Oleh : ERI RIDWAN LATIF
(Ketua FKUB Kabupaten Bandung)
Sudah lama orang-orang di negara ini permasalahkan perbedaan itu,
dengan ini mayoritas mau tekan minoritas popularitas jadi politik di atas kertas.
Apakah harus seagama, baru bisa dibilang sesama ?
Apakah harus sedarah, baru bisa dibilang saudara ?
Apakah harus sekandung, baru bisa dibilang keluarga ?
Apakah harus sesuku, baru bisa dibilang satu tungku ?
Apa kah harus seiman, baru bisa saling cinta?
Apakah harus seajaran, untuk saling mengerti perasaan ?
Kalau kasih sayang dimaknai sedangkal itu, bagaimana kasih bisa menyatu.
Apa aku harus ke Jakarta, baru bisa dibilang Indonesia ?
Apa aku harus makan nasi, baru bisa disebut NKRI ?
Bila keadilan seperti itu
Bagaimana perasaan bisa menyatu ?
Apa aku harus makan sawi, untuk jadi manusia?
Apa kita harus satu ras, untuk jadi manusia waras?
Kalau saja kemanusiaan sedangkal itu dan kebinatangan sedalam laut, bagaimana cinta akan terselami?
Apa aku harus lahir di barat, untuk bisa adil di timur?
Apa aku harus belajar di ibukota, baru di desa dapat penghargaan?
Apa aku harus berpolitik, baru distrik dapat listrik?
Apa aku harus punya investasi, baru dianggap punya kontribusi ?
Apa aku harus punya tambang, baru dibilang bisa menyumbang ?
Apa aku harus punya emas, baru bisa jadi anak mas ?
Apa aku harus punya gas abadi, baru bisa dapat subsidi ?
Apa aku harus makan raskin, baru dibilang orang miskin
Kalau kehidupan sesempit itu, lapang dada sudah _cukup tampung tiga kata_ : *mangga sing barokah*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar