhwan-ukhti sama saja.
Di rumah tangga, suami ingin menguasai istrinya, istri ingin menguasai suaminya. Orang tua ingin menguasai anak-anaknya.
Di lembaga. Sekolah dan guru-guru ingin menguasai murid-muridnya. Rektor ingin menguasai dosen-dosennya, dosen ingin menguasai mahasiswanya. Kyai ingin menguasai santri-santrinya. Ustadz ingin menguasai jama'ahnya. Pemimpin ingin menguasai anak buahnya, pejabat ingin menguasai instansinya, negara ingin menguasai masyarakat dan rakyatnya.
Menguasai berbeda dengan menjalankan fungsi. Menguasai berbeda dengan menjalankan fungsi laki-laki, fungsi kepala rumah tangga, fungsi orang tua, fungsi kepala atau pemimpin, fungsi raja atau presiden. Menguasai itu konteks dan konotasinya buruk, sedangkan menjalankan fungsi-fungsi itu positif.
Menguasai itu konteksnya menguasai jiwa, perasaan, pikiran, hidup, ekonomi, nasib dan masa depan seseorang, orang lain, masyarakat, rakyat.
Bila menjalankan fungsi-fungsi adalah menjalankan peran-peran sosial kehidupan yang itu positif tanpa harus menguasai orang lain, maka menguasai adalah negatif. Fir'aunisme.
Para Nabi diutus bukan untuk menguasai tapi tapi untuk menyebarkan dan mengajarkan kebenaran dengan ajaran agama. Nabi Nuh AS tak bisa menguasai istri dan anaknya, Rasulullah SAW tak bisa menguasai paman-pamannya untuk masuk Islam: Abu Thalib, Abu Jahal, Abu Lahab, maka biarkankah pula Abu Janda.
Manusia diberi kebebasan hak asasi untuk percaya atau tidak, ikut atau tidak, iman atau tidak, Muslim atau kafir. Bila manusia sudah menemukan kebenaran, maka kebenaranlah yang akan menguasai manusia dengan sendirinya. Kebenaran itu dari Tuhan, manusia yang dikuasai kebenaran artinya Tuhanlah yang menguasai manusia sebagai hak-Nya. Kita, manusia, bahkan para Nabi, tak punya hak memaksa dan menguasai sesama manusia.
Jiwa-jiwa, hati dan pikiran manusia itu bukan untuk dikuasai orang lain, bahkan orang tua kepada anaknya, tapi untuk dikembangkan potensinya secara maksimal agar semua orang menjadi manusia yang wajar, normal, sehat dan merdeka. Ingin menguasai adalah sikap mental fir'aun, pahamnya adalah Fir'aunisme.***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar