12 Juli 2012

Pembukaan Jawa Barat FIELD DAY 2012, Pangandaran Sabtu, 7 Juli 2012
Bapak Drs. Trisna S - YB1PT selaku Komandan Upacara dalam pembukaan Jawa Barat Field Day 2012 yang diselenggarakan di Pangandaran 6, 7, 8 Juli 2012 . Juara Umum diraih oleh Lokal Bandung Selatan. Bravo ORARI Daerah Jawa Barat...... !!!
JABAR FIELD DAY 2012

Jawa Barat Field Day (JBFD) adalah sebuah agenda rutin yang diselenggarakan minimal satu kali selama masa periode kepengurusan ORARI Daerah Jawa Barat, JBFD merupakan salah satu keputusan Musyawarah Daerah (MUSDA).
Kita menyadari negara Indonesia merupakan salah satu wilayah yang rawan bencana, sebagai Anggota ORARI disamping hoby Amatir Radio mempunyai tanggung jawab moral untuk turut mengabdikan diri dan perangkatnya untuk bangsa dan masyarakat ketika dalam kondisi darurat atau saat diperlukan.
JABAR Field Day, sebuah kegiatan yang di selenggarakan di area terbuka / lapang dan diikuti oleh seluruh perwakilan kontingen ORARI Lokal se Jawa Barat sehingga disebut juga sebagai Pesta Amatir Radio Jawa Barat. Berbagai kegiatan dikemas dalam bentuk game/permainan yang berkaitan dengan Amatir Radio.
Set Up Emergency Communication & Log-in Contest; merupakan ajang mengasah kemampuan dan pengetahuan dalam menyiapkan diri dan perangkat dalam kondisi darurat sehingga tetap dapat menyampaikan informasi dari satu tempat ke tempat lain, setiap tim/kontingen diharapkan mampu menyiapkan dan mendirikan stasiun komunikasi dalam waktu yang relatif singkat dalam kondisi terbatas tanpa catu daya listrik PLN, mulai persiapan Power Supply/Accu/Genset, Transceiver, SWR Meter, Feeder line, tower/penyangga dan Antenna dirangkai dalam sebuah tenda di area/lapangan terbuka, tim harus mampu mengoperasikan stasiunnya dan komunikasi minimal dengan Mode Phone pada High Frequency (HF) terdiri dari 5 band (80/40/20/15/10), masing-masing band memiliki karakteristik tersendiri, sehingga tim harus mampu memperkirakan propagasi yang dapat digunakan untuk komunikasi dari lokasi ke berbagai penjuru tanah air atau penjuru dunia, kemampuan inilah yang akan selalu mengasah anggota Amatir Radio untuk selalu meningkatkan pengetahuan sesuai Kode Etik Amatir Radio “Progresif”.
Amateur Radio Direct Finding (ARDF); kegiatan yang satu ini memiliki peminat terbanyak dari seluruh perlombaan, ARDF dapat dilakukan secara tim atau personal, tim atau personal dituntut kemampuan fisik dan kejelian dalam membaca/mencari signal sebuah pemancar yang disembunyikan oleh panitia, ketelitian, sensitivitas dan selektifitas sangat diperlukan dalam lomba ini. Lomba ARDF juga merupakan simulasi dalam SAR, ketika mencari sebuah benda/object yang memancarkan signal ELTs (Emergency Locator Beacons) atau EPIRBs (Emergency Positioning Indicator Radio Beacons), mekanisme pelacakan signal antara lomba ARDF dengan pelacakan signal sesungguhnya pada pesawat hanya dibedakan pada frekuensi dan areal, sehingga tim/personal harus mengetahui karakteristik frekuensi yang sedang digunakan.
Merakit komponen elektronika; cikal bakal teknologi yang ada saat ini, kemunculan microchip yang sangat kecil dan mempunyai kemampuan luar biasa adalah merupakan perkembangan yang di lakukan secara terus menerus yang berawal dari komponen elektronik terurai. Pada JBFD peserta diberikan kesempatan untuk merangkai komponen elektronika yang sudah ditentukan oleh panitia menjadi sebuah rangkaian yang dapat berfungsi, anggota yang memiliki kemampuan merangkai komponen mulai menurun semenjak maraknya teknologi microchip dan modular.
Morse; atau dikenal juga telegraphy, sebuah teknologi komunikasi paling kuno, tehnologi ini mendasari dari sistem digital yang saat ini menjadi primadona, Morse sebuah kode yang di buat dengan lambang titik dan garis (Dit dan Dah) menjadi alat komunikasi relatif lama, sampai akhirnya muncul microphone untuk mengubah suara menjadi gelombang elektromagnetik, maka Morse secara perlahan mulai ditinggalkan. Dalam dunia Amatir Radio morse masih menjadi alat komunikasi yang sangat digemari, karena mmepunyai karakteristik yang unik, mampu menembus propagasi yang kurang bagus atau noise yang sangat tinggi yang tidak mungkin dilakukan dengan phone, ORARI Daerah Jawa Barat memiliki markonis-markonis handal yang mampu mengirim dan menerima kode Morse mulai dari kecepatan rendah hingga kecepatan tinggi, ini sebuah pontensi yang sangat luar biasa, akan tetapi tidak semua Anggota mempunyai kemampuan komunikasi dengan kode Morse.
Direct Beam Antenna; lebih banyak dikenal Antenna Slalom Test, sebuah Fun Game yang banyak digemari, peserta perorangan dan tidak banyak menguras fisik dalam lombanya, peserta harus memiliki kemampuan dalam menyeleksi dan mendeteksi dengan Hand Beam Antenna diantara beberapa antena yang di letakan di depan peserta dan hanya ada satu antena yang digunakan memancar pada saat itu.
ATARI (Asah Trampil Amatir Radio); lomba satu ini mirip sekali dengan lomba-lomba beberapa puluh tahun yang lalu dibeberapa sekolah, lomba cerdas cermat yang berisikan materi tentang Amatiran Radio biasanya diikuti secara tim, kemampuan, pengalaman dan pengetahuan sangat penting dan diujikan dilomba ini, bahkan tidak menutup kemungkinan peserta diminta memperagakan secara visual didepan tim juri.
Eye Ball QSO; orang awam (non amatir radio) akan kesulitan mencari translate dari bahasa ini, jika kita urai Eye Ball (bola mata) yang berarti memandang atau menatap, QSO dalam kode Q Amatir Radio adalah komunikasi, sehingga dapat kita ambil makna dari Eye Ball QSO adalah komunikasi secara langsung artinya tidak melalui radio, sebuah Fun Game yang banyak peminatnya, lomba ini relatif mudah dilakukan oleh siapapun, hanya perlu satu modal, berani menghadap kepada siapapun dan meminta tanda tangan/paraf, tentunya tidak semua orang yang ada dimintai tanda tangan, hanya pengunjung yang hadir dan terdata di “receptionist event” yang boleh dimintai tanda tangan, anggota atau pengunjung yang dimintai tanda tangan boleh mengajukan pertanyaan yang berkaitan dengan Amatir Radio kepada peserta Eye Ball QSO yang minta tanda tangan, hal ini tentu akan mengasah kemampuan peserta.
Selamat berlomba, jaga sportifitas, jaga kerukunan, jaga diri, jaga kekompakan, kemenangan bukan satu-satunya tujuan dari Jabar Field Day, tetapi silahturahmi jauh lebih terhormat dan penting.

Panitia JABAR FIELD DAY 2012

Jabar Field Day ORARI Daerah Jawa Barat , Pangandaran 6, 7, 8 Juli 2012
Jawa Barat FIELD DAY 2012



23 April 2012



HABIS GELAP TERBITLAH TERANG : "DOOR DUITERNIS TOT LICHT" (QS.2 AL-BAQARAH:257)

DOOR DUISTERNIS TOT LICHT ", yg terlanjur diartikan oleh Armijn Pane sbg, " Habis Gelap Terbitlah Terang ". Sedangkan Prof. Dr. Haryati Soebadio, Dirjen Kebudayaan Depdikbud, yg notabene cucu R.A. Kartini mengartikannya sbg:

"D A R I - G E L A P - M E N U J U - C A H A Y A"

Yg kalau kita lihat dalam Al Qur'an akan tertulis sbg: "Minadzhdzhulumati Ilaan Nuur". Ini merupakan inti ajaran Islam yg membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya keimanan.

Menurut Prof. Ahmad Mansyur Suryanegara, seorang pakar Sejarah dari Universitas Pajajaran dalam bukunya “Api Sejarah” (2009), dari surat-suratnya yang dikenal dengan “Habis Gelap Timbullah Terang” dikisahkan bagaimana kekaguman Kartini kepada Al Qur’an.

Kartini pernah menulis tentang kekagumannya terhadapan Kitab Suci muslim ini sebagaimana tertera pada suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 15 Agustus 1902. “Alangkah bebal dan bodohnya kami, kami tidak melihat, tidak tahu bahwa sepanjang hidup ada gunung kekayaan disamping kami”.

Ahmad Mansyur kemudian menyatakan bahwa Kartini menilai Al Qur’an sebagai gunung kekayaan yang telah lama ada disampingnya. Akibat pendidikan Barat, Al Qur’an menjadi terlupakan, namun setelah Tafsir Al Qur’an dibacanya, Kartini melihat Al Qur’an sebagai gunung agung hakikat kehidupan.

Kartini tidak hanya ingin memahami dirinya sendiri, namun juga mempelopori kecerdasan terhadap anak bangsa. Sikap perjuangan Kartini agar kesetaraan pendidikan terhadap anak bangsa yang bukan dari Jawa, menurut Profesor Ahmad Mansyur, sangat dipengaruhi oleh ajaran Al Qur’an.

Namun sayang, segala yang berbau Islam dan Qur'an selalu dihilangkan dari sejarah negeri ini, mulai dari Ustadz Jendral Soedirman yg mengobarkan perang dengan Hadits Rasulullah Muhammad ﷺ, Kapten Ahmad Pattimura, Pidato Jihad Boeng Tomo, Peran Ulama dan Santri memukul mundur penjajah di palagan ambarawa dan seterusnya.

www.islamterbuktibenar.net

1 Maret 2012

Pelukis kartun Nabi mati dijilat api

 27 Pebruari 2012


Dalam laporan salah satu TV Arab Saudi ,akhbar arab yang di terbitkan dari arab saudi melaporkan bahwa Kurt Westergaard seorang kartunis denmark yang melukis gambar nabi muhammad tewas dalam sebuah kebakaran yang menimpa kartunis tersebut,
Pemerintah Denmark berusaha sekeras mungkin untuk menutupi kejadian tersebut yang menyebabkan tewasnya kartunis Denmark tersebut.



Kurt Westergaard adalah seorang kartunis Denmark yang telah lancang dan berani membuat gambar Nabi Muhammad SAW, yang membuat umat islam murka dan turun kejalan jalan untuk mengecam tindakan kartunis denmark tersebut, Kurt Westergaard lelaki yang melukis kartun nabi Muhammad SAW dengan niat menghina islam dengan kuasa Allah kartunis Denmark tersebut telah dikabarkan mati secara mengenaskan dengan tubuh terbakar tetapi media Denmark masih bungkam tentang apa penyebab yang menyebabkan terbakarnya kartunis Denmark tersebut.

Kematian Kurt westergaard adalah pelajaran bagi mereka yang suka menghina nabi Muhammad SAW, ini adalah kuasa Allah dan Azab bagi para pengingkar...Subhanallah

sumber : tv arab saudi

24 Februari 2012

Ahmad Sumargono Sang Mujahid Fundamental Telah Wafat

Kamis, 23 Februari 2012


Jurnalis Independen:Innalillahi wa innailaihi rajiun. Kabar duka bagi umat Islam Indonesia. Salah satu tokoh terbaik umat Islam Indonesia yang concern terhadap perjuangan syariat Islam, H. Ahmad Sumargono, dikabarkan telah meninggal dunia. 



Ketua Umum Gerakan Persaudaraan Muslim Indonesia (GPMI) yang juga mantan ketua KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) itu wafat pada Jumat dini hari, pukul 01.30 WIB di Sukabumi, Jawa Barat. Rencananya jenazah akan disemayamkan di rumah duka, di Komplek Dokter Jalan H. Baping, Ciracas, Jakarta Timur. Demikian bunyi pesan SMS yang diterima Suara Islam Online, Jumat (24/2/2012) dari salah satu pengurus GPMI, Adang.

Ahmad Sumargono adalah salah satu aktivis Islam yang dikenal dalam barisan pejuang penegak Syariah. Lelaki kelahiran Jakarta, 1 Februari 1943 ini pernah duduk sebagai anggota DPR dari Partai Bulan Bintang (PBB) pada periode 1999-2004.

Sebelum akhirnya menjadi anggota Dewan Pertimbangan PPP, Bang Gogon -panggilan akrabnya- adalah Ketua DPW PBB DKI Jakarta. Selain itu Bang Gogon juga aktif di Forum Umat Islam (FUI) sejak terbentuk pada 2005 silam. Ketika Tabloid Suara Islam lahir pada 2006, Bang Gogon didaulat sebagai salah satu anggota Dewan Redaksi. Kesibukan terakhir Bang Gogon adalah sebagai Direktur Eksekutif Pusat Kajian Strategi Politik dan Pemerintahan (PKSPP).

Dalam dunia dakwah, Bang Gogon dikenal sebagai seorang dai, penceramah dan khatib yang ulung. Dia pernah tergabung dalam Korps Mubaligh Jakarta (KMJ). Bahkan, sebelum wafatnya, Suara Islam juga pernah mengundang almarhum untuk menjadi instruktur pelatihan khatib di Pesantren Husnayain, Jakarta Timur.

Dari sisi keilmuan, Bang Gogon adalah penyandang gelar doktor ilmu pemerintahan dari Universitas Padjadjaran (Unpad). Ia dianugerahi Rektor Unpad Prof. Ganjar Kurnia sebagai predikat wisudawan dengan usia paling tua dalam Sidang Terbuka Senat Universitas Padjadjaran Wisuda Gelombang II Tahun Akademik 2008/2009, di Grha Sanusi Hardjadinata, Jl Dipati Ukur 35 Bandung, Selasa (24/2/2009) lalu.
Sebelumnya, kakek dengan 10 cucu ini menempuh strata sarjananya di Universitas Indonesia (UI) pada fakultas ekonomi pada 1963. Belum puas dengan pengetahuan yang dimilikinya, ia melanjutkan S-2 di Institut Pertanian Bogor (IPB).

Allahummaghfirlahu warhamhu wa’fu anhu..waj’al jannata matswahu…allahummaj’alhu min ibadika alladzi yadkhulunal jannata bighairi hisab ya mujibad du’a..allahummaj’ahu min ibadika kama qaala nabiyyukal kariem;” syayyidusy syuhada’ hamzah..”Allahummaj’alhu min ibadikalladzi yadlhulunal firdausa ya mujibas saa’ilin..bibarakati syahri ramdhan..allahummaj’al ahlahu min ibadikash-shabirin..min ibadikal mukhlisin..allahummar zuq ahlalhu rizqan halalan,mubarakan..wasi’an..allahumma yassir wala tu’aasir wa ‘aa’in..ya mujibad du’a..ya rabbal’alamin..

Semoga amal Ibadahnya diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran.(fq/suaraislam) 

19 Januari 2012

ILMU POLITIK ANTARA TEORI DAN APLIKASI



Oleh : Ery Ridwan Latief


Ketika kita bicarakan : “Ilmu Politik antara Teori dan Aplikasi”, seolah-olah kita masuk pada satu pilihan kondisi –yang terlalu berani- melakukan proses pengkajian terhadap hal-hal yang sangat rentan melahirkan pertentangan pemahaman. Padahal berbicara Ilmu Politik secara otomatis kita sedang berbicara tentang diri kita sendiri, yang telah berbai’at di hadapan Allah untuk siap menjadi penerus perjuangan Rasulullah SAW dan siap berpegang teguh pada tali (agama) Allah serta berimplikasi pada satu sikap yang siap untuk tidak bercerai berai, sesuai dengan firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ).
Langkah untuk menyerap limpahan -menuju- wawasan yang berkualitas, tentunya tidak dipersepsi bisa memberikan segalanya dan serba komprehensif. Kita bisa berujar layaknya Socrates yang dengan bijak mengakui bahwa :“yang aku tahu adalah  aku semakin tidak tahu apa-apa.” Tapi selanjutnya kita akan berani mengatakan “yang aku tahu adalah aku semakin tahu apa-apa”. Artinya, walaupun kita nantinya tidak sebijak socrates, tetapi paling tidak kita lebih “percaya diri” daripada Socrates.
Samuel P Huntington dalam bukunya “The Clash of Civilizations and Remaking of World Order”: Di benak kita tersembunyi asumsi-asumsi, bias-bias serta prasangka-prasangka yang “Membimbing” kita tentang bagaimana mempersepsi suatu realitas, tentang fakta-fakta yang kita lihat dan bagaimana kita menilai manfaat serta kebaikannya.
Salah-satu model berpikir yang senantiasa -minimal- harus ada di benak “Insan pergerakan” diantaranya adalah : Umat Islam harus mampu ;

1. mengatur dan menggeneralisasikan realitas;
2. memahami hubungan-hubungan kausal di antara berbagai fenomena;
3. melakukan antisipasi dan, jika beruntung, melakukan prediksi terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi di masa yang akan datang;
4. memilah-milah mana yang penting dan yang tidak penting, dan;
5. menempuh jalan yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan kita.
Mari kita kerucutkan pada pengkajian bagaimana seharusnya kita bersikap, baik dalam interaksi sebagai warga negara, maupun sebagai satu komunitas Muslim yang bercita-cita ingin melaksanakan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan as-Sunnah seperti termaktub dalam sila pertama Pancasila yaitu : “Ketuhanan Yang Maha Esa dengan Kewajiban Melaksanakan Syariat Islam bagi Pemeluk-pemeluknya”.
Kajian saat ini dibangun oleh 3 (tiga) tahapan berpikir : pertama, bagaimana memahami Ilmu Politik ? kedua, bagaimana realitas pandangan masyarakat terhadap percaturan politik di Indonesia dan ketiga, bagaimana seharusnya “Insan Pergerakan” Islam berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?.
Apa itu Politik … ?
Ilmu politik adalah cabang ilmu sosial yang membahas teori dan praktik politik serta deskripsi dan analisa sistem politik dan perilaku politik. Ilmu ini berorientasi akademis, teori, dan riset, Ilmuwan politik mempelajari alokasi dan transfer kekuasaan dalam pembuatan keputusan, peran dan sistem pemerintahan termasuk pemerintah dan organisasi internasional, perilaku politik dan kebijakan publik. Mereka mengukur keberhasilan pemerintahan dan kebijakan khusus dengan memeriksa berbagai faktor, termasuk stabilitas, keadilan, kesejahteraan material, dan kedamaian. Beberapa ilmuwan politik berupaya mengembangkan ilmu ini secara positif dengan melakukan analisa politik. Sedangkan yang lain melakukan pengembangan secara normatif dengan membuat saran kebijakan khusus.
Pendekatan dalam ilmu politik
Terdapat banyak sekali pendekatan dalam ilmu politik. Di sini hanya akan dibahas tentang tiga pendekatan saja, yakni pendekatan institusionalisme (the old institutionalism), pendekatan perilaku (behavioralism) dan pilihan rasional (rational choice), serta pendekatan kelembagaan baru atau the new institutionalism. Ketiga pendekatan ini memiliki cara pandangnya tersendiri dalam mengkaji ilmu politik dan memiliki kritik terhadap pendekatan yang lain

Pendekatan institusionalisme

Pendekatan institusionalisme atau kelembagaan mengacu pada negara sebagai fokus kajian utama. Setidaknya, ada dua jenis atau pemisahan institusi negara, yakni negara demokratis yang berada pada titik "pemerintahan yang baik" atau good governance dan negara otoriter yang berada pada titik "pemerintahan yang jelek" atau bad governance dan kemudian berkembang lagi dengan banyak varians yang memiliki sebutan nama yang berbeda-beda. Namun, pada dasarnya—jika dikaji secara krusial, struktur pemerintahan dari jenis-jenis institusi negara tersebut tetap akan terbagi lagi menjadi dua yakni masalah antara "baik" dan "buruk" tadi.

Setidaknya, ada lima karakteristik atau kajian utama pendekatan ini, yakni:
·        Legalisme (legalism), yang mengkaji aspek hukum, yaitu peranan pemerintah pusat dalam mengatur hukum;
·        Strukturalisme, yakni berfokus pada perangkat kelembagaan utama atau menekankan pentingnya keberadaan struktur dan struktur itu pun dapat menentukan perilaku seseorang;
·        Holistik (holism) yang menekankan pada kajian sistem yang menyeluruh atau holistik alih-alih dalam memeriksa lembaga yang "bersifat" individu seperti legislatif;
·        Sejarah atau historicism yang menekankan pada analisisnya dalam aspek sejarah seperti kehidupan sosial-ekonomi dan kebudayaan;
·        Analisis normatif atau normative analysis yang menekankan analisisnya dalam aspek yang normatif sehingga akan terfokus pada penciptaan good government.
 
Pendekatan perilaku dan pilihan rasional

Salah satu pemikiran pokok dalam pendekatan perilaku ialah bahwa tidak ada gunanya membahas lembaga-lembaga formal karena pembahasan seperti itu tidak banyak memberikan informasi mengenai proses politik yang sebenarnya. Sementara itu, inti "pilihan rasional" ialah bahwa individu sebagai aktor terpenting dalam dunia politik dan sebagai makhluk yang rasional selalu mempunyai tujuan-tujuan yang mencerminkan apa yang dianggapnya kepentingan diri sendiri. Kedua pendekatan ini (perilaku dan pilihan rasional), memiliki fokus utama yang sama yakni individu atau manusia. Meskipun begitu, penekanan kedua pendekatan ini tetaplah berbeda satu sama lainnya.

Adapun aspek yang ditekankan dalam pendekatan ini adalah:
Menekankan pada teori dan metodologi. Dalam mengembangkan studi ilmu politik, teori berguna untuk menjelaskan berbagai fenomena dari keberagaman di dalam masyarakat. Menolak pendekatan normatif. Kaum behavioralis menolak hal-hal normatif yang dikaji dalam pendekatan institusionalisme karena pendekatan normatif dalam upaya menciptakan "pemerintahan yang baik" itu bersifat bias.
Menekankan pada analisis individual. Kaum behavioralis menganalisis letak atau pengaturan aktor politik secara individual karena fokus analisisnya memang tertuju pada analisis perilaku individu.
Masukan (inputism) yang memperhatikan masukan dalam sistem politik (teori sistem oleh David Easton, 1953) atau tidak hanya ditekankan pada strukturnya saja seperti dalam pendekatan institusionalisme.

Pendekatan kelembagaan baru

Pendekatan kelembagaan baru atau the new institutionalism lebih merupakan suatu visi yang meliputi beberapa pendekatan lain, bahkan beberapa bidang ilmu pengetahuan lain seperti ekonomi dan sosiologi. Berbeda dengan institusionalisme lama yang memandang institusi negara sebagai suatu hal yang statis dan terstruktur, pendekatan kelembagaan baru memandang negara sebagai hal yang dapat diperbaiki ke arah suatu tujuan tertentu. Kelembagaan baru sebenarnya dipicu oleh pendekatan behavioralis atau perilaku yang melihat politik dan kebijakan publik sebagai hasil dari perilaku kelompok besar atau massa, dan pemerintah sebagai institusi yang hanya mencerminkan kegiatan massa itu. Bentuk dan sifat dari institusi ditentukan oleh aktor beserta juga dengan segala pilihannya.
Aplikasi Kecerdasan Politik
Setelah mendalami perjalanan pergerakkan Umat Islam di arena politik global, tentu lahir sebuah pertanyaan besar : “Bagaimana seharusnya Umat Islam mengaplikasikan “kecerdasan politik” dalam kehidupan sehari-hari ?”. Pertanyaan ini sangat menarik untuk kita kaji. Kenapa demikian, karena kondisi masyarakat bangsa ini sedang terombang-ambing arus politik global, dimana hilangnya rasa percaya diri baik dalam interaksi antar warga negaranya, interaksi dengan bangsa-bangsa dunia maupun tidak bisa mempercayai orang –kelompok- yang lain.
Pertama, dengan berakhirnya masa Orde Baru diganti oleh Orde “Reformasi” apalagi dengan munculnya BJ Habibie sebagai Presiden RI ke 3 (tiga), dimana kran kebebasan berkumpul dan menyatakan pendapat dibuka, maka seluruh lapisan masyarakat baik Eksekutif, Legislatif, masyarakat biasa, bahkan tukang becak sekalipun, mereka begitu lantangnya mengeluarkan pernyataan-pernyataan politik, argumen dan analisa politik bak sebagai politisi. Tetapi pada perkembangan selanjutnya ketika perubahan negara yang diharapkan akan mampu merubah kondisi rakyat pada satu tingkatan -kemakmuran rakyat-, akhirnya mereka kecewa ketika justeru lembaga yang diharapkan mampu menjadi corong kebebasan melalui keterwakilan di lembaga-lembaga politik seperti DPR/MPR ternyata tidak mampu menjawab problematika hidup mereka, tapi justeru sebaliknya para politisi yang menjadi “kareueus” (kebanggaan . pen) mereka, hanya asyik sibuk mengurusi diri sendiri dan keluarganya saja bahkan tidak kurang -dari realitas yang ada- mereka hanya menambah sesaknya ruang-ruang tahanan gara-gara ulah mereka yang telah melakukan tindak korupsi dan penyelewengan-penyelewengan lainnya. Tragis memang bangsa ini.
Kedua, akibat dari kondisi di atas masyarakat Indonesia sekarang kembali pada kondisi hilang kepercayaan, saling meragukan satu dengan yang lainnya bahkan cenderung apatis. Kepercayaan terhadap partai-partai mulai pudar, karena ternyata partai hanya menjadikannya (rakyat pen) sebagai obyek politik belaka, ketika tujuan politiknya tercapai, maka rakyat yang mendukungnya dengan setia ditinggalkan begitu saja. Kondisi inilah yang mejadi penyebab sebegitu tercorengnya pemerintahan Indonesia di mata rakyatnya, apalagi di mata Internasional. Peristiwa Ambalat, lepasnya Timor Timur, munculnya gerakan-gerakan separatis yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dsb, hal tersebut merupakan realitas politik yang tidak bisa kita pungkiri.  Kondisi tersebut sungguh menambah kelamnya sejarah bangsa ini.
Ketiga, bagaimana seharusnya “Insan Pergerakan” Islam berperan dalam mengapresiasi peta politik negara ini ?. Jawabannya ada pada sejauhmana naluri kebangsaan umat Islam, realitas politik bangsa tentunya dapat dijadikan salah-satu argumentasi politik. Umat Islam tidak perlu melakukan kesalahan politik lagi,  sebab kekuatan politik saat ini sudah tidak lagi berada di tangan partai-partai politik, tetapi berada di tangan kekuatan rakyat, LSM, dan Organisasi Masyarakat. Partai Politik saat ini sedang mengalami kehilangan rasa percaya diri, maka mereka banyak melakukan Political Intrude -politik yang bermaksud mengganggu- dengan dalih “silaturrahmi politik”, sekali lagi hal tersebut merupakan jebakan politik saja. Sikap politik “Insan Pergerakan”  Islam sesungguhnya tidak diarahkan pada proses dukung mendukung, tapi dapat dimaknai ; bagaimana Umat Islam merealisasikan “the hidden program” nya yaitu : “Terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan,” dalam bingkai pendidikan dan dakwah. Umat Islam tidak bermain api masuk ke dalam jebakan politik yang mereka siapkan, tetapi Umat Islam harus mampu mengatur arus politik bangsa dengan menyiapkan kader yang memiliki “Militansi Ummah”, tidak tertipu oleh janji-janji politik dengan melakukan langkah politik yang -justeru- akan merusak harga diri umatnya tersebut; menjual kekuatan ummat dengan memberikan dukungan baik terhadap partai-partai politik maupun kepentingan-kepentingan politik seseorang di setiap wilayah politik praktis.
Makna partisipasi politik –penekanannya- bukan pada proses dukung mendukung, tetapi “Insan Pergerakan” Islam harus siap jadi bagian yang utuh, independen, dan memiliki karakter yang jelas, tegas dan berakhlakul karimah. “Insan Pergerakan” Islam yang diberi tanggungjawab penuh untuk mewakili umat dalam percaturan politik praktis, dia tidak mencampur adukan kepentingan dirinya, harus mampu membawa karakter "Ummah" dimanapun mereka beraktifitas, bukan justeru sebaliknya dia membawa karakter "luar" dan melakukan uji coba politik di dalam wilayah pergerakannya sendiri.

Khatimah

Sayid Muhammad Baqir ash-Shadr mengatakan bahwa: “Orang Barat -Yahudi dan Nashrani- dalam membangun peran politiknya lebih melihat ke bumi dengan berdasarkan spirit penguasaan, sehingga bertendensi materialis, sedang orang Timur -Islam- lebih melihat ke langit karena perintah langit (Allah) memposisikan mereka sebagai khalifah di muka bumi, sehingga bertendensi religius.
Aplikasi pergerakan yang sesungguhnya adalah sejauhmana kita dapat melaksanakan seluruh aktivitas kehidupan dengan berlandaskan firman Allah SWT : “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103 ), serta melaksanakan komitmen dakwah dalam mewujudkan “Terlaksananya syariat Islam berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.”. Wallah a’lam bish shawab.

DAFTAR PUSTAKA

F. Isjwara, SH. LL.M, Pengantar Ilmu Politik. Bina Cipta, Bandung, 1980
Fritjof  Capra, The Turning Point -Titik Balik Peradaban, Jejak , Yogyakarta, 2007
Henry J. Schmandt, Filsafat Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2005
Jawahir Thontowi, Islam Politik , dan Hukum, MadyanPress, Yogyakarta, 2002
Kamarudin, S.Ip. M.Si, Partai Politik Islam di Pentas Reformasi, Visi Publishing, Jakarta, 2003
Kantaprawira,rusadi.Dr.SistemPolitikIndonesia,SuatuModel Pengantar,Sinar Baru Algesindo,Bandung,2006.
Merriam, Charles, Systematic Politics, University of Chicago Press, Chicago,1957.
Michael T. Gibbons, Tafsir Politik, Tela’ah Hermeneutis Wacana Sosial Politik Kontemporer, Qalam, Yogyakarta, 1987
Samuel P. Huntington, “The Clash of Civilizations and Remaking of World Order”,Benturan Antar Peradaban, Qalam, Yogyakarta, 2002

15 Januari 2012

Ustadz Ahmed Dien El Marzedeq Meninggal Dunia


Jamiyyah Persatuan Islam (Persis) kembali berduka, Ustadz Ahmed Dien El Marzedeq, Dim AV, salah satu tokoh Persis meninggal dunia di Rumah Sakit Al Islam pada hari Sabtu 14 Januari 2012 pukul 14.35 WIB di usianya yang sudah 74 tahun.
Beliau dishalatkan di kediaman Ust Farhah Jalan Rorojongrang III no 30 Komplek Pharmindo Cijerah Bandung. Berita meninggalnya Ustadz Marzedeq langsung menyebar di jamiyyah Persis baik melalui pesan singkat ataupun jejaring sosial di dunia maya.
Ustadz Marzedeq lahir di Cianjur 1938. Ia seorang ustadz yang konsen di bidang aqidah Islam.
Karya monumental yang pernah ia torehkan adalah buku berjudul Parasit Aqidah. Buku ini menjelaskan tentang berbagai jenis ajaran agama-agama kultur (animisme dan dinamisme) di berbagai wilayah di dunia yang kemudian diadopsi dan terjadi asimilasi serta akulturasi agama, sehingga seolah-olah menjadi ajaran Islam.
Selain seorang ustadz, Ustadz Marzedeq dikenal pula sebagai seorang guru beladiri Kungfu Thifan Po Khan di Indonesia. Ia belajar Thifan bersama rekan-rekannya melalui kitab Thifan berbahasa melayu. Saat itu ia aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) di Cianjur dan berlatih Thifan secara sembunyi-sembunyi.
Baru pada tahun 1980an ia mengembangkan Thifan di Jamiyyah Persis di Pesantren Pajagalan Bandung. Banyak dari alumnus pesantren inilah yang kemudian mengembangkan lagi ke daerah lainnya di Jawabarat.
Selain ahli beladiri, ia juga seorang Dokter Pengobatan Islam. Ia memperoleh gelar DIM (Doctor Islamic Medicine) dari Ma’had At Thibb Al Islami (MAI). Lembaga ini didirikan 13 Maret 1958. Ustadz Marzedeq adalah mahasiswa angkatan pertamanya.
Di lembaga ini diajarkan sama seperti di fakultas kedokteran lainnya seperti parasitologi, anatomi dan lainnya. Selain itu diajarkan pula metode pengobatan Awasin al Kayy. Melalui ilmu pengobatan inilah kemudian beliau membuka klinik Avasin Medical Centre di Jalan H. Anwar NO 32. Bandung.
Semoga Allah mengampuni segala dosanya dan memberikan tempat terindah bagi para Mujahid.